Beranda blog Halaman 84

Hoaks Klaim Presiden Prabowo Menjual Laut dan Hutan Aceh–Sumatra ke Inggris

0
Ilustrasi Hoax. (Foto: genta.fkip.unja.ac.id)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Beredar di media sosial Facebook unggahan berupa foto dengan narasi yang mengeklaim Presiden Prabowo Subianto akan menjual laut serta hutan yang berada di Provinsi Aceh dan Sumatra kepada Inggris.

Klaim tersebut dipastikan tidak benar. Berdasarkan penelusuran fakta yang dimuat turnbackhoax.id, Senin (2/2/2026), tidak ditemukan informasi valid yang membenarkan narasi tersebut.

Penelusuran dilakukan Nukilan.id menggunakan mesin pencari Google dengan memasukkan kata kunci “Prabowo jual laut dan hutan Sumatera ke Inggris”. Hasil pencarian teratas justru menampilkan artikel resmi dari presidenri.go.id berjudul “Dari Investasi hingga Pendidikan, Kunjungan Presiden Prabowo ke Inggris Bawa Capaian Konkret”, yang diunggah pada Kamis, 22 Januari 2026.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris pada 21 Januari 2026 menghasilkan sejumlah capaian konkret bagi kepentingan nasional. Capaian itu antara lain komitmen investasi Inggris senilai 4 miliar poundsterling atau sekitar Rp90 triliun, penguatan kerja sama maritim, serta rencana pembangunan 1.582 kapal nelayan yang akan diproduksi di Indonesia.

Lebih lanjut, hasil penelusuran tidak menemukan adanya pernyataan, kebijakan, maupun dokumen resmi yang menyebutkan Presiden Prabowo menjual laut ataupun hutan di Aceh dan Sumatra kepada Inggris. Dengan demikian, klaim yang beredar di media sosial tersebut merupakan hoaks. (XRQ)

Reporter: Akil

Realisasi Investasi Aceh Barat Tembus Rp764,79 Miliar pada 2025

0
Ilustrasi Batubara. (Foto: Merdeka)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Aceh Barat mencatat capaian positif sepanjang tahun 2025. Di tengah dinamika perekonomian nasional, realisasi investasi di wilayah tersebut mencapai Rp764,79 miliar. Capaian ini juga dibarengi dengan peningkatan efektivitas pelayanan publik berbasis digital.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh Barat, Ifan Murdani, S.STP., M.Si., Sabtu (7/2/2026), menyampaikan bahwa selama 2025 pihaknya mengelola anggaran sebesar Rp5,88 miliar. Dari jumlah tersebut, realisasi anggaran mencapai 95,15 persen atau setara Rp5,60 miliar.

Menurut Ifan, tingginya serapan anggaran tersebut menjadi indikator optimalisasi program kerja sekaligus menunjukkan konsistensi pemerintah daerah dalam memperkuat iklim investasi di Aceh Barat.

Meski demikian, nilai realisasi investasi secara tahunan tercatat mengalami penurunan sebesar 53 persen dibandingkan tahun 2024. Namun, aktivitas investasi justru menunjukkan tren yang positif. Hal ini tercermin dari peningkatan jumlah Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) sebesar 37 persen, dengan total 1.191 laporan yang masuk sepanjang 2025.

“Meski nilai realisasi investasi mengalami penurunan 53 persen dibandingkan tahun 2024 (year on year), aktivitas investasi justru menunjukkan tren menggembirakan. Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) sebesar 37 persen, dengan total 1.191 laporan yang masuk sepanjang 2025,” ujar Ifan.

Lebih lanjut, Ifan menjelaskan bahwa berdasarkan data triwulanan, realisasi investasi tertinggi terjadi pada Triwulan III dengan nilai Rp359,6 miliar. Disusul Triwulan II sebesar Rp179,4 miliar, Triwulan IV Rp121,3 miliar, serta Triwulan I sebesar Rp104,2 miliar.

Dari sisi sektor usaha, pertambangan masih menjadi kontributor terbesar terhadap investasi Aceh Barat, dengan porsi mencapai 47,5 persen atau sekitar Rp363 miliar. Sektor Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Kehutanan berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 20,8 persen atau sekitar Rp158 miliar.

Secara wilayah, Kecamatan Meureubo tercatat sebagai daerah dengan nilai investasi tertinggi, yakni Rp378 miliar atau setara 49,4 persen dari total realisasi. Selanjutnya diikuti Kecamatan Panton Reu dan Woyla.

Ifan juga menegaskan komitmen DPMPTSP Aceh Barat dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui penerapan digitalisasi penuh. Sepanjang 2025, seluruh proses perizinan dilakukan secara daring melalui sistem OSS, SICANTIK, dan SIMBG. Total sebanyak 3.253 dokumen perizinan dan nonperizinan berhasil diterbitkan.

Selain itu, berbagai inovasi layanan terus dikembangkan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Inovasi tersebut meliputi Klik n Kring melalui WhatsApp dan telepon, Hiling (Hadirkan Layanan Izin Keliling) dengan bus pelayanan ke kecamatan dan gampong, serta SILOPer (Sistem Layanan Ojek Perizinan) yang mengantarkan dokumen izin langsung ke rumah pemohon guna mencegah praktik pungutan liar. DPMPTSP Aceh Barat juga menghadirkan platform B’Invest Anywhere sebagai ruang diskusi inklusif untuk mempromosikan peluang investasi daerah.

Melalui berbagai capaian dan inovasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem investasi yang sehat, transparan, dan berkelanjutan. Dampak nyata dari upaya tersebut terlihat dari penyerapan tenaga kerja lokal yang mencapai 845 orang sepanjang tahun 2025, sebagai kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Aceh Barat.

Cuaca Barat–Selatan Aceh Didominasi Cerah Berawan

0
Ilustrasi cuaca cerah berawan. (Foto: Pixabay)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Wilayah Aceh bagian Barat dan Selatan diperkirakan mengalami cuaca cerah berawan sepanjang Sabtu, 7 Februari 2026. Kondisi tersebut diprakirakan berlangsung sejak pagi hingga dini hari di sebagian besar wilayah.

Berdasarkan data BMKG, suhu udara di kawasan Barat–Selatan Aceh berada pada kisaran 22 hingga 32 derajat Celsius, dengan tingkat kelembaban udara antara 70 hingga 98 persen. Sementara itu, angin permukaan hingga ketinggian 3.000 kaki umumnya bertiup dari arah utara dengan kecepatan mencapai 24 kilometer per jam.

“Secara umum, kondisi cuaca di wilayah Barat dan Selatan Aceh relatif stabil dengan dominasi cerah berawan, meski beberapa daerah masih berpotensi mengalami hujan ringan,” demikian keterangan BMKG yang dikutip dari bmkg.go.id.

Untuk wilayah Calang, Meulaboh, Suka Makmue, Kuala Pesisir, dan Blangpidie, cuaca diprakirakan cerah pada pagi hari. Namun, kondisi berawan hingga berawan tebal berpotensi terjadi pada siang hingga malam hari.

Sementara itu, Tapak Tuan diprakirakan berawan dengan peluang hujan ringan pada siang hari. Kondisi berawan diperkirakan berlanjut hingga malam dan dini hari.

Wilayah Singkil dan Subulussalam juga diprediksi berawan dengan potensi hujan ringan pada siang hari, yang kemudian berlanjut hingga malam dan dini hari.

Adapun wilayah Sinabang berpotensi mengalami hujan ringan hingga hujan lokal pada malam hari. Untuk kondisi perairan, tinggi gelombang di wilayah Barat dan Selatan Aceh diperkirakan berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter.

USK Inisiasi Pemulihan Pascabanjir Aceh dengan Pendekatan One Health

0
USK Inisiasi Pemulihan Pascabanjir Aceh dengan Pendekatan One Health. (Foto: For NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Aceh meninggalkan dampak yang tidak hanya berupa kerusakan infrastruktur, tetapi juga persoalan kompleks yang menyentuh kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, serta kualitas lingkungan hidup. Menyikapi kondisi tersebut, Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong upaya pemulihan pascabencana melalui pendekatan One Health yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, lingkungan, dan masyarakat.

Pendekatan ini diperkenalkan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar di Banda Aceh, Selasa (3/2/2026). Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rektor USK Prof Marwan dan menjadi forum kolaboratif lintas sektor untuk membahas pemulihan sosial, pangan, dan kesehatan masyarakat rentan pascabanjir.

Sebanyak 60 peserta dari berbagai instansi hadir dalam forum tersebut, di antaranya perwakilan Dinas Peternakan Aceh, Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan, dan Perikanan Kota Banda Aceh, Kementerian Pertanian, perguruan tinggi di Aceh, serta para praktisi. Diskusi menghadirkan Prof Srihadi Agungpriyono dari IPB University dan Prof Yani dari USK sebagai narasumber.

Rektor USK Prof Marwan menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung pemulihan pascabencana. Menurutnya, peran universitas tidak cukup berhenti pada kajian akademik, tetapi harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat terdampak. Peran tersebut, kata dia, sejalan dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi agenda pembangunan nasional.

Dalam konteks pemulihan pascabanjir di Aceh, Marwan menilai pendekatan One Health sangat relevan karena memandang kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan lingkungan, dan kesehatan masyarakat sebagai satu kesatuan yang saling terhubung. Ia mencontohkan pengalaman pandemi COVID-19 sebagai pelajaran penting bahwa persoalan kesehatan tidak dapat diselesaikan secara sektoral.

“Kompleksitas persoalan tersebut menegaskan bahwa solusi tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan harus melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi,” ujar Marwan.

Marwan juga mengungkapkan bahwa USK telah membentuk One Health Collaboration Center (OHCC) sejak 2018. Pusat kolaborasi ini bermula dari Fakultas Kedokteran Hewan dan kemudian berkembang menjadi model pembelajaran lintas disiplin yang melibatkan bidang kedokteran, biologi, keperawatan, serta keilmuan lainnya.

“Melalui model pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman lintas sektor dan mampu berkolaborasi dalam kerangka One Health setelah mereka lulus,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Equity USK Prof Muslim Akmal menjelaskan bahwa FGD tersebut secara khusus diarahkan untuk mendukung tiga target SDGs, yakni tanpa kemiskinan (SDG 1), tanpa kelaparan (SDG 2), serta kehidupan sehat dan sejahtera (SDG 3). Ia menilai pendekatan One Health menjadi kerangka strategis yang tepat dalam situasi pascabencana.

Menurut Muslim, bencana banjir memperlihatkan keterkaitan erat antara kondisi lingkungan, kesehatan hewan, dan kesehatan manusia. Lingkungan yang tercemar berpotensi memicu munculnya penyakit, ternak yang terdampak akan memengaruhi ketahanan pangan, dan pada akhirnya berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

“Pascabencana banjir, interaksi ketiga aspek ini menjadi semakin nyata. Lingkungan yang tercemar dapat memicu penyakit, ternak yang sakit memengaruhi ketahanan pangan, dan pada akhirnya kesehatan masyarakat pun terancam. Oleh karena itu, proses pemulihan tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan harus terintegrasi,” ujar Muslim.

Melalui penguatan pendekatan One Health, USK berharap proses pemulihan pascabencana di Aceh tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi mampu membangun ketahanan masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan di masa mendatang.

Akademisi Nilai Kenaikan UMP Aceh Dorong Kesejahteraan, PHK Dinilai Tak Tepat

0
Ilustrasi Gaji (Foto: infobanknews.com)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Kebijakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Aceh sebesar 6,7 persen pada awal 2026 disambut positif oleh kalangan pekerja dan buruh. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut memicu polemik setelah sejumlah perusahaan mengeluhkan beban operasional yang meningkat akibat kewajiban membayar upah sesuai ketentuan baru.

Dampak kebijakan ini mulai terlihat di beberapa sektor. Di Kota Lhokseumawe, sejumlah rumah sakit swasta dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan pada awal Februari 2026 dengan alasan tidak mampu menyesuaikan pengupahan sesuai UMP terbaru. Kondisi ini pun memancing beragam respons dari masyarakat.

Tanggapan datang dari akademisi Universitas Malikussaleh, Dr. Ibrahim Qomarius, S.E., M.S.M., dalam dialog Bincang Pagi RRI Pro 1 Lhokseumawe, Kamis (5/2/2026). Ia menilai, secara makroekonomi, kenaikan upah minimum justru memberikan dampak positif bagi pekerja sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurut Ibrahim, upah yang layak berperan penting dalam meningkatkan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya memperkuat konsumsi rumah tangga secara berkelanjutan. Selain itu, kebijakan pengupahan juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup serta kesejahteraan masyarakat, sehingga berpotensi menekan angka kemiskinan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh itu menegaskan bahwa kenaikan UMP sejatinya ditujukan untuk kepentingan bersama, baik bagi pekerja maupun dunia usaha. Karena itu, ia menilai kebijakan tersebut tidak semestinya dijadikan alasan untuk melakukan PHK.

Ibrahim menekankan bahwa fenomena PHK massal perlu dikaji secara menyeluruh dengan menelusuri akar persoalannya, mulai dari proses perekrutan tenaga kerja, kepatuhan terhadap standar pengupahan, hingga kemungkinan adanya kepentingan tertentu yang membuat perusahaan ingin memperoleh keuntungan tanpa membayar upah sesuai ketentuan.

“Jika tidak mampu menggaji sesuai upah minimum, jangan mempekerjakan. Ini menjadi tanda tanya, apakah sejak awal pekerja direkrut untuk digaji di bawah ketentuan, atau memang ada kesepakatan tertentu,” ujar Ibrahim.

Ia juga menilai, mudahnya perusahaan melepas pekerja mengindikasikan bahwa sejak awal telah terjadi kesepakatan pengupahan di bawah UMP. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan lemahnya pengawasan dalam implementasi kebijakan ketenagakerjaan.

Ibrahim pun mengingatkan pentingnya peran dinas terkait untuk memastikan kebijakan pengupahan dijalankan sesuai aturan. Tanpa pengawasan dan sanksi yang tegas, perusahaan dikhawatirkan akan terus membayar upah di bawah standar yang telah ditetapkan.

Lebih lanjut, ia menyebut fenomena PHK akibat kenaikan UMP tidak menutup kemungkinan juga terjadi di daerah lain. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang solutif antara pemerintah daerah dan pelaku usaha agar kebijakan pengupahan tidak berujung pada gelombang PHK.

“Kebijakan kenaikan UMP ini jangan dijadikan polemik, tetapi harus diapresiasi sebagai upaya menjaga keadilan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan buruh di seluruh wilayah Aceh,” tutup Ibrahim.

Akses Pendidikan Inklusif di Aceh Belum Merata hingga Wilayah Terpencil

0
Ilustrasi pendidikan inklusif. (Foto: Klikmu.co)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Upaya pengembangan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas di Aceh terus menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, pemerataan layanan pendidikan masih menghadapi berbagai kendala, khususnya di wilayah pedalaman dan kepulauan.

Kepala Sekolah SLB YBSM Banda Aceh, Asmahani, S.Pd, mengungkapkan bahwa anak-anak penyandang disabilitas di kawasan perkotaan relatif lebih mudah mengakses layanan pendidikan. Hal tersebut disampaikannya dalam Dialog Disabilitas yang disiarkan RRI pada Minggu, 1 Februari 2026.

Sebaliknya, di daerah terpencil dan kepulauan, layanan pendidikan bagi anak disabilitas belum tersedia secara merata dan optimal. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan utama dalam pemenuhan hak belajar bagi kelompok disabilitas di Aceh.

Asmahani menjelaskan, pemerintah telah mendorong penerapan sekolah inklusi melalui regulasi penerimaan peserta didik penyandang disabilitas. Selain itu, setiap kabupaten dan kota di Aceh telah memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB), baik negeri maupun swasta, sebagai bentuk layanan pendidikan khusus.

Namun demikian, kesiapan sekolah tidak hanya bergantung pada aspek administrasi. Menurutnya, masih diperlukan peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan agar proses pembelajaran ramah disabilitas dapat berjalan secara efektif.

Selain keterbatasan sumber daya manusia, persoalan sarana dan prasarana juga menjadi hambatan. Aksesibilitas bangunan sekolah serta ketersediaan media pembelajaran khusus dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan peserta didik disabilitas di sejumlah sekolah inklusi.

Ia berharap, SLB dapat berperan sebagai pusat sumber (resource center) yang mendampingi sekolah inklusi di berbagai daerah. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat pemerataan layanan pendidikan inklusif di seluruh wilayah Aceh.

Dewan Perdamaian Versi Trump dan Dilema Politik Bebas Aktif Indonesia

0
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump (AFP/ Fabrice Coffrini)

NUKILAN.ID | INDEPTH – Di luar Congress Hall, hamparan salju Pegunungan Alpen membeku dalam sunyi. Namun di balik pintu ruang VIP, suasana justru terasa hangat—dipenuhi percakapan pelan, aroma diplomasi, dan energi kekuasaan yang kental. Kamis siang itu, Donald Trump tidak sekadar tersenyum; ekspresinya memancarkan rasa puas, hampir seperti selebrasi kemenangan politik.

Dilansir Nukilan.id dari berbagai media, dengan gaya khas yang teatrikal, Presiden Amerika Serikat tersebut menepuk bahu dua tokoh yang berdiri di sampingnya: Presiden Indonesia Prabowo Subianto di sebelah kiri dan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban di sisi kanan.

“Dua pria tangguh,” seloroh Trump, disambut tepuk tangan meriah para undangan—kalangan elit global yang kerap memandang dinamika dunia layaknya permainan strategi di atas papan catur raksasa.

Di atas meja mahoni putih yang berkilau, terbentang sebuah dokumen resmi bertajuk Board of Peace (Dewan Perdamaian). Beberapa saat kemudian, Prabowo, pemimpin negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, menorehkan tanda tangannya pada dokumen tersebut.

Goresan pena tersebut tidak sekadar menjadi ritual seremonial belaka; ia menjelma sebagai pintu masuk yang berpotensi membawa Indonesia terseret ke pusaran manuver geopolitik paling kontroversial dalam satu dekade terakhir.

Di mata Istana, tanda tangan itu dipandang sebagai “momen bersejarah” dan “peluang emas” diplomasi. Namun di sisi lain, sejumlah pengkritik di Jakarta menilainya sebagai cek kosong yang sarat risiko—sebuah langkah spekulatif yang dipandang mempertaruhkan kedaulatan Palestina di meja judi Davos.

Narasi “Perdamaian” di Balik Kepentingan

Di permukaan, pembentukan Dewan Perdamaian Gaza dipresentasikan sebagai langkah mulia—sebuah mekanisme transisi untuk membangun kembali wilayah Gaza yang hancur akibat konflik berkepanjangan, dengan legitimasi yang merujuk pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Namun, sebagaimana lazim terjadi dalam diplomasi tingkat tinggi, detail teknis justru menjadi ruang tempat kepentingan politik dan kekuasaan bekerja secara tersembunyi.

Struktur lembaga ini dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan forum mediasi yang setara. Alih-alih berdiri sebagai badan arbitrase independen, komposisinya menyerupai konsolidasi kekuasaan yang terkonsentrasi. Donald Trump disebut memegang posisi Ketua dengan kewenangan eksekutif dominan, sementara sejumlah posisi strategis dipercayakan kepada figur-figur dari lingkaran dekatnya, seperti menantunya Jared Kushner, utusan khusus Steve Witkoff, serta mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Kehadiran Kushner kembali memunculkan kekhawatiran lama. Publik internasional masih mengingat bagaimana ia kerap memandang dinamika konflik Timur Tengah melalui pendekatan ekonomi dan pembangunan properti—menempatkan Gaza bukan semata sebagai wilayah yang mengalami trauma kemanusiaan, tetapi juga sebagai kawasan dengan potensi investasi di pesisir Laut Tengah.

Kontroversi semakin menguat ketika muncul skema pembiayaan yang menyertai struktur keanggotaan dewan tersebut. Masa keanggotaan disebut dibatasi tiga tahun, kecuali bagi negara yang bersedia menyetor dana sebesar US$ 1 miliar (sekitar Rp16,8 triliun) untuk memperoleh status permanen. Nilai tersebut memicu kritik karena dianggap menyerupai “tiket masuk” menuju forum yang desain institusionalnya disebut-sebut lebih banyak ditentukan oleh Washington.

Menanggapi berbagai sorotan itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, segera memberikan klarifikasi. Ia menepis anggapan bahwa keterlibatan Indonesia sarat kepentingan politik tertentu. Menurutnya, partisipasi Indonesia justru merupakan bentuk dukungan konkret terhadap perjuangan Palestina, bukan sekadar simbol diplomatik. Mengenai isu kontribusi dana besar, Vahd menegaskan bahwa mekanisme tersebut tidak bersifat wajib, melainkan sukarela.

“Ini mekanisme paling operasional, didukung negara-negara Timur Tengah dan OKI,” ujarnya,  membela langkah bosnya yang kini duduk satu meja dengan arsitek “Deal of the Century”, sebagaimana dikutip dari inilah.com.

Arsitektur Kekuasaan di Balik Retorika Perdamaian

Narasi pemerintah mengenai strategi “berjuang dari dalam” mulai dipertanyakan setelah dokumen tersebut dianalisis secara lebih mendalam. Hasil pembacaan kritis terhadap draf resolusi justru memunculkan gambaran berbeda dari klaim diplomatik yang selama ini disampaikan.

Dikutip dari Tempo, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Bachtiar Nasir, menilai isi dokumen itu memperlihatkan arah kebijakan yang jauh dari semangat perdamaian yang digaungkan.

“Kalau kita membaca draf resolusinya, yang tampak jelas adalah desain kekuasaan, bukan desain perdamaian,” kata Bachtiar.

Menurut Bachtiar, persoalan utama dalam struktur dewan tersebut terletak pada absennya posisi rakyat Palestina sebagai aktor politik utama. Dalam analisisnya, rancangan kelembagaan itu justru menempatkan Palestina bukan sebagai subjek yang menentukan masa depan wilayahnya sendiri, melainkan sekadar pihak yang diatur.

Berdasarkan dokumen yang dibocorkan Drop Site News, Dewan tersebut dirancang memiliki otoritas legislatif, eksekutif, sekaligus yudikatif penuh atas Gaza. Konsekuensinya, posisi kepemimpinan internasional—yang disebut-sebut akan dipegang oleh Donald Trump—dipandang menyerupai figur penguasa kolonial modern, sementara warga Palestina berpotensi direduksi menjadi objek administratif dalam tata kelola baru tersebut.

Bachtiar juga menilai wacana rekonstruksi dan investasi ekonomi yang dipromosikan sebagai solusi pascakonflik hanyalah strategi retoris untuk meredam kritik terhadap agenda politik yang lebih besar.

“Pembangunan tanpa kemerdekaan bukan solusi. Itu hanya mengubah penjajahan militer menjadi penjajahan administratif dan ekonomi,” ujarnya.

Ia memperingatkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam skema tersebut berpotensi membawa konsekuensi serius, terutama jika kehadiran itu justru dipersepsikan sebagai dukungan moral terhadap proyek yang dinilainya bernuansa kolonial.

“Gaza tidak membutuhkan wali internasional. Gaza membutuhkan kemerdekaan,” tegasnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim. Dilansir dari Jawa Pos, ia menilai konsep Board of Peace (BoP) mencerminkan praktik “neokolonialisme”, karena pendekatan yang ditawarkan lebih menitikberatkan pada stabilisasi administratif dan pembangunan infrastruktur ketimbang penyelesaian akar konflik, yakni penghentian pendudukan.

“Keterlibatan tanpa garis merah yang jelas dapat menjadikan Indonesia sebagai legitimasi moral bagi skema yang justru merugikan perjuangan kemerdekaan Palestina,” ingat Sudarnoto.

Paradoks “Bebas Aktif” dalam Arena Kekuasaan Global

Di titik inilah keputusan Prabowo menjadi arena pertaruhan besar—bahkan bagi sebagian kalangan dinilai sebagai langkah yang berisiko. Politikus Golkar Dave Laksono memandang kebijakan tersebut sebagai praktik diplomasi lama yang kembali dihidupkan: keterlibatan langsung demi memberi warna dari dalam. Menurutnya, pendekatan ini berangkat dari kalkulasi pragmatis—kehadiran di dalam forum kekuasaan dianggap lebih efektif untuk memengaruhi arah kebijakan dibanding berdiri di luar tanpa akses pengambilan keputusan.

Pandangan serupa disampaikan Anggota Komisi I DPR dari PKB, Oleh Soleh. Ia menilai kehadiran Indonesia justru membuka peluang untuk memainkan peran sebagai penyeimbang, bahkan menjadi “rem” terhadap kebijakan Donald Trump yang kerap dinilai minim empati dalam sejumlah isu global.

Namun, argumentasi tersebut berhadapan dengan realitas politik internasional yang tidak sepenuhnya setara. Struktur kekuasaan global, bagi sebagian pengamat, tidak memberi ruang pengaruh yang seimbang bagi semua pihak yang duduk di meja perundingan. Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, melihat ketimpangan itu sebagai persoalan mendasar yang sulit diabaikan.

“Jika Trump punya hak veto mutlak, Indonesia tidak bisa duduk sama rendah tegak sama tinggi,” ujar Anwar sebagaimana dikutip dari DetikFinance.

Ia kemudian mengurai apa yang ia sebut sebagai ilusi pengaruh diplomatik. Dalam pandangannya, sulit membayangkan Indonesia mampu benar-benar “mewarnai” keputusan ketika kendali utama berada di tangan Trump, sementara di sisi lain Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—yang secara terbuka menolak solusi dua negara—ikut menentukan arah pembicaraan. Kekhawatiran Anwar berangkat dari kemungkinan bahwa kehadiran Indonesia justru dimanfaatkan sebagai simbol legitimasi politik, seolah-olah Israel telah memperoleh penerimaan dari negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Dalam konteks inilah prinsip politik luar negeri “bebas aktif” kembali diuji. Apakah keterlibatan langsung benar-benar membuka ruang pengaruh, atau justru menempatkan Indonesia dalam posisi simbolik tanpa daya tawar nyata—pertanyaan itu kini menjadi perdebatan yang belum menemukan jawaban pasti.

Menjadi Sorotan Akademisi

Sejumlah akademisi memandang langkah diplomatik tersebut dengan nada kehati-hatian yang serupa. Dina Sulaeman, analis geopolitik Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran, menilai pembentukan Dewan itu lebih menyerupai Trojan Horse atau Kuda Troya dalam diplomasi global.

Dikutip dari Inilah.com, dokumen piagam lembaga tersebut menurut diana tidak secara tegas menempatkan Gaza sebagai fokus utama yang bersifat eksklusif, melainkan membuka ruang perluasan agenda ke berbagai konflik internasional lain yang dapat disesuaikan dengan kepentingan Donald Trump.

“Ini mekanisme di luar PBB di mana dia (Trump) yang menguasai, dia yang mengatur,” kata Dina. Sebuah unilateralisme yang dibungkus jubah multilateral.

Pandangan kritis juga datang dari Broto Wardoyo, akademisi hubungan internasional Universitas Indonesia, yang menyoroti implikasi politik domestik Indonesia. Ia menilai, di tengah kuatnya solidaritas publik Indonesia terhadap Palestina, keputusan untuk berada dalam forum yang sama dengan Benjamin Netanyahu berpotensi menjadi langkah yang kurang tepat secara politik dan dapat memicu reaksi negatif di dalam negeri.

“Jangan sampai niat memajukan Palestina, kita malah ‘menjual’ mereka,” peringatnya tajam.

Di Persimpangan Kepentingan dan Idealisme

Dalam perspektif Realpolitik, kebijakan luar negeri kerap ditentukan oleh kepentingan nasional ketimbang pertimbangan moralitas. Dalam kerangka itu, langkah Prabowo mendekat kepada Trump dapat dibaca sebagai manuver strategis—baik untuk memperkuat posisi ekonomi maupun pertahanan—dengan isu Palestina dijadikan jalur masuk diplomasi.

Di sisi lain, konstitusi Indonesia secara tegas mengamanatkan penolakan terhadap segala bentuk penjajahan. Karena itu, keterlibatan dalam dewan yang, meminjam istilah Bachtiar Nasir, “mengonsolidasikan penguasaan atas Gaza”, menghadirkan paradoks dalam praktik diplomasi Indonesia. Prinsip politik luar negeri “Bebas Aktif” pun tampak mengalami pergeseran makna menjadi “Bebas mengekor agenda asing, Aktif membayar tagihannya”.

Kritik serupa juga disampaikan Broto Wardoyo, yang mengingatkan bahwa Indonesia sebelumnya berada pada posisi lemah saat menghadapi kebijakan perang tarif Trump. Dalam konteks tersebut, harapan untuk dapat “mengendalikan” Trump dari dalam dewan yang ia ciptakan sendiri terdengar lebih menyerupai optimisme yang rapuh—atau bahkan bentuk penyerahan diri yang dibalut narasi diplomasi yang elegan. (XRQ)

Reporter: Akil

Mulai 2026, PNS Tak Lagi Sepenuhnya Ditanggung Negara dalam Skema Pensiun

0
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN).

NUKILAN.ID | JAKARTA — Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) diminta mulai bersiap menghadapi perubahan sistem pensiun yang akan diberlakukan pemerintah mulai 2026. Dalam skema baru ini, pensiun PNS tidak lagi sepenuhnya ditanggung negara seperti sebelumnya.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia tengah menyiapkan skema pensiun fully funded, yakni sistem pendanaan pensiun yang dikumpulkan sejak PNS masih aktif bekerja. Artinya, aparatur negara akan mulai menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai iuran pensiun yang dikelola secara berkelanjutan.

Dengan skema tersebut, dana pensiun ke depan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selama ini, sistem pensiun PNS masih menggunakan pola pay as you go, di mana pembayaran pensiun dilakukan langsung dari APBN.

Namun, pemerintah menilai pola lama tersebut berisiko membebani keuangan negara dalam jangka panjang, seiring terus meningkatnya jumlah pensiunan setiap tahun.

“Sistem Pay as You Go (yang berlaku selama ini) membuat APBN kita tersandera. Kita membayar pensiunan hari ini dengan pajak rakyat yang bekerja hari ini. Di tahun 2026, di mana rasio pensiunan terhadap pegawai aktif semakin tinggi, skema ini sudah tidak sustainable,” ungkap Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewo dalam konferensi pers di Gedung Djuanda, seperti dilansir Nukilan.id belum lama ini.

Melalui sistem fully funded, pembayaran manfaat pensiun di masa depan akan bersumber dari akumulasi dana iuran selama masa kerja PNS. Pemerintah menilai model ini memberikan dua keuntungan sekaligus, yakni mengurangi tekanan fiskal negara dan tetap memberikan kepastian manfaat pensiun bagi aparatur sipil negara.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa perubahan sistem pensiun ini tidak akan diterapkan secara serentak. Kebijakan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi fiskal nasional, kesiapan regulasi, serta mekanisme pengelolaan dana pensiun yang aman dan berkelanjutan. (XRQ)

Reporter: Akil

Kemenkum Aceh Sabet PROAKSI Awards Berkat Kinerja Pelaporan Keuangan

0
Kepala KPPN Banda Aceh, M. Afifudin Ikhsan saat menyerahkan penghargaan kepada Kepala Kanwil Kemenkum Aceh, Meurah Budiman, di Komplek Gedung Keuangan Negara, yang berlokasi di Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh pada Kamis, 5 Februari 2026. (Foto: Kemenkum Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Aceh meraih PROAKSI Awards dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Banda Aceh atas capaian kecepatan pengiriman dan kualitas laporan keuangan satuan kerja.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala KPPN Banda Aceh, M. Afifudin Ikhsan, kepada Kepala Kanwil Kemenkum Aceh, Meurah Budiman, di Komplek Gedung Keuangan Negara, Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Kamis (5/2/2026).

Kepala Kanwil Kemenkum Aceh, Meurah Budiman, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran dalam menjaga akuntabilitas dan ketertiban pengelolaan keuangan negara. Menurutnya, apresiasi dari KPPN Banda Aceh menjadi bukti bahwa pembenahan sistem administrasi serta penguatan tata kelola keuangan yang dilakukan selama ini berada pada jalur yang tepat.

“Penghargaan ini kami maknai sebagai penyemangat bagi seluruh jajaran agar semakin disiplin, profesional, dan tepat waktu dalam pengelolaan serta pelaporan keuangan. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada KPPN Banda Aceh atas pembinaan dan pendampingan yang selama ini diberikan. Sinergi ini sangat membantu satuan kerja dalam menjaga kualitas laporan keuangan,” ungkap Kakanwil.

Ia berharap penghargaan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi komitmen berkelanjutan dalam menjaga integritas dan transparansi pengelolaan anggaran. Pengelolaan keuangan yang akuntabel dinilai sebagai fondasi penting dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan hukum kepada masyarakat.

Wamendagri Lepas Ratusan Praja IPDN untuk Dukung Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang

0
Wamendagri Lepas Ratusan Praja IPDN untuk Dukung Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang. (Foto: Kemeendagri)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus melepas praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Gelombang II yang akan ditugaskan membantu percepatan pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Pelepasan berlangsung di Lapangan Parade IPDN, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).

Dalam penugasan tersebut, sebanyak 776 peserta diterjunkan ke Aceh Tamiang. Jumlah itu terdiri dari 721 praja IPDN dan 55 aparatur sipil negara (ASN) pendamping. Mereka dijadwalkan melaksanakan tugas mulai 6 Februari hingga 6 Maret 2026.

Wiyagus menyampaikan bahwa Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera. Dalam perannya tersebut, Tito secara rutin memantau perkembangan pemulihan pascabencana di sejumlah daerah terdampak.

“Dan kehadiran praja setelah ini juga bagian dari apa yang sedang dipimpin oleh Bapak Mendagri,” ujar Wiyagus dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Ia menekankan agar para praja mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai kepemimpinan pemerintahan secara langsung di tengah masyarakat. Penugasan di Aceh Tamiang, lanjutnya, menjadi pengalaman berharga bagi praja untuk menerapkan keilmuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di kampus.

Wiyagus juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat berkomunikasi langsung dengan Bupati Aceh Tamiang. Dari komunikasi tersebut, ia menerima kesan positif atas dedikasi para praja IPDN selama membantu pemulihan daerah, khususnya dalam pelayanan pemerintahan.

“Bupati mengatakan sungguh sangat terbantu dan sangat luar biasa. Etos kerja yang ditunjukkan oleh para praja ini benar-benar memberikan motivasi bukan hanya kepada bupati, tapi kepada seluruh ASN yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang,” sambung Wiyagus.

Lebih lanjut, Wiyagus menjelaskan bahwa para praja akan berperan dalam mendorong pemulihan layanan publik serta memperkuat kapasitas administrasi pemerintahan daerah. Ia berharap kontribusi tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk melalui pemulihan fasilitas publik di wilayah terdampak bencana.

“Oleh karena itu, saya berpesan agar seluruh praja senantiasa menjunjung tinggi disiplin, kemudian loyalitas, dan etika kepamongprajaan. Jaga sikap, jaga perilaku, serta jadilah teladan di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Rektor IPDN Halilul Khairi beserta sejumlah pejabat di lingkungan IPDN.