Beranda blog Halaman 81

Setelah Gangguan, Sistem Listrik Aceh Kini Beroperasi Normal Kembali

0
Satgas PRR pastikan listrik hampir pulih total di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. (FOTO: Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sistem kelistrikan di Provinsi Aceh yang sebelumnya mengalami gangguan kini telah berhasil dipulihkan sepenuhnya. Hal tersebut disampaikan oleh PLN UID Aceh melalui unggahan resminya pada Minggu (24/5/2026).

Dalam keterangannya, PLN menyebutkan bahwa proses pemulihan jaringan listrik di seluruh wilayah Aceh telah selesai dilakukan pascagangguan yang sempat terjadi.

“Sistem kelistrikan di wilayah Provinsi Aceh saat ini telah berhasil dipulihkan seluruhnya pascagangguan,” tulis PLN UID Aceh dikutip Nukilan dalam unggahannya.

PLN UID Aceh juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung proses pemulihan, termasuk masyarakat yang dinilai tetap bersabar selama penanganan berlangsung.

Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim, mengatakan pihaknya berterima kasih atas dukungan seluruh stakeholder selama proses pemulihan sistem kelistrikan dilakukan.

PLN turut mengimbau masyarakat untuk tetap memanfaatkan layanan pengaduan resmi melalui Contact Center PLN 123 maupun aplikasi PLN Mobile apabila menemukan kendala kelistrikan di wilayah masing-masing.

Reporter: Rezi

Kemenag Aceh Selatan Perkuat Upaya Pencegahan Narkoba di Sekolah Lewat Bimtek P4GN

0
Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Aceh Selatan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pegiat Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Lembaga Pendidikan Bersih Narkoba sebagai bagian dari upaya memperkuat lingkungan pendidikan yang bebas dari penyalahgunaan narkotika. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Aceh Selatan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pegiat Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Lembaga Pendidikan Bersih Narkoba sebagai bagian dari upaya memperkuat lingkungan pendidikan yang bebas dari penyalahgunaan narkotika.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus Poltekkes Aceh Selatan Program Studi Keperawatan, Jumat (22/5/2026), diikuti guru mata pelajaran IPA dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dari 15 SMA, SMK, dan madrasah di wilayah Tapaktuan.

Para peserta dipersiapkan menjadi pegiat P4GN melalui penguatan Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) di lingkungan sekolah dan madrasah.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Selatan, HM Suryadi Anwar SAg, turut hadir dan menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan moral generasi muda terhadap ancaman penyalahgunaan narkoba.

Menurut Suryadi, fungsi lembaga pendidikan tidak hanya sebatas memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga membentuk karakter serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk bahaya narkotika.

“Sekolah dan madrasah harus menjadi ruang aman bagi peserta didik. Pencegahan narkoba tidak cukup hanya dengan sosialisasi, tetapi perlu diintegrasikan dalam pembelajaran. Misalnya dalam pelajaran IPA atau pelajaran agama bisa disampaikan bagaimana bahaya narkoba atau dampak sosialnya kepada para siswa,” ujar Suryadi.

Ia juga memberikan apresiasi kepada BNN Kabupaten Aceh Selatan yang dinilai terus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan terbebas dari penyalahgunaan narkoba.

Selain menghadirkan perwakilan BNNK Aceh Selatan/BNK Tapaktuan, kegiatan bimbingan teknis tersebut juga melibatkan narasumber dari Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Aceh Selatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Selatan, serta koordinator pengawas dari unsur Dinas Pendidikan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pascabanjir Aceh Tamiang, Ancaman ISPA dan Diare Mulai Mengintai Ribuan Warga

0
Genangan air dan lumpur sisa banjir menjadi sarang bakteri penyebab diare dan infeksi saluran pernapasan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare mulai mengancam ribuan warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Kondisi lingkungan yang belum pulih setelah bencana menjadi faktor utama meningkatnya risiko penyebaran penyakit di kalangan pengungsi maupun masyarakat yang telah kembali ke rumah.

Masalah kesehatan tersebut muncul seiring terganggunya akses air bersih dan rusaknya sistem sanitasi di sejumlah kawasan terdampak. Warga di pengungsian maupun di permukiman yang masih dipenuhi sisa banjir dilaporkan mengalami keluhan kesehatan yang hampir seragam.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, penyakit yang paling banyak dikeluhkan warga di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, meliputi ISPA, diare, dan infeksi kulit. Kondisi ini dipicu oleh menurunnya kualitas lingkungan setelah banjir, termasuk munculnya debu dari lumpur yang mengering.

Lingkungan pascabencana dinilai menjadi tempat yang mendukung berkembangnya berbagai agen penyakit seperti bakteri, virus, dan jamur. Saat genangan air surut, lumpur yang tertinggal akan mengering dan berubah menjadi partikel debu halus yang mudah terbawa angin.

Debu tersebut berpotensi membawa mikroorganisme serta berbagai material asing yang dapat terhirup masyarakat. Akibatnya, risiko peradangan saluran pernapasan meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.

Di sisi lain, sumber air minum warga juga menghadapi risiko pencemaran. Banyak sumur dan jaringan air bersih terkontaminasi material yang terbawa banjir, termasuk kotoran dan bakteri penyebab penyakit. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus gangguan pencernaan, khususnya diare.

Situasi di lokasi pengungsian turut memperbesar risiko penularan penyakit. Keterbatasan fasilitas sanitasi seperti toilet dan tempat pembuangan sampah, ditambah tingginya kepadatan penghuni posko, membuat penerapan kebersihan pribadi menjadi lebih sulit dilakukan.

Bencana banjir tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik pada bangunan dan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan ancaman kesehatan lingkungan yang berpotensi berkembang menjadi wabah apabila tidak ditangani secara serius.

Dampak Luas dan Kerusakan Fasilitas Kesehatan

Selain memengaruhi kesehatan masyarakat, banjir juga merusak berbagai fasilitas kesehatan yang menjadi penopang pelayanan medis di wilayah terdampak. Kerusakan tersebut membuat upaya penanganan penyakit pascabencana menjadi semakin berat.

Data sementara menunjukkan sebanyak 288.311 jiwa atau 80.919 keluarga terdampak bencana. Dampak tersebut menjangkau 444 gampong yang tersebar di 24 kecamatan. Sementara itu, terdapat 20.537 warga yang masih berada di 52 titik pengungsian.

Di sektor kesehatan, tercatat 41 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, lima puskesmas mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat beroperasi sama sekali.

Puskesmas yang mengalami kerusakan paling parah berada di wilayah Kecamatan Lokop, Serbajadi, Peunaron, Ranto Pereulak, Pante Bidari, dan Matang Pudeng. Kerusakan ini berdampak langsung terhadap akses layanan kesehatan masyarakat di daerah terdampak.

Upaya Tanggap Darurat

Untuk menekan risiko meningkatnya kasus penyakit, berbagai pihak mulai menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut mencakup operasional dapur umum serta distribusi suplemen bagi warga yang berada di pengungsian.

Tim medis dari berbagai instansi, termasuk unsur Polri, terus menjangkau daerah terdampak menggunakan kendaraan khusus maupun perahu karet. Selain memberikan layanan kesehatan, petugas juga memberikan dukungan psikologis kepada warga yang mengalami trauma akibat bencana.

Langkah pencegahan turut dilakukan dengan membersihkan fasilitas umum dan menyiram jalan yang mulai berdebu guna mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan partikel lumpur kering.

Beberapa langkah penanganan darurat yang dilakukan antara lain:

  • Mendirikan posko kesehatan darurat yang beroperasi selama 24 jam di sekitar lokasi pengungsian.
  • Menyalurkan air bersih siap konsumsi dan cairan disinfektan untuk kebutuhan sanitasi warga.
  • Melaksanakan fogging sebagai langkah antisipasi peningkatan kasus demam berdarah setelah banjir.

Imbauan bagi Warga

Masyarakat diminta tetap waspada terhadap gejala penyakit yang muncul pascabanjir. Menjaga kebersihan diri menjadi langkah penting untuk mencegah penularan penyakit, termasuk membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.

Warga juga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di area yang berdebu guna mengurangi risiko gangguan pernapasan. Sementara untuk kebutuhan konsumsi, air minum sebaiknya dimasak hingga mendidih dan makanan dijaga tetap bersih serta tertutup.

Bagi warga yang mengalami gejala seperti demam, batuk, atau diare, dianjurkan segera mendapatkan penanganan medis. Konsumsi oralit atau larutan gula garam dapat membantu mencegah dehidrasi pada penderita diare sebelum memperoleh perawatan lebih lanjut.

Penanganan dampak kesehatan pascabanjir membutuhkan kerja sama berbagai pihak secara berkelanjutan. Pemulihan fasilitas kesehatan, perbaikan sanitasi, serta penyediaan akses air bersih menjadi faktor penting untuk mencegah munculnya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular di masa mendatang. Tanpa langkah tersebut, risiko penyebaran penyakit akan tetap menjadi ancaman bagi masyarakat setiap kali bencana banjir kembali terjadi.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BBM di Sejumlah SPBU Abdya Dikabarkan Habis, Antrean Kendaraan Mengular Saat Pemadaman Listrik Berlanjut

0
Ilustrasi antrian BBM. (Foto: Kompas)

NUKILAN.ID | Blangpidie – Pemadaman listrik berkepanjangan yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) disebut mulai berdampak terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi itu memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Salah seorang warga Desa Kuta Bak Drien, Kecamatan Tangan-tangan, Asnawi, mengatakan masyarakat mulai kesulitan memperoleh BBM di tengah pemadaman listrik yang belum normal.

“Sekarang di Abdya malah sampai BBM di SPBU habis, sudah antre panjang, sampai ke situ imbasnya,” ujar Asnawi yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) Kuta Bak Drien saat dikonfirmasi Nukilan, Sabtu (23/5/2026).

Di sejumlah wilayah, warga dan pelaku usaha disebut mengandalkan generator sebagai sumber listrik alternatif. Asnawi mengaku saat berada di kawasan Blangpidie, banyak tempat usaha menggunakan genset agar aktivitas tetap berjalan.

“Tadi saya pulang dari Blangpidie, rata-rata pakai genset semua,” ujarnya.

Selain BBM, masyarakat juga dikabarkan mulai mengalami kendala memperoleh gas LPG. Namun penyebab pasti gangguan distribusi tersebut belum diketahui.

“Sampai gas LPG pun terkendala, entah kenapa, nggak tahu juga kita,” katanya.

Pemadaman listrik juga berdampak terhadap aktivitas rumah tangga warga. Persediaan air menjadi terbatas karena pompa air tidak berfungsi, sementara sebagian masyarakat terpaksa menggunakan sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

“Kalau mandi terpaksa mandi di kali, jadi baju-baju kotor pun terpaksa cuci di kali,” ujar Asnawi.

Tidak hanya itu, pemadaman listrik berkepanjangan juga mengganggu kebutuhan memasak warga. Menurut Asnawi, sebagian besar masyarakat di Abdya mengandalkan peralatan memasak berbasis listrik, termasuk penanak nasi.

“Yang paling menyedihkan, rata-rata masyarakat di Abdya memasak menggunakan cosmos (penanak nasi), jadi sekarang tidak bisa masak lagi karena listrik mati,” katanya.

Kondisi tersebut menambah dampak pemadaman listrik terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari keterbatasan air bersih, kesulitan memperoleh BBM, hingga terganggunya kebutuhan rumah tangga. []

Reporter: Sammy

Puluhan Ayam Mati Akibat Pemadaman Listrik Berkepanjangan, Pedagang Ayam di Abdya Rugi

0
Kondisi ayam milik Asnawi yang mati akibat tidak ada penerangan. (Foto: Dok warga)

NUKILAN.ID | Blangpidie – Pemadaman listrik yang terjadi selama dua hari terakhir di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mulai menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha kecil. Salah satunya dialami pemilik Usaha Dagang (UD) Ayam Bersama di Desa Kuta Bak Drien, Kecamatan Tangan-tangan, Asnawi. Dia mengaku puluhan ayam potong miliknya mati akibat tidak adanya penerangan selama listrik padam.

Asnawi mengatakan pemadaman listrik terjadi di seluruh wilayah Kecamatan Tangan-tangan dan berdampak langsung terhadap usaha ayam potong yang dijalankannya.

“Listrik mati semua, bukan hanya di Desa Kuta Bak Drien, tapi seluruh Kecamatan Tangan-tangan mati semua. Tadi saya pulang dari Blangpidie, listrik mati mulai dari Kecamatan Manggeng sampai Babahrot, hanya Desa Babah Lhok di Blangpidie yang hidup,” ujar Asnawi kepada Nukilan, Sabtu (23/5/2026).

Menurut dia, listrik sempat menyala sekitar pukul 17.00 WIB, namun kembali padam sekitar pukul 17.30 WIB dan belum kembali normal hingga malam hari.

Akibat kondisi tersebut, sekitar 20 ekor ayam potong miliknya dilaporkan mati dalam dua malam terakhir. Ia menyebut ayam potong membutuhkan penerangan dan suhu hangat agar tetap bertahan.

“Yang sudah pasti seperti saya yang ada usaha dagang ayam potong ini, ayam sudah banyak yang mati karena tidak ada penerangan lantaran mati lampu, sekitar 20 ekor ada dalam dua malam ini. Malam ini belum tahu lagi,” sebutnya.

Untuk mengurangi dampak pemadaman, Asnawi mengaku terpaksa menggunakan lilin sebagai penerangan darurat. Namun upaya itu dinilai belum mampu menggantikan kebutuhan penerangan bagi ternak.

Ia menilai kondisi tersebut membuat pelaku usaha kecil semakin terbebani karena keuntungan yang diharapkan justru berubah menjadi kerugian.

“Kami sangat dirugikan dengan kondisi ini. Ayam banyak yang mati akibat listrik padam, padahal usaha ini untuk mencari keuntungan, justru sekarang mengalami kerugian,” katanya.

Selain berdampak pada usaha, pemadaman listrik juga mengganggu kebutuhan rumah tangga warga, mulai dari keterbatasan air bersih hingga aktivitas memasak yang bergantung pada peralatan listrik.

Asnawi menyebut hingga saat ini dirinya belum mengetahui adanya pemberitahuan resmi terkait pemadaman listrik tersebut. []

Reporter: Sammy

Pemko Banda Aceh Gelar Pasar Murah Daging Meugang Idul Adha, Berikut 6 Lokasinya

0
PASAR MURAH
Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DP2KP) menggelar Pasar Murah Daging Meugang dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DP2KP) menggelar Pasar Murah Daging Meugang dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Kepala DP2KP Kota Banda Aceh, Iskandar, kepada Nukilan.id mengatakan kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni 24–25 Mei 2026, dengan enam titik lokasi yang tersebar di sejumlah kecamatan di Banda Aceh.

“Pada hari pertama, Minggu 24 Mei 2026 pasar murah dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu Gampong Lhong Raya Kecamatan Banda Raya, halaman SD Negeri 56 Lamglumpang Kecamatan Ulee Kareng, serta di Jalan Rama Setia Lampaseh Aceh Kecamatan Meuraxa,” katanya.

Sementara pada hari kedua, Senin 25 Mei 2026, pasar murah digelar di halaman Kantor Perumda Tirta Daroy Kota Banda Aceh Kecamatan Kuta Alam, Jalan Tentara Pelajar eks Suzuya Shopping Centre Kampung Baro Kecamatan Baiturrahman, serta di Jalan Rama Setia Lampaseh Aceh Kecamatan Meuraxa.

Berikut enam lokasi Pasar Murah Daging Meugang:

Minggu, 24 Mei 2026

  1. Gampong Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya.
  2. Halaman SD Negeri 56 Lamglumpang, Kecamatan Ulee Kareng.
  3. Jalan Rama Setia, Lampaseh Aceh, Kecamatan Meuraxa.

Senin, 25 Mei 2026
4. Halaman Kantor Perumda Tirta Daroy Kota Banda Aceh, Kecamatan Kuta Alam.
5. Jalan Tentara Pelajar (eks Suzuya Shopping Centre), Kampung Baro, Kecamatan Baiturrahman.
6. Jalan Rama Setia, Lampaseh Aceh, Kecamatan Meuraxa.

Menurut Iskandar, kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai dan dipusatkan di sejumlah titik strategis guna menghindari penumpukan warga serta memudahkan akses masyarakat.

“Pemerintah menetapkan harga khusus daging meugang sebesar Rp150 ribu per kilogram. Program ini diprioritaskan khusus bagi warga Kota Banda Aceh sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus membantu masyarakat memenuhi kebutuhan menjelang Idul Adha,” katanya.

Ia menambahkan, program yang diinisiasi oleh Wali Kota Banda Aceh tersebut turut mendapat dukungan dari sejumlah mitra strategis, yakni Bank Indonesia, Bank Syariah Indonesia, Pegadaian, dan LKMS Mahirah Muamalah. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Penyeberangan Jakarta–Malahayati Resmi Dibuka, Diharapkan Pangkas Biaya Logistik ke Aceh

0
PEMERINTAH ACEH
Pemerintah Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) resmi menandatangani kesepakatan bersama terkait pengoperasian lintasan penyeberangan Jakarta–Pelabuhan Malahayati Aceh. Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Kantor ASDP Jakarta, Sabtu (23/5/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah Aceh dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) resmi menandatangani kesepakatan bersama terkait pengoperasian lintasan penyeberangan Jakarta–Pelabuhan Malahayati Aceh. Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Kantor ASDP Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun, menyampaikan bahwa kerja sama ini memiliki arti penting dalam upaya meningkatkan konektivitas transportasi laut sekaligus memperkuat perekonomian Aceh. Menurutnya, posisi Aceh yang berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka menjadi salah satu potensi strategis yang perlu didukung dengan infrastruktur transportasi yang memadai.

“Selain memperkuat konektivitas transportasi laut, Aceh memiliki posisi geografis yang strategis karena berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka,” kata Nasir.

Ia menjelaskan, distribusi barang dari Pulau Jawa ke Aceh selama ini masih bergantung pada jalur darat yang melintasi Pulau Sumatera. Kondisi tersebut menyebabkan waktu pengiriman relatif lebih lama dan biaya operasional logistik menjadi lebih tinggi.

Karena itu, kehadiran layanan kapal RoRo yang melayani lintasan Jakarta–Malahayati diharapkan dapat menjadi alternatif transportasi yang lebih efektif bagi masyarakat maupun pelaku usaha di Aceh.

“Lintasan ini diharapkan dapat memperlancar distribusi logistik, mempersingkat waktu tempuh, memperpendek rantai pasok, membuka akses yang lebih luas bagi produk unggulan Aceh, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Yossianis Marciano, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus bersinergi dengan Pemerintah Aceh dalam mendukung operasional lintasan penyeberangan tersebut.

“Fokus utama kerja sama ini adalah pengoperasian dan pengembangan lintasan penyeberangan strategis Jakarta–Pelabuhan Malahayati Aceh sebagai bagian dari transformasi layanan ASDP menuju penguatan layanan Long Distance Ferry (LDF),” kata Yossianis.

Penandatanganan kesepakatan itu turut dihadiri sejumlah pejabat Pemerintah Aceh. Sekda Aceh didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh T Robby Irza, Kepala Dinas Perhubungan Aceh T Faisal, serta sejumlah kepala biro di lingkungan Sekretariat Daerah Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Polisi Periksa 15 Saksi Terkait Kebakaran Gedung Fakultas Pertanian USK, Kerugian Ditaksir Rp20 Miliar

0
USK
Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) terbakar, Kamis (21/5/2026) dini hari. Peristiwa itu diduga buntut keributan antar mahasiswa. (Foto: Dok. Polresta Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Penyidik Satreskrim Polresta Banda Aceh telah memeriksa 15 saksi terkait kasus kebakaran Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) yang diduga berkaitan dengan keributan antarmahasiswa di kampus tersebut pada Kamis (21/5/2026) dini hari.

Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, mengatakan para saksi yang telah dimintai keterangan terdiri atas 13 mahasiswa, seorang dosen, dan satu orang pelapor.

“Sebanyak 15 saksi telah kita mintai keterangan terkait kejadian terbakarnya gedung serta fasilitas lainnya yang ada di Fakultas Pertanian USK,” kata Dizha saat dikonfirmasi, Sabtu (23/5/2026).

Ia menjelaskan, selama proses pemeriksaan, 13 mahasiswa tersebut turut didampingi oleh Wakil Dekan Fakultas Teknik, Bambang Setiawan.

Pemeriksaan dilakukan berdasarkan laporan polisi yang diajukan pihak Fakultas Pertanian dengan nomor LP/B/418/V/2026/SPKT/Polresta Banda Aceh/Polda Aceh tertanggal 21 Mei 2026.

Dalam penyelidikan yang berlangsung, polisi juga telah mengumpulkan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, di antaranya batu, kayu, sepeda motor dan mobil yang terbakar, serta pecahan kaca yang diduga berasal dari bom molotov.

“Beberapa barang bukti itu juga telah kita sita dari TKP,” ujarnya.

Dizha menyebutkan, penyidik masih terus mendalami kasus tersebut dan tidak menutup kemungkinan jumlah saksi yang diperiksa akan bertambah.

“Penyidik dan tim identifikasi juga akan melakukkan uji laboratorium forensik beberapa barang bukti atau petunjuk yang di dapatkan di TKP, kerugian dari kejadian tersebut ditaksir sekitar Rp 20 miliar,” tuturnya.

Sebelumnya, Gedung Fakultas Pertanian USK terbakar pada Kamis dini hari. Selain gedung utama, pos satpam serta sejumlah kendaraan yang berada di lokasi juga ikut terbakar.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Andi Kirana, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti peristiwa tersebut.

“Kami sedang melakukan penyelidikan terkait terbakarnya Gedung Fakultas Pertanian USK, pos satpam, dan sepeda motor yang terparkir di area tersebut,” kata Andi.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, sebelum kebakaran terjadi sempat berlangsung keributan antara kelompok mahasiswa yang diduga berasal dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik. Konflik tersebut disebut telah berlangsung sejak dua hari sebelumnya dan kembali memanas beberapa jam sebelum kebakaran terjadi.

“Keributan sudah terjadi dalam dua hari lalu, kemudian keributan berlanjut beberapa jam sebelum terbakarnya area tersebut,” ujarnya.

Keributan tersebut dilaporkan berujung pada aksi perusakan fasilitas kampus, termasuk pelemparan terhadap kaca gedung dan sejumlah fasilitas ruangan. Dalam insiden itu, dua mahasiswa Fakultas Teknik mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan.

“Dua mahasiswa Fakultas Teknik turut mengalami luka-luka sehingga harus dirawat,” kata dia.

Andi menambahkan, setelah adanya mahasiswa yang terluka, sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik diduga melakukan aksi balasan ke Fakultas Pertanian dengan melakukan pelemparan batu dan membawa bom molotov.

“Kejadian tersebut mengakibatkan kerusakan di Fakultas Pertanian dan juga laboratorium, tiga unit sepeda motor dan satu unit mobil turut terbakar,” tuturnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Jalan Bintang–Serule Rusak Pascabadai, Aktivitas Ekonomi Warga Terganggu

0
Kondisi ruas jalan Bintang–Serule di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, mengalami kerusakan dan tertimbun material longsor pascabadai, sehingga menghambat mobilitas warga dan aktivitas distribusi hasil ekonomi masyarakat. (Foto: Dok warga)

JaaNUKILAN.ID | Takengon — Kondisi ruas jalan Bintang–Serule di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, dilaporkan masih sulit dilalui pascabadai disertai angin kencang yang terjadi pada 20 Mei lalu. Material longsor yang menimbun badan jalan serta kondisi berlumpur disebut menghambat mobilitas warga dan distribusi barang kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan dokumentasi lapangan dan keterangan warga, sejumlah titik jalan masih dipenuhi lumpur dan sisa longsoran. Kendaraan pengangkut material bahkan dilaporkan kerap terjebak saat melintas.

Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, mengatakan kondisi jalan hingga kini belum sepenuhnya pulih meski alat berat sempat dikerahkan ke lokasi.

“Alat berat datang, tapi hanya membersihkan jalan. Belum perbaikan menyeluruh. Jalan masih berlumpur dan susah dilalui,” kata Wedy kepada Nukilan, Sabtu (23/5/2026).

Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sejauh ini hanya mengalokasikan satu unit ekskavator untuk menangani pembersihan material longsor di wilayah Kecamatan Bintang. Keterbatasan alat berat tersebut dinilai membuat proses penanganan berjalan lambat.

“Ekskavatornya cuma satu untuk Kecamatan Bintang dan dipakai ke beberapa lokasi. Jadi penanganannya terhambat, hanya bersihkan jalan saja,” ujarnya.

Menurut Wedy, kerusakan akses jalan mulai berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat, termasuk distribusi material bangunan untuk fasilitas pendidikan dan kegiatan sosial di desa.

Kendaraan pembawa material, lanjutnya, sempat terjebak berjam-jam akibat kondisi jalan yang licin dan tertutup lumpur.

“Mobil pembawa material pernah terjebak dari sekitar pukul 20.00 sampai dini hari. Material pasir akhirnya diturunkan di jalan agar kendaraan bisa keluar,” katanya.

Ruas jalan tersebut diketahui berstatus jalan provinsi dan menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat Kecamatan Bintang. Namun hingga saat ini, warga menilai penanganan yang dilakukan masih bersifat sementara.

Kerusakan jalan juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Sebagian warga menggantungkan penghasilan dari hasil getah pinus, sementara distribusi hasil panen menjadi terhambat karena kendaraan pengangkut sulit menjangkau lokasi.

“Ekonomi warga ikut terganggu. Hasil getah pinus susah dijual karena mobil pengangkut tidak bisa masuk,” kata Wedy.

Ia menyebut dalam sebulan terakhir, ruas jalan di kawasan tersebut telah beberapa kali mengalami putus akses akibat longsor. Penanganan darurat dilakukan dengan pembersihan material longsor, namun kondisi serupa kembali terjadi setelah hujan.

“Dalam bulan ini hampir tiga kali jalan putus. Biasanya dibersihkan, tetapi beberapa waktu kemudian longsor lagi. Belum ada solusi permanen,” ujarnya.

Wedy menambahkan, persoalan jalan rusak telah disampaikan kepada pemerintah daerah. Terdapat wacana peningkatan status ruas jalan dari jalan provinsi menjadi jalan nasional agar penanganan infrastruktur mendapat dukungan lebih besar. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang terlihat.

Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen pada ruas jalan Bintang–Serule guna mengurangi risiko terputusnya akses dan menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah tersebut. []

Reporter: Sammy

Listrik di Kecamatan Bintang Padam Hingga Tiga Hari, Warga Terdampak Aktivitas Harian

0
Ilustrasi listrik padam. (Foto: Antara/Arif Firmansyah)

NUKILAN.ID | Takengon — Sejumlah wilayah di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, dilaporkan mengalami pemadaman listrik selama beberapa hari akibat cuaca buruk dan pohon tumbang yang merusak jaringan listrik. Kondisi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pekerjaan rumah tangga dan usaha warga yang bergantung pada pasokan listrik.

Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, mengatakan pemadaman telah terjadi sejak sekitar dua hingga tiga hari terakhir, bahkan sebelum blackout di sebagian wilayah Sumatra yang ramai diperbincangkan belakangan ini.

“Kalau dihitung sampai sekarang, sudah sekitar tiga hari listrik padam. Penyebabnya karena angin kencang saat badai sebelumnya, sehingga ada pohon tumbang dan mengenai jaringan listrik,” kata Wedy saat dikonfirmasi Nukilan, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, hingga saat ini pasokan listrik di Kecamatan Bintang masih belum kembali normal dan masyarakat masih mengalami pemadaman. Beberapa daerah seperti kawasan Serule dan Atu Payung juga disebut belum diketahui secara pasti kondisi terkini jaringan listriknya.

“Kalau di Serule belum ada kabar. Karena jaringan di sana juga sebelumnya belum normal,” ujarnya.

Pemadaman listrik berkepanjangan tersebut berdampak pada aktivitas masyarakat sehari-hari. Warga kesulitan menjalankan pekerjaan rumah tangga yang menggunakan peralatan listrik, termasuk mencuci, serta aktivitas usaha kecil dan pekerjaan teknis yang bergantung pada listrik.

“Sekarang hampir semua pakai listrik. Ibu-ibu mencuci pakai listrik, pekerjaan seperti ngelas juga terganggu. Aktivitas malam masyarakat jadi banyak terhambat,” sebut Wedy.

Ia juga menilai kondisi pemadaman akibat kerusakan jaringan pascaangin kencang belum banyak mendapat perhatian publik dibandingkan blackout yang terjadi belakangan. Warga berharap proses perbaikan jaringan dapat segera dituntaskan agar pasokan listrik di Kecamatan Bintang kembali normal. []

Reporter: Sammy