NUKILAN.id | Banda Aceh – Penjabat (Pj) Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, Hj. Safriati, S.Si, M.Si, menyerukan para peserta pemilihan Agam dan Inong Aceh 2024 untuk aktif mempromosikan potensi Aceh hingga ke tingkat nasional dan internasional.
Amatan Nukilan.id, ia menegaskan bahwa mereka adalah duta yang membawa nama besar Aceh dengan segala kekayaan budaya, kuliner, dan pariwisatanya.
“Potensi Aceh sangat luar biasa, mulai dari pariwisata, kulinernya yang enak, dan juga kebudayaan,” ujar Safriati saat memberikan arahan pada malam penobatan Agam dan Inong Aceh 2024 di Gedung AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala, Sabtu (24/11/2024).
Dalam acara tersebut, Muhammad Faiz Alkirami asal Aceh Besar dan Syarifah Qadriah asal Aceh Timur terpilih sebagai Agam dan Inong Aceh 2024. Mereka menyisihkan 19 pasangan duta wisata dari seluruh kabupaten/kota di Aceh melalui proses panjang, mulai dari masa karantina, pembekalan materi, hingga penilaian bakat dan intelektualitas.
Safriati menekankan bahwa promosi potensi Aceh membutuhkan kreativitas dan konsistensi. Ia meminta para Agam dan Inong untuk memanfaatkan media sosial sebagai platform utama dalam memasarkan keunggulan Aceh.
“Minimal seminggu sekali, buatlah konten tentang keindahan dan kekayaan Aceh, lalu unggah ke media sosial. Ini akan menjadi langkah efektif untuk memperkenalkan Aceh ke seluruh dunia,” tuturnya.
Ia juga mengakui bahwa masih ada stigma negatif terhadap Aceh, terutama dari kalangan non-Muslim yang menganggap Aceh tidak aman karena penerapan syariat Islam. Menurut Safriati, persepsi ini harus diluruskan.
“Syariat Islam di Aceh sangat menghargai dan mengayomi perbedaan. Aceh terbuka untuk seluruh agama dan masyarakat Indonesia. Ini juga menjadi tugas para Agam dan Inong untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat luar,” tegasnya.
Penutupan acara ditandai dengan sorak sorai para pendukung dan harapan besar agar Muhammad Faiz Alkirami dan Syarifah Qadriah mampu membawa Aceh bersinar di pentas nasional maupun internasional. (XRQ)
Jojo Melaju ke Final China Masters 2024 dengan Penampilan Gemilang. (Foto: Dok. PBSI)
NUKILAN.id | Shenzhen – Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, menunjukkan performa luar biasa di semifinal China Masters 2024. Jojo, sapaan akrabnya, sukses menyingkirkan unggulan pertama sekaligus pemain nomor satu dunia, Shi Yu Qi, pada laga yang digelar di Shenzhen Gymnasium, Sabtu (23/11/2024).
Dalam pertandingan berdurasi 47 menit itu, Jonatan menang dua gim langsung dengan skor 21-17 dan 21-16. Sejak awal gim pertama, pemain kelahiran Jakarta tersebut langsung menguasai jalannya pertandingan. Empat poin beruntun mengantarnya unggul hingga jeda interval dengan skor tipis 11-10.
Selepas interval, Shi Yu Qi yang tampil di hadapan pendukungnya berusaha mengejar ketertinggalan. Namun, Jonatan mampu mempertahankan ketenangan dan menutup gim pertama dengan kemenangan 21-17.
Pada gim kedua, pertandingan berlangsung lebih sengit. Kedua pemain saling bergantian menyerang hingga skor menunjukkan keunggulan Jonatan 11-7 di interval. Meski Shi terus memberikan tekanan, Jonatan tampil stabil di momen-momen krusial.
Dengan dominasi yang konsisten, Jonatan akhirnya menyudahi perlawanan Shi di gim kedua dengan skor 21-16, memastikan langkahnya ke final turnamen level Super 750 ini.
Kemenangan ini menjadi bukti kualitas Jonatan sebagai salah satu tunggal putra terbaik dunia, sekaligus membuka peluang untuk meraih gelar di China Masters 2024. Final akan menjadi tantangan berikutnya bagi Jojo untuk menorehkan prestasi lebih gemilang.
NUKILAN.id | Jakarta – Masa tenang Pilkada Serentak 2024 akan dimulai pada Minggu (24/11/2024) dan berlangsung selama tiga hari. Berdasarkan Peraturan KPU Nomor 2 Tahun 2024 tentang Jadwal dan Tahapan Pilkada, masa tenang ini menjadi momen penting menjelang pemungutan suara yang dijadwalkan pada Rabu (27/11/2024).
Presiden Prabowo Subianto juga telah mengeluarkan keputusan presiden (keppres) yang menetapkan hari pemungutan suara sebagai hari libur nasional, memastikan masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya tanpa hambatan.
Masa tenang menandai berakhirnya masa kampanye selama 60 hari di 37 provinsi dan 508 kabupaten/kota yang menyelenggarakan Pilkada Serentak. Namun, seperti apa aturan yang berlaku selama masa tenang?
Larangan Kampanye
Berdasarkan Peraturan KPU Nomor 13 Tahun 2024 tentang Kampanye Pilkada, semua bentuk kampanye dilarang keras dilakukan selama masa tenang. Hal ini mencakup penyiaran iklan atau konten apa pun yang dapat menguntungkan atau merugikan peserta pilkada, baik di media cetak, elektronik, daring, media sosial, maupun lembaga penyiaran.
Aturan ini bertujuan menjaga integritas dan ketertiban Pilkada, memberikan waktu bagi masyarakat untuk mempertimbangkan pilihannya tanpa intervensi kampanye.
Dengan masa tenang yang dimulai esok hari, seluruh pihak diimbau mematuhi peraturan demi memastikan pelaksanaan Pilkada Serentak 2024 berjalan lancar dan damai.
NUKILAN.id | Tangerang – Bagi Anda yang mencari oleh-oleh khas sebelum pulang ke kampung halaman, Kue Balok Pasopati bisa menjadi pilihan praktis. Oleh-oleh ini tersedia di sejumlah kedai “Ole-Ole” di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta.
Lika, seorang penumpang yang hendak kembali ke Aceh, mengaku menjadikan Kue Balok Pasopati sebagai solusi ketika tak sempat membeli oleh-oleh selama berada di Jakarta.
“Pas lihat di toko oleh-oleh di Terminal 1, langsung beli empat kotak. Harganya terjangkau, cuma Rp 50.000 per kotak,” ujar Lika, Sabtu (23/11/2024).
Kue Balok Pasopati menawarkan empat varian rasa, yaitu brownies (cokelat), talas, red velvet, dan ubi Cileumbu. Lika memilih varian brownies yang menjadi favoritnya.
Setiap kotak Kue Balok Pasopati berisi 10 potong kue yang disusun rapi dalam dua baris. Pada bagian atas kotak, terdapat logo brand lengkap dengan ikon Jembatan Pasopati, Bandung, yang ikonis.
“Kuenya empuk dan rasanya pas. Cocok banget buat dinikmati sama keluarga di rumah,” tambah Lika.
Kue Balok Pasopati ini menjadi salah satu produk unggulan dari Bandara Soekarno-Hatta, yang semakin memperkaya pilihan oleh-oleh bagi para pelancong. Selain harganya yang terjangkau, kepraktisan dan rasanya yang khas membuat kue ini banyak diminati penumpang.
Bagi Anda yang masih bingung mencari oleh-oleh di Bandara Soekarno-Hatta, Kue Balok Pasopati bisa jadi opsi yang menarik. (XRQ)
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Tak Setuju Wapres Gibran Soal Penghapusan Sistem Zonasi. (Foto: Kompas)
NUKILAN.id | Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengkritik pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mengusulkan penghapusan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Menurut Lalu, sistem zonasi bukanlah masalah utama, melainkan implementasinya yang perlu dibenahi dan diawasi lebih ketat.
“Permasalahan utama sistem zonasi PPDB bukan pada kebijakannya, tetapi implementasinya,” ujar Lalu dalam keterangan resmi, Sabtu (22/11/2024).
Usulan Perbaikan Sistem Zonasi
Lalu menyoroti sejumlah langkah yang harus dilakukan untuk memperbaiki sistem zonasi. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas dalam penerapan zonasi, mengingat tidak semua kecamatan memiliki jumlah sekolah yang memadai.
“Jika di satu, dua, atau tiga kecamatan hanya ada satu SMP atau SMA, maka jangan buat zonasi per kecamatan atau jarak, tapi diperluas meliputi tiga kecamatan,” ucap Lalu.
Selain itu, ia mengusulkan pemerintah menjalin kerja sama dengan sekolah swasta untuk meningkatkan daya tampung dan kualitas pendidikan. Skema kerja sama tersebut dapat berupa pemberian bantuan, seperti peningkatan kualitas guru, operasional, sarana prasarana, dan lainnya.
“Pemerintah perlu menyusun skema kerja sama seperti model public-private partnership dengan memberdayakan satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat atau sekolah swasta dalam PPDB,” jelasnya.
Pengawasan Ketat dan Regulasi Baru
Lalu juga mengingatkan pentingnya pengawasan ketat agar tidak ada kecurangan dalam proses PPDB. Ia menyebut kurangnya informasi tentang daya tampung sekolah sering membuat orangtua kebingungan, yang akhirnya memunculkan praktik kecurangan di lapangan.
Sebagai langkah konkret, ia mendorong pemerintah membuat regulasi yang jelas untuk menciptakan kesetaraan antara sekolah negeri dan swasta. Hal ini dinilai penting untuk mewujudkan pemerataan pendidikan yang berkualitas.
Respons Wapres dan Mendikdasmen
Sebelumnya, Wakil Presiden Gibran meminta agar sistem zonasi dihapuskan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan sedang menunggu hasil kajian terkait usulan tersebut.
Keputusan akhir mengenai PPDB dan petunjuk teknisnya dijadwalkan akan diumumkan paling lambat Maret 2025, sebelum tahun ajaran baru dimulai.
“Kami pastikan keputusan PPDB dan juknisnya serta juklak sudah terbit sebelum Februari atau paling lambat bulan Maret,” ujar Mu’ti.
Sistem zonasi, yang diatur dalam Permendikbud No. 1 Tahun 2021, bertujuan menciptakan pemerataan pendidikan. Namun, sejumlah pihak menilai masih perlu perbaikan, terutama dalam melibatkan sekolah swasta untuk menambah daya tampung siswa.
Orangutan di dalam kawasan hutan Lauser. (Foto: wildlifeheritageareas)
NUKILAN.id | Feature – Di antara deru pohon yang menjulang dan aliran sungai yang meliuk seperti ular perak, Ekosistem Leuser berdiri sebagai benteng kehidupan di jantung Sumatra. Hutan ini bukan sekadar hamparan hijau di peta. Ia adalah dunia magis, tempat suara burung rangkong menggema di bawah kanopi yang rapat, dan daun-daun jatuh seperti bisikan rahasia alam. Di dalam kedalaman ini, makhluk luar biasa bernama orangutan Sumatra mengayunkan tubuhnya di antara dahan-dahan tinggi, menjadi simbol dari keajaiban yang tak tertandingi.
Perjalanan menuju Ekosistem Leuser adalah seperti menembus gerbang ke masa lalu. Dari desa-desa kecil di kaki gunung, jalan tanah merah mengular, membawa siapa pun yang cukup berani meninggalkan hiruk-pikuk peradaban menuju dunia yang serba alami. Semakin dalam melangkah, semakin kabur garis antara manusia dan alam.
Pagi itu, dengan langkah berat namun penuh semangat, aku memulai petualangan ini. Udara pagi terasa seperti embun yang baru saja lahir. Cahaya matahari menembus celah dedaunan, menciptakan pola yang terus berubah di atas tanah. Panduan kami, seorang pria tua bernama Pak Joko, berjalan di depan dengan langkah mantap. Ia membawa parang di pinggangnya, lebih sebagai simbol pengalaman daripada senjata.
“Di sini, hutan bicara, kalau kita mau mendengar,” katanya, suara baritonnya hampir seperti gumaman hutan itu sendiri.
Jejak Orangutan: Pertemuan Pertama
Sebelum matahari mencapai puncaknya, kami berhenti di sebuah bukit kecil. Di sana, di kejauhan, bayangan jingga kemerahan terlihat di antara dedaunan. Orangutan. Tubuhnya besar dan lincah, bergerak dari satu dahan ke dahan lain seperti penari yang melayang di udara.
“Lihat itu,” bisik Pak Joko, menunjuk ke arah pohon yang lebih rendah. Seekor orangutan betina bergelayut dengan bayi di lengannya, pelan-pelan bergerak mendekati pohon rambutan liar. Setiap gerakan mereka tampak seperti puisi visual, perlahan namun penuh makna.
Aku terdiam, memandang makhluk itu dengan rasa takjub yang hampir seperti doa. Kulitnya jingga keemasan, bercahaya dalam sinar matahari yang menembus celah dedaunan. Tatapan matanya, meski dari jauh, memancarkan kecerdasan yang nyaris manusiawi. Di sinilah, di tengah kedalaman hutan ini, aku merasa seperti seorang tamu kecil di dunia yang jauh lebih besar dan lebih tua dari yang pernah kubayangkan.
Pak Joko bercerita bahwa orangutan Sumatra adalah salah satu spesies paling terancam punah di dunia. Ancaman dari deforestasi dan perburuan telah membuat mereka hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Tapi di Ekosistem Leuser, mereka masih memiliki rumah—sebuah oasis terakhir bagi kehidupan liar yang membutuhkan perlindungan.
Harmoni Kehidupan yang Rumit
Ekosistem Leuser bukan hanya tentang orangutan. Ia adalah simfoni yang dimainkan oleh ribuan spesies, dari badak bercula dua yang jarang terlihat hingga harimau Sumatra yang gerakannya seperti bayangan.
Badak di Ekosistem Lauser. (Foto: HAkA)
Ketika kami melanjutkan perjalanan, Pak Joko menunjukkan berbagai tanda kehidupan yang tersembunyi. Ada bekas cakaran di batang pohon, jejak kaki kecil di lumpur, dan sarang lebah yang menggantung di dahan tinggi. Semua ini adalah bukti kehidupan yang terus bergerak, meski tak selalu terlihat oleh mata manusia.
“Hutan ini seperti tubuh,” ujar Pak Joko sambil menyentuh batang pohon besar yang akarnya mencengkeram tanah seperti tangan. “Jika satu bagian rusak, semuanya akan terasa.”
Ia menjelaskan bagaimana pohon-pohon besar menyediakan tempat tinggal bagi burung dan primata, sementara tumbuhan di bawahnya menjadi sumber makanan bagi herbivora. Sungai yang mengalir melalui hutan ini membawa air tidak hanya untuk binatang, tetapi juga untuk manusia di desa-desa sekitar. Segalanya terhubung, seperti jaring rumit yang saling menopang.
Di Tengah Kesunyian: Pertemuan yang Mendalam
Di suatu sore yang tenang, kami tiba di tepi sebuah sungai kecil. Suara aliran air dan nyanyian burung menciptakan latar belakang yang damai. Aku duduk di atas batu besar, merasakan dinginnya udara yang naik dari sungai.
Tiba-tiba, dari balik semak-semak di seberang sungai, muncul sosok orangutan jantan dewasa. Ia besar, dengan pipi lebar yang menandakan usianya. Ia duduk di dahan yang rendah, mengawasi kami dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Waktu terasa melambat. Aku menahan napas, takut suara sekecil apa pun akan mengusirnya. Kami saling memandang, aku dan makhluk yang, meskipun sangat berbeda, terasa begitu akrab. Dalam tatapannya, ada kebijaksanaan yang hanya dimiliki oleh makhluk yang hidup dekat dengan alam selama ratusan ribu tahun.
Pak Joko berbisik pelan, “Ia tahu kita di sini. Tapi jangan khawatir, ia tidak merasa terancam.”
Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, orangutan itu perlahan menghilang di antara pepohonan. Meninggalkan kami dalam hening yang penuh rasa syukur.
Bayang-Bayang Ancaman
Namun, keindahan ini tidak tanpa ancaman. Pak Joko, dengan nada sedih, bercerita tentang pembalakan liar dan alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit. “Hutan ini kuat, tapi tidak tak terkalahkan,” katanya.
Banyak bagian Ekosistem Leuser yang telah berubah menjadi ladang kosong, kehilangan nyawanya. Rumah bagi ribuan spesies kini hanya tinggal kenangan. Orangutan, yang membutuhkan area luas untuk bertahan hidup, sering kali terjebak di sisa-sisa hutan yang terfragmentasi.
“Tapi masih ada harapan,” tambahnya, dengan senyum kecil. Ia bercerita tentang upaya masyarakat lokal dan organisasi lingkungan yang bekerja keras untuk melindungi hutan ini. Mereka menjaga, menanam kembali, dan mendidik generasi muda tentang pentingnya melestarikan alam.
Pulang dengan Pelajaran Hidup
Ketika perjalanan ini berakhir, aku merasa seperti membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar cerita. Ada pelajaran mendalam tentang harmoni dan keseimbangan, tentang bagaimana manusia hanyalah satu bagian kecil dari jaringan kehidupan yang jauh lebih besar.
Ekosistem Leuser adalah pengingat akan keajaiban dunia yang sering kali kita lupakan. Di dalam kedalaman hutan ini, kehidupan terus berdenyut, meski menghadapi ancaman yang tak kunjung reda. Orangutan, dengan gerakan lincah dan tatapan cerdasnya, menjadi simbol dari harapan bahwa alam, jika diberi kesempatan, dapat bertahan dan pulih.
Di tengah malam yang sunyi, aku kembali membayangkan tatapan orangutan jantan itu. Ia seolah berkata, “Jagalah dunia ini, karena kami dan kamu adalah bagian darinya.”
Dan begitulah, Ekosistem Leuser tidak hanya meninggalkan kesan di hatiku, tetapi juga panggilan untuk bertindak. Sebuah janji untuk menghormati, melindungi, dan belajar dari keajaiban yang tersembunyi di hutan ini.
Juru bicara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh Bustami Hamzah dan M Fadhil Rahmi, Hendra Budian. (Foto: Dok. Pribadi)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) diminta untuk mengambil alih tugas dan kewenangan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menyusul tudingan keberpihakan dalam tahapan Pemilihan Gubernur Aceh (Pilgub Aceh). Permintaan ini disampaikan oleh Hendra Budian, juru bicara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh Bustami Hamzah dan M Fadhil Rahmi.
“Setelah adanya bukti nyata berupa informasi yang salah dan tindakan sepihak dari KIP Aceh, kami meminta KPU RI untuk membekukan peran komisioner KIP Aceh demi menyelamatkan proses demokrasi di Aceh,” ujar Hendra dalam keterangannya, Jumat (22/11).
Menurut Hendra, keberpihakan KIP Aceh terlihat dalam penghentian debat ketiga Pilgub Aceh yang berlangsung ricuh. Tuduhan terhadap Bustami Hamzah yang dinilai melanggar tata tertib menjadi alasan KIP Aceh menghentikan debat tersebut. Namun, Hendra menyebut tudingan tersebut tidak berdasar.
Debat Ketiga Dihentikan
Pada debat ketiga, Bustami Hamzah diduga melakukan pelanggaran karena menggunakan mikrofon clip-on yang dianggap sebagai alat elektronik terlarang. KIP Aceh memutuskan untuk menghentikan debat setelah insiden tersebut.
Ketua Tim Pemenangan Bustami-Fadhil, T M Nurlif, menilai penghentian debat itu dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas.
“KIP Aceh gagal memberikan penjelasan yang konsisten mengenai alasan penghentian debat. Tindakan ini semakin memperkuat dugaan adanya unsur kesengajaan untuk menggagalkan jalannya debat,” tegas Nurlif.
Ia juga mendesak KIP Aceh untuk segera menjadwalkan ulang debat ketiga sebelum hari pemungutan suara. “Kami menilai penghentian debat ini sepihak dan tidak bisa diterima,” tambahnya.
Potensi Ketidakpuasan Publik
Hendra Budian mengingatkan bahwa tindakan KIP Aceh yang dinilai tidak netral ini berpotensi memicu ketidakpuasan publik.
“Sudah dua kali peristiwa yang menunjukkan kesewenangan KIP Aceh. Jika hal ini terulang, rakyat Aceh bisa semakin tidak percaya pada proses demokrasi,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa jika KPU RI tidak segera mengambil langkah untuk mengatasi masalah ini, potensi ketidaknetralan dalam proses Pilgub Aceh akan semakin besar.
Hingga berita ini diturunkan, KIP Aceh belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan tersebut.
Pendiri JSI, Aryos Nivada. (Foto: Youtube Jalan Ary Official)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Baru-baru ini Lembaga Institute for Statistic and Socio Ecological Evelopment (ISSED) mengumumkan hasil survei elektabilitas calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh.
Lembaga tersebut menyatakan bahwa pasangan calon nomor urut 01, Illiza Sa’aduddin Djamal dan Afdhal Khalilullah unggul dari tiga pasangan lainnya.
Saat membaca rilis ISSED, Aryos Nivada Dosen Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (USK) menemukan beberapa informasi yang cukup menarik dan menimbulkan pertanyaan.
Pertama, kata dia, mengenai populasi dan sampel. Dalam release tersebut ISSED menyatakan jumlah sampel sebanyak 900 responden dari 9 desa di 9 kecamatan. Pernyataan ini tidak disertai dengan informasi tata cara memiliih sebuah desa sebagai representasi pemilih di sebuah kecamatan.
“Memang jumlah desa di Banda Aceh tidak banyak dan hanya 90 desa saja, namun perlu dipahami bahwa Banda Aceh adalah sebuah kota yang padat dengan penduduk sangat heterogen sehingga perilaku dan pilihan penduduknya sangat berwarna, hal ini membuat pengambilan sebuah desa untuk mewaliki pendapat penduduk di sebuah kecamatan menimbulkan pertanyaan alasan apa yang digunakan oleh ISSED untuk menjustifikasi hal tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa ada penjelasan mengenai alasan tersebut membuat kehasihan hasil survei ini layak untuk dipertanyakan.
Kedua, sambungnya, jika membandingkan dengan hasil pemilu legislatif lalu, dimana ada 3 paslon yang maju menggunakan jalur dukungan partai politik dan 1 paslon dari jalur independen.
Paslon 01 (Illiza-Afdhal) didukung oleh gabungan partai yang memiliki 9 kursi di DPR Kota Banda Aceh yaitu Gerindra memiliki 4 kursi, Golkar (3 kursi) dan PPP (2 kursi), paslon 02 (Aminullah-Isnaini) maju dengan dukungan 11 kursi yaitu PAN (5 kursi), Demokrat (5 kursi) dan PKB (1 kursi).
Lalu paslon 03 (Zainal-Mulia Rahman) maju dari jalur independen. Terakhir paslon 04 yaitu T. Irwan Djohan dan Khairul Amal maju dengan dukungan 10 kursi melalui Nasdem (5 kursi) dan PKS (5 kursi).
“Peta hasil legislatif ini menunjukkan sebaran dukungan masyarakat terhadap partai tersebar merata di seluruh pelosok Banda Aceh,” kata Direktur Lingkar Sindikasi itu.
Ia menyampaikan memang dukungan terhadap calon legislatif relatif berbeda dengan pilkada, namun peta hasil pemilu legislatif mencerminkan heterogenitas pilihan politik penduduk kota Banda Aceh.
“Jika dikaitkan dengan jumlah desa yang dijadikan sampel yang hanya berjumlah 9 desa, lalu hasil elektabilitas yang mencolok pada paslon 01 menimbulkan pertanyaan mengenai daerah sampel. Apakah tanpa sengaja pemilihan 9 desa survei memiliki irisan yang besar dengan desa yang menjadi lumbung suara paslon 01,” ungkapnya.
Pertanyaan ketiga, survei tersebut menggunakan metode crosstab dalam analisa hasil survei.
Metode crosstab secara umum memang sering digunakan untuk menganalisis hasil survei terutama riset pasar. Crosstab cukup mumpuni untuk analisis kuantitatif mengenai hubungan antara 2 variabel atau lebih.
Dalam survei ISSED, kata Aryos, terlihat mereka mencoba menghubungkan preferensi pemilih terhadap 2 karaktestik paslon yaitu “Agamis” dan “bebas korupsi, kolusi, nepotisme (berintegritas)”. Lalu dari ISSED mengarahkan pilihan “Agamis” kepada paslon 01 melalui pernyataan “24,68 persen penduduk Kota Banda Aceh menginginkan sosok calon pemimpin yang agamis” dan Illiza-Afdhal memenuhi kriteria tersebut.
“Hal ini menimbulkan pertanyaan besar yaitu apakah paslon lain tidak agamis? Bukankah calon lain seperti Aminullah dan Zainal Arifin dikenal sebagai tokoh PAN yang punya irisan besar dengan organisasi keagamaan Muhammadiyah?,” imbuhnya.
Ia menyebutkan kalau Khairul Amal merupakan tokoh PKS yang sangat tegas dalam melaksanakan Syariat Islam? Lalu mengapa ISSED seperti berkesimpulan bahwa paslon yang Islami hanya Illiza-Afdhal? ISSED perlu menjelaskan hal ini kepada publik.
“Jika ISSED tidak menjelaskan ketiga hal ini, tidak heran jika hasil survei mereka akakn dipandang sebagai survei yang partisan dan memihak pada calon tertentu,” pungkasnya.
Plt Sekda Aceh Pimpin Upacara HUT KORPRI ke-5. (Foto: MC Aceh)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Diwarsyah, memimpin upacara peringatan Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) ke-53, di halaman Kantor Gubernur Aceh. Dalam kesempatan tersebut, Diwarsyah membacakan sambutan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang juga menjabat sebagai Penasihat Nasional KORPRI.
“Selamat ulang tahun kepada seluruh anggota KORPRI di seluruh Indonesia. Terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Keluarga Besar KORPRI yang telah memberikan pengabdian terbaiknya selama lebih dari setengah abad dengan loyalitas dan dedikasi yang tinggi kepada bangsa dan negara,” ujar Diwarsyah, mengutip pernyataan Presiden Prabowo.
Tema peringatan tahun ini adalah “KORPRI untuk Indonesia.” Tema itu dinilai sangat tepat untuk menggambarkan peran KORPRI dalam perjalanan bangsa. Presiden menekankan bahwa Indonesia kini memasuki babak baru pemerintahan setelah melalui proses demokrasi, dan mengajak semua pihak untuk mendukung program-program pemerintah yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Prabowo juga menyoroti pentingnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, yang akan mengubah KORPRI menjadi Korps Pegawai ASN RI. Transformasi ini bertujuan untuk memperkuat jiwa korps ASN sebagai pemersatu bangsa.
Presiden Prabowo berharap KORPRI menjadi satu-satunya organisasi yang menaungi ASN, sehingga tidak ada dualisme dalam pembinaan ASN. Ia juga mendorong diumumkannya Peraturan Pemerintah tentang KORPRI untuk meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan hukum bagi seluruh ASN.
Dalam berbagai hal, Presiden menekankan bahwa KORPRI merupakan bagian integral dari pemerintahan dan harus terus diperkuat sebagai komponen strategi bangsa. Ia mengingatkan bahwa ASN harus selalu menjunjung tinggi prinsip netralitas dan setia kepada negara, tanpa memandang siapa pemimpinnya.
“ASN harus selalu menjunjung tinggi prinsip netralitas dan tetap setia kepada negara, siapapun pemimpinnya,” kata Prabowo.
Presiden juga menyampaikan beberapa pesan penting untuk dijadikan pedoman, antara lain memperkuat solidaritas dan kerja sama KORPRI, mendorong inovasi dan efisiensi dalam pelayanan, serta menjaga netralitas dan loyalitas ASN terhadap kepentingan rakyat dan bangsa.
Dengan semangat peringatan HUT KORPRI ke-53, diharapkan seluruh anggota KORPRI dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik dan mendukung pembangunan bangsa.
Calon Wali Kota Lhokseumawe nomor urut 1, Azhari. (Foto: For Nukilan)
NUKILAN.id | Lhokseumawe – Kota Lhokseumawe, yang terletak di pesisir Aceh, menyimpan potensi besar untuk menjadi sebuah kota tepi laut atau waterfront city. Jika terwujud, transformasi ini diyakini akan membawa Lhokseumawe menjadi salah satu kota pantai terindah di Indonesia, bahkan disebut-sebut bisa menyerupai Small Dubai.
Visi ambisius ini datang dari Azhari, calon Wali Kota Lhokseumawe nomor urut 1. Dengan latar belakang pendidikan teknik sipil (S1) dan manajemen (S2) dari Universitas Malikussaleh, visi tersebut terlihat realistis dan sangat mungkin diwujudkan.
Konsep waterfront city ini tak hanya sekadar mempercantik kota, tetapi juga menawarkan solusi bagi permasalahan banjir sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata. Selain itu, Azhari dikenal sebagai figur organisatoris yang mumpuni.
Berbagai posisi strategis pernah diembannya, mulai dari Ketua Alumni Teknik Sipil (2015 dan 2019), Dewan Pengawas RS PMI Lhokseumawe (2017), Bendahara IKAL (Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas) tahun 2018, Wakil Ketua Perbakin Kota Lhokseumawe (2019), Ketua DPW FKBN Korwil Aceh (2020), Wakil Ketua APSI DPD Aceh (2021), hingga Ketua Pertimbangan APINDO Kota Lhokseumawe (2022).
Azhari juga dikenal sebagai sosok yang gemar belajar, memperkaya wawasan dan keterampilannya sebagai modal penting untuk melayani masyarakat. Sejak 2008, ia aktif mengikuti seminar dan pelatihan. Beberapa di antaranya adalah seminar bisnis kerjasama PT Arun NGL, pelatihan sistem manajemen keselamatan kerja dan lingkungan (K3L), serta dialog wawasan kebangsaan dan bela negara.
Pada 2017, Azhari mengikuti pelatihan manajer keamanan (Gada Utama) dan pelatihan menembak di Bogor. Dua tahun kemudian, ia turut serta dalam seminar penguatan kapasitas pemimpin Indonesia untuk program Making Indonesia 4.0 di Jakarta. Tak ketinggalan, ia mengikuti outbound pemantapan nilai-nilai kebangsaan Lemhanas dan dialog kebangsaan untuk birokrat, akademisi, serta tokoh masyarakat, TNI, dan Polri.
Putra kelahiran Keude Krueng Geukueh, 2 Juli 1976, ini tak hanya mengandalkan kemampuan akademis dan pengalamannya, tetapi juga kiprah profesionalnya. Azhari menjabat sebagai Direktur Utama PT Vinca Rosea dan memiliki jaringan klinik Vinca Rosea di Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Tengah, dan Sigli. Ia juga merupakan pemilik pabrik garam Vinca Rosea dan penggagas Yayasan Pendidikan Islam Tahfiz Internasional Vinca Rosea.
Konsep waterfront city yang ia tawarkan pun menarik. Azhari berpendapat bahwa ke depan, semua bangunan di Lhokseumawe sebaiknya tidak lagi membelakangi laut, melainkan harus menghadap ke laut.
“Karena laut menjadi sumber inspirasi dan energi,” ungkapnya.
Dengan visi besar dan rekam jejak yang kaya, Azhari hadir membawa harapan baru bagi Kota Lhokseumawe.