Beranda blog Halaman 769

19 Tahun Perdamaian Aceh: Masih Banyak Pekerjaan Rumah untuk HAM dan Demokrasi

0
ELSAM bersama Flower Aceh menggelar diskusi publik bertema “Gerakan Hak Asasi Manusia dalam Turbulensi Demokrasi: Memastikan Kelanjutan Proses Damai Aceh”. (Foto: Flower Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Hampir dua dekade pasca-Perjanjian Helsinki 15 Agustus 2005, Aceh masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga perdamaian dan menegakkan hak asasi manusia (HAM). Meski konflik telah berakhir, dinamika demokrasi dan isu keadilan tetap menjadi sorotan berbagai pihak.

Hal ini terungkap dalam diskusi publik bertema “Gerakan Hak Asasi Manusia dalam Turbulensi Demokrasi: Memastikan Kelanjutan Proses Damai Aceh” yang diadakan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) bersama Flower Aceh di Banda Aceh, Jumat (13/12/2024). Diskusi ini dihadiri akademisi, aktivis, dan perwakilan pemerintah untuk mengkaji refleksi perjalanan perdamaian Aceh.

Direktur Eksekutif ELSAM, Wahyudi Djafar, menegaskan pentingnya menjadikan HAM sebagai fondasi utama kebijakan publik di Aceh.

“Mempertahankan perdamaian tidak cukup hanya dengan komitmen politik. HAM harus menjadi dasar dalam setiap langkah kebijakan yang diambil,” kata Wahyudi.

Perempuan dan Perdamaian: Peran yang Diabaikan

Dalam diskusi tersebut, perhatian besar diarahkan pada minimnya kebijakan perlindungan perempuan di Aceh. Aktivis perempuan sekaligus dosen Universitas Syiah Kuala, Suraiya Kamaruzzaman, mengungkapkan bahwa partisipasi perempuan dalam proses perdamaian masih sering terabaikan.

“Perempuan Aceh telah menjadi pilar perdamaian, tetapi hanya 0,12 persen dari total APBA yang dialokasikan untuk isu perempuan. Ini mencerminkan rendahnya perhatian terhadap masalah ini,” ujar Suraiya.

Ia menyerukan penerapan gender budgeting di berbagai sektor, bukan hanya di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A). Menurutnya, alokasi anggaran harus merata agar kebijakan pemberdayaan perempuan lebih optimal.

“Demokrasi yang inklusif membutuhkan keterlibatan perempuan. Kebijakan yang berpihak pada mereka adalah kunci untuk memastikan perdamaian tetap berlanjut,” tambahnya.

Penegakan HAM: Pilar Demokrasi yang Harus Diperkuat

Akademisi UIN Ar-Raniry, Reza Idria, menyebutkan bahwa pendidikan HAM di Aceh harus diperkuat untuk mendukung keberlanjutan demokrasi.

“Nilai-nilai HAM perlu diajarkan secara komprehensif, mulai dari sekolah hingga universitas. Selain itu, budaya lokal Aceh bisa menjadi modal besar dalam memperkaya konsep HAM,” kata Reza.

Namun, tantangan akses keadilan masih menjadi isu utama. Direktur LBH Banda Aceh, Aulianda Wafisa, menyoroti sulitnya masyarakat kecil mendapatkan keadilan.

“Tanpa dukungan pemerintah untuk advokasi HAM, akses keadilan akan terus menjadi isu yang sulit dipecahkan,” tegas Aulianda.

Ketua Komnas HAM periode 2007–2012, Ifdhal Kasim, menambahkan bahwa demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang menjunjung tinggi HAM.

“Jika HAM diabaikan, perdamaian Aceh akan sulit bertahan lama. Ini adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

KKR Aceh: Reparasi dan Harapan Baru

Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh (KKR Aceh), Mastur Yahya, mengungkapkan bahwa lembaganya tengah mempercepat program reparasi bagi korban konflik. Hingga kini, 1.200 korban tambahan telah terdata, dan rancangan pelaksanaan reparasi sedang difinalisasi.

“Kami berharap rancangan ini bisa segera diimplementasikan oleh Gubernur Aceh yang baru. Reparasi ini penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah,” kata Mastur.

Refleksi HAM dalam Buku

Diskusi ini juga menjadi ajang peluncuran dua buku bertema HAM: “Negara Pelindung Hak Asasi Manusia” dan “Suara Keadilan: Dedikasi Advokat untuk Gerakan HAM di Indonesia”. Buku-buku ini menjadi pengingat pentingnya peran advokasi dalam memperjuangkan HAM di Indonesia, termasuk di Aceh.

Moderator diskusi, Riswati, yang juga Direktur Eksekutif Flower Aceh, menegaskan bahwa keberlanjutan perdamaian membutuhkan komitmen kolektif.

“Perdamaian bukan sekadar status politik, tetapi perjalanan panjang yang membutuhkan kontribusi nyata dari semua pihak,” katanya.

Mengawal Perdamaian Aceh

Diskusi yang dihadiri berbagai elemen masyarakat ini menghasilkan seruan untuk memperkuat konsolidasi gerakan masyarakat sipil. Langkah konkret diperlukan agar perdamaian Aceh tetap terjaga di tengah dinamika demokrasi.

Aceh kini berdiri di persimpangan jalan: memperkuat pondasi perdamaian yang inklusif atau kembali terjebak dalam konflik lama. Jawabannya ada di tangan semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat.

Editor: Akil

Perusahaan Dinilai Perlu Sediakan Laptop untuk Karyawan, Apa Kata Kemenaker?

0
Ilustrasi orang bekerja menggunakan laptop. Perusahaan dinilai perlu menyediakan alat kerja seperti laptop atau komputer. (Foto:canva.com)

NUKILAN.id | Jakarta – Perdebatan mengenai kewajiban perusahaan menyediakan alat kerja seperti laptop atau komputer bagi karyawan ramai diperbincangkan di media sosial. Diskusi ini bermula dari unggahan akun X @convo*** pada Senin (9/12/2024), yang mengeluhkan penggunaan laptop pribadi untuk keperluan pekerjaan. Dalam unggahan tersebut, pengunggah membandingkan kondisi pekerja kantoran dengan buruh pabrik. Menurutnya, laptop seharusnya disediakan oleh kantor, sebagaimana buruh pabrik menggunakan mesin yang telah disediakan.

“Emang kalau enggak dikasih (laptop) enggak wajar? Biasanya kan dikasih?” tulis pengunggah.

Pernyataan ini memicu diskusi luas, dengan berbagai pendapat mengenai apakah laptop masuk kategori alat kerja yang wajib disediakan oleh perusahaan.

Apa Kata Regulasi?

Hingga saat ini, tidak ada ketentuan hukum yang secara khusus mewajibkan perusahaan menyediakan alat kerja berupa laptop atau komputer bagi karyawannya. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi.

Menurut Anwar, kebutuhan penyediaan alat kerja sangat bergantung pada jenis usaha dan output pekerjaan yang dihasilkan.

“Kalau pekerjaan tidak berhubungan langsung dengan output yang memerlukan laptop atau komputer, maka perusahaan tidak wajib menyediakannya,” ujar Anwar saat dihubungi Kompas.com, Rabu (11/12/2024).

Ia mencontohkan, perusahaan garmen atau pakaian jadi tidak menghasilkan produk yang berhubungan dengan komputer. Oleh karena itu, perusahaan semacam ini lebih fokus menyediakan alat kerja seperti mesin jahit atau mesin obras.

Namun, untuk perusahaan yang produk atau jasa utamanya berkaitan dengan teknologi atau data, penyediaan laptop atau komputer dianggap lebih relevan.

Penting untuk Mendukung Kinerja

Sementara itu, Talent Acquisition Manager Jobstreet by SEEK Indonesia, Ria Novita, menyebutkan bahwa meskipun tidak ada aturan tegas, penyediaan fasilitas penunjang kerja sudah selayaknya menjadi perhatian perusahaan.

“Jika pekerjaan karyawan membutuhkan fasilitas tertentu untuk bisa dilaksanakan dengan baik, maka sudah sepantasnya perusahaan menyediakan fasilitas tersebut,” kata Ria, Kamis (12/12/2024).

Ria menambahkan, dari perspektif keamanan dan efisiensi, perusahaan sebaiknya mempertimbangkan penyediaan alat kerja seperti laptop. Hal ini, kata dia, penting untuk melindungi data dan informasi rahasia perusahaan.

“Dengan alat kerja yang disediakan perusahaan, akses dapat dibatasi untuk penggunaan internal saja, sehingga data perusahaan lebih terjaga,” pungkasnya.

Diskusi yang Masih Panjang

Meski belum ada regulasi yang jelas, topik ini mengundang banyak perhatian. Beberapa karyawan merasa bahwa menggunakan laptop pribadi untuk bekerja membebani mereka secara finansial. Di sisi lain, beberapa perusahaan melihat penyediaan laptop sebagai investasi untuk menjaga efisiensi dan keamanan kerja.

Bagaimanapun, perdebatan ini mencerminkan pentingnya dialog yang seimbang antara hak karyawan dan kewajiban perusahaan. Akankah regulasi terkait alat kerja ini muncul di masa mendatang? Kita tunggu saja.

Editor: Akil

Mahadasa Group dan TMT Luncurkan Program Desa Berdaya untuk Kesejahteraan Desa

0
Mahadasa Group dan TMT Luncurkan Program Desa Berdaya untuk Kesejahteraan Desa. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Jakarta – Dalam upaya mendukung kesejahteraan masyarakat melalui akses air bersih dan sanitasi layak, MahaDasha Group bersama PT Tiara Marga Trakindo (TMT) resmi meluncurkan program Desa Berdaya. Program ini menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat desa di berbagai aspek, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sosial.

Direktur Utama MahaDasha Group, Saidinur, menyampaikan bahwa program ini menjadi salah satu wujud tanggung jawab sosial perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.

“Kesejahteraan masyarakat desa merupakan salah satu pilar penting bagi kami. Program Desa Berdaya diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan,” ujar Saidinur, Sabtu (14/12/2024).

Target Desa Ciburayut dan Anggaran Rp 600 Juta

Pada tahun pertama, Desa Ciburayut di Kampung Citiis dan Selaawi menjadi fokus utama program ini. Berdasarkan survei sosial yang dilakukan MahaDasha Group bersama Human Initiative, hanya 30 persen keluarga di desa tersebut memiliki jamban pribadi. Selain itu, 570 dari total 3.691 kepala keluarga (KK) masih tergolong pra-sejahtera, dengan tujuh kasus stunting dan tingginya konsumsi air terkontaminasi bakteri E.coli.

Dengan alokasi anggaran sebesar Rp 600 juta, program ini diarahkan untuk membangun fasilitas air bersih, menyediakan MCK layak pakai, serta membentuk kelompok sanitasi yang akan diberdayakan secara berkelanjutan.

Edukasi PHBS dan Kegiatan Relawan

Corporate Communication Manager MahaDasha Group, Rani Hartanti, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga edukasi masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, MahaDasha Group dan TMT menggelar kegiatan Employee Volunteerism pada 29 November dan 6 Desember 2024.

“Manajemen dan karyawan terlibat langsung sebagai relawan. Mereka mengedukasi PHBS di sekolah dan komunitas, mendukung kegiatan Posyandu, hingga membuat plang imbauan kesehatan,” ungkap Rani.

Fokus Program Desa Berdaya

Program Desa Berdaya dirancang untuk berjalan selama tiga tahun. Pada tahun pertama, transformasi sanitasi menjadi prioritas utama dengan membangun Sarana Air Bersih (SAB) dan MCK, serta meningkatkan kapasitas kelompok sanitasi. Tahun berikutnya, program akan fokus pada peningkatan keterampilan kesehatan dan pendidikan masyarakat.

Selain itu, upaya penguatan berkelanjutan dilakukan melalui pelatihan keterampilan usaha masyarakat dan peningkatan ketahanan pangan desa. Tahun ini, program Desa Berdaya juga menggulirkan Sahabat Gizi Kita (Sagita), sebuah inisiatif pemulihan gizi berbasis komunitas. Program ini mencakup kelas gizi bagi ibu hamil dan anak stunting, serta revitalisasi Posyandu.

Sejalan dengan Gerakan Nasional

Inisiatif ini selaras dengan Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dicanangkan pemerintah untuk menekan angka stunting di Indonesia. Dengan langkah-langkah konkret ini, MahaDasha Group dan TMT optimis Desa Berdaya dapat menjadi model pemberdayaan desa yang efektif dan berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa kolaborasi aktif dengan masyarakat dan stakeholder akan membawa perubahan nyata. Program ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menciptakan perubahan perilaku untuk masa depan yang lebih baik,” tutup Rani.

Editor: Akil

Kapal Api dan Malaka Project Buka Leadership Program, Beasiswa Rp 12 Juta Menanti

0
Kapal Api dan Malaka Project Buka Leadership Program. (Foto: Malaka Project)

NUKILAN.id | Jakarta – Kapal Api Group bekerja sama dengan Malaka Project membuka program leadership yang menarik perhatian mahasiswa di seluruh Indonesia. Program ini tidak hanya menawarkan pelatihan kepemimpinan yang mendalam, tetapi juga memberikan kesempatan meraih beasiswa senilai Rp 12 juta bagi peserta terpilih.

Dilansir Nukilan.id, program ini dirancang untuk menjaring 90 mahasiswa aktif dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, peserta akan dipandu oleh enam mentor ternama, yaitu Jerome Polin, Dea Anugrah, Ferry Irwandi, Cania Citta, Rizky Ardiprakoso, dan Fathia Izzati.

Para peserta akan mendapatkan pelatihan intensif meliputi:

  1. Pengembangan kemampuan penalaran, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.
  2. Komunikasi efektif.
  3. Bisnis, marketing, dan branding.

Dari total peserta pelatihan, sembilan orang terbaik akan dipilih berdasarkan evaluasi keseluruhan untuk menerima beasiswa pendidikan senilai Rp 12 juta.

“Kami ingin membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu menjadi pemimpin masa depan,” ujar salah satu mentor, Cania Citta, dalam pengumuman resmi melalui Instagram Kapal Api.

Pendaftaran program ini terbuka hingga 22 Desember 2024. Berikut syarat yang harus dipenuhi:

  1. Mahasiswa aktif maksimal semester 7.
  2. Tidak sedang menerima beasiswa lain.
  3. Mengunggah video reels berdurasi maksimal 75 detik yang memuat:
    • Visi yang ingin dicapai dan jalan profesi atau karya untuk mencapainya.
    • Format video potret (9:16).

Video harus diunggah ke akun Instagram pribadi dengan tagar #KapalApiXMalakaProjectLP serta menandai akun resmi @kapalapi_id dan @malakaproject.id. Penilaian didasarkan pada kualitas penalaran (60%), potensi dampak visi (20%), dan kreativitas video (20%).

Adapun jadwal penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: pendaftaran berlangsung hingga 22 Desember 2024, dilanjutkan dengan pengumuman peserta pada 29 Desember 2024. Peserta terpilih akan mengikuti pelatihan yang dijadwalkan berlangsung selama Januari hingga Februari 2025, dan akhirnya, penerima beasiswa akan diumumkan pada Februari 2025.

Untuk detail lebih lengkap, kunjungi laman resmi Malaka Project atau ikuti akun Instagram @kapalapi_id dan @malakaproject.id.

Segera siapkan ide terbaik dan video kreatifmu! Jangan lewatkan kesempatan ini untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan meraih beasiswa. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

BCA Buka Beasiswa PPTI 2025, Peluang Kuliah Gratis dan Karier di Dunia Teknologi

0
Beasiswa BCA Tahun Ajaran 2025. (Foto: BCA Karir)

NUKILAN.id | Jakarta – Bank Central Asia (BCA) kembali membuka kesempatan emas bagi generasi muda Indonesia melalui program Beasiswa Pendidikan Teknik Informatika (PPTI) untuk tahun ajaran 2025. Program ini menjadi peluang menarik bagi siswa SMA jurusan IPA dan SMK Teknik Informatika yang ingin melanjutkan pendidikan sekaligus merintis karier di dunia teknologi.

Melalui PPTI BCA, peserta terpilih tak hanya mendapatkan pendidikan gratis selama 2,5 tahun, tetapi juga uang saku, fasilitas asrama, laptop, dan peluang bergabung dengan IT BCA setelah lulus.

Keunggulan Beasiswa PPTI BCA
Program ini menawarkan sejumlah manfaat yang dirancang untuk mendukung peserta dalam menyelesaikan pendidikan mereka:

  • Pendidikan bebas biaya selama 2,5 tahun.
  • Fasilitas asrama.
  • Uang saku bulanan.
  • Laptop untuk mendukung pembelajaran.
  • Peluang bekerja di IT BCA setelah program selesai.

Direktur Human Capital BCA, Rina Setyawati, menyatakan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen BCA dalam mendukung pendidikan anak bangsa sekaligus menyiapkan talenta muda di bidang teknologi.

“Kami percaya bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk membangun masa depan. Melalui PPTI, kami ingin menciptakan generasi unggul yang siap menghadapi tantangan teknologi,” ujar Rina dalam keterangan resmi, Jumat (13/12/2024).

Persyaratan Pendaftaran
Calon peserta yang berminat harus memenuhi kriteria berikut:

  1. Warga Negara Indonesia.
  2. Siswa/i kelas XII atau lulusan SMA (jurusan IPA) atau SMK (jurusan terkait Teknik Informatika).
  3. Usia maksimal 19 tahun saat mendaftar.
  4. Memiliki rata-rata nilai rapor kelas X, XI, dan XII minimal 7,50.
  5. Rata-rata nilai Matematika (SMA IPA) atau nilai Produktif (SMK) minimal 7,50.
  6. Tidak pernah tinggal kelas dari SD hingga SMA/SMK.
  7. Tidak terlibat narkoba atau pelanggaran hukum lainnya.
  8. Lulus seluruh tahapan seleksi yang dilakukan oleh BCA.

Pendaftaran program ini akan berlangsung hingga 31 Januari 2025. Peserta yang lolos seleksi akan mengikuti pendidikan di BCA Learning Institute, Sentul City, Bogor.

Cara Mendaftar
Informasi lebih lanjut mengenai program beasiswa PPTI BCA 2025 dapat diakses melalui laman resmi BCA di https://karir.bca.co.id.

Masa Depan yang Menjanjikan
Program PPTI BCA telah meluluskan banyak talenta muda yang kini sukses berkarier di dunia teknologi. Salah satu alumni, Andini Putri, mengungkapkan betapa program ini telah mengubah hidupnya.

“PPTI tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan memberikan kesempatan untuk berkembang di dunia teknologi,” kata Andini, yang kini bekerja sebagai Software Engineer di IT BCA.

Bagi siswa yang ingin mengejar impian di bidang teknologi, PPTI BCA adalah peluang yang tidak boleh dilewatkan. Segera daftarkan diri dan raih masa depan gemilang!

Editor: Akil

Terdakwa Narkoba Kabur di PN Banda Aceh Akhirnya Ditangkap di Langsa

0
Terdakwa Narkoba Kabur di PN Banda Aceh Akhirnya Ditangkap di Langsa. (Foto: Detik)

NUKILAN.id | Banda Aceh Herman, terdakwa kasus narkoba yang sempat melarikan diri setelah mendobrak sel tahanan di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, akhirnya berhasil ditangkap. Herman ditangkap di rumah abangnya di Desa Birem Puntong, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, saat bersama istri, anak, dan orang tuanya.

Penangkapan ini dilakukan oleh tim gabungan Satbrimob Polda Aceh dan Kejari Banda Aceh pada Jumat (13/12/2024). Kepala Kejaksaan Negeri Banda Aceh, Suhendri, menjelaskan bahwa keberhasilan ini bermula dari koordinasi intensif sejak 9 Desember lalu.

“Tim berjumlah delapan orang langsung bergerak setelah mendapatkan informasi terkait lokasi persembunyian Herman,” ujar Suhendri kepada wartawan, Sabtu (14/12/2024).

Penangkapan di Tengah Persembunyian

Herman diketahui berpindah-pindah tempat persembunyian setelah melarikan diri pada 26 November lalu. Setelah mendeteksi keberadaannya, tim gabungan bergerak cepat ke Langsa dan mengamankan Herman tanpa perlawanan.

“Ketika kami pastikan dia Herman, langsung dibawa ke Banda Aceh dengan pengawalan ketat Satbrimob Polda Aceh. Saat ini Herman telah dijebloskan kembali ke Rutan Kajhu, Aceh Besar,” tambah Suhendri.

Pelarian yang Berujung Penangkapan

Herman menjadi buronan setelah berhasil kabur dari ruang tahanan PN Banda Aceh pada Selasa (26/11). Insiden ini terjadi saat Herman menunggu proses pengembalian ke penjara usai divonis tujuh tahun penjara terkait kepemilikan narkotika jenis sabu seberat 15,5 gram.

Humas PN Banda Aceh, Jamaluddin, menjelaskan bahwa Herman memanfaatkan celah keamanan di pintu sel tahanan untuk melarikan diri.

“Dia mendobrak pintu sel, kemungkinan kunci bermasalah. Saat dikejar, dia sudah menghilang,” ungkap Jamaluddin.

Herman sendiri merupakan residivis kasus narkotika. Ia ditangkap pada Juni lalu di kawasan Lamdingin, Banda Aceh, dengan barang bukti berupa dua bungkus sabu seberat 11,91 gram dan 23 paket kecil sabu seberat 3,59 gram.

Penegakan Hukum Tegas

Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan pentingnya pengawasan ketat di pengadilan, terutama bagi tahanan dengan kasus berat seperti narkotika. Keberhasilan tim gabungan menangkap Herman dinilai sebagai langkah tegas dalam memastikan proses hukum berjalan tanpa hambatan.

“Kasus ini menjadi pelajaran penting. Kami pastikan prosedur keamanan di pengadilan akan dievaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” tegas Suhendri.

Dengan kembalinya Herman ke tahanan, proses hukumnya akan terus berlanjut. Pihak Kejari Banda Aceh memastikan Herman akan tetap menjalani vonis tujuh tahun penjara yang telah dijatuhkan kepadanya.

Editor: Akil

Peringatan Maulid Nabi di BPPA, Pj Gubernur Aceh Ajak Masyarakat Bersinergi Bangun Daerah

0
Pj Gubernur Aceh Ajak Masyarakat Bersinergi Bangun Daerah Peringatan Maulid Nabi di BPPA. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta — Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ke-1446 Hijriah/2024 Masehi di Aula Mess Aceh, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/12/2024). Acara ini dihadiri oleh masyarakat Aceh yang berdomisili di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Safrizal ZA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Maulid ini merupakan wujud kebersamaan dan kehangatan masyarakat Aceh, baik yang berada di perantauan maupun di kampung halaman. Ia mengungkapkan, rencana penyelenggaraan Maulid ini telah lama dipersiapkan, namun baru dapat terealisasi tahun ini.

“Sudah direncanakan berkali-kali, tetapi banyak agenda besar lainnya. Alhamdulillah, hari ini bisa kita laksanakan,” ujar Safrizal.

Meneladani Akhlak Rasulullah

Mengusung tema “Meneladani Kehidupan Rasulullah SAW Berbangsa dan Bernegara”, acara ini juga menghadirkan tausiyah dari Ustadz Zaky Mubarok. Dalam pidatonya, Safrizal menekankan pentingnya memedomani dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai panduan hidup agar selamat di dunia dan akhirat.

“Peringatan Maulid ini bukan hanya mengenang sejarah lahirnya Rasulullah, tetapi juga belajar dari sifat-sifat agung beliau yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam konteks berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Safrizal berharap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dapat terus menjadi tradisi yang memperkuat nilai kebersamaan dan keimanan masyarakat Aceh.

Ajak Bersinergi Bangun Aceh

Dalam kesempatan tersebut, Safrizal juga mengajak masyarakat Aceh, baik di kampung halaman maupun perantauan, untuk bersatu membantu pemerintah membangun Aceh yang lebih baik. Ia menyoroti berbagai tantangan, seperti tingginya angka kemiskinan, yang membutuhkan solusi bersama.

“Kita perlu sinergi dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat untuk memajukan Aceh. Tantangan memang ada, tetapi saya optimis kita bisa mengatasinya bersama,” ujarnya.

Safrizal menambahkan bahwa meski Aceh masih menghadapi sejumlah persoalan, masyarakatnya tetap memiliki semangat tinggi. Ia pun menyelipkan humor saat membahas soal kemiskinan.

“Makan daging sering, katanya miskin tapi makan daging terus. Walaupun dagingnya impor,” selorohnya yang disambut tawa para hadirin.

Menguatkan Nilai Religius dan Kebangsaan

Safrizal mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga menjadi momen untuk memperkuat nilai-nilai religius dalam kehidupan berbangsa.

“Mari kita jadikan Rasulullah sebagai teladan utama dalam mewujudkan masyarakat yang berintegritas dan harmonis,” tutupnya.

Acara yang berlangsung hangat ini menjadi ajang silaturahmi masyarakat Aceh di Jabodetabek sekaligus wadah untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan optimisme dalam membangun Aceh.

Editor: Akil

Baru 4.550 Guru PAI di Aceh yang Bersertifikasi, 7.063 Masih Menanti Program PPG

0
Baru 4.550 Guru PAI di Aceh yang Bersertifikasi, 7.063 Masih Menanti Program PPG

NUKILAN.id | Takengon — Dari 11.613 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Aceh, baru 4.550 di antaranya yang bersertifikasi. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs H. Azhari, M.Si, dalam acara pengukuhan 128 guru profesional lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon, Sabtu (14/12/2024).

“Masih ada 7.063 Guru PAI yang belum mengikuti PPG, baik yang sudah pre-tes maupun yang belum,” ungkap Azhari di hadapan para guru dari Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara yang hadir dalam acara tersebut.

Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan

Azhari menekankan bahwa PPG adalah langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, khususnya guru PAI. Ia menilai LPTK IAIN Takengon sebagai salah satu lembaga pendidikan yang telah berkontribusi besar dalam pelaksanaan program ini.

“Program PPG merupakan ikhtiar pemerintah untuk menciptakan guru yang berkualitas. Dukungan dari banyak pihak sangat penting untuk memperluas akses dan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam di Aceh,” ujar Azhari.

Menurutnya, peningkatan kualitas guru adalah langkah awal untuk memajukan pendidikan di Aceh. Bahkan, Azhari menyebutkan bahwa ke depan, calon guru PAI tidak diperkenankan mengajar tanpa mengikuti PPG pra-jabatan.

“Ibarat sopir tanpa SIM, guru yang belum bersertifikasi belum layak mengajar,” katanya memberikan analogi.

Amanah UU dan Dukungan Pemerintah Daerah

Persoalan guru yang belum bersertifikasi, lanjut Azhari, merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mengharuskan pemerintah menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik.

Kehadiran para kepala dinas pendidikan kabupaten dan kota dalam acara ini, menurut Azhari, menunjukkan dukungan nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru PAI di Aceh.

Skema Baru PPG di 2025

Kabar baiknya, pemerintah akan menerapkan skema baru untuk program PPG mulai tahun 2025. Azhari menjelaskan bahwa skema ini, yang disebut PPG Transformasi, akan mempermudah akses guru ke program sertifikasi.

“Dengan anggaran sekitar Rp800 ribu hingga Rp850 ribu per guru dan waktu pembelajaran selama 45 hari, program ini diharapkan dapat meringankan beban pemerintah daerah sekaligus mempercepat pencapaian target guru bersertifikasi di Aceh,” paparnya.

Harapan untuk Pendidikan Aceh

Pengukuhan 128 guru PAI di Takengon ini menjadi momentum untuk mendorong percepatan sertifikasi bagi ribuan guru lainnya di Aceh. Azhari berharap upaya ini mampu meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam, yang menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pendidikan di Aceh.

“Peningkatan kualitas guru adalah kunci untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik. Dengan kolaborasi yang solid, kita optimis tantangan ini bisa diatasi,” pungkasnya.

Dengan berbagai langkah ini, pemerintah Aceh dan pusat diharapkan dapat menjawab kebutuhan sertifikasi guru secara lebih efektif, sekaligus membawa perubahan signifikan bagi dunia pendidikan di Tanah Rencong.

Editor: Akil

PGE dan PEMA Siap Bangun PLTP Pertama di Aceh, Harapan Baru Energi Ramah Lingkungan

0
PGE dan PEMA Siap Bangun PLTP Pertama di Aceh. (Foto: petrominer.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Upaya pengembangan energi terbarukan di Aceh memasuki babak baru. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) bersama PT Pembangunan Aceh (PEMA) menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan pengeboran panas bumi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Seulawah Agam, Aceh Besar. Proyek ini diharapkan menjadi tonggak sejarah berdirinya pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) pertama di Aceh.

Berdasarkan survei geosains, WKP Seulawah Agam memiliki potensi panas bumi mencapai 320 megawatt (MW). Berbagai tahapan awal pengembangan telah diselesaikan, termasuk survei geosains (2017–2019), pemetaan geohazard (2020–2021), hingga pembaruan model konseptual pada 2022–2024.

“Kami telah menyiapkan dasar teknis yang kuat untuk melanjutkan ke tahap pengeboran eksplorasi di tiga lokasi,” ujar Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, Jumat (13/12).

PGE, sebagai bagian dari subholding Power & New Renewable Pertamina, optimistis proyek ini akan menghadirkan manfaat besar, tidak hanya dalam bentuk energi terbarukan, tetapi juga dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Proyek ini direncanakan memasuki tahap pengeboran pada 2025, dengan persiapan akuisisi lahan sedang berjalan.

Misi Energi Hijau dan Dukungan Pemerintah

Proyek Seulawah Agam menjadi salah satu prioritas PGE untuk mendukung target net zero emission serta swasembada energi nasional. Pembangunan PLTP di Aceh ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi besar panas bumi di wilayah tersebut yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Kami menghargai dukungan Pemerintah Aceh dan masyarakat setempat. Sinergi ini menjadi kunci keberhasilan proyek,” tambah Edwil.

Pj Gubernur Aceh, Safrizal, menegaskan dukungan pemerintah dalam proyek ini dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. “Proyek panas bumi Seulawah Agam adalah bagian dari upaya memanfaatkan potensi sumber daya alam untuk pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Harapan Baru untuk Aceh

Dengan adanya PLTP Seulawah Agam, Aceh diharapkan dapat menjadi pelopor energi hijau di Sumatera. Selain memperkuat jaringan listrik nasional, proyek ini diyakini akan membuka lapangan pekerjaan baru dan mendongkrak ekonomi lokal.

“Energi terbarukan adalah masa depan, dan Aceh punya potensi besar untuk menjadi bagian penting dari transformasi ini,” pungkas Safrizal.

Pembangunan PLTP Seulawah Agam menjadi simbol semangat baru dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab, sekaligus mendukung komitmen Indonesia menuju energi bersih dan ramah lingkungan.

Editor: Akil

Mualem Bertemu Rektor USK, Bahas Pendidikan Aceh yang Lebih Maju

0
Mualem Bertemu Rektor USK. (Foto: Humas USK)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, calon gubernur Aceh terpilih dengan perolehan suara terbanyak di Pilkada 2024, mengadakan pertemuan strategis dengan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Marwan, pada Jumat (13/12/2024). Pertemuan yang berlangsung di kampus USK ini membahas berbagai isu pendidikan untuk mewujudkan Aceh yang lebih maju dan kompetitif.

Didampingi Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK (IKAKUM), Teuku Kamaruzzaman atau Ampon Man, Mualem menyampaikan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun Aceh. Hadir pula Nasir Syamaun dan Syafrizal, memperkuat diskusi yang penuh kehangatan.

Pendidikan sebagai Fondasi Pembangunan Aceh

Dalam pertemuan itu, Mualem menegaskan bahwa pendidikan adalah pilar utama pembangunan Aceh. Ia menyoroti pentingnya peningkatan kualitas dosen dan guru, serta membuka peluang beasiswa bagi generasi muda Aceh hingga jenjang S3.

“Harapan saya, pendidikan Aceh harus lebih maju, berkualitas, dan mampu bersaing di segala bidang. Kita perlu meningkatkan mutu dosen, guru, dan menciptakan generasi yang unggul,” ujar Mualem.

Ia juga mengenang kejayaan pendidikan Aceh di masa lampau, saat banyak pelajar dari negara tetangga, seperti Malaysia, datang menimba ilmu di Serambi Mekkah.

“Kita ingin pendidikan Aceh kembali berjaya seperti dulu, bahkan melangkah lebih jauh hingga mampu bersaing di tingkat global,” tambahnya.

Kolaborasi untuk Perubahan Strategis

Rektor USK, Prof. Marwan, menyambut baik ajakan Mualem untuk berkolaborasi. Ia menegaskan bahwa USK siap memberikan dukungan strategis, mulai dari naskah akademik hingga pengawalan pelaksanaan program bersama Pemerintah Aceh.

“USK siap menjadi mitra strategis untuk mempercepat pembangunan Aceh. Pendidikan adalah kunci untuk menciptakan sumber daya manusia unggul,” kata Prof. Marwan.

Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah penguasaan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris, bagi pelajar Aceh. Hal ini dianggap sebagai modal penting untuk membuka akses pendidikan di kampus-kampus internasional.

“Penguasaan Bahasa Inggris yang baik akan menjadi pintu bagi generasi Aceh melanjutkan pendidikan di universitas terbaik dunia. Ini tidak hanya untuk mahasiswa jurusan tertentu, tetapi berlaku untuk semua bidang ilmu,” jelas Marwan.

Revisi UUPA dan Pemanfaatan Dana Otsus

Selain pendidikan, pembahasan juga menyentuh revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas). USK telah menyusun naskah akademik terkait revisi ini dan menyerahkannya kepada DPRA.

Mualem berharap, dengan kolaborasi bersama USK, revisi UUPA dapat segera terealisasi untuk memperkuat posisi Aceh di kancah nasional. Ia juga menyinggung pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh yang lebih efektif untuk sektor pendidikan.

“Kami berharap gagasan akademisi dapat diterjemahkan secara konkret dalam kebijakan pemerintah,” kata Mualem.

Komitmen Bersama untuk Aceh yang Lebih Baik

Pertemuan yang berlangsung selama satu jam itu turut dihadiri para Wakil Rektor USK, yakni Prof. Agussabti, Prof. Mustanir, dan Prof. Taufik Saidi, yang memberikan masukan strategis demi mendukung pembangunan Aceh di masa depan.

Diskusi ini menjadi langkah awal dalam menyatukan visi dan misi antara perguruan tinggi dan pemerintah. “Kami siap menjadi bagian dari solusi untuk Aceh yang lebih maju,” tutup Prof. Marwan.

Silaturahmi ini menandai komitmen Mualem untuk membuka ruang dialog dengan berbagai pihak demi memastikan pendidikan Aceh tidak hanya bangkit, tetapi juga melangkah ke level berikutnya: unggul di kancah global.

Editor: Akil