Beranda blog Halaman 753

Peringati 20 Tahun Tsunami, Pasar Al-Mahirah Lamdingin Tutup Setengah Hari

0
Suasana Pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh, pada Kamis 26 Desember 2024. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam rangka memperingati 20 tahun peristiwa Tsunami Aceh, Pasar Al-Mahirah Lamdingin di Banda Aceh ditutup setengah hari pada Selasa (26/12/2024).

Penutupan ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada para pedagang menghadiri acara peringatan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Lampulo.

Pantauan tim Nukilan di lokasi, pintu masuk pasar terlihat ditutup sejak pagi, dan suasana di sekitar pasar tampak sepi. Hampir semua toko tutup, dan tidak ada pedagang yang terlihat berjualan di area pasar.

Salah seorang yang berada di lokasi, Ibnu, mengonfirmasi bahwa penutupan pasar dilakukan sejak pagi hari. “Pasar Al-Mahirah tutup setengah hari. Setelah Dzuhur baru buka kembali,” ujar Ibnu kepada Nukilan.

Menurut Ibnu, penutupan pasar ini dilakukan karena para pedagang menghadiri acara peringatan tragedi 20 tahun Tsunami Aceh yang digelar di TPI Lampulo.

Namun, penutupan pasar ini membuat sejumlah pengunjung kebingungan. Banyak yang datang untuk berbelanja tidak mengetahui bahwa pasar tutup pada pagi hari.

Salah seorang pengunjung, Ibu Dewi, warga Lampineung, mengaku terkejut saat mengetahui pasar tidak beroperasi. “Saya datang untuk belanja, tapi ternyata pasar tutup. Informasi yang saya dapat hanya TPI Lampulo yang tutup,” katanya.

Peringatan 20 tahun Tsunami Aceh ini menjadi momen penting bagi masyarakat Aceh untuk mengenang sekaligus mendoakan para korban bencana yang mengguncang daerah tersebut pada 26 Desember 2004.

Reporter: Rezi

Ribuan Warga Padati Refleksi 20 Tahun Tsunami Aceh di Masjid Raya Baiturrahman

0
Poteret Ribuan Warga Padati Refleksi 20 Tahun Tsunami Aceh di Masjid Raya Baiturrahman. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ribuan warga memadati halaman Masjid Raya Baiturrahman pada Kamis, 26 Desember 2024, untuk mengikuti acara Mengenang dan Refleksi 20 Tahun Tsunami Aceh. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu mengusung tema “Beranjak dari Masa Lalu, Menuju Masa Depan Aceh Bersyariat”.

Acara ini diawali dengan zikir, samadiah, dan shalawat yang menggema di kawasan masjid, menciptakan suasana penuh haru dan khidmat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan storytelling yang menggugah kenangan tentang bencana tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Dalam sesi tersebut, masyarakat diajak kembali mengenang perjuangan dan kebangkitan Aceh dari puing-puing kehancuran.

Selain itu, acara juga menampilkan persembahan bertajuk “Aceh Thanks the World”, pemutaran video singkat sejarah tsunami, dan pameran foto yang memvisualisasikan dahsyatnya bencana tersebut. Rangkaian ditutup dengan doa bersama dan tausiah oleh pendakwah terkenal, Aa Gym.

“Saya merinding melihat kembali foto-foto tsunami ini. Rasanya seperti kejadian itu baru kemarin. Acara ini sangat penting untuk mengingatkan kita agar selalu bersyukur dan bersatu membangun Aceh,” ujar Nur Aini, salah satu pengunjung kepada Nukilan.id, Kamis (26/12/2024).

Hal senada diungkapkan oleh Muhammad Yusuf, seorang penyintas tsunami.

“Saya masih ingat saat harus memanjat pohon kelapa untuk menyelamatkan diri. Alhamdulillah, Aceh sudah banyak berubah, tetapi semangat kita tidak boleh luntur,” ujarnya.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang mengenang, tetapi juga menyatukan kembali masyarakat dalam semangat kebersamaan untuk membangun masa depan Aceh yang lebih baik. (xrq)

Reporter: Akil Rahmatillah

Museum Rumoh Aceh: Menyelami Kekayaan Sejarah dan Budaya Tanah Rencong

0
Museum Aceh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Terletak di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, Museum Rumoh Aceh menjadi salah satu destinasi yang tak boleh dilewatkan bagi siapa pun yang ingin memahami lebih dalam tentang sejarah dan budaya Aceh. Dengan koleksi yang memikat, arsitektur unik, dan keindahan suasana, museum ini menjadi jendela untuk mengenal warisan tak ternilai masyarakat Aceh.

Dari penelusuran Nukilan.id. Museum ini berdiri sejak masa pemerintahan Hindia Belanda pada 31 Juli 1915. Awalnya berbentuk rumah tradisional Aceh, yang dikenal sebagai Rumoh Aceh. Pada tahun 1969, museum ini dipindahkan ke lokasi sekarang, memberikan ruang yang lebih luas untuk menampung koleksi bersejarah dan etnografis yang terus berkembang.

Museum Rumoh Aceh menyimpan ragam koleksi menarik yang menggambarkan kehidupan masyarakat Aceh pada masa lampau:

– Etnografi: Alat rumah tangga tradisional, pakaian adat, senjata, hingga perhiasan khas Aceh.

– Sejarah: Dokumen kuno, foto-foto tua, serta peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan rakyat Aceh.

– Kerajinan Tangan: Karya seni seperti ukiran kayu, tenun, dan kerajinan perak yang menggambarkan keahlian masyarakat lokal.

“Melihat koleksi di sini membuat saya merasa seperti kembali ke masa lalu. Kita bisa memahami bagaimana kehidupan orang Aceh zaman dahulu,” kata Rika, seorang mahasiswa asal Banda Aceh yang berkunjung bersama teman-temannya.

Bangunan museum yang mengadopsi gaya Rumoh Aceh menjadi daya tarik tersendiri. Atap berbentuk limas dan tiang kayu yang kokoh menjadi ciri khas yang menggambarkan keunikan budaya lokal. Area lantai pertama yang dirancang sebagai escape hill mencerminkan kearifan lokal dalam mengantisipasi bencana, seperti tsunami.

Museum ini juga menawarkan ruang terbuka yang luas dan taman hijau yang asri, menciptakan suasana sejuk dan nyaman bagi pengunjung.

“Saya suka area tamannya, sangat cocok untuk bersantai sambil belajar sejarah,” ujar Balma, seorang wisatawan dari Medan.

Museum Rumoh Aceh menawarkan pengalaman lengkap: mempelajari sejarah, menikmati arsitektur tradisional, hingga menyaksikan keindahan koleksi seni budaya. Dengan harga tiket yang sangat terjangkau—Rp5.000 untuk dewasa dan Rp3.000 untuk pelajar—museum ini cocok untuk semua kalangan.

Museum Rumoh Aceh buka setiap hari, kecuali hari libur nasional, dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Jadi, jika Anda berkunjung ke Banda Aceh, pastikan untuk menyempatkan diri menyelami kekayaan budaya dan sejarah Aceh di sini. Anda akan pulang dengan pengetahuan dan kenangan yang berharga.  (XRQ)

Reporter: Akil

Pemerintah Aceh Gelar Refleksi 20 Tahun Tsunami di Masjid Raya Baiturrahman

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam Aceh menggelar acara bertajuk “Mengenang dan Refleksi 20 Tahun Tsunami Aceh” pada Kamis, 26 Desember 2024 di Masjid Raya Baiturrahman. Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini berlangsung khidmat dengan tema “Beranjak dari Masa Lalu, Menuju Masa Depan Aceh Bersyariat”.

Amatan Nukilan.id, rangkaian kegiatan diawali dengan zikir, samadiah, dan shalawat yang dipimpin oleh ulama Aceh. Suasana semakin emosional dengan sesi storytelling yang menggambarkan perjuangan masyarakat Aceh pascatsunami, serta persembahan “Aceh Thanks the World” sebagai wujud apresiasi kepada dunia atas bantuan dan solidaritas selama masa pemulihan.

Acara ini juga menampilkan pemutaran video pendek yang menceritakan sejarah tsunami, pameran foto dokumentasi tragedi, doa bersama, dan tausiah dari ulama kondang, Aa Gym. Tausiah tersebut memberikan semangat kepada masyarakat Aceh untuk terus bangkit dan memperkuat nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Acara ini dihadiri oleh ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh. Selain itu, turut hadir para tokoh penting, seperti para Penjabat (Pj) Bupati/Wali Kota se-Aceh, Wali Nanggroe Aceh, Ketua DPRA, Kapolda Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kajati Aceh, hingga Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

Momentum ini tidak hanya menjadi pengingat akan dahsyatnya tragedi 26 Desember 2004, tetapi juga sebagai refleksi bersama untuk membangun masa depan Aceh yang lebih baik dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai syariat. (xrq)

Reporter: Akil Rahmatillah

Wamen Prof Stella Apresiasi Desa Nilam di Aceh Besar Sebagai Model Pengembangan Ekonomi Lokal

0
Wakil Menteri Diktisaintek Prof. Stella Christie dan Rektor Universitas Syiah Kuala Prof Marwan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Jantho – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie, menyampaikan apresiasi atas keberadaan Desa Nilam di Mukim Blang Mee, Gampong Umong, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Menurutnya, desa ini tidak hanya memberikan kontribusi bagi perekonomian lokal, tetapi juga menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain di Indonesia.

“Hadirnya Desa Nilam ini bukan hanya memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal, tetapi juga menjadi model bagi desa-desa lain di Indonesia untuk menggali potensi lokal dan mengoptimalkan sumber daya yang ada. Desa Nilam BSI telah menunjukkan bahwa dengan pemberdayaan yang tepat, potensi desa dapat berkembang dan berdaya saing di pasar global,” kata Stella dalam keterangannya, Selasa (24/12/2024).

Desa Nilam yang diprakarsai oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) fokus pada pengolahan nilam sebagai bahan baku minyak atsiri. Produk ini memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai bahan pembuatan parfum. Keberadaan desa ini turut mendukung kemandirian ekonomi masyarakat, terutama di sektor pertanian dan pengolahan nilam.

Prof Stella menilai program Desa Nilam mampu memberikan dampak luas bagi ekonomi lokal sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru di daerah tersebut.

“Kami sangat mendukung inisiatif ini yang tidak hanya memperkuat ekonomi desa, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap ketahanan ekonomi negara, khususnya dalam menghadapi tantangan global,” ujarnya.

Stella juga berharap keberhasilan Desa Nilam dapat menginspirasi pihak lain untuk terus berinovasi dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Ia menyebut pengembangan desa ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

“Desa Nilam BSI telah menjadi contoh yang baik dalam memberdayakan masyarakat melalui pengembangan sektor pertanian yang berbasis komoditas unggulan daerah,” lanjutnya.

Editor: Akil

Peringati 20 Tahun Tsunami, Sirene Peringatan Dibunyikan di Banda Aceh

0
Tsunami Aceh. (Foto: AFP)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Suara sirene peringatan tsunami bergema di Banda Aceh pada Kamis (26/12/2024) pagi, menandai peringatan 20 tahun bencana tsunami dahsyat dari Samudera Hindia tahun 2004. Sirene berbunyi selama tiga menit tepat pukul 08.00 WIB, waktu yang sama saat gelombang raksasa menghantam Aceh dua dekade lalu.

Peringatan ini dimulai di Masjid Raya Banda Aceh, dihadiri masyarakat yang berkumpul untuk mengenang momen kelam tersebut. Setelah sirene berbunyi, acara dilanjutkan dengan doa bersama, sebagai bagian dari serangkaian kegiatan peringatan yang diadakan di berbagai lokasi di Aceh.

Masyarakat, termasuk para penyintas dan keluarga korban, mengunjungi pemakaman massal untuk mengenang orang-orang terkasih yang hilang.

Hasmina, seorang penyintas yang selamat dari bencana itu, mengungkapkan kenangan pahitnya.

“Waktu itu sesaat setelah gempa saya dan keluarga hendak ke pantai, tiba-tiba ada orang berlarian dari arah pantai sambil berteriak ‘air naik!’, seketika semuanya lenyap disapu gelombang” ungkapnya saat diwawancarai Nukilan.id, Kamis (26/12/2024).

Tsunami yang terjadi akibat gempa berkekuatan 9,1 skala Richter di ujung barat Sumatera pada 26 Desember 2004, meluluhlantakkan pesisir 14 negara, dari Indonesia hingga Somalia. Gelombang yang mencapai ketinggian 30 meter menyapu pemukiman, penduduk, hingga wisatawan, menewaskan lebih dari 226 ribu jiwa, dengan 160 ribu di antaranya berasal dari Indonesia.

“Saya berharap kita tidak akan pernah mengalaminya lagi,” katanya.

Dilansir dari berbagai sumber, negara lain seperti Sri Lanka, India, dan Thailand, peringatan serupa juga digelar. Di Sri Lanka, para korban selamat menghadiri upacara keagamaan untuk mengenang lebih dari 35 ribu korban jiwa, termasuk 1.000 orang yang meninggal dalam insiden kereta api saat tsunami menerjang. Di Thailand, berbagai acara pemerintah dan pameran tsunami digelar untuk memperingati 5.000 korban jiwa, lebih dari separuhnya merupakan wisatawan asing.

Peringatan ini tak hanya menjadi momen refleksi, tetapi juga pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana.

Tsunami 2004 menjadi tragedi global yang mengubah paradigma penanganan bencana, sekaligus meninggalkan jejak duka yang mendalam bagi para korban dan penyintas di berbagai belahan dunia. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Pemerintah Aceh Didesak Segera Bangun Jembatan Setelah Tragedi Perahu Robin Terbalik di Sungai Alas

0
Ilustrasi perahu bermesin (robin) mengangkut logistik. (Foto: Kiriman untuk Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Musibah terbaliknya perahu  bermesin (Robin) di Sungai Kali Alas, tepatnya di kawasan Bunbun Alas, Kecamatan Leuser, Kabupaten Aceh Tenggara pada Minggu 22 Desember 2024, kembali menyoroti lemahnya infrastruktur dan lambannya respons pemerintah daerah. 

Peristiwa nahas ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, delapan orang masih dalam pencarian, sementara 19 lainnya berhasil selamat.

Selain korban jiwa, peristiwa ini juga mengakibatkan kerugian material berupa dua unit sepeda motor serta barang sembako yang merupakan hasil belanjaan untuk kebutuhan warga setempat.

Pengamat Kebijakan Publik, Nasrul Zaman, menilai tragedi ini tidak seharusnya terjadi jika pemerintah lebih sigap dalam menangani masalah infrastruktur di wilayah tersebut. 

“Musibah Robin terbalik ini adalah akibat dari ketiadaan jembatan darurat sehingga  masyarakat terpaksa menggunakan Robin sebagai sarana transportasinya,” kata Nasrul dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nukilan, pada Rabu (25/12/2024).

Menurutnya, peristiwa ini adalah yang pertama kali menelan korban jiwa meski sebelumnya sudah beberapa kali terjadi kecelakaan serupa. 

“Seharusnya Pemerintah Aceh dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sudah gerak cepat membangun jalan sementara untuk jalur distribusi kebutuhan logistik masyarakat 15 desa di Kecamatan Leuser Aceh Tenggara,” ujarnya.

Ia juga mendesak Pemerintah Aceh, khususnya Pj Gubernur untuk segera menginstruksikan Dinas PUPR Aceh agar membangun jembatan penyebrangan Kane Mende ke Bukit Bintang Indah secepatnya. 

“Pj Gubernur harus segera memberi perintah pada Dinas PUPR Aceh untuk membangun jembatan penyebrangan secepatnya agar kejadian serupa tidak terulang dan warga 15 desa tidak terisolasi,” tegasnya.

Reporter: Rezi

Volume Kendaraan di Tol Sibanceh Naik 69 Persen Selama Libur Natal dan Tahun Baru

0
Gerbang tol Padang Tiji. (Foto: Dok. Hutama Karya)

NUKILAN.id | Banda Aceh – PT Hutama Karya (Persero) mencatat peningkatan signifikan volume lalu lintas di Jalan Tol ruas Sigli-Banda Aceh (Sibanceh) selama masa libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. 

Berdasarkan pemantauan sejak 18 hingga 24 Desember 2024, tercatat 35.797 kendaraan melintasi ruas Padang Tiji-Baitussalam (Sibanceh), meningkat 69 persen dari volume lalu lintas normal.

“Kendaraan yang melintas, mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat di periode liburan ini,” kata Totok Masyadi, Branch Manager PT Hutama Karya (Persero) Ruas Jalan Tol Sigli – Banda Aceh, Rabu (25/12/2024).

Selain itu, di ruas tol fungsional seksi 1 (Padang Tiji – Seulimeum), yang mulai dibuka sejak Sabtu 21 Desember, tercatat sebanyak 6.124 kendaraan melintas hingga Selasa 24 Desember.

Guna mendukung kenyamanan pengguna jalan, Hutama Karya juga telah membuka Rest Area KM 54 A yang dilengkapi masjid, toilet, dan satu gerai warkop.

“Kami menghimbau pengguna jalan untuk mematuhi batas kecepatan maksimal 60 km/jam di jalur fungsional dan 100 km/jam di jalur operasi. Pastikan kondisi kendaraan prima dan saldo kartu elektronik mencukupi sebelum melakukan perjalanan,” demikian kata Totok.

Reporter: Rezi

Nicholas Sebut Perbaikan Sistem Politik dan Kepartaian Lebih Esensial daripada Mekanisme Pilkada

0
Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Jakarta – Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian, menanggapi wacana Presiden Prabowo Subianto terkait pemilihan kepala daerah yang dipilih oleh DPRD, yang mencuat beberapa waktu lalu.

Menurut Nicholas, fokus utama dalam memperbaiki sistem perpolitikan Indonesia bukanlah semata-mata apakah Pilkada dilakukan secara langsung atau tidak, atau sekadar untuk penghematan anggaran.

“Sebenarnya, jika ingin benar-benar memperbaiki sistem perpolitikan di Indonesia, bukan soal Pilkada dipilih langsung atau tidak, juga bukan sekadar demi penghematan anggaran. Justru, partai politik yang seharusnya banyak merenung (berkontemplasi) atas proses perpolitikan di Indonesia,” kata Nicholas kepada Nukilan.id, Rabu (25/12/2024).

Lebih lanjut, Nicholas mempertanyakan berbagai aspek yang mendasar dalam sistem politik Indonesia. Ia menyoroti beberapa hal yang menurutnya perlu diperhatikan oleh partai politik dan negara.

“Apakah sistem merit yang memperbolehkan siapapun untuk berkompetisi secara sehat sudah terlaksana? Apakah penegakan hukum sudah digunakan sebagaimana mestinya? Apakah anggaran negara yang berasal dari rakyat sudah dikelola sebaik-baiknya?” tanyanya.

Nicholas juga menegaskan pentingnya kesadaran partai politik terhadap peran mereka.

“Apakah partai politik sudah sadar kalau mereka sendiri juga adalah rakyat? Apakah partai politik sudah benar-benar mewakili rakyat atau justru hanya sebatas kendaraan memuat kepentingan segelintir orang?” ungkapnya. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Panglima Laot Aceh Imbau Nelayan Tidak Melaut pada Peringatan 20 Tahun Tsunami

0
Tsunami Aceh 2004. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Aceh – Lembaga Adat Laot atau Panglima Laot Aceh mengimbau seluruh nelayan di Aceh untuk tidak melaut pada hari peringatan 20 tahun tsunami, Kamis (26/12/2024). Imbauan ini berdasarkan hasil Musyawarah Besar (Musbes) 2007, yang menetapkan 26 Desember sebagai hari pantangan bagi nelayan untuk melaut.

Sekjen Panglima Laot, Azwir Nazar, menjelaskan bahwa keputusan ini bertujuan untuk menjadikan momen tsunami sebagai waktu untuk berintrospeksi dan mengenang musibah dahsyat yang menimpa Aceh dua dekade lalu.

“Kita jadikan momentum tsunami sebagai renungan bersama atas musibah dahsyat yang menimpa Aceh 20 tahun silam,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (24/12/2024).

Azwir juga menegaskan bahwa bagi nelayan yang melanggar pantangan ini, Panglima Laot di wilayah masing-masing dapat mengambil tindakan sesuai dengan hukum adat laot setempat.

“Kami mengajak seluruh masyarakat nelayan untuk mengirimkan doa, berziarah, dan menjalin silaturahmi dengan sesama masyarakat yang menjadi korban tsunami,” imbuhnya.

Menurut Azwir, sebagian besar korban tsunami adalah keluarga nelayan dan masyarakat pesisir Aceh.

“Semoga para syuhada tsunami mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan kita dapat mengambil hikmah serta pelajaran dari peristiwa tersebut,” kata Azwir.

Peristiwa tsunami 26 Desember 2004 telah membuka mata dunia untuk saling bersolidaritas dan membantu Aceh. Azwir menambahkan, “Kita patut bersyukur, dan semangat kasih sayang yang tercipta akibat tsunami ini harus menjadi nilai positif yang diwariskan kepada anak cucu kita kelak.”

Imbauan ini merupakan bentuk penghormatan dan refleksi atas tragedi yang membawa perubahan besar bagi Aceh dan dunia.

Editor: Akil