Beranda blog Halaman 752

Ditreskrimsus Polda Aceh Tertibkan Tambang Emas ilegal di Pidie

0

NUKILAN.id | Sigli – Ditreskrimsus Polda Aceh beserta Satreskrim Polres Pidie, Brimob, dan TNI dari Kodim 0102/Pidie menertibkan tambang emas ilegal di Gampong Pulo Lhoih, Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, Rabu, 25 Desember 2024.

“Lokasi pertambangan emas tanpa izin atau PETI yang ditertibkan tersebut berada di Km 14 dan Km 17 Alue Kumara Gampong Kumara Kecamatan Geumpang Kabupaten Pidie,” kata Dirreskrimsus Polda Aceh Kombes Winardy, dalam keterangannya, Kamis, 26 Desember 2024.

Winardy mengatakan, saat dilakukan penertiban, lokasi penambangan ilegal sudah ditinggal pemilik atau pekerja tambang ilegal. Namun, tim yang dipimpin Wadirreskrimsus Polda Aceh AKBP Mahmun Hari Sandy Sinurat itu menemukan tempat penyaringan emas (asbuk), dan beberapa terpal dan gubuk tetapi langsung dimusnahkan ditempat setelah dibuatkan Berita Acara Pemusnahan.

Selain itu, pihaknya juga menyita sejumlah barang bukti yang digunakan dalam penambangan ilegal tersebut, yaitu lima mesin penggiling batu dan lima jerigen berukuran 35 liter. Di lokasi juga ditemukan 3 camp penambang emas ilegal, tetapi langsung dimusnahkan ditempat.

“Dalam penertiban tersebut, petugas gabungan juga melakukan pemasangan spanduk dan pamflet berisi imbauan untuk tidak melakukan aktifitas atau larangan PETI,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, pihaknya melalui Polres Pidie bersama pemerintah setempat sudah berulang kali mengingatkan warga untuk menghentikan penambangan emas ilegal. Sebab, penambangan emas itu dapat merusak lingkungan, tetapi hal itu tidak pernah diindahkan.

“Aktivitas tersebut berpotensi merusak lingkungan, mencemari sungai, serta mengancam kelestarian ekosistem hingga ancaman terhadap kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya air karena adanya bahan-bahan berbahaya, seperti merkuri dan sianida. Dan kita tidak ingin lingkungan tercemar dan berdampak pada warga sekitar,” kata Winardy.

Polda Aceh berharap, keterlibatan Pemda Aceh bersama stakeholder terkait untuk berkolaborasi mencarikan solusi terhadap penambangan ilegal tersebut. Ada wacana untuk mengusulkan wilayah tersebut menjadi wilayah pertambangan rakyat (WPR) dan tentunya memerlukan dukungan semua pemangku kepentingan agar dapat terwujud. Dari sisi ekonomi masyarakat dapat terdukung, dari segi lingkungan juga bisa direhabilitasi sesuai wilayah kerja WPR-nya. 

Selain itu juga, banyak keuntungan yang didapat jika Pemda Aceh bersama stakeholder berkolaborasi untuk mengatasi masalah PETI hingga tuntas dari hulu ke hilir. Karena penegakan hukum tidak efektif, seperti mematikan satu, tetapi seribu lagi akan muncul dan tidak pernah selesai. []

Pemkab Aceh Tenggara Diminta Mediasi Kasus Perahu Robin Terbalik Secara Adat

0
Pengamat kebijakan Publik, Dr. Nasrul Zaman (Foto: Nukilan.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pengamat Kebijakan Publik, Nasrul Zaman, menyoroti penetapan tersangka terhadap pengemudi dan kernet perahu robin yang terbalik di Sungai Kali Alas, Aceh Tenggara pada 22 Desember 2024. Menurutnya, kasus ini tidak seharusnya hanya dilihat dari aspek pidana, tetapi juga perlu mempertimbangkan sisi keadilan dan kemanusiaan.

“Pemilik dan pengendara robin itu telah melakukan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara yang selama ini abai pada layanannya ke masyarakat di kecamatan leuser,” ujar Nasrul Zaman dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nukilan, Kamis (26/12/2024).

Ia menekankan bahwa ketidakhadiran negara dalam menyediakan sarana transportasi yang memadai telah mendorong inisiatif warga untuk mengoperasikan perahu robin sebagai alternatif angkutan. “Robin menjadi satu-satunya sarana transportasi yang tersedia bagi warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

Ia berpendapat bahwa pertanggungjawaban atas musibah ini tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pengemudi dan kernet robin. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara juga harus bertanggung jawab karena tidak menyediakan sarana transportasi standar dan perlengkapan keselamatan dasar seperti pelampung.

“Kita berharap Pj Bupati dapat segera memediasi kasus pidana ini dengan pendekatan adat kepada pihak korban dan kepolisian. Hal ini penting untuk memastikan bahwa negara tetap hadir bagi warganya yang tertimpa musibah,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polres Aceh Tenggara telah menetapkan pengemudi HM (55) dan kernet SW (25) perahu robin sebagai tersangka terkait musibah terbaliknya perahu bermesin di Sungai Kali Alas, tepatnya di kawasan Bunbun Alas, Kecamatan Leuser, Kabupaten Aceh Tenggara pada Minggu 22 Desember 2024.

Reporter: Rezi

FDP Gelar Seminar Nasional Anti Pendangkalan Akidah: Strategi Menjaga Keutuhan Umat

0
FDP Gelar Seminar Nasional Anti Pendangkalan Akidah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Forum Dakwah Perbatasan (FDP) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Membentengi Akidah Umat dari Pemurtadan dan Aliran Sesat” pada 25 Desember 2024 di Asrama Haji, Banda Aceh. Seminar ini menghadirkan lebih dari 300 peserta, didominasi oleh dai muda yang penuh semangat menyebarkan nilai-nilai Islam. Kegiatan ini juga menjadi langkah strategis untuk menangkal berbagai tantangan yang mengancam akidah umat.

Acara dibuka oleh Dr. Munawar A. Jalil, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, yang mewakili Gubernur Aceh. Dalam sambutannya, Dr. Munawar menegaskan pentingnya menjaga akidah umat di tengah tantangan globalisasi dan arus informasi yang semakin kompleks.

“Sebagai Serambi Mekah, Aceh memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nilai-nilai keislaman. Sinergi antar-pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini,” ujar Munawar.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber ternama, seperti Koh Dondy Tan, seorang mualaf yang dikenal sebagai pakar Kristologi dan pembuat konten perbandingan agama yang tajam. Selain itu, Ustaz Iwan Setiawan, pakar Misiologi, Ustaz Mashud, pakar Kristologi, dan Ustazah Nevy Amaliyah, mantan penginjil yang kini menjadi dai, turut memberikan materi yang memperkuat semangat peserta.

Menurut Ketua FDP, dr. Nurkhalis, Sp.Jp-FIHA, acara ini merupakan salah satu upaya untuk membekali para dai dengan strategi menghadapi berbagai ancaman terhadap akidah.

“Kami ingin memastikan para dai memiliki pemahaman yang mendalam dan metode yang efektif dalam menjaga akidah umat, terutama di daerah perbatasan dan pedalaman,” kata Nurkhalis.

FDP tidak hanya aktif dalam dakwah di perbatasan, tetapi juga peduli pada isu-isu sosial di perkotaan. Salah satu program unggulannya adalah pembinaan mualaf secara terstruktur. Hingga kini, FDP telah mendirikan tiga masjid di wilayah pedalaman Aceh Tenggara, seperti di Bukit Meriah dan Bukit Bintang Indah, serta satu masjid di Pinem, Dairi, Sumatra Utara. Masjid-masjid ini dilengkapi dengan dai yang bertugas menjaga aktivitas keagamaan.

“Kami juga menyekolahkan anak-anak dari kawasan pedalaman ke lembaga pendidikan Islam di Aceh, Jakarta, dan Yogyakarta untuk mencetak generasi dai masa depan,” tambah Nurkhalis.

FDP bahkan berkolaborasi dengan DPP KK Aceh dalam program Sekolah Keluarga Samara, yang telah melatih lebih dari 200 peserta guna memperkuat pondasi keluarga dan mengatasi persoalan sosial, seperti meningkatnya kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam sambutannya, Nurkhalis menyoroti berbagai tantangan besar yang dihadapi Aceh, termasuk LGBT, judi online, dan narkoba.

“Aceh harus siap menjawab tantangan global dan memastikan tidak menjadi beban negara pada 2045, saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan. Untuk itu, kita harus mulai mendesain masa depan dari sekarang,” ungkapnya.

Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah menegaskan komitmennya mendukung upaya FDP. Dr. Munawar menyampaikan empat strategi utama: meningkatkan pendidikan agama di semua lini, memperkuat peran ulama dan dai, memanfaatkan teknologi digital untuk dakwah, serta memperkuat sinergi antar-stakeholders.

“Dengan kerja sama yang erat, kita dapat memastikan akidah umat tetap kokoh di tengah perubahan zaman,” pungkasnya.

Seminar ini dilanjutkan dengan Pelatihan Khusus Dai dan Aktivis Dakwah pada 26-27 Desember 2024 di Aula Hotel Oman, yang diharapkan semakin memperkuat jaringan dakwah di seluruh Aceh dan wilayah lainnya.

Editor: Akil

Dubes Jepang Dorong Pendidikan Mitigasi Bencana untuk Generasi Muda Aceh

0
BMKG Gelar Simulasi Tsunami di Aceh Besar. (Foto: MC Aceh besar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, mendorong Pemerintah Aceh untuk memperkuat pendidikan mitigasi bencana bagi generasi muda. Harapan ini ia sampaikan saat menghadiri acara puncak peringatan 20 tahun tsunami Aceh bertajuk “Aceh Thanks The World” di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (21/12/2024).

“Saya berharap banyak kalangan muda dapat mendapat pendidikan mitigasi bencana di Aceh,” ujar Masaki kepada awak media usai acara.

Masaki menjelaskan, Jepang telah menjalin banyak kerja sama mitigasi bencana dengan berbagai negara, termasuk Indonesia, khususnya Aceh. Ia menyebutkan salah satu contohnya adalah kolaborasi antara wilayah Tohoku di Jepang dengan Aceh yang telah berlangsung beberapa waktu lalu.

“Sudah banyak sekali kerja sama untuk Aceh. Contohnya kerja sama dengan bagian timur di Jepang, namanya Tohoku, dengan Aceh itu sudah dilaksanakan,” katanya.

Masaki mengaku senang melihat Aceh telah memulai pendidikan mitigasi bencana bagi generasi masa depan pasca-bencana gempa dan tsunami dua dekade silam. Ia berharap program ini dapat semakin diperluas untuk kalangan muda.

Dalam kunjungannya ke Aceh, Masaki menyampaikan bahwa dirinya mewakili Pemerintah Jepang secara khusus untuk mengikuti peringatan 20 tahun tsunami Aceh.

“Saya merasa sangat senang dapat berkunjung ke Aceh. Seperti kita ketahui, 10 tahun yang lalu Jepang juga mengalami gempa dan tsunami yang besar,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi perkembangan Aceh setelah 20 tahun bencana besar itu. Menurutnya, Aceh telah berhasil bangkit dan menunjukkan pemulihan yang luar biasa.

“Kami masyarakat Jepang sangat mengetahui bagaimana sulitnya mengembangkan kembali wilayah setelah tsunami. Saya bisa bayangkan begitu kerja kerasnya masyarakat Aceh,” ujar Masaki.

Masaki juga menegaskan pentingnya mempererat hubungan antara Jepang dan Aceh di masa mendatang. Ia berharap momen peringatan 20 tahun tsunami ini dapat menjadi penguat kerja sama yang telah terjalin.

“Hubungan antara Jepang dengan Aceh semakin kuat, saya berharap hubungan ini semakin dikembangkan,” pungkasnya.

20 Tahun Tsunami Aceh, Keluarga Penyintas Berziarah ke Kuburan Massal

0
Keluarga Penyintas Tsunami Berziarah ke Kuburan Massal. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Setiap tanggal 26 Desember, keluarga penyintas tsunami Aceh berbondong-bondong mendatangi kuburan massal di Ulee Lheue, Banda Aceh. Di tempat itu, puluhan ribu jenazah korban tsunami yang tidak teridentifikasi dimakamkan bersama. Para peziarah berharap keluarga mereka termasuk di antara mereka yang beristirahat di sana.

Putra Wijaya, salah satu penyintas tsunami Aceh, mengaku tidak pernah absen berziarah setiap tahun. Tragedi gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 merenggut sepuluh anggota keluarganya, termasuk kedua orang tuanya.

“Hanya saya dan dua adik perempuan yang selamat,” ujarnya dengan nada penuh haru saat ditemui Nukilan.id di lokasi kuburan massal Ulee Lheue.

Bagi Putra, kunjungan ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga bentuk penghormatan kepada keluarganya yang hingga kini belum ditemukan jasadnya.

“Saya berharap mereka ditempatkan di sisi-Nya,” tambahnya.

Kuburan massal Ulee Lheue menjadi salah satu saksi bisu tragedi kemanusiaan terbesar di abad ini. Setiap tahun, tempat ini menjadi tujuan para keluarga penyintas untuk mengenang sekaligus berdoa bagi para korban.  (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Solidaritas Dunia untuk Aceh: 5 Negara Penopang Pemulihan Pasca-Tsunami 2004

0
Potret Tsunami Aceh. (Foto: AP/Eugene Hoshiko)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Tsunami Aceh 2004 menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern, menelan ratusan ribu korban jiwa dan memicu solidaritas global. Bantuan dari berbagai negara mengalir untuk membantu Aceh pulih dari bencana yang setara dengan 23.000 bom Hiroshima ini.

Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Kofi Annan, menyebutkan bahwa lebih dari 30 negara dan institusi, termasuk Bank Dunia, memberikan bantuan yang tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga membantu membangun kembali kehidupan masyarakat Aceh. Bank Dunia, misalnya, memberikan bantuan hingga USD250 juta atau sekitar Rp4 triliun.

Berikut Nukilan.id rangkum lima negara yang tercatat memberikan kontribusi besar dalam pemulihan Aceh pasca-tsunami:

1. Amerika Serikat

Di bawah kepemimpinan Presiden George W. Bush, Amerika Serikat memberikan bantuan sebesar USD950 juta atau sekitar Rp15,3 triliun. Selain itu, untuk memperingati 20 tahun tragedi tersebut, Amerika Serikat berkolaborasi dengan Museum Tsunami Aceh dalam pameran bertajuk “Kemitraan dalam Ketahanan”.

2. Belanda

Konsorsium Belanda yang dipimpin oleh DHV bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh serta Nias. Negeri Kincir Angin ini menggelontorkan dana lebih dari 300 juta Euro atau sekitar Rp5 triliun untuk mendukung pemulihan.

3. Jerman

Melalui German Society for International Cooperation (GIZ), Jerman memberikan bantuan senilai 500 juta Euro atau sekitar Rp8,4 triliun. Selain itu, terdapat tambahan dana sebesar 46 juta Euro atau Rp775 miliar untuk mendukung rekonstruksi.

4. Jepang

Sebagai negara yang memiliki pengalaman panjang menghadapi gempa dan tsunami, Jepang memberikan kontribusi berupa dana sebesar USD500 juta atau sekitar Rp8 triliun. Jepang juga berbagi wawasan dan pengalaman dalam pemulihan bencana kepada masyarakat Aceh.

5. Inggris

Meski bantuan Inggris relatif kecil dibanding negara lain, yakni USD96 juta atau sekitar Rp1,5 triliun, negeri ini menjadi salah satu yang pertama merespons bencana dengan sigap.

Selain kelima negara ini, banyak negara lain turut membantu, termasuk negara-negara Asia Tenggara, China, Timur Tengah, dan Afrika. Solidaritas internasional ini menjadi bukti nyata bagaimana dunia bersatu menghadapi tragedi global.

Tsunami Aceh tidak hanya menjadi peringatan atas dahsyatnya bencana alam, tetapi juga lambang kemanusiaan yang melampaui batas negara dan budaya. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Yasonna Dicegah ke Luar Negeri, Eks Penyidik KPK Sebut Dia Saksi Kunci Kasus Harun Masiku

0
Komisi Pemberantasan Korupsi. (Foto: Radioidola)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencegah mantan Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly bepergian ke luar negeri. Pencekalan ini terkait penyidikan kasus suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR yang menyeret buronan Harun Masiku.

Mantan penyidik KPK, Yudi Purnomo Harahap, mendukung langkah tersebut. Menurut Yudi, meski Yasonna masih berstatus sebagai saksi, ia diduga menjadi saksi kunci dalam pengembangan kasus yang tengah diusut.

“Walau posisi Yasonna merupakan saksi, penyidik merasa dia adalah saksi kunci dalam perkara ini sehingga harus dicekal. Ini merupakan kewenangan penyidik,” ujar Yudi dalam keterangan tertulis, Kamis (26/12/2024).

Yudi juga menyarankan pihak Imigrasi untuk menahan sementara paspor fisik Yasonna serta Sekjen PDI-P, Hasto Kristiyanto, yang juga dilarang bepergian ke luar negeri. Larangan ini, menurutnya, bisa diperpanjang hingga enam bulan ke depan jika dibutuhkan penyidik.

KPK menyatakan pencekalan Yasonna dan Hasto dilakukan untuk memastikan keberadaan keduanya di Indonesia selama proses penyidikan berlangsung.

“Keputusan ini berlaku selama enam bulan,” kata Juru Bicara KPK, Tessa Mahardhika Sugiarto, dalam keterangan tertulis, Rabu (25/12/2024).

Pencekalan ini tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 1757 Tahun 2024 dan terkait dugaan tindak pidana korupsi suap dalam proses PAW anggota DPR terpilih periode 2019-2024.

Langkah KPK ini menuai perhatian publik, terutama karena kasus suap yang melibatkan Harun Masiku telah menjadi salah satu kasus yang sulit terungkap sejak beberapa tahun terakhir.

Yudi menambahkan bahwa perkembangan kasus ini akan bergantung pada bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan penyidik.

20 Tahun Tsunami Aceh: Trauma Delisa yang Tak Pernah Pudar

0
Delisa Fitri Rahmadani, seorang penyintas Tsunami Aceh 2004. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Hari ini, tepat 20 tahun sejak bencana tsunami melanda Aceh, Delisa Fitri Rahmadani, seorang penyintas yang saat itu berusia 7 tahun, mengenang kembali peristiwa yang merenggut nyawa ibu dan kakaknya. Dalam peringatan yang digelar di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Delisa berbagi pengalaman hidupnya sebagai salah satu korban yang selamat.

Delisa, yang kala itu tinggal bersama ibu dan kakaknya di Ulee Lheue, mengingat jelas dahsyatnya gelombang tsunami.

“Gelombang tsunami tingginya setinggi tiga pohon kelapa dan airnya sangat hitam,” katanya, dikutip dari Kompas.com, Kamis (26/12/2024).

Saat gempa terjadi, Delisa terpisah dari keluarganya. Ia terbawa arus sejauh 8 kilometer hingga ke Lamteumen dan akhirnya diselamatkan oleh seorang warga bernama Pak Didi.

“Pak Didi mengevakuasi dan merawat saya selama beberapa hari di rumahnya,” ujar Delisa.

Namun, luka di kakinya yang membusuk membuatnya harus menjalani amputasi. “Saya harus menjalani amputasi kaki sebanyak tiga kali. Alhamdulillah, kualitas kaki saya sekarang jauh lebih baik dan ringan,” tambahnya.

Meskipun kini ia mencoba bangkit, Delisa mengaku kehilangan itu masih membekas. Hingga hari ini, jasad ibu dan kakaknya belum ditemukan.

“Namun, Allah maha baik. Saya mendapatkan pengganti ibu yang sama baiknya dengan ibu kandung saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Trauma pun masih menghantui Delisa hingga kini. “Ketika gempa terjadi, saya selalu merasakan di mana kaki saya tidak dapat digerakkan selama beberapa detik,” ujarnya.

Banyak penyintas lainnya, katanya, juga masih mengalami trauma serupa, bahkan ada yang belum berani kembali ke Aceh.

Delisa berharap pengalaman dan kisahnya dapat menjadi pelajaran untuk mitigasi bencana di masa depan.

“Penanggulangan trauma sangat perlu diperhitungkan dalam mitigasi bencana agar semuanya bisa move on,” tegasnya.

Peringatan 20 tahun tsunami Aceh ini diharapkan menjadi momen refleksi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesiapan menghadapi bencana di masa depan.

Editor: Akil

Payung Raksasa Masjid Raya Baiturrahman Tak Terlihat saat Kunjungan Wisatawan di Peringatan 20 Tahun Tsunami

0
Potret perbaikan payung raksasa Masjid Raya Baiturrahman. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Payung raksasa yang menjadi ikon Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh kini hanya menyisakan rangkanya. Wajah khas Madinah yang selama ini melekat pada masjid bersejarah tersebut tidak lagi terlihat, menimbulkan kekecewaan bagi sejumlah wisatawan, terutama pada momen peringatan 20 tahun tsunami yang digelar di halaman MRB pada Kamis (26/12/2024).

Acara peringatan yang dihadiri oleh pejabat nasional, perwakilan negara sahabat, dan tamu penting lainnya itu menjadi ajang refleksi besar bagi masyarakat Aceh. Namun, absennya payung raksasa yang biasa menciptakan suasana teduh dan sejuk menimbulkan komentar beragam dari pengunjung.

“Saya datang jauh-jauh dari Medan bersama keluarga dengan harapan bisa berfoto di bawah payung seperti di Madinah, tapi ternyata payungnya tidak ada. Cukup kecewa juga,” ujar Randi, salah seorang wisatawan saat diwawancarai Nukilan.id pada Kamis (26/12/2024).

Meski demikian, tidak semua pengunjung mempersoalkan kondisi tersebut. Bagi sebagian wisatawan, Masjid Raya Baiturrahman tetap menjadi daya tarik utama Banda Aceh.

“Memang sayang payungnya tidak ada, tapi saya tetap terkesan dengan keindahan masjid ini. Banyak spot foto lain yang juga menarik,” kata Nia, wisatawan asal Jakarta.

Menurut informasi yang diterima Nukilan.id, payung dan marmer di pelataran masjid sedang dalam proses perbaikan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman (Perkim) Aceh. Proses ini dilakukan untuk memastikan kelayakan dan keamanan fasilitas masjid. Namun, beberapa pihak mempertanyakan waktu pengerjaan proyek tersebut yang bertepatan dengan agenda besar di Aceh, seperti peringatan dua dekade tsunami.

“Seharusnya perbaikan ini mempertimbangkan jadwal acara besar yang menarik kunjungan wisatawan, seperti peringatan tsunami. Bagaimanapun, Masjid Raya Baiturrahman adalah ikon Aceh,” kata Angga salah seorang pemerhati pariwisata.

Masjid Raya Baiturrahman, yang dibangun pada masa kolonial Belanda, tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga simbol kebangkitan Aceh pascabencana tsunami 2004. Keberadaan payung raksasa yang menyerupai Masjid Nabawi di Madinah telah menjadi daya tarik utama sejak diresmikan pada 2017.

Pemerintah diharapkan dapat mempercepat proses perbaikan fasilitas masjid agar wajah Madinah di MRB segera kembali dan wisatawan tidak kehilangan momen berharga di destinasi ikonik ini. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Peringati 20 Tahun Tsunami, Pasar Al-Mahirah Lamdingin Tutup Setengah Hari

0
Suasana Pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh, pada Kamis 26 Desember 2024. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam rangka memperingati 20 tahun peristiwa Tsunami Aceh, Pasar Al-Mahirah Lamdingin di Banda Aceh ditutup setengah hari pada Selasa (26/12/2024).

Penutupan ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada para pedagang menghadiri acara peringatan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Lampulo.

Pantauan tim Nukilan di lokasi, pintu masuk pasar terlihat ditutup sejak pagi, dan suasana di sekitar pasar tampak sepi. Hampir semua toko tutup, dan tidak ada pedagang yang terlihat berjualan di area pasar.

Salah seorang yang berada di lokasi, Ibnu, mengonfirmasi bahwa penutupan pasar dilakukan sejak pagi hari. “Pasar Al-Mahirah tutup setengah hari. Setelah Dzuhur baru buka kembali,” ujar Ibnu kepada Nukilan.

Menurut Ibnu, penutupan pasar ini dilakukan karena para pedagang menghadiri acara peringatan tragedi 20 tahun Tsunami Aceh yang digelar di TPI Lampulo.

Namun, penutupan pasar ini membuat sejumlah pengunjung kebingungan. Banyak yang datang untuk berbelanja tidak mengetahui bahwa pasar tutup pada pagi hari.

Salah seorang pengunjung, Ibu Dewi, warga Lampineung, mengaku terkejut saat mengetahui pasar tidak beroperasi. “Saya datang untuk belanja, tapi ternyata pasar tutup. Informasi yang saya dapat hanya TPI Lampulo yang tutup,” katanya.

Peringatan 20 tahun Tsunami Aceh ini menjadi momen penting bagi masyarakat Aceh untuk mengenang sekaligus mendoakan para korban bencana yang mengguncang daerah tersebut pada 26 Desember 2004.

Reporter: Rezi