Beranda blog Halaman 747

Polisi Tangkap Perempuan Pengedar Uang Palsu di Lhokseumawe

0
felia
Ilustrasi uang. (Foto: Pixabay)

NUKILAN.id | Lhokseumawe – Polres Lhokseumawe berhasil menangkap seorang perempuan berinisial NA (44), yang diduga kuat mengedarkan uang palsu di sebuah pusat perbelanjaan di kota tersebut. Penangkapan dilakukan setelah NA melakukan transaksi menggunakan uang palsu di Mall Suzuya, Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Henki Ismanto, menyampaikan bahwa pelaku yang merupakan warga Desa Alue Dua, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, kini telah diserahkan ke Unit Tindak Pidana Tertentu Satuan Reskrim Polres Lhokseumawe untuk penyelidikan lebih lanjut.

“Pelaku pertama kali diamankan oleh pihak keamanan Mall Suzuya Lhokseumawe sebelum diserahkan kepada kami pada Jumat, 27 Desember 2024,” ujar Henki dikutip dari VIVA pada Senin (30/12/2012).

Henki menjelaskan, kejadian ini terungkap setelah salah satu kasir di mall mencurigai uang pecahan Rp100 ribu yang digunakan NA. Ketika diperiksa menggunakan sinar UV, diketahui bahwa uang tersebut tidak memiliki logo resmi Bank Indonesia (BI).

“Kasir langsung melaporkan kejadian ini kepada petugas keamanan, yang kemudian melanjutkannya ke Polsek Banda Sakti,” tambahnya.

Barang bukti yang berhasil disita dari pelaku di antaranya 19 lembar uang palsu pecahan Rp100 ribu yang ditemukan tersebar di Gerai JCO, Colden Ice, dan kasir utama Mall Suzuya. Selain itu, beberapa struk pembayaran juga turut diamankan.

AKBP Henki juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap peredaran uang palsu, khususnya saat bertransaksi di pusat perbelanjaan.

“Kami mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dan teliti saat menerima uang, terutama di lokasi yang ramai seperti pusat perbelanjaan,” tegasnya.

Pihak kepolisian akan terus mengembangkan kasus ini untuk mengungkap jaringan pelaku yang lebih luas, sekaligus mencegah peredaran uang palsu di wilayah Aceh.

Editor: Akil

3 Kabupaten/Kota di Aceh Raih STBM Award 2024 Tingkat Nasional

0

NUKILAN.id | Jakarta – Tiga kabupaten/kota di Provinsi Aceh berhasil meraih penghargaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Award tingkat nasional Tahun 2024. Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang, dan Kabupaten Aceh Barat menerima penghargaan dalam kategori Pratama. Khusus Kabupaten Aceh Tamiang, mereka juga dinobatkan sebagai nominasi terbaik kedua untuk kategori Pratama tingkat nasional.

Acara penganugerahan tersebut berlangsung di The St. Regis Jakarta, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/12/2024). Penghargaan diserahkan langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dante Saksono Harbuwono, kepada Pj Wali Kota Langsa, Pj Bupati Aceh Tamiang, dan Sekda Kabupaten Aceh Barat.

Dari pihak Pemerintah Aceh, Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh, T. Robby Irza, turut hadir untuk menerima penghargaan atas inovasi program yang dilakukan di tingkat kabupaten/kota. Penghargaan itu diberikan oleh Direktur SPEAK Indonesia dan Chief of WASH UNICEF Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas upaya percepatan menuju Provinsi Aceh yang bebas dari praktik buang air besar sembarangan (SBS).

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono, menjelaskan bahwa penghargaan ini diberikan kepada daerah yang berhasil menerapkan lima pilar STBM, yaitu:

  1. Stop buang air besar sembarangan
  2. Cuci tangan pakai sabun
  3. Pengelolaan air minum dan makanan yang aman
  4. Pengelolaan sampah rumah tangga yang benar
  5. Pengelolaan limbah cair rumah tangga yang aman

“Penghargaan ini merupakan bukti komitmen dari tiga kabupaten/kota tersebut dalam mendorong perilaku hidup bersih dan sehat melalui pemberdayaan masyarakat. Penerapan STBM juga diyakini mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat sanitasi yang buruk, serta menciptakan masyarakat yang sehat, mandiri, dan berkeadilan,” ujar Dante.

Pada kesempatan yang sama, T. Robby Irza menyampaikan bahwa Pemerintah Aceh, bersama tim lintas sektor Pokja PKP Provinsi Aceh, terus memantau capaian harian program SBS di tingkat kabupaten/kota. Hingga saat ini, sudah ada 14 kabupaten/kota di Aceh yang mencapai 100% ODF (Open Defecation Free).

“Target kami, pada tahun 2025, seluruh kabupaten/kota di Aceh sudah bisa mendapatkan STBM Award. Dengan begitu, Aceh akan menjadi provinsi pertama di Sumatera yang mencapai 100% ODF atau berperilaku SBS,” ujar Robby optimis.

Melalui pendekatan inovatif ini, STBM tidak hanya mendorong perubahan perilaku higienis dan saniter di masyarakat tetapi juga mengedepankan peran aktif masyarakat dalam proses transformasi ini melalui metode pemicuan.

Editor: Akil

20 Tahun Tsunami Aceh: Perspektif Mahasiswa Luar Daerah yang Berkuliah di Banda Aceh

0
Ilustrasi tsunami. (Foto: Okezone.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dua dekade telah berlalu sejak bencana tsunami melanda Aceh pada 2004, menyisakan luka mendalam dan pelajaran berharga. Peristiwa itu tidak hanya memengaruhi masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi perhatian dunia. Meski demikian, Banda Aceh kini telah bangkit dan menjadi salah satu pusat pendidikan di Indonesia, menarik ribuan mahasiswa dari luar daerah setiap tahunnya.

Namun, pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah mahasiswa dari luar Aceh merasa takut berkuliah di daerah yang pernah mengalami bencana besar dan memiliki potensi bencana berulang ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Nukilan.id mewawancarai sejumlah mahasiswa dari luar daerah yang saat ini menempuh pendidikan di Banda Aceh.

Rian Aditya, mahasiswa asal Yogyakarta yang kini berkuliah di Universitas Syiah Kuala (USK), mengaku sempat ragu untuk melanjutkan studi di Aceh. Awalnya, ia khawatir akan potensi bencana, mengingat sejarah tsunami besar di wilayah ini. Namun, setelah mencari informasi, kekhawatiran itu berangsur hilang.

“Awalnya saya ragu, ada rasa takut juga. Tapi setelah mencari informasi, saya merasa yakin karena ternyata Aceh kini memiliki sistem mitigasi yang jauh lebih baik,” kata Rian saat diwawancarai pada Minggu (29/12/2024).

Rian, yang kini sedang menyelesaikan tugas akhir, menambahkan bahwa pengalamannya tinggal di Banda Aceh selama beberapa bulan membantu menghilangkan kekhawatirannya.

“Masyarakat di sini sangat tangguh dan ramah, sehingga saya merasa aman,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Alia Faradila, mahasiswi asal Pontianak. Ia mengaku sempat khawatir untuk melanjutkan studi di Aceh. Namun, setelah mengetahui bahwa pemerintah dan berbagai lembaga internasional telah membangun sistem mitigasi bencana yang lebih baik, ia akhirnya mantap untuk berkuliah di Aceh.

“Saya merasa Aceh jauh lebih siap menghadapi potensi bencana dibandingkan daerah lain. Kami bahkan pernah mendapat pelatihan untuk menghadapi situasi darurat,” jelas Alia.

Menurutnya, Banda Aceh tidak hanya menawarkan pendidikan berkualitas tetapi juga memberikan pengalaman hidup yang sangat bermakna.

“Melihat bagaimana masyarakat Aceh bangkit dari trauma membuat saya termotivasi untuk belajar lebih giat dan berkontribusi di masa depan,” ungkap Alia.

Dua dekade setelah tsunami, Aceh telah menunjukkan kebangkitannya. Keberanian mahasiswa dari berbagai daerah untuk belajar di Banda Aceh adalah bukti bahwa bencana tidak hanya meninggalkan trauma tetapi juga memberikan pelajaran berharga untuk masa depan yang lebih baik. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

MPU Aceh Izinkan Perayaan Malam Tahun Baru, Begini Syaratnya

0
lem faisal
Ketua MPU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali alias Lem Faisal. (Foto: Nukilan).

NUKILAN.id | Badna Aceh – Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh mengizinkan masyarakat di Aceh merayakan malam tahun baru 2025, dengan syarat yang harus dipatuhi selama pelaksanaannya.

“Kegiatan tersebut (tahun baru) agar lebih difokuskan pada dzikir, wirid, doa, tafakkur, membaca Al Quran, ceramah agama, dan sejenisnya,” kata Ketua MPU Aceh, Tgk Faisal Ali, di Banda Aceh, Minggu.

Ketentuan ini diatur dalam Tausiyah Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh Nomor 13 Tahun 2024 tentang Perayaan Tahun Baru Masehi 2025.

Tgk Faisal menyebutkan tausiyah tersebut diterbitkan sebagai pertimbangan atas perayaan pergantian tahun baru masehi yang sering dilakukan di berbagai belahan dunia, termasuk oleh sebagian masyarakat Aceh.

Pelaksanaan momentum tersebut, katanya, seringkali dipengaruhi oleh hal-hal yang dapat menimbulkan kegaduhan serta kerusakan harta benda.

Adapun keputusan dalam tausiyah MPU Aceh tersebut adalah agar perayaan lebih difokuskan pada dzikir, wirid, doa, tafakkur, membaca Al Quran, ceramah agama, dan kegiatan sejenis, baik secara berjamaah maupun perseorangan.

Kegiatan yang tidak sesuai dengan syariat Islam, seperti meniup terompet, menyalakan lilin, kembang api, musik yang hingar bingar, serta bentuk kegiatan lain yang sejenis, diimbau agar dihindari.

“Bagi masyarakat Muslim, dilarang melakukan dan mengikuti acara ritual khas non-Muslim serta penggunaan atributnya,” ujarnya.

Pada poin terakhir tausiyah tersebut, MPU Aceh juga meminta masyarakat untuk bersikap toleransi dan saling menghargai antar umat beragama.

“Bahwa masyarakat diharapkan agar bersikap toleran dan saling menghormati antar umat beragama,” demikian Tgk Faisal Ali.

Editor: Akil

Meriahkan HAB ke-79, Kakanwil Kemenag Aceh Buka Lomba Voli

0
Kakanwil Kemenag Aceh Buka Lomba Voli HAB. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Meulaboh – Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si., secara resmi membuka pertandingan bola voli putra antar ASN Kemenag se-Aceh pada Sabtu, 28 Desember 2024.

Pembukaan ditandai dengan pukulan bola pertama (servis) oleh Kakanwil di Lapangan “Al-Ikhlasul’amal” Kanwil Kemenag Aceh. Pertandingan perdana mempertemukan tim Kanwil dengan tim Kankemenag Aceh Barat, dilanjutkan dengan laga antara Kankemenag Kota Banda Aceh melawan Kankemenag Aceh Timur, serta Kankemenag Gayo Lues melawan Kankemenag Aceh Jaya.

Pada sesi siang, pertandingan mempertemukan Kankemenag Pidie melawan Kankemenag Nagan Raya, disusul Kankemenag Kota Lhokseumawe melawan Kankemenag Aceh Barat, serta Kankemenag Aceh Besar menghadapi Kankemenag Pidie Jaya. Pada malam hari, pertandingan antara Kankemenag Aceh Jaya melawan Kankemenag Aceh Tamiang, serta Kankemenag Pidie menghadapi Kankemenag Kota Banda Aceh.

Kakanwil Azhari, yang didampingi Kabag TU Ahmad Yani, S.Pd.I., serta para Kakankemenag, mengajak para peserta untuk menjadikan ajang ini sebagai sarana olahraga sekaligus mempererat silaturahmi.

“Bermainlah dengan santai dan bergembira. Jangan bawa emosi karena ini adalah rangkaian HAB untuk memupuk ukhuwah di antara kita,” ujarnya.

Turnamen bola voli ini diikuti oleh 13 tim yang merupakan utusan dari Kanwil Kemenag Aceh, Kankemenag kabupaten/kota se-Aceh. Sebelum bertanding, seluruh tim telah mendaftar secara daring dan mengikuti technical meeting serta pencabutan lot secara online.

Menurut Ketua Seksi Olahraga HAB ke-79, Rakhmat Mulyana, S.Ag., M.Si., pertandingan dibagi dalam dua fase, yakni fase grup dan fase final. Grup terbagi menjadi empat pool, dengan masing-masing pool dihuni oleh tiga atau empat tim.

“Hasil drawing menempatkan tim Kanwil di Pool A1 dan tim Banda Aceh di Pool D1 sebagai unggulan berdasarkan hasil tahun lalu,” jelas Rakhmat.

Pertandingan fase grup berlangsung hingga 30 Desember 2024, sementara fase final akan mempertemukan juara dan runner-up grup secara silang.

Selain turnamen voli, rangkaian HAB ke-79 juga mencakup berbagai kegiatan, seperti bakti sosial dan penanaman pohon di Masjid Lambaro Angan, Aceh Besar, serta malam Apresiasi Kakanwil Award pada 4 Januari 2025. Rangkaian acara akan ditutup dengan syukuran dan family gathering pada 5 Januari 2025.

Editor: Akil

Hajar Pria Diduga Mesum hingga Tewas, 6 Warga Banda Aceh Jadi Tersangka

0
Ilustrasi perkelahian. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Enam warga di Banda Aceh ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian pria berinisial RD (50). Korban dihajar warga setelah diduga melakukan perbuatan mesum di dalam sebuah rumah.

Keenam tersangka adalah SZ (62), HW (47), RP (26), MR (31), FSP (19), dan AS (19). Mereka seluruhnya berdomisili di Banda Aceh.

“Berdasarkan keterangan dari 12 saksi yang diperiksa oleh penyidik unit Jatanras Sat Reskrim Polresta Banda Aceh, penetapan mengarah pada enam tersangka,” kata Kasatreskrim Polresta Banda Aceh Kompol Fadillah Aditiya Pratama, Minggu (29/12/2024).

Insiden bermula ketika RD digerebek warga di dalam sebuah rumah di Desa Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, pada pertengahan November lalu. Warga menghajar RD hingga ia harus dilarikan ke rumah sakit.

Korban meninggal dunia saat dalam perawatan di Rumah Sakit Pertamedika Banda Aceh pada 16 November pagi. Pihak keluarga korban yang tidak terima dengan kejadian tersebut melapor ke polisi.

Untuk menyelidiki kasus ini, penyidik Polresta Banda Aceh melakukan ekshumasi pada 19 November. Jasad RD yang sudah dimakamkan di Aceh Besar dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi.

Setelah hasil autopsi keluar, polisi kembali meminta keterangan sejumlah saksi untuk memperkuat penyelidikan. Menurut Fadillah, keenam tersangka akan diserahkan ke kejaksaan setelah berkas perkara dinyatakan lengkap.

“Penetapan tersangka dilakukan setelah pemeriksaan mendalam berdasarkan laporan keluarga korban, keterangan saksi-saksi, serta pengakuan para tersangka,” ujar Fadillah.

Editor: Akil

Jalan Rusak Hambat Pengembangan Wisata di Bandar Pusaka

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Buruknya kondisi infrastruktur jalan menjadi kendala utama pengembangan sektor pariwisata di Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Akses menuju objek wisata seperti Air Terjun Sangkapane di Kampung Pengidam, Air Terjun Bampo di Kampung Pante Cempa, Air Terjun Tamsar 27, dan Bukit Awan di Kampung Bengkelang rusak parah dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Bandar Pusaka, Khairi Ramadhan, mengungkapkan bahwa akses jalan yang tidak memadai membuat potensi wisata di wilayah tersebut sulit berkembang.

“Ada empat objek wisata di Kecamatan Bandar Pusaka yang akses jalannya rusak parah. Misalnya, sekitar 13 kilometer jalan menuju Air Terjun Sangkapane di Kampung Pengidam mengalami kerusakan parah,” ujar Khairi kepada wartawan, Minggu (29/12/2024).

Ia menambahkan, jalan menuju Air Terjun Sangkapane sebelumnya sempat diperbaiki melalui program TMMD Kodim 0117 Aceh Tamiang beberapa tahun lalu, sehingga lokasi tersebut ramai dikunjungi wisatawan. Namun, kondisi jalan yang kembali memburuk kini menjadi hambatan utama.

Khairi, yang akrab disapa Saleh, berharap Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tamiang terpilih, Armia Fahmi dan Ismail, menjadikan perbaikan jalan menuju objek wisata sebagai prioritas.

“Jika akses jalan bagus, wisatawan pasti ramai berkunjung. Hal ini juga akan membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar, seperti berjualan di lokasi wisata dan menggerakkan sektor UMKM,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur dibandingkan kegiatan seremonial. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, Saleh meminta perhatian pemerintah kabupaten dan provinsi untuk memprioritaskan perbaikan jalan.

“Jalan yang rusak akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi wilayah,” tutupnya.

Editor: Akil

Tiga BUMD di Aceh Utara Tak Setor Laba, Satu Dinyatakan Bangkrut

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Hingga 28 Desember 2024, tiga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Aceh Utara belum menyetorkan laba hasil usaha ke kas daerah. Padahal, keberadaan BUMD ini seharusnya mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat penting untuk pembangunan wilayah.

Ketiga BUMD tersebut adalah Perumda Air Minum Tirta Pase, PT Pase Energi Migas (Perseroda), dan PT Bina Usaha (Perseroda). Kepala Bidang Pendapatan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Aceh Utara, Dahlan, membenarkan bahwa tidak ada penyetoran laba dari BUMD sepanjang tahun ini.

“Saya sudah cek ke bagian akuntansi. Hingga hari ini, belum ada BUMD yang menyetor PAD untuk tahun 2024,” ujar Dahlan dikutip dari Kompas.com pada Minggu (29/12/2024).

Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Sepanjang 2023 dan beberapa tahun sebelumnya, ketiga BUMD tersebut juga tidak memberikan kontribusi kepada kas daerah.

Kepala Bagian Ekonomi Setdakab Aceh Utara, Juriani, menjelaskan bahwa dari ketiga BUMD tersebut, hanya Perumda Air Minum Tirta Pase yang dinilai masih berada dalam kondisi baik meski belum mampu menyetor laba.

“Perumda Tirta Pase dalam kondisi baik. PT Pase Energi Migas masih berbenah setelah pergantian pengurus, sedangkan PT Bina Usaha tidak sehat,” ungkap Juriani.

Juriani menambahkan, pemerintah terus mendorong pembenahan manajemen agar BUMD bisa beroperasi secara optimal. Namun, satu BUMD, yaitu PT Bank Perkreditan Rakyat Aceh Utara, dinyatakan bangkrut dan telah ditutup oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun ini. Seluruh karyawan diberhentikan, dan kantor tidak lagi beroperasi.

Sebagai informasi, PT Bina Usaha bergerak di bidang bisnis hotel dengan merek Lido Graha. Sementara itu, PT Pase Energi Migas fokus pada industri minyak dan gas bersama PT Pema Global Energi. Adapun Perumda Air Minum Tirta Pase menyediakan layanan air minum, wisata kolam renang, dan bisnis air kemasan.

Dengan kondisi ini, upaya perbaikan manajemen menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah Aceh Utara agar BUMD dapat kembali memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Editor: Akil

83 Jiwa di Nagan Raya Terdampak Banjir Bandang, Tidak Ada Korban Jiwa

0

NUKILAN.id | Suka Makmu – Sebanyak 83 jiwa dari 23 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, terdampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada Selasa (24/12). Kepala Dinas Sosial Kabupaten Nagan Raya, Teuku John Merly Betra, memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

“Alhamdulillah, sesuai hasil pendataan, tidak ada masyarakat yang menjadi korban jiwa dalam bencana alam ini,” ujar Teuku John Merly Betra dikutip dari ANTARA pada Minggu (29/12/2024)

Banjir bandang ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kawasan dataran tinggi Beutong Ateuh Banggalang selama beberapa hari terakhir. Meski demikian, dampak banjir bandang tidak menyebabkan kerusakan pada rumah warga, sehingga masyarakat tetap bertahan di tempat tinggal masing-masing.

“Hanya rumah masyarakat yang terdampak bencana karena terendam banjir,” katanya, menegaskan bahwa fasilitas umum seperti jalan dan tanah longsor yang menjadi fokus kerusakan.

Pemerintah Kabupaten Nagan Raya telah menyalurkan bantuan masa panik untuk meringankan beban warga terdampak. Langkah ini menjadi bagian dari respons cepat pemerintah dalam menghadapi bencana yang juga mengakibatkan longsor di sejumlah titik di wilayah tersebut.

Selain itu, pemerintah terus memantau kondisi di lapangan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

“Kami pastikan masyarakat tetap mendapatkan bantuan yang diperlukan,” pungkasnya.

Editor: Akil

Melihat Keindahan dan Sejarah Wastra Aceh

0

NUKILAN.id | Banda Aceh — Wastra Aceh, salah satu warisan budaya yang penuh makna dari Tanah Rencong, kini dapat disaksikan lebih dekat di Museum Aceh. Kain tradisional yang terkenal akan keindahan dan keunikan motifnya ini menyimpan filosofi mendalam serta sejarah panjang yang mencerminkan kejayaan peradaban Aceh di masa lampau.

Di Museum Aceh, pengunjung dapat menikmati pameran kain-kain wastra Aceh yang mayoritas terbuat dari sutera alami. Sutera ini memberikan tekstur lembut dengan kilau yang khas, menjadikannya simbol keanggunan dan kemewahan. Motif-motif pada kain didominasi oleh motif flora seperti bunga jeumpa, motif geometris seperti pucuk rebung, serta motif pintu Aceh yang melambangkan kekuatan dan keterbukaan budaya Aceh.

Darin informasi yang diperoleh Nukilan.id, setiap helai kain ini merupakan hasil dari proses tenun tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, warna-warna kain didominasi oleh warna alam seperti cokelat, merah, dan kuning, yang dipercaya memiliki makna filosofis mendalam.

Wastra Aceh telah dikenal sejak abad ke-16, bahkan pada masa itu dianggap mampu menyaingi kualitas sutera dari India dan Tiongkok. Kain ini pernah menjadi salah satu komoditas perdagangan utama Aceh dan menjadi simbol status sosial.

Pada abad ke-18, kain-kain ini juga digunakan sebagai alat diplomasi budaya antara Aceh dengan negara-negara lain, termasuk India dan Tiongkok.

Salah satu tradisi unik yang ditampilkan dalam pameran adalah “12 Hah,” yaitu tradisi penggunaan 12 lapis kain bermotif sama oleh wanita Aceh untuk menutup aurat. Hal ini menjadi bukti bahwa wastra Aceh tidak hanya bernilai estetika tetapi juga sarat makna religius.

Sejumlah pengunjung yang datang ke Museum Aceh mengaku terpesona dengan pameran ini. Aulia, seorang pengunjung asal Medan, menyebutkan bahwa pameran wastra Aceh memberinya wawasan baru tentang budaya Aceh.

“Motif-motifnya indah sekali, dan ternyata setiap motif punya cerita. Saya jadi semakin menghargai kekayaan budaya Aceh,” ujarnya saat diwawancarai Nukilan.id pada Minggu (29/12/2024).

Sementara itu, Zikri, seorang wisatawan dari Jakarta, terkesan dengan proses pembuatan kain yang membutuhkan ketelitian tinggi.

“Melihat langsung bagaimana kain ini ditenun membuat saya sadar, kain tradisional seperti ini benar-benar karya seni yang bernilai. Ini bukan sekadar kain, tapi warisan budaya yang harus kita jaga,” katanya.

Rara, mahasiswa asal Banda Aceh, menyampaikan harapannya agar generasi muda lebih peduli terhadap wastra Aceh.

“Ini penting banget. Kalau kita tidak melestarikan, siapa lagi? Saya harap ini bisa jadi inspirasi bagi anak muda Aceh untuk lebih mencintai budaya kita,” katanya penuh semangat.

Pameran wastra Aceh di Museum Aceh ini menjadi destinasi wajib bagi siapa pun yang ingin memahami lebih dalam keindahan seni dan sejarah Aceh. Selain menikmati kain-kain tradisional, pengunjung juga dapat menyaksikan pengrajin tenun bekerja langsung, sehingga dapat menghargai betapa rumitnya proses pembuatan wastra Aceh.

Dengan berbagai upaya pelestarian ini, wastra Aceh tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari kebanggaan budaya Indonesia yang terus hidup di masa depan. (xrq)

Reporter: Akil Rahmatillah