Beranda blog Halaman 726

Dua Pengedar Sabu dari Aceh Tamiang Ditangkap di Aceh Utara

0
Tersangka dan barang bukti diamankan di Mapolres Aceh Utara. (Foto: Polres Aceh Utara)

NUKILAN.id | Lhoksukon – Satuan Reserse Narkoba Polres Aceh Utara berhasil meringkus dua pria asal Aceh Tamiang yang diduga kuat sebagai pengedar narkoba. Penangkapan tersebut dilakukan di dua lokasi berbeda pada Jumat (10/1/2025) setelah tim melakukan penyelidikan berdasarkan informasi dari masyarakat.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Nanang Indra Bakti, melalui Kasat Res Narkoba Iptu Fitra Zumar menjelaskan, tersangka pertama, A (36), ditangkap di Kantin Masjid Besar Malikussaleh, Keude Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Saat penggeledahan, petugas menemukan dua bungkus sabu yang disembunyikan pelaku.

“Dari hasil interogasi awal, pelaku mengakui bahwa barang tersebut diperoleh dari tersangka D,” ujar Iptu Fitra Zumar, Sabtu (11/1/2025).

Setelah mendapatkan informasi dari A, tim segera bergerak ke Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Di sana, polisi berhasil menangkap D (48) yang sedang berada di pinggir jalan. Meski tidak ditemukan barang bukti saat penangkapan, D mengakui telah menyerahkan sabu kepada A dan menyebutkan bahwa barang haram tersebut diperoleh dari dua pria lain yang masih dalam proses penyelidikan.

“Upaya kami terus berlanjut untuk mengungkap jaringan yang lebih besar dan menangkap pelaku lainnya. Ini bagian dari komitmen kami untuk memberantas peredaran narkoba di wilayah hukum Aceh Utara,” tegas Iptu Fitra Zumar.

Saat ini, kedua tersangka telah mendekam di ruang tahanan Polres Aceh Utara. Mereka akan menghadapi proses hukum sesuai dengan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang mengancam pelaku dengan hukuman berat.

Kasat Res Narkoba Polres Aceh Utara juga mengimbau masyarakat untuk terus berperan aktif dalam memberikan informasi terkait aktivitas mencurigakan yang berhubungan dengan narkotika.

“Kami mengimbau masyarakat untuk terus memberikan informasi terkait aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan narkotika demi menjaga keamanan dan ketertiban di daerah tersebut,” pungkasnya.

Penangkapan ini menjadi bukti nyata keseriusan Polres Aceh Utara dalam memerangi jaringan narkoba yang meresahkan masyarakat. Dengan kerja sama yang erat antara aparat dan warga, diharapkan peredaran narkoba dapat diberantas hingga ke akar-akarnya.

Editor: Akil

9 Tim Bersaing di Piala Soeratin U-13 Zona Aceh

0
Piala Soeratin U-13 Zona Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Kompetisi Piala Soeratin U-13 Zona Aceh resmi dimulai, menghadirkan sembilan tim yang siap bertarung memperebutkan tiket ke tingkat nasional. Ajang bergengsi ini digelar di Lapangan Sintetis, Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, mulai 11 hingga 15 Januari 2025.

Sekretaris Umum Asosiasi Provinsi PSSI Aceh, Nazaruddin, menyatakan bahwa peserta kompetisi terdiri atas tiga klub dan enam Sekolah Sepak Bola (SSB) dari berbagai daerah di Aceh. Para tim peserta dibagi ke dalam tiga grup untuk babak penyisihan.

“Kompetisi Piala Soeratin U-13 Zona Aceh diikuti sembilan tim. Kompetisi dipusatkan di lapangan sintetis, Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Kota Banda Aceh,” kata Nazaruddin saat membuka pertandingan pertama, Sabtu (11/1/2025).

Grup A diisi oleh SSB Barona Banda Aceh, Tamiang United, dan Lambhuk FA Banda Aceh. Grup B mempertemukan Persas Sabang, SSB Rawa Singkil, serta SSB Elang Biru. Sementara itu, Grup C mempertemukan PSLS Lhokseumawe, SSB Merak Jingga, dan Talenta FA Banda Aceh.

Menurut Nazaruddin, pemenang dari kompetisi ini akan mewakili Provinsi Aceh di tingkat nasional yang akan berlangsung di Pulau Jawa. Di sana, juara zona Aceh akan bersaing dengan tim terbaik dari seluruh Indonesia.

“Juara dari kompetisi ini akan mewakili Aceh ke tingkat nasional yang berlangsung di Pulau Jawa. Di tingkat nasional, juara zona Aceh akan bersaing dengan juara dari zona provinsi lainnya,” ujar Nazaruddin.

Ia juga menegaskan pentingnya Piala Soeratin sebagai wadah pengembangan bakat sepak bola usia dini. Kompetisi ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan pengalaman bertanding para pemain muda.

“Kami berharap kompetisi ini menjadi wadah para pemain muda menunjukkan kemampuan dengan harapan bisa menjadi pemain muda berbakat yang dapat memperkuat tim nasional junior,” tambahnya.

Pertandingan pembuka mempertemukan Tamiang United dan SSB Barona Banda Aceh dalam laga yang berlangsung sengit. Setelah berjuang keras selama dua babak yang masing-masing berdurasi 30 menit, Tamiang United berhasil mengamankan kemenangan tipis dengan skor 3-2.

Atmosfer penuh semangat dan dukungan suporter memeriahkan laga perdana ini, menandai awal kompetisi yang diharapkan membawa lahirnya talenta-talenta berbakat yang siap bersinar di kancah sepak bola nasional.

Editor: Akil

Aceh Dorong Pemanfaatan Optimal KEK Arun Lhokseumawe

0
Aceh Dorong Pemanfaatan Optimal KEK Arun Lhokseumawe. (Foto: rri)

NUKILAN.id | Lhokseumawe — Penjabat Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA., M.Si., menegaskan pentingnya optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe sebagai motor penggerak ekonomi Aceh. Pernyataan ini disampaikan Safrizal saat menyambut rombongan Dewan Nasional KEK yang dipimpin oleh Plt Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Dr. Rizal Edwin Manansang, di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, Jumat (10/1/2025).

Dalam kunjungan tersebut, hadir pula Asisten II Setda Aceh, Dr. Ir. Zulkifli, M.Si., Pj. Bupati Aceh Utara, Dr. Drs. Mahyuzar, M.Si., dan Pj. Wali Kota Lhokseumawe, A. Hanan, S.P., M.M. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan Dewan Nasional KEK dalam mendorong pengembangan kawasan ekonomi tersebut.

“Selamat datang di Aceh. Mohon dukungannya supaya pemanfaatan KEK Arun ini maksimal,” ujar Safrizal. Ia menekankan bahwa KEK Arun memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan daya saing ekonomi Aceh.

Safrizal juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Aceh telah berkomunikasi dengan gubernur terpilih, H. Muzakir Manaf, guna memastikan keberlanjutan dukungan terhadap pengembangan KEK. Salah satu fokus utama adalah memaksimalkan potensi Pelabuhan Arun yang terletak di jalur perdagangan internasional Selat Malaka.

“Pemanfaatan pelabuhan ini dapat menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing KEK Arun,” tegasnya.

Sementara itu, Rizal Edwin Manansang menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari Pemerintah Aceh.

“KEK Arun ini sangat strategis dan memiliki sejarah panjang. Kita berharap KEK Arun Lhokseumawe bisa menjadi contoh dan menjadikannya Green KEK pertama di Indonesia,” katanya.

Konsep Green KEK yang dimaksud adalah kawasan ekonomi berbasis ramah lingkungan dengan penerapan teknologi berkelanjutan. Praktik ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Budi Santoso, Wakil Ketua III Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, turut menambahkan bahwa dukungan pemerintah dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan sangat penting untuk mewujudkan potensi penuh KEK Arun.

Dalam penutup pernyataannya, Safrizal kembali menegaskan komitmen Pemerintah Aceh untuk menjadikan KEK Arun sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. “Pemerintah Aceh berkomitmen untuk memastikan KEK Arun menjadi motor penggerak ekonomi. Kami juga mendorong pengembangan berbasis keberlanjutan agar KEK ini tidak hanya bermanfaat secara ekonomi tetapi juga ramah lingkungan.”

Dengan dukungan penuh dari Dewan Nasional KEK dan berbagai pihak terkait, pengembangan KEK Arun diharapkan tidak hanya membuka peluang investasi tetapi juga menciptakan ribuan lapangan kerja baru untuk masyarakat Aceh.

Editor: Akil

Penghapusan Presidential Threshold: Peluang dan Tantangan Stabilitas Politik

0
Ilustrasi pemungutan suara. (Foto: Freepik)

NUKILAN.id | Jakarta — Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait penghapusan presidential threshold dalam pemilihan presiden terus memicu diskusi di kalangan pengamat politik. Felia Primaresti, Manajer Riset dan Program di The Indonesian Institute, mengungkapkan pandangannya terkait dampak jangka panjang dari putusan ini terhadap sistem perpolitikan di Indonesia.

“Salah satu kekhawatiran utama yang muncul adalah mengenai tata kelola pemilu yang harus tetap dijaga agar efisien dan efektif. Penghapusan presidential threshold membuka peluang bagi lebih banyak partai politik untuk mencalonkan pasangan presiden, yang bisa menyebabkan terjadinya fragmentasi politik yang lebih besar,” ujarnya saat diwawancarai oleh Nukilan.id pada Jumat (10/1/2025).

Lebih lanjut, Felia menyoroti bahwa bertambahnya calon presiden dan wakil presiden dapat membuat proses pemilu menjadi lebih rumit bagi masyarakat pemilih. Kondisi ini dinilai dapat mempengaruhi kemudahan pemilih dalam menentukan pilihan mereka.

“Dengan semakin banyaknya calon presiden dan wakil presiden yang muncul, proses pemilu bisa menjadi lebih kompleks dan membingungkan bagi pemilih. Selain itu, potensi untuk terbentuknya koalisi yang lebih luas dan tidak stabil dapat memperburuk proses pembentukan pemerintahan pasca-pemilu,” tambahnya.

Felia juga menekankan bahwa koalisi yang terbentuk dari beragam partai dengan berbagai kepentingan bisa menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas politik di masa depan. Ia mengingatkan bahwa kesulitan mempertahankan koalisi yang solid berisiko meningkatkan ketidakstabilan.

“Koalisi yang terbentuk dari banyak partai dengan kepentingan yang berbeda-beda bisa saja sulit untuk bertahan, yang dapat menambah ketidakstabilan politik dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Dalam konteks demokrasi Indonesia, putusan MK ini mencerminkan langkah untuk membuka ruang politik lebih luas bagi berbagai partai. Namun, tantangan menjaga stabilitas pemerintahan tetap menjadi sorotan penting yang perlu mendapat perhatian lebih dari para pemangku kebijakan dan pelaku politik. (XRQ)

Reporter: Akil

MPU Banda Aceh Gelar Rapat Koordinasi, Soroti Maraknya Nikah Liar

0
MPU Banda Aceh Gelar Rapat Koordinasi. (Foto: DISKONINFO BNA)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh mengadakan rapat koordinasi lintas instansi untuk menanggulangi fenomena maraknya praktik nikah liar di wilayah tersebut. Pertemuan penting ini berlangsung di Kantor MPU Banda Aceh pada Kamis (9/1/2025) dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Rapat dihadiri oleh Kepala Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, Plt Kepala Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Ketua Mahkamah Syariah Kota Banda Aceh, serta perwakilan dari Kantor Urusan Agama (KUA) Baiturrahman, Ulee Kareng, dan Jaya Baru.

Ketua MPU Kota Banda Aceh, Tgk. Syibral Malasyi, mengungkapkan bahwa fenomena nikah liar di Kota Banda Aceh menjadi persoalan yang kian mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan serius.

“Kasus nikah siri dan nikah liar sangat banyak di Kota Banda Aceh tetapi belum bisa kita tangani dengan baik. Nikah liar ini merupakan nikah yang tidak jelas wali nikahnya, saksi nikahnya dan prosesnya,” kata Tgk. Syibral.

Beliau menekankan bahwa rapat koordinasi ini bertujuan untuk menyusun langkah-langkah strategis melalui rekomendasi bersama yang akan diusulkan kepada Wali Kota Banda Aceh.

“Kita akan menertibkan pelaku nikah liar, kesepakatan bersama dalam bentuk sebuah rekomendasi dan akan kita serahkan ke Walikota,” pungkasnya.

Langkah penertiban ini diharapkan dapat memperkuat pengawasan dan penegakan aturan terkait pernikahan yang sah sesuai syariat Islam dan hukum negara. Upaya bersama antarinstansi menjadi kunci untuk menekan praktik yang berpotensi menimbulkan permasalahan hukum dan sosial di masyarakat.

Pertemuan tersebut menegaskan komitmen MPU dalam memperkuat peran kelembagaan ulama dan mempererat sinergi dengan pemerintah serta aparat hukum guna menciptakan masyarakat yang lebih tertib dan sesuai nilai-nilai syariat di Kota Banda Aceh.

Editor: Akil

Dua Warga Bener Meriah Hilang Tertimbun Longsor, Pencarian Terkendala Medan Sulit

0
Dua Warga Bener Meriah Hilang Tertimbun Longsor. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Redelong — Dua warga Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, dilaporkan hilang setelah tertimbun longsor di kawasan Kampung Uning Bertih, Kecamatan Wih Pesam, pada Kamis (9/1/2025) sekitar pukul 16.00 WIB. Hingga Jumat (10/1/2025), proses pencarian masih terus berlangsung dengan tantangan medan yang berat.

Kepala BPBD Bener Meriah, Safriadi, menyebut kedua korban adalah Abdul Hanif (45) dan sepupunya, Fajri (20). Tim gabungan dari SAR, BPBD, Tagana, TNI, Polri, serta masyarakat setempat dikerahkan untuk mencari korban sejak insiden terjadi.

“Karena medan sulit, pencarian ditunda dan dilanjutkan kembali pagi ini,” ujar Safriadi saat dikonfirmasi pada Jumat.

Longsor terjadi ketika Abdul Hanif bersama istri, anak, dan Fajri dalam perjalanan pulang dari kebun. Saat melintasi jalur tersebut, material longsor pertama menutupi badan jalan, membuat sepeda motor mereka tidak bisa bergerak. Abdul Hanif kemudian mengamankan istri dan anaknya terlebih dahulu.

“Akibat kejadian itu, kendaraan (motor) mereka tidak bisa melintas,” katanya.

Setelah memastikan keluarganya aman, Abdul Hanif bersama Fajri kembali ke lokasi untuk membersihkan material yang menutup jalan. Namun nahas, longsor susulan yang lebih besar tiba-tiba terjadi, menimbun keduanya di bawah timbunan tanah dan batu.

Pencarian Manual Tanpa Alat Berat

Safriadi menjelaskan, proses pencarian dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan alat sederhana lainnya. Medan yang curam dan risiko longsor susulan membuat penggunaan alat berat menjadi sangat berbahaya.

“Pencarian hanya dilakukan secara manual, karena operator alat berat tidak berani mengingat medannya sangat sulit dan berisiko bagi keselamatannya,” tuturnya.

Pihaknya terus mengimbau masyarakat yang berada di kawasan rawan longsor agar selalu waspada, terutama saat intensitas hujan tinggi. Sementara itu, tim pencarian berupaya maksimal meski terkendala cuaca dan akses yang sulit.

Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama di daerah pegunungan seperti Bener Meriah yang rawan longsor. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap operasi penyelamatan.

Editor: Akil

Berkas Perkara Kasus Korupsi PT PSM Diserahkan ke PN Banda Aceh

0
Proses penyerahan berkas perkara dugaan korupsi PT PSM. (Foto: Dok. Kejari Sabang)

NUKILAN.id | Sabang – Kejaksaan Negeri Sabang melimpahkan berkas perkara tindak pidana korupsi (tipikor) terkait penggunaan anggaran PT PSM senilai Rp2,5 miliar tahun 2022 ke Pengadilan Tipikor Banda Aceh, pada Sabtu 11 Januari 2025.

Kepala Kejaksaan Negeri Sabang Milono Raharjo melalui Plh Kasi Intelijen Vebriyan Gusti Pradana membenarkan penyerahan berkas perkara dengan dua terdakwa yakni T. Ramli Angkasa dan Afrizal Bakri.

“Pelimpahan berkas ini merupakan kelanjutan proses hukum para terdakwa untuk menguji kebenaran bukti formil dan materil yang diperoleh selama penyidikan,” jelas Vebriyan dalam keterangannya kepada Nukilan.

Dijelaskannya, persidangan akan dilaksanakan secara terbuka untuk umum di Pengadilan Tipikor Banda Aceh. Proses peradilan akan dijalankan dengan integritas, profesional dan proporsional demi memulihkan kerugian negara akibat perbuatan para terdakwa serta memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Atas perbuatannya, kedua terdakwa didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3 jo Pasal 8 jo Pasal 18 ayat (1) huruf a,b, ayat (2) dan (3) UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20/2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Reporter: Rezi

Perbedaan Pandangan Presiden dan Mendikti Soal Fakultas Kedokteran, Akademisi Angkat Bicara

0
Pengamat Politik dan Kebijakan Publik dari Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45), Dr. Firman, (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Jakarta — Perbedaan persepsi terkait kebijakan pendidikan kedokteran mencuat antara Calon Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro. Keduanya memiliki pandangan yang berbeda soal solusi kekurangan tenaga medis di Indonesia.

Dalam Debat Capres terakhir yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Minggu (4/2/2024), Prabowo menegaskan rencananya untuk memperbanyak jumlah fakultas kedokteran di Indonesia sebagai salah satu langkah strategis meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Ia berencana membangun 300 fakultas kedokteran baru serta memberikan 20 ribu beasiswa di bidang kedokteran dan STEM.

“Kita kekurangan sekitar 140 ribu dokter di Indonesia, dan itu akan segera kita atasi dengan cara, kita akan menambah fakultas kedokteran di Indonesia. Dari yang sekarang ada 92 fakultas kedokteran, kita akan membangun 300 fakultas kedokteran,” kata Prabowo dalam debat tersebut.

Namun, rencana tersebut bertolak belakang dengan kebijakan yang diusulkan Menteri Satryo. Dalam wawancara bersama detikedu, Jumat (10/1/2024), ia menyatakan bahwa penambahan fakultas kedokteran baru sebaiknya dihentikan. Menurutnya, meskipun pembukaan fakultas kedokteran menarik secara finansial bagi universitas, kebijakan ini bukan solusi ideal untuk mengatasi kekurangan dokter di Indonesia.

“Kita stop dulu aja penambahannya (FK) itu,” tegas Satryo.

Ia mengusulkan agar kebutuhan tenaga medis dipenuhi dengan meningkatkan kapasitas mahasiswa di fakultas kedokteran yang sudah ada, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menanggapi perbedaan pandangan ini, Pengamat Politik dan Kebijakan Publik dari Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45), Dr. Firman, menilai bahwa kebijakan Menteri Satryo harus sejalan dengan visi dan misi Presiden yang telah ditetapkan.

Menurut Firman, meskipun penambahan jumlah fakultas kedokteran memerlukan kajian mendalam, penting bagi kebijakan pemerintah untuk tetap mendukung perkembangan pendidikan kesehatan yang berkelanjutan demi menciptakan pemerataan layanan kesehatan di seluruh Indonesia.

“Sebagai seorang pemimpin, Presiden dan Menteri Pendidikan harus berada di jalur yang sama. Jangan sampai kebijakan yang ada justru membuat stabilitas dunia pendidikan kacau dan merugikan kemajuan sektor kesehatan kita,” tegas Firman kepada Dialeksis, Sabtu (11/1/2025).

Lebih lanjut, Firman juga menekankan bahwa membangun lebih banyak fakultas kedokteran, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan tenaga medis, bukan hanya akan membantu meningkatkan jumlah dokter, tetapi juga memberikan kesempatan bagi generasi muda di seluruh Indonesia untuk mengakses pendidikan kedokteran.

“Pemerataan pendidikan kedokteran sangat penting untuk menciptakan sistem kesehatan yang inklusif. Jika kita hanya mengandalkan kuota di fakultas kedokteran yang sudah ada, akan ada banyak calon dokter yang terhalang akses, khususnya di wilayah 3T. Selain itu, pembukaan fakultas kedokteran baru juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi tenaga pengajar dan tenaga medis lainnya,” tambahnya.

Menurutnya, meskipun ada kekhawatiran mengenai kualitas pendidikan yang mungkin menurun jika terlalu banyak fakultas kedokteran dibuka, hal tersebut dapat diatasi dengan memastikan adanya standar kualitas yang ketat dan pengawasan yang lebih baik terhadap kurikulum serta fasilitas pendidikan.

“Peningkatan kualitas pendidikan kedokteran harus tetap menjadi prioritas, namun kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak dokter, khususnya di daerah-daerah yang kesulitan mengakses layanan kesehatan,” pungkasnya.

Editor: Akil

Warnai Kota dengan Seni Mural, Komunitas Apotek Wareuna Perindah Flyover Simpang Surabaya

0
Seniman Aceh Perindah Flyover Simpang Surabaya dengan Seni Mural. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Para seniman yang tergabung dalam komunitas Apotik Warna melancarkan aksi kreatif dengan mewarnai tiang flyover di Simpang Surabaya, Banda Aceh. Kegiatan yang menggabungkan seni mural dengan pesan budaya ini bertujuan memperindah kota sekaligus melawan aksi vandalisme destruktif yang merusak ruang publik.

Olexs, Koordinator Lapangan Apotek Wareuna, menjelaskan bahwa mural yang mereka hasilkan mengusung tema “Salem Teuka” atau selamat datang.

“Kami ingin menyambut siapa pun yang datang ke Banda Aceh dengan citra keramahan. Gambar warung kopi, perempuan menyapa, dan rumah adat Aceh menjadi simbol kearifan lokal yang kami tuangkan ke dalam mural,” ungkapnya kepada Nukilan.id, Sabtu (11/1/2025).

Gerakan ini, lanjut Olexs, merupakan bentuk respons atas banyaknya coretan-coretan yang merusak estetika kota.

“Kami ingin mengubah vandalisme negatif menjadi karya yang membawa pesan positif dan mempercantik lingkungan,” tambahnya.

Vandalisme negatif menghiasi Flyover Simpang Surabaya sebelum diperindah oleh Komunitas Apotek Wareuna. (Foto: For Nukilan)

Beberapa perupa terkemuka, seperti Iswadi Basri, Munzir S.Sn, Chika, dan Mahatir, ikut serta dalam proyek ini. Meski pendanaan berasal dari hasil patungan dan sumbangan warga, mereka tetap bersemangat untuk menciptakan karya yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

“Kami ingin mural ini memberikan energi baru bagi Banda Aceh, menghidupkan karakter kota dengan sentuhan seni yang penuh makna,” ujar Munzir.

Mural sebagai Ekspresi Budaya, Bukan Sekadar Coretan

Davi Abdullah, seorang budayawan dan pembuat film independen, turut memberikan perspektifnya. Ia menekankan bahwa gerakan seperti ini kerap disalahartikan sebagai vandalisme belaka.

“Di kota-kota besar, seni jalanan sudah lama menjadi bagian dari upaya memperkaya visual kota. Ini bukan coretan liar, melainkan ekspresi budaya dengan konsep dan ideologi yang dalam,” katanya.

Menurut Davi, mural dan seni jalanan berfungsi sebagai dialog antara masyarakat dan ruang publik yang sering kali homogen karena dominasi kepentingan komersial.

“Melalui seni jalanan, seniman menghadirkan kritik sosial, aspirasi, dan dinamika kehidupan urban. Ini adalah perlawanan terhadap keseragaman ruang yang membosankan,” ujarnya. Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih menghargai seni mural sebagai bagian dari kekayaan budaya perkotaan yang berharga.

Seni Mural sebagai Identitas Kota

Inisiatif Komunitas Apotek Wareuna menandai langkah baru dalam upaya menciptakan identitas visual unik untuk Banda Aceh. Dengan semangat gotong royong dan dukungan masyarakat, seni mural diharapkan mampu mengubah persepsi publik tentang vandalisme. Lebih dari sekadar warna, mural adalah cermin jiwa kota yang menggambarkan keragaman, kritik, dan keindahan yang hidup di setiap sudut jalan.

Gerakan ini menunjukkan bahwa seni bisa menjadi medium transformasi sosial yang kuat, menghapus batas antara kerusakan dan keindahan, serta menghidupkan ruang publik dengan pesan yang berakar pada budaya dan nilai lokal. (XRQ)

Reporter: Akil

Wakili Pj Gubernur, Plh. DLHK Aceh Hadiri Wisuda Jurnalis Lingkungan di DAS Peusangan

0
Plh. Kepala DLHK Aceh, Muhammad Daud. (Foto DLHK Aceh)

NUKILAN.id | Takengon Suasana semangat dan kepedulian terhadap lingkungan mewarnai Camping Jurnalistik Lingkungan (CJL) 2025 yang digelar Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan, Aceh Tengah, Jumat (10/1/2025). Acara ini menjadi momen spesial bagi tujuh siswa Sekolah Jurnalis Lingkungan (SJL) Batch 3 yang diwisuda setelah menyelesaikan pembelajaran dan magang selama enam bulan.

Aksi bersih sungai dan penanaman pohon menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, pemandu wisata alam Gayo, jurnalis, serta wisatawan. Di lokasi arung jeram Lukup Badak, para peserta menelusuri sungai dan memungut sampah yang mengotori aliran air.

“Kita bersama menelusuri DAS Peusangan, kemudian memilih dan mengambil sampah-sampah yang berada di sepanjang aliran sungai,” ujar Munandar, Koordinator FJL Aceh, saat memimpin aksi tersebut.

Pj Gubernur Aceh diwakili Pelaksana Harian (Plh.) Kepala DLHK Aceh, Muhammad Daud, yang secara resmi membuka kegiatan dan memwisudakan para siswa. Daud menyampaikan apresiasi kepada FJL atas inisiatif mereka dalam mengedukasi masyarakat melalui program SJL yang berfokus pada advokasi, kampanye, dan edukasi lingkungan.

“Selalu pemerintah bersama dengan FJL kita terus mendukung kegiatan-kegiatan advokasi lingkungan kepada masyarakat bersama dengan FJL,” tegas Muhammad Daud.

Ia berharap setiap lulusan SJL dapat menjadi agen perubahan yang membawa isu-isu lingkungan ke tengah masyarakat dan memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga alam. Sebagai bagian dari prosesi wisuda, setiap siswa diwajibkan menanam satu bibit pohon sebagai simbol komitmen awal untuk menjadi jurnalis yang berperan aktif dalam pelestarian lingkungan.

Program SJL yang telah berlangsung selama tiga angkatan ini terbukti mencetak jurnalis yang kini aktif menyuarakan isu-isu lingkungan di berbagai media. Keberlanjutan program ini diharapkan menjadi motor penggerak kampanye sadar lingkungan yang lebih masif di masa depan.

Acara CJL 2025 tidak hanya menanamkan nilai-nilai jurnalistik berkelanjutan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara komunitas lingkungan, jurnalis, dan pemerintah dalam menjaga sumber daya alam Aceh dari ancaman pencemaran dan kerusakan.

Editor: Akil