Beranda blog Halaman 721

Empat Rumah di Aceh Utara Rusak Diterjang Abrasi, Warga Harapkan Bantuan Pemerintah

0
Empat Rumah di Aceh Utara Rusak Diterjang Abrasi. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Lhoksukon – Abrasi pantai kembali menelan korban di Desa Meunasah Baro, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Empat rumah warga mengalami kerusakan akibat terkikisnya garis pantai. Satu di antaranya, milik Hafsah, rusak berat hingga tidak lagi layak huni.

Kapolsek Muara Batu, AKP Ali Akbar, mengungkapkan bahwa pihaknya segera merespons kejadian ini dengan mendatangi lokasi bersama camat dan personel Koramil pada Selasa (14/1/2025). Mereka telah melaporkan situasi tersebut kepada Dinas Sosial Aceh Utara untuk memastikan bantuan darurat dapat diberikan kepada para korban.

“Kami teruskan laporannya ke dinas sosial agar bisa dibantu warga terdampak abrasi ini,” ujar Ali Akbar saat dihubungi melalui sambungan telepon. Ia juga mengimbau warga pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan karena ancaman abrasi diperkirakan masih berlanjut.

“Jika kondisi abrasi makin parah, segera hubungi aparat keamanan agar kita bantu evakuasi,” tambahnya.

Selain rumah Hafsah yang mengalami kerusakan parah, tiga rumah lainnya milik Musliadi, Muhammad Aljabir, dan Suryadi hanya mengalami kerusakan ringan. Namun, ketiga pemilik rumah tetap cemas dengan potensi kerusakan yang lebih besar jika abrasi terus terjadi.

Hafsah, yang rumahnya hampir tak menyisakan dapur akibat terkikis gelombang, berharap ada perhatian cepat dari pemerintah daerah.

“Semoga bapak Pj Bupati Aceh Utara mengetahui kondisi kami korban abrasi dan memberikan bantuan rehab rumah,” katanya penuh harap.

Desa Meunasah Baro yang berada di pesisir pantai memang rentan terhadap abrasi. Erosi pantai di kawasan ini telah berulang kali merusak rumah warga dan infrastruktur lainnya. Masyarakat setempat meminta langkah mitigasi jangka panjang, seperti pembangunan pemecah ombak atau tanggul pantai, untuk melindungi mereka dari bencana serupa di masa depan.

Bencana abrasi pantai telah menjadi ancaman serius di berbagai wilayah pesisir Indonesia, memaksa ribuan warga hidup dalam ketidakpastian. Menurut para ahli, perubahan iklim yang memicu kenaikan permukaan laut serta eksploitasi kawasan pesisir tanpa pengelolaan berkelanjutan memperparah risiko abrasi di wilayah-wilayah rawan seperti Muara Batu.

Editor: Akil

Banjir Rendam 280 Rumah di Pedalaman Aceh Timur, BPBD Imbau Warga Waspada

0
Banjir Rendam 280 Rumah di Pedalaman Aceh Timur. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk — Sebanyak 280 rumah di pedalaman Kabupaten Aceh Timur terendam banjir akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut, memicu meluapnya sungai. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur terus memantau situasi dan bersiaga untuk membantu masyarakat terdampak.

“Banjir tersebut terjadi karena meluapnya sungai dengan ketinggian air berkisar 10 hingga 80 centimeter,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Timur Ashadi dikutip dari ANTARA, Selasa (14/1/2025).

Berdasarkan data sementara yang dihimpun BPBD, rumah-rumah yang terendam banjir tersebar di tiga desa di Kecamatan Pante Bidari. Desa Blang Seunong menjadi wilayah terdampak terparah dengan 202 rumah tergenang. Sementara itu, 75 rumah di Desa Pante Labu dan tiga rumah di Desa Sijudo juga mengalami hal serupa.

“Sedangkan korban terdampak masih dalam pendataan. Tim sudah di lokasi bencana bersiaga apabila ada masyarakat yang terdampak banjir membutuhkan bantuan,” ujar Ashadi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai warga yang mengungsi. Masyarakat yang terdampak banjir masih memilih bertahan di rumah masing-masing. Namun, BPBD terus berkoordinasi dengan aparatur desa, kecamatan, serta Dinas Sosial Kabupaten Aceh Timur untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi lebih lanjut.

“Kami juga telah melaporkan ke Dinas Sosial Aceh Timur melalui Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial jika sewaktu-waktu ada warga yang mengungsi supaya bisa segera dibuka dapur umum,” tambah Ashadi.

Selain berkoordinasi dalam penyaluran bantuan logistik, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di sekitar aliran sungai. Potensi kenaikan debit air masih tinggi jika hujan terus berlanjut.

“Debit air diperkirakan akan terus meningkat kalau hujan masih mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Aceh Timur. Tetap waspada dan tingkatkan kesiapsiagaan terutama masyarakat yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai,” pungkas Ashadi.

Tim BPBD dan relawan terus memantau perkembangan situasi untuk memastikan keselamatan warga serta kebutuhan bantuan darurat di daerah yang terdampak paling parah.

Editor: Akil

Pj Gubernur Safrizal Instruksikan Pembenahan Showroom Dekranasda Aceh

0
Pj Gubernur Safrizal Instruksikan Pembenahan Showroom Dekranasda Aceh. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA, M.Si, menegaskan pentingnya pembenahan Showroom Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh agar mampu menampilkan identitas budaya Aceh yang kuat. Pernyataan tersebut disampaikan Safrizal saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke showroom yang terletak di Komplek Taman Sulthanah Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Selasa (14/1/2025).

Didampingi oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh Dr. T. Aznal Zahri, S.STP, M.Si, Plh. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh Ir. Diaz Furqan, ST, MT, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh Akkar Arafat, S.STP, M.Si, Pj Gubernur menyoroti tampilan showroom yang dinilai kurang menarik bagi pengunjung.

“Benahi tata seindah mungkin, showroom Dekranasda Aceh harus menjadi kebanggaan, baik bagi para perajin yang kreasinya dipajang di sini, maupun bagi masyarakat Aceh secara luas. Showroom Dekranasda Aceh harus menjadi salah satu showroom Dekranasda terbaik di Indonesia,” tegas Safrizal.

Ia menilai desain interior yang ada saat ini tidak cukup memikat perhatian pengunjung, sehingga perlu penataan ulang yang lebih estetis dan berdaya tarik.

“Desainnya tidak bagus, orang tidak akan tertarik datang ke sini,” kritiknya.

Untuk memperluas ragam produk kerajinan yang dipamerkan, Safrizal mendorong kolaborasi antara pengelola Showroom Dekranasda Aceh dengan Aceh Youth Hub Center atau Gedung Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH).

“Jalin hubungan dengan Amanah, agar sebagian di sana bisa dipajang juga di Showroom Dekranasda Aceh, demikian pula sebaliknya,” tambahnya.

Safrizal juga menegaskan bahwa inisiatif pembenahan ini bukanlah demi kepentingan pribadinya, tetapi untuk mendukung kemajuan para perajin Aceh.

“Ke depan, saya akan selesai bertugas di sini. Pembenahannya bukan untuk saya, bukan untuk kebanggaan saya, tetapi untuk masyarakat Aceh, khususnya masyarakat perajin,” ujarnya.

Inspeksi tersebut memperlihatkan komitmen Safrizal dalam meningkatkan kualitas promosi produk lokal yang dihasilkan oleh para perajin Aceh, sekaligus memperkokoh posisi Showroom Dekranasda sebagai etalase unggulan kerajinan daerah. Langkah ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi pengembangan industri kreatif lokal dan memperluas pasar bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Aceh.

Editor: Akil

Jokowi Pulihkan Nama Baik Sukarno, Kok Megawati Berterima Kasih ke Prabowo?

0
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengaku lebih memilih berdiam diri belakangan ini. (Foto: YouTube PDIP)

NUKILAN.id | Opini – Pidato Megawati Soekarnoputri dalam peringatan ulang tahun ke-52 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengundang reaksi beragam dari publik. Sebagian warganet menganggap ucapan terima kasihnya sebagai hal wajar, tetapi tidak sedikit pula yang mencermati kesalahan besar dalam pernyataan tersebut.

Dalam pidatonya yang penuh emosi, Megawati, dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas pencabutan Tap MPRS Nomor 33 Tahun 1967. Ia menekankan bahwa pemulihan nama baik Bung Karno setelah bertahun-tahun ternodai oleh tuduhan tak terbukti adalah momen yang amat bermakna baginya.

Namun, di sinilah letak kejanggalannya. Pencabutan Tap MPRS tersebut bukanlah capaian di bawah kepemimpinan Prabowo, melainkan dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Fakta bahwa Megawati menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak yang keliru menimbulkan tanda tanya besar: apakah ini murni kekeliruan atau disengaja sebagai bagian dari narasi politik?

Kegagalan Mengakui Peran Jokowi

Keputusan untuk mencabut Tap MPRS yang mendiskreditkan Sukarno adalah bagian dari upaya pemerintahan Jokowi dalam merekonsiliasi sejarah nasional dan mengoreksi ketidakadilan politik masa lalu. Sebagai pemimpin partai yang mengusung Jokowi sejak awal karier politiknya di tingkat nasional, seharusnya Megawati lebih memahami peran penting presiden ke-7 Republik Indonesia dalam pencabutan regulasi tersebut.

Sayangnya, yang terjadi adalah sebaliknya. Dalam pidato yang seharusnya bisa menjadi momen persatuan, fakta sejarah dipelintir. Apakah mungkin Megawati tidak tahu? Bisa jadi ia hanya membaca pidato yang disiapkan, tetapi dalam politik, kelalaian semacam itu sulit dianggap sebagai kebetulan. Sikap mengabaikan kontribusi Jokowi yang jelas dan menggantinya dengan apresiasi kepada Prabowo adalah contoh nyata dari “cherry picking”—memilih fakta yang disukai dan menutup mata terhadap kebenaran lainnya.

Ketegangan di Balik Panggung Politik

Hubungan antara Jokowi dan Megawati memang telah lama menunjukkan retak-retak yang semakin nyata, terutama setelah Pilpres 2024. Keputusan Jokowi mendukung putranya, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo, memicu rasa kecewa di kalangan PDIP. Banyak yang berpendapat bahwa Megawati merasa dikhianati, mengingat dukungan partai terhadap Jokowi sejak masa pencalonan Wali Kota Solo.

Namun, politik bukanlah urusan personal. Hubungan politik dibangun di atas kepentingan strategis, bukan balas budi. Mengedepankan kekecewaan pribadi di atas kepentingan negara hanya akan memperburuk suasana politik yang sudah penuh konflik.

Fokus pada Isu yang Lebih Besar

Daripada terjebak dalam drama politik yang tidak produktif, lebih baik perhatian dialihkan pada tantangan besar yang dihadapi bangsa. Ketahanan ekonomi, perubahan iklim, dan penguatan infrastruktur adalah isu-isu krusial yang membutuhkan perhatian penuh dari seluruh elemen politik.

Megawati adalah tokoh senior yang dihormati dalam sejarah politik Indonesia. Sebagai negarawan, ia seharusnya memimpin dengan memberikan contoh keteladanan, bukan memelihara konflik yang memperburuk polarisasi masyarakat. Masyarakat saat ini semakin cerdas dan mampu menilai mana politisi yang bekerja untuk rakyat dan mana yang hanya sibuk menciptakan drama.

Menuju Politik yang Dewasa

Mengabaikan peran Jokowi dalam pencabutan Tap MPRS hanya menegaskan ketidakdewasaan politik. Terus menerus mencari kambing hitam dan memainkan politik simbolik tanpa dasar fakta dapat merusak kredibilitas politik itu sendiri.

Di tengah ketidakpastian global dan tantangan dalam negeri, stabilitas politik adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan bangsa. Mengorbankan kepentingan negara demi dendam politik pribadi atau partai adalah langkah mundur yang tidak seharusnya terjadi. Kepemimpinan yang mampu menjembatani perbedaan adalah kunci, dan dalam hal ini, kita semua berharap lebih banyak kebijaksanaan dari para tokoh senior.

Bangsa ini membutuhkan politik yang berfokus pada solusi, bukan drama. Sudah saatnya elit politik memikirkan masa depan dengan semangat persatuan, demi Indonesia yang lebih baik. (XRQ)

Penulis: Akil

KIP Banda Aceh Tetapkan Pasangan Illiza-Afdhal Sebagai Wali Kota Terpilih, Ini Harapan Warga

0
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal-Afdhal Khalilullah. (Foto: MC ILLIZA-AFDHAL)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Banda Aceh menetapkan pasangan Illiza Sa’aduddin Djamal-Afdhal Khalilullah sebagai wali kota dan wakil wali kota terpilih untuk periode 2025-2030. Penetapan ini diumumkan dalam rapat pleno yang digelar di Hotel Hermes Palace pada Kamis, (9/1/2025) lalu, yang dipimpin oleh Ketua KIP Yusri Razali. Keputusan ini diambil setelah pasangan nomor urut 01 meraih 44.982 suara atau 41,24 persen dari suara sah, unggul dari tiga pasangan lainnya.

Dalam rapat pleno tersebut, Yusri Razali membacakan surat keputusan KIP yang menetapkan Illiza-Afdhal sebagai pasangan terpilih. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal penetapan. Kehadiran pasangan terpilih, partai pengusung, serta Forkopimda Banda Aceh turut mewarnai jalannya acara.

“Menetapkan pasangan wali kota nomor urut 01 saudara Illiza Sa’aduddin Djamal-Afdhal Khalilullah dengan perolehan suara 44.982 suara atau 41,24 persen dari suara sah sebagai pasangan wali kota dan wakil wali kota terpilih periode 2025-2030,” kata Yusri dalam rapat pleno.

Kemenangan Illiza Sa’aduddin Djamal kembali merebut kursi wali kota Banda Aceh setelah sebelumnya menjabat pada periode 2012-2017, memunculkan beragam respons di kalangan warga kota.

Pada Selasa (14/1/2025), Nukilan.id mewawancarai beberapa warga untuk mengetahui harapan mereka. Sebagian dari mereka menyambut dengan antusias kembalinya sosok Illiza, yang dinilai tegas dalam menjalankan kebijakan, terutama dalam penerapan syariat Islam.

“Saya sangat senang Bunda (Illiza) kembali terpilih. Beliau punya ketegasan dalam menjalankan aturan, terutama soal syariat Islam yang sangat penting bagi kami di Banda Aceh. Semoga dengan kepemimpinan beliau, kota ini semakin maju,” ujar Rizki, salah satu warga Kecamatan Kuta Alam.

Rizki juga mengungkapkan rasa rindu terhadap kepemimpinan Illiza yang dianggap membawa perubahan positif selama masa jabatannya.

“Saya merasa kangen dengan gaya kepemimpinan beliau. Beliau sangat perhatian terhadap masalah-masalah sosial, dan semoga bisa lebih baik lagi ke depannya,” kata Rizki.

Tidak hanya itu, beberapa warga berharap agar Illiza segera dilantik dan memulai tugasnya secepat mungkin.

“Kami ingin beliau segera dilantik dan mulai bekerja untuk memperbaiki kondisi kota. Banyak hal yang harus diperbaiki, terutama dalam sektor pembangunan dan pelayanan publik,” harap Suryani, warga lainnya.

Namun, ada pula sebagian warga yang menginginkan Illiza untuk membuktikan bahwa kepemimpinannya bisa membawa perubahan signifikan bagi kota Banda Aceh.

“Tentu kami berharap Illiza bisa membawa kemajuan, bukan hanya meneruskan kebijakan yang sudah ada. Harus ada gebrakan baru untuk memajukan kota ini,” kata Fahmi, seorang pengusaha muda.

Dengan kemenangan ini, harapan untuk kota Banda Aceh berada di tangan Illiza-Afdhal. Pasangan terpilih ini diharapkan dapat membawa kota yang dikenal dengan keindahan alam dan warisan budaya tersebut menuju perkembangan yang lebih baik, baik dalam bidang infrastruktur, ekonomi, maupun kualitas pelayanan publik yang lebih optimal.

Warga Banda Aceh pun semakin berharap agar Illiza, dengan segala pengalaman dan prestasinya, mampu menjawab tantangan yang ada dan mewujudkan aspirasi masyarakat yang telah menantikan perubahan positif. (XRQ)

Reporter: Akil

Para Kepala Dinas Pendukung 01 Mulai Mendekati Tim Sukses Mualem-Dek Fadh

0
Nasruddin alias Nyak Dhien Gajah, salah satu relawan yang terlibat dalam perjuangan memenangkan pasangan Mualem-Dek Fadh pada Pilkada Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Nasruddin alias Nyak Dhien Gajah, salah satu relawan yang terlibat dalam perjuangan memenangkan pasangan Mualem-Dek Fadh pada Pilkada Aceh, menyampaikan kekhawatirannya terkait gerak-gerik sejumlah Kepala Dinas di lingkungan Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) yang sebelumnya diketahui mendukung pasangan calon nomor 01. Ia menilai, beberapa pejabat tersebut kini mulai merapat ke tim sukses Mualem-Dek Fadh serta mendekati keluarga dan kerabat Gubernur terpilih.

Dalam pernyataannya kepada media, Nyak Dhien mengungkapkan bahwa manuver politik ini terlihat semakin jelas setelah kemenangan pasangan Mualem-Dek Fadh diumumkan.

“Saya melihat gerak-gerik mereka dengan sangat jelas, seperti para kepala dinas yang dulu mendukung 01, sekarang sudah mulai dekat dengan tim sukses Mualem-Dek Fadh, bahkan ke keluarga dan kerabat Gubernur terpilih,” ujarnya.

Nyak Dhien menyampaikan kiasan pedas untuk menggambarkan situasi tersebut. Ia berkata, “Bek yang meu ue kubeu yang pajoh bu mie,” yang berarti “yang membajak tanah itu kerbau, tapi yang makan nasi adalah kucing.” Pernyataan ini menyindir perilaku pejabat yang oportunistis, mengubah dukungan untuk keuntungan pribadi meskipun sebelumnya mereka secara terang-terangan berpihak pada kubu lawan.

Lebih jauh, Nyak Dhien mengklaim memiliki informasi dari sumber terpercaya mengenai kepala dinas yang membantu urusan pribadi tim sukses Mualem-Dek Fadh, termasuk pengurusan perjalanan luar negeri.

“Saya mendapatkan informasi bahwa ada Kadis yang membantu mengurusi kepergian tim sukses 02 ke Malaysia, dari paspor hingga tiket pesawat. Saya memastikan para kadis melobi orang yang salah. Ini jelas sangat mencurigakan dan perlu mendapatkan perhatian serius,” tegasnya.

Ia memperingatkan bahwa praktik seperti ini, meski umum dalam dunia politik, tetap harus diwaspadai. Nyak Dhien menegaskan bahwa pasangan Mualem-Dek Fadh perlu bijak dan tegas dalam menentukan pejabat strategis. Menurutnya, mengedepankan integritas dan kompetensi jauh lebih penting daripada memilih berdasarkan kedekatan politik semata.

“Banyak birokrat yang bermental oportunis, lebih mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok, dengan memanfaatkan momentum politik demi posisi strategis,” ujarnya. Fenomena ini, lanjutnya, menunjukkan bagaimana kekuasaan birokrasi kerap dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek alih-alih membangun daerah.

Nyak Dhien menyarankan agar Mualem-Dek Fadh memprioritaskan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di atas kepentingan politik sempit. Ia juga menyerukan penolakan tegas terhadap politik transaksional yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

“Hanya dengan cara ini, stabilitas politik bisa terjaga, dan visi-misi yang dijanjikan kepada rakyat Aceh dapat terwujud dengan baik. Birokrasi harus berorientasi pada kepentingan publik, bukan permainan kekuasaan yang merusak pemerintahan yang adil dan transparan,” tandasnya.

Editor: Akil

Kankemenag Aceh Tamiang Serahkan SK Honorer 2025: Dorongan untuk Tingkatkan Kinerja dan Disiplin

0
Kakankemenag Aceh Tamiang Beserta Jajarannya Foto Bersama Para Penerima SK Secara Simbolis. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Kualasimpang — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Aceh Tamiang, H. Anwar Padli, S.Ag., secara simbolis menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pramubakti kepada tenaga honorer di lingkungan Kankemenag Aceh Tamiang. Penyerahan ini dilaksanakan di Aula Al-Ikhwan, sebagai langkah sementara sambil menunggu proses penerbitan SK Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Dalam arahannya, Anwar Padli menekankan pentingnya meningkatkan kinerja dan kedisiplinan di kalangan tenaga honorer. Ia mengingatkan agar status kepegawaian yang lebih baik di masa depan tidak menjadi alasan untuk menurunkan kualitas kerja.

“Saya meminta seluruh tenaga honorer untuk tetap bekerja dengan penuh dedikasi dan taat kepada pimpinan. Jangan sampai kinerja menurun ketika sudah menjadi PPPK nanti,” ujar Anwar dengan penuh harap.

Selain itu, Anwar juga memberikan pesan khusus kepada tenaga honorer yang telah dinyatakan lulus PPPK untuk bersikap profesional dan menerima penempatan di mana pun mereka bertugas. Menurutnya, fleksibilitas dan loyalitas adalah bagian penting dari tanggung jawab sebagai aparatur negara.

Sementara itu, Zainuddin, S.Ag., Kasubbag Tata Usaha Kankemenag Aceh Tamiang, dalam sambutannya menjelaskan bahwa tidak semua tenaga honorer telah berhasil lulus seleksi PPPK tahap pertama. Sebagian dari mereka belum dapat mendaftar karena kendala teknis.

“Kami mendoakan agar tenaga honorer yang belum lulus dapat berhasil pada tahap kedua nanti,” kata Zainuddin dengan penuh optimisme.

Penyerahan SK tersebut memberikan semangat baru bagi para tenaga honorer. Mereka berharap masa depan yang lebih baik, seiring dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan status dan kesejahteraan tenaga kerja di sektor pelayanan publik.

Acara ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat Kankemenag Aceh Tamiang, yang memberikan dukungan moril kepada seluruh penerima SK. Momen tersebut ditutup dengan foto bersama yang penuh kehangatan dan semangat kebersamaan.

Editor: Akil

Program CSR Bank Aceh Peduli Bawa Dampak Positif bagi Masyarakat dan Lingkungan

0
Program CSR Bank Aceh Peduli Bawa Dampak Positif bagi Masyarakat dan Lingkungan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Iklan — Sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan, Bank Aceh terus menunjukkan komitmennya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk “Bank Aceh Peduli.” Sepanjang tahun 2024, program ini telah memberikan dampak signifikan bagi masyarakat dan lingkungan di wilayah operasional Bank Aceh.

Salah satu inisiatif penting dalam program tersebut adalah aksi mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap lahan pertanian yang mengalami gagal panen. Di Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Bank Aceh menyerahkan sumur suntik kepada petani setempat sebagai solusi menghadapi krisis air yang mengancam hasil panen. Bantuan ini menjadi bukti nyata peran Bank Aceh dalam mendukung ketahanan pangan lokal.

Tak hanya itu, program Bank Aceh Peduli juga menyentuh sektor sosial dengan membangun rumah layak huni untuk kaum dhuafa di Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya. Di bidang pendidikan, kontribusi hadir dalam bentuk pembangunan dapur sehat di Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziyah, Jeunib, Bireuen. Sejumlah proyek lainnya mencakup pembangunan masjid, peremajaan taman, peningkatan kebersihan lingkungan, serta penyediaan paket sembako untuk masyarakat prasejahtera.

“Penyaluran dana CSR merupakan bentuk tanggung jawab sosial Bank Aceh kepada masyarakat Aceh. Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah kerja Bank Aceh,” ujar Fadhil Ilyas, Plt. Direktur Utama Bank Aceh, melalui Iskandar, Sekretaris Perusahaan Bank Aceh.

Selain program berbasis bantuan fisik, Bank Aceh juga memperluas fokus CSR-nya dengan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha. Berbagai pelatihan soft skill diberikan untuk mencetak pengusaha tangguh yang mampu mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan efek berkelanjutan bagi perekonomian daerah.

Bank Aceh meyakini bahwa keberlanjutan bisnis tidak hanya diukur dari capaian finansial semata, tetapi juga dari investasi nonfinansial yang diwujudkan melalui kontribusi terhadap pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan hidup. Komitmen ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas. Meskipun kewajiban ini lebih menonjol pada perusahaan yang bergerak di sektor sumber daya alam, Bank Aceh tetap menjalankan peran sosialnya demi menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Aceh.

Melalui program Bank Aceh Peduli, perusahaan membuktikan bahwa tanggung jawab sosial korporasi dapat menjadi pilar penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

Editor: Akil

Terkait Bioskop, Davi Abdullah Kritik Fadli Zon: Mundur dan Tidak Sesuai Perkembangan Zaman

0
Davi Abdullah, budayawan sekaligus pembuat film independen. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Pernyataan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, yang mendorong pembangunan kembali bioskop di Aceh menuai tanggapan tajam dari kalangan budayawan dan pegiat film. Dalam kunjungan kerjanya di Aceh, Fadli Zon menilai kehadiran bioskop dapat membuka peluang besar bagi insan kreatif lokal. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan kuliah umum di Aula Utama Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar.

Namun, Davi Abdullah, budayawan sekaligus pembuat film independen, menilai pandangan tersebut tidak relevan dengan dinamika budaya digital yang berkembang pesat.

“Bang Menteri Kebudayaan sepertinya tidak mengikuti perkembangan zaman. Kini kita hidup di era digital di mana orang lebih memilih menonton film melalui platform OTT (Over The Top) di rumah mereka, bukan lagi bergantung pada bioskop tradisional,” ungkap Davi dalam tanggapannya.

Menurut Davi, perubahan teknologi telah menciptakan pola konsumsi hiburan yang sangat berbeda dari masa lalu. Kehadiran layanan streaming seperti Netflix, Disney+, dan platform lokal lainnya memungkinkan penonton menikmati film kapan saja dan di mana saja.

“Orang-orang sudah berlomba-lomba menikmati hiburan melalui home cinema dan layanan streaming digital. Ini adalah perubahan besar mengonsumsi film dan hiburan secara umum dan mendunia,” ujar Davi Abdullah.

Davi juga mengingatkan bahwa mengukur kemajuan budaya di Aceh tidak semestinya hanya dilihat dari kehadiran bioskop.

“Tentang bioskop dan syariat Islam memang penting, tetapi kita tidak bisa menafikan kenyataan bahwa cara orang menonton film sekarang jauh lebih fleksibel. Banyak penonton kini memilih untuk menikmati film melalui platform digital,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa platform digital memberikan keuntungan besar bagi sineas, baik dalam hal distribusi karya maupun aksesibilitas bagi penonton di seluruh dunia. Menurutnya, paradigma konvensional bioskop mulai terpinggirkan oleh keunggulan teknologi baru.

“Dengan berkembangnya OTT, pembuat film dan penonton tidak lagi terkungkung oleh konsep bioskop konvensional. Platform digital memberikan peluang yang lebih luas untuk karya-karya film, tidak hanya dari segi distribusi, tetapi juga untuk memberikan akses yang lebih mudah kepada penonton di seluruh Indonesia, bahkan dunia,” jelas Davi.

Davi berharap kebijakan kebudayaan yang diambil pemerintah lebih visioner dan mampu mengakomodasi realitas digital. Ia mendorong Kementerian Kebudayaan untuk mempertimbangkan perubahan tren konsumsi film saat menyusun kebijakan pemajuan kebudayaan di Aceh dan Indonesia secara umum.

“Industri film harus bergerak seiring dengan perkembangan teknologi dan kebiasaan digital. Ini adalah kesempatan untuk mengembangkan industri film Indonesia agar semakin berkembang di kancah global,” tambahnya.

Lebih jauh, Davi menyatakan bahwa kebijakan budaya di Aceh semestinya tetap menjaga nilai-nilai tradisional, tetapi juga harus terbuka terhadap modernisasi. Kombinasi ini, menurutnya, akan memperkuat identitas budaya Aceh sekaligus memanfaatkan kebudayaan sebagai elemen pembangunan sosial dan ekonomi.

Editor: Akil

Sales Kopi di Banda Aceh Dibekuk Polisi, Terlibat Kasus Penganiayaan

0
Sales Kopi di Banda Aceh Dibekuk Polisi. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Seorang sales kopi sachet berinisial RA (27), warga Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, ditangkap aparat Polsek Kuta Alam bersama Tim Opsnal Satreskrim Polresta Banda Aceh. Penangkapan terjadi di sebuah kios di Gampong Surien, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, pada Senin (13/1/2025) sore. RA ditahan atas dugaan penganiayaan terhadap seorang pria berinisial RAH (30), warga Pidie Jaya yang berdomisili di Banda Aceh.

Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Fahmi Irwan Ramli melalui Kapolsek Kuta Alam AKP Suriya membenarkan penangkapan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kasus penganiayaan terjadi pada Sabtu (11/1/2025) malam di sebuah penginapan di wilayah Kuta Alam. Insiden itu dipicu oleh perselisihan mengenai tarif pembayaran dalam transaksi layanan yang dikenal dengan istilah “open BO”.

Transaksi Berujung Kekerasan

Menurut keterangan AKP Suriya, peristiwa bermula saat RA dan RAH berkomunikasi melalui aplikasi pesan singkat pada Sabtu malam. Dalam percakapan tersebut, keduanya sepakat untuk bertemu di penginapan guna melakukan hubungan intim. RA kemudian mendatangi lokasi dengan sepeda motor Honda Beat BL 4197 LBV.

“Setelah berhubungan intim, korban meminta bayaran sebesar Rp800 ribu kepada pelaku. Namun, RA marah karena merasa tarif tersebut tidak sesuai dengan kesepakatan dalam percakapan mereka. Pelaku lalu mencekik leher korban, membekap mulutnya, dan membenturkan kepala korban ke dinding kamar sebanyak dua kali hingga korban pingsan,” ujar AKP Suriya.

Korban baru sadar keesokan harinya, Minggu (12/1/2025), dan mendapati wajahnya bengkak serta lebam. Dalam kondisi tanpa busana, ia meminta bantuan dari penghuni kamar sebelah, yang kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kuta Alam. Korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Aceh untuk menjalani pemeriksaan medis.

Penangkapan Pelaku

Setelah mendapatkan keterangan dari korban, Polsek Kuta Alam membentuk tim investigasi yang didukung oleh Tim Opsnal Satreskrim Polresta Banda Aceh. Operasi penangkapan dipimpin oleh Kasubnit Jatanras Ipda M Effendy.

“RA kami tangkap di sebuah kios tempat dia menjual kopi sachet di Gampong Surien pada Senin sore. Pelaku kini ditahan di Polsek Kuta Alam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tutur AKP Suriya.

Saat ini, penyidik masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap RA. Kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan tindak kekerasan dalam konteks transaksi yang kerap memunculkan polemik sosial dan hukum.

Editor: Akil