Beranda blog Halaman 71

Disdik Aceh Keluarkan Edaran Pembelajaran Ramadhan 1447 H, Tekankan Penguatan Iman dan Karakter Siswa

0
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP. (Foto: Disdik Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dinas Pendidikan Aceh menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.3.8/2048 tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran selama bulan Ramadhan serta jadwal libur Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

Edaran yang ditandatangani oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, pada 10 Februari 2026 itu menjadi pedoman bagi seluruh SMA, SMK, dan SLB di Aceh dalam mengisi bulan suci dengan kegiatan yang bersifat edukatif dan religius.

Berdasarkan surat edaran tersebut, tanggal 16, 18, 19, 20, dan 21 Februari 2026 ditetapkan sebagai libur awal Ramadhan. Pada periode tersebut, peserta didik diminta melaksanakan pembelajaran mandiri di lingkungan keluarga, tempat ibadah, maupun masyarakat sesuai dengan tugas yang diberikan sekolah.

Sekolah juga diminta memberikan penugasan berupa penulisan esai bertema “Resolusi Ramadhanku”. Esai tersebut nantinya dipresentasikan sebelum atau setelah pelaksanaan shalat Dzuhur berjamaah.

Selanjutnya, pada 23 Februari hingga 14 Maret 2026, kegiatan pembelajaran kembali dilaksanakan di sekolah dengan penekanan pada penguatan nilai keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, kepemimpinan, serta kepedulian sosial.

Peserta didik yang beragama Islam dianjurkan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an, pesantren kilat, dan kajian keislaman yang terintegrasi dengan mata pelajaran. Sementara itu, bagi siswa kelas XII, kegiatan difokuskan pada bimbingan persiapan menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Selain kegiatan pembelajaran, sekolah juga diarahkan menjalankan program Ramadhan Seumeugleh, yakni kegiatan gotong royong membersihkan meunasah dan masjid di sekitar sekolah yang dikoordinasikan oleh Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Pembiasaan nilai karakter juga dilakukan melalui program “Tujoh Peubiasa Aneuk Aceh Meutuah Ngon Meuadab”. Pelaksanaannya dipantau melalui jurnal Ramadhan yang menjadi bagian dari penilaian pembentukan karakter siswa.

Adapun libur bersama Idul Fitri ditetapkan mulai 16 hingga 24 Maret 2026. Kegiatan belajar mengajar dijadwalkan kembali berlangsung pada 25 Maret 2026.

Selama bulan Ramadhan, jam belajar di sekolah dimulai pukul 08.00 WIB hingga waktu Dzuhur. Khusus pada hari Jumat, kegiatan belajar berakhir lebih awal, yakni pukul 11.00 WIB.

Murthalamuddin menegaskan bahwa edaran tersebut tidak hanya mengatur teknis kegiatan belajar selama Ramadhan, tetapi juga bertujuan memperkuat pembentukan karakter peserta didik yang religius dan berakhlak.

Ia juga mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar terus mendukung terwujudnya Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di lingkungan pendidikan Aceh.

Pj Ketua Umum IMPAKS Kecam Dugaan Pengambilalihan Sepihak Mubes HAMAS

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Penjabat Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pelajar Kecamatan Kluet Selatan (IMPAKS), Mufitra Rija, mengecam keras dugaan pembajakan pelaksanaan Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (HAMAS) yang disebut tetap dilanjutkan tanpa melibatkan Ketua Panitia resmi serta tanpa kehadiran sejumlah paguyuban kecamatan.

Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Pj Ketua Umum IMPAKS menilai jalannya forum tersebut bermasalah secara prosedural dan dinilai mencederai prinsip demokrasi organisasi.

Ia menyampaikan bahwa musyawarah yang sebelumnya dipending karena pertimbangan teknis dan kesiapan persidangan justru dilanjutkan secara sepihak oleh sekelompok pihak yang mengatasnamakan forum.

“Musyawarah Besar adalah forum tertinggi organisasi. Setiap keputusan yang lahir dari forum tersebut harus melalui mekanisme yang sah, terbuka, dan melibatkan seluruh unsur yang memiliki hak suara. Jika Ketua Panitia tidak dilibatkan dan sebagian paguyuban kecamatan tidak menerima undangan resmi, maka legitimasi forum patut dipertanyakan,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan munculnya klaim kemenangan secara mendadak dari pihak tertentu, sementara proses musyawarah dinilai belum berjalan sesuai asas partisipatif dan konstitusional. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik serta merusak soliditas mahasiswa Aceh Selatan.

Pj Ketua Umum IMPAKS turut meminta seluruh pihak untuk menahan diri dan tidak memaksakan kehendak di luar aturan organisasi. Ia menegaskan pentingnya menjaga marwah organisasi mahasiswa sebagai ruang kaderisasi dan perjuangan intelektual, bukan sekadar ajang perebutan legitimasi.

“Kami tidak menolak regenerasi kepemimpinan. Namun kami menolak cara-cara yang mengabaikan konstitusi organisasi. Jika proses ini tetap dipaksakan, maka kami akan mengambil langkah-langkah organisatoris sesuai mekanisme yang berlaku,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen mahasiswa Aceh Selatan untuk kembali mengedepankan semangat musyawarah yang jujur dan inklusif demi menjaga persatuan serta kredibilitas organisasi di mata publik.

UIN Ar-Raniry Salurkan 1.600 Paket Meugang Bantuan UEA untuk Warga Jelang Ramadan 1447 H

0
Rektor UIN Ar-Raniry Prof Mujiburrahman, bersama perwakilan UEA, Mohamed Bin Zayed University for Humanities Mohamed Alnaqbi saat menyerahkan bantuan secara simbolis di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Banda Aceh, Selasa (17/2/2026). (ANTARA/HO/Humas UIN Ar-Raniry)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menyambut Ramadan 1447 Hijriah, UIN Ar-Raniry Banda Aceh menyalurkan 1.600 paket daging meugang dan 400 paket sembako bagi masyarakat kurang mampu di sekitar kampus. Bantuan tersebut merupakan dukungan Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) sebagai bentuk solidaritas sosial lintas negara.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Banda Aceh, Selasa (17/2/2026), dihadiri Rektor UIN Ar-Raniry Prof Mujiburrahman bersama perwakilan Mohamed Bin Zayed University for Humanities, Mohamed Alnaqbi.

Rektor UIN Ar-Raniry menyampaikan apresiasi atas dukungan yang terus diberikan Pemerintah UEA dalam program Ramadan tersebut.

“Ini merupakan tahun ketiga kami menerima bantuan Ramadhan dari Pemerintah UEA. Kami sangat bersyukur atas kepedulian dan dukungan yang diberikan,” kata Prof Mujiburrahman di Banda Aceh, Selasa (17/2/2026), dikutip dari ANTARA.

Bantuan berasal dari hadiah Pemerintah UEA melalui Zayed for Good Foundation serta kerja sama dengan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya bernilai materi, tetapi juga mencerminkan persaudaraan umat Islam lintas negara.

“Bantuan ini tidak hanya bernilai materi, tetapi juga mencerminkan kebersamaan dan solidaritas sesama Muslim. Semoga membawa keberkahan bagi kita semua,” ujarnya.

Sebanyak 1.600 paket meugang berasal dari pemotongan 18 ekor sapi. Selain itu, kampus juga menyalurkan 400 paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.

UIN Ar-Raniry turut menyiapkan 2.000 paket iftar setiap hari selama Ramadan di lingkungan kampus. Sebanyak 1.000 paket juga disalurkan di Masjid Raya Baiturrahman dan 500 paket untuk Dayah Mahyal Ulum Sibreh selama tiga hari Ramadan.

Koordinator Pusat Kerohanian dan Moderasi Beragama UIN Ar-Raniry, Dr Muqni Affan, mengatakan bantuan didistribusikan kepada anak yatim dan fakir miskin di lima gampong sekitar kampus, yakni Rukoh, Blang Krueng, Tanjung Selamat, Barabung, dan Limpok. Bantuan juga menyasar tenaga kebersihan, petugas keamanan, sopir, pengurus masjid, mahasiswa, serta tenaga pendidik dan kependidikan.

Selain pembagian bantuan, kampus juga menggelar program iftar jama’i (berbuka bersama) yang dipusatkan di auditorium selama satu bulan penuh.

“Kegiatan serupa juga berlangsung selama tiga hari di Masjid Raya Baiturrahman dan tiga hari di Dayah Mahyal Ulum Sibreh,” demikian Dr Muqni Affan.

Program tersebut memperkuat tradisi meugang yang telah mengakar di Aceh sekaligus menghadirkan semangat kebersamaan global dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Kisah Perantau di Banda Aceh: Menemukan ‘Rumah’ di Serambi Mekah

0
Kota Banda Aceh. (Foto: Aceh Tourism)

NUKILAN.ID | FEATURE – Senja perlahan turun di langit Banda Aceh. Cahaya jingga menyapu ufuk barat, membalut ruas-ruas jalan di kawasan Kopelma Darussalam dengan suasana hangat. Aktivitas mahasiswa yang berburu takjil berpadu dengan deru kendaraan yang terus melintas.

Di dapur kecil sebuah kamar kos, Maula (22), mahasiswa semester lima asal Payakumbuh, tampak sibuk menyiapkan menu berbuka puasa. Pantauan Nukilan.id, ia dengan cekatan memasak Panik Cubadak, hidangan khas dari kampung halamannya yang kerap menjadi pelepas rindu bagi dirinya sebagai perantau.

“Awalnya berat, rindu rumah itu pasti. Tapi lama-lama saya merasa di sini lebih mandiri dan nyaman,” ujar Maula sembari mengaduk wajan kecilnya. Aroma bumbu yang harum memenuhi ruangan, menghadirkan kenangan tentang rumah dan keluarga yang kini berjauhan.

Merantau bagi mahasiswa bukan hanya soal berpindah tempat tinggal. Lebih jauh, pengalaman ini menjadi proses pencarian jati diri, menantang batas kenyamanan, sekaligus belajar bertahan dalam lingkungan baru. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya memandang tanah rantau sebagai rumah kedua—tempat mereka tumbuh dan menemukan peluang baru.

Pengalaman serupa dirasakan Mansur (21), mahasiswa asal Aceh Selatan yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

“Di sini saya bisa mengeksplorasi diri tanpa banyak batasan. Meski jauh dari keluarga, saya belajar bertanggung jawab pada diri sendiri. Rasanya seperti menemukan rumah baru,” katanya. Kini, ia aktif di komunitas seni musik kampus yang menjadi ruang ekspresi sekaligus cara mengusir rasa sepi.

Menemukan Kenyamanan di Lingkungan Baru

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi mahasiswa perantau sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial. Studi dalam jurnal The Role of Social Support in College Adjustment: A Longitudinal Study (2018) menyebutkan bahwa mahasiswa yang memiliki jaringan pertemanan dan komunitas yang solid cenderung lebih cepat beradaptasi dan merasakan kenyamanan di lingkungan barunya.

Hal tersebut juga dialami Maula. Pada awal kedatangannya di Banda Aceh, ia sempat merasa canggung menghadapi kebiasaan yang berbeda. Namun, seiring waktu, ia mulai menemukan ritme kehidupan yang sesuai.

“Saya banyak belajar dari teman-teman di sini. Bahkan, saya merasa lebih nyaman karena ada teman-teman senasib yang saling mendukung,” ujarnya dengan senyum hangat.

Selain relasi sosial, kemudahan fasilitas kota turut membantu proses penyesuaian diri mahasiswa perantau. Akses transportasi, pusat layanan publik, hingga sarana pendidikan yang memadai memberikan kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

“Di sini saya bisa naik Trans Koetaradja ke kampus atau pergi ke perpustakaan wilayah dengan mudah. Semua lebih dekat dan praktis,” kata Mansur, yang kerap memanfaatkan waktu akhir pekan untuk berkeliling kota.

Antara Rasa Rindu dan Kemandirian

Meski mulai merasa betah, kehidupan di perantauan tetap menyimpan tantangan tersendiri. Rasa sepi dan kerinduan terhadap keluarga masih sering muncul di tengah kesibukan akademik. Mansur mengaku harus pandai mengatur pengeluaran, terutama untuk kebutuhan makan dan transportasi.

“Kadang kalau lagi sulit, saya cari kerja sampingan,” ujarnya. Saat ini, ia menjadi relawan di sebuah lembaga filantropi untuk menambah penghasilan sekaligus memenuhi kebutuhan harian.

Berbeda dengan Mansur, Maula memilih aktif dalam organisasi pecinta alam kampus. Kegiatan kebersamaan seperti makan bersama atau diskusi rutin menjadi cara untuk mengobati kerinduan terhadap kampung halaman.

“Kami sering mengadakan acara makan bersama atau diskusi. Rasanya seperti pulang kampung,” katanya.

Bagi para perantau, komunitas tidak hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga menghadirkan rasa kekeluargaan di tanah orang.

Bagi Mansur, keterlibatannya dalam komunitas musik juga membuka peluang memperluas relasi sosial.

“Saya belajar banyak hal baru di sini, dan itu membuat saya merasa lebih diterima di tempat baru,” tuturnya.

Pada akhirnya, kehidupan merantau menghadirkan pelajaran berharga tentang kemandirian dan penerimaan. Dukungan lingkungan, keberadaan komunitas, serta kemudahan fasilitas membuat banyak mahasiswa mampu beradaptasi dan merasa nyaman jauh dari kampung halaman.

Seperti yang dikatakan Maula, “Merantau mengajarkan saya arti sebenarnya dari rumah. Bukan hanya tempat, tapi bagaimana kita merasa diterima dan nyaman di mana pun kita berada.” (XRQ)

Reporter: Akil

Bunda PAUD Aceh Besar Bersama Yayasan ASA Ajak 76 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran

0
Bunda PAUD Kabupaten Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, berkolaborasi dengan Yayasan Amal dan Solidaritas Asia (ASA) membelanjakan pakaian lebaran untuk 76 anak yatim asal Aceh Besar di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Banda Aceh, Selasa (17/2/2026). (Foto: MC Abes)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bunda PAUD Kabupaten Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, berkolaborasi dengan Yayasan Amal dan Solidaritas Asia (ASA) membelanjakan pakaian lebaran untuk 76 anak yatim asal Aceh Besar di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Banda Aceh, Selasa (17/2/2026).

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial dalam menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Puluhan anak yatim yang mengikuti kegiatan ini berasal dari berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten Aceh Besar.

Dalam kesempatan itu, Bunda PAUD Aceh Besar Hj Rita Mayasari mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim agar dapat merasakan suasana lebaran dengan penuh suka cita.

“Alhamdulillah, hari ini kita bersama Yayasan ASIA bisa berbagi kebahagiaan dengan 76 anak yatim dari berbagai kecamatan di Aceh Besar. Kita ingin mereka juga merasakan kegembiraan menyambut Idulfitri dengan memakai baju baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, perhatian terhadap anak yatim merupakan tanggung jawab bersama sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak perlu terus diperkuat. Menurutnya, kegiatan sosial semacam ini bukan sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri anak-anak.

“Kegiatan seperti ini bukan hanya soal memberikan pakaian, tetapi juga membangun semangat, rasa percaya diri, dan memastikan mereka merasa diperhatikan serta dicintai,” ungkapnya.

Rita Mayasari juga menjelaskan bahwa pemberian baju baru menjelang Ramadhan diharapkan dapat meningkatkan semangat anak-anak yatim dalam menjalankan ibadah puasa sekaligus menyambut hari kemenangan.

“Kita berharap kegiatan ini bisa menjadi penyemangat bagi mereka dalam menjalani ibadah puasa, serta menumbuhkan kebahagiaan saat menyambut lebaran bersama keluarga dan orang-orang terdekat,” imbuhnya.

Sementara itu, Pembina Yayasan ASA, Wildanun, menyampaikan komitmen pihaknya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menghadirkan program sosial yang langsung menyentuh masyarakat, khususnya anak yatim dan keluarga kurang mampu.

“Semoga apa yang kita lakukan hari ini membawa manfaat dan kebahagiaan bagi anak-anak, serta menjadi ladang amal bagi semua pihak yang terlibat,” katanya.

Di sisi lain, salah seorang anak yatim, Izzatunnisa Alifa, mengaku senang karena dapat memilih sendiri pakaian lebaran yang diinginkannya.

“Saya senang sekali bisa beli baju baru untuk lebaran. Terima kasih kepada Bunda PAUD dan Yayasan ASA yang sudah mengajak kami berbelanja,” tuturnya dengan wajah sumringah.

Serap Aspirasi Dua Kecamatan, Arif Fadillah Fokus Penguatan Ekonomi Kelompok Warga

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Arif Fadillah, menyampaikan bahwa bantuan usaha bagi kelompok masyarakat telah disetujui pemerintah dan akan direalisasikan pada 2026.

Hal itu disampaikan Arif saat kegiatan reses bersama warga dari dua kecamatan di Aula Kantor DPD Partai Demokrat Aceh, Jalan Luengbata, Banda Aceh, Selasa (17/2/2026)

Dalam dialog dengan warga, Arif menjelaskan bahwa bantuan yang diusulkan bersifat kelompok, bukan perorangan. Menurutnya, sedikitnya tujuh kelompok usaha masyarakat telah diajukan dengan bidang yang berbeda, seperti kuliner, laundry, catering, dan usaha perdagangan kecil.

Ia menegaskan, bantuan yang diberikan berupa peralatan usaha untuk menunjang kegiatan kelompok. Sebagai contoh, kelompok laundry akan menerima mesin cuci sesuai kebutuhan anggota, sementara kelompok usaha lain akan memperoleh peralatan pendukung sesuai jenis usaha masing-masing.

Arif mengatakan program tersebut bertujuan memperkuat ekonomi masyarakat, khususnya kelompok yang telah aktif berusaha. Ia juga mengingatkan warga agar memperoleh informasi program langsung dari sumber resmi untuk menghindari kesalahpahaman.

Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung pentingnya peran politik sebagai sarana memperjuangkan aspirasi masyarakat. Menurutnya, dukungan yang diperoleh pada pemilu sebelumnya menjadi amanah untuk memperjuangkan program pembangunan, baik infrastruktur maupun penguatan ekonomi warga.

Kegiatan reses berlangsung dalam suasana dialogis, di mana warga juga menyampaikan pertanyaan terkait mekanisme pengajuan proposal kelompok dan penyaluran bantuan. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama serta penyerahan bantuan kebutuhan pokok kepada peserta yang hadir.[]

Harga Daging Meugang di Aceh Selatan Capai Rp200 Ribu per Kilogram, Minat Warga Tetap Tinggi

0
Penjual Daging Meugang di Aceh Selatan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Harga daging sapi dan kerbau pada hari pertama tradisi meugang menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah di Kabupaten Aceh Selatan mengalami kenaikan signifikan. Di kawasan Tapaktuan dan Samadua, harga daging dilaporkan menembus Rp200 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan harga pada hari biasa.

Lonjakan harga terlihat di berbagai titik penjualan daging musiman yang mulai dipadati pembeli sejak pagi hari. Para pedagang memanfaatkan momentum meugang, tradisi khas masyarakat Aceh yang identik dengan memasak serta menyantap hidangan daging bersama keluarga menjelang Ramadhan.

“Hari ini harga daging baik kerbau maupun sapi kita jual Rp200 ribu per kilogram,” kata Vira, yang sedang membantu menjual dagangan daging meugang milik ayahnya, Selasa (17/2/2026).

Meski harga mengalami kenaikan, minat masyarakat untuk membeli daging tetap tinggi. Tradisi meugang yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat membuat daging tetap menjadi kebutuhan utama menjelang bulan puasa.

“Meski harga tinggi, antusiasme masyarakat tetap besar. Lokasi penjualan terlihat ramai oleh warga yang ingin membawa pulang daging untuk keluarga,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari sejumlah sumber, kenaikan harga dari kisaran Rp150 ribu per kilogram pada hari biasa dipicu meningkatnya permintaan menjelang Ramadhan, sementara ketersediaan ternak di daerah relatif terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan harga daging melonjak dalam waktu singkat.

Bagi masyarakat Aceh, meugang tidak sekadar tradisi konsumsi, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dalam menyambut Ramadhan sekaligus mempererat hubungan keluarga melalui kegiatan makan bersama.

Pantauan Nukilan.id di lapangan menunjukkan aktivitas penjualan daging berlangsung padat di sepanjang jalan nasional lintas Blangpidie–Tapaktuan. Sejumlah pedagang musiman tampak memotong ternak langsung di lokasi sebelum menjualnya kepada pembeli yang terus berdatangan hingga siang hari. (XRQ)

Reporter: Akil

Bantuan Pangan untuk Aceh Cair Jelang Ramadhan, Dirut PEMA Apresiasi Presiden dan Gubernur Aceh

0
Bantuan Pangan untuk Aceh Cair Jelang Ramadhan, Dirut PEMA Apresiasi Presiden dan Gubernur Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH PT Pembangunan Aceh (PEMA) menyampaikan apresiasi atas penyaluran bantuan tunai dari pemerintah pusat guna mendukung pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Aceh pascabencana, terutama menjelang Ramadhan 1447 Hijriah.

Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur, menilai bantuan tersebut menjadi bukti bahwa aspirasi masyarakat Aceh mendapat perhatian langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Sebelumnya, PT PEMA menerima penugasan dari Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, untuk melakukan koordinasi dengan sejumlah kementerian terkait, yakni Kementerian Pangan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Pertanian. Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari Sekretaris Kabinet dalam menyampaikan kondisi serta kebutuhan masyarakat Aceh kepada pemerintah pusat.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang memimpin langsung upaya negosiasi dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat sehingga bantuan sandang dan pangan ini dapat segera terealisasi,” ujar Mawardi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas kepedulian dan kebijakan yang dinilai mampu mempercepat pemulihan kebutuhan dasar masyarakat Aceh.

Dana bantuan tersebut telah disalurkan langsung ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) masing-masing kabupaten terdampak. Skema ini diharapkan membuat proses penyaluran berjalan lebih cepat, transparan, dan tepat sasaran.

PT PEMA berharap bantuan tersebut dapat memperkuat proses pemulihan pascabencana sekaligus menumbuhkan optimisme masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Ketum Muhammadiyah Imbau Umat Sikapi Perbedaan Awal Ramadhan Secara Bijak

0
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto:

NUKILAN.ID | JAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadhan dengan sikap cerdas dan tasamuh atau saling menghargai. Ia menilai perbedaan awal puasa merupakan hal yang lazim terjadi dan akan terus muncul selama umat Islam belum memiliki kalender hijriah tunggal.

Dalam keterangannya melalui laman resmi PP Muhammadiyah, Selasa (17/2/2026), Haedar menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan ruang ijtihad sehingga tidak perlu menjadi sumber perpecahan.

“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar.

Ia menekankan bahwa umat Islam seharusnya lebih memfokuskan diri pada tujuan utama puasa, yakni meningkatkan ketakwaan secara pribadi maupun kolektif.

“Jadi fokuskan pada hal substantif bagaimana puasa bagi setiap muslim benar-benar menggapai ketaqwaan dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan hidup serba utama,” ujarnya.

Menurut Haedar, peningkatan ketakwaan diharapkan turut memperbaiki hubungan sosial dan menghadirkan kebaikan bagi masyarakat serta lingkungan. Ia juga mengingatkan agar perbedaan awal Ramadhan tidak mengganggu tujuan utama ibadah.

“Maka berbagai urusan apapun itu jangan sampai mengganggu tujuan utama mencapai takwa. Oleh karenanya, dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam akan meraih ketakwaan dan meningkat derajat kemuliaannya,” tuturnya.

Ia berharap Ramadhan 1447 Hijriah dijalani dengan suasana tenang, damai, dan dewasa tanpa dipengaruhi perbedaan penetapan awal puasa.

“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menyebar segala kebaikan yang makin luas,” ucap dia.

Penetapan Awal Ramadhan

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab yang dikaji Majelis Tarjih dan Tajdid serta penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang menerapkan prinsip satu hari satu tanggal secara global tanpa bergantung pada lokasi geografis.

Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia akan menentukan awal Ramadhan melalui sidang isbat yang digelar Selasa (17/2/2026). Forum tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk DPR, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, bersama sejumlah lembaga riset dan perwakilan ormas Islam.

Sidang tersebut menjadi forum resmi pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan berdasarkan metode rukyat dan hisab yang dipadukan dengan hasil pengamatan hilal di berbagai titik pemantauan.

Pemerintah Tetapkan Awal Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026

0
Pemerintah Tetapkan Awal Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026. (Foto: Kemenag RI)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil melalui Sidang Isbat (penetapan) awal Ramadan yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

“Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Menag dalam konferensi pers usai Sidang Isbat.

Penetapan ini didasarkan pada hasil metode hisab dan rukyat yang dilakukan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama bersama berbagai organisasi kemasyarakatan Islam. Proses pengamatan hilal juga dilakukan oleh petugas di sedikitnya 96 titik pemantauan yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Musyawarah mengacu pada hasil hisab dan rukyat yang dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama dan ormas-ormas Islam, serta dikonfirmasi oleh petugas pengamat di sedikitnya 96 titik pengamatan di seluruh Indonesia,” terangnya.

Dalam pemaparannya, Menteri Agama menjelaskan bahwa posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk. Ketinggian hilal tercatat berada pada rentang -2° 24‘ 43“ (-2,41°) hingga -0° 55‘ 41“ (-0,93°), sementara sudut elongasi berkisar antara 0° 56‘ 23“ (0,94°) hingga 1° 53‘ 36“ (1,89°).

Kondisi tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni tinggi hilal minimal 3° dan sudut elongasi minimal 6,4°.

“Dengan demikian, bukan hanya belum memenuhi kriteria imkan rukyat, tetapi secara astronomis hilal belum mungkin terlihat, sehingga secara hisab data hilal hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS,” jelas Menag.

Selain data hisab, keputusan juga mempertimbangkan hasil rukyat di lapangan. Pengamatan hilal tahun ini dilakukan di 96 titik di seluruh provinsi Indonesia, namun tidak ada laporan keberhasilan melihat hilal.

“Tidak ada laporan hilal terlihat dari seluruh titik pengamatan. Bahkan di negara-negara Islam lainnya, belum ada yang memenuhi kriteria imkan rukyat, dan kalender Hijriah Global versi Turki pun tidak memulai Ramadan esok hari,” ujar Menag.

“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” tegas Menag.

Menteri Agama berharap keputusan tersebut dapat menjadi momentum kebersamaan umat Islam di Indonesia dalam memulai ibadah puasa secara serentak.

“Semoga momentum ini menjadi simbol kebersamaan umat Islam sekaligus mencerminkan persatuan kita sebagai anak bangsa dalam menyongsong masa depan yang lebih baik,” pesannya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan apabila terdapat perbedaan pandangan dalam penetapan awal Ramadan.

“Apabila terdapat sebagian umat Islam yang memiliki keyakinan berbeda dalam penetapan awal Ramadan, kami mengimbau agar perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan. Jadikan perbedaan sebagai kekayaan dan mozaik indah bangsa Indonesia. Kita sudah berpengalaman hidup dalam perbedaan, tetapi tetap kokoh dalam persatuan,” tuturnya.

Sidang Isbat turut dihadiri Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i, Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang, Ketua Umum MUI Anwar Iskandar, serta Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad. Selain itu, hadir pula pimpinan ormas Islam, para ahli falak dan astronomi dari perguruan tinggi, serta perwakilan dari BMKG, BRIN, Badan Informasi Geospasial, Planetarium Jakarta, dan anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.[]