Beranda blog Halaman 693

DPRK Aceh Barat Rekomendasikan Penghentian Sementara Hauling Batubara

0
Ketua Komisi I DPRK Aceh Barat, Ramli SE saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) membahas lanjutan Persetujuan Teknis (Pertek) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait aktivitas hauling batubara di wilayah Aceh Barat di ruang rapat gabungan Fraksi. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Meulaboh – Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Ruang Rapat Gabungan Komisi DPRK, Senin (3/2/2025). Rapat ini membahas lanjutan Persetujuan Teknis (Pertek) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait aktivitas hauling batubara di wilayah Aceh Barat.

Dalam rapat tersebut, DPRK Aceh Barat juga menyoroti tanggung jawab PT Agrabudi Jasa Bersama (AJB) atas kecelakaan yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia. Insiden itu terjadi akibat truk pengangkut batubara yang beroperasi di luar jam operasional yang telah ditetapkan.

Rapat ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya pada 20 Januari 2025. Dalam pertemuan terdahulu, terjadi ketidaksepakatan di antara anggota dewan terkait penggunaan jalan nasional, provinsi, maupun kabupaten sebagai jalur hauling batubara. Selain itu, ketidakhadiran pihak keluarga korban dalam rapat tersebut menjadi alasan pertemuan kembali digelar.

Ketua Komisi I DPRK Aceh Barat, Ramli SE, menyampaikan bahwa Ketua DPRK telah mengeluarkan rekomendasi terkait permasalahan ini.

“Ada tiga poin rekomendasi. Pertama, PT AJB harus bertanggung jawab penuh terhadap keluarga korban. Kedua, PT AJB dan Indonesia Pacific Energi (IPE) wajib menanggung perbaikan jalan yang rusak akibat aktivitas hauling mereka. Ketiga, dilakukan penghentian sementara operasi hauling batubara,” ujarnya.

DPRK Aceh Barat menegaskan bahwa keputusan ini diambil demi menjaga keselamatan masyarakat dan memastikan perusahaan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan dari kegiatan operasional mereka.

Editor: Akil

BPBD Aceh Barat Kerahkan Tiga Unit Damkar Padamkan Kebakaran Rumah Warga

0
BPBD Aceh Barat Kerahkan Tiga Unit Damkar Padamkan Kebakaran Rumah Warga. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Meulaboh – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat mengerahkan tiga unit armada pemadam kebakaran untuk memadamkan api yang menghanguskan satu unit rumah warga di Desa Gampa, Kecamatan Johan Pahlawan, Senin (3/2/2025) siang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, mengatakan kebakaran terjadi sekitar pukul 14.15 WIB. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.

“Tiga unit armada pemadam kebakaran yang dikerahkan tersebut terdiri dari dua unit armada pemadam kebakaran dan satu unit Isuzu D-Max,” kata Teuku Ronal dikutip dari ANTARA.

Rumah yang terbakar diketahui milik Sawaluddin, warga Desa Gampa. Saat kejadian, rumah dalam keadaan kosong. Kebakaran pertama kali diketahui oleh warga sekitar yang melihat api sudah membesar, lalu melaporkan kejadian tersebut ke Kantor BPBD Aceh Barat.

Proses pemadaman dilakukan dengan bantuan masyarakat, prajurit TNI, Polri, Tagana, serta relawan RAPI. Api berhasil dipadamkan dalam waktu lebih dari satu jam, namun rumah tersebut tidak dapat diselamatkan sepenuhnya karena konstruksinya yang semi permanen.

“Alhamdulillah, satu rumah warga di samping lokasi kebakaran berhasil kita selamatkan,” ujar Teuku Ronal.

Kerugian akibat kebakaran ini ditaksir mencapai Rp80 juta. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwajib.

Editor: Akil

Polisi Tangkap Dua Kurir Sabu 1,4 Kg di Aceh, Pemasok Masih Diburu

0
Ilustrasi Sabu. (Foto: Polda Aceh)

NUKILAN.id | Langsa – Dua kurir narkoba berinisial HI dan BAM ditangkap personel Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Langsa saat membawa sabu seberat 1,4 kilogram. Polisi kini masih memburu pemasok utama barang haram tersebut.

Kapolres Langsa AKBP Andy Rahmansyah mengatakan penangkapan ini bermula dari penyelidikan yang dilakukan setelah polisi menerima laporan adanya peredaran narkoba di wilayah Langsa. Penelusuran kemudian mengarah ke Dusun Blang, Desa Leuge, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur.

“Barang bukti yang diamankan antara lain empat paket besar sabu di dalam plastik bening dan satu bungkus teh hijau di bagasi sepeda motor tersangka, satu paket besar sabu di sebuah gubuk di areal tambak, dua paket besar sabu di lemari kamar rumah tersangka HI, dua paket besar sabu yang dibungkus lakban kuning dan dikubur dalam tanah di kandang bebek rumah HI,” kata Andy kepada wartawan, Senin (3/2/2025).

Menurutnya, kedua tersangka mengaku memperoleh sabu tersebut dari seseorang di Aceh Timur untuk kemudian diedarkan di Langsa. Barang terlarang itu didapat dengan harga sekitar Rp 250 juta.

“Hingga kini, kita masih memburu pemasok utama,” jelasnya.

Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman yang mereka hadapi adalah pidana mati, seumur hidup, atau minimal 6 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

“Dari perhitungan asumsi penggunaan sabu, kami telah menyelamatkan 11.336 jiwa dari potensi penyalahgunaan narkoba,” kata Andy.

Hingga kini, polisi terus mengembangkan kasus ini guna mengungkap jaringan narkoba yang lebih luas.

Editor: Akil

Korban TPPO Asal Aceh Berhasil Kabur dari Kamboja, Diselamatkan Haji Uma

0
Korban TPPO Asal Aceh Berhasil Kabur dari Kamboja, Diselamatkan Haji Uma. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Seorang warga Lhokseumawe berinisial MS (26) yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berhasil melarikan diri dari tempat kerjanya di Kamboja dan kembali ke Indonesia. Kepulangannya difasilitasi oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma.

MS tiba di Bandara Internasional Kuala Namu, Sumatera Utara, pada Minggu (2/2/2025) setelah menempuh penerbangan dari Phnom Penh, Kamboja, dengan transit di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pelarian Dramatis dari Kamboja

Menurut keterangan Haji Uma, MS melarikan diri bersama dua warga negara Indonesia (WNI) lainnya. Setelah keluar dari tempat kerjanya secara diam-diam, mereka langsung menuju Bandara Phnom Penh. Namun, karena khawatir akan dikejar oleh sekuriti perusahaan yang memperkerjakan mereka, MS dan kedua rekannya memilih bersembunyi di mushala bandara dan hanya keluar untuk membeli makanan serta mencari informasi terkait pengurusan tiket penerbangan.

Di tengah pelariannya, MS sempat mengalami kendala administrasi karena visanya telah habis masa berlaku selama satu hari. “Dirinya sempat merasa khawatir karena visa nya ternyata mati untuk jangka waktu sehari. Namun setelah menanyakan informasi ke pihak imigrasi, ternyata masalah itu bisa diselesaikan dengan membayar biaya sebesar 10 USD,” ujar Haji Uma.

Tiket penerbangan MS ke Indonesia dibeli secara daring dengan biaya yang sebagian besar ditanggung oleh keluarga. Haji Uma turut membantu kekurangan biaya sebesar Rp2,5 juta, termasuk untuk transportasi. MS akhirnya berhasil berangkat dari Phnom Penh pada pukul 18.00 waktu setempat menuju Kuala Lumpur, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kuala Namu keesokan harinya.

Setibanya di Bandara Kuala Namu, MS kembali mendapat bantuan dari Haji Uma yang memfasilitasi perjalanan darat menuju Lhokseumawe dengan menggunakan angkutan umum Hiace.

Disiksa dan Diminta Tebusan

Dalam perbincangan dengan Haji Uma di Bandara Kuala Namu, MS menceritakan pengalaman pahitnya selama bekerja di Kamboja. Ia dipaksa menjadi scammer dengan tugas mengkloning data dan melakukan penipuan yang menargetkan warga Aceh serta Indonesia secara umum. Karena menolak melaksanakan tugas tersebut, ia mengalami berbagai tindakan kekerasan.

“Menurut MS seperti disampaikan ke Haji Uma, selama berada di Kamboja dirinya dipekerjakan sebagai scammer bertugas mengkloning data dan tindak penipuan yang menyasar warga Aceh dan Indonesia umumnya. Karena tidak sanggup untuk melakukan hal tersebut, MS mendapat berbagai tindak kekerasan, bahkan disiksa dengan setrum listrik,” ungkap Haji Uma.

Tak hanya itu, pihak penyekap bahkan meminta tebusan sebesar Rp50 juta kepada keluarga MS dengan ancaman akan membahayakan nyawanya jika uang tidak dikirim. Saat itu, keluarga MS mengadukan permasalahan ini kepada Haji Uma untuk meminta bantuan.

Peringatan bagi Masyarakat Aceh

Kasus MS menambah daftar panjang korban TPPO asal Indonesia yang diperdaya dengan tawaran pekerjaan di luar negeri. Haji Uma mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan yang tidak jelas, terutama di negara-negara yang sering menjadi pusat perdagangan manusia seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar.

“Ini adalah TPPO, karena itu pesan saya agar masyarakat berhati-hati terhadap berbagai ajakan bisnis atau bekerja di luar negeri, terutama di negara seperti Laos, Kamboja dan Myanmar, apalagi jika itu unprocedural atau ilegal karena sudah banyak kasusnya di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya,” tegasnya.

Dengan kembalinya MS ke tanah air, diharapkan masyarakat semakin sadar akan bahaya TPPO serta lebih berhati-hati dalam menerima tawaran pekerjaan di luar negeri.

Editor: Akil

3 Februari 1481 Meninggalnya Sultan Mehmed II, Siapa Dia?

0
Mehmed Sang Penakluk, salah satu sultan terbesar dalam sejarah Kesultanan Ottoman. (Foto: Daily Sabah)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Mehmed II, yang juga dikenal sebagai Mehmed Sang Penakluk, adalah salah satu sultan terbesar dalam sejarah Kesultanan Ottoman. Ia memerintah pada dua periode, yakni Agustus 1444 hingga September 1446 serta Februari 1451 hingga Mei 1481. Pada usia 21 tahun, ia berhasil menaklukkan Konstantinopel dan mengakhiri Kekaisaran Byzantium.

Di Turki modern, sosoknya dihormati dan dikenang dengan berbagai tempat yang menyandang namanya, seperti Distrik Fatih, Masjid Fatih, serta Jembatan Fatih Sultan Mehmed.

Masa Kecil dan Awal Berkuasa

Dikutip Nukilan.id dari berbagai sumber, Mehmed II lahir pada 30 Maret 1432 di Edirne, yang kala itu menjadi ibu kota Ottoman. Ia adalah putra Sultan Murad II dan Huma Valide Hatun. Sejak usia 11 tahun, Mehmed II dikirim ke Amasya sebagai gubernur untuk mendapatkan pengalaman pemerintahan.

Pada Agustus 1444, Murad II turun takhta setelah mencapai kesepakatan dengan Karamanids di Anatolia, memberi kesempatan bagi Mehmed untuk naik takhta. Namun, masa pemerintahannya yang pertama diwarnai oleh serangan pasukan Hongaria yang dipimpin John Hunyadi, yang melanggar Perjanjian Szeged. Setelah berhasil mengalahkan pasukan tersebut, Mehmed II terpaksa turun takhta pada September 1446 dan kembali digantikan oleh ayahnya atas desakan Perdana Menteri Candarli Halil Pasa.

Penaklukan Konstantinopel

Setelah kembali berkuasa pada 1451, Mehmed II mulai memperkuat angkatan laut Ottoman sebagai persiapan untuk merebut Konstantinopel. Dua tahun kemudian, ia memimpin pengepungan kota tersebut dengan pasukan berkekuatan antara 80.000 hingga 200.000 orang, didukung artileri serta 320 kapal perang.

Pada 6 April 1453, pengepungan dimulai dan berlangsung selama 53 hari sebelum Konstantinopel akhirnya jatuh pada 29 Mei 1453. Meski mendapat dukungan dari pembelot Ottoman dan bantuan dari Vatikan, Kaisar Constantine XI yang hanya memiliki 10.000 pasukan serta 26 kapal tak mampu membendung serangan Ottoman. Dengan keberhasilannya ini, Mehmed II mengklaim gelar Kaisar Romawi atau Qayser-i-Rum.

Setelah menaklukkan Konstantinopel, Mehmed II melanjutkan ekspansinya ke Morea di Peloponnesos pada 1461, serta menaklukkan Kekaisaran Trebizond setahun kemudian.

Pemerintahan Terpusat

Selain penaklukan militer, Mehmed II juga melakukan reformasi pemerintahan. Ia membentuk Divan, pengadilan kerajaan yang diisi oleh pejabat-pejabat yang setia kepadanya. Dengan sistem ini, Mehmed II dapat menjalankan kekuasaan yang lebih terpusat dan efisien.

Ia juga menerapkan kebijakan pemerintahan yang tidak terlalu absolut dengan mendelegasikan wewenang kepada para pembesarnya agar roda pemerintahan tetap berjalan dengan stabil.

Kematian

Pada 1481, Mehmed II kembali bergerak bersama pasukannya. Namun, dalam perjalanan menuju Maltepe, sebuah daerah yang kini menjadi bagian dari Istanbul, ia jatuh sakit. Setelah beberapa hari dirawat, ia meninggal pada 3 Mei 1481 dalam usia 49 tahun dan dimakamkan di Kompleks Masjid Fatih.

Kabar kematiannya disambut dengan kegembiraan di Eropa, yang bahkan merayakannya dengan membunyikan lonceng gereja. “Elang Agung sudah meninggal,” demikian kabar yang beredar di Venezia saat itu.

Mehmed II dikenang sebagai pemimpin besar yang membawa perubahan besar dalam sejarah dunia. Penaklukannya terhadap Konstantinopel menjadi tonggak penting dalam peralihan era dari Abad Pertengahan menuju zaman baru. (XRQ)

Reporter: Akil

Kebebasan Seni dalam Politik Indonesia yang Membelenggu

0
Seni dan Politik. (Foto: Swarakaltim)

NUKILAN.id | Opini – “Politik adalah seni mencari masalah, menemukannya di mana-mana, mendiagnosisnya secara keliru, dan menerapkan solusi yang salah.” Kutipan klasik pelawak Groucho Marx ini semakin relevan ketika politik berada di tangan penguasa yang otoriter. Bukan hanya solusi yang keliru terhadap berbagai problem sosial, tetapi juga upaya membungkam kritik dan ekspresi publik. Sensor terhadap pameran lukisan Yosu Prapto di Galeri Nasional pada akhir Desember 2024 adalah bukti nyata bahwa seni masih menjadi momok bagi penguasa yang alergi terhadap kebebasan berekspresi.

Alasan pemerintah menutup pameran itu terdengar tak masuk akal: karya-karya Yosu dianggap bermuatan politis karena menggambarkan mantan Presiden Joko Widodo telanjang, dijilati para pendukungnya, serta sosok raja yang bersetubuh dengan laki-laki. Padahal, semua karya seni pada dasarnya memiliki muatan politik. Penulis drama asal Amerika Serikat, August Wilson, pernah mengatakan bahwa seni adalah pernyataan dan renungan atas realitas yang terjadi di masyarakat. Yosu hanya menafsirkan apa yang terjadi di ruang publik dan menuangkannya ke atas kanvas. Maka, ketika Menteri Kebudayaan Fand John menyempitkan tafsir seni hanya sebagai sesuatu yang “tidak pantas” dan “memaki penguasa,” ini adalah bentuk sensor yang berbahaya.

Sejarah telah menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi adalah kunci utama berkembangnya seni. Korea Selatan menjadi contoh nyata bagaimana pencabutan sensor mampu melahirkan industri kreatif yang mendunia. Sejak Mahkamah Konstitusi Korea Selatan mencabut undang-undang sensor pada 1996, industri film dan kesenian di negara itu berkembang pesat. Kini, film-film Korea hanya tunduk pada regulasi pemeringkatan usia, tanpa ada ancaman pelarangan oleh pemerintah. Hasilnya, film seperti Parasite karya Bong Joon-ho mampu meraih Oscar pada 2020, dan film-film Korea lainnya dengan leluasa mengkritik korupsi di lembaga hukum, militer, hingga eksekutif tanpa takut disensor.

Sebaliknya, Indonesia justru semakin mundur ke zaman otokrasi. Jika penguasa terus-menerus membelenggu seni dengan sensor dan pelarangan, maka ruang bagi ekspresi kreatif akan semakin menyempit. Padahal, seni justru menjadi medium bagi publik untuk keluar dari kepengapan politik yang penuh intrik dan kepentingan pragmatis. Seni adalah ruang bebas di mana persoalan agraria, kekerasan terhadap anak, hingga krisis ekologi bisa diungkap dengan perspektif baru.

Terlepas dari belenggu politik, para seniman Indonesia tetap menemukan cara untuk berkarya. Dalam edisi khusus “Tokoh Seni Pilihan Tempo 2024,” terlihat bahwa seni di negeri ini masih memiliki harapan. Natasha Tonte, misalnya, mengeksplorasi tema konservasi satwa dalam instalasi Pintu Besar, yang menampilkan pantat Yaki—kera endemik Sulawesi—dengan dua lubang anus. Lewat instalasi ini, Natasha mengkritik konflik antara manusia dan satwa liar yang semakin mempercepat kepunahan spesies tersebut. Sementara itu, Zigovina Rizki membawa cerita anak kembali ke akar historisnya sebagai medium perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, bukan sekadar kisah manis ala Disney.

Kedua seniman ini tidak memamerkan karyanya di ruang-ruang yang dikontrol pemerintah seperti Galeri Nasional, tetapi di institusi seni independen seperti Museum MACAN dan penerbit swasta. Artinya, meski negara terus berupaya mengendalikan seni, kreativitas tetap menemukan jalannya sendiri.

Jika pemerintah tak bisa menyediakan ruang ekspresi bagi seni, setidaknya biarkan para seniman bebas mengeksplorasi ide-ide mereka. Sebab, seni bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang kebebasan. Ketika politik membelenggu, seni justru menjadi jalan pembebasan. (XRQ)

Penulis: Akil

300 Dosen Gelar Aksi di Monas, Tuntut Kejelasan Tunjangan Kinerja

0
Ilustrasi Gaji (Foto: infobanknews.com)

NUKILAN.id | Jakarta Sekitar 300 dosen dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, menggelar aksi protes di kawasan Patung Kuda Monas, Jakarta, Senin (3/2). Mereka tergabung dalam Aliansi Dosen Kemdiktisaintek Seluruh Indonesia (ADAKSI) dan menuntut kejelasan pencairan Tunjangan Kinerja (TUKIN) bagi dosen Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ketua Koordinator Nasional (Kornas) ADAKSI, Anggun Gunawan, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk protes terhadap ketidakpastian pemberian TUKIN yang hingga kini belum mendapatkan kepastian dari pemerintah.

“300-an perwakilan dosen dari Aceh sampai Papua,” ujar Anggun Gunawan dikutip dari JawaPos.com, Senin (3/2/2025).

Dalam aksi yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB ini, para dosen menyampaikan dua tuntutan utama kepada pemerintah.

“Pertama, pastikan anggaran dan pencairan Tukin tahun 2025 untuk semua dosen ASN Kemdiktisaintek tanpa pembedaan dosen PTN Satker, BLU dan BH serta dosen-dosen DPK atau dosen PNS yang diperbantukan di Perguruan Tinggi Swasta,” tegasnya.

Selain itu, mereka juga menuntut agar pemerintah segera membayarkan tunjangan kinerja yang belum diterima sejak tahun 2020.

“Kedua, mendesak pemerintah membayarkan tukin dosen ASN kemdiktisaintek sejak tahun 2020,” lanjut Anggun.

Aksi yang dilakukan para dosen ini tidak hanya diisi dengan orasi, tetapi juga menampilkan aksi simbolis dan teatrikal. Sebagai puncak aksi, mereka menyerahkan Surat Resmi Aspirasi/Tuntutan kepada pihak terkait sebagai bentuk keseriusan dalam memperjuangkan hak mereka.

Mengusung slogan TUKIN for All, para dosen ingin menegaskan komitmen mereka untuk mendapatkan hak yang sama tanpa diskriminasi. Anggun menekankan bahwa perjuangan ini bukan hanya sekadar tuntutan finansial, tetapi juga menyangkut martabat dunia akademik di Indonesia.

Editor: Akil

SDIT Nurul Fikri Aceh Gelar Nurul Fikri Cup 2025, Ajang Silaturahmi dan Pengembangan Bakat

0
SDIT Nurul Fikri Aceh Gelar Nurul Fikri Cup 2025. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam rangka memperingati Milad ke-20 Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Fikri Aceh, SDIT Nurul Fikri Aceh menggelar ajang olahraga Nurul Fikri Cup 2025 pada Kamis, 23 Januari 2025. Turnamen yang diikuti oleh delapan sekolah dari wilayah Aceh Besar ini berlangsung di SDIT Nurul Fikri Aceh dan menampilkan persaingan sengit antar tim peserta.

Turnamen ini menghadirkan delapan tim terbaik dari sekolah-sekolah sekitar, yakni SDIK Nurul Quran, SDN Lampenerut, MIT Darul Tahfidz, MIN 20 Aceh Besar, SDN 1 Lambheu, SDIT Fajar Hidayah, serta dua tim tuan rumah, SDIT Nurul Fikri Aceh Team A dan Team B.

Menurut panitia, kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar sekolah sekaligus membentuk karakter anak melalui nilai-nilai sportivitas, kerja sama tim, dan disiplin dalam olahraga. Selain itu, ajang ini juga menjadi wadah bagi siswa untuk mengasah bakat mereka di bidang sepak bola.

Kepala SDIT Nurul Fikri Aceh, Mujaddid, S.Pd, dalam sambutannya berharap agar kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang terus berlanjut dan semakin meriah di tahun-tahun mendatang.

“Dengan adanya turnamen ini, diharapkan anak-anak dapat memperoleh pengalaman berharga, baik dari segi olahraga maupun dalam membangun kebersamaan dan persaudaraan,” ujarnya.

Panitia dan pihak sekolah berharap Nurul Fikri Cup 2025 dapat berjalan dengan lancar serta memberikan manfaat bagi seluruh peserta. Dengan semangat kompetisi yang sehat, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perebutan trofi, tetapi juga sarana pembelajaran bagi anak-anak dalam menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas.

Editor: Akil

Tujuh Nelayan Aceh Dibebaskan dari Myanmar, Disambut Haru di Kuala Namu

0
Tujuh Nelayan Aceh Dibebaskan dari Myanmar, Disambut Haru di Kuala Namu. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Medan – Sebanyak tujuh nelayan asal Aceh Timur dan Aceh Utara yang sempat ditahan oleh otoritas Myanmar akhirnya tiba di Bandara Kuala Namu, Deliserdang, Sumatera Utara, pada Sabtu (1/2/2025). Kedatangan mereka disambut dengan penuh haru oleh berbagai pihak, termasuk anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, serta perwakilan pemerintah.

Para nelayan tersebut sebelumnya ditangkap pada 4 Juli 2024 atas tuduhan pelanggaran batas perairan dan akhirnya dibebaskan pada 4 Januari 2025 setelah melalui berbagai upaya diplomasi. Haji Uma sendiri turut berperan aktif dalam proses pemulangan para nelayan dengan berkoordinasi bersama berbagai pihak terkait. Bahkan, ia turut membantu biaya mobilisasi ketujuh nelayan dari Kawthaung ke Yangon sebesar Rp 23 juta, sedangkan Rp 8 juta sisanya ditanggung oleh keluarga nelayan.

Selain Haji Uma, penyambutan di Bandara Kuala Namu juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, serta DKP Kabupaten Aceh Timur.

“Alhamdulillah atas bantuan para pihak, ketujuh nelayan Aceh telah tiba dengan selamat dan akan segera berkumpul dengan keluarga masing-masing,” ujar Haji Uma.

Suasana penyambutan di bandara berlangsung emosional. Para nelayan tak kuasa menahan tangis saat bertemu kembali dengan orang-orang yang telah berjuang untuk kepulangan mereka. Beberapa dari mereka bahkan memeluk Haji Uma sebagai bentuk terima kasih atas bantuan yang diberikan.

Dalam kesempatan tersebut, Haji Uma juga berpesan agar kejadian ini dijadikan pelajaran bagi para nelayan dalam mencari ikan di masa mendatang, terutama dalam menghindari pelanggaran wilayah perairan negara lain.

Para nelayan pun menceritakan pengalaman pahit mereka selama menjalani masa tahanan di Myanmar. Mereka mengaku tidak pernah berniat melanggar batas perairan, namun kejadian itu terjadi karena kapal mereka kehabisan bahan bakar hingga akhirnya terdampar di perairan Myanmar.

Sementara itu, biaya pemulangan ketujuh nelayan dari Myanmar ke Kuala Namu yang mencapai Rp 31 juta lebih sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Aceh. Sedangkan biaya transportasi dari Kuala Namu ke kampung halaman mereka di Aceh Timur dan Aceh Utara ditanggung oleh Haji Uma.

Setelah melalui proses serah terima dari Kemenlu RI dan dinas terkait, ketujuh nelayan itu akhirnya dipulangkan menggunakan armada umum yang telah disewa. Adapun nama-nama nelayan yang kini telah kembali berkumpul dengan keluarga mereka adalah Muhammad Nur (Aceh Timur) sebagai nahkoda, serta Nasruddin Hamzaz (Langsa), Abdullah (Aceh Timur), Mustafa Kamal (Aceh Timur), Mola Zikri (Langsa), Zubir (Langsa), dan Muzakir (Aceh Utara) yang bertugas sebagai anak buah kapal (ABK).

Editor: Akil

Outing Class SDIT Nurul Fikri Aceh: Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini

0
Outing Class SDIT Nurul Fikri Aceh: Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – SDIT Nurul Fikri Aceh mengadakan kegiatan Outing Class di Pustaka Wilayah Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 2 dengan tujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan interaktif di luar lingkungan sekolah.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan sambutan dari pihak sekolah serta perwakilan Pustaka Wilayah Aceh. Para siswa diajak mengenal dunia literasi melalui berbagai aktivitas edukatif.

Dalam sesi Tur Perpustakaan, siswa diperkenalkan dengan berbagai koleksi buku, sistem peminjaman, serta pentingnya menjaga buku agar tetap dalam kondisi baik. Mereka juga mengikuti sesi Mendongeng Bersama, di mana pendongeng membawakan cerita inspiratif guna menumbuhkan minat baca pada anak.

Selain itu, siswa diajak mengikuti Workshop Kreatif, yang melibatkan kegiatan mewarnai serta membuat cerita sederhana berdasarkan buku yang telah mereka baca. Tak ketinggalan, mereka juga berpartisipasi dalam Games Edukatif, yakni permainan yang mengasah daya ingat dan kreativitas anak terkait dunia literasi.

Setelah mengikuti kegiatan ini, siswa memperoleh berbagai manfaat, seperti pemahaman lebih dalam tentang perpustakaan dan cara memanfaatkannya sebagai sumber ilmu, meningkatnya minat baca, serta kemampuan berpikir kreatif dalam membuat cerita sederhana. Selain itu, pengalaman belajar yang lebih menyenangkan membuat mereka semakin antusias dalam mengenal dunia literasi.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk membentuk karakter positif pada siswa. Mereka diharapkan menjadi anak-anak yang gemar membaca, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, serta semakin mandiri dalam mencari dan memilih buku sesuai minat mereka. Tak hanya itu, kegiatan workshop dan games edukatif juga melatih kreativitas mereka dalam mengembangkan ide dan bercerita, sekaligus menumbuhkan sikap kerja sama dalam kelompok.

Dengan adanya Outing Class ini, SDIT Nurul Fikri Aceh berharap siswanya semakin mencintai dunia literasi dan mampu mengembangkan potensi diri melalui kegiatan edukatif yang menyenangkan. Pihak sekolah pun berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program pembelajaran inovatif guna menciptakan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.

Editor: Akil