Beranda blog Halaman 62

Verifikasi Hibah, Disdik Dayah Banda Aceh Kunjungi Tiga Lembaga Pendidikan Keagamaan

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Pendidikan Dayah (Disdik Dayah) Kota Banda Aceh melakukan kunjungan ke sejumlah dayah dan balai pengajian dalam rangka verifikasi hibah sekaligus membahas tata kelola bantuan hibah bagi lembaga pendidikan keagamaan, Kamis (5/6/2026).

Kegiatan verifikasi tersebut menyasar tiga lembaga, yakni Dayah Fauzul Karimah di Gampong Lamlagang, Balai Pengajian Miftahul Jannah, serta Balai Pengajian Hadanatul Abqa yang berada di Gampong Doi.

Sekretaris Disdik Dayah Kota Banda Aceh, Rahmat Kadafi, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan kelengkapan administrasi lembaga penerima hibah. Verifikasi meliputi status tanah, akta yayasan, surat keterangan terdaftar dari Disdik Dayah, proposal pengajuan bantuan, serta sejumlah dokumen pendukung lainnya.

“Kedatangan kami disambut langsung oleh Pimpinan Balai Pengajian Miftahul Jannah Tgk. Safari dan Pimpinan Balai Pengajian Hadanatul Afqa yaitu Tgk. Hafidhi. Sedangkan Dayah Fauzul Karimah tidak jadi dilakukan verifikasi berhubung pimpinan dayah tidak berada di lokasi,” jelasnya.

Selain melakukan pemeriksaan administrasi, tim Disdik Dayah juga memberikan berbagai masukan terkait tata kelola bantuan hibah agar dapat dimanfaatkan secara efektif dan sesuai ketentuan yang berlaku.

Pembahasan tersebut mencakup pengelolaan bantuan hibah bagi balai pengajian, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), maupun dayah yang berada di wilayah Kota Banda Aceh.

Dalam kegiatan itu, Rahmat Kadafi turut didampingi oleh Kepala Bidang Pengembangan SDM Muhammad Syarif, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Jauhari, serta sejumlah staf Disdik Dayah Kota Banda Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Hafizah 30 Juz MUQ Aceh Selatan Diterima di Pendidikan Kedokteran Gigi USK Lewat Jalur Prestasi

0
Laura Fathiya Azzahra
Laura Fathiya Azzahra. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Kabar membanggakan datang dari Pesantren Ma’had Ulumul Qur’an (MUQ) Aceh Selatan. Salah seorang santrinya, Laura Fathiya Azzahra binti Zulmahdi, berhasil lulus melalui Jalur Talenta/Prestasi Tahun 2026 pada Program Studi Pendidikan Kedokteran Gigi di Universitas Syiah Kuala.

Laura merupakan hafizah Al-Qur’an 30 juz asal Tapaktuan yang dikenal aktif berprestasi baik di bidang keagamaan maupun akademik. Ia merupakan putri pertama dari tiga bersaudara, pasangan Zulmahdi dan Nurul Huda. Lahir di Tapaktuan pada 21 Agustus 2008, Laura menempuh pendidikan di TK Pembina Tapaktuan, MIN 14 Aceh Selatan, SMP Plus Ulumul Qur’an Aceh Selatan, SMA Plus Ulumul Qur’an Aceh Selatan, serta Pesantren Ma’had Ulumul Qur’an Aceh Selatan.

Keberhasilan tersebut menjadi hasil dari perjalanan panjang yang dilalui Laura dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Selama masa pendidikannya, ia berhasil menorehkan sejumlah prestasi, di antaranya Juara III MTQ Hifzil Qur’an 1 Juz dan Tilawah Tingkat Kecamatan Tahun 2020, Juara I PENTAS PAI Musabaqah Hifzil Qur’an 5 Juz Tingkat Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2021, menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dalam waktu 3,5 tahun pada Tahun 2023, Juara I Lomba Fibeta Cerdas Cermat Wawasan Kebangsaan Tingkat SMA Tahun 2025, serta Juara III MTQ Hifzil Qur’an 5 Juz dan Tilawah Tingkat Kabupaten Aceh Selatan Tahun 2025.

Laura mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraihnya dan berharap kesempatan menempuh pendidikan di perguruan tinggi dapat menjadi sarana untuk terus mengembangkan diri.

“Saya berharap dapat mengembangkan potensi diri secara maksimal, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik, serta menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berintegritas, dan bermanfaat bagi banyak orang dengan bekal pengalaman dan motivasi yang kuat,” ujarnya.

Ia juga berharap keberhasilannya dapat menjadi inspirasi bagi para santri dan pelajar lainnya agar terus berjuang meraih cita-cita melalui pendidikan dan kerja keras.

Pimpinan Ma’had Ulumul Qur’an Aceh Selatan, Muhammad Ridho Agung, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas capaian yang diraih Laura. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis Al-Qur’an mampu berjalan beriringan dengan prestasi akademik.

“Alhamdulillah, kami bersyukur dan bangga atas keberhasilan ananda Laura Fathiya Azzahra yang diterima di Program Studi Pendidikan Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala melalui jalur prestasi. Ini adalah hasil dari kesungguhan dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, kedisiplinan belajar, doa orang tua, serta bimbingan para guru dan musyrif di lingkungan pesantren,” ujar Tgk. Muhammad Ridho Agung.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh santri MUQ Aceh Selatan untuk terus berprestasi tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur’an yang menjadi fondasi utama pendidikan di pesantren.

“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa para penghafal Al-Qur’an tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu bersaing dan berprestasi pada bidang akademik serta profesi-profesi strategis. Semoga keberhasilan Laura menjadi inspirasi bagi adik-adik santri untuk terus bermimpi besar, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dalam meraih masa depan,” tambahnya.

Keberhasilan Laura semakin menambah daftar santri dan alumni MUQ Aceh Selatan yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Capaian ini sekaligus menjadi bukti komitmen pesantren dalam mencetak generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berkompetisi di dunia akademik dan profesi.

Dengan diterimanya Laura di Program Studi Pendidikan Kedokteran Gigi USK, MUQ Aceh Selatan kembali menunjukkan bahwa para penghafal Al-Qur’an memiliki peluang yang sama untuk meraih prestasi di berbagai bidang serta berkontribusi bagi agama, bangsa, dan masyarakat di masa depan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

7 Fakta Menarik Piala Dunia 2026: Dari Format Baru hingga Hadiah Fantastis

0
3 maskot Piala Dunia 2026 yang bisa menarik perhatian anak. Foto: Instagram @fifaworldcup

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi penyelenggaraan terbesar sepanjang sejarah sepak bola modern. Turnamen yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 ini menghadirkan berbagai perubahan, mulai dari jumlah peserta, format kompetisi, teknologi pertandingan, hingga besarnya hadiah yang diperebutkan.

Untuk pertama kalinya pula, Piala Dunia digelar secara bersama oleh tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Kombinasi tersebut menjadikan edisi 2026 sebagai turnamen dengan cakupan wilayah penyelenggaraan paling luas dalam sejarah.

Berikut Nukilan.id sajikan tujuh fakta menarik yang perlu diketahui menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026.

1. Tiga Negara Menjadi Tuan Rumah Sekaligus

Piala Dunia 2026 mencatat sejarah baru karena digelar di tiga negara. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan berbagi peran sebagai penyelenggara selama lebih dari satu bulan kompetisi berlangsung.

Bagi Kanada, ini merupakan pengalaman pertama menjadi tuan rumah putaran final Piala Dunia. Amerika Serikat sebelumnya pernah menggelar turnamen pada 1994, sedangkan Meksiko menjadi tuan rumah pada 1970 dan 1986. Dengan edisi 2026, Meksiko menjadi negara pertama yang tiga kali dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia.

2. Diikuti 48 Negara dengan Empat Tim Debutan

Piala Dunia 2026 juga menjadi edisi pertama yang diikuti oleh 48 negara. Jumlah tersebut bertambah 16 tim dibandingkan format sebelumnya yang hanya melibatkan 32 peserta.

Penambahan kuota membuka peluang bagi sejumlah negara untuk tampil perdana di ajang sepak bola terbesar dunia. Empat negara yang menjalani debut adalah Yordania, Uzbekistan, Cape Verde (Tanjung Verde), dan Curacao.

Ekspansi peserta ini juga memberi kesempatan lebih besar bagi konfederasi Asia, Afrika, Concacaf, dan Oseania untuk mengirim lebih banyak wakil ke putaran final.

3. Trionda Menjadi Bola Resmi Turnamen

Adidas kembali dipercaya sebagai penyedia bola resmi Piala Dunia. Untuk edisi 2026, bola tersebut diberi nama Trionda.

Nama Trionda terinspirasi dari kata tri yang melambangkan tiga negara penyelenggara dan onda yang berarti gelombang.

Selain memiliki desain baru, bola ini dibekali teknologi sensor digital yang mampu mengirimkan data pergerakan secara real time. Teknologi tersebut membantu sistem Video Assistant Referee (VAR) dalam mengambil keputusan, termasuk mendeteksi sentuhan bola maupun situasi permainan lainnya dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

4. Tiga Maskot dengan Karakter Berbeda

Berbeda dari edisi-edisi sebelumnya yang biasanya hanya memiliki satu maskot, Piala Dunia 2026 menghadirkan tiga karakter yang masing-masing mewakili negara tuan rumah.

Maple menjadi simbol Kanada dengan karakter seekor rusa besar yang identik dengan warna merah.

Zayu hadir sebagai representasi Meksiko melalui sosok jaguar yang mengenakan atribut berwarna hijau.

Sementara Amerika Serikat diwakili Clutch, seekor elang bondol yang menjadi salah satu satwa khas negara tersebut.

Ketiga maskot diperkenalkan sebagai simbol persahabatan, keberagaman budaya, dan semangat kebersamaan yang menjadi tema utama Piala Dunia 2026.

5. Pertandingan Digelar di 16 Kota

Sebanyak 16 kota dipilih sebagai lokasi pertandingan selama turnamen berlangsung.

Amerika Serikat menjadi negara dengan venue terbanyak melalui sebelas kota, yakni Dallas, New Jersey, Atlanta, Kansas City, Houston, San Francisco, Los Angeles, Philadelphia, Seattle, Boston, dan Miami.

Meksiko menyiapkan tiga kota, yaitu Mexico City, Guadalajara, dan Monterrey.

Sementara Kanada menggelar pertandingan di Toronto dan Vancouver.

Penyebaran venue di tiga negara membuat Piala Dunia 2026 menjadi salah satu turnamen dengan cakupan geografis terbesar yang pernah ada.

6. Total Hadiah Mencapai Rekor Baru

FIFA menyiapkan total hadiah terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia.

Nilai hadiah keseluruhan mencapai sekitar 871 juta dolar Amerika Serikat, yang akan didistribusikan kepada seluruh peserta berdasarkan pencapaian masing-masing selama turnamen.

Tim yang berhasil keluar sebagai juara dijadwalkan menerima hadiah sebesar 50 juta dolar Amerika Serikat, belum termasuk berbagai bonus komersial dan insentif dari federasi masing-masing negara.

Besarnya hadiah tersebut menunjukkan peningkatan nilai ekonomi Piala Dunia yang terus berkembang dari satu edisi ke edisi berikutnya.

7. Laga Pembuka, Final, dan Lagu Resmi

Pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 akan berlangsung di Stadion Estadio Azteca, Mexico City, dengan mempertemukan Meksiko melawan Afrika Selatan.

Sementara partai final dijadwalkan digelar di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, pada 19 Juli 2026.

Selain pertandingan, FIFA juga memperkenalkan lagu-lagu resmi turnamen. Salah satunya berjudul Goals, yang melibatkan kolaborasi sejumlah musisi internasional seperti Lisa BLACKPINK, Anitta, dan Rema.

Lagu lainnya bertajuk Dai Dai, dibawakan oleh Shakira bersama musisi asal Nigeria, Burna Boy.

Kehadiran para musisi lintas negara diharapkan semakin memperkuat nuansa global yang menjadi ciri khas Piala Dunia.

Turnamen dengan Skala Terbesar

Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan lebih banyak peserta, tetapi juga menawarkan pengalaman baru bagi pemain maupun penggemar sepak bola. Dengan format 48 negara, total 104 pertandingan, teknologi pertandingan yang semakin canggih, serta hadiah yang terus meningkat, turnamen ini diprediksi menjadi salah satu edisi paling meriah dalam sejarah sepak bola dunia.

Selain persaingan memperebutkan trofi, Piala Dunia 2026 juga menjadi panggung bagi negara-negara debutan untuk menunjukkan kemampuan mereka, sekaligus membuka babak baru dalam perkembangan sepak bola internasional. (XRQ)

Mengenal Format Baru Piala Dunia 2026: Turnamen Terbesar dalam Sejarah Sepak Bola Dunia

0
Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi tonggak baru dalam sejarah sepak bola dunia. Untuk pertama kalinya sejak turnamen ini digelar pada 1930, jumlah peserta bertambah menjadi 48 negara. Perubahan tersebut tidak hanya menambah jumlah tim yang tampil, tetapi juga mengubah hampir seluruh struktur kompetisi, mulai dari fase grup hingga babak final.

Turnamen yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini menjadi edisi pertama yang diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus. Dengan cakupan wilayah yang sangat luas, Piala Dunia 2026 juga akan menjadi kompetisi terbesar yang pernah digelar FIFA, baik dari sisi jumlah pertandingan, peserta, maupun durasi penyelenggaraan.

Dari 32 Menjadi 48 Negara

Selama tujuh edisi terakhir, Piala Dunia diikuti oleh 32 negara yang dibagi ke dalam delapan grup. Dua tim terbaik dari setiap grup lolos ke babak 16 besar sebelum melanjutkan perjalanan menuju final.

Mulai 2026, jumlah peserta bertambah menjadi 48 negara. Mereka akan dibagi ke dalam 12 grup yang masing-masing berisi empat tim. Setiap peserta tetap memainkan tiga pertandingan pada fase grup.

Namun, mekanisme kelolosannya berubah. Dua tim teratas di setiap grup otomatis melaju ke babak gugur. Selain itu, delapan tim peringkat ketiga terbaik juga berhak lolos sehingga total terdapat 32 negara yang bertarung pada fase knockout.

Dengan sistem tersebut, peluang setiap negara untuk bertahan lebih lama di turnamen menjadi semakin besar.

Jumlah Pertandingan Meningkat Tajam

Ekspansi peserta membuat jumlah pertandingan meningkat secara signifikan.

Jika pada edisi-edisi sebelumnya hanya terdapat 64 pertandingan, kini total laga bertambah menjadi 104 pertandingan. Artinya, penggemar sepak bola akan menikmati puluhan pertandingan tambahan dibandingkan format lama.

Sebanyak 72 pertandingan dimainkan pada fase grup, sedangkan sisanya berlangsung pada babak gugur yang kini diawali dari babak 32 besar.

Bagi penyelenggara, penambahan pertandingan berarti meningkatnya jumlah penonton, nilai hak siar televisi, peluang sponsor, hingga dampak ekonomi bagi kota-kota tuan rumah.

Babak 32 Besar Hadir untuk Pertama Kalinya

Perubahan paling mencolok lainnya adalah hadirnya babak 32 besar.

Pada format lama, tim yang lolos dari grup langsung memasuki babak 16 besar. Kini seluruh tim yang berhasil melewati fase grup masih harus memainkan satu pertandingan tambahan sebelum mencapai babak 16 besar.

Keberadaan babak ini membuat jalan menuju gelar juara menjadi lebih panjang. Tim yang ingin mengangkat trofi kini harus melewati lima pertandingan sistem gugur, bukan empat seperti sebelumnya.

Di sisi lain, babak tambahan tersebut juga membuka peluang munculnya kejutan karena satu hasil buruk sudah cukup untuk mengakhiri perjalanan tim favorit.

Kesempatan Lebih Besar bagi Negara Berkembang

Ekspansi peserta memberikan manfaat besar bagi negara-negara yang selama ini sulit menembus putaran final.

Konfederasi Asia, Afrika, Concacaf, dan Oseania memperoleh tambahan kuota sehingga lebih banyak negara dapat merasakan atmosfer Piala Dunia.

Bagi negara-negara berkembang, tampil di Piala Dunia bukan hanya soal prestasi olahraga. Keikutsertaan di panggung terbesar sepak bola dunia dapat meningkatkan kualitas kompetisi domestik, menarik investasi, mempercepat pembangunan infrastruktur olahraga, hingga mengangkat popularitas sepak bola di tingkat nasional.

Turnamen 2026 pun menghadirkan beberapa negara yang menjalani debut di Piala Dunia, memperlihatkan semakin luasnya penyebaran kekuatan sepak bola dunia.

Strategi Tim Dipastikan Berubah

Format baru membuat pendekatan setiap pelatih kemungkinan berbeda dibandingkan edisi sebelumnya.

Karena delapan tim peringkat ketiga terbaik juga berpeluang lolos, banyak tim diperkirakan akan lebih berhati-hati ketika menghadapi unggulan grup.

Negara yang kualitasnya berada di bawah lawan mungkin lebih memilih bermain disiplin untuk menjaga selisih gol, kemudian memaksimalkan peluang meraih kemenangan saat menghadapi tim yang levelnya relatif setara.

Akibatnya, pertandingan fase grup bisa menjadi lebih taktis dibandingkan sekadar saling menyerang.

Rotasi Pemain Menjadi Faktor Penting

Turnamen yang lebih panjang otomatis meningkatkan tuntutan fisik terhadap para pemain.

Tim yang berhasil melaju hingga final akan memainkan delapan pertandingan sepanjang turnamen. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan format sebelumnya.

Situasi ini membuat rotasi pemain menjadi aspek yang sangat penting. Pelatih dituntut mampu menjaga kebugaran skuad tanpa mengorbankan kualitas permainan.

Kedalaman skuad kemungkinan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah tim. Negara yang memiliki banyak pemain berkualitas akan lebih mudah menjaga konsistensi performa sepanjang kompetisi.

Persaingan Top Skor Semakin Menarik

Bertambahnya jumlah pertandingan juga membuka peluang baru dalam perebutan gelar pencetak gol terbanyak.

Pemain yang tampil konsisten sejak fase grup memiliki kesempatan mencetak lebih banyak gol karena memperoleh satu pertandingan tambahan di babak gugur.

Namun peluang tersebut tidak hanya dimiliki pemain dari tim unggulan. Penyerang dari negara yang gagal melaju jauh pun tetap berpotensi bersaing apabila tampil tajam sejak awal turnamen.

Hal itu membuat persaingan memperebutkan Sepatu Emas diperkirakan akan berlangsung lebih terbuka.

Tantangan bagi Penonton

Di balik banyaknya pertandingan, muncul tantangan baru bagi pencinta sepak bola.

Dengan lebih dari seratus pertandingan yang berlangsung dalam waktu relatif singkat, tidak semua laga dapat disaksikan secara langsung oleh penggemar. Perbedaan zona waktu antara Amerika Utara dan berbagai belahan dunia juga membuat sebagian pertandingan berlangsung pada dini hari bagi penonton di luar kawasan tersebut.

Akibatnya, banyak orang kemungkinan hanya akan mengikuti pertandingan-pertandingan besar atau menyaksikan cuplikan setelah laga berakhir.

Peluang Kejutan Semakin Besar

Sepanjang sejarah Piala Dunia, kejutan selalu menjadi bagian yang paling dinantikan.

Format baru diperkirakan membuat peluang tersebut semakin besar. Negara-negara yang sebelumnya jarang tampil kini memiliki kesempatan lebih luas untuk mengukur kemampuan melawan tim-tim elite.

Selain itu, babak 32 besar yang menggunakan sistem gugur membuat tidak ada ruang untuk memperbaiki kesalahan. Satu pertandingan buruk sudah cukup mengakhiri perjalanan kandidat juara.

Situasi seperti ini dapat dimanfaatkan oleh tim-tim yang tampil tanpa beban untuk menciptakan hasil di luar prediksi.

Era Baru Piala Dunia

Perubahan format Piala Dunia 2026 menjadi salah satu keputusan terbesar yang pernah diambil FIFA dalam beberapa dekade terakhir. Penambahan peserta, hadirnya babak 32 besar, bertambahnya jumlah pertandingan, serta meluasnya kesempatan bagi negara-negara berkembang menunjukkan upaya FIFA untuk menjadikan sepak bola semakin inklusif dan menjangkau lebih banyak kawasan di dunia.

Meski masih memunculkan perdebatan mengenai kualitas kompetisi dan padatnya jadwal pertandingan, format baru ini diyakini akan menghadirkan lebih banyak cerita, lebih banyak kejutan, dan lebih banyak momen bersejarah yang akan dikenang oleh penggemar sepak bola di seluruh dunia. Piala Dunia 2026 bukan sekadar edisi berikutnya, melainkan awal dari era baru kompetisi sepak bola terbesar di planet ini. (xrq)

Diskominfotik Banda Aceh Matangkan Persiapan Program Lapor Goes to Campus di FISIP USK

0
Program Lapor Goes to Campus di FISIP USK
Program Lapor Goes to Campus di FISIP USK. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Kota Banda Aceh terus mematangkan persiapan pelaksanaan program Lapor Goes to Campus.

Sebagai bagian dari persiapan tersebut, tim Diskominfotik melakukan kunjungan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala pada Jumat (5/6/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan menjelang pelaksanaan kegiatan Lapor Goes to Campus yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (8/6/2026). Program ini akan menyasar civitas akademika di lingkungan FISIP USK sebagai upaya memperluas pemahaman dan pemanfaatan kanal pengaduan publik oleh kalangan mahasiswa.

Kepala Diskominfotik Banda Aceh melalui Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Publik, Rahadian, menjelaskan bahwa Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR!) merupakan sarana resmi yang dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi maupun pengaduan kepada pemerintah.

Menurut Rahadian, saat ini terdapat dua kanal pengaduan yang dikelola pemerintah, yakni SP4N-LAPOR! dan Saleum (Sarana Aduan Layanan Elektronik Untuk Masyarakat). Kedua layanan tersebut dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam menyampaikan laporan, masukan, serta aspirasi secara terintegrasi.

Rahadian berharap kegiatan Lapor Goes to Campus dapat mendorong mahasiswa untuk berperan aktif dalam mengawasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui pemanfaatan kanal pengaduan resmi yang tersedia.

“Semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan kanal pengaduan resmi, semakin besar peluang terwujudnya pelayanan publik yang efektif, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” pungkas Rahadian.

Melalui kegiatan ini, Diskominfotik Banda Aceh berharap kesadaran masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa, terhadap pentingnya partisipasi publik dalam penyelenggaraan pemerintahan dapat terus meningkat. Dengan demikian, berbagai aspirasi dan pengaduan masyarakat dapat tersalurkan secara tepat melalui mekanisme yang telah disediakan pemerintah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Nihil Penegakan Hukum, Perambahan Mangrove Aceh Tamiang Masih Berlanjut

0
mangrove
Lokasi perambahan kawasan hutan mangrove di Aceh Tamiang. (Foto AWF)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPNG — Aktivitas perambahan hutan mangrove di Desa Kuala Geunting, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, hingga kini belum menunjukkan penyelesaian hukum yang jelas.

Mengutip Betahita.com, pembangunan perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan produksi dan hutan lindung mangrove masih menjadi persoalan yang belum tuntas.

Laju deforestasi dan alih fungsi hutan mangrove di kawasan hutan lindung Aceh Tamiang dilaporkan masih terus terjadi.

Padahal, pada 24 September 2025 lalu, Aceh Wetland Forum (AWF), Lembaga Advokasi Hutan Lestari (Lembah Tari), dan Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) telah melaporkan kasus tersebut secara resmi kepada Direktur Pencegahan dan Penanganan Pengaduan Kehutanan agar segera ditindaklanjuti melalui proses hukum.

Berdasarkan laporan yang disampaikan, lokasi perambahan berada di dalam kawasan Hutan Produksi dan Hutan Lindung Desa Kuala Geunting.

Di area tersebut diduga terjadi perambahan kawasan hutan seluas sekitar 350 hektare dengan menggunakan empat unit alat berat jenis excavator merek Hitachi berwarna oranye.

Hasil analisis citra satelit menunjukkan aktivitas perambahan mulai terjadi sejak Oktober 2022 dan semakin meluas pada tahun 2024. Selain pembukaan lahan, di lokasi juga ditemukan sejumlah pondok kerja, kanal-kanal yang baru dibuat maupun ditinggikan, serta tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di dalam kawasan hutan.

Tim investigasi juga menemukan kerusakan ekosistem mangrove yang diperkirakan mencapai sekitar 500 hektare. Sebagian kawasan yang telah rusak tersebut diketahui telah ditanami kelapa sawit dengan usia tanaman berkisar antara delapan hingga dua belas bulan.

Berdasarkan analisis citra satelit, perubahan tutupan hutan terjadi secara bertahap sejak tahun 2020 hingga sekarang.

Laporan yang diajukan oleh organisasi masyarakat sipil tersebut mendapat tanggapan dari Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Sumatera pada 19 November 2025. Dalam surat balasannya kepada Aceh Wetland Forum, Balai Gakkum Kehutanan Sumatera menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan kegiatan Pengumpulan Bahan dan Keterangan (Pulbaket) pada 11 hingga 15 Agustus 2025.

Balai Gakkum juga menyatakan akan berkoordinasi dengan Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XVIII Banda Aceh serta Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH), dan berencana meningkatkan proses hukum ke tahap lebih lanjut.

Namun demikian, hingga kini belum terlihat perkembangan signifikan dalam penanganan kasus tersebut. Aktivitas perkebunan kelapa sawit yang diduga berada di dalam kawasan hutan masih berlangsung, sementara upaya penegakan hukum dinilai belum mampu menghentikan kerusakan yang terjadi.

Direktur Aceh Wetland Forum, Yusmadi Yusuf, menilai penyelesaian kasus perambahan hutan mangrove di Aceh Tamiang berjalan lamban dan belum menyentuh akar persoalan.

Menurutnya, penegakan hukum belum efektif karena belum diikuti dengan tindakan pidana terhadap para pelaku perambahan.

“Aktivitas perkebunan kelapa sawit yang terindikasi berada dalam kawasan hutan serta rantai pasoknya masih terus berlangsung.

Kondisi ini menunjukkan lemahnya komitmen dan efektivitas penegakan hukum kehutanan dalam menghentikan deforestasi dan memulihkan kawasan hutan yang telah dirambah,” ucapnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Kapolda Aceh: Investor Wajib Hormati Kearifan Lokal, Syariat Islam, dan Kelestarian Lingkungan

0
Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kapolda Aceh, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, menegaskan bahwa setiap investor yang ingin menanamkan modal di Aceh wajib menghormati kearifan lokal, syariat Islam, serta seluruh ketentuan hukum yang berlaku.

Pernyataan tersebut disampaikan Kapolda Aceh sebagai respons terhadap berbagai isu investasi yang berkembang di Aceh. Menurutnya, keberadaan investasi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai-nilai sosial, budaya, agama, dan lingkungan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Aceh.

Kapolda menegaskan bahwa kepolisian akan tetap menjalankan tugas dan fungsi sesuai amanat undang-undang dengan mengedepankan keamanan dan kenyamanan masyarakat.

“Artinya, mengutamakan keamanan dan kenyamanan,” kata Irjen Marzuki, Jumat (5/6/2026).

Jenderal bintang dua asal Pidie tersebut menjelaskan bahwa keberhasilan investasi tidak semata-mata ditentukan oleh aspek ekonomi. Lebih dari itu, investor juga harus mampu beradaptasi dengan norma dan nilai yang berlaku di daerah tempat mereka berinvestasi.

“Di mana pun berada harus demikian. Ibarat pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di samping itu, tentu saja setiap aktivitas harus sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Kapolda juga mengingatkan pentingnya menjaga tata krama dan menghormati martabat masyarakat setempat. Menurutnya, Aceh memiliki kekhususan yang tidak dimiliki daerah lain, yakni penerapan syariat Islam yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Aceh ini berlaku syariat Islam, maka hormati ketentuan itu,” tegasnya.

Selain menyoroti aspek sosial dan budaya, Kapolda turut menekankan pentingnya perlindungan lingkungan dalam setiap aktivitas investasi, terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam.

Marzuki menjelaskan bahwa masyarakat Aceh memiliki tradisi serta hukum adat yang diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga kelestarian alam. Nilai-nilai tersebut telah hidup sejak masa Kesultanan Aceh dan masih dihormati hingga saat ini.

“Di Aceh sudah ada hukum secara turun-temurun tentang perlindungan alam. Itu sudah ada sejak zaman Kesultanan Aceh. Hingga kini hukum-hukum adat tersebut masih dihormati. Itulah yang disebut kearifan lokal,” jelasnya.

Menurut Kapolda, sebagai institusi yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Polda Aceh juga berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Aceh.

Lebih lanjut, ia mengakui bahwa investasi memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan membuka peluang pembangunan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan harus tetap menjadi prioritas utama.

“Ketika kita bisa menyatu dengan masyarakat, maka kita dapat melangkah dengan tepat tanpa melukai hati rakyat,” katanya.

Kapolda mengingatkan agar investasi yang masuk ke Aceh tidak menimbulkan dampak negatif yang dapat merugikan masyarakat pada masa mendatang. Menurutnya, pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.

“Yang lebih penting lagi adalah kebahagiaan masyarakat setempat. Jangan sampai mereka hanya menerima musibah atau bencana alam di kemudian hari. Inilah yang perlu betul-betul kita jaga bersama. Mari sama-sama melindungi alam dan masyarakat yang berada di dalamnya,” pungkasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

228 Peserta Seleksi Polri di Aceh Lolos Rikkes II, Kapolda Ingatkan Jangan Percaya Calo

0
POLDA
Peserta seleksi calon anggota Polri Tahun Anggaran 2026 mengikuti sidang terbuka pengumuman hasil menuju Rikkes Tahap II di Gedung Meuligoe Polda Aceh, Kamis (4/6/2026) malam. (Foto: Humas Polda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebanyak 228 peserta dinyatakan lolos menuju Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Tahap II dalam seleksi penerimaan terpadu calon anggota Polri Tahun Anggaran 2026 di Polda Aceh.

Jumlah tersebut ditetapkan melalui sidang terbuka yang berlangsung di Gedung Meuligoe Polda Aceh, Kamis (4/6/2026) malam.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, mengatakan bahwa tahapan yang telah dilalui para peserta merupakan bagian dari proses seleksi untuk menjaring calon anggota Polri terbaik.

“Sidang ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses penyaringan untuk mendapatkan calon anggota Polri yang terbaik,” kata Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, Jumat (5/6/2026).

Dari total peserta yang lolos, formasi Bintara SPKT pria menjadi yang terbanyak dengan jumlah 114 peserta. Selain itu, peserta yang dinyatakan lolos juga berasal dari berbagai jalur penerimaan, mulai dari Akademi Kepolisian (Akpol), Rekrutmen Proaktif (Rekpro), Bintara Intelijen, Bintara Polair hingga Tamtama.

Adapun rincian peserta yang berhasil melaju ke Rikkes Tahap II yakni Akpol sebanyak 11 orang yang terdiri atas 10 pria dan satu wanita. Jalur Bintara Rekpro meloloskan delapan peserta, termasuk satu peserta talent scouting.

Selanjutnya, Bintara Intelijen sebanyak 15 peserta, Bintara Polair 14 peserta, Bintara PTU/SPKT wanita 12 peserta, Bintara SPKT pria 114 peserta, Tamtama 49 peserta, dan Tamtama Polair lima peserta.

Joko mengingatkan seluruh peserta yang telah dinyatakan lulus agar terus mempersiapkan diri menghadapi tahapan seleksi berikutnya.

“Peserta yang dinyatakan lulus agar terus mempersiapkan diri menghadapi tahapan berikutnya, khususnya Rikkes Tahap II dan uji kesamaptaan jasmani yang membutuhkan kesiapan fisik, kesehatan, serta mental yang prima,” ujarnya.

Sidang terbuka tersebut turut disaksikan oleh pengawas internal dan eksternal. Pengawasan dilakukan antara lain oleh Ombudsman RI Perwakilan Aceh serta tim pengawas teknologi informasi dari Universitas Syiah Kuala.

Kehadiran para pengawas tersebut menjadi bagian dari penerapan prinsip Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH) dalam proses rekrutmen Polri.

Pada kesempatan yang sama, Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah kembali mengingatkan para peserta maupun orang tua agar tidak mudah percaya kepada pihak-pihak yang mengaku dapat meloloskan peserta dalam proses seleksi.

“Apabila ada pihak yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan tertentu, jangan terpengaruh dan segera laporkan kepada panitia.

Rekrutmen Polri dilaksanakan secara transparan dan hasil seleksi ditentukan sepenuhnya berdasarkan kemampuan serta prestasi peserta,” tegasnya.

Kapolda Aceh juga meminta para peserta yang berhasil melaju ke tahapan berikutnya untuk memanfaatkan waktu yang tersedia dengan sebaik-baiknya guna mempersiapkan diri, baik dari sisi kesehatan, kebugaran jasmani maupun kesiapan mental.

Sementara itu, bagi peserta yang belum berhasil pada tahapan ini diminta untuk tetap semangat dan menjadikan hasil seleksi tahun ini sebagai bahan evaluasi agar dapat mempersiapkan diri lebih baik pada kesempatan berikutnya.

“Polri membutuhkan calon anggota yang tidak hanya memiliki kemampuan yang baik, tetapi juga berkarakter dan berdedikasi tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Setelah dinyatakan lolos pada tahap ini, para peserta akan melanjutkan proses seleksi ke Rikkes Tahap II yang menjadi salah satu tahapan penting sebelum mengikuti rangkaian seleksi berikutnya dalam penerimaan anggota Polri Tahun Anggaran 2026.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Dalam Silaturahmi Idul Adha, Ulama Aceh Sampaikan Lima Poin Strategis kepada Gubernur Mualem

0
ulama
Rombongan ulama Aceh yang tergabung dalam Majelis Permusuawaratan Ulama (Aceh), melakukan silaturrahmi lebaran di pendopo Gubernuran setempat.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Suasana hangat Idul Adha 1447 Hijriah menjadi momentum bagi para ulama Aceh yang tergabung dalam Pimpinan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh untuk menyampaikan sejumlah persoalan strategis kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem.

Silaturahmi yang berlangsung di Meuligoe Gubernur Aceh, Rabu (3/6/2026), dipimpin langsung Ketua MPU Aceh, Teungku Faisal Ali atau yang akrab disapa Lem Faisal. Turut hadir Wakil Ketua MPU Aceh Abi Bayu, Abon Muhib, Abiya Hatta, serta Kepala Sekretariat MPU Aceh Zahrol Fajri.

Dalam pertemuan yang berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan tersebut, Teungku Faisal Ali menyampaikan lima poin penting yang dinilai berkaitan langsung dengan kepentingan umat dan pembangunan Aceh.

Penanganan Bencana Harus Dipercepat

Poin pertama yang disampaikan MPU Aceh berkaitan dengan penanganan dampak bencana banjir hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025 lalu.

Menurut Abu Faisal, hingga kini masih terdapat berbagai persoalan yang belum tertangani secara optimal, mulai dari sarana pendidikan, pusat-pusat ekonomi masyarakat, fasilitas publik hingga pembangunan rumah warga terdampak.

“Di lapangan masih banyak kendala, terutama terkait sarana dan prasarana pendidikan, sentra ekonomi masyarakat hingga sarana publik lainnya. Pembangunan rumah warga korban, sehingga bisa kembali pulih dan normal kembali. Juga jembatan, perlu dipercepat, karena selama ini sering macet di jalan nasional. Seperti di Bireuen sehingga ekonomi masyarakat terganggu, berdampak pada kenaikan harga bahan pokok,” ujar Teungku Faisal.

MPU Aceh meminta Gubernur Aceh menyampaikan aspirasi tersebut kepada pemerintah pusat agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera dipercepat.

Soroti Tambang Ilegal dan Kerusakan Lingkungan

Persoalan kedua yang menjadi perhatian ulama Aceh adalah maraknya aktivitas tambang ilegal yang dinilai berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.

MPU Aceh menyoroti aktivitas tambang emas ilegal yang berpotensi mencemari sungai melalui limbah merkuri. Kondisi tersebut dikhawatirkan tidak hanya merusak habitat ikan dan ekosistem sungai, tetapi juga dapat menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat yang mengonsumsi hasil tangkapan dari kawasan terdampak.

Para ulama berharap pemerintah mengambil langkah tegas guna mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas dan berkepanjangan.

Persiapan MTQ Nasional 2028

Dalam kesempatan itu, MPU Aceh juga menyinggung penetapan Aceh sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-33 tahun 2028.

Menurut Teungku Faisal, pemerintah perlu segera memulai berbagai persiapan agar pelaksanaan agenda nasional tersebut dapat berjalan maksimal.

“Kami menyarankan kepada Gubernur Aceh agar segera membentuk kepanitiaan sehingga dapat terus bekerja selama 2 tahun persiapan. Kemudian menetapkan lokasi yang strategis untuk arena MTQ. Lalu menyiapkan sarana prasarana yang diperlukan. Berikut mengalokasikan dana dua tahun anggaran. Agar semua kebutuhan terakomodasi dengan baik,” kata Ketua MPU Aceh Teungku Faisal Ali.

MPU menilai pembentukan kepanitiaan sejak dini akan memberikan waktu yang cukup untuk menyiapkan infrastruktur, lokasi kegiatan, serta kebutuhan anggaran yang diperlukan.

Pertahankan Kewenangan Sertifikasi Halal Aceh

Poin ketiga menyangkut keistimewaan dan kekhususan Aceh, khususnya terkait sertifikasi halal bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

MPU Aceh meminta agar kewenangan yang telah diatur dalam undang-undang dan Qanun Aceh tetap dipertahankan, termasuk mekanisme sertifikasi halal melalui LPPOM MPU Aceh.

Menurut para ulama, selain merupakan bagian dari pelaksanaan kekhususan Aceh, kebijakan tersebut juga memiliki dampak terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Jika kewenangan tersebut tidak dijalankan sesuai ketentuan qanun, dikhawatirkan Aceh akan kehilangan potensi pendapatan yang selama ini diperoleh dari sektor tersebut.

Perkuat Syariat Islam dan Optimalisasi Baitul Mal

Persoalan keempat yang disampaikan adalah perlunya penguatan implementasi Instruksi Gubernur terkait salat berjamaah serta pengaturan aktivitas masyarakat pada waktu-waktu ibadah.

MPU Aceh menilai kebijakan tersebut masih perlu ditindaklanjuti secara serius oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) maupun pemerintah kabupaten/kota agar syiar Islam semakin hidup di tengah masyarakat.

Selain itu, para ulama juga menyoroti fenomena remaja yang kerap menghabiskan waktu hingga larut malam di warung kopi.

“Pimpinan MPU Aceh juga meminta agar Gubernur segera menetapkan dan melantik Kepala Dinas Syariat Islam Aceh dan Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh yang definitif karena lembaga tersebut terkait langsung dengan pelaksanaan implementasi Syariat Islam di lapangan sehingga bisa berjalan maksimal,” terangnya.

Poin terakhir yang disampaikan MPU Aceh berkaitan dengan pengelolaan anggaran pada Baitul Mal Aceh. Para ulama meminta pemerintah melakukan penyempurnaan regulasi agar penggunaan dana zakat, infak, sedekah, dan sumber dana lainnya dapat lebih fleksibel serta tepat sasaran.

“Apalagi dengan regulasi sekarang masih menjadi salah satu kendala banyaknya anggaran yang belum terserap,” tambah Lem Faisal yang diamini Tengku Muhammad Hatta.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang didampingi Asisten I Setda Aceh M. Syakir, Kepala Biro Isra Setda Aceh, Plt Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, dan Kepala Biro Adpim Setda Aceh menyambut baik seluruh saran yang disampaikan pimpinan MPU Aceh.

Pertemuan tersebut menjadi ruang komunikasi antara pemerintah dan ulama dalam membahas berbagai isu strategis yang dinilai berpengaruh terhadap pembangunan, pelaksanaan syariat Islam, serta kesejahteraan masyarakat Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

DPR Minta KAI Benahi Jalur Eksisting Sebelum Wujudkan Kereta Banda Aceh-Bandar Lampung

0
DPR
Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim atau yang akrab disapa Gus Rivqy. (Foto: Fraksi PKB)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim atau yang akrab disapa Gus Rivqy, menanggapi rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero untuk membangun konektivitas jalur kereta api dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Rencana tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan jaringan rel terintegrasi di Pulau Sumatera.

Menurut Gus Rivqy, gagasan pembangunan jalur kereta lintas Sumatera merupakan visi besar yang layak diapresiasi. Proyek tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat konektivitas antarwilayah, menekan biaya logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah di Sumatera.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pembangunan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat dan dunia usaha. Selain itu, pemerintah dan KAI juga diminta tidak mengabaikan berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi sektor transportasi darat di Sumatera.

“Kita mendukung penuh visi Presiden untuk menghadirkan konektivitas rel yang terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Namun pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada panjang jalur yang dibangun. Yang lebih penting adalah memastikan jalur yang sudah ada berfungsi optimal, cepat, aman, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” ujar Gus Rivqy di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Ketua Umum DKP Panji Bangsa tersebut menyoroti bahwa hingga kini sejumlah layanan kereta api di Sumatera masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait efisiensi operasional dan kecepatan perjalanan. Menurutnya, beberapa lintas kereta api yang sudah beroperasi masih belum dimanfaatkan secara maksimal dan memerlukan peningkatan kapasitas serta kualitas layanan.

Ia mencontohkan koridor Lampung–Palembang maupun Palembang–Lubuk Linggau yang dinilai masih membutuhkan penguatan agar benar-benar mampu menjadi tulang punggung mobilitas penumpang dan distribusi barang di kawasan tersebut.

“Jangan sampai kita berbicara membangun ribuan kilometer rel baru, sementara pada beberapa jalur eksisting kereta masih bergerak relatif lambat dan utilisasinya belum maksimal. Koridor Lampung-Palembang atau Palembang-Lubuk Linggau misalnya masih membutuhkan penguatan agar benar-benar menjadi tulang punggung mobilitas penumpang dan distribusi barang,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Rivqy mengingatkan bahwa jaringan perkeretaapian di Sumatera selama ini masih didominasi oleh layanan angkutan barang, terutama untuk komoditas tambang dan kebutuhan logistik tertentu. Oleh sebab itu, perencanaan pembangunan rel lintas Sumatera harus mampu menghadirkan keseimbangan antara kebutuhan angkutan barang dan pelayanan bagi penumpang.

Sebagai Kapoksi Fraksi PKB Komisi VI DPR RI, ia menilai pembangunan jaringan rel lintas Sumatera juga harus disinergikan dengan pembangunan infrastruktur lainnya. Menurutnya, pengalaman pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera yang hingga kini masih berproses dan belum sepenuhnya optimal dari sisi konektivitas maupun utilisasi dapat menjadi pelajaran penting dalam merancang proyek rel lintas Sumatera.

“Kita memiliki jalan tol Trans Sumatera yang pembangunannya masih terus berproses dan pemanfaatannya juga belum maksimal di beberapa ruas. Karena itu, pembangunan rel lintas Sumatera harus benar-benar didasarkan pada perencanaan yang terintegrasi, proyeksi permintaan yang kuat, serta kemampuan pembiayaan yang terukur agar tidak menjadi proyek yang besar di atas kertas tetapi minim manfaat di lapangan,” jelasnya.

Karena itu, Gus Rivqy mendorong KAI bersama pemerintah untuk menyusun peta jalan yang jelas dan terukur. Langkah tersebut, menurutnya, dapat dimulai dari optimalisasi jalur yang telah ada, peningkatan kecepatan perjalanan kereta, pembangunan jalur penghubung yang paling mendesak secara ekonomi, hingga pengembangan konektivitas penuh dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung secara bertahap.

“Visi besar harus disambut dengan langkah yang realistis. Kita ingin rel lintas Sumatera menjadi simbol kemajuan transportasi nasional, tetapi keberhasilannya harus diukur dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha, bukan semata-mata dari panjang rel yang berhasil dibangun,” katanya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News