Beranda blog Halaman 585

Komisi I DPRK Banda Aceh Lakukan Kunjungan ke Mitra Kerja untuk Evaluasi LKPJ 2024

0
Komisi I DPRK Banda Aceh Lakukan Kunjungan ke Mitra Kerja untuk Evaluasi LKPJ 2024. (Foto: DPRK BNA)

NUKILAN.id | Banda Aceh Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh melakukan kunjungan kerja dan rapat dengan sejumlah mitra kerja, pada Senin (21/04/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari proses evaluasi terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Walikota Banda Aceh Tahun Anggaran 2024.

Ketua Komisi I, Teuku Nanta Muda, yang memimpin rombongan, didampingi oleh anggota Komisi I lainnya, yakni Aiyub Bukhari, Teuku Arief Khalifah, Ismawardi, dan Zulkasmi, menyampaikan bahwa kunjungan ini dilakukan untuk memastikan berbagai program yang sudah disampaikan dalam LKPJ berjalan dengan baik di lapangan.

“Kunjungan ini bertujuan untuk melihat kondisi riil di lapangan, mendengar aspirasi masyarakat secara langsung, serta memastikan bahwa pelayanan publik berjalan sesuai harapan,” ujar Teuku Nanta Muda.

Menurut Teuku Nanta Muda, tujuan utama kunjungan ini adalah untuk melakukan pengawasan langsung terhadap pelaksanaan program pemerintah, serta mendapatkan masukan dari masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi dan penyusunan rekomendasi strategis Komisi I DPRK Banda Aceh ke depan.

Politisi dari Partai Nasdem ini menegaskan, temuan yang didapatkan di lapangan akan sangat berarti dalam merumuskan langkah-langkah perbaikan dalam pemerintahan. Komisi I, yang membidangi masalah pemerintahan, hukum, dan politik, akan menggelar rapat lebih lanjut untuk membahas temuan-temuan ini secara mendalam.

“Kami dari Komisi I yang membidangi pemerintahan, hukum, dan politik akan melanjutkan pembahasan secara mendalam dalam rapat-rapat komisi, dan menyusun rekomendasi strategis untuk disampaikan kepada Wali Kota sebagai bagian dari perbaikan ke depan,” kata Teuku Nanta Muda.

Lebih lanjut, Ketua Komisi I berharap rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya sekedar menjadi formalitas, melainkan benar-benar diterapkan untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan di Banda Aceh.

“Dan kami siap kerja sama yang solid antara legislatif, eksekutif, dan masyarakat terus terjalin demi kemajuan Banda Aceh yang lebih baik,” tutupnya.

Dengan kunjungan ini, diharapkan sinergi antara pihak legislatif, eksekutif, dan masyarakat dapat terus diperkuat demi tercapainya Banda Aceh yang lebih baik di masa depan.

Rektor UTU Usulkan Presiden Prabowo Peringati 17 Agustus di Aceh

0
Rektor Universitas Teuku Umar (Foto: Humas UTU)

NUKILAN.id | Meulaboh – Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. Ishak Hasan, M.S., mengajukan usulan yang tak biasa namun sarat makna: agar Presiden terpilih Prabowo Subianto menggelar upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-79 pada 17 Agustus mendatang di Aceh.

Menurutnya, wacana ini merupakan langkah strategis dalam mengukuhkan semangat persatuan nasional sekaligus bentuk pengakuan nyata atas kontribusi besar rakyat Aceh dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Jika diwujudkan, Presiden Prabowo akan menjadi pionir pemimpin yang membawa tradisi baru, menggeser sentralisme upacara kenegaraan ke daerah yang punya ikatan emosional mendalam dengan republik,” ujar Prof. Ishak.

Ia menegaskan bahwa tidak ada aturan yang mengharuskan upacara kenegaraan 17 Agustus hanya dilakukan di Jakarta. Justru, menurut Guru Besar Ilmu Sosial itu, memindahkan peringatan ke Aceh akan menjadi simbol kuat bahwa pemerintah pusat menghargai kontribusi seluruh wilayah, termasuk daerah yang selama ini kerap merasa tersisih dari narasi nasional.

Prof. Ishak menyebutkan sejumlah alasan mengapa Aceh layak dipilih sebagai lokasi upacara kemerdekaan. Pertama, Aceh memiliki rekam jejak historis dalam mempertahankan kedaulatan bangsa, mulai dari masa penjajahan hingga masa awal kemerdekaan.

“Dari dana pesawat Seulawah hingga perlawanan rakyat Aceh, kontribusi mereka adalah pondasi eksistensi Indonesia,” tegasnya.

Ia bahkan menyarankan agar upacara digelar di lokasi yang memiliki nilai historis tinggi. “Jika perlu, di depan pesawat GIA Blangpadang yang bertuliskan ‘Sumbangan Semangat Nasionalisme Rakyat Aceh’ simbol awal kemandirian Indonesia. Atau di bekas Hotel Atjeh, sebelah Masjid Raya Baiturrahman, tempat rakyat Aceh mengumpulkan dan menyerahkan emas untuk pembelian pesawat kepada Presiden Soekarno,” paparnya.

Lebih jauh, Prof. Ishak menilai Aceh sebagai simpul nasionalisme yang menghubungkan Indonesia dari barat hingga timur.

“Persatuan Indonesia dimulai dari Aceh. Merayakan kemerdekaan di sini adalah pengingat bahwa semangat kebangsaan harus terus dipupuk dari akar sejarah,” tambahnya.

Ia juga menyoroti kedekatan emosional antara Presiden Prabowo dengan Gubernur Aceh sebagai peluang mempererat sinergi pusat dan daerah.

“Hubungan baik ini bisa menjadi modal mempererat koordinasi pusat-daerah, sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah merangkul daerah yang kerap merasa terpinggirkan,” katanya.

Lebih dari sekadar seremoni, Prof. Ishak menilai bahwa menggelar upacara 17 Agustus di Aceh bisa menjadi langkah rekonsiliasi historis dan kultural antara Jakarta dan Aceh pascakonflik yang panjang.

“Ini momentum membangun narasi baru, Aceh bukan hanya daerah konik, tetapi mitra utama dalam memajukan Indonesia,” ucapnya.

Baginya, gagasan ini bukan sekadar simbolis, melainkan penting untuk mengembalikan memori kolektif bangsa tentang peran krusial daerah dalam kemerdekaan.

“Aceh layak menjadi pembuka lembaran baru di era kepemimpinan Prabowo, di mana kemerdekaan tidak hanya dirayakan di ibu kota, tetapi juga di tanah yang darah rakyatnya pernah menjadi tinta bagi lahirnya Indonesia,” tegasnya.

Ia pun berharap, jika ide ini direalisasikan, maka akan menjadi warisan sejarah yang memperkuat semangat kebangsaan.

“Seperti emas rakyat Aceh yang menjadi sayap pertama pesawat Republik, semangat itu harus terus dikibarkan,” pungkasnya.

Calon Doktor Aceh Dibekali Strategi Hadapi Seleksi Beasiswa LPDP

0
Ilustrasi LPDP. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sebanyak 30 calon mahasiswa program doktoral (S3) dari berbagai kabupaten/kota di Aceh mengikuti seminar bertajuk Behavioural Event Interview for Scholarship yang digelar di Darussalam, Banda Aceh, Minggu (20/4). Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan menghadapi tahapan wawancara seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun 2025.

Ketua panitia kegiatan, Arief Fadhillah, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang secara komprehensif, mencakup aspek teknis wawancara hingga substansi akademik yang menjadi poin penting dalam seleksi LPDP.

“Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman pelatihan yang menyeluruh tidak hanya dari sisi teknik wawancara, tetapi juga dari sisi substansi akademik yang dituntut dalam seleksi LPDP,” ujar Arief di sela-sela kegiatan.

Seminar tersebut merupakan kolaborasi antara Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Aceh.

Ketua Prodi Magister KPI, Dr Ade Irma, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen institusi dalam mendukung pengembangan akademik calon mahasiswa doktoral, tidak hanya lewat jalur pendidikan formal, tetapi juga melalui pendekatan aplikatif dan kolaboratif lintas institusi.

“Kami berharap para peserta tidak hanya terampil dalam menjawab pertanyaan berbasis pengalaman, tetapi juga mampu membingkai gagasan riset mereka secara strategis dan meyakinkan,” katanya.

Ketua ISKI Aceh, Dr Hamdani, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Seminar juga menghadirkan narasumber utama, Dr Muhammad Aulia, Koordinator Program Studi Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Syiah Kuala. Ia membagikan strategi menghadapi Behavioural Event Interview (BEI) secara efektif serta memberikan panduan dalam menyusun proposal riset yang relevan dengan disiplin ilmu masing-masing.

Kegiatan ini sekaligus menunjukkan komitmen bersama UIN Ar-Raniry dan ISKI Aceh dalam mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia Aceh, khususnya dalam menembus jenjang pendidikan doktoral melalui jalur beasiswa bergengsi seperti LPDP.

Editor: Akil

Tiga Orang Tewas dalam Tabrakan Maut Minibus dan Sepeda Motor di Aceh Jaya

0
Polisi mengatur lalu lintas di lokasi kecelakaan, Jalan Banda Aceh-Meulaboh KM 137, Gampong Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Calang – Kecelakaan tragis terjadi di Jalan Banda Aceh-Meulaboh KM 137, Gampong Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, Minggu (20/4/2025) siang. Sebuah sepeda motor bertabrakan dengan minibus hingga menewaskan tiga orang, termasuk seorang balita.

Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kombes Pol. M. Iqbal Alqudusy, membenarkan insiden tersebut. Ia menyebutkan kecelakaan melibatkan sebuah minibus Toyota Innova dan sepeda motor Honda Beat.

“Peristiwa terjadi sekitar pukul 13.45 WIB,” ujar Kombes Iqbal.

Ketiga korban tewas diketahui merupakan pengendara dan penumpang sepeda motor, yaitu Rusmian (52) dan Nur Fadriah (30) yang merupakan ibu rumah tangga, serta seorang anak perempuan bernama Khanza (3). Ketiganya warga Desa Lhok Timon, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya.

Sementara dari pihak minibus, dua orang mengalami luka-luka. Pengemudi mobil, Sacky Akbar (25), warga Alue Ambang, Kecamatan Teunom, mengalami luka di bagian kepala dan wajah. Sedangkan penumpangnya, M. Haris (25), warga Lam Paya, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, mengalami luka di bagian hidung.

Berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan awal dari saksi, kecelakaan bermula ketika sepeda motor yang dikendarai Rusmian melaju dari arah Banda Aceh menuju Meulaboh. Saat hendak mendahului kendaraan di depannya, motor tersebut diduga mengambil jalur kanan, di mana pada saat bersamaan melaju minibus dari arah berlawanan. Tabrakan pun tak terhindarkan.

Ketiga korban dari sepeda motor sempat dilarikan ke Puskesmas Lageun. Namun, menurut Kombes Iqbal, “Tenaga kesehatan di puskesmas tersebut menyatakan ketiganya meninggal dunia.”

Pasca kejadian, polisi langsung mengamankan kedua kendaraan sebagai barang bukti serta melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) bersama jajaran Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Jaya.

“Tim Ditlantas Polda Aceh juga ke lokasi membantu olah tempat kejadian perkara yang dilakukan personel Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Jaya guna mengungkap penyebab kecelakaan lalu lintas yang merenggut tiga korban jiwa,” kata Kombes Iqbal.

Kecelakaan ini menambah deretan insiden maut yang terjadi di jalur lintas barat Aceh. Pihak kepolisian mengimbau pengendara untuk lebih berhati-hati dan mematuhi aturan lalu lintas, terutama saat melintasi jalur dengan kontur sempit dan berkelok.

Kursi Kosong Sekda Aceh dan Bahaya Administrasi yang Tak Bertuan

0
Ilustrasi Kursi Kosong. (Foto: mengeja.id)

NUKILAN.id | Opini – Di ruang megah Anjong Mon Mata, tempat sakral di mana para pejabat Aceh diambil sumpahnya, tangan-tangan baru sudah berkali-kali menerima surat keputusan. Namun, di tengah semua upacara dan pelantikan itu, satu kursi penting dibiarkan kosong terlalu lama: Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh.

Lebih dari setahun telah berlalu sejak Bustami Hamzah, Sekda definitif terakhir, dilantik menjadi Penjabat (Pj) Gubernur Aceh pada Maret 2024. Sejak itu, jabatan Sekda bergerak tak menentu—berganti dari Pelaksana Harian (Plh), Penjabat (Pj), hingga Pelaksana Tugas (Plt)—tanpa ada kejelasan arah. Sebuah situasi yang seharusnya memantik keprihatinan serius, bukan sekadar menjadi konsumsi rumor birokrasi.

Kisah kosongnya kursi Sekda Aceh mencerminkan lebih dari sekadar kelalaian administratif. Ia adalah potret absennya ketegasan dalam mengelola pemerintahan daerah.

Bustami Hamzah, yang menggantikan Taqwallah pada 2022, hanya sempat mengisi jabatan Sekda selama enam bulan sebelum diangkat menjadi Pj Gubernur. Setelah itu, estafet jabatan Sekda berjalan di tempat. Dari Azwardi, Muhammad Diwarsyah, Alhudri, hingga kini M Nasir Syamaun, kursi itu hanya diisi pejabat sementara, sebagian bahkan merangkap jabatan lain.

Secara hukum, memang ada celah yang memperbolehkan pengangkatan Plt Sekda dari kalangan kepala SKPA dalam kondisi darurat. Namun, yang darurat bukan berarti harus berlarut-larut menjadi normal baru. Justru keadaan itu harusnya memantik percepatan seleksi Sekda definitif agar sistem administrasi tetap terjaga dalam koridor stabilitas pemerintahan.

Yang terjadi di Aceh justru sebaliknya. Kekosongan ini seperti sengaja dipelihara, seolah jabatan Sekda hanya soal teknis administratif belaka, padahal realitasnya jauh lebih strategis. Sekda bukan sekadar penyambung surat dan nota dinas. Ia adalah motor penggerak pembangunan, pemimpin koordinasi lintas dinas, dan benteng pertama reformasi birokrasi.

Rangkap jabatan, pelantikan kilat, hingga pergantian mendadak membuat tugas-tugas strategis itu tidak berjalan maksimal. Lebih berbahaya lagi, membuka ruang konflik kepentingan dan memperlemah akuntabilitas pemerintahan.

Tarik-menarik politik menjadi bayang-bayang tak kasatmata dalam drama ini. Sumber internal pemerintahan menyebutkan bahwa pasca Pilkada 2024, posisi Sekda menjadi barang rebutan: menjadi alat tawar, bahkan “hadiah politik” untuk mengamankan jalannya kekuasaan baru.

Jika politik jangka pendek menjadi dasar penentuan siapa yang layak duduk di kursi Sekda, maka yang dikorbankan adalah kesinambungan pelayanan publik dan efektivitas birokrasi.

Padahal regulasinya jelas. Proses seleksi Sekda definitif harus melalui panitia seleksi independen, uji kompetensi yang ketat, dan persetujuan Menteri Dalam Negeri. Semua ini dirancang untuk menghindari intervensi politik sempit. Tapi sejauh ini, tahapan seleksi itu hanya menjadi wacana tanpa tindak lanjut.

Aceh kini menghadapi risiko serius: stagnasi administrasi di saat daerah ini butuh lompatan pembangunan pasca-pemilu. Di tengah gelombang perubahan politik, Aceh butuh lebih dari sekadar roda birokrasi yang berputar. Aceh butuh pemimpin administratif yang mampu menjaga marwah pemerintahan, bukan sekadar pengisi kekosongan.

Ketiadaan Sekda definitif bukan hanya soal kekosongan kursi. Ini soal kosongnya kepastian arah. Ini soal lemahnya fondasi di saat Aceh butuh kepemimpinan yang berani mengambil keputusan strategis untuk rakyat.

Publik Aceh berhak mendapatkan lebih. Mereka berhak atas birokrasi yang profesional, bersih dari tarik-menarik politik, dan mampu berlari cepat melayani kebutuhan masyarakat. Mereka berhak atas Sekda yang definitif, bukan sekadar Plh, Pj, atau Plt yang berganti-ganti.

Sampai kapan rakyat harus menunggu? Pertanyaan ini mestinya tidak ditanggapi dengan janji-janji basa-basi. Ia butuh jawaban nyata: seleksi terbuka, proses yang transparan, dan keberanian politik untuk memilih yang terbaik—bukan yang paling dekat dengan kekuasaan.

Karena tanpa itu, kekosongan ini akan menjadi simbol kegagalan kita menjaga marwah pemerintahan sendiri. (XRQ)

Penulis: AKil

BPBD Aceh Barat Kerahkan Tim WRU dan Pawang, Atasi Gangguan Gajah di Sungai Mas

0
BPBD Aceh Barat Kerahkan Tim WRU dan Pawang, Atasi Gangguan Gajah di Sungai Mas. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Dua ekor gajah liar kembali memasuki kawasan permukiman warga di Desa Pungkie, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat, Minggu (20/4/2025). Menanggapi situasi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat langsung mengerahkan Tim Wildlife Response Unit (WRU) untuk menghalau satwa dilindungi tersebut.

“Kami mengerahkan tim ke Sungai Mas guna mengatasi gangguan gajah terhadap tanaman kelapa sawit milik masyarakat,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah.

Tim WRU diterjunkan ke lokasi untuk mencegah kawanan gajah agar tidak semakin mendekati kawasan permukiman atau merusak lahan perkebunan warga. Setibanya di lapangan, petugas menemukan sejumlah pohon kelapa sawit dalam kondisi rusak, diduga akibat dimakan oleh gajah liar yang turun dari hutan.

Untuk memperkuat penanganan, BPBD juga mengikutsertakan seorang pawang gajah guna meminimalkan risiko interaksi langsung antara hewan liar dan manusia.

Hingga Minggu malam, keberadaan gajah masih terpantau di sekitar desa, namun belum kembali memasuki wilayah permukiman.

BPBD berharap kehadiran tim WRU dapat menekan intensitas gangguan gajah yang dalam beberapa waktu terakhir kerap meresahkan warga di wilayah pedalaman Aceh Barat.

Editor: Akil

Aceh Raih Gold Award UB Halalmetric 2025, Bukti Komitmen Perkuat Ekosistem Halal dan Wisata Syariah

0
Aceh Raih Gold Award UB Halalmetric 2025, Bukti Komitmen Perkuat Ekosistem Halal dan Wisata Syariah. (Foto: BPPA)

NUKILAN.id | Malang – Pemerintah Aceh kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Kali ini, penghargaan bergengsi datang dari ajang UB Halalmetric Award 2025, yang diselenggarakan Universitas Brawijaya sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi berbagai sektor dalam memperkuat ekosistem halal di Indonesia.

Dalam ajang tersebut, Aceh berhasil meraih Gold Award untuk kategori sektor pemerintahan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Dr. Berry Juliandi, S.Si., M.Si., selaku Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti, mewakili Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Turut hadir Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Brawijaya.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan metode self-reporting dengan lima indikator utama, yakni: kebijakan, pendidikan, riset, infrastruktur, dan ekosistem halal. Capaian ini menempatkan Aceh sejajar dengan sejumlah lembaga dan industri nasional yang dinilai berhasil mengintegrasikan nilai-nilai halal ke dalam sistem pembangunan berkelanjutan.

Proses penerimaan penghargaan ini turut didampingi oleh Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) yang selama ini berperan aktif menjembatani berbagai agenda strategis Pemerintah Aceh di tingkat nasional. Kehadiran BPPA sekaligus mencerminkan sinergi antarinstansi dalam mempromosikan posisi Aceh sebagai pusat pengembangan ekosistem halal.

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyambut antusias penghargaan tersebut. Ia menyebut pencapaian ini sebagai bentuk nyata dari komitmen Pemerintah Aceh dalam memperkuat ekosistem halal di berbagai sektor strategis.

“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi pemicu semangat bagi kami untuk terus mengembangkan potensi Aceh dalam sektor halal. Terima kasih kepada Universitas Brawijaya dan Kementerian Dikti atas pengakuan ini,” ujar Fadhlullah usai menerima penghargaan di Aula Universitas Brawijaya, Malang, Senin, 21 April 2025.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa apresiasi ini akan menjadi motivasi untuk terus menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Apa yang kita capai hari ini akan terus kita pertahankan, bahkan kita kembangkan agar dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat Aceh,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, SSTP., M.Si., menilai penghargaan ini sebagai dorongan baru untuk mempercepat pengembangan wisata halal di Aceh. Menurutnya, sektor ini telah menjadi bagian dari visi besar pembangunan daerah.

“Penguatan ekosistem halal, termasuk sektor pariwisata, telah menjadi komitmen bersama. Kita akan terus memperkuat infrastruktur dan layanan wisata syariah agar Aceh tampil sebagai destinasi utama halal tourism di Indonesia,” kata Almuniza.

Di ajang yang sama, beberapa institusi lain turut meraih Platinum Award, di antaranya UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Brawijaya, Politeknik Negeri Malang, PT Aerofood ACS, dan PT Ajinomoto Indonesia.

UB Halalmetric Award diharapkan mampu mendorong kolaborasi lintas sektor. Tujuannya adalah membangun sistem halal nasional yang inklusif, terintegrasi, dan berdaya saing global. Dalam konteks ini, posisi Aceh dinilai strategis sebagai salah satu poros penting dalam pengembangan industri dan wisata halal di Indonesia.

Wagub Aceh Fadlullah Tinjau Asrama Mahasiswa di Malang, Dengarkan Keluhan Langsung dari Penghuni

0
Wagub Aceh Fadlullah Tinjau Asrama Mahasiswa di Malang, Dengarkan Keluhan Langsung dari Penghuni. (Foto: BPPA)

NUKILAN.id | Malang – Wakil Gubernur Aceh, Fadlullah, melakukan kunjungan langsung ke sejumlah asrama mahasiswa Aceh di Malang, Jawa Timur, Senin (21/4/2025). Didampingi oleh Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), ia menyerap langsung berbagai keluhan yang disampaikan mahasiswa terkait kondisi asrama yang memprihatinkan.

Kunjungan ini turut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, serta Kepala BPPA, Said Marzuki. Kehadiran mereka mencerminkan perhatian serius Pemerintah Aceh terhadap warganya yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah.

Salah satu titik yang disambangi adalah Asrama Putri Pocut Baren. Di lokasi ini, mahasiswa mengeluhkan berbagai persoalan, mulai dari atap bocor, saluran air rusak, hingga lantai yang kerap tergenang air saat hujan. Tak hanya itu, kondisi fasilitas seperti dapur, penerangan, hingga lemari penyimpanan disebut sudah tidak layak pakai.

Menanggapi hal tersebut, Fadlullah menegaskan komitmen pemerintah untuk segera mengambil tindakan perbaikan.

“Kita sudah dengar langsung dari mahasiswa. Permasalahan seperti atap bocor, saluran air dari dapur, bahkan sampai bau tak sedap dari wastafel, ini tidak boleh dibiarkan. Pemerintah Aceh akan memastikan perbaikan dilakukan secara menyeluruh,” tegas Fadlullah.

Dalam arahannya, ia juga meminta agar proses renovasi dilakukan secara menyeluruh, tidak sekadar tambal sulam. Menurutnya, mahasiswa harus mendapatkan tempat tinggal yang aman dan nyaman agar proses belajar tidak terganggu.

“Kami hadir untuk mendengar dan memberi solusi. Mahasiswa adalah aset masa depan Aceh. Sudah sepatutnya mereka mendapat tempat tinggal yang layak selama menuntut ilmu,” ujar Fadlullah.

Tak hanya di Pocut Baren, kunjungan juga dilakukan ke asrama mahasiswa Aceh lainnya di Malang, yakni Asrama Cut Meutia dan Chik Ditiro. Di setiap titik, Fadlullah menyempatkan diri berdialog langsung dengan mahasiswa, menyerap aspirasi, sekaligus memberikan motivasi.

Pada kesempatan itu, ia mengapresiasi semangat mahasiswa Aceh yang tetap gigih menuntut ilmu jauh dari kampung halaman. Ia juga berpesan agar mereka tetap menjaga nama baik daerah serta terus berkontribusi demi pembangunan Aceh di masa depan.

Kunjungan ini diharapkan menjadi awal dari langkah konkret perbaikan fasilitas mahasiswa Aceh di perantauan, sekaligus mempererat hubungan emosional antara pemerintah dan warganya yang sedang menimba ilmu di luar provinsi.

Perwakilan Wihara Budha Puji Toleransi Beragama di Banda Aceh

0
Kesbangpol Aceh bekerja sama dengan Kesbangpol Kota Banda Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) di Aula De Kupi Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Pemerintah Aceh melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh bekerja sama dengan Kesbangpol Kota Banda Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) di Aula De Kupi Aceh, Kamis (17/4/2025). Diskusi ini digelar sebagai upaya memperkuat kolaborasi dalam menangani isu-isu strategis yang berkembang di tengah masyarakat.

FGD yang dibuka langsung oleh Kepala Kesbangpol Kota Banda Aceh, Heru Triwijanarko, S.STP, M.Si, menghadirkan berbagai perwakilan Ormas dari beragam sektor, mulai dari sosial, keagamaan, hingga lingkungan. Forum ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat sipil untuk saling bertukar informasi, menyampaikan aspirasi, dan merumuskan strategi bersama.

Isu penyalahgunaan narkoba menjadi sorotan utama dalam diskusi. Ketua Ikatan Keluarga Anti Narkoba (IKAN) Kota Banda Aceh, Hasri Hasan, menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya penyalahgunaan zat adiktif di kalangan pelajar sekolah dasar dan menengah pertama, terutama lewat penggunaan lem. Ia menjelaskan bahwa IKAN telah menjalankan berbagai program pencegahan, seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah, kolaborasi dengan Dinas Syariat Islam, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat gampong.

Sementara itu, Ruslan dari Lembaga Pengawasan Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP KPK) menyoroti lemahnya pengawasan penggunaan dana desa. Ia menyebutkan masih sering terjadi penyaluran yang tidak tepat sasaran dan menegaskan perlunya penguatan peran pendamping serta pelibatan masyarakat dalam pengawasan.

Di sisi pelayanan administrasi, Muhammad Zuhri dari RAPI Banda Aceh mengusulkan pemanfaatan teknologi dalam proses pendaftaran Ormas. Ia mendorong penggunaan Google Form serta peningkatan responsivitas komunikasi daring sebagai bagian dari modernisasi pelayanan publik.

Salah satu pernyataan menarik datang dari Yanto, perwakilan Yayasan Wihara Budha. Ia mengungkapkan apresiasinya terhadap kondisi toleransi beragama di Banda Aceh.

“Saat perayaan Imlek kemarin, kami merasa sangat nyaman. Acara berjalan lancar tanpa kendala atau gangguan. Ini bukti nyata bahwa toleransi di Banda Aceh sangat baik,” ujarnya.

Dalam bidang lingkungan, Sahabat Hijau (SAHI) memaparkan kiprahnya dalam pengelolaan sampah rumah tangga melalui program Bank Sampah. Program ini dinilai tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga.

Menanggapi berbagai masukan, Kepala Kesbangpol Kota Banda Aceh, Heru Triwijanarko, menekankan pentingnya peran aktif Ormas sebagai mitra strategis pemerintah. Ia menilai tantangan sosial seperti peredaran narkoba dan pelanggaran syariat masih kerap ditemukan di tingkat gampong dan perlu penanganan kolaboratif.

“Ormas adalah ujung tombak di masyarakat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan Ormas sangat penting agar penanganan berbagai isu bisa lebih efektif dan menyentuh akar permasalahan,” kata Heru.

Mewakili Kepala Kesbangpol Aceh, Diana Purmasuri, SH, turut menyampaikan apresiasinya atas partisipasi aktif Ormas dalam diskusi. Ia secara khusus menyoroti testimoni dari Yayasan Wihara Budha yang menilai tinggi kondisi toleransi antarumat beragama di Aceh.

“Ini testimoni yang sangat berharga, terutama di tengah masih adanya narasi yang menyudutkan Aceh sebagai daerah intoleran. Kenyataannya, sejak dulu masyarakat Aceh hidup berdampingan dengan damai. Banyak masyarakat kita yang bekerja dan berinteraksi dengan saudara-saudara Tionghoa tanpa masalah. Kita baik-baik saja – dari dulu hingga kini, dan insyaAllah akan terus demikian ke depannya,” ujar Diana.

FGD ini diharapkan menjadi fondasi awal bagi penguatan sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil dalam membangun Banda Aceh yang aman, inklusif, serta berdaya saing tinggi di masa depan.

PC ISNU Kota Langsa Dukung Program Inovatif PP ISNU

0
Sekretaris PC ISNU Kota Langsa, Sahabat Muttaqin, S.T., M.Cs. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Langsa – Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kota Langsa menyatakan dukungan penuh terhadap berbagai program inovatif yang digagas oleh Pimpinan Pusat ISNU. Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian khusus adalah Fun Walk dalam momen Car Free Day Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dan pelantikan pengurus pusat ISNU.

Sekretaris PC ISNU Kota Langsa, Sahabat Muttaqin, S.T., M.Cs., menilai kegiatan tersebut sebagai langkah strategis yang tidak hanya mempererat jalinan antaranggota, tetapi juga menunjukkan komitmen ISNU terhadap isu-isu penting seperti kesehatan dan pelestarian lingkungan.

“Kami melihat bahwa program-program ini mencerminkan semangat kolaboratif dan inovatif yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman,” ujar Muttaqin.

Pernyataan itu disampaikan bersama jajaran pengurus lainnya, yakni Ketua PC ISNU Kota Langsa Sahabat Dr. Mahmazar, MA, Bendahara Sahabat Iskandar, S.Pd.I, dan Wakil Ketua Sahabat Rasyidin, M.HI. Mereka menegaskan komitmen PC ISNU Kota Langsa untuk turut ambil bagian dalam menyukseskan agenda-agenda besar organisasi.

“Kami siap menjadi bagian dari gerakan positif ini, membawa semangat perubahan dan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya di Kota Langsa,” tambah Dr. Mahmazar.

Dengan mengusung semangat “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, PC ISNU Kota Langsa berharap sinergi antarstruktur organisasi ISNU, mulai dari pusat hingga daerah, dapat terus diperkuat demi terwujudnya masyarakat yang berdaya, berbudaya, dan berkeadaban.

Editor: Akil