Beranda blog Halaman 58

Rumah Zakat Salurkan Bantuan Perlengkapan Tidur bagi Korban Banjir Bandang di Bireuen

0
Rumah Zakat Salurkan Bantuan Perlengkapan Tidur bagi Korban Banjir Bandang di Bireuen. (Foto: Rumah Zakat)

NUKILAN.ID | BIREUEN — Rumah Zakat kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Aceh. Kali ini, bantuan berupa perlengkapan tidur diberikan kepada warga yang masih tinggal di hunian sementara di Desa Kubu, Kecamatan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, pada 26 Februari 2026.

Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu para korban memenuhi kebutuhan dasar selama masa pemulihan pascabencana. Sebanyak dua paket perlengkapan tidur disalurkan kepada penerima manfaat. Setiap paket berisi kasur, bantal, serta karpet yang diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan warga di tempat pengungsian sementara.

Kehadiran perlengkapan tidur menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi keluarga yang kehilangan banyak barang akibat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh beberapa waktu lalu. Kondisi hunian sementara dengan fasilitas terbatas membuat bantuan ini dinilai sangat membantu aktivitas sehari-hari para penyintas.

Salah satu penerima manfaat, Aira Sari, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang diterima keluarganya.

“Terima kasih kepada Rumah Zakat yang sudah membantu kami. Bantuan ini sangat berarti untuk keluarga kami,” ujarnya.

Dukungan kemanusiaan tersebut diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi para korban untuk tetap tegar dan bangkit menghadapi situasi pascabencana.

Melalui program kemanusiaan yang dijalankan, Rumah Zakat menegaskan komitmennya untuk terus hadir membantu masyarakat yang membutuhkan, tidak hanya melalui bantuan darurat, tetapi juga dalam mendukung proses pemulihan agar warga terdampak dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Rumah Zakat juga mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama mendukung upaya pemulihan pascabencana, sehingga masyarakat terdampak dapat segera bangkit dan kembali mandiri.

Pemerintah Tegaskan Diskresi Presiden soal Status Bencana Tetap Dibatasi Hukum di Sidang MK

0
Bahtiar, saksi dari pemerintah, dalam sidang di Mahkamah Konstitusi, pada Kamis (26/2/2026). (Foto: MKRI)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Pemerintah menolak anggapan bahwa Presiden memiliki kewenangan tanpa batas dalam menggunakan diskresi untuk menetapkan status bencana nasional terkait bencana yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Penegasan tersebut disampaikan dalam sidang uji materi Perkara Nomor 261/PUU-XXIII/2025 di Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (26/2/2026). Dalam persidangan itu, Bahtiar yang hadir sebagai saksi pemerintah menegaskan bahwa keputusan penetapan status bencana tidak diambil secara subjektif ataupun tanpa landasan hukum.

“Tidak benar apabila dikatakan bahwa penetapan status bencana sepenuhnya berada dalam ruang subjektivitas tanpa parameter hukum,” ujarnya.

Menurut Bahtiar, diskresi pemerintah muncul sebagai mekanisme untuk menghadapi situasi luar biasa yang belum diatur secara rinci dalam regulasi. Namun demikian, kewenangan tersebut tetap berada dalam koridor hukum dan harus mengacu pada indikator objektif sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Ia menjelaskan bahwa undang-undang tersebut telah menetapkan indikator jelas dalam menentukan status dan tingkat bencana. Parameter itu mencakup adanya peristiwa bencana alam maupun nonalam yang mengancam masyarakat, menimbulkan korban jiwa, menyebabkan kerugian harta benda, merusak sarana dan prasarana, serta menimbulkan dampak sosial dan ekonomi.

Selain itu, tingkat bencana juga dinilai dari luas wilayah terdampak, keterbatasan sumber daya yang tersedia, lumpuhnya kapasitas pemerintah daerah dalam merespons bencana, potensi bencana susulan, serta perkiraan waktu pemulihan yang panjang.

“Untuk tingkatan, luas cakupan terdampak, kapasitas sumber daya yang tersedia dan dimiliki tidak cukup memadai dalam melakukan respon penanggulangan bencana, lembaga pemerintah dan lain-lain kapasitas setempat lumpuh dan tidak bisa melakukan tindakan penanggulangan bencana, serta masih berpotensi terjadi bencana susulan dan prediksi serta asumsi waktu untuk pemulihan sangat panjang atau lama,” katanya.

Bahtiar juga menekankan bahwa penggunaan diskresi tetap harus mematuhi Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB). Artinya, setiap keputusan harus memiliki alasan yang jelas, dilakukan dengan itikad baik, serta terbuka terhadap pengawasan hukum.

“Dalam penanggulangan bencana, respons untuk menyelamatkan nyawa manusia jauh lebih utama daripada sekadar urusan administratif,” katanya.

Pemerintah turut membantah dalil pemohon yang menyebut penetapan status bencana berpotensi dipolitisasi karena tidak diatur melalui Peraturan Presiden. Menurut Bahtiar, argumen tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

“Sebab, penanggulangan bencana tidak hanya mempertimbangkan faktor politis. Namun dipengaruhi juga oleh faktor ekonomi (dampak fiskal dan stabilitas investasi), administratif, pertimbangan stabilitas pemerintahan, dan dinamika hubungan pusat-daerah,” jelasnya.

Dalam sidang sebelumnya, pemohon menilai istilah prioritas nasional tidak dikenal dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 yang hanya mengatur status bencana nasional dan daerah. Pemohon berpendapat istilah tersebut lebih sering digunakan dalam konteks proyek pembangunan, bukan dalam penanganan korban bencana, meskipun korban jiwa terus bertambah.

“Dalam bencana alam tersebut, Pemohon I telah mengalami kerugian yang sangat serius dan mendalam karena bencana tersebut telah merenggut nyawa ayah, ibu, dan salah satu adik kandung Pemohon I, sehingga Pemohon I kehilangan anggota keluarga inti sekaligus kehilangan penopang kehidupan keluarga,” ujar Christian Adrianus Sihite dalam sidang perbaikan permohonan pada Rabu (21/1/2026).

DPMG Aceh Gelar Buka Puasa Bersama, Perkuat Kebersamaan dan Semangat Pengabdian

0
DPMG Aceh Gelar Buka Puasa Bersama, Perkuat Kebersamaan dan Semangat Pengabdian. (Foto: DPMG Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dalam rangka mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat kebersamaan di bulan suci Ramadan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh menggelar kegiatan buka puasa bersama yang berlangsung dalam suasana hangat dan khidmat.

Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan Sekretariat DPMG Aceh tersebut menjadi momentum untuk membangun hubungan kekeluargaan antarpegawai sekaligus mempertegas komitmen bersama dalam upaya pemberdayaan serta pembangunan gampong di seluruh Aceh.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh, Dr. H. Iskandara, AP, S.Sos, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kebersamaan yang terjalin melalui kegiatan seperti ini memiliki peran penting dalam memperkuat sinergi dan meningkatkan kinerja lembaga.

“Ramadan mengajarkan kita nilai keikhlasan dan kebersamaan. Semoga melalui momen ini, seluruh jajaran DPMG semakin solid dalam menjalankan tugas pemberdayaan masyarakat dan pembangunan gampong,” ujar Iskandar.

Ia menambahkan, bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah secara spiritual, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melakukan perbaikan diri dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian.

“Nilai-nilai ramadhan seperti keikhlasan, kedisiplinan, kesabaran, kejujuran, dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat relevan dalam meningkatkan semangat dan kualitas kinerja kita,” tambah Iskandar.

Selain sambutan, kegiatan juga diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh Tgk Adnan Ali. Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan bulan Ramadan dengan memperbanyak amal ibadah.

“Zikir yang kita ucapkan di bulan Ramadhan sangat jauh berbeda besar pahalanya dengan zikir di bulan bulan lain,oleh karena itu mari kita manfaatkan waktu ramadhan ini untuk meningkatkan amal kebaikan,” ujarnya.

Acara turut dirangkai dengan penyerahan santunan kepada anak yatim piatu di lingkungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh sebagai bentuk kepedulian sosial di bulan penuh berkah.

Kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama tersebut dihadiri para mantan Kepala DPMG Aceh, mantan pejabat eselon III, pejabat struktural, karyawan dan karyawati DPMG Aceh, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Melalui kegiatan ini, DPMG Aceh berharap semangat persatuan dan pelayanan kepada masyarakat semakin kuat sehingga berbagai program pemberdayaan gampong dapat berjalan optimal demi mewujudkan pembangunan Aceh yang berkelanjutan.

Harga TBS Sawit di Aceh Turun, Distanbun Tetapkan Tarif Baru Pekan Akhir Februari 2026

0
Ilustrasi sawit. (Foto: indonesianpalmoilnews.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menetapkan harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun mitra untuk periode minggu keempat Februari 2026. Keputusan tersebut diambil melalui rapat tim penetapan harga pada Jumat, 27 Februari 2026, dengan hasil menunjukkan adanya penurunan harga dibandingkan pekan sebelumnya di seluruh wilayah Aceh.

Dalam penetapan itu, rata-rata harga Crude Palm Oil (CPO) ditetapkan sebesar Rp14.196,40 per kilogram, sedangkan rata-rata harga inti sawit (kernel) berada pada Rp12.955,11 per kilogram. Harga tersebut berlaku sejak tanggal penetapan hingga minggu kedua Maret 2026.

Untuk Wilayah Timur, Indeks “K” ditetapkan sebesar 87,83 persen. Pada kategori Mitra Plasma, harga TBS tanaman usia 3 tahun berada di angka Rp2.486 per kilogram, usia 5 tahun Rp2.888 per kilogram, dan usia 10–20 tahun atau masa puncak produksi sebesar Rp3.314 per kilogram. Angka ini turun dari Rp3.384 per kilogram pada pekan sebelumnya. Sementara itu, tanaman usia 25 tahun dihargai Rp3.018 per kilogram.

Pada kelompok Mitra Swadaya Wilayah Timur, harga TBS kualitas rendemen Tenera 100 persen ditetapkan Rp3.041 per kilogram. Adapun kualitas campuran Dura 60 persen berada di angka Rp2.929 per kilogram.

Sementara itu, Wilayah Barat mencatat Indeks “K” sebesar 86,60 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan Wilayah Timur, sehingga turut memengaruhi besaran harga di tingkat pekebun.

Untuk Mitra Plasma di Wilayah Barat, harga TBS usia 3 tahun ditetapkan Rp2.452 per kilogram, usia 5 tahun Rp2.848 per kilogram, dan usia 10–20 tahun Rp3.268 per kilogram, turun dari Rp3.330 per kilogram pada pekan sebelumnya. Sedangkan tanaman usia 25 tahun dihargai Rp2.976 per kilogram.

Bagi Mitra Swadaya di Wilayah Barat, harga tertinggi TBS kualitas Tenera 100 persen ditetapkan sebesar Rp2.998 per kilogram.

Laporan penetapan harga tersebut ditandatangani oleh Pelaksana Harian Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin, bersama Ketua Tim Penetapan dan Pemantauan Harga Pembelian TBS, Maizatul Akmal, tertanggal 25 Februari 2026. Penetapan ini menjadi acuan bagi perusahaan dan pekebun mitra dalam transaksi pembelian TBS di Aceh, termasuk wilayah Banda Aceh, Lhokseumawe, serta sentra perkebunan seperti Aceh Utara.

Peukan Raya Ramadan 1447 H Resmi Dibuka, Pemko Banda Aceh Targetkan Perputaran Ekonomi Rp 2 Miliar

0
Peukan Raya Ramadan 1447 H Resmi Dibuka, Pemko Banda Aceh Targetkan Perputaran Ekonomi Rp 2 Miliar. (Foto: Humas BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal secara resmi membuka kegiatan Peukan Raya Ramadan (PRR) 1447 Hijriah yang digelar di eks lahan Pasar Aceh Shopping Center, Jumat (27/2/2026).

Peresmian kegiatan ditandai dengan tradisi “Teumok Beulangong” Kanji Rumbi yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Illiza bersama Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah dan Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah. Takjil khas Aceh tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada para pengunjung yang hadir.

Dalam sambutannya, Illiza menegaskan bahwa Peukan Raya Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan upaya nyata pemerintah kota dalam mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat selama bulan suci Ramadan.

Melalui penyelenggaraan PRR yang berlangsung hingga 13 Maret 2026, Pemerintah Kota Banda Aceh menghadirkan ruang ekonomi berbasis kolaborasi. Sebanyak 150 brand UMKM turut berpartisipasi dalam 120 stand pameran yang disediakan.

“Kita menargetkan 10 ribu pengunjung per hari dengan proyeksi perputaran ekonomi di atas Rp 2 miliar. Target kita jelas: Peukan Raya Ramadan ini bukan sekadar ramai, tetapi menjadi pusat transaksi. Bukan sekadar acara, tetapi ada penguatan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Amatan Nukilan.id, PRR 2026 menghadirkan tiga zona utama kegiatan. Pertama, Peukan Raseuki yang menjadi pusat kuliner berbuka puasa. Kedua, Peukan Khanduri sebagai ruang berbagi takjil gratis melalui tradisi teumok untuk mempererat kebersamaan. Ketiga, Peukan Silaturahmi yang difungsikan sebagai panggung interaksi sosial, pertunjukan, serta berbagai aktivitas masyarakat sepanjang Ramadan.

Illiza juga menyebut Peukan Raya Ramadan sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Kita ingin pertumbuhan ekonomi Banda Aceh bukan hanya tinggi secara angka, tetapi berkualitas dan inklusif -dirasakan oleh pedagang kecil, pelaku usaha rumahan, hingga generasi muda kreatif.”

Di kawasan yang sama, tepatnya di Gedung Pasar Aceh Baru, turut digelar Peukan QRIS Ramadan yang berlangsung sejak 20 Februari hingga 15 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Bank Indonesia dan perbankan syariah guna memperkuat ekosistem pembayaran digital di pasar tradisional.

“Program ini merupakan kolaborasi Pemko Banda Aceh bersama Bank Indonesia dan perbankan syariah untuk memperkuat ekosistem pembayaran digital di pasar tradisional,” ujar Illiza.

Peukan QRIS Ramadan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari pembagian kupon doorprize transaksi QRIS, bazaar Ramadan dan night market, bazaar kue lebaran, kegiatan sosial berbagi bersama anak yatim, lomba islami bagi anak dan remaja, hingga workshop literasi keuangan.

Menurut Illiza, pasar tradisional harus tetap menjadi ruang silaturahmi masyarakat sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Oleh karenanya, mari kita jadikan momentum ini sebagai energi kebangkitan ekonomi kota. Belanja di UMKM lokal. Gunakan QRIS dalam setiap transaksi,” ujarnya. (xrq)

Reporter: Akil

Bupati Aceh Timur Terima Kunjungan Kerja Kepala BNPB, Bahas Penanganan Dampak Banjir dan Huntara

0
Bupati Aceh Timur Terima Kunjungan Kerja Kepala BNPB. (Foto: Humas Aceh Timur)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si menyambut kunjungan kerja Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M, di Gampong Beusa Seberang, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Kamis, 26 Februari 2026.

Kunjungan tersebut berlangsung dalam rangka penyerahan bantuan hunian sementara (huntara) sekaligus kegiatan buka puasa bersama masyarakat terdampak bencana. Agenda itu juga dirangkaikan dengan penyaluran santunan kepada anak yatim serta pembagian paket sembako bagi warga yang saat ini menempati huntara.

Dalam sambutannya, Bupati Al-Farlaky menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kepala BNPB beserta jajaran yang sejak awal bencana telah aktif berkoordinasi dan turun langsung mendampingi Pemerintah Kabupaten Aceh Timur.

Ia menegaskan keterlibatan BNPB mencakup berbagai tahapan, mulai dari penanganan darurat, proses verifikasi kerusakan rumah warga, hingga percepatan pembangunan hunian sementara.

Di hadapan Kepala BNPB, Bupati turut melaporkan sejumlah kendala yang dihadapi di lapangan. Pada tahap awal, pemerintah daerah mengusulkan lebih dari 8.000 unit rumah terdampak untuk diverifikasi. Namun sekitar 3.500 unit di antaranya dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS).

Menurutnya, pemerintah daerah tetap berharap data awal tersebut dapat menjadi dasar pembangunan karena proses verifikasi sebelumnya menggunakan formulir berbasis bencana gempa yang dinilai kurang sesuai dengan kondisi banjir.

“Karakter bencana gempa dan banjir berbeda. Pada banjir, struktur rumah bisa saja tetap berdiri, tetapi lumpur dan dampak rendaman menyebabkan rumah tidak layak huni,” ujarnya.

Bupati juga menjelaskan bahwa sejak awal bencana, pemerintah kabupaten bekerja dengan keterbatasan sarana, termasuk jaringan internet dan perangkat komputer. Meski demikian, bersama camat, keuchik, BPBD, serta unsur Forkopimda, pemerintah berhasil menghimpun hampir 25 ribu data warga terdampak.

Ia menambahkan, Permendagri terbaru telah mengatur pedoman teknis penilaian kerusakan akibat banjir berdasarkan ketinggian lumpur. Lumpur setinggi 20–50 sentimeter dikategorikan rusak ringan dengan stimulus Rp15 juta, sedangkan ketinggian 50–70 sentimeter masuk kategori rusak sedang dengan stimulus Rp30 juta.

Terkait penyaluran bantuan, Bupati menyebut dana sekitar Rp298 miliar telah tersedia di rekening penyalur melalui Bank Syariah Indonesia (BSI). Namun demikian, ia mengusulkan agar proses penyaluran turut melibatkan Bank Aceh Syariah guna menghindari penumpukan antrean masyarakat serta mempercepat pencairan secara tertib.

Selain itu, ia meminta agar mekanisme pencairan tahap lanjutan tidak lagi mewajibkan bon pembelian material bangunan, melainkan cukup menggunakan surat pernyataan bermaterai dari penerima manfaat. Hal ini mengingat sebagian warga telah lebih dulu membersihkan maupun memperbaiki rumah secara mandiri.

“Jika dana sudah masuk ke rekening masyarakat, maka penerima manfaatlah yang bertanggung jawab secara moral dan hukum,” tegasnya.

Bupati juga membuka ruang pengaduan bagi masyarakat yang belum terdata atau merasa keberatan terhadap hasil verifikasi. Ia menginstruksikan para camat dan keuchik untuk melakukan pendataan ulang, menempelkan daftar calon penerima bantuan di desa dan meunasah sebagai uji publik, serta menyediakan formulir pengaduan. Ia menegaskan tidak boleh ada aparatur yang menunda proses tersebut.

“Perhatian khusus juga diminta bagi warga berstatus “Kartu Keluarga gantung”, yakni pasangan yang masih tercatat dalam KK orang tua namun telah berkeluarga sendiri, agar dipertimbangkan menerima bantuan huntara maupun hunian tetap” harap Bupati Al-Farlaky.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BNPB Letjen Suharyanto menyampaikan bahwa pembangunan huntara di Aceh Timur menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dari lebih dari 3.000 unit yang direncanakan, lebih dari separuh telah selesai 100 persen.

Ia menjelaskan bahwa Aceh Timur memiliki karakteristik khusus karena mayoritas huntara dibangun secara insitu di atas tanah milik warga. Model pembangunan ini dinilai lebih kompleks dibandingkan pembangunan secara komunal, namun tetap dapat berjalan cepat berkat dukungan vendor lokal.

Menurutnya, BNPB telah hadir sejak hari pertama bencana pada 26 November 2025 dan terus melakukan pendampingan hingga masa transisi darurat. Meskipun pada awal 2026 berbagai bencana juga terjadi di sejumlah daerah lain, pendampingan terhadap Aceh Timur tetap menjadi prioritas.

Untuk melengkapi fasilitas huntara, bantuan perabotan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia akan disalurkan dalam bentuk uang sebesar Rp3 juta per keluarga.

” Sambil menunggu, BNPB telah menyalurkan bantuan darurat berupa kasur, kompor, kipas angin, karpet, dan matras. Selain itu, bersama Kemensos, BNPB juga menyalurkan bantuan jatah hidup (jadup) sebesar Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan,” kata Letjen Suharyanto.

Katibul Wali Nanggroe Dukung Instruksi Mualem, Pejabat Eselon II Diminta Percepat Realisasi Anggaran

0
Katibul Wali Nanggroe, Abdullah Hasbullah. (Foto: LWN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Katibul Wali Nanggroe Aceh, Abdullah Hasbullah, menyatakan dukungan penuh terhadap arahan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, kepada 25 pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) yang baru dilantik di lingkungan Pemerintah Aceh.

Pernyataan itu disampaikan Abdullah Hasbullah usai menghadiri pelantikan pejabat Eselon II yang digelar di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Jumat malam (27/2/2026).

Menurut Abdullah, pelantikan tersebut tidak sekadar agenda seremonial, melainkan momentum penting untuk memperkuat konsolidasi birokrasi di bawah kepemimpinan pasangan Mualem–Dek Fadh. Ia menilai, percepatan realisasi anggaran dan penguatan kinerja aparatur menjadi langkah strategis untuk mendorong pembangunan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di Aceh.

“Pejabat yang baru dilantik harus segera bergerak cepat menerjemahkan visi dan arahan gubernur ke dalam program kerja yang nyata, terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Abdullah Hasbullah.

Ia menegaskan, percepatan penyerapan anggaran merupakan salah satu indikator utama keberhasilan pemerintah daerah. Efektivitas pelaksanaan program, kata dia, akan menentukan seberapa cepat manfaat kebijakan dirasakan masyarakat.

Sejalan dengan arahan Gubernur Muzakir Manaf dalam prosesi pelantikan, Abdullah juga mengingatkan agar para pejabat tidak terjebak dalam rutinitas administratif semata. Ia mendorong lahirnya inovasi serta kerja nyata yang responsif terhadap kebutuhan rakyat.

Selain itu, Abdullah menyampaikan apresiasi kepada para pejabat yang baru dilantik. Ia menekankan pentingnya loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi sebagai fondasi membangun birokrasi yang profesional serta berorientasi pada pelayanan publik.

Abdullah Hasbullah turut menegaskan bahwa lembaga Wali Nanggroe siap bersinergi dan memberikan dukungan moral maupun kelembagaan terhadap kepemimpinan Mualem dalam mendorong reformasi birokrasi yang produktif, adaptif, dan berpihak pada kepentingan masyarakat Aceh.

“Semoga momentum ini menjadi awal lahirnya birokrasi Aceh yang lebih kuat, responsif, dan mampu menjawab harapan masyarakat menuju Aceh yang maju dan sejahtera,” pungkasnya.

Harga Minyak Nilam Aceh Melonjak hingga Rp850 Ribu per Kg, Usulan Masuk RPJM Menguat

0
Ilustrasi minyak nilam. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kenaikan signifikan harga minyak nilam asal Aceh dalam dua tahun terakhir mendorong perlunya penguatan kebijakan pembangunan jangka menengah agar pengembangan komoditas ini berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. Di tengah tren harga yang terus meningkat serta meluasnya wilayah produksi, industri nilam beserta produk turunannya dinilai layak dimasukkan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).

Kepala Atsiri Research Center (ARC), Syaifullah Muhammad, mengatakan integrasi nilam ke dalam RPJM menjadi langkah penting untuk memastikan program pengembangan tetap berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan daerah.

Menurutnya, kebijakan tersebut juga sejalan dengan visi Pemerintah Kota Banda Aceh yang ingin mengembangkan wilayahnya sebagai “Kota Parfum”.

“Kalau sudah masuk RPJM, itu jadi amanah pembangunan. Siapapun kepala daerahnya, program tetap berjalan,” ujarnya di Universitas Syiah Kuala, Kamis (26/2/2026).

Dari sisi harga, minyak nilam Aceh mengalami lonjakan tajam. Jika sebelumnya hanya berada pada kisaran Rp350.000 hingga Rp400.000 per kilogram, kini harganya telah mencapai Rp850.000 per kilogram.

Bahkan, menjelang akhir tahun harga diperkirakan masih berpotensi meningkat hingga berada di kisaran Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per kilogram, mengikuti pola musiman serta tingginya permintaan industri global.

Semangat Petani Kembali Tumbuh

Kenaikan harga tersebut turut berdampak pada meningkatnya minat petani untuk kembali membudidayakan nilam. Jika sebelumnya sentra produksi hanya tersebar di empat kabupaten di Aceh, kini budidaya tanaman tersebut telah berkembang hingga di 18 kabupaten.

“Artinya ada optimisme baru di tingkat petani. Ekosistemnya kembali tumbuh,” kata Syaifullah.

Dari segi pangsa pasar nasional, Aceh kembali menempati posisi teratas dengan kontribusi sekitar 19 persen terhadap produksi minyak nilam nasional. Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode sebelumnya ketika kontribusi Aceh sempat turun hingga sekitar 5 persen.

Meskipun demikian, capaian tersebut masih belum menyamai masa kejayaan ketika Aceh pernah menguasai sekitar 70 persen pangsa pasar nasional minyak nilam.

Produksi Nasional Kian Merata

Saat ini produksi nilam tidak lagi terpusat di satu wilayah. Sejumlah provinsi lain seperti Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur mulai berkembang sebagai sentra produksi baru. Di Pulau Sulawesi, budidaya nilam juga tumbuh di Sulawesi Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Dengan penyebaran tersebut, komposisi produksi nasional menjadi lebih merata. Beberapa daerah lain kini memiliki kontribusi produksi yang relatif berdekatan, yakni berada di kisaran 16–18 persen berdasarkan data statistik produksi terbaru.

Murthalamuddin Resmi Dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan Aceh

0
Murthalamuddin Dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan Aceh. (FOTO: DISDIK ACEH)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Murthalamuddin resmi dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan Aceh oleh Muzakir Manaf dalam prosesi pengambilan sumpah jabatan yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Jumat (27/2/2026).

Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Aceh untuk memperkuat sektor pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki daya saing, karakter kuat, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tantangan global.

Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, Murthalamuddin mengucapkan sumpah jabatan sebagai bentuk komitmen menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, profesionalitas, dan integritas. Pelantikan ini sekaligus menandai dimulainya kepemimpinan baru di lingkungan Dinas Pendidikan Aceh yang diharapkan mampu menghadirkan inovasi dan mempercepat berbagai program pendidikan di daerah tersebut.

Dalam arahannya, Gubernur Aceh menegaskan bahwa sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas utama pembangunan daerah. Ia berharap kepemimpinan baru di Dinas Pendidikan mampu memperkuat tata kelola pendidikan serta meningkatkan kualitas pembelajaran hingga ke daerah terpencil.

“Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan Aceh. Kepada Kepala Dinas Pendidikan yang baru dilantik, saya berharap mampu menghadirkan program-program yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas siswa, guru, dan satuan pendidikan,” ujar Gubernur.

Murthalamuddin diketahui memiliki pengalaman panjang di bidang pendidikan dan birokrasi. Dengan latar belakang tersebut, ia diharapkan mampu mendorong perubahan positif, terutama dalam penguatan kompetensi guru, transformasi digital pendidikan, serta peningkatan capaian akademik siswa.

Usai dilantik, Murthalamuddin menyampaikan komitmennya untuk bekerja maksimal bersama seluruh jajaran pendidikan di Aceh. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, sekolah, tenaga pendidik, dan masyarakat dalam membangun sistem pendidikan yang lebih maju dan inklusif.

“Ini adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan kerja nyata. Kami akan fokus pada peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari penguatan literasi, numerasi, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran,” ungkapnya.

Pelantikan tersebut juga mendapat perhatian dari berbagai kalangan pendidikan yang berharap kepemimpinan baru mampu menjawab berbagai tantangan dunia pendidikan di Aceh, khususnya dalam meningkatkan kualitas lulusan agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Dengan dilantiknya Murthalamuddin sebagai Kepala Dinas Pendidikan Aceh, diharapkan percepatan berbagai program pendidikan dapat berjalan lebih optimal serta mendorong lahirnya generasi Aceh yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.

Imigrasi Aceh Bangun Sumur Bor untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana di Pidie Jaya

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kantor Wilayah Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Aceh memberikan bantuan pembangunan sumur bor di Kabupaten Pidie Jaya sebagai upaya mendukung percepatan pemulihan pascabencana hidrometeorologi.

Kepala Kanwil Ditjen Imigrasi Aceh, Tato Juliadin Hidayawan, di Banda Aceh, Kamis (26/2/2026), mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari Program Imipas Peduli yang digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan RI.

“Sumur bor Imipas Peduli tersebut diserahkan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Ummul Ayman. Kami berharap sumur bor ini bermanfaat bagi civitas akademika maupun masyarakat dalam memenuhi air bersih,” katanya.

Penyerahan bantuan berlangsung di Kabupaten Pidie Jaya pada Rabu (25/2/2026). Tato Juliadin Hidayawan menyerahkan bantuan tersebut didampingi Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh beserta jajaran.

Bantuan sumur bor diterima langsung oleh Ketua Yayasan STIS Ummul Ayman, Tgk Muhammad Al-Mustafa. Kampus tersebut berada di Desa Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Prosesi serah terima ditandai dengan penandatanganan berita acara sebagai bukti selesainya pembangunan sumur bor yang merupakan bantuan dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia.

Tato Juliadin Hidayawan menjelaskan Program Imipas Peduli merupakan rangkaian kegiatan bakti sosial dalam memperingati Hari Bhakti Imigrasi ke-76 Tahun 2026. Program tersebut dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Aceh bersama jajaran sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat, khususnya di wilayah terdampak banjir di Kabupaten Pidie Jaya.

“Pembangunan sumur bor ini menjadi wujud komitmen Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Aceh dalam mendukung kebutuhan dasar masyarakat pascabencana,” kata Tato Juliadin Hidayawan.

Ia menambahkan, melalui program Imipas Peduli, institusi keimigrasian ingin memastikan kehadirannya tidak hanya sebatas pelayanan administrasi keimigrasian, tetapi juga melalui kegiatan sosial yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kami berharap sumur bor tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam pemenuhan sumber air bersih masyarakat. Sumur bor ini sebagai bentuk mendukung percepatan pemulihan pascabencana,” kata Tato Juliadin Hidayawan.