Beranda blog Halaman 573

Ungkap Kasus Narkoba Rp 1,5 Miliar, Kapolres Aceh Tenggara Terima Penghargaan dari Bupati

0

NUKILAN.id | Kutacane – Keberhasilan Polres Aceh Tenggara mengungkap peredaran narkoba jenis sabu seberat satu kilogram, dengan nilai taksiran mencapai Rp 1,5 miliar, berbuah apresiasi tinggi. Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, memberikan penghargaan langsung kepada Kapolres AKBP Yulhendri dalam apel gabungan di Lapangan Setda, Kutacane Lama, Kecamatan Babussalam, Senin, 28 April 2025.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk nyata apresiasi pemerintah daerah terhadap kinerja kepolisian dalam menjaga keamanan dan memberantas narkoba di wilayah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara itu.

“Pengungkapan kasus narkotika ini merupakan prestasi Polres Aceh Tenggara yang juga menjadi capaian bersama. Ini juga bentuk nyata sinergi dan kepedulian kita dalam menyelamatkan masyarakat dari bahaya narkoba,” kata Salim Fakhry dalam apel yang berlangsung khidmat.

Menurut Bupati, penghargaan itu bukan sekadar seremoni. Ia menyebut pengakuan ini menjadi simbol kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program P4GN-PN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika serta Prekursor Narkotika).

“Program P4GN-PN adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya pemerintah dan kepolisian, tetapi seluruh masyarakat. Oleh karena itu, mari kita jaga diri dan keluarga dari pengaruh narkoba, dan laporkan jika ada indikasi peredaran atau penggunaannya di sekitar kita,” ujar Salim.

Kasus narkoba yang diungkap Polres Aceh Tenggara itu dinilai sangat strategis. Dengan mengamankan sabu seberat 1 kilogram, kepolisian dinilai telah menyelamatkan banyak generasi muda dari jerat bahaya narkotika.

Kapolres Aceh Tenggara, AKBP Yulhendri, mengungkapkan rasa syukurnya atas apresiasi yang diberikan pemerintah daerah. Ia menilai, penghargaan ini akan menjadi energi tambahan bagi seluruh jajarannya dalam menjalankan tugas di lapangan.

“Ini bukan hanya bentuk apresiasi, tapi juga pengingat bahwa upaya kami di lapangan adalah bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga Aceh Tenggara tetap bersih dari narkoba,” kata Yulhendri.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat, guna mempersempit ruang gerak jaringan narkotika di wilayah hukum Polres Aceh Tenggara.

Penyerahan piagam penghargaan kepada Kapolres disaksikan langsung oleh jajaran Forkopimda, kepala OPD, serta ratusan peserta apel. Momen itu menjadi bukti bahwa keberhasilan dalam pemberantasan narkoba bukanlah kerja individu, melainkan hasil kolaborasi yang erat antara aparat penegak hukum dan seluruh elemen masyarakat.

Aceh Raih Penghargaan Nasional, Diganjar Apresiasi atas Kontribusi Program 3 Juta Rumah

0
Aceh Raih Penghargaan Nasional, Diganjar Apresiasi atas Kontribusi Program 3 Juta Rumah. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Jakarta – Pemerintah Aceh kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kali ini, apresiasi datang dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia atas kontribusi aktif Aceh dalam menyukseskan Program Strategis Nasional Pembangunan 3 Juta Rumah.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Wakil Menteri PKP, Fahri Hamzah, dalam forum Rapat Koordinasi Teknis Perumahan Perdesaan yang digelar di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Selasa (29/4/2025).

Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, SE, menerima penghargaan tersebut mewakili Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf. Dalam kesempatan itu, Fadhlullah turut didampingi Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh, T. Aznal Zahri.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Fahri Hamzah menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menyukseskan pembangunan rumah rakyat yang merata dan tepat sasaran.

“Presiden telah menekankan pentingnya kebijakan satu data agar seluruh program bantuan, termasuk pembangunan rumah rakyat, tepat sasaran. Pemerintah daerah yang aktif berkontribusi, seperti Aceh, sangat kami hargai,” ujar Fahri.

Tak hanya itu, Fahri juga mendorong pemerintah daerah untuk menggali berbagai potensi pendanaan alternatif, termasuk pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), guna mengatasi kebutuhan hunian nasional yang masih tinggi.

“Kami sangat mengharapkan daerah dapat lebih kreatif dalam mencari solusi pembiayaan, karena backlog perumahan kita masih berada di angka lebih dari 15 juta unit,” kata Fahri.

Menanggapi apresiasi tersebut, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyampaikan rasa syukur dan menegaskan bahwa capaian ini adalah hasil dari kerja keras semua pihak di lingkungan Pemerintah Aceh.

“Apresiasi ini adalah hasil kerja bersama. Kami akan terus mendorong percepatan pembangunan rumah rakyat, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah perdesaan,” ujarnya usai menerima penghargaan.

Capaian ini memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu provinsi yang memainkan peran strategis dalam menyokong agenda pembangunan nasional, khususnya di sektor pemenuhan kebutuhan dasar hunian yang layak. Langkah konkret ini juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Aceh dalam mengurangi backlog perumahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah perdesaan.

Editor: Akil

Kantongi 38 Dukungan, Tgk Anwar Ramli Siap Pimpin KONI Aceh

0
Kantongi 38 Dukungan, Tgk Anwar Ramli Siap Pimpin KONI Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Setelah sempat membuat publik olahraga bertanya-tanya, Tgk Anwar Ramli akhirnya menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh. Keputusan itu diumumkan setelah ia mengantongi dukungan dari 38 Pengurus Provinsi (Pengprov) cabang olahraga serta KONI kabupaten/kota se-Aceh.

“Ya, setelah saya pertimbangkan secara matang, demi kesinambungan pembinaan dan prestasi atlet Aceh di kancah event regional, nasional dan internasional. Termasuk dukungan dari teman-teman Pengprov cabor dan KONI Kabupaten dan Kota se-Aceh. Saya Bismillah maju,” kata Tgk Anwar Ramli kepada wartawan, Selasa (29/4/2025) malam di Banda Aceh.

Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa (Musorprovlub) KONI Aceh dijadwalkan berlangsung pada September 2025 mendatang. Forum ini akan memilih ketua umum baru, menggantikan almarhum H. Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak) yang wafat saat menunaikan ibadah umrah di Makkah pada 19 Maret 2025 lalu.

Menariknya, dalam pertemuan bersama para pendukungnya, Tgk Anwar juga langsung menetapkan duet Nazir Adam dan Heri Julius sebagai Ketua dan Sekretaris Tim Pemenangan. Keduanya dikenal sebagai tokoh yang memiliki rekam jejak kuat di dunia olahraga Aceh.

Penetapan tersebut diusulkan langsung oleh 35 dari 38 pemilik suara yang hadir dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh semangat. Tiga lainnya disebutkan sedang berada di luar kota namun telah mengirimkan perwakilan.

“Tiga lainnya posisi mereka tadi malam masih berada di luar kota. Tapi mereka tetap mengirim perwakilan,” ujar Nazir Adam, Ketua Asprov PSSI Aceh yang kini mengemban tugas sebagai Ketua Tim Pemenangan.

Selain Nazir, Sekretaris Tim Pemenangan dipercayakan kepada Anggota DPR Aceh sekaligus Ketua Pengprov Hapkido Aceh, Heri Julius. Keduanya menyatakan komitmennya mendukung penuh pencalonan Tgk Anwar.

“Insya Allah, kami akan jalankan amanah ini dengan baik,” kata Heri Julius yang diamini oleh Nazir Adam.

Menurut Heri, sosok Tgk Anwar bukanlah pendatang baru di dunia olahraga Aceh. Ia telah lama terlibat dalam kepengurusan KONI Aceh dan dikenal memiliki konsep pembinaan olahraga yang jelas serta terukur.

“Komitmen Tgk Anwar terhadap pembinaan cabor di Aceh bukan janji tapi sudah telah teruji,” ujar Heri.

Lebih jauh, ia juga menegaskan bahwa pencalonan Tgk Anwar bukanlah ambisi pribadi atau dorongan segelintir pihak yang ingin mempertahankan posisi di KONI Aceh.

“Jadi, kami tidak mencari dan mendorong-dorong calon ketua umum dari figur yang instans, demi memenuhi keinginan sejumlah pihak yang terus ingin bercokol di KONI Aceh hingga puluhan tahun,” tegas Heri.

Sementara itu, Nazir Adam optimistis dukungan terhadap Tgk Anwar akan terus bertambah. Ia menyatakan tidak ada tekanan atau batas waktu bagi para Pengprov dan KONI kabupaten/kota untuk menyatakan dukungan mereka.

“Makanya, kami tidak menekan dan memaksa serta memberi batas waktu atau deadline dukungan dari kawan-kawan Pengprov Cabor maupun KONI Kabupaten dan Kota. Alhamdulillah, insan olahraga di Aceh sudah sangat paham dengan sosok Tgk Anwar,” kata Nazir.

Terkait adanya klaim dukungan dari Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf (Mualem), keduanya yakin bahwa sebagai kader senior Partai Aceh, Mualem akan bersikap bijaksana dan mendukung kader terbaik partai untuk maju.

“Kita berharap, Mualem dapat memanggil keduanya dan memberi kesempatan yang sama kepada kedua kader Partai Aceh ini, sehingga Musorprolub KONI Aceh mendatang dapat berjalan lancar dan melahirkan sosok Ketua Umum KONI Aceh yang paham olahraga, demi tercapainya prestasi atlet Aceh di PON NTT-NTB tahun 2028 mendatang,” tutup Nazir Adam.

Editor: AKil

Koperasi Merah Putih: Komando Politik di Desa yang Mengancam Logika Pasar

0
Ilustrasi Koperasi. (Foto: Freepik)

NUKILAN.id | Opini – Jika Muhammad Hatta masih hidup hari ini, ia mungkin akan mengernyitkan dahi melihat proyek ambisius 80.000 Koperasi Desa Merah Putih yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Dalam catatan sejarah, Hatta mendirikan koperasi sebagai bentuk perlawanan terhadap kapitalisme kolonial—mengusung nilai gotong royong, demokrasi ekonomi, dan kemandirian. Namun, apa yang kini disebut “Ibu Koperasi” Prabowo itu justru mencerminkan semangat komando, bukan kolektivitas. Lebih dekat pada mesin politik ketimbang lembaga ekonomi rakyat.

Koperasi Merah Putih bukan lahir dari rahim kebutuhan desa, melainkan dari rahim kekuasaan. Instruksi kepada kepala desa agar mendirikan koperasi ini datang dari atas—bukan hasil musyawarah warga, sebagaimana seharusnya prinsip koperasi dijalankan. Skema top-down ini sarat kepentingan, menabrak regulasi, dan berpotensi menciptakan kekacauan fiskal serta keuangan desa.

Modal koperasi diambil dari dana desa, yang semestinya digunakan untuk membangun infrastruktur dasar, meningkatkan layanan publik, dan memberdayakan masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun, skema Koperasi Merah Putih justru memotong 20 persen dana desa untuk modal awal dan 20 persen berikutnya dijadikan agunan pinjaman ke bank milik negara. Sebuah langkah yang tak hanya melanggar Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, tapi juga mengandung risiko sistemik bagi keuangan nasional jika proyek ini gagal.

Jika dihitung kasar, dari Rp71 triliun dana desa tahun ini, akan ada potensi utang koperasi sebesar Rp14 triliun tahun depan—dua kali lipat dari bailout Bank Century pada 2008 yang kala itu dianggap menyelamatkan sistem perbankan nasional. Bedanya, proyek Prabowo ini justru menyeret sistem perbankan masuk ke dalam arus politik elektoral. Pemakaian bank negara untuk proyek yang rapuh secara bisnis dan sarat muatan politik hanya akan merusak kredibilitas sektor keuangan dan memperlemah kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan negara.

Apalagi, dugaan adanya “balas jasa politik” tak bisa diabaikan. Investigasi menunjukkan proyek koperasi ini sebagai bentuk kompensasi kepada para kepala desa yang telah mendukung Prabowo dalam Pilpres 2024. Maka tak heran, para pengelola koperasi akan dipilih bukan berdasarkan kompetensi, melainkan loyalitas. Jabatan pengurus menjadi jatah partai pendukung seperti Gerindra dan Projo, bahkan turut dibagikan kepada politikus dari Partai Amanat Nasional yang kini mengelola kementerian terkait.

Selain problem hukum dan moral, skema bisnis Koperasi Merah Putih pun mengandung kelemahan mendasar. Pemerintah pusat akan menentukan jenis usaha koperasi, mulai dari simpan pinjam, apotek, gudang, hingga logistik—tanpa mempertimbangkan kebutuhan riil dan daya saing lokal. Padahal di banyak desa, warung kelontong dan pelaku usaha mikro sudah lebih dulu hadir. Koperasi Merah Putih justru berpotensi mematikan ekonomi desa yang telah bertahan secara organik.

Yang lebih tragis, koperasi jenis ini nyaris pasti akan gagal di tengah derasnya arus kapitalisme dan logika pasar bebas jika tidak dikelola dengan prinsip profesional. Banyak koperasi desa sebelumnya gulung tikar karena kalah bersaing dengan usaha swasta yang lebih gesit dan efisien. Koperasi hanya bisa bertahan jika dikelola oleh orang-orang yang paham pasar, bukan oleh relawan politik atau petugas partai.

Prabowo semestinya sadar bahwa keberpihakan pada desa tidak harus dibungkus dalam jargon nasionalis semu seperti “Merah Putih”. Jika benar ingin memperkuat ekonomi rakyat, maka perkuatlah lembaga yang sudah ada: BUMDes, koperasi tradisional, kelompok tani, dan UMKM lokal. Dana desa jangan dijadikan agunan politik, melainkan ditumbuhkan dalam semangat kemandirian.

Presiden juga perlu berpikir ulang. Menggelontorkan dana Rp14 triliun untuk koperasi yang belum jelas model bisnisnya adalah perjudian besar. Lebih baik dana itu difokuskan pada pembangunan infrastruktur dasar, fasilitas kesehatan, dan pendidikan yang nyata terasa dampaknya. Jika koperasi hendak didorong, biarlah tumbuh secara organik, dari bawah ke atas, bukan atas perintah kekuasaan.

Membangun koperasi memang penting. Tapi membangun politik yang sehat, ekonomi yang transparan, dan pemerintahan yang taat hukum jauh lebih penting. Jangan jadikan koperasi sebagai kendaraan politik lima tahunan. Sebab jika koperasi hanya dijadikan alat elektoral menuju Pilpres 2029, bukan saja ia mengkhianati semangat Hatta, tapi juga menodai harapan jutaan warga desa yang seharusnya menjadi subjek pembangunan—bukan objek manipulasi kekuasaan. (XRQ)

Penulis: Akil

30 April 1492: Spanyol Beri Izin Columbus Berlayar, Dunia pun Berubah

0
Christopher Columbus (1451–1506) adalah pelaut dan penjelajah asal Genoa. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Pada tanggal 30 April 1492, sejarah dunia memasuki babak baru. Di Kota Santa Fe, Spanyol, Ratu Isabella dari Kastilia dan Raja Ferdinand dari Aragon menandatangani sebuah dokumen penting yang memberikan izin resmi kepada Christopher Columbus untuk memulai ekspedisi pencarian rute barat menuju Asia. Dokumen itu dikenal sebagai Capitulaciones de Santa Fe.

Langkah berani kerajaan Katolik Spanyol ini ternyata menjadi titik tolak dari sebuah revolusi global. Ekspedisi Columbus tak membawa rempah-rempah Asia, tetapi justru membuka jalan bagi penemuan Benua Amerika dan awal dari era kolonialisme Eropa di Dunia Baru.

“Perjanjian ini menjanjikan Columbus gelar kehormatan Admiral of the Ocean Sea, hak atas 10 persen kekayaan yang ditemukan, serta jabatan gubernur atas wilayah yang ia klaim,” dikutip Nukilan.id dari tulisan Samuel Eliot Morison dalam buku Admiral of the Ocean Sea: A Life of Christopher Columbus (1942).

Keyakinan yang Mengubah Dunia

Christopher Columbus (1451–1506) adalah pelaut dan penjelajah asal Genoa, wilayah yang kini menjadi bagian dari Italia. Ia meyakini bahwa bumi itu bulat, dan bahwa pelayaran ke barat dari Eropa akan lebih cepat sampai ke Asia daripada rute ke timur yang dikuasai Kesultanan Ottoman.

Namun, keyakinan ini awalnya ditolak. Pada 1485, Columbus sempat mengajukan proposalnya kepada Raja Portugal, namun ditolak karena dianggap terlalu berisiko. Baru setelah jatuhnya Granada—tanda berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol pada Januari 1492—Ratu Isabella bersedia mendanai rencana ambisiusnya.

“Setelah perjanjian itu ditandatangani, Columbus memulai pelayarannya pada 3 Agustus 1492 dengan tiga kapal: Santa María, Pinta, dan Niña,” sebut Phillips & Phillips dalam The Worlds of Christopher Columbus (1992).

Mendarat di “Dunia Baru”

Puncak dari pelayaran itu terjadi pada 12 Oktober 1492. Berdasarkan catatan The Diario of Christopher Columbus’s First Voyage to America, 1492-1493 yang diterbitkan oleh University of Oklahoma Press, Columbus dan anak buahnya mendarat di sebuah pulau yang kini diketahui sebagai bagian dari Kepulauan Bahama. Columbus menamakannya San Salvador, dan ia percaya telah tiba di Asia Timur.

Kesalahan inilah yang membuatnya menyebut penduduk asli sebagai “Indian”, sebuah kekeliruan yang terus bertahan dalam sejarah.

Ekspedisi itu berlanjut ke Kuba dan Hispaniola (sekarang Haiti dan Republik Dominika), di mana Columbus mendirikan pemukiman La Navidad, permukiman Eropa pertama di benua Amerika.

Namun, penemuan ini bukan tanpa konsekuensi.

Luka di Balik Penemuan

Di balik kisah penjelajahan yang melegenda, tercatat pula babak kelam yang menyusul setelahnya. Sistem encomienda yang diterapkan membuat penduduk asli, suku Taíno, terjerumus dalam kerja paksa. Penyakit-penyakit Eropa seperti cacar menyebar dan memusnahkan populasi lokal.

Dalam Columbus: The Four Voyages (2011), Laurence Bergreen menyebut bahwa Columbus bahkan membawa ratusan penduduk asli ke Spanyol sebagai budak. Kekerasan, eksploitasi, dan kekeliruan geografis menjadi bagian dari warisan Columbus yang rumit.

“Hingga akhir hayatnya pada 1506, Columbus bersikukuh bahwa ia telah mencapai Asia, bukan benua baru,” tulis Bergreen.

Warisan yang Diperdebatkan

Di Eropa, Columbus pernah dipuja sebagai pahlawan penjelajah. Tapi di Amerika, banyak pihak memandangnya sebagai simbol penjajahan dan penindasan. Di Amerika Serikat, peringatan Columbus Day pada 12 Oktober kini banyak digantikan dengan Indigenous Peoples’ Day, sebagai bentuk penghormatan terhadap korban kolonialisme.

Meski membuka era pertukaran global—yang oleh para sejarawan disebut sebagai Columbian Exchange—penjelajahan Columbus juga memicu kerusakan ekologis dan krisis kemanusiaan.

Tanaman seperti kentang dan jagung memang diperkenalkan ke Eropa, tetapi penyakit dan invasi biologis juga ikut mengalir ke Dunia Baru. (XRQ)

Reporter: AKIL

Gelar Rakerda, Demokrat Aceh Matangkan Strategi Hadapi Pemilu Mendatang

0
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron saat doorstop di sela-sela Rakerda Demokrat Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Aceh menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda) di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Selasa (29/4/2025). 

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron ini turut dihadiri oleh seluruh ketua dan sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC), serta anggota DPR Aceh (DPRA) dan DPR Kabupaten/Kota (DPRK) dari Partai Demokrat se-Aceh.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron mengatakan pelaksanaan Rakerda merupakan kewajiban organisasi sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.

Ia menyebut, Rakerda kali ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah dan strategi politik menuju agenda politik ke depan.

“Mesin kami sudah mulai dipanaskan. Tujuan kami jelas, bagaimana meraih kembali kepercayaan rakyat Aceh. Kita punya sejarah yang baik di sini, pernah mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Itu yang ingin kami ulangi,” ujar Herman kepada awak media, termasuk Nukilan.

Herman juga mengingatkan pencapaian Partai Demokrat di Aceh, yang pernah menyumbangkan 7 kursi di DPR RI, 8 kursi di DPRA, dan meningkat menjadi 10 kursi pada Pemilu 2014. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi motivasi untuk kembali bangkit dan meraih simpati rakyat.

Selain membahas strategi politik, Rakerda juga menghasilkan sejumlah rekomendasi internal dan eksternal yang masih dalam tahap penyempurnaan. Para kader juga mendapatkan berbagai pembekalan penting dari DPP Partai Demokrat, termasuk arahan langsung dari Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) secara virtual.

“Kami juga dibekali dengan informasi perubahan AD/ART hasil Kongres ke-6, strategi komunikasi dari Bakomstra, hingga rencana kerja BPOKK untuk memperkuat konsolidasi,” tutup Herman.

Reporter: Rezi

Doa Nabi Yunus di UTBK 2025: Cerita Haru Perjuangan Menuju Kampus Impian

0
Suasana pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) di Universitas Syiah Kuala, Aceh. (Foto: USK)

NUKILAN.ID | Feature – Pagi baru saja menjelang ketika seorang remaja laki-laki berseragam santai, berkemeja abu-abu dan bercelana hitam, duduk sendiri di pelataran Gedung ICT Center Universitas Syiah Kuala.

Di hadapannya, mentari belum tinggi, namun wajahnya telah lebih dulu dibasahi cahaya harapan dan kegelisahan. Tampak sesekali ia menatap langit, sesekali pula menunduk sembari memejamkan mata, seolah sedang berdialog dengan Sang Pemilik Hidup.

Remaja itu bernama Farhan. Saat ditemui Nukilan.id di lokasi pelaksanaan ujian, ia memperkenalkan diri dengan suara pelan namun mantap.

“Namaku Farhan, dari Aceh Barat,” ucapnya pada Rabu (23/4/2025).

Farhan memilih untuk gap year tahun lalu. Bukan karena kendala biaya, melainkan karena belum berhasil lolos ke fakultas impiannya—Fakultas Kedokteran.

“Tahun lalu tidak lolos di Kedokteran. Jadi aku tidak kuliah dulu setahun untuk persiapan di tahun ini,” tuturnya.

Sebagai bentuk kesungguhan dan harapannya untuk masa depan, ia datang satu jam lebih awal sebelum pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Bukan karena takut terlambat, melainkan untuk menenangkan hatinya yang sejak malam tak kunjung menemukan kedamaian.

Bagi sebagian orang, UTBK mungkin hanya sekadar rangkaian soal dan waktu. Namun, bagi Farhan, ini adalah pertaruhan besar untuk masa depannya. Ia tidak ingin mengalami kegagalan untuk kedua kalinya.

Di dalam kepalanya, hanya ada satu doa yang terus terulang, yaitu doa Nabi Yunus yang sudah ia lantunkan sejak malam sebelumnya. Saat diminta Nukilan.id untuk menyebutkan lafaz doanya, Farhan membisikkan dengan lirih, nyaris tak terdengar:

“Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz-dzalimin.”

Dari raut wajahnya, seolah hanya Tuhan yang benar-benar tahu betapa besar harapan yang ia titipkan hari ini.

Tampak sebait doa terpampang di layar handphone-nya. Saat ditanya alasannya memasang doa tersebut, ia mengaku bahwa baginya UTBK bukan sekadar ujian akademik, melainkan juga momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Tahun lalu, layar handphone-nya masih dihiasi foto sang mega bintang sepak bola asal Portugal, idolanya sejak lama.

“Dulu foto Ronaldo di sini, tapi aku ganti supaya selalu ingat doa ini,” ungkapnya sambil tersenyum.

Seiring dengan itu, ia juga mulai mengurangi kebiasaan begadang demi menonton pertandingan sepak bola, demi fokus mempersiapkan diri menghadapi UTBK.

“Tadi malam overthinking, gelisah. Aku berdoa biar tenang. Tapi nggak tenang-tenang juga,” katanya sembari tertawa kecil, menyembunyikan ketegangan.

Namun, di balik kecemasannya, Farhan tetap berpegang pada satu keyakinan, doa Nabi Yunus dan doa-doa lain yang ia panjatkan akan mempermudah langkahnya dalam mengikuti ujian dan diterima di fakultas impiannya.

Tak hanya Farhan, wajah-wajah peserta lain yang memadati ICT Center juga tampak diliputi kecemasan menjelang dimulainya ujian.

Meski begitu, sebagian peserta tampak lebih santai karena telah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari. Salah satunya adalah Nabila.

Kepada Nukilan.id, Nabila mengaku berasal dari keluarga petani di Aceh Besar dan bercita-cita melanjutkan pendidikan di Universitas Syiah Kuala.

“Ayahku petani. Semoga aku lulus di USK,” ungkapnya.

Berbeda dengan Farhan, Nabila mengaku lebih tenang menghadapi UTBK hari ini karena sudah melakukan berbagai persiapan sebelumnya.

Tiga hari menjelang ujian, Nabila justru memilih untuk berhenti belajar. Bukan karena menyerah, melainkan sebagai strategi. Ia ingin tubuh dan pikirannya tetap segar saat menghadapi hari ujian.

“Kalau terus dipaksa belajar sampai hari H, takut malah blank pas ngerjain,” kata Nabila.

Nabila memilih program studi Hukum—sebuah pilihan yang cukup mengejutkan karena selama SMA ia belajar di jurusan IPA. Tapi dunia debat telah membentuk kecintaannya pada hukum.

“Aku suka debat dari dulu. Nggak tahu kenapa, berasa hidup aja kalau lagi debat,” ucapnya sambil tersenyum. “Jadi walaupun harus belajar dari nol, aku siap.”

Berbagai try out ia ikuti, dari yang gratis hingga berbayar. Puluhan soal ia taklukkan, les tambahan ia jalani, bahkan waktu nongkrong bersama teman pun rela ia kurangi.

UTBK 2025 diikuti oleh 860.976 peserta di seluruh Indonesia, termasuk 377 peserta difabel. Di antara mereka, hanya sekitar 295 ribu kursi yang tersedia di berbagai perguruan tinggi negeri.

Artinya, tidak semua akan berhasil. Tapi pagi itu, di bawah langit Banda Aceh yang mulai cerah, tidak ada yang ingin bicara tentang kegagalan.

Semua percaya, perjuangan mereka hari ini akan membawa hasil suatu saat nanti, entah lewat jalur SNBT atau jalur mandiri.

Bagi Farhan, hasil bukan segalanya. Yang terpenting, ia sudah berjuang. Ia sudah mengatur ulang mimpi dan menyiapkan diri untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

“Kalau gagal, mungkin ada pintu lain yang dibukakan,” ujarnya tenang.

Di sisi lain, Nabila masih memandangi langit. Ia tahu jalan menuju kampus impian masih panjang. Tapi ia tidak takut. Di balik buku-buku tebal dan deretan latihan soal, ia percaya, tidak ada perjuangan yang sia-sia selama dijalani dengan sepenuh hati.

Pagi itu, Banda Aceh menyimpan ratusan harapan yang melayang ke langit—harapan dari mereka yang baru menamatkan sekolah, yang sempat gapyear, hingga anak-anak petani di pelosok desa.

Semuanya dipersatukan oleh satu keyakinan, bahwa mimpi layak diperjuangkan, sejauh apa pun jalannya. Ditemani doa, dipeluk mimpi. (XRQ)

Penulis: Akil

Tgk. Haekal Afifa: Pelecehan Seksual Marak di Lembaga Berasrama, Bukan Hanya Dayah

0
Ilustrasi kekerasan seksual. (Foto: Ist)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kasus pelecehan seksual terhadap anak dan remaja di Aceh kian mengkhawatirkan. Yang membuat publik terkejut, sejumlah kasus justru mencuat dari institusi pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis agama seperti dayah atau pesantren. Kondisi ini memunculkan polemik di tengah masyarakat Aceh, benarkah dayah yang harus disalahkan, ataukah ini hanya efek bias dari pemberitaan media?

Menanggapi hal ini, Tgk. Haekal Afifa dari Institut Peradaban Aceh menyampaikan pandangannya dalam sebuah forum diskusi grup (FGD) yang ditayangkan oleh SagoeTV.

Dikutip Nukilan.id pada Selasa (29/4/2025), ia mengungkapkan bahwa sorotan publik terhadap dayah belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Ketika ini menjadi satu fenomena, kawan-kawan di publik itu kan menyorot dayah. Padahal di kampus juga lebih parah. Dan lebih parahnya lagi dari beberapa catatan dan riset dari dulu itu, saya coba masuk di institusi yang sifatnya boarding,” ungkap Tgk. Haekal.

Ia menekankan bahwa kecenderungan terjadinya pelecehan seksual bukan semata terjadi di dayah, melainkan pada semua institusi pendidikan yang menerapkan sistem berasrama atau boarding school.

“Jadi harus kita pahami penyakit ini, predator ini dia tetap bermain di ruang boarding yang sifatnya berasrama. Tidak mesti dayah,” tegasnya.

Namun demikian, menurut Haekal, stigma terhadap dayah muncul karena posisi dayah sebagai lembaga penjaga moral di masyarakat. Ketika lembaga yang seharusnya menjadi benteng akhlak justru terlibat kasus amoral, reaksi publik menjadi berlipat ganda.

“Masalahnya kenapa dayah yang diangkat? Karena dayah sebagai penjaga moral. Sama seperti polisi ketika dia melanggar aturan atau ada polisi yang melakukan tindak pidana, tetapi respon dari pihak kepolisiannya lambat, itu akan menjadi satu hal yang wah,” tuturnya.

Sorotan ini, tambahnya, bisa menciptakan persepsi keliru bahwa dayah adalah episentrum dari persoalan pelecehan seksual. Padahal, menurut pengalamannya sebagai Ketua Majelis Akreditasi Dayah, jumlah kasus memang ada, tetapi tidak mendominasi jika dibandingkan dengan lembaga lainnya.

“Ini sebenarnya yang menjadi titik masalah yang seakan-akan ya secara asumsi mungkin di dayah lebih banyak,” katanya.

Secara terbuka, Haekal juga mengakui bahwa lembaganya pernah menangani dan memproteksi beberapa dayah yang terlibat kasus pelecehan seksual terhadap santri. Ia tidak menutup-nutupi adanya pelanggaran yang dilakukan oleh oknum pimpinan maupun dewan guru.

“Maaf cakap ya. Selama saya menjadi ketua majelis akreditasi dayah, kami itu memproteksi sekitar tujuh atau delapan dayah yang memiliki kasus pelecehan seksual terhadap santri. Baik dilakukan oleh oknum pimpinan atau dilakukan oleh oknum dewan guru,” ujarnya.

Pernyataan Tgk. Haekal ini membuka ruang refleksi bagi semua pihak, bahwa persoalan kekerasan seksual di dunia pendidikan tidak boleh dilihat dari kacamata sempit. Diperlukan langkah serius untuk membenahi sistem pengawasan, khususnya di lembaga berasrama, agar anak-anak terlindungi dari para predator yang bersembunyi di balik jubah moral. (XRQ)

Reporter: AKil

Penaklukan Islam di Hispania: Awal Peradaban Al-Andalus 29 April 711

0
Lukisan Roderic yang memimpin Visigoth dalam Pertempuran Guadalete pada tahun 711 yang menjadi titik awal Islamisasi Spanyol dan Eropa dalam catatan sejarah dunia. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pada 29 April 711, sebuah momen penting dalam sejarah Eropa terjadi ketika pasukan Muslim yang dipimpin oleh seorang jenderal muda bernama Tariq bin Ziyad menjejakkan kaki di sebuah tanjung berbatu di ujung selatan Semenanjung Iberia.

Tempat itu kelak dikenal sebagai Gibraltar, berasal dari bahasa Arab Jabal Tariq—Gunung Tariq. Tanpa disadari, pendaratan ini akan mengubah wajah Eropa Barat untuk delapan abad ke depan, melahirkan peradaban gemilang bernama Al-Andalus.

Retaknya Kerajaan Visigoth

Sebelum kedatangan Islam, Hispania diperintah oleh Kerajaan Visigoth, sebuah kekuatan Kristen yang telah bercokol selama tiga abad. Namun kekuasaan itu rapuh, diguncang perebutan tahta dan konflik internal.

Dalam buku Muslim Spain and Portugal: A Political History of Al-Andalus, Nukilan.id menemukan bahwa kematian Raja Witiza membuka babak baru dalam krisis kepemimpinan. Roderick, yang mengklaim mahkota, tak diakui oleh semua bangsawan Visigoth.

Salah satu tokoh yang menentangnya adalah Count Julian, Gubernur Ceuta, yang konon mengundang kekuatan Muslim untuk menggulingkan Roderick..

Menurut sejarawan Muslim abad ke-9, Ibn Abd al-Hakam dalam Futuh Misr wa’l-Maghrib, permintaan bantuan itu diterima oleh Musa bin Nusayr, Gubernur Umayyah di Afrika Utara. Ia lalu mengirim jenderalnya yang paling terpercaya, Tariq bin Ziyad, untuk melakukan ekspedisi militer ke Hispania.

Langkah Pertama: Pertempuran Guadalete

Dengan pasukan sekitar 7.000 hingga 12.000 prajurit, mayoritas dari suku Berber, Tariq mendarat di Gibraltar pada 9 April 711. Dua bulan kemudian, pada 19 Juli, pasukan Muslim berhadapan langsung dengan tentara Visigoth yang dipimpin Raja Roderick di dekat Sungai Guadalete.

Pertempuran ini menjadi titik balik sejarah. Dalam The Arab Conquest of Spain, 710–797, diceritakan bahwa pasukan Roderick mengalami kekalahan telak. Raja itu sendiri tewas dalam pertempuran, dan kerajaan Visigoth pun runtuh dalam hitungan minggu. Jalan menuju penaklukan terbuka lebar.

Lahirnya Al-Andalus

Setelah kemenangan di Guadalete, pasukan Muslim melaju tanpa banyak perlawanan. Kota Toledo, ibu kota Visigoth, jatuh pada tahun yang sama. Disusul oleh Cordoba dan Sevilla pada 712. Tak lama kemudian, Musa bin Nusayr menyusul dengan bala bantuan dan memperluas kendali Muslim hingga ke pegunungan Pirenia, berbatasan dengan wilayah Prancis saat ini.

Pada tahun 718, hampir seluruh wilayah Hispania berada di bawah kekuasaan Islam, kecuali beberapa kantong di utara seperti Asturias. Dari sinilah Al-Andalus, nama yang diberikan Muslim untuk wilayah tersebut, mulai tumbuh sebagai entitas politik dan budaya yang unik.

Mercusuar Peradaban

Berbeda dengan citra penaklukan yang brutal, kehadiran Islam di Hispania justru memunculkan zaman keemasan di bidang ilmu pengetahuan, arsitektur, dan kebudayaan. Kota Cordoba menjadi pusat intelektual dunia pada abad pertengahan, menyaingi Baghdad dan Konstantinopel.

Dikutip dari The Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain, ribuan manuskrip karya filsuf Yunani dan Romawi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, lalu ke Latin, yang kelak menjadi bahan bakar bagi Renaisans Eropa. Di perpustakaan Cordoba, lebih dari 400.000 naskah disimpan, jumlah yang menyaingi perpustakaan manapun di Eropa kala itu.

Selain ilmu pengetahuan, Al-Andalus juga dikenal karena toleransi beragamanya. Umat Kristen dan Yahudi diperbolehkan mempraktikkan ajaran mereka dengan status dzimmi—kaum yang dilindungi hukum Islam, meskipun membayar pajak khusus.

Senjakala dan Akhir Era Emas

Namun kejayaan itu tak abadi. Sejak abad ke-11, kerajaan-kerajaan Kristen di utara mulai melakukan Reconquista—gerakan perebutan kembali wilayah yang dikuasai Muslim. Secara bertahap, wilayah Al-Andalus menyusut. Puncaknya terjadi pada 1492, ketika Granada—kota terakhir Muslim di Iberia—jatuh ke tangan pasangan monarki Katolik, Ferdinand dan Isabella. Bersamaan dengan itu, berakhir pula sejarah panjang peradaban Islam di Eropa Barat.

Warisan yang Tak Pernah Padam

Meski kekuasaan Islam di Iberia telah lama berlalu, jejaknya masih terasa hingga kini. Dari istana Alhambra di Granada hingga pengaruh bahasa Arab dalam kosakata Spanyol modern, warisan Al-Andalus tetap hidup. Penaklukan Tariq bin Ziyad bukan sekadar peristiwa militer, tetapi awal dari percampuran budaya yang menghasilkan salah satu peradaban paling cemerlang dalam sejarah manusia. (XRQ)

Reporter: Akil

Fenomena Bunuh Diri di Aceh: Antara Tekanan Hidup dan Minimnya Dukungan Psikologis

0
Ilustasi Depresi. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Maraknya kasus bunuh diri di Aceh dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Salah satu kasus terbaru melibatkan seorang mahasiswi yang ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar kos kawasan Darussalam, Banda Aceh. Tragedi ini menyisakan pertanyaan besar: apakah masyarakat Aceh tidak tahu bahwa bunuh diri adalah perbuatan dosa, terlebih Aceh dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam?

Menanggapi hal ini, Miftahul Jannah, seorang akademisi dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, memberikan penjelasan dalam sebuah podcast yang disiarkan oleh SagoeTV.

Dikutip Nukilan.id pada Selasa (29/4/2025), ia menegaskan bahwa pengetahuan masyarakat Aceh terhadap hukum agama sejatinya tidak diragukan.

“Semua orang tahu bahwa bunuh diri itu adalah dosa. Tapi kenapa juga beberapa orang melakukan bunuh diri? itulah karena tekanan hidup yang tidak sanggup dihadapi. Sehingga mencari jalan-jalan yang tidak baik,” ujar Miftahul.

Ia menilai bahwa tekanan hidup yang berat, baik karena persoalan pribadi, sosial, maupun akademik, menjadi penyebab utama seseorang memilih mengakhiri hidupnya. Dalam beberapa kasus, tekanan emosional yang berasal dari hubungan asmara juga turut memicu tindakan nekat tersebut.

“Banyak juga kasus mungkin selain stres akademik juga mungkin kasus percintaan dan putus cinta ikutam untuk aksi (bunuh diri) itu juga,” katanya.

Karena itu, menurut Miftahul, penting bagi kalangan muda, terutama mahasiswa, untuk memiliki kemampuan mengelola emosi dan memahami batas dalam membina hubungan dengan lawan jenis.

“Kalau di kampus kan selalu dosen menyampaikan remaja itu harus pintar-pintar membawa diri pada masa yang baru mengenal pasangan atau mengenal lawan jenis,” tuturnya.

Lebih lanjut, Miftahul juga merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti BRIN, Yurika Fauzia Wardani. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa dari tahun 2012 hingga 2020 terdapat lebih dari 2.000 kasus bunuh diri di Indonesia. Faktor percintaan disebut sebagai salah satu penyebab utama.

“Ada peneliti dari BRIN oleh Bu Yurika Fauzia Wardani. beliau meneliti sejak 2012 sampai 2020 ada 2.000 kasus lebih tentang bunuh diri. saya baca beberapa penelitian beliau, termasuk salah satu penyebab (bunuh diri) itu percintaan,” ujar Miftahul.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pendekatan agama saja tidak cukup tanpa dukungan psikososial dan kesehatan mental yang memadai. Pencegahan bunuh diri perlu menjadi agenda bersama semua pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga, untuk menciptakan ruang aman bagi masyarakat yang sedang berjuang menghadapi tekanan hidup. (XRQ)

Reporter: Akil