Beranda blog Halaman 56

4.323 Siswa di Banda Aceh Terima Beasiswa PIP Usulan Teuku Riefky Harsya

0
Penyerahan beasiswa PIP usulan Teuku Riefky Harsya secara simbolis di SMK-SMTI Banda Aceh, pada Rabu 10 Juni 2026. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sebanyak 4.323 siswa tingkat SD, SLB, SMP, SMA dan SMK di Kota Banda Aceh menerima bantuan beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2026 yang diusulkan oleh Teuku Riefky Harsya (TRH) melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI.

Penyerahan beasiswa dilakukan secara simbolis kepada perwakilan siswa dari masing-masing sekolah yang didampingi orang tua mereka di SMK-SMTI Banda Aceh, Rabu (10/6/2026).

Pada kesempatan tersebut, Teuku Riefky Harsya tidak hadir langsung di lokasi. Namun, Menteri Ekonomi Kreatif RI itu menyampaikan sambutannya kepada para penerima beasiswa melalui sambungan video call yang ditayangkan di hadapan siswa dan wali murid.

Dalam sambutannya, Teuku Riefky Harsya menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian terhadap dunia pendidikan di Aceh, khususnya bagi siswa yang membutuhkan dukungan untuk melanjutkan pendidikan.

“Beasiswa ini merupakan bentuk perhatian kita kepada pendidikan di Banda Aceh maupun Aceh secara umum. Ini menjadi bekal dan motivasi bagi para siswa untuk terus belajar dan meraih cita-cita,” ujar Riefky.

Ia mengucapkan selamat kepada para penerima bantuan dan berharap beasiswa tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik untuk menunjang kebutuhan pendidikan.

“Kami ucapkan selamat kepada para penerima. Semoga sukses dan menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara,” katanya.

Sementara itu, Penanggung Jawab PIP usulan TRH di Aceh, Aidil Mashendra, mengatakan bahwa pada tahun 2026 jumlah penerima PIP usulan Teuku Riefky Harsya di seluruh Aceh mencapai 40 ribu siswa.

“Dari total 40 ribu penerima di Aceh, sebanyak 4.323 siswa berasal dari Kota Banda Aceh,” ujar Aidil kepada Nukilan.

Ia menjelaskan, bantuan yang diberikan berbeda sesuai jenjang pendidikan. Untuk siswa SD dan SLB menerima bantuan sebesar Rp450 ribu per siswa, siswa SMP sebesar Rp750 ribu, sedangkan siswa SMA dan SMK menerima Rp1,8 juta per siswa.

Aidil menambahkan, kuota penerima PIP tahun 2026 di Aceh terdiri atas 22 ribu siswa SD, 9 ribu siswa SMP, 9.500 siswa SMA, dan 9.500 siswa SMK.

“Program beasiswa ini diharapkan dapat membantu meringankan beban biaya pendidikan keluarga sekaligus mendorong siswa untuk terus berprestasi dan menyelesaikan pendidikan mereka hingga jenjang yang lebih tinggi,” pungkasnya.

Reporter: Rezi

Pasar Tani Aceh Kembali Digelar, Dorong Stabilitas Harga dan Perluas Akses Pemasaran Produk Lokal

0
Pasar Tani Aceh Kembali Digelar, Dorong Stabilitas Harga dan Perluas Akses Pemasaran Produk Lokal. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh kembali menggelar kegiatan Pasar Tani sebagai upaya memperkuat pemasaran hasil pertanian sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 10 Juni 2026, di kawasan Expo Bank Aceh, Banda Aceh.

Sebanyak 46 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka terdiri atas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), unit pelaksana teknis daerah (UPTD), pelaku usaha sektor non-ruminansia, perwakilan sektor energi yang melibatkan ESDM bersama Pertamina, Capella Honda, rumah ayam potong, hingga petani sayur dan buah dari berbagai daerah.

Amatan Nukilan.id, pelaksanaan Pasar Tani turut dipantau oleh Subkoordinator Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh bersama jajaran staf untuk memastikan kegiatan berjalan lancar.

Pasar Tani menjadi salah satu program yang rutin dilaksanakan pemerintah daerah guna mempertemukan produsen dengan konsumen secara langsung. Melalui mekanisme tersebut, masyarakat dapat memperoleh berbagai kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, sementara petani dan pelaku UMKM memperoleh ruang pemasaran yang lebih luas tanpa melalui banyak perantara.

Selain menjadi wadah promosi bagi produk-produk lokal, kegiatan ini juga diharapkan mampu menjaga kestabilan harga komoditas pangan di pasaran. Upaya tersebut dinilai penting untuk membantu mengendalikan laju inflasi, khususnya pada kelompok bahan pangan yang kerap mengalami fluktuasi harga.

Pemerintah Aceh juga berharap keberadaan Pasar Tani dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani dan pelaku UMKM. Dengan terbukanya akses pasar yang lebih luas, hasil pertanian dan produk olahan lokal memiliki peluang lebih besar untuk terserap oleh masyarakat sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (XRQ)

Mendagri Klaim Kondisi Aceh Sudah Kembali Normal, Namun Pemulihan Belum Permanen

0
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera sekaligus Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyebut kondisi Aceh pascabencana yang melanda sejumlah wilayah beberapa waktu lalu secara umum telah kembali normal. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemulihan yang terjadi saat ini masih bersifat fungsional dan belum sepenuhnya permanen.

“Kebanyakan sudah kembali normal tapi belum permanen, normalnya normal fungsional,” kata Tito usai rapat koordinasi dan evaluasi capaian penanganan serta percepatan pemulihan pascabencana di Aceh yang berlangsung di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (9/6/2026).

Tito menjelaskan, normal fungsional yang dimaksud adalah kondisi di mana aktivitas masyarakat telah kembali berjalan. Pergerakan orang dan barang sudah lancar, pasokan listrik tersedia, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) beroperasi normal, jaringan internet berfungsi, serta kebutuhan logistik masyarakat dapat terpenuhi.

Meski begitu, ia mengakui masih terdapat sejumlah fasilitas publik yang belum pulih sepenuhnya. Beberapa sekolah masih menggunakan tenda atau bangunan darurat sebagai tempat belajar sementara. Sebagian lainnya masih menumpang di sekolah lain karena fasilitas utama belum dapat digunakan. Selain itu, sejumlah jembatan yang menjadi jalur mobilitas warga juga belum sepenuhnya rampung diperbaiki.

“Sebagian besar memang sudah kembali ke sekolah asal, tetapi ada yang masih menggunakan fasilitas darurat karena proses pemulihan belum selesai,” ujarnya.

Menurut Tito, tantangan berikutnya adalah menyelesaikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berbagai infrastruktur yang rusak akibat bencana. Sejumlah sektor yang masih membutuhkan perhatian meliputi perumahan warga, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, jalan, jembatan, hingga lahan pertanian dan tambak milik masyarakat.

“Terlepas dari kita sudah bisa mengembalikan kehidupan masyarakat kepada fungsi yang normal, masih banyak persoalan yang harus diselesaikan. Masalah perumahan, pendidikan, madrasah, jalan, jembatan, sawah, tambak dan lain-lain perlu diperbaiki dan direhabilitasi,” kata Tito.

Ia menegaskan pemerintah akan terus mengawal proses pemulihan agar kondisi masyarakat tidak hanya kembali normal secara fungsional, tetapi juga pulih secara permanen melalui pembangunan kembali infrastruktur dan fasilitas yang terdampak bencana.

Untuk memastikan program rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan sesuai target, pemerintah akan melakukan pemantauan secara berkala terhadap daerah terdampak.

“Kita monitor terus setiap dua minggu nantinya,” katanya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Illiza Hadiri Rakor Percepatan Rehab-Rekon Pascabencana Aceh Bersama Mendagri

0
pemko banda aceh
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) Pascabencana Hidrometeorologi Aceh yang dipimpin oleh Tito Karnavian di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Selasa (9/6/2026). (Foto: Humas BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) Pascabencana Hidrometeorologi Aceh yang dipimpin oleh Tito Karnavian di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Selasa (9/6/2026).

Rakor tersebut juga dihadiri oleh Muzakir Manaf, jajaran kementerian dan lembaga terkait, para kepala daerah kabupaten/kota, serta unsur pelaksana penanggulangan bencana dari pemerintah pusat maupun daerah. Pertemuan ini menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mempercepat pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah-wilayah Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi.

Dalam arahannya, Mendagri Tito Karnavian menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan secara tepat sasaran, terukur, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Selain fokus pada pemulihan infrastruktur, pemerintah juga mendorong percepatan pemulihan layanan publik serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di daerah terdampak.

Wali Kota Illiza menyambut baik komitmen pemerintah pusat dalam mempercepat pelaksanaan program rehab-rekon melalui koordinasi lintas sektor yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Menurut Illiza, tantangan bencana hidrometeorologi yang semakin kompleks mengharuskan pemerintah daerah terus memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan wilayah melalui pembangunan yang adaptif terhadap risiko bencana.

“Forum ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota dalam mempercepat pemulihan pascabencana sekaligus memperkuat upaya mitigasi ke depan,” ujar Illiza.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Banda Aceh tetap berkomitmen mendukung berbagai program pengurangan risiko bencana melalui penguatan infrastruktur perkotaan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan sistem mitigasi berbasis gampong guna mewujudkan kota yang tangguh dan berkelanjutan.

Melalui rakor tersebut, diharapkan seluruh program rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah direncanakan dapat terlaksana secara lebih efektif, sehingga mampu mempercepat proses pemulihan daerah sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana pada masa mendatang.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

IPB University dan Bank Indonesia Kembangkan Ekosistem Beras Berbasis Pesantren di Aceh

0
IPB University dan Bank Indonesia Kembangkan Ekosistem Beras Berbasis Pesantren di Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | MEUREUDU – Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CI-BEST) IPB University terus mendorong penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan ekosistem beras berbasis pesantren. Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dijalankan bersama Bank Indonesia di Pondok Pesantren Ummul Ayman III, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Program ini memanfaatkan varietas padi unggul hasil inovasi IPB University sebagai bagian dari strategi meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar.

Pada kegiatan panen demonstration farm yang berlangsung pada 8 Juni lalu, tim IPB University memperkenalkan dua varietas padi unggulan, yakni IPB 13S dan IPB 15S. Varietas IPB 13S menjadi salah satu inovasi yang mendapat perhatian karena memiliki potensi hasil mencapai 11 hingga 11,5 ton per hektare berdasarkan hasil pengujian sebelumnya.

Koordinator Rumpun Peneliti Padi IPB University sekaligus perwakilan CI-BEST IPB University, Ahmad Junaedi, kepada Nukilan.id menjelaskan bahwa varietas tersebut merupakan generasi padi tipe baru yang dirancang untuk menjawab berbagai tantangan pertanian di masa depan.

“IPB 13S merupakan varietas cerdas iklim yang memiliki produktivitas tinggi, lebih hemat penggunaan pupuk dan air, serta mampu beradaptasi terhadap kondisi kekeringan. Inovasi ini diharapkan dapat membantu petani menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani,” ujarnya.

Selain memperkenalkan varietas unggul, IPB University juga menerapkan teknologi bioimunisasi tanaman serta memberikan pendampingan budidaya modern kepada para petani. Sebagai bagian dari penguatan pertanian presisi, tim memasang automatic weather station (AWS) yang memungkinkan petani memantau kondisi cuaca secara real-time melalui telepon pintar.

Teknologi tersebut dinilai mampu membantu petani mengantisipasi berbagai risiko pertanian, mulai dari kekeringan, serangan hama dan penyakit tanaman, hingga cuaca ekstrem yang berpotensi memengaruhi hasil panen.

Program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas budidaya, tetapi juga membangun ekosistem bisnis beras yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dukungan yang diberikan mencakup penyediaan benih unggul, pendampingan budidaya, penguatan pascapanen, hingga pengolahan hasil panen melalui rice milling unit (RMU) dengan kapasitas 1,5 ton per jam.

Saat ini, Pondok Pesantren Ummul Ayman mengelola sekitar 80 hektare lahan sawah yang dikerjakan bersama masyarakat sekitar dan para guru pesantren. Pengelolaan lahan tersebut mampu memenuhi kebutuhan konsumsi internal pesantren yang mencapai sekitar satu ton beras per hari, sekaligus menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.

Perwakilan Bank Indonesia, Yason Taufik Akbar, menegaskan bahwa penguatan sektor pangan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas inflasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Melalui program ini, kami tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat tata niaga, kelembagaan, dan jejaring usaha pesantren agar tercipta model bisnis yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di berbagai daerah,” ujarnya.

Kegiatan panen tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Munawar Ibrahim, bersama jajaran pemerintah daerah, Baitul Mal Aceh, kelompok tani, alumni IPB University, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sekda Pidie Jaya menyampaikan bahwa keberhasilan demonstration farm menjadi simbol kebangkitan sektor pertanian daerah setelah wilayah tersebut terdampak banjir.

Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis GNPIP sendiri merupakan kolaborasi yang telah dikembangkan sejak 2024 oleh Bank Indonesia bersama IPB University. Saat ini program tersebut telah diterapkan di berbagai pesantren mitra yang berada di Aceh, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Ruang lingkup program mencakup penguatan budidaya, pascapanen, hilirisasi produk, pengembangan kelembagaan usaha, perluasan akses pasar, hingga dukungan pembiayaan. Melalui pendekatan tersebut, program diharapkan dapat menjadi model pengembangan ekonomi pesantren yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Polisi Tetapkan 12 Tersangka dalam Kasus Perusakan dan Pembakaran Gedung Fakultas Pertanian USK

0
USK
Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) terbakar, Kamis (21/5/2026) dini hari. Peristiwa itu diduga buntut keributan antar mahasiswa. (Foto: Dok. Polresta Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Polresta Banda Aceh menetapkan 12 orang sebagai tersangka dalam kasus perusakan dan pembakaran Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh yang terjadi beberapa waktu lalu.

Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Miftahuda Dizha Fezuono, mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap 35 orang saksi dalam proses penyelidikan kasus tersebut. Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik melakukan serangkaian pemeriksaan, analisis rekaman video, serta mengumpulkan berbagai alat bukti.

“Sejauh ini, jumlah tersangka yang telah ditetapkan sebanyak 12 orang dan saksi yang diperiksa sebanyak 35 orang. Penetapan tersebut berdasarkan hasil penyidikan dan alat bukti yang telah dikumpulkan oleh tim penyidik,” kata Dizha, Selasa (9/6/2026).

Adapun para tersangka yang telah ditetapkan berinisial MJ, WS, AH, RA, AL, FA, MGA, TAJ, HF, IS, dan TKS. Masing-masing tersangka diduga memiliki peran yang berbeda dalam peristiwa tersebut.

Menurut Dizha, tersangka MJ berperan sebagai pengarah aksi penyerangan ke Fakultas Pertanian dan menunjuk WS sebagai koordinator lapangan sekaligus memimpin rapat sebelum aksi dilakukan.

Sementara itu, AH disebut berperan sebagai pelempar bom molotov dan turut melakukan perusakan terhadap sejumlah fasilitas di Fakultas Pertanian USK. Sedangkan tersangka lainnya diduga ikut terlibat dalam penyerangan serta aksi pelemparan.

Meski telah menetapkan 12 tersangka, penyidik masih terus melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut.

“Selain melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka, penyidik masih membuka peluang untuk melakukan pengembangan apabila ditemukan bukti baru yang mengarah kepada pelaku lainnya,” tuturnya.

Polresta Banda Aceh menegaskan proses hukum akan dilaksanakan secara profesional dan transparan. Di sisi lain, pihak kampus juga berharap seluruh proses hukum dapat diselesaikan secara tuntas guna memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang terdampak.

Kepolisian berkomitmen menyelesaikan kasus tersebut hingga seluruh pihak yang terbukti terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Saat ini penyidikan masih terus berjalan. Kami mengimbau semua pihak untuk menghormati proses hukum yang sedang berlangsung dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu jalannya penyidikan,” tuturnya.

Sebelumnya, insiden perusakan dan pembakaran Gedung Fakultas Pertanian USK diduga merupakan buntut dari keributan yang terjadi antar mahasiswa. Peristiwa tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas kampus dan sempat menjadi perhatian publik di Aceh.

Abu Faisal Harap Lembaga Keistimewaan di Aceh Berjalan Maksimal

0
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPU) Aceh, sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk H Faisal Ali, yang akrab disapa Lem Faisal. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Faisal, berharap seluruh lembaga keistimewaan yang ada di Aceh dapat berfungsi dan berjalan secara maksimal guna mendukung pelaksanaan tugas dan wewenang MPU dalam pembangunan daerah.

Harapan tersebut disampaikan Abu Faisal saat membuka kegiatan Eksistensi Peran Ulama dalam Pembangunan Daerah Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba, Kompleks MPU Aceh, Selasa (9/6/2026).

Menurut Abu Faisal, pembangunan daerah tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah semata. Berbagai pemangku kepentingan, mulai dari masyarakat lokal, ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat, sektor swasta, organisasi non-pemerintah hingga komunitas nasional dan internasional perlu dilibatkan sesuai fungsi dan kapasitas masing-masing.

“MPU tentu kalau misalnya tidak ada dukungan dari pihak-pihak terkait, ormas, tokoh masyarakat, lembaga adat, lembaga pendidikan, lembaga-lembaga yang lain, tentunya apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab MPU tidak akan berjalan maksimal. Bagi MPU Aceh, keberadaan lembaga-lembaga keistimewaan yang ada baik di provinsi dan juga kabupaten/kota, itu adalah sesuatu yang sangat kami harapkan agar seluruh lembaga keistimewaan itu bisa berfungsi dan berjalan maksimal.” tegas Abu Faisal.

Ia menjelaskan, kegiatan eksistensi peran ulama tahun ini difokuskan di Kota Banda Aceh karena ibu kota provinsi tersebut menjadi wajah Aceh di mata para tamu dan pengunjung dari luar daerah.

“Tahun ini eksistensi kita fokuskan untuk ibukota kita Kota Banda Aceh, karena Kota Banda Aceh adalah cermin bagi Aceh secara menyeluruh bagi tamu-tamu yang datan ke Aceh. Dikesempatan eksistensi ini mari sama-sama kita mengkaji, melihat, merumuskan apa yang bisa kita lakukan demi agama, bangsa yang kita cintai ini,” lanjutnya.

Abu Faisal menilai kolaborasi dan kemitraan antarberbagai pihak sangat diperlukan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan program pembangunan daerah. Melalui sinergi tersebut, berbagai kebijakan dan program pemerintah diharapkan dapat berjalan sesuai visi dan misi pembangunan Kota Banda Aceh.

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, hadir sebagai pemateri dengan tema Kolaborasi dan Kemitraan Pemerintah Kota Banda Aceh dengan Ulama dalam Pembangunan Daerah. Ia menyambut baik gagasan penguatan sinergi antara pemerintah dan ulama.

Menurut Illiza, keberadaan ulama memiliki peran penting dalam membimbing masyarakat sekaligus menjaga nilai-nilai sosial dan keagamaan yang menjadi fondasi pembangunan daerah.

“Kita melihat sama-sama kondisi Banda Aceh pada hari ini, ada tantangan yang sudah kita hadapi serta ada ruang kolaborasi yang dapat terus kita perkuat kedepan. Dibutuhkan kolaborasi dan kemitraan yang kuat dengan para ulama yang selama ini hadir ditengah masyarakat sebagai pembimbing sekaligus penjaga nilai-nilai sosial dan keagamaan,” sebut Walikota Banda Aceh.

Pada kesempatan yang sama, Illiza juga menyampaikan apresiasinya kepada MPU Aceh yang dinilai telah memfasilitasi ruang dialog dan kerja sama untuk mendukung kemajuan Kota Banda Aceh.

“Kami mengapresiasi kepada MPU Aceh yang telah memfasilitasi memikirkan kemajuan Kota Banda Aceh untuk melaraskan apa-apa yang bisa kita kolaborasikan bersama-sama para alim ulama,” tutup Illiza saat menyampaikan materi yang dimoderatori Kepala Sekretariat MPU Aceh, Zahrol Fajri, S.Ag., MH.

Sebelumnya, Ketua Panitia yang juga Kepala Bagian Umum Sekretariat MPU Aceh, Rizal Fahlefi, SH., M.Ec.Dev, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kolaborasi antara ulama dan umara dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai agama serta kebutuhan masyarakat.

“Hasil yang diharapkan melalui kegiatan ini yang pertama terpenuhinya peran ulama dalam memberikan masukan dan pertimbangan kepada pemerintah, serta kebijakan dalam pembangunan daerah. Meningkatnya pemahaman terhadap tugas pokok, fungsi dan wewenang Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Banda Aceh,” jelasnya.

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari penuh itu diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari unsur pimpinan dan anggota MPU Banda Aceh, organisasi kemasyarakatan Islam, instansi SKPK terkait, lembaga keistimewaan dan kekhususan, pimpinan pesantren atau dayah, serta pejabat struktural Sekretariat MPU Banda Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Tulus Bius Ribuan Penonton di Management Creativity Festival 2026 Banda Aceh

0
tulus
Ribuan kaula muda memadati Taman Seni & Budaya Aceh dalam gelaran Management Creativity Festival 2026, Selasa (9/6/2026) malam. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Musisi kenamaan Indonesia, Tulus, sukses menghibur dan memikat ribuan kaula muda yang memadati kawasan Taman Seni & Budaya Aceh dalam gelaran Management Creativity Festival 2026, Selasa (9/6/2026) malam.

Penyanyi yang memiliki nama lengkap Muhammad Tulus tersebut didapuk sebagai bintang tamu utama dalam festival itu. Sejak usai maghrib, para penggemarnya sudah memadati area acara untuk menunggu penampilan sang idola.

Berdasarkan pantauan Nukilan.id di lapangan, Tulus membawakan sejumlah lagu andalannya yang selama ini menjadi favorit para pendengar. Beberapa di antaranya adalah Hati-Hati di Jalan, Satu Hari di Bulan Juni, Jatuh Suka, Tujuh Belas, hingga Diri.

Penampilan Tulus berhasil menciptakan suasana yang hangat dan penuh antusiasme. Ribuan penonton tampak larut dalam setiap lagu yang dibawakan. Mereka ikut bernyanyi bersama, sementara tepuk tangan dan sorakan terdengar silih berganti sepanjang konser berlangsung.

Memasuki penghujung penampilan, hujan gerimis mulai turun membasahi Kota Banda Aceh. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi semangat para penonton yang tetap bertahan menikmati setiap sajian musik dari pelantun lagu Monokrom tersebut.

Salah seorang penonton bernama Maya mengaku sangat bahagia karena akhirnya dapat menyaksikan secara langsung penampilan Tulus di Banda Aceh. Ia menyebut Tulus sebagai salah satu penyanyi favoritnya.

Menurut Maya, lagu Hati-Hati di Jalan merupakan karya Tulus yang paling ia sukai. Ia juga menilai harga tiket konser sebesar Rp250.000 sepadan dengan pengalaman yang didapatkan selama menyaksikan pertunjukan tersebut.

“Senang sekali bisa hadir dan menyaksikan langsung penampilan Tulus. Saya memang penggemarnya, terutama lagu Hati-Hati di Jalan. Penampilannya sangat memuaskan, jadi tidak rugi membeli tiket seharga Rp250.000,” ujar Maya.

Suasana semakin terasa emosional ketika Tulus membawakan lagu Diri. Di tengah rintik hujan yang turun perlahan, lantunan lirik lagu tersebut menggema di seluruh area pertunjukan.

“Luka, luka, hilanglah luka,
Biar tent’ram yang berkuasa”

Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam konser malam itu dan disambut hangat oleh para penggemar yang turut menyanyikannya bersama-sama.

Dalam pelaksanaannya, panitia Management Creativity Festival 2026 tetap menerapkan pemisahan antara penonton laki-laki dan perempuan. Konser juga baru dimulai setelah salat Isya sebagai bentuk penyesuaian terhadap kearifan lokal dan penerapan syariat Islam di Aceh. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

USK Latih KWT Allium Cepa dan Serahkan 20 Instalasi Hidroponik untuk Dukung Ketahanan Pangan Keluarga

0
usk
Tim pengabdian Universitas Syiah Kuala (USK) menyerahkan 20 unit instalasi hidroponik kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Allium Cepa di Gampong Jawa, Banda Aceh, sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat untuk mendukung ketahanan pangan keluarga dan ekonomi hijau berbasis komunitas. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelatihan budidaya hidroponik dan praktik pembuatan instalasi hidroponik pekarangan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Allium Cepa di Gampong Jawa, Kota Banda Aceh.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Community Development Nasional Provinsi Aceh (CDNA-E) yang mengusung tema “Pemberdayaan KWT Allium Cepa Melalui Hidroponik Pekarangan dan Eco-Enzyme untuk Ketahanan Pangan dan Ekonomi Hijau”.

Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas anggota kelompok wanita tani dalam memanfaatkan lahan pekarangan secara produktif melalui penerapan teknologi pertanian yang sederhana, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Ketua pelaksana kegiatan, Ir. Mujiburrahmad, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa pemanfaatan pekarangan rumah dengan sistem hidroponik menjadi salah satu solusi strategis dalam meningkatkan ketersediaan pangan keluarga, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan.

“Hidroponik tidak hanya menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan sayuran sehat bagi keluarga, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi usaha produktif yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap anggota KWT mampu mengimplementasikan teknologi yang telah diperoleh secara mandiri dan berkelanjutan,” ungkapnya kepada Nukilan.id.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pembukaan yang dipandu oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Pelaksana.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Geuchik Gampong Jawa, Musrifun, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Universitas Syiah Kuala atas kepeduliannya dalam mendampingi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.

Menurut Musrifun, program pengabdian yang berfokus pada peningkatan keterampilan masyarakat sangat penting dalam mendukung kemandirian pangan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi dapat terus berkembang menjadi gerakan masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan rumah untuk menghasilkan pangan yang sehat dan bernilai ekonomi,” ujarnya.

Pada sesi pelatihan, peserta mendapatkan materi yang disampaikan oleh Dr. Ir. Purwana Satriyo, S.TP., M.T. Materi tersebut mencakup berbagai aspek budidaya hidroponik, mulai dari persiapan alat dan bahan, penyemaian benih, pengelolaan nutrisi tanaman, pemeliharaan, hingga pengendalian hama dan penyakit.

Selain menerima materi teori, para peserta juga berkesempatan mengikuti praktik langsung merakit instalasi hidroponik pekarangan. Antusiasme anggota KWT Allium Cepa terlihat selama kegiatan berlangsung.

Mereka aktif berdiskusi dan mengikuti setiap tahapan praktik dengan harapan dapat menerapkan teknologi hidroponik di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim pengabdian Universitas Syiah Kuala menyerahkan sebanyak 20 unit instalasi hidroponik kepada KWT Allium Cepa. Penyerahan bantuan tersebut ditandai dengan penandatanganan berita acara serah terima aset antara tim pelaksana dan pihak kelompok tani.

Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdian yang dipimpin Ir. Mujiburrahmad, S.P., M.Si., dengan anggota Prof. Dr. Ir. Elly Kesumawati, M.Agric.Sc., Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU., ASEAN Eng., serta Dr. Ir. Purwana Satriyo, S.TP., M.T.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Meuraxa yang diharapkan dapat terus melakukan pendampingan kepada kelompok sasaran sehingga implementasi teknologi hidroponik dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.

Tim pelaksana turut menyampaikan apresiasi atas dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang dijalankan melalui Program EQUITY berdasarkan Kontrak Nomor 4318/B3/DT.03.08/2025 dan Nomor 491/UN11/HK.02.06/2025.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari Program Community Development Nasional Provinsi Aceh (CDNA-E) berdasarkan Kontrak Nomor 558/UN11.2.4/WCU.06.02/CDNA-E/2026.

Melalui kegiatan ini, USK berharap sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus diperkuat guna melahirkan berbagai program pemberdayaan yang inovatif dan berkelanjutan.

Selain menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, Universitas Syiah Kuala juga mempertegas perannya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Aceh, khususnya dalam mewujudkan ketahanan pangan keluarga dan ekonomi hijau berbasis komunitas. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

DKP Aceh Masih Tunggu Informasi Resmi Terkait Nasib 18 Nelayan Aceh yang Ditahan di Thailand

0
Ilustrasi nelayan. (Foto: Kompas)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh mengaku masih menunggu informasi resmi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terkait perkembangan proses hukum yang dijalani 18 nelayan asal Aceh Timur yang ditahan otoritas Thailand.

Kepala DKP Aceh melalui Kabid Pengawasan Kelautan dan Perikanan, M Surya Putra, mengatakan para nelayan tersebut saat ini masih menjalani proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku di Thailand setelah diduga melakukan penangkapan ikan secara ilegal di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara tersebut.

“Prosesnya tetap berjalan. Mereka diproses hukum dan menjalani persidangan terlebih dahulu. Sampai hari ini kami belum mendapatkan informasi terkait berapa lama masa penahanan, bentuk hukumannya maupun besaran denda yang akan dikenakan,” kata Surya Putra saat dikonfirmasi Nukilan, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, penanganan kasus nelayan yang ditangkap di perairan negara lain merupakan kewenangan negara tempat pelanggaran terjadi. Karena itu, setiap nelayan yang terbukti memasuki wilayah perairan negara lain tanpa izin akan diproses berdasarkan hukum negara bersangkutan.

Surya menjelaskan, berdasarkan sejumlah kasus sebelumnya yang melibatkan nelayan Indonesia di Thailand, India maupun Myanmar, sanksi yang diberikan biasanya ditentukan melalui proses persidangan.

Terkait upaya pendampingan terhadap para nelayan, Surya menyebut komunikasi dilakukan melalui KBRI di Thailand. Namun hingga saat ini belum ada perkembangan terbaru yang disampaikan kepada Pemerintah Aceh.

“Jalur komunikasi kami melalui KBRI. Sampai hari ini belum ada informasi tambahan mengenai putusan, lama hukuman ataupun perkembangan lainnya,” sebutnya.

Kasus ini bermula dari penangkapan 19 nelayan asal Aceh Timur oleh otoritas Thailand pada 10 Maret 2026 karena diduga melakukan aktivitas penangkapan ikan di wilayah ZEE Thailand.

Dari jumlah tersebut, satu anak buah kapal (ABK) bernama M. Yunus telah dipulangkan ke Indonesia karena masih berstatus di bawah umur. Pemulangan dilakukan dengan pendampingan penuh dari KBRI Thailand.

“Yang sudah dipulangkan adalah satu ABK yang masih di bawah umur. Proses pemulangannya dibantu sepenuhnya oleh pihak KBRI dan kasus itu sudah selesai,” ujarnya.

Sebanyak 18 nelayan yang masih menjalani proses hukum tersebut berasal dari dua kapal penangkap ikan. Kapal KM Bahagia Satu diawaki oleh Zarkasyi, Hamdani, Samsul Bahri, Yahdi, dan Syarkawi.

Sementara kapal KM Aneuk Manja membawa 14 ABK, yakni Adnan, Maulana, Anwar, Rasyidin, Raihandy, Muzakir, Musliadi, Zulkifli, Novindra, Darmadan, Saifully, Zulkifli, M. Yunus, dan M. Saputra. Dari daftar tersebut, M. Yunus telah dipulangkan ke Indonesia karena masih berstatus anak di bawah umur. []

Reporter: Sammy