Beranda blog Halaman 557

Akhir Pekan, Jalan Lhoknga Terpantau Ramai Lancar

0
Simpang Lampuuk, Kecamatan Lhoknga Terpantau Ramai Lancar. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Arus lalu lintas di Jalan Nasional Banda Aceh-Meulaboh, tepatnya di Kecamatan Lhoknga, terpantau ramai lancar pada Minggu (9/2/2025). Kepadatan terjadi karena banyak warga Banda Aceh yang menghabiskan akhir pekan di kawasan wisata pantai Lhoknga dan sekitarnya.

Berdasarkan pantauan Nukilan.id, volume kendaraan meningkat di beberapa titik, terutama di simpang Lampuuk, Gampong Mon Ikeun. Sekitar pukul 18.00 WIB, arus kendaraan yang kembali dari arah Leupung dan Lampuuk menuju Banda Aceh terpantau ramai, namun tidak menimbulkan kemacetan berarti.

Meski lalu lintas padat, kondisi jalan tetap terkendali. Pengguna jalan diimbau untuk tetap berhati-hati dan mematuhi rambu lalu lintas, terutama saat akhir pekan ketika volume kendaraan meningkat di kawasan wisata. (XRQ)

Reporter: AKil

Kemenag Ajak Kepala Madrasah Majukan Perfilman Dokumenter di Aceh

0
Pembukaan Sosialisasi Aceh Documentary Compertition (ADC) 2025, di Banda Aceh. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si, mengajak kepala sekolah dan madrasah untuk berperan aktif dalam mengembangkan perfilman dokumenter di Aceh. Ajakan ini disampaikannya dalam acara Sosialisasi Aceh Documentary Competition (ADC) 2025 yang digelar di sebuah hotel di Banda Aceh pada Jumat (7/2/2025).

“Semoga ini menghidupkan inspirasi bagi pelaku perfilman, komunitas, organisasi maupun sekolah dan madrasah yang ada di Provinsi Aceh,” ujar Azhari saat membuka acara.

Sosialisasi ini diselenggarakan oleh Yayasan Aceh Dokumenter dan dihadiri oleh 30 kepala Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), serta Madrasah Aliyah dari berbagai daerah di Aceh. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan pentingnya dokumenter sebagai media edukatif serta mendorong para pendidik agar lebih kreatif dalam membimbing siswa dalam dunia perfilman.

Azhari berharap sekolah dan madrasah yang terpilih dalam program ini dapat memilih guru pendamping yang memiliki antusiasme tinggi terhadap pembelajaran kreatif dan budaya visual.

“Karena guru-guru inilah yang akan mengumpulkan bibit-bibit kreatif di sekolahnya, dan mengarahkan para siswa untuk mengekspresikan ide dan pandangan melalui film nantinya,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa setiap film dokumenter yang dihasilkan di Aceh harus mengandung pesan moral dan nilai-nilai positif.

“Harus ada pesan dakwah di sana,” ujarnya.

Menurutnya, Aceh Documentary Competition bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan. Lewat program ini, para guru mendapat kesempatan untuk meningkatkan kapasitas mereka sekaligus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan kreatif di Aceh.

“Guru tidak hanya memperkuat kapasitas pribadi tetapi juga menciptakan perubahan nyata di sekolah masing-masing,” tuturnya.

Dengan adanya kolaborasi antara komunitas film dan dunia pendidikan, Azhari optimistis bahwa generasi muda Aceh dapat lebih kreatif dan mampu menuangkan ide-ide inovatif dalam bentuk dokumenter yang bermakna.

Editor: Akil

Aceh Penghasil Kakao Penting di Indonesia

0
Pj Bupati Aceh Timur Amrullah M Ridha pada sosialisasi program pendampingan petani kakao di Aceh Timur. (Foto: ANTATA)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk – Provinsi Aceh memiliki peran penting dalam industri kakao nasional. Namun, sejumlah tantangan menghambat produktivitasnya. Penjabat (Pj) Bupati Aceh Timur, Amrullah M Ridha, menyoroti kondisi tersebut dalam sosialisasi program pendampingan petani kakao yang digelar di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Aceh Timur, Kamis (6/2/2025).

“Indonesia merupakan produsen utama dalam industri kakao global. Aceh juga berkontribusi dalam produksi kakao,” kata Amrullah di Aceh Timur, Sabtu (8/2/2025).

Meski memiliki potensi besar, produksi kakao di Indonesia justru mengalami penurunan signifikan dalam lima tahun terakhir. Data menunjukkan, volume produksi biji kakao nasional turun dari 270.000 ton pada 2017 menjadi hanya 170.000 ton pada 2021.

Di Aceh sendiri, lebih dari 95.000 hektare lahan kakao sudah berumur tua, yakni lebih dari 20 tahun, sehingga tidak lagi produktif. Sistem budidaya monokultur yang masih diterapkan membuat tanaman lebih rentan terhadap hama dan penyakit.

“Data menunjukkan lebih 95.000 ha areal tanaman kakao Aceh sudah berumur tua 20 tahun yang tidak produktif dengan tingkat produktivitas rendah,” ungkap Amrullah.

Faktor lain yang turut menjadi tantangan adalah rendahnya penerapan praktik budidaya yang baik serta minimnya inovasi dalam mengembangkan tanaman kakao. Selain itu, perubahan iklim turut memperburuk keadaan. Kondisi seperti kekeringan berkepanjangan, curah hujan yang tidak menentu, peningkatan suhu, hingga merebaknya hama dan penyakit, semakin menggerus hasil panen dan mempengaruhi kesejahteraan petani.

“Seiring dengan meningkatnya permintaan global akan kakao berkualitas, pengembangan pertanian kakao berkelanjutan menjadi sangat penting untuk diterapkan oleh petani untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan meningkatkan produktivitas kakao di Aceh,” ujar Amrullah.

Ke depan, program pendampingan bagi petani kakao diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mereka tentang budidaya berkelanjutan serta teknik pengelolaan lahan yang lebih baik. Dengan langkah konkret, Aceh diharapkan bisa tetap mempertahankan perannya sebagai daerah penghasil kakao yang berkontribusi bagi industri nasional maupun global.

Editor: Akil

Pedagang Eceran Elpiji 3 Kg di Aceh Keluhkan Sulitnya Pasokan

0
Tabung gas LPG 3 Kilogram. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Sejumlah pedagang eceran gas elpiji 3 kilogram di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan. Penyebab utama adalah aturan ketat dari pangkalan yang mengharuskan pembeli membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta ketiadaan alokasi khusus bagi pedagang eceran.

Indra, seorang pedagang di Jalan Darussalam, mengungkapkan bahwa mendapatkan elpiji bersubsidi bukan perkara mudah.

“Untuk mendapatkan elpiji itu tidak mudah. Pangkalan tidak memberikan jualan sembarangan, harus bawa Kartu Tanda Penduduk (KTP). Katakanlah saya satu rumah, saya dan istri. Ya dapat dua tabung saja,” ujar Indra, Sabtu (8/2/2025).

Ketiadaan pasokan khusus untuk pedagang eceran membuat mereka hanya bisa menjual dalam jumlah terbatas. Indra misalnya, hanya mampu menjual lima tabung elpiji per hari, dengan keuntungan yang tidak seberapa. Hal ini turut dirasakan oleh Zubir, pedagang lainnya, yang memiliki 20 tabung elpiji yang diperoleh dari pemasok lain.

“Sampai hari ini tidak ada pasokan khusus buat pedagang eceran. Harusnya ini yang dibenahi, berapa tabung kami bisa jual per bulan,” keluh Zubir.

Meski tidak terjadi antrean panjang di Aceh, para pedagang tetap merasa dirugikan karena harga yang mereka jual kerap dianggap terlalu mahal.

“Kesannya kami jual Rp 30.000 per tabung mahal sekali dari harga eceran di pangkalan Rp 18.000. Tapi itu sudah berapa kali ambil untung, kami beli dari pedagang lainnya,” jelasnya.

Zubir berharap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bisa memberikan solusi dengan memastikan adanya kuota tabung elpiji bagi pedagang eceran.

“Sehingga kami untung, rakyat juga untung. Karena harganya seragam,” katanya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut bahwa pemerintah tengah menata ulang distribusi gas elpiji bersubsidi agar harga lebih terjangkau bagi masyarakat. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah meningkatkan status pedagang eceran menjadi subpangkalan sehingga distribusi gas lebih terkontrol dan harga lebih stabil.

Editor: Akil

Drs. Tgk. H. Abdul Wahab Dahlawy: Sosok Bupati Aceh Utara yang Berkontribusi bagi Pembangunan dan Pendidikan

0
Drs. Tgk. H. Abdul Wahab Dahlawy. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Drs. Tgk. H. Abdul Wahab Dahlawy adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan Aceh Utara. Lahir di Buket Pala, Idi Rayeuk, Aceh Timur, pada tahun 1918, ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang fokus pada pembangunan infrastruktur, industri, dan pendidikan.

Dikutip Nukilan.id dari berbagai sumber, ia pertama kali menjabat sebagai Penjabat Sementara Bupati Aceh Utara pada 1958-1960. Kemudian, ia kembali terpilih sebagai Bupati Aceh Utara periode 1967-1972. Di bawah kepemimpinannya, wilayah Aceh Utara, yang saat ini mencakup Lhokseumawe dan Bireuen, mengalami berbagai kemajuan signifikan.

Perjalanan Pendidikan dan Karier

Abdul Wahab Dahlawy memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, mulai dari Guvernemen-Inlandsche School hingga menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Ia juga pernah menimba ilmu di Madrasah Darus Hadist Az-Zubaidiyah di Delhi, India, dan meraih gelar Master of Islamic Law.

Kariernya di pemerintahan dimulai dari tingkat kewedanaan hingga menjabat sebagai Patih di berbagai kabupaten, seperti Aceh Timur, Nias, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Aceh Utara. Ia juga sempat menjabat sebagai pejabat bupati di beberapa daerah sebelum akhirnya menjadi Bupati Aceh Utara.

Selain itu, ia juga berkontribusi di dunia pendidikan. Abdul Wahab Dahlawy pernah menjadi guru di berbagai madrasah dan sekolah menengah Islam di Aceh serta menjadi dosen Fakultas Dakwah di Banda Aceh.

Kontribusi Besar bagi Aceh Utara

Selama menjabat sebagai Bupati Aceh Utara, Abdul Wahab Dahlawy berperan penting dalam merintis pembangunan perguruan tinggi yang kemudian menjadi cikal bakal Universitas Malikussaleh dan Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe. Upayanya dalam membangun sektor pendidikan ini menjadi salah satu warisan berharga bagi generasi mendatang.

Di bidang infrastruktur dan industri, ia mendorong pembangunan yang mendukung pertumbuhan ekonomi di Aceh Utara. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi, termasuk menjadi Ketua Indonesian-Malayan Association di Delhi pada 1939-1941.

Sosok Multitalenta dan Pejuang

Tidak hanya berkarier di pemerintahan dan pendidikan, Abdul Wahab Dahlawy juga seorang veteran yang pernah menjabat sebagai Kepala Distrik Tentara di Langsa pada 1949-1950. Ia juga menjadi Wakil Ketua Perjuangan Rakyat Kewedanan Lhokseumawe serta pernah menjadi anggota DPRK Aceh Timur.

Di masa penjajahan Jepang, ia sempat menjadi petani sambil tetap mengajar. Tak hanya itu, ia juga pernah mengelola tambang minyak di Lhokseumawe.

Warisan dan Inspirasi

Perjalanan hidup Drs. Tgk. H. Abdul Wahab Dahlawy adalah bukti dedikasi seorang pemimpin yang bekerja keras demi kemajuan daerahnya. Kontribusinya di berbagai bidang, terutama pendidikan dan pembangunan, masih dirasakan hingga kini dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemkab Aceh Barat Dukung Keberlanjutan Program Udara Bersih Indonesia

0
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Barat, Safrizal. (FOTO: ANTARA)

NUKILAN.ID | Meulaboh – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mendukung penuh keberlanjutan program Udara Bersih Indonesia (UBI) yang dijalankan Yayasan Field Indonesia. Program ini dinilai berkontribusi besar dalam mengurangi polusi dan meningkatkan praktik pertanian ramah lingkungan di daerah tersebut.

“Pemerintah daerah berharap program Udara Bersih Indonesia di Aceh Barat dapat kembali berlanjut tahun 2025 ini, karena salah satu programnya mengurangi polusi di Indonesia khususnya di Kabupaten Aceh Barat,” kata Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Aceh Barat, Safrizal, Sabtu (8/2/2025).

Sejak dimulai pada 2021, program UBI telah memberikan dampak positif bagi petani, terutama dalam hal pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan. Salah satu langkah utama yang diterapkan adalah metode pengolahan tanah tanpa pembakaran, yang efektif dalam menekan polusi udara serta menjaga kesuburan tanah.

Safrizal menambahkan, program ini juga mendorong petani untuk beralih ke metode pertanian sehat tanpa penggunaan pupuk kimia.

“Harapannya kita berharap program ini dapat terus berjalan,” ujarnya.

Fasilitator Field Indonesia Wilayah Aceh, Marzuki, menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalankan berbagai pelatihan guna membantu petani menerapkan teknik bertani yang lebih ramah lingkungan. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah metode mulsa tanpa olah tanah serta teknik Hugelkultur, yakni pembuatan bedengan kayu yang tidak hanya memudahkan budidaya tanaman, tetapi juga meningkatkan kualitas tanah secara alami.

Selain itu, program ini juga mengajarkan pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan alami, seperti ceker ayam untuk pupuk padat, cangkang telur untuk pupuk kalsium, serta pupuk cair organik yang dapat dibuat sendiri oleh petani dengan biaya murah.

Marzuki berharap pemerintah daerah dan pemangku kebijakan memberikan perhatian lebih terhadap keberlanjutan program ini.

“Dengan adanya pelatihan tersebut, selama ini pihaknya telah mampu membantu petani dalam mendapatkan pupuk organik tanpa harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dan harga yang murah,” katanya.

Program UBI di Aceh Barat diharapkan dapat terus berkembang, seiring dengan meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya pertanian berkelanjutan dan udara bersih di daerah tersebut.

Editor: Akil

Fakta Menarik Tentang Bak Me: Warisan Belanda yang Masih Bertahan di Jalanan Banda Aceh

0
Pohon Asam Jawa atau Bak Me. (Foto RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Jika Anda berkunjung ke Banda Aceh, pemandangan pohon asam jawa (Tamarindus indica) atau yang dikenal dengan sebutan Bak Me di sepanjang jalan bukanlah hal asing. Pohon ini bukan sekadar penghias jalan, tetapi menyimpan sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Hingga kini, Bak Me masih bertahan dan memberikan berbagai manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Dikutip Nukilan.id dari berbagai sumber dan jurnal ilmiah, Belanda menanam Bak Me bukan hanya untuk estetika, melainkan juga berdasarkan pertimbangan fungsional yang mendukung infrastruktur jalan. Berikut beberapa alasan utama mengapa pohon ini tetap lestari:

1. Peneduh Alami
Dengan kanopi yang lebat dan daun kecil yang rapat, Bak Me memberikan keteduhan yang signifikan. Di masa lalu, ketika kendaraan bermotor belum mendominasi, pohon ini menjadi tempat istirahat bagi pejalan kaki dan pengendara kereta kuda.

2. Tahan Cuaca Ekstrem
Bak Me dikenal tangguh terhadap kondisi lingkungan yang sulit. Akarnya yang dalam mampu mencari air di tanah yang kering, menjadikannya pilihan ideal untuk tumbuh di sepanjang jalan raya yang panas. Selain itu, batangnya yang kokoh membuatnya tahan terhadap angin kencang.

3. Minim Perawatan
Dibandingkan dengan beberapa jenis pohon lainnya, Bak Me tidak memerlukan banyak perawatan. Daunnya yang kecil tidak banyak berguguran sehingga tidak merepotkan dalam pembersihan jalan. Selain itu, buahnya yang jatuh juga tidak menimbulkan masalah besar.

4. Penyaring Polusi Udara
Bak Me berperan dalam menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, yang penting bagi kualitas udara di perkotaan. Daunnya juga mampu menangkap debu dan polutan, membantu mengurangi tingkat pencemaran udara.

5. Bernilai Ekonomis
Selain manfaat ekologis, Bak Me juga memiliki nilai ekonomi. Buahnya sering dimanfaatkan sebagai bahan masakan, obat tradisional, hingga minuman. Masyarakat sekitar bisa memanfaatkan hasilnya untuk berbagai keperluan.

Keberadaan Bak Me di jalanan Banda Aceh bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga bukti bahwa perencanaan lingkungan yang baik dapat bertahan lintas generasi. Dengan berbagai manfaatnya, tidak heran jika pohon ini masih menjadi bagian penting dari lanskap kota hingga saat ini. (XRQ)

Reporter: Akil

USK Diminta Berperan dalam Meningkatkan Numerasi Siswa di Aceh

0
Universitas Syiah Kuala. (Foto: Humas USK)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) diminta untuk turut serta dalam upaya meningkatkan tingkat numerasi siswa di Aceh yang masih tergolong rendah. Permintaan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dirjen Dikti Kemdiktisaintek) Khairul Munadi saat melakukan kunjungan kerja ke kampus USK di Banda Aceh.

Khairul mengungkapkan bahwa tingkat numerasi siswa di Aceh masih berada di angka 55,97 persen berdasarkan data Rapor Pendidikan 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa banyak siswa masih kesulitan dalam memahami dan menggunakan angka serta simbol matematika dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau angka ini saja tidak diselesaikan, siswa yang masuk ke USK pun akan menjadi permasalahan baru,” kata Khairul saat berdiskusi dengan akademisi di USK, Sabtu (8/2/2025).

Kemampuan numerasi yang rendah dapat berdampak pada daya saing lulusan dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, Khairul menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar dan menengah. Menurutnya, kontribusi perguruan tinggi tidak hanya berdampak pada masyarakat sekitar, tetapi juga pada kualitas internal institusi itu sendiri.

Lebih lanjut, Khairul menyampaikan bahwa Kemdiktisaintek menargetkan perguruan tinggi untuk turut berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. Untuk mencapai target tersebut, ia menekankan pentingnya tata kelola perguruan tinggi yang lebih otonom dan berdampak langsung pada masyarakat.

“Kemdiktisaintek sedang mengkaji peraturan untuk menghadirkan kelincahan dan kebebasan dalam tata kelola perguruan tinggi, pengembangan akademik, dan variabel lain yang menunjang kontribusi pendidikan tinggi untuk pembangunan,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Rektor USK Prof Marwan menyambut baik gagasan yang disampaikan Dirjen Dikti. Ia menilai bahwa perguruan tinggi memang perlu lebih berperan dalam menyelesaikan persoalan pendidikan di daerah, termasuk peningkatan numerasi siswa.

“Kami sangat mengharapkan segera ada peraturan atau arahan tertulis, sehingga dapat menjadi acuan dalam proses perencanaan kelembagaan kami,” kata Marwan.

USK sebagai salah satu perguruan tinggi ternama di Aceh diharapkan dapat merancang program intervensi yang efektif untuk membantu meningkatkan literasi numerasi siswa di Aceh. Hal ini selaras dengan upaya pemerintah dalam memperbaiki kualitas pendidikan di daerah yang masih tertinggal.

Editor: Akil

Kemenkum Aceh Perkuat Layanan Hukum bagi Partai Politik Lokal

0
Kemenkum Aceh Perkuat Layanan Hukum bagi Partai Politik Lokal. (Foto: HUMAS KEMENKUM ACEH)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) Aceh terus berupaya memperkuat layanan hukum bagi partai politik lokal di provinsi yang memiliki status kekhususan tersebut. Langkah ini diambil guna memastikan partai-partai lokal dapat menjalankan fungsi demokratisnya dengan lebih baik.

Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kantor Wilayah Kemenkum HAM Aceh, Purwandani, menegaskan bahwa Aceh memiliki perbedaan mendasar dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Di daerah yang dikenal dengan julukan Serambi Mekah ini, keberadaan partai politik lokal diakui secara hukum.

“Aceh beda dengan daerah lainnya. Aceh punya kekhususan, di mana partai politik lokal diakui keberadaannya. Oleh karena itu, kami terus berupaya meningkatkan layanan hukum kepada partai politik lokal,” ujar Purwandani di Banda Aceh, Jumat (7/2/2025).

Menurutnya, layanan hukum ini menjadi bagian penting dari peran pemerintah dalam mendampingi partai politik lokal agar mampu berkontribusi secara optimal dalam sistem demokrasi. Selain meningkatkan layanan, Kemenkum Aceh juga memperkuat koordinasi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh guna membahas langkah-langkah strategis dalam penataan partai politik lokal.

“Koordinasi dan kerja sama dengan pemerintah daerah ini diharapkan memperkuat tata kelola partai politik lokal, sehingga lebih transparan, profesional, serta mampu meningkatkan kepercayaan publik,” tambahnya.

Sebelumnya, tim Kemenkum Aceh bersama Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kemenkum HAM RI telah membahas peningkatan layanan hukum bagi partai politik lokal di Aceh.

Kepala Subdirektorat Layanan Dokumentasi Partai Politik Ditjen AHU, Titik Susiawati, menyampaikan bahwa pembahasan ini merupakan bagian dari persiapan pengundangan Peraturan Menteri Hukum yang akan mengatur layanan hukum bagi partai politik.

“Dari pertemuan tersebut diharapkan melahirkan rancangan regulasi yang memperkuat eksistensi dan legalitas partai politik di Provinsi Aceh, sekaligus meningkatkan kualitas demokrasi di daerah,” ujar Titik Susiawati.

Upaya ini diharapkan dapat memberikan kepastian hukum yang lebih kuat bagi partai politik lokal di Aceh serta mendukung terciptanya sistem politik yang lebih sehat dan demokratis.

Editor: Akil

Rekrutmen Calon Da’i 3T Wilayah Aceh Tahun 2025 Dibuka, Ini Syarat dan Cara Pendaftarannya

0
Surat edaran sumber informasi Rekrutmen Calon Da'i 3T Wilayah Aceh Tahun 2025. (Foto: Dokumentasi dari Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Takengon – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh resmi membuka rekrutmen calon da’i untuk wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) tahun 2025. Program ini bertujuan untuk memperkuat layanan keagamaan serta syiar Ramadan di daerah-daerah yang membutuhkan.

Rekrutmen ini merujuk pada surat edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam No B-84/Dt.III.III/HM.01/02/2025 tanggal 5 Februari 2025, yang menginstruksikan pengumpulan data calon da’i 3T. Proses seleksi berlangsung mulai 24 Februari hingga 25 Maret 2025.

Bagi yang berminat menjadi bagian dari program ini, berikut kriteria dan persyaratan yang harus dipenuhi:

  1. Berusia 25 hingga 40 tahun
  2. Berpendidikan minimal S1 atau lulusan pondok pesantren
  3. Tidak berstatus sebagai ASN (PNS dan PPPK)
  4. Memiliki sertifikat pelatihan dakwah dari Kementerian Agama maupun ormas Islam
  5. Mampu membaca dan menulis Al-Qur’an dengan baik
  6. Memiliki pengetahuan agama yang baik dan moderat
  7. Mengirimkan biodata lengkap

Pendaftaran dilakukan dengan mengirimkan data lengkap dalam format Excel paling lambat 8 Februari 2025 ke email bidang penerangan agama Islam Kanwil Kemenag Aceh: zawapenais@gmail.com.

Bagi yang membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Sdri. Hj. Sri Teti Wardani, SE, M.Si di nomor 082361601633.

Editor: Akil