Beranda blog Halaman 556

Kabid Penmad Kemenag Aceh: Semoga Audit BPK Berjalan Lancar

0
Kabid Penmad Zulkifli menjadi pembina apel Senin (10/2) dengan latar gedung Kanwil dan gedung Pusat Layanan Informasi dan Dokumentasi Haji dan Umrah Terpadu. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Kabid Penmad) Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Aceh, Dr. H. Zulkifli, S.Ag., M.Pd., berharap proses audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di lingkungan Kanwil Kemenag Aceh dapat berjalan lancar. Harapan itu ia sampaikan saat menjadi pembina apel di halaman kantor Kanwil, Senin (10/2/2025).

“Selama bekerja di Aceh mulai hari ini hingga lima hari ke depan, semoga agenda kerja BPK, baik dan lancar, serta tak ada temuan dari pelaporan dan pemeriksaannya,” ujar Zulkifli dalam amanatnya.

Menurutnya, tim BPK akan melakukan audit terhadap pelaksanaan anggaran tahun sebelumnya. Pemeriksaan ini mencakup aspek ketepatan waktu dan sasaran dalam penggunaan anggaran. Selain itu, auditor juga akan mengevaluasi berbagai dokumen dan laporan, seperti belanja barang, belanja modal, bantuan sosial, serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).

Zulkifli menegaskan bahwa seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kemenag Aceh telah mempersiapkan laporan keuangan secara lengkap, termasuk neraca dan laporan pertanggungjawaban (LPJ) untuk setiap kegiatan.

“Kita selaku ASN tentu telah menyiapkan pelaporan keuangan dengan lengkap, serta kita telah pula siapkan laporan neraca bersama laporan pertanggungjawaban (LPJ) dalam tiap kegiatan,” imbuhnya.

Tim auditor, lanjutnya, akan mengevaluasi apakah realisasi kegiatan telah sesuai dengan perencanaan awal tahun. Jika ditemukan adanya temuan dalam audit, maka hal tersebut harus segera ditindaklanjuti.

Dalam apel tersebut, Zulkifli juga menjelaskan kepada para kepala bidang dan pembimbing masyarakat (Pembimas) mengenai tiga tahapan utama dalam setiap program atau proyek, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Menariknya, apel pagi itu berlangsung di halaman kantor Kanwil Kemenag Aceh, dengan latar belakang gedung Pusat Layanan Informasi dan Dokumentasi Haji dan Umrah Terpadu (PLIDHUT), yang pekan ini mulai dibuka setelah sebelumnya diberi pagar pengaman. PLIDHUT merupakan program kemaslahatan dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang hadir di Aceh untuk meningkatkan layanan bagi jamaah haji dan umrah.

Editor: Akil

Mualem-Dek Fadh Akan Dilantik Rabu 12 Februari 2025

0
Pasangan Mualem-Dek Fadh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih, Muzakir Manaf (Mualem) dan Fadhullah (Dek Fadh), akan dilantik pada Rabu 12 Februari 2024 lusa. Pelantikan akan dilaksanakan dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRA.

“Pelantikan akan dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian atas nama Presiden Republik Indonesia,” ujar Juru Bicara Muallem, Teuku Kamaruzzaman kepada Nukilan, Senin (10/2/2025).

Kamaruzzaman menambahkan, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), prosesi pelantikan akan disaksikan oleh Ketua Mahkamah Syar’iah. 

“Insya Allah kedua Gubernur dan Wakil Gubernur akan siap mengikuti semua prosesi pelantikan ini,” pungkasnya.

Diketahui, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh telah menetapkan pasangan Muzakir Manaf dan Fadhlullah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih untuk periode 2025-2030. Pasangan ini memperoleh suara terbanyak dalam Pilkada 2024, yaitu 1.492.846 suara atau 53,27 persen dari total suara sah.

Reporter: Rezi

Tren Bencana di Aceh Meningkat, Perubahan Iklim Jadi Ancaman Serius

0
Banjir di Aceh Singkil: 19 Desa Masih Terendam, Ribuan Warga Terdampak. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Fenomena bencana hidrometeorologi di Aceh mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Nasrol Adil, S.Si, MT, mengungkapkan bahwa tren ini tidak lagi bersifat linear, melainkan eksponensial sejak 2017.

Dikutip dari RRI Banda Aceh, Rabu (6/2/2025), Nasrol menjelaskan bahwa perubahan iklim memiliki peran besar dalam meningkatnya intensitas dan frekuensi bencana di Aceh. Sejak menjadi observer cuaca di BMKG pada 1997, ia telah menyaksikan berbagai perubahan iklim yang semakin ekstrem, terutama setelah bencana tsunami serta periode 2010 hingga 2017.

Hasil penelitian yang dilakukan bersama Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) sejak 2014 juga mengonfirmasi tren ini. Pola curah hujan ekstrem semakin sering terjadi, yang berdampak langsung terhadap meningkatnya risiko bencana seperti banjir bandang.

Menurut Nasrol, perubahan iklim juga mempengaruhi struktur vegetasi di Aceh, yang berkontribusi pada tingginya risiko banjir bandang. Ia menekankan bahwa “banjir bandang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan tsunami, terjadi secara tiba-tiba dan sulit diprediksi. Jika banjir biasa dapat dipantau dengan meningkatnya ketinggian air, maka banjir bandang bisa langsung menyapu wilayah dalam hitungan detik.”

Lebih lanjut, ia membagi Aceh menjadi tiga zona utama berdasarkan potensi bencana, yakni Wilayah Barat-Selatan, Wilayah Pegunungan (meliputi Gayo Lues, Blangkejeren, dan Takengon), serta Wilayah Utara-Timur.

Nasrol juga menyoroti hubungan antara gempa bumi dan potensi bencana lainnya. “Saat ini, kita tidak hanya menghadapi satu jenis bencana, tetapi sudah memasuki era multi-hazard. Misalnya, jika terjadi gempa di Aceh Barat-Selatan, maka wilayah Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan sekitarnya berpotensi mengalami banjir bandang terutama jika curah hujan tinggi,” katanya.

Untuk menghadapi kondisi ini, BMKG terus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Salah satu langkah mitigasi yang disarankan adalah meningkatkan kesadaran terhadap pola cuaca serta memperhatikan dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan, seperti penggundulan hutan dan perubahan tata guna lahan.

“Aceh Tenggara sudah beberapa kali mengalami banjir bandang, dan ke depan kita harus lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana dengan sistem peringatan dini yang lebih baik,” pungkas Nasrol.

Editor: Akil

Calvin Verdonk Ungkap Fakta Mengejutkan Tentang Sang Ayah: Bukan Korban Tsunami Aceh

0
Pemain Keturunan Aceh, Calvin Verdonk Jalani Latihan Perdana Bersama Timnas Indonesia. (Foto: Solopos)

NUKILAN.id | Jakarta – Bek kiri Timnas Indonesia, Calvin Verdonk, baru-baru ini mengungkapkan sebuah kisah mengejutkan yang selama ini tersembunyi mengenai sang ayah. Meskipun banyak yang mengira ayahnya menjadi salah satu korban tsunami Aceh 2004, ternyata kenyataannya jauh berbeda. Sang ayah, yang berasal dari Meulaboh, Aceh, masih hidup dan sudah 27 tahun tidak pernah memberikan kabar.

Dalam wawancara eksklusif dengan media Belanda, AD.NL, yang ditayangkan pada Sabtu (8/2/2025), Calvin mengungkapkan, “Ayah kami berasal dari Sumatera, keturunan Indonesia yang kami miliki berasal darinya. Namun, dia benar-benar telah hilang (pergi dari keluarga) selama 27 tahun.”

Tidak hanya hilang secara fisik, ayah Calvin juga memilih untuk tidak menjalin komunikasi dengan keluarganya. Selama hampir tiga dekade, tak ada kabar yang menghubungkan mereka, baik surat, telepon, maupun pesan. Informasi yang minim mengenai sang ayah membuat banyak orang mengira bahwa ia menjadi salah satu korban tsunami Aceh, namun kenyataannya, ia memutuskan untuk menghilang tanpa jejak, bukan karena bencana alam.

Namun, meskipun ayahnya menghilang, Calvin tidak merasa sendiri. Ia masih memiliki empat saudara tiri yang tetap menjaga hubungan baik dengannya. Mereka bahkan sangat bangga dengan langkah Calvin yang memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan membela Timnas Indonesia.

“Kami masih mempunyai empat saudara tiri yang masih berhubungan baik dengan kami. Mereka sangat bangga bahwa saya sekarang mewakili Indonesia,” ujar Calvin.

Calvin resmi menjadi WNI pada 4 Juni 2024 dan langsung tampil bersama Timnas Indonesia pada 11 Juni 2024 dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Filipina, yang berakhir dengan kemenangan 2-0. Kini, ia siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya, termasuk laga melawan Australia pada 20 Maret 2025 dan Bahrain pada 25 Maret 2025, di bawah asuhan pelatih Patrick Kluivert.

Editor: AKil

Harimau Masuk Perangkap BKSDA di Aceh Timur

0
Harimau Masuk Perangkap BKSDA di Aceh Timur. (Foto: Detik.com)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk – Seekor harimau yang masuk ke dalam perangkap di Desa Julok Rayeuk Selatan, Kecamatan Indra Makmu, pada Minggu pagi (9/2), berhasil diamankan oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Wilayah 13 Langsa. Harimau tersebut terperangkap setelah memangsanya seekor sapi yang menjadi umpan. Kejadian ini mengungkapkan ketegangan antara satwa dilindungi dan kehidupan masyarakat sekitar.

Dilansir dari Detik.com, kapolsek Indra Makmu, Iptu Muhammad Alfata, menjelaskan bahwa keberadaan harimau dalam perangkap diketahui oleh seorang warga yang hendak menuju kebunnya. Warga tersebut terkejut saat melihat satwa tersebut sudah berada di dalam perangkap yang dipasang beberapa hari sebelumnya.

“Harimau itu masuk dalam perangkap yang dipasang di perkebunan PTPN – III JRS di Dusun Alue Batee Desa Julok Rayeuk Selatan pada hari Jumat (7/2) kemarin,” kata Alfata.

Menurut Alfata, tim gabungan yang segera meluncur ke lokasi langsung menutup perangkap dengan plastik hitam untuk mengamankan kondisi harimau. Proses evakuasi harimau dari perangkap tersebut sedang dipersiapkan.

Sebelumnya, harimau ini diduga telah memangsa seekor sapi milik warga setempat, Irawan (45), yang bekerja di PTPN 1 JRS. Sapi tersebut ditemukan mati dengan luka di bagian kaki depan yang diduga akibat gigitan harimau.

“Kaki bagian depan sebelah kanan diduga bekas gigitan harimau,” ungkap Alfata.

BKSDA telah menghimbau masyarakat agar segera melaporkan jika harimau masuk dalam perangkap, guna mempermudah proses evakuasi. Harimau tersebut akan segera dipindahkan untuk menghindari potensi ancaman terhadap warga setempat. Fenomena serangan harimau terhadap ternak warga di Aceh Timur memang kerap terjadi dalam beberapa waktu terakhir, menyisakan kekhawatiran di kalangan petani dan peternak lokal.

Editor: Akil

Pemerintah Aceh Targetkan Eliminasi Pasung Tuntas Tahun Ini

0
Ilustrasi ODGJ. (Foto: radarbojonegoro)

NUKILAN.id | Meulaboh – Pemerintah Aceh menargetkan tahun 2025 sebagai batas akhir praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Program ini menjadi prioritas untuk memastikan seluruh ODGJ mendapatkan perawatan medis yang layak tanpa harus mengalami pemasungan.

“Target kami adalah eliminasi pasung di Aceh selesai tahun ini. Kami siap membantu bupati dan wali kota untuk menjemput dan mengobati mereka,” ujar Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, Hanif, dalam keterangannya di Aceh Barat, Minggu (9/2/2025).

Berdasarkan data RSJ Aceh, saat ini terdapat sekitar 21.000 ODGJ di wilayah tersebut, dengan sekitar 50 persen di antaranya mengalami gangguan jiwa berat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 114 orang masih berada dalam kondisi pasung.

Hanif menekankan bahwa keterlibatan keluarga dan masyarakat sangat penting dalam mendukung pemulihan pasien. Selain memastikan mereka mendapatkan pengobatan, upaya rehabilitasi juga perlu diperkuat agar ODGJ dapat kembali berbaur dengan masyarakat.

“Rumah Sakit Jiwa Aceh memiliki fasilitas rehabilitasi di kawasan Kuta Malaka, Aceh Besar,” katanya.

Di fasilitas tersebut, pasien yang telah pulih secara klinis akan mendapatkan pelatihan keterampilan guna membantu mereka menjadi lebih mandiri setelah kembali ke lingkungan sosialnya.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, Safrizal, telah meluncurkan program Stop Pasung sebagai bagian dari upaya mewujudkan Aceh bebas pasung.

“Pasung bukanlah solusi, justru menambah berat penyakit mereka. Kita harus berpartisipasi dalam menghentikan praktik ini demi kemanusiaan,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap ODGJ yang sering kali mengalami stigma dan keterasingan sosial. Safrizal meminta para bupati dan wali kota di Aceh segera menyerahkan data ODGJ yang masih dipasung agar mereka bisa segera mendapatkan penanganan medis yang layak.

Editor: Akil

Bougainville, Negara Baru yang Akan Menjadi Tetangga Indonesia

0
Cuplikan peta yang menunjukkan wilayah negara Bougainville (Foto: online.seterra.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Bougainville, sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Solomon, kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi negara baru yang akan menjadi tetangga Indonesia di masa depan.

Dilansir Nukilan.id dari Lowy Institute, pulau yang sebelumnya merupakan bagian dari Papua Nugini ini memutuskan untuk memilih merdeka melalui referendum yang digelar pada tahun 2019. Hasilnya, hampir seluruh penduduk Bougainville, yaitu 98,31%, mendukung kemerdekaan dan memilih untuk memisahkan diri dari Papua Nugini.

Proses menuju kemerdekaan Bougainville telah menemui titik terang, dengan pemerintah Papua Nugini dan Bougainville mencapai kesepakatan mengenai penyelesaian politik untuk mewujudkan aspirasi kemerdekaan tersebut. Menurut perjanjian yang tercapai, Bougainville diprediksi akan merdeka pada tahun 2027.

Keinginan Bougainville untuk merdeka tidak lepas dari sejarah panjang konflik yang terjadi di pulau ini. Selama berpuluh-puluh tahun, Bougainville dilanda ketegangan dan perselisihan yang serius. Salah satu faktor utama yang memicu ketidakpuasan penduduk adalah masalah pengelolaan tambang tembaga di daerah Panguna. Penduduk merasa bahwa mereka tidak mendapat bagian yang adil dari hasil tambang tersebut, yang menjadi sumber daya utama daerah itu.

Selain itu, sengketa tanah dan kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan semakin memperburuk hubungan antara penduduk Bougainville dan pemerintah Papua Nugini. Ketidakpuasan yang terus berkembang ini akhirnya menjadi salah satu alasan kuat bagi Bougainville untuk memilih kemerdekaan dan mencari solusi yang lebih baik bagi masa depannya.

Dengan kemerdekaan yang semakin dekat, Bougainville berharap dapat menciptakan kestabilan politik dan ekonomi yang lebih baik bagi penduduknya, sekaligus membangun hubungan yang lebih erat dengan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia. (XRQ)

Reporter: Akil

Batu Raksasa Hantam Lima Rumah Warga di Aceh Selatan

0
Batu Raksasa Hantam Lima Rumah Warga di Aceh Selatan. (Foto: ANTARANNEWS)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Aceh Selatan pada Minggu (9/2/2025) pagi menyebabkan batu raksasa longsor dari perbukitan dan menghantam lima rumah warga di Gampong Drien Jalo, Kecamatan Meukek. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari AntaranNews, dua rumah mengalami kerusakan parah, sementara tiga lainnya rusak ringan. Pasca kejadian, tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri, serta warga setempat langsung turun ke lokasi untuk melakukan asesmen dan bantuan darurat.

“Akibat hujan lebat, batu besar di atas gunung runtuh, lalu menghantam lima rumah penduduk Gampong Drien Jalo, Meukek,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Aceh Selatan, H. Zainal ZA, SE, M.Si.

BPBD bersama dinas terkait telah melakukan pendataan dan pembersihan material longsor. Selain itu, langkah evakuasi sementara bagi warga terdampak juga sedang dipersiapkan guna mengantisipasi kemungkinan longsor susulan.

“Ini semata-mata untuk menghindari kemungkinan bahaya, karena dikhawatirkan batu-batu di atas gunung akan jatuh lagi,” kata Reza, salah satu perangkat gampong setempat.

Salah satu korban, Mahdi Is, mengisahkan momen menegangkan saat batu raksasa itu menerjang rumahnya.

“Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh benda berguling diiringi terjangan kerikil ke dinding dan atap. Saya menyuruh anak-anak dan keluarga menghindar dan keluar rumah. Selang beberapa detik, batu raksasa itu menghantam bagian dapur rumah dengan suara menggelegar,” tuturnya.

Saat kejadian, Mahdi dan keluarganya tengah memasak untuk kenduri anak yatim. Beruntung, mereka sempat menyelamatkan diri sebelum batu besar menghancurkan dapur rumahnya.

Editor: Akil

Kaya Keberagaman Etnis, Berikut Daftar Suku Bangsa di Aceh

0
Potret ritual adat "Pemanan" di Alas. Alas merupakan salah satu suku bangsa di Provinsi Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Provinsi Aceh, yang terletak di ujung barat Indonesia, memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya yang luar biasa. Selain berbatasan dengan Sumatera Utara, letaknya yang strategis menjadikannya bertetangga dekat dengan India, Myanmar, Malaysia, dan Thailand melalui perairan. Dengan populasi mencapai 5,3 juta jiwa pada 2019, Aceh terdiri atas 23 kota dan kabupaten, serta dikenal dengan status istimewanya berdasarkan UU No. 44 Tahun 1999.

Namun, keunikan Aceh tidak hanya terletak pada status khususnya. Keberagaman etnis dan suku yang mendiami wilayah ini turut memperkaya khazanah budaya lokal. Sejarah mencatat bahwa penduduk Aceh berasal dari perpaduan berbagai bangsa yang telah bermigrasi sejak berabad-abad lalu.

Jalur Perdagangan yang Memengaruhi Identitas Aceh

Interaksi dengan berbagai bangsa telah membentuk karakter masyarakat Aceh. Dilansir Nukilan.id dari Jurnal The History of Aceh, leluhur mereka diyakini berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin Cina, hingga Kamboja. Selain itu, pengaruh kuat dari Arab dan India juga meninggalkan jejak mendalam dalam budaya Aceh.

Bangsa Arab, khususnya dari Hadramaut (Yaman), datang sebagai ulama dan pedagang, membawa marga-marga khas seperti Al Aydrus, Al Habsyi, Al Attas, Al Kathiri, Badjubier, Sungkar, dan Bawazier. Seiring waktu, mereka berasimilasi dengan masyarakat setempat dan banyak yang tak lagi menggunakan nama marga mereka.

Sementara itu, kehadiran bangsa India, terutama dari Gujarat dan Tamil, turut memperkaya warisan budaya Aceh. Hal ini terlihat dari ciri fisik beberapa masyarakatnya hingga pengaruh kuliner seperti kari, serta nama-nama desa yang memiliki akar bahasa India, seperti Indra Puri.

Tak hanya Arab dan India, bangsa Tiongkok juga memiliki hubungan erat dengan Aceh. Pelaut Tiongkok, termasuk yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho, menjadikan Aceh sebagai jalur perdagangan utama. Salah satu bukti peninggalannya adalah Lonceng Cakra Donya yang hingga kini masih tersimpan di Banda Aceh. Sejak era itu, Aceh menjadi pelabuhan transit penting sebelum pelaut Tiongkok melanjutkan perjalanan ke Eropa.

Pengaruh Persia (Iran/Afghanistan) dan Turki pun turut memperkaya identitas budaya Aceh. Ulama, ahli senjata, hingga tentara dari wilayah tersebut pernah datang ke Aceh. Bahkan, nama “Banda” dalam Banda Aceh berasal dari bahasa Persia yang berarti “pelabuhan”.

Di sisi lain, ada pula keturunan bangsa Portugis yang menetap di Kuala Daya, Lam No, pesisir barat Aceh. Mereka adalah keturunan pelaut Portugis di bawah Kapten Pinto yang pernah berdagang di wilayah itu pada 1492-1511. Hingga kini, keturunan mereka masih dapat dikenali melalui ciri fisik khas Eropa.

Sejarah mencatat bahwa tokoh dunia seperti Marco Polo, Ibnu Battuta, dan Kubilai Khan pernah singgah di Aceh, membuktikan bahwa wilayah ini telah lama menjadi pusat interaksi budaya dan perdagangan global.

Keberagaman Suku Asli Aceh

Selain pengaruh dari bangsa-bangsa luar, Aceh juga memiliki suku-suku asli yang telah lama mendiami wilayah ini. Setidaknya ada 13 suku asli di Aceh, yaitu:

  • Suku Aceh
  • Suku Tamiang
  • Suku Gayo
  • Suku Alas
  • Suku Kluet
  • Suku Julu
  • Suku Pakpak
  • Suku Aneuk Jamee
  • Suku Sigulai
  • Suku Lekon
  • Suku Devayan
  • Suku Haloban
  • Suku Nias

Keberagaman etnis dan sejarah panjang interaksi antarbangsa membuat Aceh menjadi salah satu provinsi dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Tradisi dan warisan budaya yang terus lestari menjadikan Aceh memiliki identitas unik yang tetap bertahan hingga kini. (XRQ)

Reporter: Akil

BMKG: Wilayah Tengah dan Barat Aceh Berpotensi Diguyur Hujan

0
Ilustrasi Hujan. (foto: Shutterstock)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Blang Bintang, Aceh Besar, memperkirakan cuaca di Aceh pada Minggu (9/2/2025) akan bervariasi, mulai dari cerah berawan hingga hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Potensi hujan ini juga disertai kilat, petir, dan angin kencang di beberapa wilayah.

Prakirawan BMKG Aceh, Betsi, menyampaikan bahwa hujan berpotensi terjadi di sejumlah daerah.

“Wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpeluang terjadi di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Gayo Lues, serta Aceh Barat,” ujarnya, dikutip dari RRI, Minggu (9/2/2025).

Sementara itu, cuaca di Banda Aceh, Sabang, dan Aceh Besar diperkirakan lebih bervariasi, dengan kondisi cerah berawan hingga kemungkinan hujan ringan.

“Untuk Banda Aceh hari ini diprakirakan dalam kondisi cerah berawan. Untuk Aceh Besar cerah berawan hingga hujan ringan,” tambahnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Kondisi hujan dapat menyebabkan jarak pandang berkurang dan jalanan menjadi licin, sehingga pengendara diharapkan lebih berhati-hati. Selain itu, angin kencang juga berpotensi menyebabkan pohon atau tiang tumbang.

“Kami juga menghimbau kepada masyarakat, jika terjadi angin kencang agar menghindari pohon atau tiang yang rawan tumbang serta agar selalu sedia payung atau jas hujan saat bepergian,” pungkas Betsi.

Editor: Akil