Beranda blog Halaman 555

Sejarah Hari Lupus Sedunia 10 Mei

0
Hari lupus sedunia. (Foto: SerayuNews.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Setiap 10 Mei, dunia memperingati Hari Lupus Sedunia (World Lupus Day). Peringatan ini tidak sekadar simbolik. Ia menjadi seruan global untuk menyadarkan masyarakat terhadap lupus—penyakit autoimun kronis yang hingga kini masih menjadi teka-teki medis dan menyita perhatian komunitas ilmiah.

Dikutip Nukilan.id dari data World Lupus Federation (2023), jutaan orang di dunia hidup dengan lupus. Banyak dari mereka yang menjalani tahun-tahun pertama dengan diagnosa keliru, atau bahkan tidak tahu bahwa tubuh mereka sedang diserang oleh sistem imun mereka sendiri.

Apa Itu Lupus?

Lupus, atau lebih tepatnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE), adalah penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, bukan virus atau bakteri asing. Serangan ini memicu peradangan di berbagai organ, mulai dari kulit, sendi, ginjal, hingga otak (Tsokos, 2011).

Penyakit ini tidak mudah dikenali. Gejalanya bisa menyerupai banyak kondisi lain, dari kelelahan biasa hingga nyeri sendi. Karena sifatnya yang sangat bervariasi, lupus dijuluki sebagai penyakit seribu wajah.

Gejala yang Tak Selalu Disadari

Beberapa gejala lupus yang umum antara lain ruam malar berbentuk kupu-kupu di wajah, artritis simetris, fotosensitivitas, kerusakan ginjal, dan kelelahan ekstrem. Data menunjukkan bahwa 40–60 persen pasien mengalami nefritis lupus (Bertsias et al., 2012), dan lebih dari 90 persen mengeluhkan kelelahan yang mengganggu aktivitas harian (Strand et al., 2019).

Namun, banyak pasien baru mendapatkan diagnosis setelah organ vital mereka sudah terdampak. Global Lupus Trust (2023) mencatat, separuh pasien mengalami kerusakan organ permanen akibat keterlambatan diagnosis.

“Deteksi dini sangat krusial,” tulis American College of Rheumatology (ACR) dalam panduan klinisnya tahun 2020. Pemeriksaan antibodi antinuklear (ANA) dan anti-dsDNA disebut sebagai standar diagnosis lupus.

Dari Genetika hingga Sinar Matahari

Penyebab lupus tidak tunggal. Peneliti menyebut adanya campur tangan faktor genetik, lingkungan, hormon, hingga obat-obatan.

Risiko lupus meningkat hingga sepuluh kali lipat jika seseorang memiliki kerabat tingkat pertama yang juga mengidap penyakit ini (Harley et al., 2008). Variasi genetik seperti HLA-DR2 dan DR3 serta defisiensi protein komplemen (C1q, C4) juga berkaitan erat dengan penyakit ini (Tsokos, 2011).

Sementara dari sisi lingkungan, paparan sinar ultraviolet (UV) dan infeksi virus—terutama Epstein-Barr Virus (EBV)—dapat memicu reaksi autoimun (Rahman & Isenberg, 2008; James et al., 2006).

Menariknya, lupus jauh lebih banyak menyerang perempuan. Perbandingannya mencapai 9:1 dibanding pria. Ini membuat ilmuwan meyakini peran besar hormon estrogen dalam patogenesis lupus (Archer & Chao, 2022).

Beberapa jenis obat seperti procainamide, hidralazin, dan terapi anti-TNFα juga dilaporkan dapat memicu drug-induced lupus, sebuah bentuk lupus yang disebabkan oleh reaksi obat (Rubin, 2020).

Perjuangan yang Belum Usai

Meski belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan lupus, berbagai terapi penunjang terus dikembangkan. Salah satunya adalah belimumab, obat biologis yang menargetkan sel B—salah satu komponen sistem imun yang berperan dalam lupus.

Organisasi seperti Lupus Foundation of America dan World Lupus Federation aktif mendorong pendekatan personalized medicine untuk menangani penyakit ini secara lebih spesifik sesuai profil imunologi pasien (Fanouriakis et al., 2021).

Peringatan Hari Lupus Sedunia bukan hanya peristiwa seremonial. Ia adalah pengingat bahwa di balik data statistik dan istilah ilmiah, terdapat jutaan wajah manusia yang sedang berjuang—dalam senyap—melawan penyakit yang tak mudah dikenali ini. (XRQ)

Reporter: Akil

Aceh Barat Juara TP2DD se-Aceh 2025

0
Aceh Barat Juara TP2DD se-Aceh 2025. (Foto: Humas Aceh Barat)

NUKILAN.id | BANDA ACEH – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat provinsi. Pada ajang Capacity Building dan Workshop Championship TP2DD se-Aceh Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh, Jumat (9/5/2025), Aceh Barat berhasil meraih predikat juara.

Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan Aceh Barat dalam menginput dokumen ke dalam sistem SIP2DD secara lengkap dan tercepat. Kemenangan tersebut sekaligus menjadi bukti nyata keseriusan daerah itu dalam mempercepat digitalisasi transaksi keuangan pemerintah.

QRIS Jadi Andalan, PAD Dipacu

Sekretaris Daerah Aceh Barat, Marhaban, SE, M.Si., yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), menegaskan pentingnya digitalisasi dalam pengelolaan keuangan daerah.

“Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Kami terus mendorong pemanfaatan kanal pembayaran digital seperti QRIS dalam layanan pajak dan retribusi daerah. Ini penting untuk mewujudkan efisiensi, transparansi, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujar Marhaban di hadapan para peserta kegiatan.

Menurutnya, pencapaian ini merupakan hasil sinergi antara Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) dan Bagian Perekonomian Setdakab Aceh Barat. Kedua lembaga ini dinilai aktif dan konsisten dalam proses penginputan serta pelaporan dokumen melalui platform SIP2DD milik Bank Indonesia.

Inovasi dan Kolaborasi Jadi Kunci

Selain menjadi ajang penghargaan, kegiatan yang diinisiasi oleh BI ini juga membuka ruang strategis untuk memperkuat inovasi antar daerah. Di saat yang sama, forum ini mendorong peningkatan kapasitas sumber daya aparatur dalam menghadapi tantangan sistem keuangan yang semakin modern.

“Semoga ini menjadi pemantik semangat bagi Pemkab Aceh Barat untuk terus berinovasi dalam tata kelola keuangan yang lebih baik,” pungkas Marhaban.

Dengan capaian ini, Aceh Barat menunjukkan bahwa digitalisasi keuangan bukan hanya slogan, tetapi telah menjadi budaya kerja yang nyata dan terukur.

Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah Perkuat Pendidikan di Aceh

0
Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah Perkuat Pendidikan di Aceh. (Foto: muhammadiyah.or.id)

NUKILAN.id | Kuala Simpang — Upaya penguatan pendidikan di kawasan timur Aceh kembali mendapat angin segar. Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi membebaskan lahan untuk pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) SD Muhammadiyah Lembah Jaya di Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang.

Kabar ini disampaikan langsung oleh Hizqil Afandi, Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, dalam konferensi pers di Media Centre PWM Aceh, Banda Aceh, Rabu (7/5/2025).

Komitmen Nasional untuk Pendidikan Daerah

Menurut Hizqil, inisiatif pembebasan lahan ini tak lepas dari peran Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, serta Tim Monitoring Penjaminan Mutu Pendidikan yang dipimpin oleh Agus Suroyo. Mereka berkolaborasi dengan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Aceh, Iskandar Muda Hasibuan, yang turut memberikan kontribusi signifikan di lapangan.

Iskandar menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian pimpinan pusat Muhammadiyah terhadap dunia pendidikan di Aceh. Ia mengatakan, “Sebelumnya Pak Didik Suhardi pernah memberikan bantuan alat peraga ke SD Muhammadiyah Lhokseumawe, Sinabang, SMP Muhammadiyah Lhoksukon, Aceh Tamiang, Singkil, Subulussalam, Singkil, dll dan sering mengunjungi sekolah-sekolah di Aceh.”

Menurut Iskandar, langkah ini menjadi motivasi penting bagi para aktivis pendidikan Muhammadiyah di daerah. Ia berharap, perjuangan mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa terus mengarah pada penyelenggaraan pendidikan yang Islami dan bermutu untuk semua kalangan.

Ia menambahkan, “Beliau juga menyampaikan komitmen penuh semua sekolah Muhammadiyah di Aceh untuk meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan yang dikelola Muhammadiyah.”

Rapat Kerja Wilayah Akan Diperluas

Tak berhenti sampai di situ, langkah berikutnya adalah memperkuat struktur kelembagaan. Hizqil mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, pihaknya akan menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang diperluas. Agenda ini akan melibatkan seluruh satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SLB, baik yang berada di bawah naungan Muhammadiyah maupun Aisyiyah.

Rakerwil ini direncanakan akan dihadiri oleh semua Kepala Sekolah Muhammadiyah se-Aceh, para Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen serta PNF di berbagai tingkatan, hingga Koordinator Pendidikan di lingkungan Pimpinan Cabang (PC), Daerah (PDM), dan Wilayah (PWM).

Sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat, acara ini direncanakan akan dibuka oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Editor: Akil

Matahari Kembar dan Bom Waktu Bernama Gibran

0
Jokowi Tanggapi Santai Usulan Purnawirawan TNI yang Minta Gibran Dicopot. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Opini – Ketika Mahkamah Konstitusi memelintir syarat usia calon presiden dan wakil presiden demi membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, publik tahu keputusan itu bukan sekadar produk hukum, melainkan akrobat kekuasaan. Kini, akrobat itu mulai menampakkan risiko politiknya. Forum purnawirawan TNI, terdiri dari ratusan jenderal, laksamana, dan marsekal, baru-baru ini menyerukan tuntutan pemakzulan terhadap Gibran. Ini bukan suara sumbang yang datang tiba-tiba, melainkan akumulasi kegelisahan yang telah lama membusuk di bawah permukaan.

Tuntutan tersebut mungkin terlihat prematur, bahkan terlalu politis. Namun, seperti pepatah, tak ada asap tanpa api. Kekhawatiran para pensiunan perwira tinggi itu—termasuk mantan Wakil Presiden Try Sutrisno—berangkat dari satu pertanyaan besar: apa jadinya negara ini jika presiden terpilih Prabowo Subianto yang telah berusia 73 tahun mengalami halangan tetap, dan kekuasaan penuh jatuh ke tangan seorang wakil presiden berusia 37 tahun yang naik lewat “jalan belakang”?

Gibran dan Legitimasi yang Terluka

Naiknya Gibran ke kursi wakil presiden sejak awal tidak pernah lepas dari kontroversi. Berkat putusan MK yang diketuai oleh iparnya sendiri, Gibran berhasil mencalonkan diri meski belum memenuhi usia minimal 40 tahun. Ini mencederai rasa keadilan publik, mengoyak konstitusi, dan meninggalkan luka dalam sistem ketatanegaraan kita. Kemenangan pasangan Prabowo-Gibran pun, meski sah secara administratif, terus dihantui narasi bahwa Gibran adalah “anak haram konstitusi”.

Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan emosional. Ia mencerminkan krisis legitimasi yang akan terus membayangi jalannya pemerintahan mendatang. Seperti kutukan, status politik Gibran akan menjadi beban permanen, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Presiden Prabowo. Gibran akan terus menjadi sasaran kritik, dan Prabowo, pada titik tertentu, tak bisa mengelak dari pertanggungjawaban politik atas pilihannya menggandeng Gibran.

Prabowo dan Bayang-Bayang Jokowi

Prabowo sendiri tidak bisa lepas tangan. Dia yang membuka pintu bagi Gibran demi meraih dukungan Jokowi, kini harus menghadapi konsekuensinya: sebuah pemerintahan dengan dua matahari. Prabowo boleh jadi presiden, tapi bayang-bayang Jokowi belum juga pudar. Dan Gibran, sebagai anak Jokowi, dianggap sebagai kepanjangan tangan sang ayah di tubuh pemerintahan baru.

Tuntutan purnawirawan TNI mempermasalahkan bukan hanya Gibran, tapi juga proyek-proyek strategis nasional warisan Jokowi, termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Mereka menuntut agar PSN dievaluasi, bahkan dihentikan. Ini menunjukkan bahwa serangan terhadap Gibran adalah bagian dari kritik yang lebih luas terhadap dominasi Jokowi di era Prabowo.

Ada aroma tawar-menawar di sini. Seolah-olah Prabowo sedang mengizinkan kelompok-kelompok tertentu “menyerang” Jokowi lewat Gibran, sebagai bagian dari upaya memotong pengaruh politik sang mantan presiden. Politik balas budi telah berubah menjadi politik balas dendam.

Manuver Gibran dan Ketidaknyamanan Istana

Situasi makin rumit ketika Gibran mulai bergerak sendiri. Program “Lapor Mas Wapres” dan pembagian bantuan pendidikan tanpa koordinasi dengan presiden menambah kecurigaan bahwa Gibran tengah membangun panggungnya sendiri. Ini menjadi alarm bagi Prabowo dan lingkaran istana. Konon, Prabowo tak nyaman dengan ambisi Gibran yang dinilai terlalu dini menyiapkan langkah menuju 2029.

Beberapa menteri bahkan telah diminta untuk tidak menghadiri undangan Gibran. Istana menyarankan agar Gibran tak memanggil pejabat tanpa seizin presiden. Ini adalah sinyal jelas bahwa matahari kembar di tubuh kekuasaan mulai saling membakar.

Politik sebagai Seni Memanfaatkan

Seperti biasa, para politisi mencium peluang. Di satu sisi, mereka menolak gagasan pemakzulan—terlalu ekstrem, terlalu awal. Namun di sisi lain, mereka menebar sinyal ketidaksukaan terhadap Gibran. Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, menyatakan partainya mendukung Prabowo tapi bukan Gibran. Pernyataan ini tak bisa dianggap angin lalu. Ini adalah umpan politik yang bisa menjadi bola liar dalam empat tahun ke depan.

Para purnawirawan sendiri, meski mengusung agenda pemakzulan, juga punya kepentingan politik jangka panjang. Usulan mereka untuk mengembalikan UUD ke naskah asli sebelum amandemen sejalan dengan wacana politik Prabowo. Artinya, pemakzulan ini bukan sekadar upaya membersihkan pemerintahan, tetapi juga bagian dari upaya membentuk ulang wajah konstitusi Indonesia.

Demokrasi yang Luka

Sayangnya, semua ini menunjukkan satu hal: demokrasi kita masih rapuh. Politik Indonesia saat ini tak ubahnya ajang saling tikung dan saling sandera. Gibran hanya simbol dari kerusakan yang lebih dalam—kerusakan pada institusi hukum, pada sistem rekrutmen pemimpin, dan pada etika kekuasaan.

Tuntutan pemakzulan Gibran bisa berakhir dalam lobi-lobi gelap, atau malah dibuang ke tong sampah sejarah. Tapi yang jelas, publik kembali dibiarkan duduk di kursi penonton, menyaksikan elite bersiasat demi kepentingan mereka masing-masing. Kita telah jauh melenceng dari cita-cita para pendiri bangsa. Demokrasi tidak lagi menjadi alat mencapai kesejahteraan rakyat, melainkan sekadar panggung tawar-menawar kuasa.

Dan bom waktu itu kini berdetak. Kita hanya tinggal menunggu kapan meledak.

Penulis: Akil

Dirjen Dikti Sosialisasikan Program “Kampus Berdampak” di Forum Rektor Aceh

0
Dirjen Dikti Sosialisasikan Program “Kampus Berdampak” di Forum Rektor Aceh. (Foto: HUMAS USK)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dirjen Dikti) Prof Khairul Munadi menyosialisasikan program nasional “Kampus Berdampak” dalam Rapat Koordinasi Forum Rektor Aceh (FRA) yang digelar di Universitas Syiah Kuala (USK), Darussalam, Jumat (9/5).

Program ini, menurut Khairul, merupakan langkah strategis yang bertujuan mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan masyarakat dan daerah.

“Kampus Berdampak dirancang sebagai langkah strategis untuk mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan masyarakat dan daerah,” kata Prof Khairul di Darussalam, Banda Aceh.

Lebih dari Sekadar Akademik

Dalam pemaparannya, Prof Khairul menegaskan bahwa perguruan tinggi seharusnya tidak hanya fokus pada pengajaran dan penelitian. Ia ingin kampus menjadi motor perubahan sosial di tengah masyarakat.

“Kampus Berdampak ingin mengajak perguruan tinggi melangkah lebih jauh. Tidak hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan yang fokus pada pengajaran dan penelitian, tetapi sebagai agen perubahan sosial yang hadir di tengah masyarakat,” tambahnya.

Dengan demikian, program ini mendorong kolaborasi lebih erat antara kampus dan mitra eksternal—termasuk pemerintah, dunia usaha, serta komunitas masyarakat.

Dukungan dari Para Rektor

Ketua Forum Rektor Aceh, Prof Herman Fithra, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk mempercepat pembangunan di Aceh.

“Kami sangat mendukung program ini dan berkomitmen untuk mengintegrasikan prinsip-prinsipnya ke dalam program kerja kampus, khususnya dalam memberdayakan mahasiswa agar lebih aktif terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Rektor USK, Prof Marwan, menekankan pentingnya keselarasan antara program kampus dengan kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki sumber daya yang sangat potensial untuk menjadi aktor perubahan.

“Kampus harus mampu menjawab tantangan yang ada di tengah masyarakat. Program pengabdian harus dirancang berdasarkan data dan hasil riset yang valid, serta melibatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan dunia usaha,” jelas Prof Marwan.

Meski demikian, Prof Marwan juga menggarisbawahi berbagai dinamika lokal yang dapat memengaruhi implementasi program tersebut. Ia menyinggung soal perubahan kepemimpinan daerah, otonomi daerah, serta kondisi sosial-ekonomi mahasiswa yang perlu mendapat perhatian khusus.

Ia menambahkan bahwa dukungan dari pemerintah daerah sangat krusial, terutama dalam menjamin keberlanjutan pendidikan dan membantu mahasiswa kurang mampu.

Rektor se-Aceh Hadiri FRA

Pertemuan Forum Rektor Aceh ini turut dihadiri oleh para pimpinan perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Aceh. Hadir di antaranya Rektor Universitas Teuku Umar, Rektor Universitas Samudra, Rektor ISBI Aceh, serta para rektor IAIN dari Lhokseumawe, Langsa, dan Takengon, termasuk Ketua STAIN Tengku Dirundeng Meulaboh.

Melalui program Kampus Berdampak, pemerintah berharap akan lahir lebih banyak inovasi sosial dan teknologi dari kampus-kampus di seluruh Aceh. Inovasi tersebut diharapkan mampu berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Editor: AKil

Satgas Premanisme Polda Aceh Tangkap Tiga Pelaku Pungli di Pantai Wisata

0
Satgas Ops Premanisme Polda Aceh bersama tiga terduga pelaku pungli yang diamankan di Banda Aceh. (Foto: Bidhumas Polda Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Satuan Tugas (Satgas) Operasi Premanisme Polda Aceh kembali bertindak tegas terhadap praktik pungutan liar (pungli) di kawasan wisata. Kali ini, tim berhasil mengamankan tiga terduga pelaku yang melakukan aksi pungli di Pantai Pulau Kapuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Penangkapan berlangsung pada Kamis (8/5/2025) lalu. Operasi ini dipimpin langsung oleh Kompol Parmohonan Harahap sebagai bagian dari upaya menciptakan suasana aman dan tertib, khususnya di kawasan wisata yang kerap ramai dikunjungi masyarakat.

“Penindakan praktik pungli di pantai wisata tersebut dilakukan pada Kamis (8/5). Saat itu, Satgas Operasi Premanisme Polda Aceh dipimpin Kompol Parmohonan Harahap mengamankan tiga terduga pelaku pungli Pantai Pulau Kapuk,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, di Banda Aceh, Sabtu (10/5).

Modus Pungli Bermodus Tiket Parkir

Dalam keterangannya, Joko menjelaskan bahwa para pelaku memiliki modus operandi dengan cara memungut uang dari setiap kendaraan yang masuk ke area pantai. Uniknya, jumlah pungutan yang diambil disesuaikan dengan jumlah penumpang di dalam mobil.

Namun, para pelaku hanya memberikan satu lembar tiket senilai Rp3.000 per kendaraan. Praktik ini dinilai tidak sesuai dengan aturan pengelolaan wisata dan berpotensi merugikan para pengunjung yang telah membayar lebih dari ketentuan.

Usai diamankan, ketiga terduga pelaku langsung dimintai keterangan oleh petugas. Mereka juga didata serta diberikan pembinaan di tempat. Tak hanya itu, masing-masing pelaku diminta untuk menandatangani surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan serupa di masa mendatang.

“Penindakan ini merupakan bagian dari komitmen Polda Aceh dalam menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat, khususnya di kawasan wisata. Kami akan terus menindak segala bentuk praktik premanisme dan pungli yang meresahkan masyarakat,” lanjut Joko.

Masyarakat Diminta Tak Ragu untuk Melapor

Lebih lanjut, Joko mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan apabila menemukan tindakan serupa. Menurutnya, pelaporan masyarakat akan sangat membantu dalam menertibkan ruang publik dari aksi premanisme dan pungli.

“Kepolisian juga akan terus melaksanakan kegiatan rutin yang ditingkatkan atau KRYD di tempat-tempat rawan aksi premanisme atau pungli untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat,” tegasnya.

Penindakan ini menjadi bukti bahwa aparat kepolisian serius dalam menegakkan aturan. Terlebih, kawasan wisata seharusnya menjadi ruang yang menyenangkan, bukan tempat di mana pengunjung merasa dirugikan.

Editor: Akil

UIN Ar-Raniry Satu-satunya Kampus di Aceh Masuk RPJM Nasional

0
UIN Ar-Raniry. (Foto: HUMAS UINAR)

NUKILAN.id | Banda Aceh Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Aceh. Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh resmi masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2025-2029.

Penetapan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 12 Tahun 2025 yang diteken langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Melalui dokumen itu, UIN Ar-Raniry menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Aceh yang ditetapkan sebagai bagian dari proyek strategis nasional.

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Mujiburrahman, mengungkapkan rasa syukur atas kepercayaan pemerintah pusat yang menjadikan kampusnya sebagai bagian dari RPJM Nasional.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Aceh, Kementerian Agama RI, Bappenas dan Bapak Presiden Prabowo yang telah memberi perhatian serius dan dukungan yang strategis terhadap pengembangan UIN Ar-Raniry masuk dalam agenda prioritas strategis nasional,” ujar Prof Mujiburrahman dikutip dari Serambinews.com, Jumat (9/5/2025).

Menurut Prof Mujiburrahman, masuknya UIN Ar-Raniry dalam RPJM merupakan pijakan regulasi penting bagi pengembangan kampus, baik secara fisik maupun non-fisik.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa hanya ada dua kampus di bawah Kementerian Agama yang masuk dalam program prioritas nasional, yakni Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan UIN Ar-Raniry.

“Dan setahu saya hanya dua kampus PTKIN di bawah Kementrian Agama yang masuk dalam program prioritas strategis nasional, yaitu UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) dan UIN Ar-Raniry,” ujarnya.

Wujudkan Mimpi Besar Menjadi Kampus Kelas Dunia

Dalam dokumen RPJM tersebut, pengembangan UIN Ar-Raniry diarahkan pada program World Class Islamic University (WCIU).

Program ini, menurut rektor, adalah bagian dari jihad akademik seluruh pimpinan dan civitas akademika UIN Ar-Raniry agar dapat direalisasikan secara sistematis dan terukur.

Jika berhasil, UIN Ar-Raniry akan menjelma menjadi universitas bertaraf internasional di Aceh.

“UIN Ar-Raniry menjadi akan menjadi perguruan tinggi yang dilirik dan dijadikan mitra oleh berbagai universitas bergengsi di dunia untuk berkalaborasi memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan masyarakat dunia,” ujar rektor.

Tak hanya itu, keberhasilan program ini juga diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal. Kehadiran mahasiswa dan dosen asing akan membawa dampak ekonomi sekaligus membuka peluang pendidikan internasional bagi generasi muda Aceh.

“Dan akan memberi kesempatan bagi generasi muda Aceh untuk memperoleh pendidikan bertaraf international,” ungkapnya.

Tiga Strategi Kunci Menuju World Class

Untuk mewujudkan visi besar tersebut, Prof Mujiburrahman menyampaikan tiga strategi utama yang kini menjadi fokus UIN Ar-Raniry.

Pertama, peningkatan sarana dan prasarana penunjang kegiatan akademik. Ini termasuk pembangunan gedung perkantoran, ruang kuliah, laboratorium, asrama mahasiswa, guest house dosen tamu, perpustakaan, serta fasilitas olahraga berstandar internasional.

“Secara detail kita perlu membangun gedung perkantoran, ruang kuliah, ruang dosen, guest house dosen tamu, asrama mahasiswa, perpustakaan, laboratorium, fasilitas olah raga dan sarana fisik lainya yang berstandar international,” tuturnya.

Kedua, peningkatan tata kelola universitas serta pengembangan SDM dosen dan tenaga kependidikan (tendik) agar profesional dan mampu memberikan layanan berstandar global.

Terakhir, UIN Ar-Raniry akan memperkuat kerja sama internasional dengan berbagai perguruan tinggi ternama dunia, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Terakhir, meningkatkan kerja sama dan kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi ternama di luar negeri dalam rangka memperkuat kalaborasi bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sehingga ketiga aspek tridharma perguruan tinggi tersebut bertaraf international,” pungkasnya.

Editor: Akil

Aceh Diguncang 19 Kali Gempa dalam Sepekan

0
20 Gempa Terbesar
Ilustrasi Gempa. (Foto: Antara)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Selama periode 2 hingga 8 Mei 2025, wilayah Aceh dan sekitarnya diguncang 19 kali gempa bumi. Meskipun jumlahnya cukup banyak, seluruh gempa tersebut tidak menimbulkan getaran yang dirasakan masyarakat.

Data ini disampaikan oleh Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mata Ie Aceh Besar, Andi Azhar Rusdin, melalui keterangan tertulis yang diunggah di akun Instagram resmi @stageof.acehbesar pada Jumat (9/5/2025).

“Selama sepekan terakhir, terpantau 19 aktivitas gempa bumi di Aceh. Namun, seluruhnya tergolong gempa kecil yang tidak menimbulkan getaran signifikan bagi masyarakat,” ujar Andi Azhar.

Mayoritas Gempa Berkekuatan Ringan

Menurut BMKG, 13 dari 19 gempa yang tercatat memiliki magnitudo di bawah M 3. Sementara itu, enam gempa lainnya berkisar antara M 3 hingga M 5. Tidak ada satu pun gempa yang melebihi kekuatan M 5.

Dari sisi kedalaman, sebagian besar gempa yang terjadi tergolong dangkal. Tercatat 18 gempa berada pada kedalaman kurang dari 60 kilometer, sementara satu lainnya masuk kategori menengah. Sepanjang periode tersebut, tidak ditemukan aktivitas gempa dalam.

Imbauan untuk Tetap Tenang dan Waspada

Meskipun tidak berdampak langsung, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap siaga terhadap potensi gempa bumi di masa mendatang.

“Kami imbau masyarakat Aceh untuk tetap waspada, namun jangan panik. Dapatkan informasi terpercaya hanya dari BMKG. Jangan mudah percaya hoaks,” tegasnya.

Lebih lanjut, BMKG menegaskan komitmennya dalam memantau aktivitas seismik secara real-time di seluruh wilayah Aceh. Tujuannya adalah untuk memastikan masyarakat menerima peringatan dini jika memang dibutuhkan.

“BMKG akan terus melakukan pemantauan secara real-time terhadap aktivitas seismik di seluruh wilayah Aceh guna memberikan peringatan dini jika dibutuhkan.”

Dengan demikian, meski gempa yang terjadi masih tergolong ringan, kewaspadaan tetap diperlukan sebagai langkah preventif.

Izin Tiga BPR di Aceh Dicabut, LPS Bayarkan Simpanan Nasabah Rp 17,6 Miliar

0
Ilustrasi Lembaga Penjamin Simpanan. (Foto: Detik.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Tiga Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Aceh resmi dicabut izinnya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Akibatnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) harus turun tangan membayarkan simpanan nasabah senilai total Rp 17,63 miliar kepada lebih dari 8.000 rekening.

Penanganan ini menjadi pengingat serius soal pentingnya tata kelola perbankan yang baik. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan LPS I, Muhamad Yusron, dalam konferensi pers di Banda Aceh, Jumat (9/5/2025).

BPRS Kota Juang: Pembayaran Terbesar

Saat ini, proses penanganan masih berlangsung pada satu bank, yakni PT BPRS Kota Juang di Kabupaten Bireuen. Bank ini dicabut izinnya pada 29 November 2024. Selanjutnya, tim likuidasi dibentuk oleh LPS pada 12 Desember 2024 untuk memverifikasi simpanan nasabah.

Dari hasil verifikasi, ditemukan 1.360 rekening simpanan layak bayar (SLB) dengan nilai Rp 10,36 miliar. Sementara itu, simpanannya yang tidak layak bayar (STLB) sebanyak 83 rekening senilai Rp 48 juta.

“LPS menetapkan simpanan layak bayar pada PT BPRS Kota Juang sebesar Rp10,36 miliar atau 99,53% dari total penetapan simpanan sebesar Rp10,41 miliar. Periode likuidasi dari 12 Desember 2024 hingga 11 Februari 2026 atau 14 bulan,” ujar Yusron.

BPRS Hareukat dan BPR Aceh Utara Selesai Dibayar

Sementara itu, dua BPR lainnya yang telah dicabut izinnya sebelumnya sudah selesai diproses pembayarannya. Pertama, PT BPRS Hareukat di Aceh Besar yang izinnya dicabut pada 11 Oktober 2019. LPS membentuk tim likuidasi pada 21 Oktober 2019.

Pada bank ini, LPS membayar SLB kepada 3.915 rekening dengan nilai Rp 6,8 miliar. Adapun STLB tercatat sebanyak 78 rekening dengan nilai Rp 11,7 juta. Proses pembayaran berlangsung dari 21 Oktober 2019 hingga 20 Januari 2021.

Kemudian, LPS juga telah menyelesaikan pembayaran untuk BPR Aceh Utara. Bank ini dicabut izinnya pada 4 Maret 2024 dan dibentuk tim likuidasi pada 13 Maret 2024. Hasilnya, sebanyak 2.781 rekening dinyatakan layak bayar dengan total Rp 538 juta. Hanya satu rekening yang tidak layak dibayar dengan nominal Rp 20 ribu.

Total Pembayaran LPS Capai Rp 17,63 Miliar

Secara keseluruhan, hingga 31 Maret 2025, LPS telah membayarkan Rp 17,63 miliar kepada nasabah dari tiga BPR yang dilikuidasi. Angka itu merupakan hasil verifikasi dari total SLB senilai Rp 17,73 miliar. Nilai tersebut telah disesuaikan dengan batas maksimum penjaminan LPS sebesar Rp 2 miliar per nasabah, serta mempertimbangkan kewajiban pinjaman dan keberatan dari nasabah.

“Sampai dengan 31 Maret 2025, LPS telah melakukan penanganan klaim penjaminan simpanan terhadap tiga BPR/BPRS di Provinsi Aceh yang dicabut izin usahanya. LPS membayarkan sebesar Rp 17,63 miliar dari total simpanan layak bayar sebesar Rp17,73 miliar setelah memperhitungkan nilai maksimum penjaminan LPS Rp 2 miliar, set-off terhadap pinjaman dan hasil penanganan keberatan nasabah yang diterima LPS,” jelas Yusron.

Masalah Tata Kelola Jadi Sorotan

Yusron menegaskan bahwa pencabutan izin terhadap BPR tersebut sebagian besar disebabkan oleh buruknya tata kelola dan pengelolaan keuangan bank. Ia mengingatkan agar setiap manajemen bank memperhatikan kesehatan keuangan dan tata kelola agar tidak mengalami nasib serupa.

“Jaga terus kondisi keuangannya agar bank yang ada di Aceh ini tidak menjadi pasien LPS yang dilikuidasi. Kami berharap kondisi perbankan di Provinsi Aceh ini, semua sehat dan kondisinya stabil,” tutupnya.

Editor: AKil

Tertarik Beli Mobil di Facebook, Warga Banda Aceh Tertipu Rp140 Juta

0
Tertarik Beli Mobil di Facebook, Warga Banda Aceh Tertipu Rp140 Juta. (Foto: Popularitas)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Niat hati ingin memiliki mobil impian melalui marketplace Facebook, Zulkiram (60), warga Lueng Bata, Banda Aceh, justru harus menelan pil pahit. Ia menjadi korban penipuan hingga merugi Rp140 juta setelah mentransfer uang pembelian mobil ke rekening yang ternyata bukan milik penjual asli.

Kejadian tersebut bermula saat Zulkiram melihat iklan penjualan mobil Toyota Veloz tahun 2016 berwarna putih di Facebook, pada 9 Maret 2025. Mobil tersebut ditawarkan dengan harga Rp148 juta dan menarik perhatian korban. Ia pun menghubungi penjual melalui WhatsApp setelah mendapat nomor kontak.

“Usai mendapatkan nomor kontak, pada 13 Maret 2025, korban berkomunikasi dengan pelaku via WhatsApp, negosiasi pun terjadi,” ujar Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, dalam konferensi pers di Mapolresta Banda Aceh, Jumat (9/5/2025).

Cek Mobil Langsung, Tapi Uang Menguap

Agar lebih yakin, Zulkiram menyuruh seorang temannya, Rangga, untuk mengecek langsung kondisi mobil tersebut ke rumah si pemilik mobil yang diketahui bernama Kusmarwoto, di Kecamatan Cibodas, Tangerang.

Sesampainya di lokasi, Rangga didampingi langsung oleh Kusmarwoto, pemilik mobil yang asli. Sementara itu, komunikasi antara korban dan pelaku tetap berlangsung melalui WhatsApp.

Setelah pengecekan dianggap sesuai, kesepakatan harga pun tercapai di angka Rp140,5 juta. Tanpa curiga, korban mentransfer uang pembelian sesuai arahan pelaku ke nomor rekening yang diberikan.

Namun, kejadian mencurigakan pun terjadi. Rangga yang masih berada di lokasi bersama pemilik mobil memperlihatkan bukti transfer tersebut. Sayangnya, Kusmarwoto menyatakan bahwa rekening itu bukan miliknya dan tidak ada uang yang masuk.

“Teman korban yang masih bersama pemilik mobil menunjukkan bukti transfer yang dikirim korban, namun pemilik mobil bilang kalau itu bukan rekeningnya dan tidak ada uang yang masuk, akhirnya disinilah korban sadar sudah tertipu. Sempat dihubungi tapi tidak aktif lagi,” ungkap Joko.

Pelaku Akhirnya Diciduk

Setelah menerima laporan korban, aparat kepolisian dari Satreskrim Polresta Banda Aceh melakukan penyelidikan sejak 25 April 2025. Pelaku yang diketahui berinisial SA (28), warga Tangerang, akhirnya ditangkap pada Sabtu, 3 Mei 2025, setelah sempat berpindah-pindah lokasi.

Kini, SA telah dibawa ke Banda Aceh untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa pelaku pernah menjualkan mobil untuk Kusmarwoto sebelumnya. Namun, dalam kasus ini, ia bertindak seolah-olah masih menjadi agen resmi.

“Jadi pelaku seolah-olah sebagai agen. Memang sebelumnya pelaku ini pernah bantu pemilik mobil menjual mobilnya, tapi itu dulu. Antara pelaku dan pemilik mobil hanya kenal sebatas jual beli mobil,” beber Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Fadilah Aditya Pratama.

Fadilah menambahkan bahwa uang yang diterima pelaku dari korban langsung dipindahkan ke rekening lain dan digunakan untuk kepentingan pribadi. Polisi juga telah menyita barang bukti berupa bukti transfer, satu unit ponsel, sejumlah kartu ATM, serta print rekening.

“Pelaku saat ini masih ditahan dan akan kita lakukan penyidikan lanjut. Ia dijerat dengan Pasal 378 KUHP atas kasus penipuan dengan hukuman penjara empat tahun,” ucap Fadilah.

Polisi Imbau Warga Lebih Waspada

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat, terutama dalam melakukan transaksi jual beli secara daring. Kombes Pol Joko Heri Purwono mengimbau agar masyarakat berhati-hati dan tidak mudah percaya terhadap penjual yang tidak dikenal, meski penawaran terlihat menarik.

“Penipuan di marketplace atau secara online sudah banyak terjadi, bukan kali ini saja. Kalau pun memang mau membeli barang secara online bisa di tempat terpercaya. Waspada, jangan sampai jadi korban penipuan,” pungkasnya.