Beranda blog Halaman 541

Premanisme Ormas dan Ancaman terhadap Demokrasi

0
Rosario de Marshal alias Herkules, Pimpinan organisasi Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya). (Foto: penapos)

NUKILAN.ID | OPINI – Naiknya Prabowo Subianto ke tampuk kekuasaan sebagai Presiden Republik Indonesia memberikan harapan baru bagi stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, di balik euforia itu, terselip kegelisahan yang mengendap di ruang publik: kebangkitan organisasi massa bergaya preman yang mendapat ruang baru di era kekuasaannya. Salah satu simbol fenomena ini adalah Rosario de Marshal alias Herkules dan organisasi Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya) yang dipimpinnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, GRIB Jaya menunjukkan gejala klasik organisasi massa yang menjelma menjadi alat kekuasaan. Mereka beraksi liar di sejumlah daerah, mulai dari membakar mobil operasional polisi hingga menyerbu markas ormas lain. Bahkan, mereka secara terang-terangan mengancam akan mengerahkan massa besar untuk mendatangi kantor gubernur Jawa Barat, walau lokasinya disebut keliru di Kalimantan Tengah.

Ini bukan sekadar ulah ormas biasa. Ini adalah pertunjukan kekuasaan yang dibungkus dengan legitimasi politik.

Hubungan Herkules dengan Prabowo bukanlah rahasia. Keduanya memiliki ikatan sejarah sejak operasi militer di Timor Timur. Herkules, eks pejuang pro-integrasi, dibawa ke Jakarta dan kemudian menancapkan kuku bisnis keamanannya dengan restu kekuatan militer. GRIB Jaya sendiri lahir sebagai organisasi sayap politik Partai Gerindra, kendaraan politik Prabowo.

Kedekatan inilah yang menjelaskan mengapa GRIB Jaya tampak tak tersentuh. Aparat hukum seolah kehilangan taring ketika menghadapi organisasi ini. Bahkan, ketika muncul desakan publik agar polisi bertindak tegas, baru ada respons setelah Presiden Prabowo sendiri memerintahkannya. Itupun dengan sikap setengah hati.

Fenomena ini bukan tanpa preseden. Dalam sejarah politik Indonesia, premanisme telah lama menjadi alat kuasa, mulai dari era Orde Baru hingga reformasi. Dalam buku Politik Jatah Preman” (2015), peneliti asal Australia, Ian Douglas Wilson, mencatat bahwa ormas-ormas bergaya preman berubah menjadi pemain politik pascareformasi. Mereka menjadi mitra bagi elite politik dalam memobilisasi suara dan melindungi kepentingan.

Herkules adalah contoh nyata dari model ini. Ia bukan hanya tokoh jalanan, tetapi juga aktor politik yang mengerti betul cara memanfaatkan demokrasi. Di satu sisi, GRIB Jaya berlindung di balik kebebasan berserikat dan menyatakan diri sebagai representasi rakyat kecil. Namun di sisi lain, mereka mengintimidasi, memalak, bahkan mengancam kebebasan ekonomi.

Kasus penggangguan terhadap proyek pabrik BYD, produsen kendaraan listrik asal Cina, di Subang, Jawa Barat, menjadi ilustrasi bagaimana ormas semacam ini dapat mengancam iklim investasi. Di tengah upaya besar Indonesia menarik investasi asing dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, kehadiran kelompok preman menjadi batu sandungan serius.

Persoalan ini juga bisa berimplikasi terhadap perumusan kebijakan yang lebih luas. Muncul kekhawatiran bahwa situasi semacam ini dapat dijadikan dalih untuk merevisi Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan. Di satu sisi, publik tentu menginginkan ketegasan terhadap ormas-ormas liar. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa revisi undang-undang akan dimanfaatkan untuk merepresi kelompok-kelompok kritis yang justru menjadi pilar demokrasi.

Dalam situasi ini, Presiden Prabowo menghadapi ujian penting. Apakah ia akan memilih jalan populis dengan memelihara loyalitas kelompok-kelompok seperti GRIB Jaya demi stabilitas semu dan perhitungan politik jangka pendek? Atau, ia berani mengambil sikap tegas dengan memutus mata rantai hubungan antara kekuasaan dan premanisme?

Kebijakan yang setengah hati hanya akan membuat demokrasi kian cacat. Ketika aparat hukum tunduk pada tekanan kekuasaan informal, dan ketika negara membiarkan kelompok premanisme menjadi alat kendali sosial, maka cita-cita besar seperti pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan negara hukum yang berkeadilan hanya akan menjadi ilusi.

Dalam demokrasi yang sehat, kekuasaan harus berjarak dari kekerasan jalanan. Hubungan patron-klien antara elite dan ormas harus diputus demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Indonesia butuh pemimpin yang berani menempatkan hukum di atas loyalitas politik. Dan saat inilah Prabowo diuji: apakah ia seorang negarawan, atau hanya politisi lain yang memelihara para preman sebagai alat kekuasaan?

Jika tidak segera bertindak tegas, Herkules dan GRIB Jaya bukan hanya akan menjadi kerikil dalam sepatu kekuasaan Prabowo, tetapi juga ranjau bagi demokrasi Indonesia. (XRQ)

Penulis: Vira Fitriani (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan USK)

Ijazah Palsu, Ketua Panwaslih Aceh Barat Dicopot DKPP

0
Ketua DKPP, Heddy Lugito. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) resmi mencopot Aidil Azhar dari jabatannya sebagai Ketua Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Kabupaten Aceh Barat. Pencopotan ini dilakukan setelah terbukti bahwa ijazah strata satu (S1) yang digunakan Aidil adalah palsu.

Sidang putusan digelar pada Senin (19/5/2025). Ketua DKPP, Heddy Lugito, membacakan langsung sanksi tersebut.

Menjatuhkan sanksi Peringatan Keras dan Pemberhentian dari Jabatan Ketua kepada teradu Aidil Azhar selaku Ketua merangkap Anggota Panwaslih Kabupaten Aceh Barat terhitung sejak putusan ini dibacakan,” ujar Heddy dalam putusan Nomor: 300-PKE-DKPP/XI/2024.

Dalam proses seleksi Panwaslih, Aidil diketahui mencantumkan ijazah S1 dengan Nomor: 1038/408/KIM-II5/2000. Namun, setelah ditelusuri, ijazah tersebut tidak terdaftar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Nomor Ijazah Milik Orang Lain

Fakta di persidangan menunjukkan, kode nomor ijazah 1038 ternyata terdaftar atas nama Munira, lulusan Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Syiah Kuala. Munira sendiri diwisuda pada Mei 2000.

Sementara itu, nomor ijazah 408/KIM-115—yang seharusnya mewakili kode fakultas—tercatat atas nama Jamaluddin, dari Program Studi Kimia, pada tahun dan fakultas yang sama.

Demikian pula nomor ijazah 408/KIM-115 sebagai kode fakultas terdaftar di arsip duplikat atas nama Jamaluddin dengan NIM 94811493, Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Syiah Kuala dan wisuda pada Mei tahun 2000,” jelas anggota DKPP, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi.

Lebih lanjut, Aidil juga mengaku pernah menyerahkan daftar riwayat hidup yang menyebut dirinya sebagai lulusan SMTI Banda Aceh. Namun, dalam sidang, ia gagal menunjukkan bukti dokumen tersebut.

Atas semua fakta itu, DKPP menilai Aidil telah melanggar etika penyelenggara pemilu.

Ia dinilai melanggar Pasal 9 huruf a dan Pasal 15 huruf a dalam Peraturan DKPP Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu.

Putusan Lain dan Sanksi Tambahan

Dalam sidang yang sama, DKPP juga menyampaikan putusan terhadap perkara lain. Salah satunya adalah perkara Nomor 297-PKE-DKPP/XI/2025 dengan teradu Ketua dan Anggota KIP Provinsi Aceh. Namun, karena pengadu mencabut laporan, kasus ini tidak dilanjutkan.

Secara total, DKPP membacakan putusan untuk sembilan perkara. Jumlah penyelenggara pemilu yang terlibat mencapai 55 orang.

Dari hasil sidang tersebut, DKPP menjatuhkan sanksi berupa Peringatan (19), Peringatan Keras (6), dan Pemberhentian dari Jabatan Ketua (1).

Di sisi lain, terdapat 23 penyelenggara pemilu yang dinyatakan tidak bersalah. Nama baik mereka pun direhabilitasi karena tidak terbukti melanggar kode etik penyelenggara pemilu.

Editor: Akil

117 Tahun Harkitnas: Menapak Sejarah Boedi Oetomo Menuju Indonesia Kuat

0
Logo Harkitnas 2025 (Foto: Dok. Komdigi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Tanggal 20 Mei 2025 menandai peringatan ke-117 Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), sebuah momentum bersejarah yang memperingati berdirinya organisasi pergerakan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Organisasi ini kerap disebut sebagai tonggak awal kesadaran nasional, ketika semangat persatuan mulai tumbuh melintasi sekat-sekat etnis, agama, dan golongan untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Sejarah Nasional Indonesia Jilid V, sebagaimana dikutip Nukilan.id, Boedi Oetomo didirikan oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo dan dr. Soetomo bersama sekelompok mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia (sekarang Jakarta).

Pada mulanya, organisasi ini berfokus pada peningkatan pendidikan dan pelestarian kebudayaan. Namun seiring waktu, geliat perjuangannya meluas menjadi wadah politik melawan kolonialisme Belanda.

Sebagaimana ditulis oleh sejarawan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku tersebut, Boedi Oetomo menjadi pelopor pergerakan nasional yang memantik lahirnya berbagai organisasi serupa di penjuru nusantara.

Kebangkitan ini tidak hanya dimaknai sebagai lahirnya organisasi modern, melainkan sebagai kebangkitan semangat kebangsaan dan kesadaran kolektif sebagai satu bangsa yang merdeka.

Harkitnas dan Spirit Nasionalisme

Presiden Soekarno menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Mengutip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), peringatan ini ditujukan untuk memupuk kembali semangat nasionalisme, solidaritas, dan rasa cinta tanah air di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Pada tahun ini, tema Harkitnas 2025 adalah Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat”. Seperti dikutip dari detik.com, tema ini menjadi seruan moral bagi seluruh elemen masyarakat untuk bangkit menghadapi beragam tantangan sosial, ekonomi, maupun lingkungan, demi terciptanya Indonesia yang tangguh, adil, dan berkelanjutan.

Makna Logo Harkitnas ke-117

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui surat bernomor B-395/M.KOMDIGI/HM.04.01/05/2025 tertanggal 14 Mei 2025, telah merilis pedoman resmi peringatan Harkitnas ke-117.

Salah satu elemen penting dalam pedoman tersebut adalah logo resmi yang menggambarkan makna filosofis dari semangat kebangkitan nasional. Logo tersebut dapat diunduh melalui tautan resmi: https://s.komdigi.go.id/HARKITNAS2025

Berikut penjabaran simbolik dari elemen-elemen logo tersebut:

  • Tegas dan Kokoh: Angka 117 merepresentasikan usia peringatan Harkitnas sejak tahun 1908. Angka ini didesain tegas dan padat, mencerminkan keteguhan dan kontinuitas perjuangan bangsa.

  • Pilar Kebangsaan: Bentuk angka 11 menyerupai dua pilar yang melambangkan pondasi kebangsaan yang kuat dan tak mudah runtuh.

  • Titik Perubahan: Bola merah menggambarkan energi semangat juang serta sebagai titik awal penggerak perubahan sosial dan nasional.

  • Masa Depan: Garis horizontal biru di bagian atas melambangkan arah ke depan, kemajuan, dan visi Indonesia yang jauh ke masa depan.

  • Kebangkitan: Lengkungan emas ke atas menjadi simbol dari gerakan bangkit secara kolektif, menggambarkan semangat gotong royong dan optimisme menuju masa depan.

Refleksi Sejarah di Tengah Tantangan Zaman

Di tengah era digital dan globalisasi seperti sekarang, semangat Harkitnas kian relevan. Ketika tantangan baru seperti ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, dan krisis sosial melanda, kebangkitan nasional bukan lagi sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan bersama.

Dengan mengusung tema “Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat”, peringatan Harkitnas 2025 menjadi ajakan untuk tidak hanya mengenang, melainkan juga meneladani semangat para pendiri bangsa—semangat belajar, bersatu, dan berjuang dalam segala keterbatasan.

Harkitnas bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah refleksi kolektif bahwa kebangkitan sejati hanya bisa dicapai melalui kerja bersama, kesadaran nasional, dan komitmen terhadap kemajuan bersama. Sebuah pesan yang tetap menyala dari 1908 hingga kini—dan seterusnya. (xrq)

Reporter: Akil

RSIA Aceh Hadirkan Layanan Rehabilitasi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

0
Plt Sekda Aceh, M Nasir saat meninjau anak berkebutuhan khusus yang sedang menjalani rehabilitasi di RSIA Aceh, di Banda Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh kini menghadirkan layanan rehabilitasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus melalui Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aceh. Selain itu, RSIA juga memaksimalkan pelayanan fetomaternal guna menangani kehamilan berisiko tinggi.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk kepedulian pemerintah dalam mendampingi tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan.

Upaya Pemerintah dalam Menjawab Kebutuhan Dasar

Plt Sekda Aceh, M Nasir, saat meninjau langsung pelayanan rehabilitasi di RSIA Aceh, menyampaikan harapannya atas dua layanan penting tersebut.

Saya kira dengan adanya dua program ini dapat membantu masyarakat Aceh, kita berharap pelayanan ini dapat dilaksanakan dengan baik,” ujar M Nasir, Senin (19/5/2025) di Banda Aceh.

Sebagai informasi, layanan fetomaternal merupakan subspesialisasi dari bidang kebidanan dan kandungan yang difokuskan pada penanganan ibu hamil dan janin, khususnya dalam kondisi kehamilan berisiko tinggi.

Dampingi dari Kandungan Hingga Tumbuh Kembang

Menurut M Nasir, kehadiran layanan ini membuat RSIA mampu mendampingi masyarakat sejak awal kehamilan hingga anak lahir dan tumbuh.

Saya harap ini ibu-ibu di Aceh terus memeriksa kehamilannya, kemudian bagi keluarga yang punya anak berkebutuhan khusus, sekarang sudah ada layanan rehabilitasi, segera dikonsultasikan,” ujarnya.

Pemeriksaan kehamilan sejak dini sangat disarankan agar kondisi janin dapat dideteksi lebih awal. Dengan demikian, intervensi medis bisa segera dilakukan guna mencegah kelahiran anak dengan kebutuhan penanganan khusus. Jika pencegahan terlambat, proses rehabilitasi akan memakan waktu yang lebih lama.

Kebutuhan Fasilitas Terus Diupayakan

Terkait kebutuhan alat pendukung, seperti ultrasonografi (USG) dengan spesifikasi tinggi, M Nasir menyatakan bahwa hal ini sedang diupayakan.

Karena ini pelayanan dasar, Pemerintah Aceh komit untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Direktur RSIA, dr Nurhikmah, menjelaskan bahwa alat USG memang telah tersedia, namun spesifikasinya masih tergolong rendah. Ia berharap ada peningkatan kualitas alat untuk menunjang diagnosa yang lebih akurat.

Di sisi lain, layanan rehabilitasi untuk anak berkebutuhan khusus sudah mulai berjalan dengan kelengkapan peralatan yang memadai. Hanya saja, keterbatasan ruang masih menjadi tantangan.

Sudah lengkap alatnya dan tercukupi, tetapi paling perlu tambah area supaya lebih banyak anak yang bisa diterima,” ujar dr Nurhikmah.

Setiap anak memerlukan waktu antara satu hingga dua jam dalam satu sesi terapi. Oleh sebab itu, kapasitas ruang sangat menentukan jumlah anak yang dapat ditangani.

Tenaga Profesional yang Tersertifikasi

Untuk memastikan kualitas pelayanan, RSIA menurunkan tenaga profesional yang telah mendapatkan pelatihan khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus.

Untuk pelayanan anak berkebutuhan khusus, para tenaga juga tidak sembarang, mereka telah mendapatkan pelatihan khusus, sehingga tidak salah dalam penanganannya,” kata dr Nurhikmah.

Dengan hadirnya layanan ini, diharapkan para orang tua di Aceh tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan fasilitas rehabilitasi yang memadai dan profesional. Selain menjadi bentuk perhatian terhadap hak anak, inisiatif ini juga merupakan langkah penting dalam pembangunan sumber daya manusia Aceh sejak dini.

Editor: Akil

Gubernur Aceh Lantik 74 Pejabat Baru

0
gubernur aceh
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, saat mengambil Sumpah Jabatan dan Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II), Pejabat Administrator (Eselon III) dan Pejabat Pengawas (Eselon IV) dalam lingkungan Pemerintah Aceh, di Aula Serbaguna Setda Aceh. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh kembali melakukan penyegaran birokrasi. Pada Senin, 19 Mei 2025, Gubernur Aceh Muzakir Manaf melantik 74 pejabat di Aula Serbaguna Kantor Gubernur Aceh. Pelantikan ini mencakup pejabat eselon II, III, dan IV.

Dari total pejabat yang dilantik, lima orang merupakan pejabat pimpinan tinggi pratama (eselon II), 49 orang pejabat administrator (eselon III), dan 20 orang pejabat pengawas (eselon IV).

Adapun nama-nama pejabat pimpinan tinggi pratama yang dilantik antara lain:

  • M Nasir Syamaun, yang kini menjabat sebagai Asisten Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Sekda Aceh. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh.

  • Azwardi Abdullah, kini dipercaya memimpin Sekretariat Majelis Pendidikan Aceh. Ia menggantikan posisi sebelumnya sebagai Asisten Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Sekda Aceh.

  • T Mirzuan, kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh. Sebelumnya, ia adalah Kepala Sekretariat Majelis Pendidikan Aceh.

  • Dr Husnan, dilantik menjadi Kepala Bappeda Aceh. Ia sebelumnya merupakan Perencana Ahli Madya di instansi yang sama.

  • Abdullah Hasbullah, menempati posisi baru sebagai Kepala Sekretariat Lembaga Wali Nanggroe Aceh.

Dalam sambutannya, Gubernur yang akrab disapa Mualem memberikan pesan tegas namun membangun kepada para pejabat yang baru dilantik. Ia mengingatkan bahwa pelantikan ini bukan semata formalitas, melainkan amanah besar dalam memajukan Aceh.

Jangan takut, gak akan kita ganti semua, asal bagus, profesional, dan amanah bekerja untuk membangun Aceh ini lebih baik,” kata Mualem.

Tak hanya itu, Mualem juga menekankan pentingnya bekerja sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Aceh. Ia optimistis, para pejabat yang dipilih melalui proses seleksi ketat ini mampu membawa perubahan positif.

Mutasi dan promosi hari ini bukanlah yang terakhir. Ke depan, pelantikan akan terus dilakukan secara bertahap, sesuai kebutuhan organisasi dan sebagai bagian dari penyegaran birokrasi,” lanjutnya.

Mualem menegaskan bahwa sistem penilaian bagi ASN tidak bergantung pada relasi atau pendekatan personal. Sebaliknya, integritas dan kinerja nyata adalah tolok ukur utama.

Mari kita jadikan tugas ini sebagai bentuk pengabdian untuk kemajuan Aceh,” pungkasnya.

Pelantikan ini menjadi bagian dari langkah strategis Pemerintah Aceh dalam memperkuat struktur birokrasi. Dengan cara ini, harapannya roda pemerintahan akan berjalan lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Ke depan, reformasi birokrasi dipastikan akan terus berlanjut. Oleh karena itu, setiap aparatur sipil negara diimbau untuk meningkatkan kompetensi dan menjaga profesionalisme dalam bekerja.

Didaftarkan Sejak SD, Kakak Beradik Banda Aceh Berhaji di Usia 20-an

0
Didaftarkan Sejak SD
Kakak Beradik Banda Aceh Berhaji di Usia 20-an. (Foto: Detik.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kini, dua gadis Banda Aceh akhirnya terbang ke Tanah Suci, dan menariknya, mereka masih berusia dua puluhan. Sebagai informasi, Nazhifah Nafara (22) dan Nashira Taharah (20) tergabung dalam Kloter 2 Embarkasi Aceh (BTJ 02).

Berdasarkan jadwal, mereka lepas landas Senin, 19 Mei 2025 pukul 09.30 WIB dari Bandara Sultan Iskandar Muda menuju Jeddah. Menariknya, keberangkatan tersebut ditemani sang ibu, Riana Dewi, beserta seorang bibi yang turut mendoakan.

Menabung Ibadah Sejak 2012

Di asrama haji, antusiasme kakak beradik itu terlihat jelas ketika, terlebih lagi, petugas memeriksa kesehatan dan kelengkapan dokumen. Sebelumnya, pada 2012, orang tua mereka mendaftarkan diri ke daftar tunggu haji, kemudian, beberapa bulan berselang, giliran anak-anak didaftarkan.

Meski saat itu pendaftaran belum mematok batas usia, selanjutnya, PMA No. 29 Tahun 2015 menegaskan minimal 12 tahun bagi calon jemaah.

Alhamdulillah, senang sekali bisa berangkat haji di usia muda,” ujar Nazhifah.

Tak hanya itu, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala tersebut berjanji akan memperbanyak doa untuk kebaikan keluarga.

Regulasi Usia dan Peluang Muda

Waktu itu saya berpikir, kalau nanti saya berangkat sendiri, saya bingung mau menitipkan anak ke siapa. Jadi sekalian saya daftarkan juga anak-anak agar bisa berangkat bersama,” katanya.

Lebih jauh, Riana Dewi berharap masyarakat turut mendoakan agar rangkaian ibadah keluarga tersebut berjalan lancar. Sementara itu, data Kementerian Agama mencatat masa tunggu haji di Aceh kini mencapai belasan tahun, sehingga strategi mendaftar sejak dini masih relevan.

Selain itu, perubahan regulasi tetap memberi ruang bagi calon jemaah muda, asalkan persyaratan kesehatan terpenuhi.

Inspirasi bagi Keluarga Aceh

Dengan demikian, kisah Nazhifah dan Nashira seakan menegaskan bahwa perencanaan matang akhirnya membuahkan perjalanan spiritual yang berharga. Ke depan, berbagai pihak berharap keberangkatan anak muda Aceh ini menginspirasi keluarga lain untuk, paling tidak, menyiapkan tabungan haji lebih awal.

Terakhir, pemerintah daerah mengimbau calon jemaah memanfaatkan layanan satu pintu haji agar, pada akhirnya, proses administrasi lebih ringkas.

Labi-labi Prioritas: Upaya Kemenag Aceh Wujudkan Layanan Haji Ramah Lansia

0
Labi-labi Prioritas
Labi-labi Prioritas, Upaya Kemenag Wujudkan Layanan Haji Ramah Lansia di Aceh. (Foto: KEMENAG ACEH)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Dalam upaya meningkatkan layanan bagi jemaah lanjut usia, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh menghadirkan moda transportasi khas Aceh bernama Labi-labi Prioritas’. Kendaraan yang sempat populer di era 80 hingga 90-an ini kini kembali hadir, namun dalam misi yang lebih mulia: membantu mobilitas jemaah lansia di Asrama Haji Embarkasi Aceh.

Transportasi Bernuansa Tempo Doeloe

Labi-labi adalah angkutan umum yang menyerupai mobil pick up, dengan tempat duduk di bagian belakang dan penutup di atasnya. Sekilas, bentuk kendaraan ini menyerupai kura-kura—atau dalam bahasa Aceh disebut labi-labi—karena terdapat ‘cangkang’ di bagian punggung belakang.

Ketua PPIH Embarkasi Aceh, Azhari, menjelaskan bahwa kendaraan ini disiapkan sebagai penunjang mobilitas jemaah, khususnya lansia, selama berada di area asrama. Sebelumnya, hanya ada satu unit mobil golf yang beroperasi. Oleh karena itu, kehadiran labi-labi menjadi solusi alternatif.

Sebenarnya ini hanya untuk menunjang transportasi, mungkin ada lansia dari gedung A mau ke gedung B. Kan mobil golf itu cuma satu, terbatas. Makanya didukung dengan labi-labi,” kata Azhari, di Aceh, Senin (19/5/2025).

Nostalgia dan Fungsionalitas dalam Satu Kendaraan

Setiap hari, Labi-labi Prioritas bersiaga untuk melayani jemaah yang mengikuti berbagai kegiatan di Asrama Haji. Bukan hanya soal fungsi, kehadiran angkutan ini juga menjadi pengingat akan moda transportasi yang pernah merajai jalanan Aceh pada masa lalu.

Tahun-tahun sebelumnya tidak ada. Ini juga mengingatkan kita akan masa lalu,” ujarnya.

Tidak hanya sekadar nostalgia, kendaraan ini terbukti sangat membantu. Selama proses kedatangan dan aktivitas jemaah di asrama, kebutuhan akan transportasi yang mudah diakses sangatlah penting. Maka dari itu, selain penyediaan kursi roda, kehadiran labi-labi menambah kenyamanan.

Disambut Positif oleh Jemaah

Kebijakan ini pun mendapatkan respons positif dari para jemaah. Masri Muhammad, salah seorang jemaah asal Aceh Tengah, mengaku merasa sangat terbantu dengan kehadiran labi-labi.

Ini layanan yang sangat bagus. Sangat terbantu,” sebutnya.

Dengan langkah ini, Kementerian Agama melalui PPIH Embarkasi Aceh menunjukkan komitmennya dalam menyelenggarakan layanan haji yang inklusif dan ramah lansia. Sekaligus, menghadirkan nuansa Aceh tempo dulu yang hangat dan berkesan.

Editor: Akil

Aceh Incar Predikat “Gerbang Haji Nasional”, Ini Fakta dan Pekerjaan Rumahnya

0
Aceh Incar Predikat
Ilustrasi Haji. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE, mengemukakan sebuah gagasan ambisius yang mengundang perhatian banyak pihak. Dalam sebuah acara pelantikan pengurus Gerakan Muslim Indonesia Raya (Gemira) Aceh di Banda Aceh, Sabtu (17/5/2025), ia secara terbuka mengusulkan agar Aceh dijadikan sebagai pusat embarkasi haji bagi seluruh jemaah Indonesia.

Bagi Fadhlullah, usulan ini bukan sekadar impian belaka, melainkan suatu langkah strategis yang memiliki akar historis dan potensi besar untuk mendongkrak perekonomian Aceh.

Ia mengingatkan kembali pada masa kejayaan Kesultanan Aceh, ketika daerah ini menjadi titik awal para jemaah haji berangkat ke Tanah Suci. Ditambah lagi dengan posisi geografis Aceh yang berada di ujung barat Indonesia dan relatif lebih dekat ke Arab Saudi dibandingkan provinsi lain, membuatnya pantas untuk dipertimbangkan sebagai pintu gerbang utama embarkasi haji nasional.

Jika ini terwujud, tentu akan menjadi salah satu sumber mendongkrak ekonomi Aceh, mengingat selama ini dana fiskal kami masih tergantung pada dana transfer pusat,” ujar Fadhlullah penuh keyakinan.

Namun, di balik semangat itu, realitas di lapangan menunjukkan sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan. Saat ini, Aceh memang sudah memiliki embarkasi haji yang melayani ribuan jemaah setiap musim keberangkatan. Pada tahun 2025, Embarkasi Haji Aceh melayani lebih dari 4.300 jemaah, dengan fasilitas asrama yang mampu menampung ratusan orang per gelombang.

Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh yang bertaraf internasional juga menjadi pintu keberangkatan utama. Namun, kapasitas infrastruktur tersebut masih jauh dari cukup jika harus menampung seluruh jemaah haji dari seluruh Indonesia, yang jumlahnya mencapai ratusan ribu setiap musim.

Peta embarkasi haji nasional yang diatur oleh Kementerian Agama saat ini sudah menetapkan 14 embarkasi utama yang tersebar strategis di berbagai wilayah, mulai dari Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Balikpapan. Pola sebaran ini dirancang demi efisiensi dan kemudahan jemaah untuk berangkat dari titik terdekat sesuai domisili mereka.

Menjadikan Aceh sebagai pusat embarkasi tunggal bagi seluruh Indonesia berarti banyak jemaah dari wilayah timur dan tengah Indonesia harus terlebih dahulu terbang ke Aceh sebelum melanjutkan penerbangan ke Arab Saudi, yang jelas akan menambah waktu dan biaya perjalanan.

Kepala Badan Penyelenggara Haji Republik Indonesia, KH Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, yang hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa setiap usulan memang akan dikaji secara menyeluruh.

Ia menegaskan bahwa penentuan pusat embarkasi harus mempertimbangkan aspek teknis, kenyamanan jemaah, dan efisiensi biaya secara nasional. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa rencana menjadikan Aceh sebagai embarkasi nasional masih membutuhkan kajian yang matang dan komprehensif.

Dalam konteks ini, solusi yang lebih realistis adalah mengoptimalkan posisi Aceh sebagai pintu gerbang layanan haji dan umrah khusus dengan penerbangan charter langsung ke Arab Saudi yang bernilai ekonomi tinggi bagi daerah.

Usulan Wakil Gubernur Aceh itu membawa semangat kebangkitan dan peluang besar bagi daerah, namun harus ditempatkan dalam kerangka kebijakan nasional yang mempertimbangkan aspek efisiensi, fasilitas, dan kenyamanan jemaah.

Hingga saat ini, Aceh lebih realistis untuk terus memperkuat perannya sebagai embarkasi regional dan pusat layanan ibadah haji bagi masyarakat setempat dan wilayah sekitar, sambil menunggu investasi dan regulasi yang memungkinkan langkah lebih besar di masa depan.

Dengan demikian, Aceh tetap mempertahankan statusnya sebagai “Serambi Mekkah” yang bukan hanya sarat dengan nilai sejarah dan budaya Islam, tetapi juga terus berupaya menjadi pusat pelayanan ibadah haji yang semakin modern dan profesional. (XRQ)

Reporter: Akil

Mahasiswa PPG-USK Luncurkan PIKA: Pupuk dari Limbah Cangkang Telur

0
Mahasiswa PPG
Mahasiswa PPG-USK dan Warga Rukoh Luncurkan PIKA, Pupuk dari Limbah Cangkang Telur. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Inovasi berkelanjutan kembali hadir dari kampus Universitas Syiah Kuala (USK). Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) gelombang II tahun 2024, khususnya dari Kelompok I Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), menggagas produk ramah lingkungan berupa pupuk organik bernama PIKA.

PIKA—akronim dari “Pupuk Kita”—diluncurkan melalui Proyek Kepemimpinan (PK) yang digelar di Dusun Lam Ara, Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Inovasi ini tidak hanya menjadi solusi atas limbah cangkang telur rumah tangga, tetapi juga wujud nyata kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat.

Solusi Lokal untuk Persoalan Lingkungan

Gampong Rukoh, sebagai kawasan padat aktivitas, menghasilkan banyak limbah rumah tangga. Salah satunya adalah cangkang telur yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Menjawab persoalan ini, para mahasiswa PPG merancang PIKA sebagai pupuk organik alternatif yang aman, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.

Pupuk ini lahir dari kita, oleh kita, dan untuk kita. PIKA menjadi solusi lokal atas persoalan lingkungan lokal, khususnya dalam pengurangan limbah cangkang telur yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di Gampong Rukoh,ujar Ketua Kelompok I PPKn, Munawir, S.Pd.

Proyek ini menjadi bagian dari syarat kelulusan mahasiswa PPG untuk meraih gelar guru profesional. Namun lebih dari itu, kegiatan ini juga merupakan bentuk nyata dari pengabdian masyarakat—salah satu pilar utama dalam tridarma perguruan tinggi.

Dihadiri Aparatur Gampong dan Warga

PIKA, Pupuk dari Limbah Cangkang Telur. (Foto: For Nukilan)

Peluncuran PIKA mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Desa Gampong Rukoh, Ramli Ismail, Kepala Dusun Lam Ara, serta puluhan warga setempat yang antusias mengikuti kegiatan.

Tak ketinggalan, Dosen Pengampu PK sekaligus Wakil Dekan I FKIP USK, Dr. Sanusi, S.Pd., M.Si., dan fasilitator kegiatan, Andriy Anta Kacaribu, S.Si., M.T., turut hadir. Kehadiran tokoh akademik ini memperkuat jembatan kolaborasi antara kampus dan warga desa.

Kolaborasi yang Mengakar di Masyarakat

Kami menyambut baik pelaksanaan Proyek Kepemimpinan Mahasiswa PPG-USK ini. Diharapkan, pupuk PIKA benar-benar bisa menjadi solusi dalam pengelolaan limbah cangkang telur di lingkungan kami,kata Sekdes Gampong Rukoh, Ramli Ismail.

Kepala Dusun Lam Ara juga menaruh harapan besar agar PIKA bisa dikembangkan lebih lanjut menjadi usaha berkelanjutan. Menurutnya, program semacam ini dapat mendorong kemandirian warga dalam mengelola limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomis.

Antusiasme serupa diungkapkan salah satu warga, Ns. Novita Sari, S.Kep. “Kami sangat senang mengikuti kegiatan ini karena banyak warga Rukoh memiliki lahan kebun. Kehadiran PIKA menjadi peluang besar untuk memanfaatkan lahan dengan lebih optimal tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.

Dari Teori ke Aksi Nyata

Dosen pengampu kegiatan, Dr. Sanusi, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa Proyek Kepemimpinan ini bukan sekadar tugas akademik.

Kami sangat mengapresiasi semangat kolaborasi yang ditunjukkan mahasiswa PPG-USK. Produk PIKA diharapkan bisa memberikan dampak positif dan menjadi contoh baik praktik kepemimpinan berkelanjutan,ujarnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga langsung menerapkannya di lapangan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai pendidikan Pancasila yang menekankan tanggung jawab sosial.

Murah, Alami, dan Mudah Dibuat

Menurut fasilitator kegiatan, Andriy Anta Kacaribu, S.Si., M.T., PIKA dibuat dari 100% cangkang telur tanpa bahan kimia tambahan.

Bahan dasarnya hanya cangkang telur yang selama ini dianggap limbah. Tidak ada bahan kimia dalam proses pembuatannya, sehingga sangat aman untuk tanaman dan tidak mencemari tanah ataupun air,jelasnya kepada Nukilan.id pada Senin (19/5/2025).

Ia menambahkan bahwa proses pembuatan PIKA sangat sederhana. Siapa pun—dari ibu rumah tangga hingga petani desa—dapat memproduksinya sendiri di rumah.

Kandungan dan Manfaat Cangkang Telur untuk Pertanian

Cangkang telur ternyata kaya manfaat bagi tanaman. Kandungan utama berupa kalsium karbonat dapat:

  • Menetralkan tanah asam dan memperkuat struktur sel tanaman

  • Menyediakan mineral penting seperti magnesium, fosfor, dan kalium

  • Mengusir hama seperti siput dan bekicot

  • Memperkaya kompos dan mempercepat dekomposisi

  • Digunakan sebagai pot alami untuk semai benih

  • Mengurangi risiko erosi tanah

Dengan manfaat tersebut, PIKA bisa menjadi alternatif pupuk yang efisien dan ramah lingkungan.

Menuju Kemandirian dan Usaha Rumah Tangga

Tak berhenti pada peluncuran produk, mahasiswa PPG-USK berencana melanjutkan program ini dengan pelatihan dan edukasi.

Kami akan menyusun modul sederhana dan melakukan pelatihan lanjutan. Targetnya, warga bisa mandiri memproduksi dan bahkan menjual PIKA dalam skala kecil sebagai usaha rumahan,kata Munawir.

Program ini juga membuka peluang kerja sama dengan lembaga desa, kelompok tani, dan UMKM. Dengan pengemasan dan branding yang menarik, PIKA diharapkan menjadi produk unggulan Gampong Rukoh dalam bidang pertanian berkelanjutan.

Pupuk yang Menyemai Harapan

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan tak hanya berlangsung di ruang kelas. Mahasiswa PPG-USK bersama warga Gampong Rukoh telah menghadirkan aksi nyata yang berdampak luas.

PIKA bukan sekadar pupuk. Ia adalah simbol kolaborasi, kepedulian, dan harapan untuk masa depan yang lebih hijau. Dengan semangat “dari kita, oleh kita, dan untuk kita”, langkah kecil ini bisa menjadi awal dari perubahan besar yang lebih berkelanjutan. (XRQ)

Reporter: Akil

Desa Hargobinangun, Ikon Sukses Desa BRILiaN Garap Pariwisata dan Agrikultur

0
Desa Hargobinangun, Ikon Sukses Desa BRILiaN Garap Pariwisata dan Agrikultur. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.ID | Sleman – Terletak di Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Desa Hargobinangun kini menjadi contoh nyata bagaimana desa bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Luas wilayahnya yang mencapai 14.300 meter persegi menyimpan beragam potensi, terutama dalam bidang alam, pariwisata, dan agrikultur.

Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas, ketiga sektor tersebut kini tengah digarap serius. Bahkan, pada tahun 2023, desa ini berhasil masuk dalam 40 besar Desa BRILiaN nasional.

Dari Kandidat ke Tingkat Nasional

Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito, menjelaskan bahwa pencapaian tersebut merupakan kelanjutan dari tahun sebelumnya.

Sebagai bagian dari Desa BRILiaN, Hargobinangun mendapatkan banyak pendampingan, mulai dari manajemen dan kelembagaan, hingga pengembangan fasilitas desa,” kata Amin.

Setelah sebelumnya hanya sebagai kandidat di tahun 2022, pada tahun berikutnya desa ini berhasil melaju mewakili Kabupaten Sleman di tingkat nasional.

Keseriusan pemerintah desa terlihat sejak 2020. Saat itu, mereka memetakan potensi wilayah dan mendirikan BUMDesa Merapi Sejahtera. BUMDesa ini menjadi tulang punggung perekonomian dengan dua unit usaha utama.

Pertama, Wisata Desa Kampoeng Mahoni yang mengelola berbagai wahana rekreasi seperti restoran, camping ground, jeep adventure, ATV, go-kart, outbound, dan paint ball. Kedua, Hargo Park Central yang menangani pengelolaan parkir wisata di Merapi Park, Oxygen Park, dan Kampoeng Mahoni.

Pariwisata kami jadikan core business karena dampaknya cepat terasa langsung oleh warga, tapi kami juga mengembangkan sektor pendukung seperti pertanian dan pengelolaan sampah,” ujar Amin.

UMKM Terkelola, Pendapatan Desa Meningkat

Untuk mendorong ekonomi kolektif, pemerintah desa juga melakukan klasterisasi UMKM. Langkah ini dinilai efektif meningkatkan pendapatan asli kelurahan yang kemudian disalurkan kembali bagi kepentingan masyarakat.

Selama ini masyarakat bergerak sendiri-sendiri. Maka kami bentuk klaster dan beri pelatihan untuk mendukung gerakan ekonomi secara kolektif,” tambah Amin.

Tahun 2025, BUMDesa Merapi Sejahtera tidak berhenti berinovasi. Rencananya, tiga unit usaha baru akan dikembangkan, yaitu Pengelolaan Sampah, Greenhouse Ketapang untuk ketahanan pangan, serta AgenBRILink.

Salah satu program unggulan adalah sistem pengelolaan sampah berbasis digital. Menurut Amin, hal ini penting karena desa wisata seperti Hargobinangun menerima ribuan pengunjung setiap harinya.

Yang pertama adalah pengelolaan sampah berbasis digital untuk menyelesaikan persoalan sampah dalam satu hari, sesuatu yang penting bagi desa wisata dengan ribuan pengunjung harian,” bebernya.
Sampah selama ini hanya dibuang di satu titik. Kami akan buat sistem digital agar masyarakat bisa mengelola sampah secara mandiri,” lanjut Amin.

Tak hanya itu, konsep smart village juga mulai diterapkan. Ini merupakan bagian dari upaya modernisasi layanan dan tata kelola desa. Dengan demikian, dampak pariwisata dan pengembangan sektor lainnya dapat dirasakan lebih luas oleh warga.

BRI Dorong Desa Mandiri Lewat Program BRILiaN

Di sisi lain, Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, menyatakan bahwa Desa Hargobinangun merupakan salah satu desa yang berhasil menunjukkan perubahan signifikan lewat program Desa BRILiaN.

Program pemberdayaan Desa BRILiaN ini merupakan komitmen BRI dalam meningkatkan economic dan social value kepada masyarakat. Semoga cerita isnpiratif dari Desa Hargobinangun dapat direplika oleh desa-desa lain di tanah air, terutama dalam mengembangkan potensi desa dan mendorong perekonomian warga,” pungkas Hendy.

Sejak diluncurkan pada 2020, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 4.300 desa di seluruh Indonesia. Melalui inisiatif ini, BRI berharap dapat terus mendorong desa-desa agar lebih mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

Editor: Akil