Beranda blog Halaman 54

Abu Mudi: Aceh Harus Merdeka dari Kejahilan

0
Pengajian Akbar Tastafi-Huda di Masjid Agung Darul Falah Kota Langsa, Selasa (9/6/2026) malam (Foto: Helmi Abu Bakar)

NUKILAN.ID | LANGSA – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Abu Syekh H. Muhammad Amin Waly atau yang lebih dikenal sebagai Abu Mudi, menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kemajuan umat Islam.

Pesan tersebut disampaikan di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri Pengajian Akbar Tastafi-Huda di Masjid Agung Darul Falah, Selasa (9/6/2026).

Dalam tausiahnya, Abu Mudi menyampaikan harapan besar yang selama ini menjadi cita-citanya bagi masyarakat Aceh.

“Cita terbesar saya, Aceh harus merdeka dari kejahilan,” ujar Abu Mudi yang disambut antusias oleh jamaah yang memadati area masjid.

Menurutnya, makna kemerdekaan tidak hanya terbatas pada terbebasnya suatu daerah dari penjajahan atau ketertinggalan pembangunan fisik. Kemerdekaan yang sesungguhnya, kata dia, adalah ketika masyarakat memiliki ilmu pengetahuan yang cukup, memahami ajaran agama dengan benar, serta mampu menjalani kehidupan sesuai tuntunan syariat Islam.

Pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu menjelaskan bahwa setiap muslim memiliki kewajiban untuk mempelajari tiga cabang ilmu dasar, yaitu tauhid, fikih, dan tasawuf. Ketiga ilmu tersebut, menurutnya, merupakan fondasi penting dalam membentuk pribadi muslim yang kuat akidahnya, benar ibadahnya, serta mulia akhlaknya.

“Ilmu yang wajib dipelajari itu ada tiga, yaitu tauhid, fikih, dan tasawuf. Tauhid membimbing kita mengenal Allah dengan benar, fikih mengajarkan tata cara ibadah dan muamalah, sedangkan tasawuf membentuk akhlak dan membersihkan hati. Ketiganya tidak boleh dipisahkan,” jelas Abu Mudi.

Abu Mudi yang juga dikenal sebagai pendiri gerakan Tastafi menuturkan bahwa lahirnya gerakan Tasawuf, Tauhid, dan Fikih (Tastafi) merupakan bagian dari ikhtiar para ulama Aceh dalam memperkuat pemahaman keislaman masyarakat berdasarkan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menilai keberadaan majelis-majelis ilmu menjadi semakin penting di tengah perkembangan zaman yang kian kompleks. Arus informasi yang bergerak cepat, kemajuan teknologi digital, serta beragam pemahaman keagamaan yang beredar melalui media sosial menuntut masyarakat memiliki landasan ilmu yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang.

“Majelis ilmu merupakan benteng umat. Selama masyarakat dekat dengan ulama dan mencintai ilmu, insya Allah Aceh akan tetap terjaga sebagai negeri yang berpegang teguh kepada ajaran Islam,” katanya.

Lebih lanjut, Abu Mudi mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Aceh tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para ulama dalam membangun peradaban. Sejak masa Kesultanan Aceh hingga sekarang, dayah-dayah telah menjadi pusat pendidikan, dakwah, serta pembinaan masyarakat. Dari lembaga pendidikan tersebut lahir banyak ulama, pemimpin, dan tokoh masyarakat yang memberikan kontribusi besar bagi agama, bangsa, dan daerah.

Pada kesempatan itu, Abu Mudi juga menyampaikan amanah dari gurunya, almarhum Tgk. H. Abdul Aziz Samalanga, pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga sebelumnya. Salah satu pesan yang selalu diwariskan oleh beliau adalah pentingnya menjaga budaya “beut seumeubeut” atau belajar dan mengajar.

“Almarhum Abuya Abon Aziz selalu berpesan agar kita terus menghidupkan beut seumeubeut. Selama masyarakat mau belajar dan para guru terus mengajar, maka kejahilan akan dapat dilawan dan peradaban akan terus terjaga,” ungkap Abu Mudi.

Menurutnya, semangat beut seumeubeut telah menjadi ruh pendidikan dayah di Aceh selama berabad-abad. Dari tradisi tersebut lahir ulama, cendekiawan, dan berbagai tokoh yang berkontribusi bagi agama, bangsa, serta masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung pengembangan pendidikan Islam, baik melalui dayah, masjid, maupun majelis pengajian.

Abu Mudi menekankan bahwa investasi terbesar bagi masa depan Aceh bukan semata pembangunan infrastruktur, melainkan pembangunan sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak.

“Pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih penting. Jika masyarakat berilmu, beriman, dan berakhlak, maka berbagai persoalan sosial dapat diminimalkan. Dari sinilah lahir kemajuan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Pengajian Akbar Tastafi-Huda tersebut turut dihadiri unsur ulama, umara, akademisi, serta berbagai lapisan masyarakat. Ribuan jamaah mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat sejak awal hingga akhir acara.

Melalui kegiatan itu, Abu Mudi berharap semangat menuntut ilmu terus tumbuh di tengah masyarakat. Ia meyakini bahwa kemajuan Aceh pada masa mendatang sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan kesungguhan masyarakat dalam mendekatkan diri kepada ilmu serta ulama.

“Selama majelis ilmu tetap hidup, selama masyarakat mencintai ulama dan pendidikan, maka harapan untuk mewujudkan Aceh yang maju, bermartabat, dan merdeka dari kejahilan akan selalu terbuka,” pungkas Abu Mudi.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mahasiswa UTU Angkat Suara Terkait Tumpahan CPO di Tanjakan Jambi Baru

0
mahasiswa utu
Muhammad Alfaqih, Wakil Ketua UKM Ri-PENA (Riset Ilmiah dan Penalaran) Universitas Teuku Umar (UTU). (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | SUBULUSSALAM – Kondisi jalan nasional di kawasan Jambi Baru, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, kembali menuai perhatian. Muhammad Alfaqih, Wakil Ketua UKM Ri-PENA (Riset Ilmiah dan Penalaran) Universitas Teuku Umar (UTU), menyoroti kondisi jalan di tanjakan tingkat tiga yang dinilainya semakin membahayakan keselamatan para pengguna jalan.

Menurut Alfaqih, salah satu persoalan yang paling sering terjadi di lokasi tersebut adalah tumpahan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang berasal dari kendaraan pengangkut sawit. Tumpahan tersebut menyebabkan permukaan jalan menjadi licin dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

“Permasalahan utama yang sering terjadi di lokasi tersebut adalah jalan yang kerap dipenuhi tumpahan minyak CPO dari kendaraan pengangkut sawit. Akibatnya, permukaan jalan menjadi sangat licin dan rawan menyebabkan kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara roda dua maupun kendaraan yang membawa muatan berat,” Katanya kepada Nukilan.id.

Ia menjelaskan, banyak pengendara mengalami kesulitan saat melintasi tanjakan di kawasan tersebut. Tidak sedikit kendaraan yang kehilangan kendali karena ban gagal mencengkeram permukaan jalan secara optimal akibat kondisi jalan yang licin.

Alfaqih menilai persoalan tersebut tidak lagi dapat dianggap sepele. Pasalnya, kondisi jalan yang dipenuhi tumpahan CPO telah berulang kali menjadi penyebab kecelakaan yang sebenarnya dapat dicegah apabila mendapat penanganan serius dari pemerintah dan pihak terkait.

Selain mengancam keselamatan pengguna jalan, kondisi tersebut juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang setiap hari melintasi jalur tersebut.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan masyarakat, Alfaqih meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret guna mengatasi persoalan yang terus berulang itu.

“Sebagai mahasiswa, saya berharap Pemerintah Kota Subulussalam bersama instansi terkait segera mengambil langkah nyata, seperti melakukan pembersihan rutin terhadap tumpahan minyak CPO, memperketat pengawasan terhadap kendaraan pengangkut sawit, serta memperbaiki kondisi jalan yang rawan kecelakaan. Selain itu, diperlukan pelebaran jalan ditanjakan tingkat tiga (3), pemasangan rambu peringatan dan tindakan tegas terhadap perusahaan maupun kendaraan yang menyebabkan tumpahan minyak di badan jalan,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat berhak mendapatkan infrastruktur jalan yang aman, nyaman, dan layak digunakan. Oleh karena itu, keselamatan pengguna jalan harus menjadi perhatian utama pemerintah agar tidak semakin banyak korban kecelakaan di masa mendatang.

“Masyarakat tentunya menginginkan jalan yang aman dan layak digunakan. Jangan sampai korban kecelakaan terus bertambah sebelum adanya tindakan nyata dari pemerintah. Keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama demi terciptanya kenyamanan dan keamanan bersama,” tutupnya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Korea Selatan Bangkit Tekuk Ceko 2-1, Hwang In-beom dan Oh Hyeon-gyu Jadi Penentu

0
Korsel vs Ceko. (Foto: FIFA)

NUKILAN.ID | Guadalajara – Tim nasional Korea Selatan membuka kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan dramatis setelah mengalahkan Republik Ceko 2-1 pada laga perdana Grup A, Jumat (12/6/2026) pagi WIB.

Amatan Nukilan.id, Taegeuk Warriors harus bekerja keras untuk mengamankan tiga poin. Setelah bermain imbang tanpa gol sepanjang babak pertama, Korea justru tertinggal lebih dahulu sebelum akhirnya membalikkan keadaan lewat dua gol pada paruh kedua pertandingan.

Kemenangan ini membawa Korea Selatan mengoleksi tiga poin dan menempati posisi kedua klasemen sementara Grup A. Mereka hanya kalah selisih gol dari Meksiko yang berada di puncak klasemen. Sementara itu, Republik Ceko mengawali turnamen dengan kekalahan dan belum meraih poin.

Sejak peluit awal dibunyikan, Korea Selatan tampil lebih agresif dalam menguasai permainan. Son Heung-min menjadi ancaman utama di lini depan dan beberapa kali memperoleh peluang untuk membuka keunggulan.

Kesempatan pertama lahir melalui kerja sama Lee Kang-in dan Lee Jae-sung yang diteruskan Son Heung-min dengan sebuah tembakan dari dalam kotak penalti. Namun, upayanya masih mampu diblok lini pertahanan Ceko.

Tidak lama berselang, Lee Kang-in juga mencoba peruntungannya lewat tendangan jarak jauh. Bola mengarah ke gawang, tetapi berhasil diamankan oleh kiper Matej Kovar.

Republik Ceko perlahan mampu keluar dari tekanan dan mulai membangun serangan. Meski beberapa kali mendapatkan bola mati, tim asuhan mereka belum mampu memaksimalkan peluang menjadi gol.

Son kembali memperoleh dua kesempatan menjelang turun minum. Salah satu tendangannya melambung di atas mistar, sedangkan percobaan berikutnya hanya melebar tipis dari sasaran. Skor 0-0 pun bertahan hingga jeda.

Memasuki babak kedua, Korea Selatan langsung meningkatkan intensitas serangan. Hwang In-beom hampir memecah kebuntuan melalui tendangan keras dari luar kotak penalti, tetapi Kovar tampil sigap menepis bola. Lee Jae-sung yang menyambar bola muntah juga gagal mencetak gol setelah kembali digagalkan sang penjaga gawang.

Son Heung-min kembali memperoleh peluang emas setelah menerima umpan terobosan, namun penyelesaian akhirnya berhasil dipatahkan Kovar yang keluar mempersempit ruang tembak.

Saat Korea terus menekan, justru Ceko yang berhasil mencuri keunggulan pada menit ke-59. Berawal dari lemparan ke dalam Vladimir Coufal, Ladislav Krejci berhasil memenangkan duel udara dan menanduk bola ke dalam gawang Kim Seung-gyu untuk membawa Ceko unggul 1-0.

Tertinggal satu gol membuat Korea semakin meningkatkan tekanan. Usaha mereka membuahkan hasil delapan menit kemudian ketika Hwang In-beom menerima umpan dari Lee Kang-in. Dengan tenang, gelandang Korea itu melewati Kovar sebelum menceploskan bola ke gawang kosong dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Republik Ceko sebenarnya sempat kembali mencetak gol melalui sundulan Tomas Soucek yang memanfaatkan situasi bola mati. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, wasit menganulir gol tersebut karena posisi offside.

Momentum kemudian sepenuhnya menjadi milik Korea Selatan. Pada menit ke-80, Hwang In-beom mengirimkan umpan silang dari sisi kanan yang berhasil disambut Oh Hyeon-gyu di depan gawang. Penyelesaian akhirnya membawa Korea berbalik unggul 2-1.

Keunggulan tersebut nyaris sirna dua menit berselang. Adam Hlozek melepaskan tembakan berbahaya, tetapi Kim Seung-gyu melakukan penyelamatan gemilang tepat di garis gawang.

Pada masa tambahan waktu, penjaga gawang Korea kembali menjadi penyelamat timnya setelah berhasil mengamankan tendangan Michal Sadilek. Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 2-1 untuk kemenangan Korea Selatan tetap bertahan.

Susunan pemain

Korea Selatan: Kim Seung-gyu; Lee Han-beom, Kim Min-jae, Lee Tae-seok (Eom Ji-sung 69′), Seol Young-woo, Lee Gi-hyuk, Hwang In-beom (Kim Jin-gyu 84′), Paik Seung-ho (Park Jin-seob 84′), Lee Jae-sung (Hwang Hee-chan 62′), Lee Kang-in, Son Heung-min (Oh Hyeon-gyu 69′).

Republik Ceko: Matej Kovar; Robin Hranac, Vladimir Coufal, Stepan Chaloupek, Ladislav Krejci, Jaroslav Zeleny, Lukas Provod (Michal Sadilek 63′), Tomas Soucek, Alexandr Sojka (Mojmir Chytil 84′), Patrik Schick (Adam Hlozek 63′), Pavel Sulc (Tomas Chory 63′). (XRQ)

Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0 atas Afrika Selatan, Tiga Kartu Merah Warnai Laga

0
Pemain Mexico. (Foto: FIFA)

NUKILAN.ID | Jakarta – Timnas Meksiko memulai kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan hasil positif setelah menundukkan Afrika Selatan 2-0 pada laga pembuka Grup A. Pertandingan yang berlangsung di Estadio Azteca, Jumat (12/6/2026) dini hari WIB, tidak hanya diwarnai dua gol kemenangan El Tricolor, tetapi juga tiga kartu merah yang membuat duel berlangsung panas hingga peluit akhir.

Amatan Nukilan.id, Julian Quinones menjadi pembuka keunggulan tuan rumah, sebelum Raul Jimenez memastikan kemenangan melalui gol pada babak kedua. Sementara itu, Afrika Selatan harus mengakhiri pertandingan dengan sembilan pemain setelah Sphephelo Sithole dan Themba Zwane mendapat kartu merah. Meksiko juga kehilangan Cesar Montes yang diusir wasit pada masa injury time.

Sejak awal pertandingan, Meksiko langsung mengambil inisiatif menyerang. Hasilnya terlihat pada menit kesembilan ketika kesalahan Sphephelo Sithole dalam menguasai bola dimanfaatkan Julian Quinones. Penyerang tersebut merebut bola dan melepaskan tembakan yang membawa Meksiko unggul 1-0.

Kepercayaan diri tuan rumah semakin meningkat setelah gol pembuka. Quinones kembali mengancam pada menit ke-19 melalui tendangan dari luar kotak penalti, tetapi bola masih melenceng tipis dari sasaran.

Afrika Selatan berusaha merespons dengan mengandalkan umpan-umpan panjang ke lini depan. Meski beberapa kali mampu memasuki area pertahanan lawan, upaya tim asuhan Hugo Broos belum mampu menghasilkan peluang yang benar-benar membahayakan.

Menjelang turun minum, kiper Ronwen Williams tampil gemilang dengan menggagalkan peluang Raul Jimenez. Tak lama berselang, Quinones nyaris mencetak gol keduanya, namun tembakannya hanya membentur tiang gawang.

Situasi berubah drastis pada awal babak kedua. Pada menit ke-49, Sphephelo Sithole melakukan pelanggaran terhadap Brian Gutierrez yang sedang berada dalam posisi berpeluang mencetak gol. Wasit langsung mengeluarkan kartu merah, membuat Afrika Selatan harus melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain. Pelanggaran tersebut dinilai terjadi tepat di luar kotak penalti sehingga Meksiko hanya memperoleh tendangan bebas.

Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan dengan baik oleh tuan rumah. Pada menit ke-67, Raul Jimenez menggandakan keunggulan melalui sundulan tajam setelah menyambut umpan silang dari sisi lapangan. Gol tersebut membuat Meksiko memimpin 2-0.

Petaka kembali menghampiri Afrika Selatan pada menit ke-84. Themba Zwane menerima kartu merah setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR) menunjukkan adanya pelanggaran berupa sikutan terhadap Roberto Alvarado.

Drama belum berakhir. Pada masa tambahan waktu, bek Meksiko Cesar Montes juga diusir keluar lapangan akibat pelanggaran terhadap Khuliso Mudau. Meski demikian, keunggulan dua gol tetap bertahan hingga pertandingan usai.

Kemenangan ini menjadi modal penting bagi Meksiko untuk menghadapi dua pertandingan berikutnya di Grup A, sementara Afrika Selatan harus segera bangkit setelah mengawali turnamen dengan kekalahan serta kehilangan dua pemain akibat kartu merah.

Susunan pemain

Meksiko: Rangel; Reyes, Montes, Vasquez, Gallardo; Lira (Alvarez 76′), Fidalgo (Mora 66′), Gutierrez (Chavez 66′); Alvarado, Jimenez (Gonzalez 76′), Quinones (Vega 79′).

Afrika Selatan: Williams; Mudau, Sibisi, Okon, Mbokazi, Modiba (Appollis 77′); Mokoena, Sithole, Adams (Zwane 61′); Rayners (Makgopa 77′), Foster (Mbatha 56′). (XRQ)

SKK Migas Terima Usulan Revisi PoD Blok Andaman dari Pemerintah Aceh

0
Pertemuan Mualem dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto di Kantor SKK Migas, Jakarta, Rabu (10/6/2026) malam. (Foto: Dok Pemerintah Aceh

NUKILAN.ID | Jakarta – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem dan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyepakati revisi Plan of Development (PoD) Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman (Blok Andaman).

Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan di Kantor SKK Migas, Jakarta, Rabu (10/6/2026) malam. Gubernur Mualem didampingi Sekretaris Daerah Aceh M Nasir Syamaun, Staf Khusus Gubernur Teuku Irsyadi, Tenaga Ahli Sekda Bidang Migas Akhyar ST MT, dan Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi.

“Mereka bersedia mengakomodir revisi PoD yang akan kita sampaikan,” kata Nurlis Effendi kepada Nukilan, Kamis (11/6/2026).

Menurut Nurlis, Mualem tidak menolak pengembangan Lapangan Gas Tangkulo maupun investasi yang dilakukan Mubadala Energy di Blok Andaman. Namun, Pemerintah Aceh menilai terdapat sejumlah poin dalam PoD yang perlu diperbaiki agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi Aceh.

Berdasarkan PoD yang disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama SKK Migas pada Maret 2026, gas dan kondensat dari Lapangan Gas Tangkulo akan diproses di Floating Production Storage and Offloading (FPSO) yang ditempatkan di South Andaman. Selanjutnya, hasil produksi disalurkan ke Onshore Receiving Facility (ORF) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe melalui pipa bawah laut.

Saat ini Mubadala Energy sedang mempersiapkan proses pengadaan FPSO untuk mendukung percepatan produksi gas dari lapangan tersebut. Namun, Pemerintah Aceh mengusulkan agar gas dan kondensat dialirkan langsung ke darat untuk diproses di KEK Arun melalui fasilitas Onshore Processing Facility (OPF).

“Jadi skema penyaluran gas langsung ke darat untuk diolah di KEK Arun,” kata Nurlis.

Menurutnya, pengolahan di darat dinilai dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Aceh melalui pengembangan industri turunan, termasuk sektor pupuk dan petrokimia.

Selain itu, fasilitas pengolahan di darat diyakini mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal dibandingkan fasilitas terapung yang beroperasi di lepas pantai. Nurlis mengatakan, Mualem menginginkan pengembangan Blok Andaman memberikan manfaat bagi seluruh pihak, baik investor, pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun masyarakat Aceh.

Terkait rencana konferensi pers mengenai perkembangan Blok Andaman, Nurlis mengatakan Gubernur Mualem memilih menundanya hingga proses revisi PoD selesai dibahas dan disepakati.

“Setelah Gubernur Mualem menilai bahwa proyek Blok Andaman menguntungkan bagi Aceh, baru beliau bersedia jumpa pers untuk disampaikan kepada publik,” tutur Nurlis. []

Reporter: Sammy

Menguak Asal-usul Simpang Surabaya

0
Di Provinsi Aceh, Kementerian PUPR meningkatkan kelancaran lalu lintas Kota Banda Aceh. Pada tahun ini telah diselesaikan pembangunan flyover (jalan layang) Simpang Surabaya. Pool/Kementerian PUPR.

NUKILAN.ID | FEATURE – Sore itu, pada Rabu 10 Juni 2026, kendaraan mengalir tanpa henti di bawah Flyover Simpang Surabaya, Banda Aceh. Deru mesin bercampur suara klakson sesekali memecah hiruk-pikuk kawasan yang menjadi salah satu simpul lalu lintas tersibuk di ibu kota Aceh tersebut.

Amatan penulis, dari atas flyover terlihat kendaraan datang dari Lueng Bata menuju ke pusat Kota Banda Aceh. Di kiri dan kanan jalan berdiri pertokoan, warung makan, perkantoran, serta berbagai aktivitas ekonomi yang seolah tak pernah berhenti sejak pagi hingga malam hari.

Bagi masyarakat Banda Aceh, nama Simpang Surabaya sudah begitu akrab. Ia menjadi penunjuk arah, titik temu, sekaligus salah satu landmark kota yang paling dikenal.

Namun di tengah padatnya lalu lintas dan modernisasi kawasan itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin jarang dipikirkan orang: mengapa tempat ini dinamakan Simpang Surabaya?

Padahal, Kota Surabaya berada ribuan kilometer jauhnya di Pulau Jawa.

Untuk menemukan jawabannya, penulis mencoba menelusuri sejumlah sumber sejarah dan cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Ketika Masih Berupa Simpang Tiga

Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini dilintasi flyover megah itu dulunya hanyalah sebuah simpang tiga.

Dikutip penulis dari buku Potret Sejarah Banda Aceh karya H. Harun Gecilemi, pada masa lalu persimpangan ini hanya menghubungkan tiga arah utama, yakni Lueng Bata, Beurawe, dan Peuniti. Jalan menuju Batoh maupun Lampeuneurut yang kini ramai dilalui kendaraan belum tersedia.

Perubahan besar baru terjadi pada 2007 ketika jalan yang menghubungkan Lampeuneurut menuju kawasan tersebut selesai dibangun dan mulai difungsikan. Sejak saat itu Simpang Surabaya berubah menjadi simpang empat.

Bila berdiri di kawasan itu hari ini, nyaris tidak ada jejak visual yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah memiliki bentuk yang jauh berbeda.

Padahal, menurut catatan sejarah yang dihimpun dalam buku tersebut, pada era 1970-an hingga 1990-an terdapat sebuah galon minyak yang berdiri di kawasan simpang itu.

Galon tersebut menjadi salah satu penanda kawasan yang mudah dikenali masyarakat pada masanya.

Namun seiring berkembangnya kota dan meningkatnya volume kendaraan, galon minyak itu akhirnya dibongkar pada akhir 1990-an untuk kebutuhan pelebaran jalan.

Di lokasi tersebut kemudian dibangun taman.

Tugu yang Pernah Menjadi Ikon Persimpangan

Dikutip penulis dari buku Potret Sejarah Banda Aceh, ketika kawasan itu masih berupa simpang tiga, pernah berdiri sebuah Tugu BRI di tengah bundaran.

Tugu tersebut memiliki corak arsitektur Aceh yang cukup kental dan menjadi salah satu ikon kawasan pada masa itu.

Kini tugu tersebut sudah tidak lagi ditemukan.

Amatan penulis saat berada di lokasi, wajah Simpang Surabaya saat ini didominasi konstruksi flyover, jalur kendaraan yang lebih lebar, serta deretan bangunan komersial yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Bagi generasi muda Banda Aceh, mungkin sulit membayangkan bahwa di lokasi yang sama pernah berdiri sebuah tugu yang menjadi penanda persimpangan kota.

Untungnya, dokumentasi foto yang dimuat dalam buku karya H. Harun Gecilemi masih menyimpan jejak visual masa lalu tersebut.

Foto itu menjadi saksi bisu bagaimana Simpang Surabaya pernah terlihat jauh lebih sederhana dibandingkan hari ini.

Teriakan “Surabaya”

Di balik namanya yang unik, terdapat sebuah cerita yang paling sering diceritakan warga Banda Aceh.

Versi pertama menyebutkan bahwa kawasan ini dahulu merupakan terminal bus antarprovinsi.

Pada masa ketika transportasi udara belum semudah sekarang, perjalanan ke luar Aceh lebih banyak dilakukan melalui jalur darat.

Bus-bus dari Banda Aceh melayani perjalanan panjang menuju berbagai kota di Pulau Sumatra hingga Pulau Jawa.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat dan dirangkum dalam berbagai publikasi media daring, para kondektur dan calo tiket di terminal tersebut kerap berteriak menawarkan tujuan keberangkatan kepada calon penumpang.

“Jakarta… Surabaya… Jakarta… Surabaya…!”

Suara itu disebut-sebut begitu sering terdengar hingga melekat di ingatan masyarakat.

Karena Surabaya merupakan salah satu tujuan paling jauh dan paling terkenal pada masa itu, nama kota tersebut kemudian lebih mudah diingat dibandingkan tujuan lainnya.

Lama-kelamaan masyarakat mulai menyebut kawasan terminal itu sebagai Simpang Surabaya.

Meski belum ditemukan dokumen resmi yang memastikan cerita tersebut, kisah itu terus hidup dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari memori kolektif warga Banda Aceh.

Kampung Surabaya Sejak Zaman Belanda

Namun cerita mengenai asal-usul nama Simpang Surabaya tidak berhenti di sana.

Penelusuran penulis menemukan versi lain yang tidak kalah menarik.

Dikutip penulis dari laman Profil Sejarah Gampong Ateuk Pahlawan, nama Surabaya ternyata telah dikenal di Banda Aceh sejak masa kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Saat itu terdapat sebuah Kampung Surabaya yang menjadi bagian dari wilayah pemerintahan Ateuk Pahlawan bersama Kampung Ateuk dan Kampung Labui.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 1968, wilayah tersebut berubah menjadi Rukun Kampung Surabaya.

Kini kawasan itu dikenal sebagai Dusun Surabaya.

Lokasinya berada tidak jauh dari Simpang Surabaya, tepatnya di belakang deretan pertokoan dan warung makan yang berada di sekitar kawasan Krueng Aceh.

Versi ini memberikan kemungkinan bahwa nama Simpang Surabaya sebenarnya berasal dari nama kampung yang sudah lebih dulu ada, bukan dari aktivitas terminal bus.

Sebuah Nama yang Menjadi Penanda Waktu

Malam pun tiba ketika penulis meninggalkan kawasan Simpang Surabaya.

Lampu-lampu kendaraan mulai menyala. Arus lalu lintas tetap padat, sementara para pedagang kaki lima mulai menata dagangan mereka di sepanjang kawasan tersebut.

Tak ada papan besar yang menjelaskan sejarah Simpang Surabaya.

Tak ada pula monumen yang menceritakan bagaimana kawasan itu berkembang dari sebuah simpang tiga sederhana menjadi salah satu pusat aktivitas Kota Banda Aceh.

Namun sejarah tetap hidup melalui cerita yang diwariskan masyarakat, melalui foto-foto lama yang tersimpan dalam buku, dan melalui nama yang terus digunakan hingga hari ini.

Mungkin kita tidak pernah benar-benar tahu versi mana yang paling tepat mengenai asal-usul nama Simpang Surabaya.

Apakah berasal dari riuh terminal bus dengan teriakan para kondektur yang menawarkan perjalanan hingga ke Pulau Jawa?

Ataukah berasal dari Kampung Surabaya yang telah ada sejak masa kolonial Belanda?

Yang pasti, nama itu telah menjadi bagian dari identitas Banda Aceh.

Dan di tengah derasnya pembangunan kota, Simpang Surabaya mengingatkan bahwa setiap sudut kota sesungguhnya menyimpan cerita panjang yang layak untuk terus dikenang. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pemkab Aceh Besar Buka Seleksi Terbuka 12 Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama

0
Seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Pemkab Aceh Besar. (Foto: Tangkapan layar)

NUKILAN.ID | Aceh Besar – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar membuka seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama untuk mengisi 12 posisi kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan pejabat strategis di lingkungan pemerintah setempat.

Pembukaan seleksi tersebut diumumkan Panitia Seleksi Terbuka JPT Pratama Kabupaten Aceh Besar melalui Pengumuman Nomor 01/Pansel-JPT/AB/2026 yang ditetapkan di Kota Jantho pada 10 Juni 2026.

Dikutip Nukilan dari pengumuman tersebut, seleksi terbuka ini dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), manajemen Pegawai Negeri Sipil (PNS), serta persetujuan Badan Kepegawaian Negara (BKN) terhadap rencana pelaksanaan seleksi terbuka JPT Pratama di Kabupaten Aceh Besar.

Sebanyak 12 jabatan yang dibuka dalam seleksi tersebut meliputi Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), Inspektur, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kepala Dinas Pertanian, serta Kepala Dinas Sosial.

Panitia seleksi menetapkan sejumlah persyaratan bagi pelamar, antara lain berstatus PNS, memiliki kualifikasi pendidikan minimal sarjana (S-1) atau Diploma IV, memiliki kompetensi sesuai jabatan yang dilamar, rekam jejak yang baik, serta berusia paling tinggi 56 tahun pada saat pelantikan. Peserta juga diwajibkan memiliki pengalaman jabatan yang relevan dan memenuhi sejumlah persyaratan administrasi lainnya.

Pendaftaran dan registrasi peserta dilakukan secara daring melalui laman ASN Karier mulai 11 hingga 25 Juni 2026. Sementara penerimaan berkas lamaran dijadwalkan berlangsung pada 12 hingga 26 Juni 2026 di Sekretariat Panitia Seleksi JPT Pratama Kabupaten Aceh Besar.

Tahapan seleksi meliputi seleksi administrasi dan penelusuran rekam jejak, asesmen kompetensi, penulisan makalah, presentasi dan wawancara, hingga penetapan hasil akhir seleksi. Hasil akhir seleksi dijadwalkan diumumkan pada 17 Juli 2026.

Panitia seleksi menyatakan hasil setiap tahapan akan diumumkan secara terbuka melalui laman resmi Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Aceh Besar. Selanjutnya, tiga peserta dengan nilai tertinggi pada masing-masing jabatan akan disampaikan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian untuk proses penetapan pejabat definitif sesuai ketentuan yang berlaku.

Ketua Panitia Seleksi Terbuka JPT Pratama Kabupaten Aceh Besar, Bahrul Zamil, menyebutkan pengumuman tersebut disampaikan untuk diketahui dan menjadi pedoman bagi para ASN yang memenuhi syarat untuk mengikuti proses seleksi. []

Reporter: Sammy

Ombudsman Aceh Panggil Bupati Aceh Besar Terkait Dugaan Maladministrasi Penetapan Imum Chiek Abu Indrapuri

0
Surat pemanggilan Ombudsman Aceh kepada Bupati Aceh Besar. (Foto: Dok Ombudsman Perwakilan Aceh)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia Provinsi Aceh memanggil Bupati Aceh Besar, Muharram Idris alias Syech Muharram untuk memberikan keterangan terkait laporan dugaan maladministrasi berupa penundaan berlarut dalam proses penetapan Imum Chiek Masjid Abu Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

Pemanggilan tersebut tertuang dalam surat bernomor T/135/LM.41-01/0072.2026/VI/2026 tertanggal 3 Juni 2026 yang ditandatangani Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Aceh.

Dalam surat itu disebutkan, Ombudsman Aceh telah menerima laporan masyarakat mengenai dugaan maladministrasi yang dilakukan oleh Bupati Aceh Besar terkait penetapan Imum Chiek Masjid Abu Indrapuri.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Ombudsman Aceh menjadwalkan permintaan keterangan kepada Bupati Aceh Besar pada Kamis, 11 Juni 2026 pukul 14.00 WIB di Kantor Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Aceh di Banda Aceh. Pemanggilan itu dilakukan sebagai bagian dari proses klarifikasi atas laporan yang sedang ditangani Ombudsman.

Ombudsman menjelaskan, permintaan keterangan tersebut dilakukan berdasarkan kewenangan lembaga sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia.

“Ombudsman mengharapkan Saudara dapat hadir langsung tanpa diwakili untuk memberikan keterangan disertai dengan dokumen pendukung terkait laporan dimaksud,” demikian kutipan surat tersebut, Kamis (11/6/2026).

Pantauan Nukilan di kantor Ombudsman Aceh, hingga pukul 02.45 WIB, tak tampak Bupati Aceh Besar, Syech Muharram mau pun perwakilan bupati yang hadir di kantor tersebut. Hanya tampak beberapa orang petugas Ombudsman Aceh yang duduk di ruang tunggu dan bekerja di dalam ruangan.

Kasus ini mencuat setelah adanya laporan dugaan penundaan berlarut dalam penetapan Imum Chiek Masjid Abu Indrapuri. Ombudsman Aceh kini tengah melakukan pendalaman untuk memperoleh keterangan dari para pihak terkait sebelum menentukan langkah lebih lanjut dalam penanganan laporan tersebut. []

Reporter: Sammy

Kepala Bappeda Aceh Dorong Lulusan FISIP UIN Ar-Raniry Jadi Agen Pembangunan dan Perubahan

0
Kepala BAPPEDA Aceh, Dr. Ir. Zulkifli, M.Si., menerima cendera mata usai menyampaikan orasi ilmiah pada Yudisium Gelombang I dan II Tahun 2026 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kamis (11/6/2026). (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar Yudisium Gelombang I dan II Tahun 2026 di Gedung FISIP UIN Ar-Raniry, Kamis (11/6/2026).

Mengutip SerambiNews, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan sosial, politik, dan pembangunan di tengah era disrupsi digital yang terus berkembang.

Dalam kesempatan itu, Kepala BAPPEDA Aceh, Dr. Ir. Zulkifli, M.Si., hadir sebagai pemateri utama dan menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Rekonstruksi Tatanan Sosial; Peran Generasi Muda FISIP dalam Keberlanjutan Berbangsa.” Melalui orasi tersebut, Zulkifli menegaskan bahwa lulusan FISIP memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah dan bangsa.

Menurutnya, para sarjana baru tidak cukup hanya menjadi pengamat terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang. Mereka harus mengambil peran aktif sebagai bagian dari solusi dan pelaku pembangunan, khususnya di Aceh.

“Yudisium ini bukan akhir, melainkan modal awal untuk berhadapan dengan dunia pengabdian yang sesungguhnya. Generasi muda FISIP harus berdiri di garda terdepan sebagai Agent of Change (Agen Perubahan), Agent of Development (Agen Pembangunan), dan Agent of Modernization (Agen Pembaharuan),” ujar Dr. Zulkifli di hadapan peserta yudisium, dosen, tenaga kependidikan, dan para tamu undangan.

Dalam paparannya, Kepala BAPPEDA Aceh juga menyoroti sejumlah tantangan yang sedang dihadapi generasi muda saat ini. Mulai dari meningkatnya perilaku menyimpang di media sosial hingga masih rendahnya jumlah wirausaha sosial kerah putih di Aceh yang baru mencapai sekitar 0,35 persen.

Karena itu, ia berharap lulusan FISIP mampu mengambil peran dalam mengawal pelaksanaan otonomi khusus Aceh, menjaga perdamaian yang telah terbangun pasca-MoU Helsinki, serta turut berkontribusi dalam menyukseskan arah pembangunan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) 2025–2029.

Menjelang akhir orasinya, Zulkifli kembali mengingatkan pentingnya menjaga idealisme, moralitas, dan menghormati perjuangan orang tua yang telah mendukung perjalanan pendidikan para mahasiswa hingga meraih gelar sarjana.

“Jadilah sarjana yang berguna, bukan sekadar bergelar akademis. Pegang kuat prinsip idealisme dengan tetap tawadhu’ atau rendah hati, bukan rendah diri,” pungkasnya.

Pesan serupa juga disampaikan Dekan FISIP UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Muji Mulia, M.Ag. Dalam arahannya kepada para lulusan, Muji menekankan bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh selama masa perkuliahan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti sebagai pencapaian akademik semata, melainkan harus menjadi alat analisis yang tajam untuk memahami dan mencari solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan FISIP UIN Ar-Raniry, Eka Januar, M.Soc.Sc., menyampaikan bahwa jumlah peserta Yudisium Gelombang I dan II Tahun 2026 mencapai 61 orang.

Eka juga menjelaskan bahwa hingga saat ini FISIP UIN Ar-Raniry yang menaungi Program Studi Ilmu Politik dan Program Studi Ilmu Administrasi Negara telah meluluskan sebanyak 1.216 alumni. Para alumni tersebut kini telah berkiprah di berbagai sektor pengabdian, baik di pemerintahan, lembaga swasta, organisasi masyarakat, maupun sektor lainnya.

GoNTour dan Madinah Optical Gelar Gowes Bareng, Ratusan Peserta Siap Taklukkan Rute 17 Kilometer

0
GoNTour dan Madinah Optical Gelar Gowes Bareng, Ratusan Peserta Siap Taklukkan Rute 17 Kilometer. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Aktivitas olahraga bersepeda kembali akan meramaikan akhir pekan di Kota Banda Aceh. Komunitas GoNTour bersama Madinah Optical dijadwalkan menggelar kegiatan Gowes Bareng (GOBAR) pada Ahad, 14 Juni 2026.

Kegiatan tersebut diperkirakan akan diikuti ratusan pesepeda yang berasal dari berbagai komunitas mountain bike (MTB) maupun komunitas gowes lainnya di Aceh.

Tak hanya menjadi ajang olahraga, kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana mempererat hubungan silaturahmi serta memperkuat solidaritas antar-komunitas sepeda yang selama ini aktif mempromosikan gaya hidup sehat dan budaya bersepeda di Aceh.

Peserta akan memulai perjalanan dari Warkop Azkya yang berada di depan TVRI Aceh pada pukul 07.30 WIB. Selanjutnya, para goweser akan menempuh rute sepanjang 17 kilometer sebelum mencapai garis finis di Lapangan Bola Garuda, Jalan Naga Umang, sekitar pukul 11.30 WIB.

Panitia menyebutkan bahwa minat peserta untuk mengikuti kegiatan tersebut cukup tinggi. Berdasarkan data sementara, sebanyak 160 pesepeda dari berbagai komunitas telah mendaftarkan diri dan menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah hingga masa pendaftaran berakhir.

Selain bertujuan menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan di antara para pecinta sepeda. Berbagai komunitas yang selama ini aktif menggelar kegiatan gowes akan berkumpul dalam satu kegiatan, menikmati perjalanan bersama, saling bertukar pengalaman, serta memperluas jaringan pertemanan.

Untuk menambah kemeriahan acara, panitia turut menyiapkan sejumlah hadiah hiburan yang akan dibagikan kepada peserta beruntung melalui undian. Setelah menyelesaikan rute yang telah ditentukan, seluruh peserta juga akan menikmati makan siang bersama.

Demi menjaga keselamatan selama kegiatan berlangsung, panitia mewajibkan setiap peserta menggunakan helm serta membawa perlengkapan pendukung seperti pompa dan ban dalam cadangan. Ketentuan tersebut merupakan bagian dari upaya penyelenggara dalam mengutamakan keamanan dan kenyamanan seluruh peserta selama perjalanan.

Dengan mengusung semangat “Salam Dua Pedal”, GOBAR Madinah Optical bersama GoNTour diharapkan dapat menjadi agenda olahraga komunitas yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mempererat persaudaraan antar-goweser di Aceh serta mendorong semakin berkembangnya budaya bersepeda di tengah masyarakat.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News