Beranda blog Halaman 512

Polda Aceh: AKBP Jatmiko Masih dalam Pemeriksaan Divpropam Polri

0
Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Joko Krisdiyanto. (Foto: Dok. Polda Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Joko Krisdiyanto menyampaikan bahwa Kapolres Bireuen, AKBP Jatmiko, sedang dalam proses oleh Divpropam Polri. Bahkan, Inspektorat Khusus (Irsus) Itwasum Polri turut menangani dalam proses tersebut. Namun, terkait hasil pemeriksaan, Polda Aceh masih menunggu keputusan dari Mabes Polri.

“Intinya, AKBP Jatmiko sedang dalam proses oleh Divpropam Polri. Bahkan, Irsus Itwasum Polri juga turut menangani. Karena kewenangan untuk menangani Kapolres ada di Mabes Polri. Namun untuk hasilnya, Polda Aceh masih menunggu dari Mabes,” kata Joko dalam rilisnya, Minggu, 9 Maret 2025.

Joko juga menjelaskan bahwa, karena Kapolres Bireuen sedang dalam proses pemeriksaan, maka untuk sementara waktu, Polres Bireuen secara otomatis dikendalikan oleh Wakapolres. Hal itu sesuai Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2021 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) pada Tingkat Kepolisian Resor (Polres) dan Kepolisian Sektor (Polsek). Di mana pada Pasal 8 Ayat (2) Huruf b disebutkan bahwa Wakapolres mengendalikan Polres Bireuen dalam batas kewenangannya apabila Kapolres berhalangan.

Selain itu, berdasarkan Surat Perintah Kapolda Aceh, memerintahkan AKBP Charlie Syahputra Bustaman, yang saat ini menjabat sebagai Wadansat Brimob Polda Aceh, untuk melaksanakan asistensi di Polres Bireuen.

“Saat ini, karena Kapolres sedang dalam proses pemeriksaan, Polres Bireuen dikendalikan oleh Wakapolres. Hal itu diatur dalam Perpol Nomor 2 Tahun 2021 tentang SOTK pada Tingkat Kepolisian Resor atau Polres,” demikian, ujar Joko. []

Kemenhub Tegaskan Indonesia Airlines Belum Berizin

0
Gedung Kementerian Perhubungan RI. (Foto: Liputan6)

NUKILAN.id | Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akhirnya buka suara terkait peluncuran maskapai baru Indonesia Airlines yang ramai diperbincangkan. Plt Direktur Jenderal Hubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa pihaknya belum menerima pengajuan izin apapun dari maskapai tersebut.

“Hingga saat ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan belum menerima pengajuan perizinan ataupun permohonan terkait pendirian dan operasional perusahaan angkutan udara niaga berjadwal tersebut,” ujar Lukman dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (10/3).

Pernyataan ini merespons maraknya pemberitaan soal peluncuran Indonesia Airlines yang berlangsung pada Jumat (7/3). Maskapai tersebut terdaftar dengan nama PT Indonesia Airlines Group dan diklaim akan melayani rute penerbangan internasional.

Lukman menegaskan bahwa setiap badan usaha yang ingin mengoperasikan penerbangan komersial di Indonesia harus mengantongi sertifikat resmi. Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 35 Tahun 2021 dan Permenhub Nomor 33 Tahun 2022, maskapai wajib memiliki Sertifikat Standar Angkutan Udara Niaga Berjadwal serta Sertifikat Operator Pesawat Udara atau Air Operator Certificate (AOC).

“Sertifikasi pengoperasian pesawat udara untuk kegiatan angkutan udara diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara setelah memenuhi seluruh persyaratan administratif, teknis, dan operasional yang telah ditetapkan,” lanjut Lukman.

Maskapai ini sendiri dipimpin oleh Iskandar, seorang pengusaha asal Bireuen, Aceh. Perusahaan tersebut disebut sebagai anak usaha dari Calypte Holding Pte. Ltd, sebuah perusahaan berbasis di Singapura yang bergerak di bidang energi terbarukan, penerbangan, dan pertanian. Sebelum merambah ke industri penerbangan, Iskandar dan timnya lebih dulu mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 2.500 megawatt di Riau.

Dengan belum adanya izin resmi, status operasional Indonesia Airlines pun masih menjadi tanda tanya. Kemenhub menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh operasional maskapai di Indonesia mematuhi regulasi guna menjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penerbangan.

“Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan senantiasa berkomitmen untuk memastikan bahwa seluruh operasional maskapai penerbangan di Indonesia telah memenuhi ketentuan regulasi demi menjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penerbangan,” tutup Lukman.

Editor: Akil

DPKA Siap Sukseskan Safari Ramadhan 1446 H Pemerintah Aceh

0
edi yandra
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Edi Yandra. (Foto: Arpus Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung dan menyukseskan Safari Ramadhan 1446 Hijriah yang digelar Pemerintah Aceh pada 11-17 Maret 2025. Kegiatan tahunan ini akan berlangsung di 23 kabupaten/kota di seluruh Aceh.

Kepala DPKA, Edi Yandra, menegaskan komitmen tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/3/2025).

“DPKA selalu siap mendukung kegiatan yang rutin digelar tiap tahun oleh Pemerintah Aceh yang tahun ini mengangkat tema ‘Taat Syariat, Maju dan Bermartabat’,” ujar Edi.

Safari Ramadhan Pemerintah Aceh melibatkan berbagai unsur, termasuk perwakilan Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), ulama, imam, da’i, serta guru agama. Tim ini akan mengunjungi berbagai gampong untuk berdialog langsung dengan masyarakat dan menyerap aspirasi mereka.

Edi menambahkan bahwa DPKA memiliki lima tugas utama dalam kegiatan ini, sebagaimana disampaikan oleh Pelaksana Tugas Sekda Aceh dalam pelepasan tim Safari Ramadhan sehari sebelumnya.

“Kami siap menjalankan lima tugas utama seperti pesan Pak Plt Sekda saat pelepasan kemarin (Senin, 10/3) yaitu menyampaikan syiar agama, menyerap aspirasi dari masyarakat, mempererat hubungan silaturahmi antara Pemerintah Aceh dan masyarakat, menyampaikan informasi pembangunan, serta menjelaskan berbagai program bantuan yang tersedia,” jelasnya.

Ia berharap kehadiran tim Safari Ramadhan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah yang dikunjungi.

“Insya Allah, DPKA akan bergabung bersama Dinas Perkim dan Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Aceh, mendampingi Bapak Wakil Gubernur di Kota Langsa, pada 12 Maret. Semoga tim ini dapat menjalankan tugas dengan baik dan membawa berkah bagi semua,” pungkasnya.

Dengan keterlibatan berbagai pihak, Safari Ramadhan 1446 H diharapkan tidak hanya menjadi ajang syiar agama, tetapi juga menjadi sarana membangun komunikasi yang lebih erat antara pemerintah dan masyarakat.

Editor: Akil

Narapidana Lapas Kutacane Kabur Massal Menjelang Buka Puasa

0
Ilustrasi narapidana (Foto: Thinkstock)

NUKILAN.id | Kutacane – Sejumlah narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kutacane, Aceh Tenggara, melakukan aksi kabur massal pada Senin (10/3/2025) sore, menjelang waktu berbuka puasa. Para napi nekat melompati pagar depan dan berlarian ke arah keramaian warga.

“Tadi sore menjelang buka puasa napinya kabur. Banyak yang keluar dari pintu depan lapas,” ujar seorang warga setempat, Fahmi, saat dikonfirmasi.

Aksi pelarian ini sempat terekam dalam video yang beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat para napi berhamburan ke jalan raya, sebagian di antaranya hanya mengenakan celana pendek tanpa baju. Beberapa lainnya terlihat keluar melalui atap bagian depan lapas yang telah dibobol, lalu melarikan diri ke berbagai arah, termasuk ke sisi samping dan belakang bangunan.

Polisi yang berjaga di lokasi berupaya menangkap kembali para napi. Kasatreskrim Polres Aceh Tenggara, Iptu Bagus Pribadi, membenarkan kejadian tersebut dan memastikan pihak kepolisian tengah memburu para napi yang melarikan diri.

“Sekarang lagi kita amankan mereka,” kata Bagus.

Hingga berita ini diterbitkan, petugas gabungan dari kepolisian dan pihak lapas masih melakukan pengejaran terhadap para napi yang kabur. Sementara itu, otoritas setempat belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait jumlah napi yang berhasil diamankan maupun dugaan penyebab kaburnya para tahanan.

Editor: AKil

Pemprov Aceh Tawarkan Insentif bagi UEA untuk Investasi di Sabang

0
Gubernur Aceh Muzakir Manaf saat bertemu Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) Untuk Republik Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri, di Pendopo Gubernur Aceh, Senin (10/3/2025). (Foto: Humas Pemprov Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pemerintah Aceh membuka peluang besar bagi Uni Emirat Arab (UEA) untuk berinvestasi di Tanah Rencong dengan menawarkan berbagai insentif menarik, termasuk pengurangan pajak dan kemudahan fasilitas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Sabang.

“Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Aceh menawarkan berbagai insentif bagi investor, termasuk pengurangan pajak dan fasilitas lainnya,” ujar Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dalam pertemuan dengan Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, di Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Senin (10/3/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Aceh didampingi oleh sejumlah pejabat daerah, termasuk Kepala Bappeda Aceh dan Kepala BPMA, yang memaparkan lebih rinci mengenai peluang investasi yang dapat dikembangkan bersama UEA. Hadir pula Presiden Direktur Mubadala Energy Indonesia, Abdulla Bu Ali, yang turut membahas potensi kerja sama di berbagai sektor.

Potensi Besar di Sektor Energi dan Infrastruktur

Pemerintah Aceh menawarkan berbagai peluang investasi di sektor strategis, seperti pariwisata, agroindustri, energi, dan infrastruktur. Muzakir Manaf menegaskan bahwa Aceh memiliki posisi geografis yang sangat strategis di jalur perdagangan internasional, didukung oleh sumber daya manusia yang produktif serta infrastruktur yang terus berkembang.

“Tren investasi di Aceh terus meningkat, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama di sektor energi, perkebunan, dan perhotelan,” ungkapnya.

Di sektor minyak dan gas, Aceh memiliki potensi besar di cekungan Sumatera Utara dengan beberapa blok kerja yang aktif serta peluang eksplorasi di wilayah lain. Selain itu, kawasan ekonomi khusus Arun Lhokseumawe juga menawarkan peluang besar bagi industri energi dan petrokimia, termasuk energi bersih seperti hidrogen biru dan amonia hijau.

“Oleh karena itu, kita berharap pertemuan ini menjadi awal kolaborasi yang lebih erat antara Aceh dan Uni Emirat Arab, serta membawa manfaat besar bagi kedua pihak,” tambah Muzakir Manaf.

UEA Apresiasi Potensi Aceh

Menanggapi tawaran investasi ini, Duta Besar Uni Emirat Arab, Abdulla Salem Al Dhaheri, menyambut baik berbagai peluang yang disampaikan oleh Pemerintah Aceh. Ia mengakui bahwa Aceh memiliki potensi besar untuk dikembangkan di berbagai sektor.

“Kami sadar Aceh memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan. Kami juga menyadari banyak potensi lain yang bisa digarap,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa hubungan antara Indonesia dan UEA telah terjalin erat selama lebih dari 40 tahun, dan Aceh memiliki tempat khusus bagi UEA, terutama sejak tragedi tsunami 2004.

“Kami membangun 500 unit rumah bantuan untuk korban tsunami saat itu, dan kami berkomitmen untuk memberikan bantuan lain saat ini dan ke depan,” lanjutnya.

Dubes Al Dhaheri menegaskan bahwa berbagai informasi yang telah diterimanya akan disampaikan kepada pemerintah UEA untuk pembahasan lebih lanjut. “Saya meminta dibuatkan dokumen resmi untuk pembahasan lebih lanjut,” tutupnya.

Dengan komitmen kuat dari kedua belah pihak, diharapkan investasi UEA di Aceh dapat segera terealisasi dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Editor: Akil

Disdik Aceh dan BPMA Bahas Persiapan SDM untuk Sektor Migas Melalui FGD Kompetensi dan Sertifikasi

0
Disdik Aceh dan BPMA Bahas Persiapan SDM untuk Sektor Migas Melalui FGD Kompetensi dan Sertifikasi. (Foto: Disdik Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) membahas persiapan sumber daya manusia (SDM) untuk sektor migas melalui rencana pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) terkait analisis kebutuhan kompetensi dan sertifikasi vokasi.

Pertemuan tersebut berlangsung di Kantor BPMA Aceh, Selasa (11/3/2025), dan dihadiri Kepala Disdik Aceh, Marthunis, ST, D.E.A., didampingi Kepala Bidang Pembinaan SMK, Dr. Asbaruddin, M.Eng., serta Kepala PTKK Aceh, Azizah, S.Pd., M.Pd. Mereka menyampaikan permohonan fasilitasi pelaksanaan FGD kepada Kepala BPMA, Nasri Djalal.

FGD dirancang untuk mempertemukan berbagai pihak, termasuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan pelaku industri migas, guna menggali informasi terkait kompetensi dan sertifikasi yang dibutuhkan tenaga kerja di sektor tersebut.

Marthunis menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia industri migas dengan lembaga pendidikan vokasi, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hal ini, katanya, agar lulusan SMK di Aceh dapat memenuhi standar yang ditetapkan industri migas yang terus berkembang.

“Dengan adanya FGD ini, diharapkan dapat terciptanya sinergi yang kuat antara sektor pendidikan dan industri, serta dapat meningkatkan keterampilan dan sertifikasi yang relevan bagi tenaga kerja lokal yang siap terjun di sektor migas,” ujar Marthunis.

Ia menambahkan, Disdik Aceh berkomitmen mendukung pengembangan keterampilan vokasi bagi siswa SMK di Aceh sekaligus memastikan akses pelatihan dan sertifikasi sesuai standar industri.

Sementara itu, Kepala BPMA Aceh, Nasri Djalal, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, kualitas SDM lokal menjadi kunci agar tenaga kerja Aceh dapat terserap secara maksimal di sektor migas.

“Kami ingin industri migas di Aceh dapat menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja lokal, namun harus dipastikan bahwa kualitas SDM yang terlibat telah memenuhi standar industri migas,” ucap Nasri.

Ia juga menyarankan agar BPMA bersama perguruan tinggi dan Disdik Aceh memperkuat koordinasi untuk memastikan kesiapan SDM lokal yang kompeten dan siap membangun industri migas di Aceh.

Kegiatan FGD ini dijadwalkan berlangsung pada pertengahan April 2025, dengan harapan dapat menyelaraskan kebutuhan industri migas dengan program vokasi yang ada di Aceh.

SuKAT Gelar Buka Puasa, Bahas Arah Kebudayaan Aceh

0
SuKAT Gelar Buka Puasa. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Suara untuk Kebudayaan Aceh Terarah (SuKAT), sebuah wadah yang menaungi seniman, budayawan, serta pelaku seni dan budaya di Aceh, menggelar acara buka puasa bersama di Telaga Art Space, Lambhuk, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, pada Minggu (9/3/2025) malam.

Dalam kesempatan itu, SuKAT juga turut mengikuti Tadarus Seni, sebuah diskusi rutin setiap bulan Ramadan yang kali ini mengangkat tema “Membaca Ulang Arah Kebudayaan Aceh.”

Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni sastrawan Aceh, Azhari Aiyub, serta pegiat sosial, budaya, dan politik, M Taufik Abda. Dalam paparannya, Azhari Aiyub menyoroti minimnya pembahasan mengenai arah kebudayaan di Aceh dibandingkan dengan wacana kebudayaan nasional yang telah bergulir sejak era 1920-an.

“Pemuda dan pemudi Indonesia sudah membicarakan arah kebudayaan Indonesia sebelum Indonesia merdeka sejak tahun 1920. Sementara di Aceh sendiri tak ada pembicaraan mengenai haluan atau arah kebudayaan Aceh seperti apa. Arah kebudayaan Aceh hanya mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat tanpa melibatkan pelaku budaya Aceh itu sendiri,” ujar Azhari.

Sementara itu, M Taufik Abda menekankan bahwa kebudayaan Aceh harus dipahami dalam tiga dimensi utama, yakni Tuhan, alam, dan manusia, yang berpijak pada paradigma tauhid.

“Karena setiap saat kita akan berhubungan dengan dimensi ketuhanan, alam, dan manusia. Seperti hari ini, kita bertemu dalam sebuah ruang dan berinteraksi sebagai sesama orang yang mungkin gelisah dengan dinamika sosial budaya, khususnya terkait dengan arah kebudayaan Aceh sekarang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Taufik menegaskan pentingnya merumuskan peta jalan atau roadmap kebudayaan Aceh agar tidak hanya bergantung pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) semata. Ia menilai bahwa tanpa adanya tujuan yang jelas, arah kebudayaan Aceh dikhawatirkan akan kehilangan arah dan hanya berjalan tanpa panduan yang konkret.

“Semoga tadarus ini menjadi titik temu bagi kita dari berbagai komunitas untuk melahirkan draft yaitu roadmap atau peta jalan, karena jika tidak jelas titik tujuan, kita khawatir tidak akan pernah sampai ke tujuan. Soal tujuan inilah yang perlu kita diskusikan, ke mana arah kebudayaan Aceh lima hingga 20 tahun ke depan,” tutur Taufik.

Acara ini menjadi ruang refleksi bagi para pelaku budaya untuk bersama-sama merumuskan langkah konkret dalam memperjelas identitas dan arah kebudayaan Aceh di masa depan. SuKAT berharap diskusi ini dapat melahirkan gagasan yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan praktik kebudayaan yang lebih terarah.

Editor: Akil

Malam ke-11 Ramadan, Masjid Haji Keuchik Leumiek Tetap Dipenuhi Jemaah

0
Suasana di Masjid Haji Keuchik Leumiek. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Fenomena berkurangnya jumlah jemaah salat Tarawih di masjid-masjid seiring berjalannya Ramadan kerap terjadi. Banyak masjid yang sesak di malam pertama, tetapi mulai lengang saat memasuki malam-malam berikutnya. Namun, hal itu tidak berlaku di Masjid Haji Keuchik Leumiek, Banda Aceh. Pada malam ke-11 Ramadan, Senin (10/3/2025), masjid ini tetap dipadati jemaah hingga ke pelataran.

Berdasarkan pantauan Nukilan.id, meskipun jumlah jemaah tidak sebanyak malam pertama, masjid ini masih dipenuhi umat Muslim yang melaksanakan salat Tarawih. Bahkan, sejumlah jemaah yang tidak mendapatkan tempat di dalam masjid memilih salat di pelataran.

Salah seorang jemaah, Faiz, mengungkapkan bahwa kenyamanan menjadi salah satu alasan dirinya rutin salat di masjid tersebut.

“Masjid ini sangat nyaman, ruangannya sejuk, dan bacaan imamnya juga merdu,” ujarnya saat diwawancarai usai Tarawih.

Selain itu, menurutnya, durasi ceramah sebelum tarawih yang singkat menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak muda.

“Di sini ceramahnya nggak terlalu lama seperti di tempat lain, jadi lebih nyaman buat kami yang masih muda,” tambahnya.

Masjid Haji Keuchik Leumiek memang dikenal memiliki fasilitas yang baik, termasuk sistem pendingin udara yang membuat ruangan tetap sejuk. Selain itu, imam yang bertugas juga memiliki bacaan yang fasih dan merdu, sehingga semakin menambah kekhusyukan jemaah dalam beribadah.

Kondisi ini berbeda dengan beberapa masjid lain yang biasanya mengalami penurunan jumlah jemaah secara signifikan setelah beberapa malam pertama Ramadan. Keberlanjutan jumlah jemaah yang tetap ramai di Masjid Haji Keuchik Leumiek menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini. (XRQ)

Reporter: Akil

Hari Ke-10 Ramadan, Kawasan Takjil Lamdingin Masih Ramai Dikunjungi Warga

0
Jalan Syiah Kuala, yang menjadi pusat takjil di kawasan Lamdingin. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Memasuki hari ke-10 Ramadan, kawasan penjualan takjil di Lamdingin, Kota Banda Aceh, masih dipadati pengunjung. Pantauan Nukilan.id pada Senin (10/3/2025) sore menunjukkan antrean warga yang mencari menu berbuka puasa mulai terlihat setelah waktu Ashar hingga menjelang magrib.

Jalan Syiah Kuala, yang menjadi pusat keramaian, tampak sesak oleh kendaraan yang hilir mudik. Para pedagang pun terlihat sibuk melayani pembeli yang mencari beragam hidangan khas Ramadan, mulai dari aneka kue tradisional, es campur, hingga makanan berat seperti mie caluk dan nasi gurih.

Meski arus lalu lintas tampak sibuk, kepadatan ini tidak sampai menyebabkan kemacetan yang berarti. Warga terlihat tertib dalam memilih aneka makanan dan minuman khas Ramadan yang dijajakan di sepanjang jalan.

Pasar takjil Lamdingin memang menjadi salah satu pusat kuliner Ramadan di Banda Aceh. Setiap sore, deretan pedagang menawarkan berbagai pilihan hidangan berbuka puasa, mulai dari gorengan, bubur kanji, hingga aneka minuman segar.

Dengan masih tingginya antusiasme warga berburu takjil, kawasan ini diperkirakan tetap akan ramai hingga akhir Ramadan. (XRQ)

Reporter: Akil

Teuku Markam: Crazy Rich Aceh Penyumbang Emas Monas

0
Teuku Markam (Foto: Tangkapan layar twiiter@simpsura)

NUKILAN.id | Jakarta – Nama Teuku Markam mungkin tak setenar pengusaha besar lainnya dalam sejarah Indonesia. Namun, jasanya bagi negeri ini begitu besar, salah satunya menyumbangkan 28 kilogram emas untuk puncak Monumen Nasional (Monas). Ironisnya, setelah berjasa, ia justru berakhir di balik jeruji besi.

Sumbangan Emas untuk Monas

Teuku Markam adalah seorang pengusaha sukses asal Aceh yang berjaya di era Presiden Soekarno. Berkat bisnis ekspor karet dan impor kendaraan serta semen, ia menjadi salah satu konglomerat terbesar di Indonesia.

Kekayaannya memungkinkan dirinya berkontribusi besar terhadap pembangunan nasional, termasuk Monas. Dia disebut menyumbang 28 Kg emas untuk Monas yang jadi proyek mercusuar Presiden Soekarno.

Jika dikonversi ke nilai saat ini, sumbangan emas itu setara dengan Rp42 miliar. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik kedermawanannya, Markam menghadapi akhir hidup yang tragis.

Dari Tentara ke Pengusaha Sukses

Dikutip Nukilan.id dari buku Pengusaha Kaya Mendadak: Kisah Teuku Markam yang ditulis oleh M. Nur El Ibrahimy, diketahui Teuku Markam lahir pada 12 Maret 1924 dan memiliki latar belakang sebagai tentara. Setelah Indonesia merdeka, ia bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan ikut berjuang melawan Belanda. Keberaniannya dalam medan perang membuatnya mendapat pangkat kapten.

Sebagai pengusaha, ia mendirikan PT Karkam (Kulit Aceh Raya Kapten Markam) pada tahun 1957. Perusahaannya memiliki hak eksklusif ekspor karet dari Sumatera Selatan ke Singapura dan Malaysia. Selain itu, ia juga memegang lisensi impor mobil Nissan dan semen dari Jepang.

Keberhasilan bisnisnya membuat Markam menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Gaya hidupnya pun mencerminkan statusnya sebagai taipan besar. Ia sering menggelar pesta mewah di Jakarta dan bahkan memiliki hubungan akrab dengan Presiden Soekarno.

Dia beberapa kali mengadakan pesta mewah di Jakarta. Bahkan, sempat mengundang teman akrabnya, yakni Presiden Soekarno untuk dansa di lantai pesta.

Dituduh Tanpa Bukti, Harta Dirampas, Dipenjara 9 Tahun

Kedekatannya dengan Soekarno justru menjadi petaka setelah rezim berganti ke tangan Presiden Soeharto pada 1966. Markam dituduh sebagai bagian dari lingkaran Soekarno dan dikaitkan dengan pemberontakan G30S tanpa bukti yang jelas.

Keputusan ini terjadi karena Markam jadi objek pidana sepihak pemerintah era Presiden Soeharto hanya karena dekat dengan Presiden Soekarno.

Akibat tuduhan tersebut, seluruh asetnya yang meliputi rumah, tanah, mobil, serta uang tunai senilai Rp20 miliar dan US$30 juta dirampas oleh negara. Perusahaannya, PT Karkam, juga diambil alih dan dijadikan BUMN dengan nama PT Berdikari.

Ia pun dipenjara selama sembilan tahun, dari 1966 hingga 1975. Ketika akhirnya bebas, hidupnya tak lagi sama. Kekayaannya ludes, namanya tercemar, dan ia harus memulai kembali dari nol.

Akhir Hidup yang Tragis

Pasca bebas, Markam mencoba kembali ke dunia bisnis. Namun, kejayaannya tak lagi seperti dulu. Hidupnya berakhir pada 25 Januari 1985 akibat komplikasi diabetes dan penyakit liver.

Kisah Teuku Markam menjadi salah satu bukti bagaimana seseorang yang pernah berjasa bagi negara justru mengalami nasib pahit. Sumbangan emasnya tetap bersinar di puncak Monas, namun namanya tenggelam dalam sejarah. Kini, semakin banyak orang yang mulai mengenang kembali sosoknya, seorang pengusaha Aceh yang berjaya, jatuh, dan dilupakan. (XRQ)

Reporter: AKil