Beranda blog Halaman 504

Halaqah Ramadan di Masjid Oman Al-Makmur: Perjalanan Menyelami Makna Bacaan Al-Qur’an

0
Jemaah Sedang Mengikuti Halaqah Perbaikan Bacaan Al-Qur’an di Masjid Oman. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Feature – Selepas salat tarawih dan witir, suasana di Masjid Oman Al-Makmur masih dipenuhi keheningan yang syahdu. Cahaya lampu-lampu masjid menerangi wajah-wajah jemaah yang tak langsung beranjak pulang. Beberapa memilih tetap duduk bersila, membuka mushaf, membiarkan ayat-ayat suci mengalir dari bibir mereka.

Sementara itu, di beberapa sudut masjid, kelompok-kelompok kecil berkumpul mengitari para pengajar yang dengan sabar membimbing mereka memperbaiki bacaan Al-Qur’an.

Inilah Halaqah Perbaikan Bacaan Al-Qur’an, sebuah program yang menjadi jembatan bagi jemaah untuk lebih mendekatkan diri pada kitab suci, diadakan oleh Masjid Oman Al-Makmur bekerja sama dengan Pondok Studi Islam Mahasiswa (POSTIM).

Malam itu, di antara para peserta halaqah, ada Izzil Muhady, seorang mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dengan mushaf di tangannya, ia tampak khusyuk mendengarkan koreksi dari pengajarnya.

Dalam wawancara dengan Nukilan.id, Izzil mengungkapkan bahwa ia mengikuti halaqah ini dengan niat memperbaiki bacaan Al-Qur’annya.

“Saya ingin meningkatkan kualitas bacaan saya agar lebih baik dan sesuai dengan kaidah tajwid,” katanya.

POSTIM Gelar Halaqah Perbaikan Bacaan Al-Qur’an di Masjid Oman Selama Ramadan. (Foto: Nukilan)

Sebelum mengikuti halaqah ini, Izzil merasa cukup percaya diri dengan kemampuannya membaca Al-Qur’an. Namun, setelah bergabung dalam halaqah, ia menyadari masih ada aspek yang perlu diperbaiki, terutama dalam makharijul huruf dan pelafalan lafaz jalalah.

“Kesulitan utama saya adalah tidak mengetahui secara jelas makharijul huruf, pelafalan lafaz jalalah yang belum pas, serta kejelasan dalam bersuara,” tambahnya.

Baginya, pengalaman mengikuti halaqah ini begitu berharga. Kini, ia lebih memahami bagaimana huruf ت harus dilafalkan dengan benar sesuai makhrajnya.

“Ini adalah pengalaman pertama saya dan cukup berkesan. Saya merasa beruntung bisa belajar langsung dalam halaqah ini,” ujarnya.

Program halaqah ini menjadi angin segar bagi jemaah yang ingin memperdalam pemahaman mereka dalam membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Setiap malam, setidaknya ada empat hingga lima pengajar yang siap membimbing jemaah, baik remaja maupun dewasa.

Kesabaran dan dedikasi mereka dalam membimbing peserta menjadi salah satu daya tarik utama dalam program ini. Izzil sendiri mengapresiasi usaha para pengajar yang dengan penuh ketelatenan membimbingnya.

“Ada rencana untuk terus belajar, tetapi mungkin tidak setiap malam,” tuturnya.

Di balik keberlangsungan halaqah ini, ada sosok Haiqal Al Fazal, S.H., Ketua penyelenggara tahsin gratis dari POSTIM. Ia menjelaskan bahwa program ini lahir dari kesadaran akan banyaknya umat Muslim yang masih menghadapi kesulitan dalam membaca Al-Qur’an dengan benar.

“Kami menyadari bahwa masih banyak Muslim yang belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, sehingga terjadi kesalahan-kesalahan dalam pengucapan dan tajwid,” ungkapnya.

Menurut Haiqal, halaqah ini memiliki tujuan utama untuk membantu jemaah memperbaiki bacaan Al-Qur’an sesuai dengan kaidah tajwid serta menumbuhkan semangat belajar Al-Qur’an, terutama di bulan Ramadan.

Metode yang digunakan pun bertahap, dimulai dari memperbaiki bacaan surat Al-Fatihah hingga membimbing jemaah dalam membaca ayat-ayat pilihan.

“Bagi peserta yang masih pemula, kami mengajarkan dari dasar, termasuk cara melafalkan huruf-huruf hijaiyah dengan benar,” tambah Haiqal.

Tak disangka, program ini mendapat sambutan yang luar biasa dari jemaah. Meski pendaftaran awal hanya mencatat sekitar 30 peserta, kenyataannya jumlah yang hadir setiap malam sering kali melebihi angka tersebut.

Dalam satu halaqah, satu pengajar biasanya membimbing satu hingga enam orang, menciptakan suasana belajar yang lebih personal dan efektif.

Malam semakin larut, namun semangat para peserta halaqah tak juga redup. Suara lantunan ayat-ayat suci masih terdengar, diiringi dengan bimbingan lembut dari para pengajar.

Di sudut lain masjid, seorang jemaah yang tampak lebih tua dari Izzil tengah memperbaiki pelafalannya. Ia tampak serius, seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan belajar ini.

Haiqal berharap, halaqah ini tidak hanya menjadi agenda musiman yang berakhir setelah Ramadan. Ia ingin semangat belajar yang tumbuh di bulan suci ini tetap berlanjut sepanjang tahun.

“Kami harapkan jemaah dan para peserta tidak hanya mencukupkan diri dengan program tahsin di bulan Ramadan ini saja. Semoga ini menjadi motivasi agar mereka tetap belajar setelah Ramadan, baik di kelas tahsin yang diadakan pihak lain maupun melalui program POSTIM sendiri,” pungkasnya.

Di balik rutinitas ibadah Ramadan, halaqah ini menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bagi banyak jemaah. Lebih dari sekadar memperbaiki bacaan, mereka sedang menyelami makna di balik setiap huruf dan ayat yang dilantunkan.

Di dalam masjid yang masih diterangi lampu-lampu malam itu, tersimpan harapan bahwa setiap peserta bisa keluar dengan bacaan yang lebih baik, hati yang lebih lapang, dan iman yang semakin kokoh. (XRQ)

Reporter: Akil

Gubernur Aceh Serahkan Duplikat Mushaf Bersejarah ke Masjid Raya Baiturrahman

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menyerahkan duplikat mushaf Al-Qur’an kepada Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, Prof. Azman Ismail. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menyerahkan duplikat mushaf Al-Qur’an kepada Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, Prof. Azman Ismail, dalam peringatan malam Nuzulul Qur’an, Minggu (16/3/2025) yang bertepatan dengan malam 17 Ramadan 1446 H. Mushaf tersebut sebelumnya diserahkan oleh Kepala Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Agus Chusaini, kepada Gubernur Aceh.

Penyerahan mushaf yang disalin oleh 30 kaligrafer Aceh dalam waktu 12 hari itu berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, sesaat sebelum pelaksanaan salat Tarawih dan Witir berjamaah.

Amatan Nukilan.id, ,omentum bersejarah ini turut dihadiri Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, seluruh bupati dan wali kota se-Aceh, Plt Sekda Aceh Alhudri, serta para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan pemangku kebijakan lainnya.

Untuk diketahui, mushaf ini merupakan replika dari mushaf bersejarah yang dulu dipeluk oleh imam besar Masjid Raya Baiturrahman saat syahid dalam Perang Aceh pertama melawan Belanda.

Mushaf aslinya saat ini tersimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda, sementara duplikatnya kini menjadi simbol kebangkitan Islam di Aceh. (XRQ)

Reporter: AKil

Ribuan Masyarakat Padati Masjid Raya Baiturrahman dalam Peringatan Nuzulul Quran

0
Ribuan masyarakat Aceh memadati Masjid Raya Baiturrahman pada Minggu (16/3/2025) malam dalam rangka memperingati malam Nuzulul Quran. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ribuan masyarakat Aceh memadati Masjid Raya Baiturrahman pada Minggu (16/3/2025) malam dalam rangka memperingati malam Nuzulul Quran. Kegiatan yang berlangsung pada malam ke-17 Ramadan 1446 H ini diawali dengan salat Isya berjamaah dan diisi dengan berbagai rangkaian acara keagamaan.

Pantauan di lokasi, peringatan Nuzulul Quran dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh seorang qari internasional asal Mesir. Suara lantunan ayat suci menggema di seluruh penjuru masjid, menambah kekhusyukan suasana malam itu.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dalam kesempatan tersebut turut memberikan sambutan sekaligus meluncurkan Instruksi Gubernur Aceh Nomor 1 Tahun 2025. Instruksi ini mengatur tentang kewajiban salat fardhu berjamaah bagi aparatur dan masyarakat serta kewajiban mengaji di setiap satuan pendidikan di Aceh.

Acara berlanjut dengan tausiah yang disampaikan oleh Ustad Suryanto Sudirman. Dalam tausiahnya, ia mengapresiasi kebijakan Gubernur Aceh yang mewajibkan masyarakat untuk menghentikan segala aktivitas saat azan berkumandang dan segera melaksanakan salat berjamaah. Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan perintah Allah dalam kitab suci Al-Quran.

Ustad Suryanto juga mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 41, “Yaitu orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Ia mengajak seluruh jamaah untuk menghidupkan dan mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

“Mari kaum muslimin jika kita tak mampu ikut para ulama, minimal selama bulan puasa kita khatam 1 kali Al-Quran,” ujar Ustad Suryanto.

Selain itu, ia mencontohkan keteladanan para ulama terdahulu dalam berinteraksi dengan Al-Quran. Imam Nasai, misalnya, dikisahkan mampu mengkhatamkan Al-Quran dua kali dalam satu malam pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Sementara itu, Imam Syafii disebut mengkhatamkan Al-Quran hingga 60 kali sepanjang bulan suci.

Pada akhir tausiah, Ustad Suryanto berdoa agar nilai-nilai syariat yang terkandung dalam Al-Quran benar-benar dihidupkan di Aceh, baik dalam aspek muamalah, ibadah, maupun aktivitas lainnya. Peringatan malam Nuzulul Quran kemudian ditutup dengan salat Tarawih dan Witir berjamaah yang diikuti oleh ribuan jamaah dengan penuh kekhusyukan. (XRQ)

Reporter: Akil

Gubernur Aceh Launching Instruksi Salat Berjamaah dan Gerakan Aceh Berwakaf

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, saat memberikan sambutan dan Launching Instruksi Tentang Pelaksanaan Shalat Fardhu Berjamaah Aparatur Negara, Masyarakat serta Pelaksanaan Mengaji pada Satuan Pendidikan se-Aceh dan Penutupan Aceh Festival Ramadhan Tahun 2025 di Masjid Raya Baiturrahman. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, resmi meluncurkan Instruksi Gubernur (Ingub) Aceh Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pelaksanaan Salat Fardhu Berjamaah bagi Aparatur dan Masyarakat serta Kewajiban Mengaji di Satuan Pendidikan. Peluncuran ini berlangsung pada Minggu (16/3/2025), bertepatan dengan malam 17 Ramadhan yang juga menjadi peringatan Nuzulul Quran.

Amatan Nukilan.id, momentum bersejarah ini digelar di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, sesaat sebelum pelaksanaan salat Tarawih dan Witir berjamaah. Sejumlah pejabat tinggi hadir dalam acara tersebut, di antaranya Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, seluruh Bupati/Wali Kota se-Aceh, Plt Sekda Aceh Alhudri, serta para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan pemangku kebijakan lainnya.

“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim pada hari ini, Minggu 16 Maret 2025 Miladiyah bertepatan 17 Ramadhan 1446 Hijriah, saya Gubernur Aceh secara resmi melaunching instruksi Gubernur Aceh Nomor 01 Tahun 2025,” ujar Mualem di hadapan jamaah salat Isya dan Tarawih saat meresmikan instruksi tersebut.

Kewajiban Salat Berjamaah dan Mengaji di Sekolah

Dengan diberlakukannya Ingub tersebut, seluruh aparatur dan masyarakat Aceh diwajibkan untuk menunaikan salat berjamaah serta menghentikan segala aktivitas saat azan berkumandang. Tak hanya itu, aturan ini juga mewajibkan seluruh murid dan siswa di satuan pendidikan formal untuk membaca Al-Qur’an selama 15 menit sebelum memulai kegiatan belajar.

Gerakan Aceh Berwakaf untuk Ekonomi Gampong

Selain Instruksi Gubernur tentang salat berjamaah dan mengaji di sekolah, Mualem juga meluncurkan Gerakan Aceh Berwakaf. Program ini bertujuan untuk mendorong wakaf produktif guna meningkatkan ekonomi gampong serta memperkuat ekosistem wakaf di Aceh.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Aceh turut menutup secara resmi Aceh Ramadan Festival yang telah berlangsung sejak 12 Maret 2025 di halaman Masjid Raya Baiturrahman.

Duplikat Mushaf Perang Aceh Diserahkan ke Gubernur

Sebagai penutup rangkaian acara, Gubernur Muzakir Manaf menerima duplikat mushaf Al-Qur’an yang disalin oleh 30 kaligrafer Aceh dalam waktu 12 hari. Mushaf ini merupakan replika dari mushaf bersejarah yang dulu dipeluk oleh imam besar Masjid Raya Baiturrahman saat syahid dalam perang Aceh pertama melawan Belanda.

Mushaf aslinya saat ini tersimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda, sementara duplikatnya kini menjadi simbol kebangkitan Islam di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Istri Gubernur Aceh Bagikan Paket Sahur di RSUDZA

0
Istri Gubernur Aceh, Marlina bersama tim menyisir koridor RSUDZA Banda Aceh untuk membagikan paket sahur kepada warga di rumah sakit tersebut, Minggu dini hari, 16 Maret 2025. (Foto Humas Pemerintah Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Aksi sosial Ny. Marlina Muzakir Manaf, istri Gubernur Aceh, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Pada Minggu (16/3/2025), video yang diunggah di akun TikTok pribadinya memperlihatkan dirinya turun langsung ke lapangan membagikan makanan sahur kepada masyarakat yang membutuhkan di Kota Banda Aceh.

Amatan Nukilan.id, dalam video tersebut Marlina bersama tim menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, membagikan nasi kotak kepada keluarga pasien dan tenaga kesehatan yang tengah berjaga. Ditemani ajudan perempuan serta sejumlah petugas keamanan, ia mengawali perjalanannya tanpa seremoni resmi.

Langkahnya ringan, tetapi penuh empati. Dengan kedua tangannya, Marlina menenteng susunan nasi kotak dan menyerahkannya satu per satu kepada keluarga pasien yang berjaga di lorong rumah sakit. Raut wajah yang awalnya lelah perlahan berubah menjadi senyuman, seiring dengan hadirnya makanan sahur yang tidak mereka duga.

Tenaga kesehatan yang masih bertugas pun ikut menerima. Marlina tidak ingin mengganggu waktu istirahat siapa pun, ia hanya ingin berbagi. Para pengawalnya yang biasanya menjaga dari jauh, kali ini turut turun tangan membantu membagikan makanan dengan cekatan.

Dikutip dari Portalnusa.com, setelah semua penerima di RSUDZA mendapatkan bagian, Marlina melanjutkan perjalanannya. Mobil yang ditumpanginya bergerak menuju Jalan Pocut Baren, tempat tukang becak beristirahat menunggu rezeki di pagi hari. Dengan ramah, ia menyapa mereka sebelum menyerahkan makanan dan sembako.

“Pat tinggai, Bapak? Nyoe na kamoe ba bu sahur,” ujarnya sembari menanyakan tempat tinggal para tukang becak sebelum menyerahkan makanan.

Para penerima tampak terkejut. Dalam dinginnya pagi, tak ada yang menyangka sosok yang biasanya mereka lihat hanya di layar media kini berdiri di hadapan mereka. Setiap paket sahur berisi nasi dengan ayam goreng, daging rendang, dua ekor udang, sayur kuah, jeruk manis, dan air mineral. Tak hanya itu, dua kilogram minyak goreng, dua kilogram gula, satu kotak kurma, dan tiga botol sirup juga diberikan untuk membantu kebutuhan dapur mereka.

“Alhamdulillah, makasih banyak, Ibu. Pas sekali waktunya makan sahur,” ujar Tgk Irwadi, seorang tukang becak yang terlihat terharu. Ia mengaku setiap malamnya bekerja mengumpulkan barang bekas untuk dijual ke penampung.

Perjalanan Marlina berlanjut ke Pasar Peunayong, tempat pedagang kecil dan tukang becak lainnya masih berjibaku dengan waktu. Ia kembali turun dari mobil, menyapa, bertanya, mendengar cerita mereka, lalu menyerahkan makanan sahur. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, wajah-wajah lelah itu menyiratkan rasa syukur yang mendalam.

Menjelang pukul 05.00 WIB, Marlina masih terus membagikan makanan di berbagai titik. Ia melewati Bundaran Simpang Lima, Jembatan Pante Pirak, hingga Pasar Aceh. Pedagang kios yang baru saja menutup lapaknya pun kebagian paket sahur. Sesekali, ia menyetop becak dan pengendara roda dua yang kebetulan melintas untuk diberikan satu porsi sahur.

Langkahnya akhirnya terhenti di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Dalam suasana dini hari yang sunyi, Marlina duduk di bawah menara utama masjid, membuka satu kotak nasi terakhir yang tersisa. “Alhamdulillah, semua sudah terbagi,” ucapnya pelan, sebelum mulai menyantap sahurnya sendiri bersama tim yang mendampinginya.

Pada malam itu, sebanyak 230 kotak nasi dan 200 paket sembako telah tersampaikan. Bukan sekadar makanan, tetapi juga penghangat hati bagi mereka yang menerimanya. Di sepertiga malam, Marlina kembali menegaskan bahwa berbagi tidak selalu harus megah—cukup dengan ketulusan, di waktu yang tepat, untuk orang-orang yang membutuhkan. (xrq)

Reporter: Akil

Ramadan ke-16, Warga Banda Aceh Tetap Padati Jalan Garuda untuk Berburu Takjil

0
Suasana di jalan Tgk Pulo Dibaroh atau Jalan Garuda Gampong Baru, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh yang dijadikan salah satu pusat Takjil di Banda Aceh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjelang berbuka puasa di hari ke-16 Ramadan, Jalan Garuda di Gampong Baru, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, masih dipadati warga yang berburu takjil, Minggu (16/3/2025). Sejak sore, kawasan ini menjadi pusat jajanan khas Ramadan yang selalu ramai dikunjungi setiap tahunnya.

Beragam kuliner khas Aceh tersaji di lapak-lapak pedagang, mulai dari sambai oen peugaga, lemang, kue adee, hingga mie caluk. Selain itu, makanan kekinian seperti mango thai, dimsum, dan kebab turut meramaikan pilihan takjil yang tersedia.

Mariana, salah seorang pengunjung, mengaku sengaja datang untuk membeli makanan tradisional Aceh yang sulit ditemukan di hari biasa.

“Datang ke sini sekalian ngabuburit sambil cari jajanan unik, dan jarang ditemukan pada hari biasa seperti sambai oen peugaga ini,” katanya kepada Nukilan.id, Minggu (16/3/2025).

Menurutnya, suasana di Jalan Garuda semakin ramai menjelang waktu berbuka. Selain karena lokasinya strategis, tempat ini juga menawarkan pilihan kuliner yang beragam. Namun, Sari berharap ada pengaturan lebih baik untuk menghindari kemacetan.

“Saya berharap ke depannya tempat membeli takjil seperti ini dipenuhi pejalan kaki saja, ada baiknya jangan memasukkan motor ke area tersebut karena sudah padat,” imbuhnya.

Jalan Garuda memang dikenal sebagai salah satu sentra takjil terbesar di Banda Aceh. Setiap Ramadan, kawasan ini selalu menjadi magnet bagi warga yang ingin menikmati kuliner khas sebelum berbuka puasa. (XRQ)

Reporter: Akil

Polisi Tangkap Lima Pelaku Perdagangan Kulit Harimau di Aceh Tengah

0
Polisi Tangkap Lima Pelaku Perdagangan Kulit Harimau di Aceh Tengah. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Takengon – Tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Aceh Tengah, Polda Aceh, berhasil mengungkap kasus perdagangan ilegal bagian tubuh harimau sumatera. Lima terduga pelaku yang terdiri dari warga Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah ditangkap dalam operasi yang dilakukan pada Sabtu (15/3/2025).

Kelima pelaku yang diamankan adalah S (40), M (50), J (54), R (29), dan SA (25). Dari jumlah tersebut, tiga orang berprofesi sebagai petani.

“Terduga pelaku yang ditangkap ada lima. Dua sebagai perantara penjualan, sedangkan tiga lainnya sebagai yang menangkap dan membunuh harimau sumatera tersebut,” kata Kasat Reskrim Polres Aceh Tengah, Iptu Deno Wahyudi, dalam keterangannya, Minggu (16/3/2025).

Penyamaran Polisi Berhasil Bongkar Jaringan

Pengungkapan kasus ini bermula dari informasi yang diterima petugas mengenai rencana transaksi penjualan kulit harimau sumatera di Jalan Soekarno Hatta, Desa Empus Talu, Kecamatan Bebesen. Polisi segera melakukan penyelidikan dan menemukan dua terduga pelaku, S dan M, tengah menunggu calon pembeli di lokasi tersebut.

Tepat pada pukul 23.00 WIB, petugas melihat S mengangkat sebuah styrofoam box berwarna putih yang diduga berisi bagian tubuh harimau. Saat itu juga, polisi bergerak cepat dan menangkap keduanya. Setelah dilakukan penggeledahan, ditemukan kulit, tulang belulang, serta bagian tubuh lain dari harimau sumatera di dalam kotak tersebut.

Tak berhenti di situ, polisi melakukan pengembangan dan berhasil menangkap tiga pelaku lainnya—J, R, dan SA—pada pukul 04.00 WIB di lokasi berbeda.

Ancaman Hukuman Berat

Kelima pelaku saat ini telah diamankan di Rumah Tahanan (Rutan) Polres Aceh Tengah untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Mereka dijerat dengan Pasal 40A ayat (1) Huruf e Jo Pasal 21 Ayat (2) Huruf b Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Pasal 55 KUHP.

“Pengungkapan perdagangan kulit harimau ini merupakan komitmen kepolisian menindak tegas setiap tindak pidana konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya,” tegas Iptu Deno Wahyudi.

Perdagangan bagian tubuh harimau sumatera termasuk kejahatan serius karena spesies ini masuk dalam daftar satwa langka yang dilindungi. Populasinya terus menurun akibat perburuan liar dan perdagangan ilegal. Keberhasilan polisi dalam membongkar kasus ini diharapkan dapat menjadi peringatan keras bagi para pelaku kejahatan terhadap satwa liar di Indonesia.

Editor: Akil

45 Napi Lapas Kutacane Kembali, 7 Masih Buron

0
Ilustrasi narapidana (Foto: Thinkstock)

NUKILAN.id | Kutacane – Sebanyak 45 narapidana yang sempat kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kutacane, Aceh Tenggara, telah kembali. Mereka ditangkap kembali oleh aparat atau menyerahkan diri secara sukarela, sebagian diantar oleh keluarga. Namun, hingga saat ini masih ada tujuh napi yang belum kembali.

Pelarian massal ini terjadi pada Senin (10/3/2025) petang dan sempat menghebohkan publik setelah rekaman video aksi kabur mereka viral di media sosial. Berdasarkan data pihak berwenang, sebanyak 52 napi berhasil melarikan diri saat kejadian.

Koordinator Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Rika Apriyanti, mengonfirmasi perkembangan terbaru terkait napi yang telah kembali ke Lapas Kutacane.

“Alhamdulillah, satu per satu warga binaan yang sempat meninggalkan Lapas Kutacane telah kembali ke lapas diantar keluarga masing-masing,” ujar Rika dalam keterangan persnya, Sabtu (15/3).

Rika juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah membantu upaya pengembalian napi yang kabur.

“Terima kasih kepada Bupati Aceh Tenggara bersama jajarannya, Camat, Kepala Desa, Tokoh masyarakat dan agama, keluarga warga binaan, Kepolisian, Kodim, dan semua unsur Forkopimda yang telah banyak membantu,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kemenkumham, Mashudi, meninjau langsung kondisi Lapas Kutacane pada Selasa (11/3). Ia menegaskan perlunya pembenahan fasilitas agar lebih layak bagi warga binaan.

“Mari kita benahi bersama Lapas Kutacane. Warga binaan adalah keluarga kita juga, saudara kita,” ujar Mashudi di hadapan ratusan napi, sebagaimana dilansir dari siaran pers Kemenkumham.

Mashudi mengakui bahwa kelebihan kapasitas menjadi salah satu persoalan utama. Lapas Kutacane yang idealnya hanya menampung 100 orang, kini dihuni oleh 386 napi. Kondisi ini semakin diperburuk dengan jumlah petugas yang terbatas, hanya 24 orang dengan sistem kerja bergilir tujuh orang per shift.

Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa Lapas di Aceh mengalami kondisi serupa bahkan lebih parah. Lapas Bireun mengalami overkapasitas hingga 480 persen, Lapas Idi mencapai 600 persen, sementara Lapas Lhokseumawe melebihi 300 persen dari daya tampungnya.

Selain merencanakan pembangunan gedung baru, Mashudi berharap agar kebijakan terkait tahanan kasus narkotika dapat dievaluasi agar tidak semua harus ditempatkan di Lapas atau Rutan. Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk memberikan layanan yang sesuai standar, termasuk dalam hal makanan napi.

Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, telah menghibahkan 4,1 hektare tanah untuk relokasi Lapas Kutacane. Langkah ini diharapkan dapat memberikan ruang lebih layak bagi warga binaan dan meningkatkan pengawasan di dalam lapas.

“Saya sangat prihatin ada warga binaan yang harus tidur di luar kamar hunian, karena kamar hunian yang ada tidak mencukupi. Kapasitas yang hanya untuk 100 orang, harus terisi 386 orang, lebih dari 300 persen. Sedangkan kekuatan petugas penjaganya 24 orang, 7 orang per shift,” tutur Mashudi.

Dengan masih adanya tujuh napi yang belum kembali, aparat keamanan terus melakukan pencarian. Pihak berwenang juga mengimbau para napi yang masih buron agar segera menyerahkan diri guna menghindari tindakan hukum yang lebih berat.

Editor: Akil

Bupati Aceh Barat dan Universitas Teuku Umar Perkuat Sinergi Riset untuk Kemajuan Daerah

0
Bupati Aceh Barat dan Universitas Teuku Umar Perkuat Sinergi Riset untuk Kemajuan Daerah. (Foto: Humas UTU)

NUKILAN.id | Meulaboh – Bupati Aceh Barat, Tarmizi, S.P., M.M., bersama jajaran pemerintah kabupaten mengunjungi Universitas Teuku Umar (UTU) pada Senin, 10 Maret 2025. Kunjungan ini bertujuan mempererat kerja sama dalam bidang riset dan pengembangan daerah, sekaligus memperkuat sinergi antara akademisi dan pemerintah dalam merancang kebijakan berbasis penelitian.

Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang rapat senat UTU, Bupati Aceh Barat beserta rombongan diterima langsung oleh Rektor UTU, Prof. Dr. Drs. Ishak Hasan, M.Si., didampingi para wakil rektor, dekan, kepala biro, serta ketua jurusan. Hadir pula Kepala Kantor Wilayah DJBC Provinsi Aceh, Dr. Safuadi, yang turut mendukung gagasan kolaborasi ini.

Rektor UTU, Prof. Ishak Hasan, menegaskan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah melalui penelitian yang aplikatif.

“Sebagai institusi akademik, UTU memiliki sumber daya yang memadai untuk melakukan riset dan pengembangan yang dapat dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Salah satu fokus utama pembahasan dalam pertemuan ini adalah pengembangan pusat penelitian ganja untuk kepentingan medis dan industri. Konsep ini sebelumnya telah dipresentasikan UTU kepada Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh sebagai langkah inovatif dalam memaksimalkan potensi daerah melalui riset berbasis sains.

Mendukung gagasan tersebut, Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menyatakan komitmennya untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah dan perguruan tinggi.

“Kampus adalah pusat pengetahuan dan inovasi. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat siap berkolaborasi dengan UTU untuk merumuskan kebijakan berbasis riset yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, masing-masing dekan UTU turut menyampaikan gagasan riset dan rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan di berbagai sektor, seperti pertanian, perikanan, dan pengembangan masyarakat pedesaan. Selain itu, isu ketahanan bencana serta pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah juga menjadi perhatian utama dalam agenda riset kampus.

Puncak kunjungan ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan UTU. Kesepakatan ini menandai langkah konkret dalam memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi, demi mendukung kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Aceh Barat.

Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan penelitian yang dilakukan UTU dapat semakin berkontribusi dalam pembangunan daerah dan menghasilkan kebijakan berbasis data serta riset ilmiah yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Editor: Akil

Razami Dek Cut Resmi Daftar sebagai Calon Ketua DPW PAN Aceh

0
Dek Cut (sapaan Razami) mendaftarkan diri ke DPW PAN Aceh pada Sabtu 15 Maret 2025 yang diterima langsung oleh Ketua Panitia Muswil VI PAN Aceh, Teuku Afid. (Foto: dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Razami Dek Cut resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Aceh. Pendaftarannya dilakukan pada Sabtu, 15 Maret 2025, dan diterima langsung oleh Ketua Panitia Musyawarah Wilayah (Muswil) VI PAN Aceh, Teuku Afid.

Dalam proses pendaftaran tersebut, Dek Cut—sapaan akrab Razami—didampingi sejumlah tokoh penting di PAN Aceh, di antaranya Sekretaris PAN Banda Aceh Rahmat Djailani, Ketua PAN Aceh Jaya T Irfan TB, Ketua Fraksi PAN DPRK Banda Aceh Sofyan Helmi, serta Manajer Persiraja, Ridha Mafdhul.

Dek Cut mengungkapkan bahwa keinginannya maju dalam kepengurusan PAN Aceh dilandasi niat untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi partai. Ia menekankan pentingnya pembaruan dan kemajuan dalam tubuh PAN agar semakin solid dan berdaya saing di kancah politik Aceh.

“Saya juga mengajak semua kader PAN di Aceh untuk bersatu dalam memajukan PAN,” ujar Dek Cut dikutip dari IJN.

Sebagai seorang pengusaha sukses, Dek Cut melihat PAN sebagai wadah perjuangan politik yang harus terus dijaga semangat reformasinya. Ia menilai bahwa partai yang lahir dari gerakan reformasi ini memiliki tanggung jawab besar dalam menegakkan demokrasi dan memperjuangkan aspirasi rakyat.

“Saya percaya bahwa komitmen untuk terus berjuang demi keadilan dan kesejahteraan rakyat adalah hal yang harus terus dijaga oleh seluruh anggota partai,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dek Cut menegaskan bahwa jika diberikan amanah untuk memimpin PAN Aceh, ia bertekad membawa partai meraih kemenangan dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan datang. Ia juga berkomitmen untuk menyusun strategi yang tepat dan mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki partai guna mencapai kemenangan tersebut.

“Saya komitmennya untuk mendukung visi dan misi Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, serta berjanji untuk selalu mematuhi Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai. Saya percaya bahwa dengan kedisiplinan dan kesatuan visi, PAN dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan masyarakat,” ujar Dek Cut.

Pendaftaran Dek Cut sebagai calon Ketua DPW PAN Aceh ini menandai dinamika politik internal yang semakin menarik di tubuh partai berlambang matahari putih tersebut. Dengan visi dan misinya, Dek Cut optimistis dapat membawa PAN Aceh ke arah yang lebih maju dan semakin dekat dengan masyarakat.

Editor: Akil