Beranda blog Halaman 502

Pemerintah Aceh Bangun Hampir 40 Ribu Rumah Layak Huni Sejak 2008

0
Ilustrasi Rumah Layak Huni. (Foto: Merdeka.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) telah membangun sebanyak 39.685 unit rumah layak huni bagi masyarakat kurang mampu di seluruh kabupaten dan kota sejak 2008 hingga 2024.

Kepala Dinas Perkim Aceh, Aznal Zahri, menyampaikan hal tersebut dalam rapat bersama Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah di Kantor Gubernur Aceh, Kamis (19/6/2025).

Dari jumlah rumah yang telah dibangun itu, total anggaran yang telah dialokasikan mencapai lebih dari Rp3,1 triliun. Program ini menyasar kelompok masyarakat rentan seperti fakir miskin, penyandang disabilitas, serta anak yatim dan piatu.

Memasuki 2025, Pemerintah Aceh kembali mengalokasikan pembangunan dua ribu rumah layak huni dengan rencana anggaran sebesar Rp204 miliar. Saat ini, proses verifikasi calon penerima manfaat sedang berjalan. “Sudah 1.470 calon penerima diverifikasi, dan data penerima juga sudah dipublikasikan agar masyarakat dapat ikut mengawasi,” kata Aznal.

Pemerintah Aceh juga telah mengusulkan tambahan pembangunan 100 ribu unit rumah kepada Pemerintah Pusat dalam jangka panjang. Usulan ini diharapkan dapat menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Aceh.

Asisten III Sekda Aceh, Muhammad Diwarsyah, menyebutkan bahwa target awal Pemerintah Aceh untuk tahun ini sebenarnya tiga ribu unit. Namun, karena keterbatasan anggaran, hanya dua ribu unit yang dapat direalisasikan. Ia juga menyoroti kebutuhan rumah layak huni bagi para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang jumlahnya lebih dari 1.500 orang dan telah terdata secara administratif.

Menanggapi hal tersebut, Wamen PKP Fahri Hamzah menekankan pentingnya menjadikan rumah sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi. “Pemerintah ingin rumah menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi. Maka, penting bagi daerah untuk memastikan rakyat memiliki tanah untuk tempat tinggal,” ujar Fahri.

Ia juga menyampaikan bahwa tahun ini Pemerintah Pusat menargetkan renovasi dua juta rumah di seluruh Indonesia, naik signifikan dari sebelumnya yang hanya berkisar 140 ribu unit per tahun. Oleh karena itu, Fahri mendorong daerah, termasuk Aceh, untuk menyatakan kesanggupan menyerap anggaran renovasi tersebut secara maksimal.

“Kami sedang siapkan mekanisme teknis dan keuangan bersama Kemenkeu. Kami berharap Aceh bisa menyerap lebih banyak tahun ini. Khususnya daerah-daerah yang dulu terdampak tsunami,” kata Fahri Hamzah.

Editor: Akil

Banda Aceh Selepas Lebaran: Kisah Pendatang Baru di Kota Serambi Mekah

0
Ilustrasi Pendatang di Kota Banda Aceh. (Foto: ChatGPT)

NUKILAN.ID | FEATURE – Di antara denting sendok dan aroma bumbu yang menguar dari penggorengan besar, Ilham berdiri tegap di balik gerobaknya. Sore itu, kawasan Darussalam mulai ramai. Mahasiswa pulang kuliah, bocah-bocah bermain, dan suara motor berseliweran.

Ilham mengaduk nasi dengan cepat, seolah menyalurkan degup jantung yang masih tak percaya: ia kini tinggal dan bekerja di Banda Aceh.

“Dulu cuma dengar cerita soal kota ini dari sepupu. Sekarang, aku masak nasi goreng di sini tiap malam,” ujarnya, saat diwawancarai Nukilan.id pada Selasa, 20 Mei 2025 lalu.

Ilham adalah satu dari sekian pendatang baru yang tiba di Banda Aceh setelah Lebaran. Tak ada sambutan, tak pula gegap gempita. Namun dari tahun ke tahun, gelombang ini nyata—sunyi, tapi berdenyut. Mereka datang dengan beragam alasan: mencari kerja, melanjutkan pendidikan, atau sekadar ingin mencoba hidup di kota.

Banda Aceh mungkin tak sepadat Jakarta atau segemerlap Kota Metropolitan lainnya. Namun bagi sebagian orang dari kabupaten/kota lain di Aceh, ibu kota provinsi ini tetap menjadi magnet. Kota ini menawarkan akses pada pendidikan tinggi, peluang usaha, dan ekosistem sosial yang lebih dinamis.

Namun, perpindahan itu tak mudah. Tak ada data pasti mengenai jumlah perantau baru yang datang usai Lebaran. Tapi, menurut pengamatan Nukilan.id, pola ini tampak berulang. Lebaran menjadi semacam “batas waktu” psikologis, seolah saat orang merasa sah untuk pergi, meninggalkan kampung halaman demi hidup yang baru.

“Ayahku sempat berat. Tapi aku bilang, kalau bukan sekarang, kapan lagi?” cerita Ilham. Di kampungnya, ia pernah membuka warung kecil, tapi tak bertahan lama. “Banda Aceh lebih ramai. Mungkin aku bisa bertahan lebih lama di sini,” lanjutnya.

Lain Ilham, lain pula Winda. Perempuan muda asal Aceh Barat Daya ini kini bekerja menjaga konter pulsa di kawasan Lampineung, Banda Aceh. Kepada Nukilan.id, Winda bercerita tentang perjalanannya merantau ke ibu kota provinsi.

Ia tiba di Banda Aceh seminggu setelah Lebaran, hanya membawa satu ransel pakaian, sebotol minyak angin, dan keyakinan yang belum sepenuhnya ia pahami

“Aku belum tahu apa tujuan besarnya. Yang penting bisa kerja dulu, bantu keluarga,” tuturnya pelan.

Ia tinggal di kamar kontrakan kecil bersama dua teman yang juga perantau. Gaji tak seberapa, tapi cukup untuk makan dan kirim sedikit ke kampung. Setiap malam, setelah menutup konter, mereka biasanya mengobrol lama. Kadang tentang masa depan, kadang soal kerinduan terhadap rumah.

“Pernah aku nangis waktu lihat foto ibu di HP. Tapi ya… ini bagian dari pilihan,” katanya sambil menahan senyum.

Kehadiran pendatang baru seperti Ilham dan Winda menambah lapisan kehidupan urban Banda Aceh. Mereka adalah pekerja informal, pelajar, penjual makanan, penjaga toko, sopir ojek daring—yang jarang masuk statistik, tapi menjadi bagian penting dari denyut ekonomi kota.

Fenomena ini adalah bagian dari migrasi internal yang terus berlangsung di Aceh. Namun, tanpa dukungan sosial dan ekonomi yang memadai, sebagian dari mereka rentan terhadap eksploitasi dan kesulitan hidup.

Meski banyak tantangan, tak sedikit perantau baru yang berhasil membangun pijakan hidup di kota ini. Ilham misalnya, kini mulai punya pelanggan tetap. Ia sudah menyisihkan uang untuk menyewa tempat yang lebih baik.

“Mungkin tahun depan bisa buka tempat makan kecil, bukan di pinggir jalan lagi,” ujarnya.

Winda pun perlahan menyesuaikan diri. Ia mulai belajar akuntansi dasar dari YouTube. “Biar nanti kalau ada rezeki, bisa buka konter sendiri,” katanya, sembari melayani seorang pelanggan yang membeli paket data.

Banda Aceh tidak menjanjikan kemewahan. Tapi kota ini menyediakan ruang. Untuk yang mau mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Bagi Ilham dan Winda, kota ini bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang belajar—tentang hidup, tentang berani meninggalkan, dan tentang membangun harapan dari nol.

Dan setiap nasi goreng yang dimasak, setiap pulsa yang dijual, adalah bagian dari perjuangan itu. Pelan-pelan, mereka menanam akar. Karena mungkin, Banda Aceh bukan hanya kota, tapi rumah kedua yang sedang tumbuh bersama mereka. (XRQ)

Reporter: Akil

Rp204 Miliar untuk RLH 2025, Pemerintah Aceh Sudah Bangun 39.685 Unit Sejak 2008

0
Kunjungan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI, Fahri Hamzah, di Kantor Gubernur Aceh, Kamis (19/6/2025). (Foto: Perkim Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mencatat pencapaian penting dalam pembangunan rumah layak huni (RLH). Sejak 2008 hingga 2024, tercatat 39.685 unit rumah telah dibangun dan tersebar di berbagai kabupaten/kota. Program ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang pemulihan pascatsunami serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh, T Aznal Zahri, saat menerima kunjungan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI, Fahri Hamzah, di Kantor Gubernur Aceh, Kamis (19/6/2025).

“Program pembangunan RLH ini merupakan kelanjutan dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami 2004. Pemerintah Aceh secara konsisten melanjutkan komitmen menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat,” ujar Aznal.

Rehabilitasi Pascatsunami

Setelah tsunami 2004, pembangunan perumahan di Aceh menjadi perhatian global. Melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR), lebih dari 100.000 unit rumah berhasil dibangun dengan dukungan dana internasional senilai 6,7 miliar dolar AS.

Meski demikian, kebutuhan perumahan rakyat belum sepenuhnya terpenuhi. Hingga kini masih terdapat sekitar 1.500 mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang belum memperoleh rumah.

Target 2025

Untuk tahun 2025, Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran Rp204 miliar guna membangun 2.000 unit RLH. Semula ditargetkan 3.000 unit, namun hasil verifikasi menunjukkan hanya 1.470 calon penerima yang memenuhi syarat administratif dan kepemilikan lahan.

“Verifikasi kami perketat agar bantuan tepat sasaran. Ini penting agar program tidak hanya selesai di atas kertas, tapi benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Aznal.

Dukungan Pemerintah Pusat

Wakil Menteri Fahri Hamzah menegaskan kesiapan pemerintah pusat untuk mendukung penuh program perumahan di Aceh, khususnya bagi masyarakat miskin ekstrem (desil 1).

“Kami butuh data terperinci. Yang terpenting, calon penerima harus memiliki tanah yang sah agar bantuan rumah tidak bermasalah di kemudian hari,” ujar Fahri, yang hadir bersama Sesditjen Perumahan Perdesaan, Dr Nasrullah, dan Direktur Keterpaduan Infrastruktur Permukiman, R An Andri Hikmat.

Fahri menjelaskan pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp40 triliun secara nasional untuk program renovasi perumahan dengan dua fokus utama: perbaikan rumah keluarga miskin ekstrem serta peningkatan kualitas kawasan permukiman, termasuk sanitasi dan pengelolaan sampah.

Aceh Jadi Model

Dalam kunjungan tersebut, Fahri memuji Aceh sebagai daerah dengan pengalaman rekonstruksi perumahan terbesar di dunia.

“Sebanyak 140.000 rumah telah dibangun di Aceh setelah tsunami. Ini jauh lebih besar dibanding Jepang yang hanya membangun 90.000 unit pascaperang dunia. Aceh punya pengalaman luar biasa,” katanya.

Ke depan, pemerintah pusat juga merancang pembangunan rumah vertikal di sejumlah kota, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengatasi krisis hunian dan keterbatasan lahan.

Komitmen Penataan

Fahri menegaskan pemerintah pusat berkomitmen memastikan rumah-rumah yang dibangun tetap layak huni dengan lingkungan yang tertata, bukan sekadar bangunan fisik yang dibiarkan kumuh.

Ia juga menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem secara nasional pada 2026, serta meminta Aceh mempercepat pemutakhiran data dan sinkronisasi program bantuan.

SMAN 7 Banda Aceh dan SMAN Modal Bangsa Raih Juara Umum di FLS3N

0
Para pemenang tangkai lomba FLS3N Banda Aceh dan Aceh Besar di kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, Lamlagang, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Kamis (19/6/2025). (Foto: Dok FLS3N)

Nukilan | Banda Aceh – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 7 Banda Aceh dan SMAN Modal Bangsa meraih juara umum dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMA, SMK, dan MA masing-masing untuk Kotamadya Banda Aceh dan Aceh Besar di kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, Lamlagang, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Kamis (19/6/2025). FLS3N ini diadakan sejak Senin (16/6/2025) hingga Kamis (19/6/2025).

Berdasarkan informasi yang diperoleh Nukilan, dalam festival ini, SMAN 7 Banda Aceh memenangkan empat tangkai lomba di tingkat Kota Banda Aceh, yaitu tangkai lomba desain poster, film pendek, seni kriya, dan tangkai tari kreasi. Sementara SMAN 1 Banda Aceh, SMAN 3 Banda Aceh, dan SMAN 9 Banda Aceh masing-masing menjuarai dua tangkai lomba, yaitu cipta lagu dan menyanyi solo putri, tangkai baca puisi dan menulis cerpen, dan tangkai cipta puisi dan jurnalistik.

Sementara SMAN Modal Bangsa mendominasi festival di tingkat Kabupaten Aceh Besar dengan menyabet juara di tujuh tangkai lomba. Ketujuh tangkai lomba tersebut yaitu baca puisi, cipta lagu, jurnalistik, dan menyanyi solo putra. Kemudian tangkai tari kreasi, instrumen gitar solo, dan fotografi.

Selanjutnya disusul oleh SMAN 1 Peukan Bada yang memenangkan tiga tangkai lomba, yaitu desain poster, komik digital, dan menyanyi solo putri. Sedangkan SMA, SMK, dan MA lainnya masing-masing menjuarai satu tangkai lomba, seperti SMAN 1 Kota Jantho yang memenangkan tangkai cipta puisi, SMK Swasta Grafika ISS untuk tangkai film pendek, SMAN 1 Indrapuri untuk tangkai seni kriya, SMAN 1 Darul Imarah untuk tangkai monolog, dan SMAN 1 Baitussalam untuk tangkai menulis cerpen.

Untuk selanjutnya juara I dari masing-masing tangkai lomba ini akan bersaing di tingkat Provinsi Aceh pada Agustus 2025 nanti dan akan berkompetisi dengan juara I dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. []

Reporter: Sammy

Kebakaran Hanguskan Enam Rumah di Ateuk Pahlawan, Dua Rusak Berat

0
Kebakaran yang terjadi di Gampong Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Kamis (19/6/2025). (Foto: Nukilan/Sammy)

Nukilan | Banda Aceh – Kebakaran melanda kawasan padat penduduk di Gampong Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, pada Kamis (19/6/2025) sekitar pukul 10.40 WIB. Insiden tersebut menghanguskan dua unit rumah dan merusak empat rumah warga lainnya.

Amatan Nukilan di lokasi, tampak para pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang masih menyemburkan api di lokasi. Menurut laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kota Banda Aceh, dua unit rumah mengalami kerusakan berat, sementara empat lainnya rusak sedang. Sebanyak tujuh Kepala Keluarga (KK) dengan total 21 jiwa terdampak dan terpaksa mengungsi.

Dua korban yang rumahnya mengalami kerusakan berat diketahui bernama Yosi dan Ismail Adam. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. BPBD Kota Banda Aceh mengerahkan tujuh unit armada pemadam kebakaran ke lokasi kejadian, didukung satu unit tambahan dari BPBD Aceh Besar. Api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 11.05 WIB, atau 25 menit setelah kebakaran pertama kali dilaporkan.

Salah seorang pemadam kebakaran bernama Nopri terpaksa harus dilarikan ke Puskesmas karena mengalami kelelahan dan menghirup asap kebakaran. Hingga saat ini belum diketahui penyebab kebakaran dan masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

Reporter: Sammy

Kejari Aceh Besar Mulai Terapkan UU Baru untuk Kasus Konservasi

0
Kejari Aceh Besar Mulai Terapkan UU Baru untuk Kasus Konservasi. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Besar mulai menerapkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 dalam menangani perkara tindak pidana terkait konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya.

UU tersebut merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan menjadi dasar hukum terbaru dalam proses penegakan hukum terhadap pelanggaran di bidang konservasi.

Kepala Kejari Aceh Besar, Jemmy Novian Tirayudi, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025, pihaknya menangani dua perkara terkait tindak pidana konservasi sumber daya hayati. Kedua perkara itu kini telah memasuki tahap penuntutan di Pengadilan Negeri Jantho.

Dua terdakwa dalam perkara ini adalah Marifin dan Iriadi. Keduanya terlibat dalam kasus penjualan bagian tubuh satwa yang dilindungi, yakni sisik tenggiling dan paruh burung rangkong.

Penerapan undang-undang baru ini menandai langkah awal Kejari Aceh Besar dalam memperkuat penindakan terhadap kejahatan lingkungan di wilayah hukumnya.

Editor: Akil

Danantara dan Ancaman Lahirnya Institusi Ekonomi Ekstraktif

0
Danantara Indonesia. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.ID | OPINI – Lebih dari sekadar pergeseran wewenang dalam tata kelola negara, pengalihan kendali ratusan perusahaan pelat merah dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara—Danantara—telah memunculkan kegelisahan yang sahih. Bukan hanya karena perubahan lanskap politik, tetapi karena arah baru yang dipilih pemerintah mengandung risiko besar bagi masa depan ekonomi Indonesia.

Dalam konteks politik, transformasi ini telah mendepak tokoh kuat seperti Menteri BUMN Erick Thohir dari pusat kekuasaan. Dulu ia adalah sosok yang menentukan siapa yang duduk di kursi direksi dan komisaris perusahaan negara. Kini, dalam banyak forum strategis, ia bahkan tak lagi diberi kesempatan berpidato. Seolah, kekuasaan yang dulu melekat kini tercabut secara halus namun menyakitkan.

Namun lebih dari sekadar drama politik, yang seharusnya membuat kita lebih cemas adalah lahirnya potensi institusi ekonomi ekstraktif ala Danantara. Dalam istilah yang diperkenalkan oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson—dua ekonom yang pada 2024 dianugerahi Nobel Ekonomi—institusi semacam ini menjadi sebab utama kegagalan negara. Dalam buku Why Nations Fail, mereka menjelaskan bagaimana sistem ekonomi dan politik yang menutup akses publik terhadap sumber daya dan kekuasaan akan menyeret negara ke jurang stagnasi dan kehancuran.

Danantara, meskipun dibungkus jargon modern tentang “investasi negara”, tampak mulai menapaki jalan berbahaya itu. Bayangkan, lebih dari 100 BUMN dengan total aset lebih dari Rp 10.000 triliun dikonsolidasikan di bawah satu lembaga yang minim akuntabilitas publik. Pengawasannya tidak diatur ketat dalam Undang-Undang BUMN, dan lebih mencemaskan lagi, lembaga penegak hukum tak bisa menyentuh direksi jika terjadi indikasi korupsi. Proyek-proyek merugikan pun tak akan dicatat sebagai kerugian negara. Inilah bom waktu.

Keistimewaan ini memberi ruang bagi para elite untuk mengalokasikan dana publik ke proyek-proyek yang sebenarnya tidak layak secara ekonomi, tetapi menguntungkan secara politik. Salah satu contohnya adalah proyek gasifikasi batu bara oleh PT Bukit Asam, yang secara matematis justru membebani negara lebih besar daripada penghematan subsidi LPG yang dijanjikan. Dalam proyek kilang senilai USD 2,25 miliar atau lebih dari Rp41 triliun, nama Hasyim Joyohadikusumo—adik Presiden Prabowo Subianto—ikut bermain melalui Gam Corp Capital, perusahaan asal Inggris. Ini adalah pengulangan pola klasik: kekuasaan dan kekayaan bersatu di tangan segelintir orang.

Tak hanya itu, fondasi hukum untuk memuluskan lahirnya institusi ini sudah dibangun sejak jauh hari. Revisi Undang-Undang Minerba pada awal 2025 memberi keleluasaan elite mengelola sumber daya alam tanpa transparansi. Sementara Undang-Undang Cipta Kerja di era Presiden Joko Widodo menjadi pintu masuk deregulasi besar-besaran. Kombinasi dua perangkat hukum ini telah menciptakan apa yang disebut Acemoglu dan Robinson sebagai “institusi ekstraktif” yang sempurna: sumber daya terkonsentrasi, dan akses publik terputus.

Kondisi ini diperparah oleh kian lemahnya fungsi checks and balances di Indonesia. Parlemen tak lagi kritis, lembaga penegak hukum kerap dijadikan alat kekuasaan, dan suara masyarakat sipil makin dikecilkan. Kecenderungan politik pun bergerak ke arah otoritarianisme. Peran militer menguat, dan wacana penghapusan pemilihan kepala daerah secara langsung kembali diusulkan. Ini pertanda jelas bahwa institusi politik Indonesia pun bergerak menuju ekstraktivisme.

Cerita mengenai jatuh bangunnya Erick Thohir di panggung politik mungkin menarik untuk dibahas di meja makan. Namun yang lebih penting adalah menyadari bahwa Indonesia sedang menuju fase paling krusial dalam sejarah modernnya. Ketika tata kelola negara dibajak oleh segelintir elite, dan rakyat dijadikan tameng atas nama kepentingan nasional, maka jalan menuju status failed state kian terbuka lebar.

Rakyat Indonesia harus waspada. Jika tak ada perubahan arah, maka yang menanti bukanlah kejayaan, melainkan kehancuran yang tak hanya membuat “tak enak makan”, tetapi membuat rakyat betul-betul tak bisa makan. Saat itu, bukan hanya Prabowo, bukan hanya Danantara, tapi kita semua akan menanggung akibatnya. (xrq)

PENULIS: AKIL

FPRB Aceh dan USM Kembangkan Kurikulum Mitigasi Bencana

0
Ketua FPRB Aceh Hasan Dibangka (dua dari kiri) menandatangani kesepakatan kerja sama pengembangan pendidikan bencana di Banda Aceh, Rabu (18/6/2025). (FOTO: FPRB Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Aceh menjalin kerja sama dengan Universitas Serambi Mekah (USM) untuk mengembangkan kurikulum mitigasi bencana di lingkungan perguruan tinggi.

Ketua FPRB Aceh, Hasan Dibangka, mengatakan kolaborasi tersebut difokuskan pada Program Studi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USM Banda Aceh. Kerja sama ini mencakup pengembangan mata kuliah pengetahuan dan biokonservasi, yang bertujuan meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan sekaligus memperkuat pemahaman tentang bahaya bencana alam.

“Pengembangan kurikulum di perguruan tinggi ini merupakan upaya memperkuat mitigasi bencana melalui edukasi dan sosialisasi tentang begitu pentingnya penanggulangan dan pengurangan dampak risiko sebuah bencana,” ujar Hasan.

Ia menambahkan, langkah ini penting mengingat Aceh merupakan wilayah yang tergolong rawan bencana. Melibatkan institusi pendidikan dinilai sebagai salah satu cara efektif untuk memperluas pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat sejak dini.

Dekan FKIP USM, Jalaluddin, menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan FPRB Aceh menjadi langkah maju dalam memperkuat pendidikan kebencanaan di kalangan akademisi dan mahasiswa.

“Kami berharap adanya kesepakatan pendidikan kebencanaan dengan FPRB ini, mahasiswa maupun akademisi dapat memahami pengurangan risiko bencana,” kata Jalaluddin.

Ketua Program Studi Biologi FKIP USM, Nurul Akmal, menyebut kesepakatan ini difokuskan pada pengembangan mata kuliah yang menyisipkan materi tentang mitigasi bencana. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan lebih sadar terhadap isu lingkungan dan mampu berperan dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Editor: Akil

USK Pertahankan Gelar Juara Umum POMDA Aceh 2025

0
Universitas Syiah Kuala (USK) sukses mempertahankan kembali sebagai juara umum pada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Aceh ke XIX tahun 2025. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali meraih gelar juara umum pada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Aceh XIX tahun 2025. Ajang ini digelar oleh Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Provinsi Aceh sejak 11 hingga 18 Juni 2025 di Universitas Teuku Umar, Aceh Barat.

USK mengoleksi total 112 medali, terdiri dari 64 emas, 25 perak, dan 23 perunggu. Jumlah ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan POMDA 2023, di mana USK hanya meraih 38 medali emas.

Rektor USK, Prof Dr Ir Marwan, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian tersebut dan mengapresiasi kerja keras seluruh atlet, pelatih, serta tim pendukung. Ia juga menyampaikan pesan agar para atlet terus meningkatkan kemampuan agar mampu berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.

“Alhamdulillah, ini prestasi yang sangat membanggakan. Semoga prestasi ini menjadi motivasi para atlet USK untuk terus meningkatkan kompetensinya, sehingga mampu mengharumkan nama dirinya, USK maupun Indonesia di level internasional,” ujar Rektor.

Ketua BAPOMI Aceh, Prof Dr Mustanir M.Sc., menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya POMDA, termasuk Pemerintah Aceh, DISPORA Aceh, Bank Aceh, Pengprov KONI Aceh, dan para sponsor.

Tahun ini, POMDA diikuti oleh 39 perguruan tinggi negeri dan swasta dengan mempertandingkan 16 cabang olahraga, seperti atletik, bulu tangkis, renang, hingga pencak silat.

“POMDA ini adalah wujud komitmen kita bersama untuk meningkatkan prestasi olahraga khususnya di Aceh. Semoga kita dapat terus berkolaborasi dalam melahirkan atlet-atlet berprestasi di Bumi Serambi Mekkah ini,” ujar Mustanir.

Editor: Akil

Mengenal Teuku Malik, Pengusaha Aceh di Amerika yang Tak Lupa Kampung Halaman

0
Teuku Malik, Pengusaha Aceh di Amerika. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | New Jersey – Di tengah hiruk pikuk kehidupan Amerika Serikat, nama Teuku Malik menjadi sosok yang lekat di hati komunitas Aceh, terutama di Harrisburg, Pennsylvania. Ia bukan sekadar pengusaha sukses, tapi juga figur yang akrab dan dirindukan, tempat banyak perantau Aceh bersandar.

Tim Dialeksis dan Nukilan berkesempatan menemui Teuku Malik langsung di “Kampung Aceh” Harrisburg. Dalam perbincangan hangat itu, tampak jelas kecintaan pria ini pada tanah kelahirannya.

Dikenal sebagai pribadi yang bersahaja, Teuku Malik tetap rendah hati meski telah berhasil membangun bisnis di Amerika. Ia mudah didekati oleh siapa pun.

“Abang Malik itu seperti rumah yang pintunya selalu terbuka,” ujar seorang warga Aceh di Harrisburg.

Hampir setiap warga Aceh yang baru tiba di Amerika untuk studi, bekerja, atau sekadar berkunjung, pernah merasakan sambutan hangat dari Teuku Malik. Banyak yang menganggapnya sebagai sosok ‘abang’ atau ‘ayah’ yang siap membantu tanpa pamrih.

“Beliau bukan orang yang kalau sudah di atas, lupa dengan yang di bawah. Justru semua kalangan masuk dalam lingkaran perhatiannya. Dari mahasiswa, tokoh masyarakat, sampai siapa saja yang butuh tempat diskusi, pasti ia terima dengan tangan terbuka,” kata Usman Hanaah, warga Aceh yang telah lama tinggal di Amerika.

Kendati tinggal jauh di negeri orang, perhatian Teuku Malik terhadap Aceh tetap besar. Ia aktif dalam berbagai diskusi soal pembangunan Aceh, baik secara langsung maupun melalui platform digital. Topik yang dibahas pun beragam, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga masa depan sektor pertanian dan potensi pelabuhan di kawasan barat selatan Aceh.

Komitmen Teuku Malik bukan hanya di ranah wacana. Ia telah mewujudkannya dalam bentuk nyata, antara lain dengan mendirikan Arayan Market di Lampaseh, Banda Aceh, yang tak hanya membuka lapangan kerja tapi juga menjadi ruang usaha berbasis lokal. Ia juga berinvestasi di sektor properti, membangun rumah kos untuk mahasiswa dan pekerja, serta menjalin kemitraan pertanian untuk mendukung ketahanan pangan lokal.

Tak hanya di Aceh, ia juga mengembangkan sejumlah guest house dan vila di Bali, ikut membawa nama Aceh dalam kancah pariwisata nasional dan internasional.

Berasal dari keluarga sederhana – anak seorang mantan jaksa – Teuku Malik melihat keberhasilannya di luar negeri sebagai awal dari tanggung jawab untuk berkontribusi. Baginya, diaspora Aceh punya peran penting dalam mendorong kemajuan daerah.

Namanya dikenal luas, bukan hanya di New Jersey, tetapi juga di komunitas Indonesia di Philadelphia, Harrisburg, New York, dan wilayah East Coast lainnya. Ia aktif dalam kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan, menjadi jembatan silaturahmi antarwarga diaspora.

“Sosok seperti Teuku Malik ini langka,” kata seorang diaspora asal Sumatera Barat. “Sudah sukses, tapi tetap membumi. Dan yang paling penting, ia punya visi membangun. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk orang banyak.”

Dalam perbincangan, Teuku Malik menyampaikan harapannya agar kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan diaspora bisa membawa Aceh ke arah yang lebih baik. Ia juga mengajak generasi muda untuk terus belajar, membangun jejaring global, dan mencintai tanah kelahiran.

“Jangan pernah lelah mencintai Aceh, meski kita jauh. Justru dari kejauhan, kita bisa melihatnya lebih jernih. Dan dari luar, kita bisa membantu lebih luas,” ujarnya.

Teuku Malik adalah potret perantau yang tidak lupa akar budayanya. Ia membuktikan bahwa sukses bukan semata-mata soal materi, tapi juga tentang kepedulian, komitmen sosial, dan keberanian untuk terus berkontribusi bagi kampung halaman.

Editor: Akil