Beranda blog Halaman 50

Kakanwil Kemenag Aceh Resmi Buka Bimtek TKA MTs, Dorong Peningkatan Kapasitas Guru dan Siswa

0
Kakanwil Kemenag Aceh Resmi Buka Bimtek TKA MTs, Dorong Peningkatan Kapasitas Guru dan Siswa. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Aceh, Drs H Azhari MSi, resmi membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi guru madrasah jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) Angkatan I Tahun 2026, Jumat sore, 6 Maret 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut digelar di Hotel Grand Permata Hati Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, dan dijadwalkan berakhir pada Sabtu (7/3).

Dalam kegiatan itu, sebanyak 259 peserta guru Madrasah Tsanawiyah (Guru MTK) dari berbagai kabupaten/kota di Aceh mengikuti pelatihan tersebut.

Di hadapan para peserta, Azhari berharap pelaksanaan bimtek yang berlangsung pada bulan Ramadan ini dapat melahirkan guru pendamping yang semakin kompeten dalam membimbing siswa.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan peran serta kapasitas guru MTK dalam pengembangan diri yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kemampuan akademik siswa.

Para guru, kata dia, juga diharapkan dapat mendampingi peserta didik di madrasah secara maksimal agar kemampuan mereka terus berkembang.

“Juga kita harapkan supaya anak-anak harus paham dan harus mampu berkompetisi dalam aneka ajang perlombaan,” ujarnya.

Kakanwil membuka kegiatan tersebut didampingi Kabid Penmad Kanwil Kemenag Aceh, H Khairul Azhar SAg MSi.

Peringatan Nuzulul Qur’an di Takengon, Bupati Aceh Tengah Dorong Gerakan Membaca Al-Qur’an

0
Bupati Aceh Tengah Dorong Gerakan Membaca Al-Qur’an Saat Peringatan Nuzulul Qur’an di Takengon. (Foto: HUMAS AT)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menggelar peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan penguatan program Gemar Membaca Al-Qur’an, Jumat malam (06/03/2026) di Masjid Agung Ruhama, Takengon.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah qari ternama, di antaranya Teungku Haji Hamli Yunus, S.Ag., qari internasional yang sekaligus menyampaikan ceramah pada malam itu. Selain itu, hadir pula Teungku Ihsan Abu Bakar, S.E., qari internasional yang bertindak sebagai imam, serta Teungku Abdurrahman Embede dan Teungku Ilham Nurdin yang merupakan qari tingkat provinsi.

Dalam sambutannya, Bupati Aceh Tengah Drs. Haili Yoga, M.Si menyampaikan bahwa momentum Nuzulul Qur’an menjadi pengingat bagi umat Islam untuk semakin mencintai, membaca, serta memahami Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah saat ini tengah menjalankan program Gemar Membaca Al-Qur’an yang menyasar seluruh lapisan masyarakat, termasuk aparatur pemerintahan.

“Saya selalu bertanya kepada Pak Wakil Bupati, Sekda, para kepala dinas, camat, kepala desa, kepala puskesmas, hingga kepala sekolah, apakah hari ini sudah membaca Al Qur’an. Saya juga sering mengingatkan melalui pesan singkat dan saat turun langsung ke lapangan”, ujar Bupati.

Menurutnya, program tersebut menargetkan pada tahun 2026 sedikitnya 60 persen masyarakat Aceh Tengah memiliki kebiasaan membaca Al-Qur’an. Bahkan dalam empat tahun ke depan, pemerintah daerah menargetkan angka tersebut meningkat hingga mencapai 90 persen.

“Target kami bersama adalah menjadikan Aceh Tengah sebagai daerah yang Islami, dengan masyarakat yang hidup bersama Al-Qur’an”, tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga memberikan apresiasi kepada pengurus Masjid Agung Ruhama yang dinilai aktif menggelar berbagai kegiatan keagamaan. Beberapa program yang dijalankan di antaranya Ahad Berkah, santunan anak yatim, layanan bagi musafir, serta pengajian rutin yang dinilai turut menghidupkan syiar Islam di Aceh Tengah.

Selain membahas kegiatan keagamaan, Bupati Haili Yoga juga menyinggung informasi yang sempat beredar mengenai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan bahan pokok di wilayah Aceh Tengah. Ia memastikan bahwa setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak serta melakukan pengecekan langsung bersama jajaran Forkopimda, kondisi ketersediaan BBM dan bahan pokok di daerah tersebut masih aman.

Bupati menyebutkan bahwa stok beras di gudang Bulog saat ini mencapai sekitar 600 ton dan dalam waktu dekat akan ditambah sekitar 1.000 ton lagi. Ia juga memastikan ketersediaan minyak goreng serta kebutuhan pokok lainnya mencukupi hingga menyambut bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan yang dapat memicu kepanikan di tengah masyarakat.

“Tidak perlu membeli BBM, beras, atau minyak goreng secara berlebihan karena semuanya sudah disiapkan oleh pemerintah”, tegasnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga menugaskan Satpol PP bersama Polres serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk melakukan pemantauan harga di sejumlah pasar, mulai dari wilayah Ketol, Silih Nara, Pegasing, hingga kecamatan lainnya.

Menutup sambutannya, Bupati Haili Yoga mengajak masyarakat menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup serta membiasakan membaca Al-Qur’an bersama keluarga setiap hari.

“Sayangi keluarga kita dengan Al Qur’an. Pastikan tidak ada satu pun anggota keluarga kita yang tidak membaca Al Qur’an setiap hari, karena Al Qur’an adalah pedoman hidup kita di dunia dan juga di akhirat”, pungkasnya.

Kapolda Aceh Imbau Warga Tak Menimbun BBM, Peringatkan Ancaman Pidana

0
Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penimbunan bahan bakar minyak (BBM) karena tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum dan dapat dikenakan sanksi pidana.

“Kami ingatkan masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan serta tidak menimbunnya. Penimbunan BBM merupakan tindakan ilegal dan dapat dipidana karena merugikan masyarakat,” kata Marzuki Ali Basyah di Banda Aceh, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan menyusul antrean panjang yang terjadi di hampir seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Provinsi Aceh.

Kapolda menjelaskan, pelaku penimbunan BBM dapat dijerat dengan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Dalam aturan tersebut, pelaku terancam hukuman maksimal enam tahun penjara serta denda paling banyak Rp60 ribu.

Selain itu, Kapolda juga mengingatkan para pedagang eceran agar tidak menjual BBM di atas harga normal. Menurutnya, praktik penjualan dengan harga yang melebihi ketentuan juga termasuk tindakan yang merugikan masyarakat.

Marzuki Ali Basyah turut mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Ia menegaskan bahwa pasokan serta distribusi BBM di Aceh masih berjalan normal.

“Informasi beredar di masyarakat terkait angka 20 hari bukan menunjukkan keterbatasan pasokan BBM, melainkan cadangan operasional yang disiapkan untuk menjaga stabilitas distribusi,” katanya.

Pihak Pertamina, lanjutnya, telah menjelaskan bahwa angka 20 hari tersebut merupakan cadangan operasional BBM. Bahkan, kapasitas penyimpanan yang tersedia mampu menampung pasokan hingga sekitar 25 hingga 26 hari.

“Polda Aceh terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Selain itu, jajaran kepolisian juga melakukan langkah-langkah preventif dengan memberikan pengamanan di sejumlah SPBU,” kata Marzuki Ali Basyah.

Aznal Zahri Wakili Gubernur Aceh Hadiri Rakor Ketahanan Operasi Migas BPMA

0
Aznal Zahri Wakili Gubernur Aceh Hadiri Rakor Ketahanan Operasi Migas BPMA. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Kepala Dinas Pertanahan Aceh, T Aznal Zahri, mewakili Gubernur Aceh Muzakkir Manaf, menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Ketahanan Operasi Minyak dan Gas Bumi yang digelar Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) di Kompleks Perkantoran BPMA, Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026).

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri para pemangku kepentingan sektor energi di Aceh, termasuk perwakilan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di wilayah Aceh.

Dalam sambutannya, Aznal menekankan pentingnya penguatan koordinasi lintas sektor guna mendukung kelancaran investasi dan operasional industri minyak dan gas bumi di Aceh.

Menurutnya, pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memastikan berbagai aspek pendukung industri migas berjalan optimal, mulai dari tata kelola lahan, kepastian regulasi daerah, hingga dukungan terhadap iklim investasi yang kondusif.

“Koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah, BPMA, dan pelaku industri sangat penting untuk memastikan kegiatan eksplorasi dan produksi migas di Aceh dapat berjalan lancar serta berkelanjutan,” kata Aznal.

Ia menambahkan, forum koordinasi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, BPMA, dan perusahaan migas, sehingga potensi energi Aceh dapat dikelola secara optimal, transparan, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Di tengah dinamika industri energi global, Aceh dinilai masih memiliki peluang besar untuk kembali menjadi salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi penting di Indonesia. Namun, hal tersebut membutuhkan dukungan seluruh pihak melalui stabilitas kebijakan, kepastian investasi, serta kolaborasi berkelanjutan di sektor strategis tersebut.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pedagang Peci di Sekitar Masjid Raya Baiturrahman Kebanjiran Pembeli pada Pertengahan Ramadan

0
Pedagang Kopiah/Peci di seitaran Masjid Raya Baiturrahman. (Foto: Nuikilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Memasuki hari ke-16 bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, pedagang peci di kawasan Masjid Raya Baiturrahman mulai merasakan lonjakan penjualan dibandingkan hari-hari biasa.

Seperti yang terlihat di lapak Al-Sorum, amatan Nukilan.id pada Jumat (6/3/2026), aktivitas jual beli peci mulai meningkat seiring ramainya masyarakat yang berkunjung ke kawasan masjid ikonik di Banda Aceh tersebut.

Salah seorang pedagang yang menjaga lapak tersebut, Musliadi, tampak baru saja menata dan mengeluarkan dagangannya. Kepada Nukilan.id, ia mengaku suasana Ramadan tahun ini membawa berkah tersendiri bagi lapaknya karena jumlah pembeli meningkat signifikan.

“Alhamdulillah bang, bulan puasa adalah peningkatan penualan dibanding hari-hari bisa,” katanya.

Menurutnya, perbandingan penjualan antara hari biasa dan bulan Ramadan cukup jauh. Pada hari-hari biasa, jumlah peci yang terjual tidak mencapai angka tinggi. Namun selama Ramadan, penjualan bisa melonjak tajam.

“Kalau hari biasa laku dibawah 100, tapi sekarang bisa laku 100-120 peci,” ujarnya.

Lonjakan penjualan tersebut juga berdampak pada pendapatan hariannya. Musliadi menjelaskan bahwa peci yang dijual di lapak tersebut bukan miliknya. Ia hanya bertugas menjaga lapak dengan sistem upah per barang yang terjual.

Ia mengaku menerima imbalan sebesar Rp5.000 untuk setiap peci yang berhasil terjual.

Lapak Al-Sorum sendiri menyediakan berbagai jenis peci, baik merek lokal maupun produk dari luar daerah. Untuk produk lokal, tersedia peci yang diproduksi di Geudong, Aceh Utara, serta dari Lhokseumawe. Selain itu, ada pula peci yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Harga peci yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari Rp30.000 hingga Rp70.000 per buah, tergantung jenis dan kualitasnya. Menurut Musliadi, harga yang paling umum dibeli pelanggan berada di kisaran Rp50.000.

Untuk menarik minat pembeli selama Ramadan, lapak Al-Sorum juga memberikan promo khusus untuk jenis peci rajut.

“Kalau yang rajut ini kita ada promo, beli dua gratis satu,” tambahnya.

Ramadan memang menjadi momen yang dinanti para pedagang perlengkapan ibadah di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Selain meningkatnya aktivitas ibadah, banyak masyarakat juga memanfaatkan bulan suci ini untuk membeli peci baru sebagai pelengkap saat melaksanakan salat berjamaah maupun menyambut Hari Raya Idulfitri. (XRQ)

Reporter: Akil

Kadis ESDM Aceh Pimpin Upacara Perdana, Tekankan Disiplin dan Sinergi Wujudkan Visi Gubernur

0
Kadis ESDM Aceh Pimpin Upacara Perdana. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Asnawi, S.T., M.S.M., memimpin upacara rutin perdana di lingkungan Dinas ESDM Aceh yang digelar di halaman kantor setempat, Senin (2/3/2026).

Upacara tersebut menjadi momen pertama Asnawi bertindak sebagai pembina upacara sejak resmi dilantik oleh Gubernur Aceh pada Sabtu, 28 Februari 2026 di Anjong Mon Mata, Banda Aceh.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu diikuti oleh sekretaris dinas, para kepala bidang, pejabat eselon IV, serta seluruh staf Dinas ESDM Aceh. Upacara berlangsung tertib dan khidmat.

Dalam amanatnya, Asnawi menekankan pentingnya kerja sama dan sinergi seluruh jajaran dalam mendukung serta mewujudkan visi dan misi Gubernur Aceh. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program tidak dapat dicapai secara individu.

“Kita harus saling bekerja sama dan bersinergi untuk mewujudkan serta menjalankan visi dan misi Bapak Gubernur Aceh. Tidak ada keberhasilan yang diraih secara individual. Semua harus bergerak bersama dalam satu tujuan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya disiplin kerja, khususnya dalam mematuhi jam kerja. Ia menegaskan agar seluruh pegawai tidak menggunakan waktu dinas untuk kegiatan di luar tugas.

“Saya meminta kepada seluruh pegawai untuk meningkatkan disiplin jam kerja. Jangan menghabiskan waktu di warung kopi pada saat jam kerja. Setelah Lebaran nanti, pengawasan akan kita perketat. Jangan sampai ada staf Dinas ESDM Aceh yang terjaring razia pada saat jam kerja,” tegasnya.

Lebih lanjut, Asnawi menyampaikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) telah disahkan, sehingga seluruh jajaran diminta segera mengoptimalkan pelaksanaan program prioritas yang telah direncanakan.

Ia juga mengajak seluruh pegawai untuk menjaga integritas serta memperkuat kepercayaan dalam pengelolaan sektor energi dan sumber daya mineral di Aceh.

“Mari kita saling percaya dan bekerja sama untuk mewujudkan tata kelola energi dan sumber daya mineral di Aceh menjadi semakin baik, transparan, dan efisien. Semua ini kita lakukan demi satu tujuan besar: kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Aceh.” tutupnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pemuda ICMI Hadir di Podcast Sahabat Zakat BMK Aceh Selatan, Bahas Transparansi Dana Umat

0
Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan bersama MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan kembali menghadirkan ruang dialog publik melalui program Podcast Kito Sahabat Zakat sebagai sarana penyampaian informasi yang terbuka terkait pengelolaan dana umat. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan bersama MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan kembali menghadirkan ruang dialog publik melalui program Podcast Kito Sahabat Zakat sebagai sarana penyampaian informasi yang terbuka terkait pengelolaan dana umat.

Kegiatan tersebut berlangsung di Studio Podcast Sekretariat Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (6/3/2026).

Pada episode kali ini, podcast mengangkat tema “Transparansi Zakat, Pondasi Aceh Selatan Maju.” Diskusi menghadirkan narasumber Sri Kurniati SE yang menjabat sebagai Kasubbag Umum Sekretariat Baitul Mal Aceh Selatan.

Acara dipandu oleh Hasbaini S.Pd, M.Pd, dosen Politeknik Aceh Selatan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan. Kegiatan podcast tersebut turut didukung oleh Zakirto sebagai kameramen sekaligus editor.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan reflektif, para narasumber membahas pentingnya keterbukaan informasi publik, laporan keuangan yang akuntabel, serta berbagai langkah yang dilakukan Baitul Mal untuk menjaga kepercayaan masyarakat.

Transparansi dalam pengelolaan zakat dinilai menjadi salah satu kunci utama agar dana umat dapat dikelola secara amanah dan memberikan manfaat luas bagi kesejahteraan masyarakat.

Kepala Sekretariat Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa SE, kepada Nukilan.id menyampaikan bahwa transparansi bukan hanya kewajiban administratif lembaga, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat.

“Zakat adalah amanah umat. Karena itu, setiap rupiah yang dikelola harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Melalui Podcast Sahabat Zakat ini, kami ingin memastikan masyarakat mengetahui bagaimana dana zakat dihimpun, dikelola, dan disalurkan secara transparan untuk kemaslahatan bersama.” kata Gusmawi.

Sementara itu, Ketua Umum MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan, Ir T Irwansyah ST, menilai podcast tersebut menjadi ruang edukasi publik yang penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan zakat yang modern dan akuntabel.

“Transparansi adalah jembatan kepercayaan antara lembaga dan masyarakat. Ketika kepercayaan tumbuh, partisipasi umat dalam berzakat juga akan meningkat. Pada akhirnya, zakat bukan hanya ibadah, tetapi kekuatan sosial ekonomi yang mampu mendorong kemajuan Aceh Selatan.” ujar Irwansyah.

Melalui Podcast Kito Sahabat Zakat, Baitul Mal Aceh Selatan bersama MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan berharap masyarakat semakin memahami pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana umat.

Dengan keterbukaan dan akuntabilitas yang terus dijaga, zakat diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong kesejahteraan serta kemajuan masyarakat Aceh Selatan. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Gubernur Aceh Lantik Pejabat Eselon II, Asnawi Nahkodai Dinas ESDM

0
Asnawi, S.T., M.S.M., yang kini resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh. (Foto: Dok Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, resmi melantik dan mengambil sumpah jabatan sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II) di lingkungan Pemerintah Aceh, Jumat malam (28/2/2026). Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Anjong Mon Mata, Banda Aceh.

Pelantikan ini merupakan bagian dari langkah penyegaran organisasi serta penguatan tata kelola pemerintahan guna meningkatkan efektivitas kinerja perangkat daerah. Dalam sambutannya, Gubernur menegaskan bahwa rotasi dan promosi jabatan merupakan strategi penting untuk menjawab tantangan pembangunan Aceh ke depan.

“Pelantikan ini bukan sekadar seremonial, tetapi amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya meminta seluruh pejabat yang dilantik untuk bekerja profesional, inovatif, dan berorientasi pada kepentingan rakyat,” ujar Gubernur.

Ia juga mengingatkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) agar menjadikan visi dan misi Pemerintah Aceh 2025–2030, yakni “Aceh Islami, Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan”, sebagai arah kebijakan dan landasan kerja di setiap lini pemerintahan.

Salah satu pejabat yang dilantik adalah Asnawi, S.T., M.S.M., yang kini resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh. Ia menggantikan Taufik, S.T., M.Si., yang pada kesempatan yang sama dipercaya sebagai Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Aceh.

Penunjukan Asnawi dinilai sebagai bagian dari upaya Pemerintah Aceh dalam memperkuat sektor energi dan sumber daya mineral, yang memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam arahannya, Gubernur menyampaikan harapan khusus kepada pimpinan baru Dinas ESDM agar mampu menghadirkan tata kelola sektor energi dan pertambangan yang transparan, akuntabel, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Sektor energi dan sumber daya mineral adalah salah satu kekuatan Aceh. Saya harap kepemimpinan yang baru mampu memastikan pengelolaan yang berkeadilan, berkelanjutan, serta memberikan kontribusi signifikan terhadap masyarakat dan pembangunan Aceh,” tegasnya.

Gubernur turut menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, percepatan realisasi program strategis, serta pengawasan ketat terhadap pengelolaan sumber daya alam agar tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan kepentingan masyarakat luas.

Pelantikan ini diharapkan mampu mendorong kinerja birokrasi yang lebih adaptif dan responsif dalam menjawab kebutuhan pembangunan Aceh ke depan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Kakanwil Kemenag Aceh Ajak Umat Jadikan Al-Qur’an Pedoman Hidup

0
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada Jumat, 6 Maret 2026. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada Jumat, 6 Maret 2026, bertepatan dengan 16 Ramadan. Dalam khutbahnya, ia mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman dalam menjalani kehidupan.

Amatan Nukilan.id, Azhari di hadapan jamaah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw menerima mukjizat terbesar berupa Al-Qur’anul Karim, yang diturunkan Allah SWT melalui Malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Wahyu pertama diturunkan pada bulan Ramadan ketika Nabi Muhammad saw berkhalwat di Gua Hira.

Ia mengutip firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan bahwa Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk tersebut serta pembeda antara yang benar dan yang batil.

Menurutnya, dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Al-Qur’an sebagai petunjuk ditujukan bagi orang-orang beriman yang meyakini kebenarannya dan mengamalkan ajarannya. Selain itu, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai bayyinat atau penjelasan yang menjadi dalil jelas bagi manusia dalam membedakan antara kebenaran dan kebatilan, termasuk dalam persoalan halal dan haram.

Dalam khutbahnya, Azhari menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia.

“Al-Qur’an sebagai huda linnas (petunjuk hidup), membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya. Di dalamnya terdapat pedoman akidah, ibadah, akhlak, muamalah, hingga aturan sosial. Di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan, Al-Quran tetap relevan. Ia bukan sekadar kitab bacaan, tetapi kitab pedoman. Siapa yang berpegang teguh kepadanya, tidak akan tersesat,” ujarnya.

Ia juga mengutip firman Allah dalam QS Al-Isra ayat 9 yang menyatakan bahwa Al-Qur’an memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus serta membawa kabar gembira bagi orang-orang beriman yang berbuat kebajikan.

Dalam penjelasannya, Azhari memaparkan bahwa konsep Al-Qur’an sebagai “huda” atau petunjuk setidaknya dapat dipahami melalui lima aspek kehidupan umat Islam.

Pertama, petunjuk dalam akidah. Al-Qur’an membimbing manusia untuk mengenal Allah, memahami tujuan hidup, serta menyadari adanya hari akhir. Dengan berpegang pada ajaran Al-Qur’an, seseorang tidak akan mudah putus asa saat tertimpa musibah dan tidak pula menjadi sombong ketika memperoleh keberhasilan.

Kedua, petunjuk dalam ibadah. Al-Qur’an menjelaskan berbagai perintah ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Selain tata cara pelaksanaannya, Al-Qur’an juga menanamkan nilai keikhlasan, ketakwaan, dan ketaatan dalam menjalankan ibadah kepada Allah.

Ketiga, petunjuk dalam akhlak. Menurut Azhari, Al-Qur’an menjadi pedoman utama dalam membentuk akhlak mulia. Di dalamnya terdapat perintah untuk berlaku jujur, bersabar, rendah hati, dan menjaga amanah, sekaligus larangan untuk berbuat zalim, sombong, dan menyakiti orang lain.

Ia mencontohkan bahwa seseorang yang berpegang pada ajaran Al-Qur’an akan menghindari berbagai bentuk kecurangan, baik di lingkungan kerja, sekolah, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagang tidak akan mengurangi timbangan, pegawai tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan seorang muslim tetap menjaga puasanya meski tidak ada orang lain yang melihat.

Keempat, petunjuk dalam keluarga. Al-Qur’an memberikan tuntunan dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Di dalamnya terdapat ajaran mengenai tanggung jawab suami, istri, serta kewajiban orang tua dalam mendidik anak dengan nilai tauhid, akhlak, dan kebiasaan ibadah sejak dini.

Kelima, petunjuk dalam muamalah. Al-Qur’an juga mengatur hubungan sosial dan ekonomi antar manusia. Prinsip-prinsip seperti keadilan, kejujuran, amanah, serta larangan berbuat zalim menjadi dasar dalam setiap transaksi.

Sebagai contoh, Al-Qur’an melarang praktik riba dan mendorong keadilan dalam jual beli. Setiap transaksi dianjurkan dilakukan secara jujur, tanpa penipuan, dan tidak merugikan pihak lain. Bahkan dalam urusan utang piutang dianjurkan untuk mencatat perjanjian agar tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari.

Selain itu, Islam juga mengajarkan agar upah diberikan tepat waktu sesuai kesepakatan, serta mendorong umat untuk menunaikan zakat dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial.

Di akhir khutbahnya, Azhari mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.

Ia mengingatkan bahwa upaya tersebut dapat dimulai dari hal yang paling sederhana, yakni membaca Al-Qur’an, kemudian mentadabburi maknanya, serta mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan untuk dekat dengan Al-Quran, huda linnas, petunjuk bagi setiap manusia,” pungkasnya. (XRQ)

Ketua IKA Ilmu Pemerintahan USK: Panic Buying BBM di Aceh Dipicu Trauma Krisis Energi Sebelumnya

0
Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK), T. Auliya Rahman. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Fenomena pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan atau panic buying yang terjadi di Aceh dinilai bukan sekadar perilaku ikut-ikutan (fear of missing out/FOMO), melainkan bentuk kewaspadaan masyarakat terhadap potensi krisis energi.

Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK), T. Auliya Rahman, mengatakan kekhawatiran masyarakat muncul setelah memanasnya konflik internasional yang berdampak pada rantai pasok minyak dunia.

“Panic Buying BBM di Aceh bukan FOMO, itu wajar,” kata Auliya Rahman dalam keterangannya kepada Nukilan.id, Jumat (6/3/2025).

Menurutnya, perang antara Amerika-Israel dengan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan telah memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu perdagangan minyak dunia dan mengancam cadangan energi, termasuk di Indonesia.

Dengan akses informasi yang semakin cepat, kata dia, kabar mengenai situasi tersebut dengan mudah tersebar di masyarakat dan memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan BBM.

Auliya menilai fenomena panic buying di Aceh tidak bisa dilepaskan dari pengalaman krisis energi yang pernah dirasakan masyarakat sebelumnya.

“Masyarakat Aceh baru saja mengalami kondisi sulit akibat terganggunya pasokan energi ketika bencana banjir melanda wilayah Sumatera pada Desember lalu,” jelas Auliya, yang saat ini tengah menempuh studi Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Saat itu, kata dia, akses distribusi BBM sempat terputus sehingga masyarakat kesulitan memperoleh bahan bakar dan gas untuk kebutuhan sehari-hari.

“Masyarakat Aceh tentunya masih trauma dengan kondisi gelap dan mencekam, tanpa adanya persediaan minyak dan gas untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari,” ujarnya.

Selain faktor trauma krisis energi, Auliya juga menilai fenomena panic buying mencerminkan tingkat kepercayaan publik terhadap kesiapan pemerintah pusat dalam menjamin ketersediaan BBM.

Meski Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan cadangan minyak nasional masih aman setidaknya untuk 25 hari ke depan, ia menilai sebagian masyarakat Aceh masih bersikap skeptis terhadap pernyataan tersebut.

Ia menyinggung pengalaman saat bencana banjir sebelumnya, ketika pemerintah pusat menjanjikan pemulihan pasokan listrik dan BBM dalam waktu cepat.

“Namun masyarakat Aceh sudah terlanjur skeptis dengan ‘omon-omon’ Pemerintah Pusat,” katanya.

Auliya berharap pemerintah dapat memastikan stabilitas pasokan energi, terutama bagi Aceh yang hingga kini masih berada dalam tahap pemulihan pascabencana banjir Aceh–Sumatera.

Ia menegaskan kepastian ketersediaan BBM sangat penting bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di daerah tersebut. (XRQ)