Beranda blog Halaman 50

Menikmati Sejuknya Pemandian Humaira

0
Objek wisata Pemandian Humaira di Gampong Pudeng, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.ID | ACEH BESAR — Aliran air yang jernih di antara bebatuan besar berpadu dengan rindangnya pepohonan tua menciptakan suasana sejuk dan menenangkan di Pemandian Humaira, salah satu destinasi wisata alam yang berada di Gampong Pudeng, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.

Destinasi wisata alam tersebut menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana tenang di tengah alam terbuka. Berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh atau sekitar satu setengah jam perjalanan, lokasi ini menawarkan pemandangan perbukitan hijau dan bentang alam khas pesisir barat Aceh sepanjang perjalanan menuju kawasan wisata.

Sesampainya di lokasi, pengunjung langsung disuguhkan panorama kolam alami yang terbentuk dari aliran sungai pegunungan. Airnya jernih dengan warna hijau kebiruan yang memantulkan bayangan pepohonan di sekelilingnya, sementara bebatuan besar yang tersebar di sepanjang aliran sungai menambah kesan alami dan eksotis.

Pantauan jurnalis Nukilan, di beberapa sudut pengunjung tampak bersantai sambil duduk di atas ban pelampung, sebagian lainnya memilih berfoto dengan latar pepohonan raksasa yang berdiri kokoh di tengah aliran sungai. Pemandangan itu menjadikan kawasan ini sebagai salah satu lokasi favorit untuk berburu foto dan mengabadikan momen bersama keluarga maupun sahabat.

Di balik suasana alami yang kini menjadi daya tarik wisatawan, kawasan ini ternyata baru dikembangkan beberapa tahun terakhir. Petugas Wisata Pemandian Humaira, Dandi Sananta, mengatakan objek wisata tersebut mulai dibentuk pada awal 2020, bertepatan dengan masa pandemi COVID-19.

Menurut Dandi, nama Humaira diambil dari nama anak pemilik yang berinisiatif mengembangkan lokasi tersebut hingga menjadi destinasi wisata seperti saat ini.

“Dulu ini hanya aliran sungai biasa yang dipenuhi bebatuan dan belum ada kolam seperti sekarang,” kata Dandi kepada Nukilan.

Melihat potensi yang ada, pemilik kemudian mulai menata kawasan tersebut dengan membentuk sejumlah kolam kecil agar lebih nyaman dan menarik bagi pengunjung. Setelah melalui proses pengembangan, Wisata Humaira mulai dibuka untuk umum pada pertengahan 2020 dan terus berkembang hingga menjadi salah satu destinasi wisata yang dikenal masyarakat saat ini.

Objek wisata Pemandian Humaira di Gampong Pudeng, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: Nukilan/Rezi)

Salah seorang pengunjung, Widya, mengaku sengaja datang bersama temannya untuk merasakan suasana alam yang masih asri di Pemandian Humaira. Menurutnya, destinasi wisata tersebut sangat cocok menjadi tempat melepas penat setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama sepekan.

“Tempatnya nyaman dan airnya juga sangat jernih. Yang saya suka, di sini tidak ada pungutan lain. Kita cukup bayar sekali saat masuk,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Widya menambahkan, kebersihan kawasan wisata juga menjadi nilai tambah karena hampir tidak terlihat sampah berserakan di sekitar area pemandian, sehingga membuat pengunjung semakin nyaman berlama-lama di sana.

Ia juga menyebut kawasan Lhoong yang dikenal sebagai penghasil durian membuat pengalaman berwisata semakin lengkap saat musim panen tiba. Kebetulan, kunjungannya kali ini bertepatan dengan musim durian sehingga ia bersama temannya sempat mencicipi langsung buah berjuluk raja buah tersebut.

“Kami datang untuk refreshing. Suasananya tenang, udaranya sejuk, dan kebetulan lagi musim durian. Jadi setelah mandi dan menikmati alam, kami juga bisa makan durian. Lengkap sekali,” ucap Widya sambil tersenyum.

Soal harga, Pemandian Humaira juga tergolong ramah di kantong. Pengunjung hanya dikenakan biaya Rp5 ribu untuk kendaraan roda dua dan Rp15 ribu untuk kendaraan roda empat — tarif yang membuat destinasi ini menjadi alternatif wisata keluarga yang ekonomis namun tetap menawarkan suasana alam yang terjaga, udara pegunungan yang sejuk, serta aliran air yang menyegarkan.

Bagi siapa pun yang merindukan suasana alam yang masih alami, Pemandian Humaira di Lhoong menawarkan lebih dari sekadar tempat berwisata. Di antara aliran air yang jernih dan rindangnya pepohonan, tersimpan ketenangan yang membuat pengunjung ingin kembali lagi.

Reporter: Rezi

Akun IB Bank Aceh Terblokir? Nasabah Bisa Reset Secara Mandiri

0
Poster informasi layanan pemulihan akun Bank Aceh Syariah. (Foto: Dok Bank Aceh Syariah)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Nasabah Bank Aceh Syariah yang mengalami pemblokiran layanan Internet Banking (IB) maupun aplikasi Action Mobile kini dapat memanfaatkan sejumlah layanan yang disediakan untuk memulihkan akses akun mereka.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Bank Aceh Syariah, pemblokiran umumnya terjadi akibat kesalahan memasukkan password atau M-PIN sebanyak tiga kali berturut-turut.

“Pemblokiran biasanya terjadi akibat salah memasukkan password atau M-PIN sebanyak 3 kali berturut-turut,” tulis Bank Aceh dalam informasi layanan tersebut, dilansir Nukilan, Senin (15/6/2026).

Untuk mengatasi kendala tersebut, nasabah dapat melakukan reset secara mandiri melalui fitur yang tersedia di aplikasi Action Mobile. Selain itu, bantuan juga dapat diperoleh melalui layanan Contact Center Bank Aceh yang beroperasi selama 24 jam.

Pada kasus tertentu, seperti kehilangan kartu SIM, dugaan penyalahgunaan akun, atau penggunaan user ID korporasi, nasabah disarankan mendatangi kantor cabang Bank Aceh terdekat untuk proses verifikasi lebih lanjut.

Bank Aceh juga mengingatkan pentingnya menjaga kerahasiaan data perbankan guna menghindari potensi penyalahgunaan akun.

“Jangan berikan User ID, Password, PIN ATM, atau M-PIN kepada siapa pun,” tegas Bank Aceh.

Bank Aceh Syariah merupakan bank yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta menjadi peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). []

Reporter: Sammy

BPJN Pacu Pelebaran Ruas Jalan Calang–Simpang Peut di Nagan Raya

0
pembangunan jalan rusak di Kabupaten Aceh Barat. (ANTARA/Teuku Dedi Iskandar)

NUKILAN.ID | SUKA MAKMUE – Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh saat ini terus memacu pengerjaan preservasi jalan dan jembatan pada ruas Calang menuju Simpang Peut, Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini, mengatakan proyek tersebut bertujuan untuk memperlancar arus lalu lintas sekaligus meningkatkan kualitas jalan agar memenuhi standar nasional.

“Proyek ini bertujuan utama untuk memperlancar arus lalu lintas di kawasan tersebut, sekaligus meningkatkan kualitas jalan agar mampu mencapai standar nasional,” kata Zulkarnaini di Nagan Raya, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, pelebaran ruas jalan yang saat ini dikerjakan BPJN Aceh melalui PPK 2 merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan kelancaran mobilitas masyarakat serta menaikkan standar infrastruktur jalan di wilayah tersebut.

Zulkarnaini menjelaskan bahwa pekerjaan yang sedang berlangsung bukan pembangunan jalan baru, melainkan program perluasan atau pelebaran badan jalan yang telah ada sebelumnya.

Dia merinci, pelebaran dilakukan pada sisi kiri dan kanan jalan masing-masing selebar 1,5 meter. Dengan penambahan tersebut, total lebar badan jalan mencapai 6 meter. Sementara itu, panjang ruas jalan yang masuk dalam proyek preservasi tersebut mencapai 3,35 kilometer.

“Ini perluasan, jadi kita luaskan jalan ini, pelebaran kiri-kanan 1,5 dengan 1,5 meter, jadi badannya sudah ada 6 meter. Ini panjangnya total 3,35 kilometer,” jelasnya.

Terkait target penyelesaian proyek, Zulkarnaini optimistis pekerjaan dapat dirampungkan sesuai jadwal yang telah ditetapkan, yakni pada akhir kuartal ketiga tahun 2026.

“Ini insya Allah kita target selesai tanggal 10 September 2026 tahun ini, insya Allah,” katanya menambahkan.

Ia juga menyebutkan bahwa proyek pelebaran jalan tersebut berkaitan dengan instruksi Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Dody Hanggodo, terutama dalam mendukung kelancaran mobilisasi material dan akses menuju berbagai fasilitas publik, termasuk sekolah rakyat.

Zulkarnaini menegaskan pihaknya berkomitmen menjalankan seluruh arahan pemerintah pusat demi memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya di wilayah Aceh Barat dan Nagan Raya.

“Ini salah satunya, jadi instruksi dari Pak Menteri tetap kita jalankan. Semua yang diinstruksikan oleh beliau adalah untuk melancarkan semua lalu lintas, kemudian juga untuk bermanfaat ya untuk masyarakat yang ada di Aceh, khususnya ini di Aceh Barat dan Nagan Raya,” pungkasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Polda Aceh Tanam Jagung Bersama Petani Muda di Pidie untuk Perkuat Ketahanan Pangan

0
Polda Aceh meluncurkan program penanaman jagung bersama komunitas petani muda milenial Kabupaten Pidie di Desa Blang Lueun, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie. Kegiatan penanaman jagung tersebut dilakukan oleh Wakapolda Aceh, Ari Wahyu Widodo, mewakili Kapolda Aceh, Marzuki Ali Basyah, pada Minggu (14/6/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | SIGLI – Polda Aceh meluncurkan program penanaman jagung bersama komunitas petani muda milenial Kabupaten Pidie di Desa Blang Lueun, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie.

Kegiatan penanaman jagung tersebut dilakukan oleh Wakapolda Aceh, Ari Wahyu Widodo, mewakili Kapolda Aceh, Marzuki Ali Basyah, pada Minggu (14/6/2026).

Program ini merupakan bentuk dukungan Polda Aceh terhadap program prioritas nasional di bidang ketahanan pangan, sekaligus upaya mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan sektor pertanian yang melibatkan generasi muda.

Dalam amanat Kapolda Aceh yang dibacakan Wakapolda Aceh, disampaikan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok internasional, dinamika geopolitik, pertumbuhan penduduk, hingga ancaman krisis pangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas suatu negara.

“Dalam kondisi seperti ini, kemampuan suatu bangsa untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri menjadi salah satu indikator penting ketahanan nasional. Karena itu, penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia,” ujar Wakapolda Aceh.

Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor pertanian, tetapi juga berkaitan erat dengan stabilitas sosial, ekonomi, dan keamanan. Menurutnya, negara yang kuat adalah negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara mandiri dan berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan peluncuran penanaman jagung di lahan seluas sekitar 40 hektare yang berada di Kecamatan Simpang Tiga. Lahan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra produksi jagung yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Polda Aceh juga memberikan apresiasi kepada komunitas petani muda milenial Kabupaten Pidie yang telah berperan aktif mendukung program ketahanan pangan. Keterlibatan generasi muda di sektor pertanian dinilai menjadi harapan baru dalam mewujudkan pertanian yang maju, modern, dan berkelanjutan di Aceh.

“Petani muda harus menjadi agen perubahan, penggerak pembangunan desa, sekaligus pelopor kebangkitan sektor pertanian di Aceh. Dengan semangat inovasi dan pemanfaatan teknologi, sektor pertanian akan semakin produktif dan mampu bersaing,” tuturnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program tersebut, Wakapolda Aceh bersama Ketua Bhayangkari Daerah Aceh, Ira Marzuki, serta para pejabat utama Polda Aceh menyerahkan bantuan secara simbolis kepada kelompok tani. Bantuan yang diberikan berupa bibit jagung, pupuk, dan ecoenzyme guna mendukung keberhasilan program penanaman jagung di wilayah tersebut.

Melalui program ini, Polda Aceh berharap pengembangan sektor pertanian, khususnya komoditas jagung, dapat menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Pidie dan Aceh secara umum.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Imigrasi Banda Aceh Hadirkan Layanan Pasporia di CFD, Permudah Warga Urus Paspor pada Akhir Pekan

0
Petugas Imigrasi Banda Aceh melayani permohonan paspor di kawasan CPD Banda Aceh, Minggu (14/6/2026). (Foto: Humas Imigrasi Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui berbagai inovasi yang memudahkan masyarakat. Salah satu terobosan yang kini dihadirkan adalah program Pasporia (Paspor Minggu Ceria), yang dilaksanakan di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Banda Aceh, Minggu (14/6/2026).

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh, Bambang Tri Cahyono, mengatakan program tersebut merupakan bentuk layanan jemput bola yang sengaja diselenggarakan sejak pukul 06.30 WIB untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengurus dokumen perjalanan.

“Kami ingin memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Melalui Pasporia, pelayanan keimigrasian diintegrasikan dengan aktivitas rekreatif warga di akhir pekan,” kata Bambang.

Menurutnya, Pasporia bukan sekadar memindahkan lokasi pelayanan dari kantor ke ruang terbuka. Program ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan publik yang modern, adaptif, dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Masyarakat bisa berolahraga, menikmati suasana pagi di CFD, sekaligus menyelesaikan urusan paspor mereka secara produktif dalam satu waktu,” jelas Bambang.

Ia menambahkan, layanan tersebut menjadi solusi bagi warga yang memiliki aktivitas padat dan kesulitan meluangkan waktu pada hari kerja untuk mengurus paspor maupun dokumen perjalanan luar negeri lainnya.

Meski dilaksanakan dalam waktu terbatas dan di area terbuka, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Petugas berhasil melayani 13 permohonan paspor yang terdiri atas tujuh permohonan paspor baru dan enam permohonan penggantian atau perpanjangan paspor.

Bambang menilai jumlah tersebut menunjukkan respons positif masyarakat terhadap model pelayanan yang lebih fleksibel dan mudah dijangkau.

Selain memberikan kemudahan akses, layanan Pasporia juga tetap mengedepankan prinsip transparansi, baik terkait persyaratan maupun biaya pelayanan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bawah Direktorat Jenderal Imigrasi.

Ke depan, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai inovasi pelayanan publik guna menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

“Serta memenuhi ekspektasi masyarakat akan pelayanan publik yang cepat, mudah, transparan, dan menjangkau seluruh lapisan. Imigrasi untuk rakyat,” kata Bambang Tri Cahyono.

Tingginya minat masyarakat terhadap layanan Pasporia juga mendapat perhatian dari jajaran pimpinan Direktorat Jenderal Imigrasi. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Aceh, Tato Juliadin Hidayawan, hadir langsung untuk meninjau pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Kehadiran Kakanwil Imigrasi Aceh tersebut menjadi bentuk pengawasan langsung terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Dalam kesempatan itu, ia juga berdialog dengan sejumlah pemohon paspor untuk mendengarkan pengalaman, testimoni, serta masukan terkait layanan yang diberikan.

Tato memberikan apresiasi terhadap inovasi pelayanan yang dilakukan Kantor Imigrasi Banda Aceh. Ia juga menekankan pentingnya menjaga standar pelayanan meskipun kegiatan dilaksanakan dalam suasana yang lebih santai di ruang terbuka.

“Konsepnya boleh santai di ruang terbuka, namun SOP, ketelitian dalam verifikasi berkas, dan sikap humanis tidak boleh kendor sedikit pun,” kata Tato Juliadin Hidayawan.

Menurutnya, Pasporia menjadi bukti bahwa reformasi birokrasi tidak hanya sebatas konsep, tetapi benar-benar diterapkan hingga ke tingkat Unit Pelaksana Teknis (UPT).

Ia mengatakan Pasporia adalah bukti nyata bahwa reformasi birokrasi di tingkat Unit Pelaksana Teknis (UPT) berjalan secara nyata, bukan sekadar slogan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Hasil Piala Dunia 2026: Jerman Hancurkan Curacao 7-1, Kai Havertz Cetak Dua Gol

0
Jerman Hancurkan Curacao 7-1, Kai Havertz Cetak Dua Gol. (Foto: FIFA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Timnas Jerman mengawali langkahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan. Menghadapi debutan Curacao pada laga perdana Grup E, Die Mannschaft tampil dominan dan menutup pertandingan dengan kemenangan telak 7-1 di Houston Stadium, Senin (15/6/2026) dini hari WIB.

Meski sempat dikejutkan oleh gol penyeimbang Curacao pada babak pertama, Jerman mampu menunjukkan kualitasnya dengan mencetak tujuh gol melalui Felix Nmecha, Nico Schlotterbeck, Jamal Musiala, Nathaniel Brown, Deniz Undav, serta dua gol dari Kai Havertz.

Jerman Langsung Menekan

Amatan Nukilan.id, Tim asuhan Jerman langsung mengambil inisiatif serangan sejak peluit pertama dibunyikan. Tekanan tinggi yang dibangun sejak awal pertandingan membuahkan hasil cepat.

Felix Nmecha membuka keunggulan pada menit keenam. Gelandang tersebut melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti setelah menerima umpan Florian Wirtz. Bola meluncur deras ke gawang Curacao dan membawa Jerman unggul 1-0.

Unggul lebih dulu membuat Jerman semakin percaya diri menguasai jalannya pertandingan. Peluang demi peluang terus tercipta, sementara Curacao memilih bertahan dan mengandalkan serangan balik.

Curacao Sempat Memberi Kejutan

Di tengah dominasi Jerman, Curacao berhasil mencuri gol pada menit ke-21. Bruno Locadia menusuk ke area pertahanan lawan sebelum bola jatuh ke kaki Livano Comenencia. Tanpa banyak kontrol, Comenencia melepaskan tembakan ke sudut gawang yang gagal dijangkau Manuel Neuer.

Gol tersebut sempat mengubah skor menjadi 1-1 dan memberi harapan bagi tim debutan itu.

Namun, keunggulan Curacao tidak bertahan lama. Pada menit ke-38, Nico Schlotterbeck sukses memanfaatkan sepak pojok Nathaniel Brown. Sundulannya mengarah tepat ke gawang sehingga membawa Jerman kembali memimpin.

Menjelang turun minum, Die Mannschaft memperoleh hadiah penalti setelah Felix Nmecha dilanggar di dalam kotak terlarang. Kai Havertz yang dipercaya sebagai algojo menjalankan tugasnya dengan sempurna untuk mengubah skor menjadi 3-1.

Keunggulan tersebut bertahan hingga babak pertama usai.

Babak Kedua Jadi Milik Die Mannschaft

Jerman langsung memperbesar keunggulan sesaat setelah babak kedua dimulai. Baru satu menit laga berjalan, Jamal Musiala menyelesaikan umpan terobosan Joshua Kimmich dengan penyelesaian akurat yang membuat skor berubah menjadi 4-1.

Dominasi Jerman semakin sulit dibendung. Nathaniel Brown ikut mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-68 setelah menyambar umpan pendek Deniz Undav di depan gawang.

Sepuluh menit kemudian, giliran Deniz Undav mencetak gol. Serangan rapi yang dibangun dari lini tengah diakhiri dengan umpan tarik Joshua Kimmich yang diselesaikan Undav dari jarak dekat.

Pesta gol Jerman ditutup oleh Kai Havertz pada penghujung pertandingan. Penyerang Arsenal itu menerima umpan terobosan dari Deniz Undav sebelum melewati kawalan bek lawan dan melepaskan penyelesaian yang memastikan kemenangan telak 7-1.

Awal Sempurna di Grup E

Kemenangan besar ini menjadi modal penting bagi Jerman dalam persaingan Grup E. Selain meraih tiga poin, Die Mannschaft juga mengantongi selisih gol yang sangat menguntungkan untuk menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya.

Sebaliknya, Curacao yang baru pertama kali tampil di putaran final Piala Dunia harus belajar dari kekalahan tersebut. Meski sempat memberi perlawanan melalui gol Livano Comenencia, mereka kesulitan mengimbangi kualitas permainan Jerman sepanjang laga.

Pencetak gol:

Jerman: Felix Nmecha (6′), Nico Schlotterbeck (38′), Kai Havertz (45+), Jamal Musiala (46′), Nathaniel Brown (68′), Deniz Undav (78′), Kai Havertz (86′).

Curacao: Livano Comenencia (21′). (xrq)

Asprindo Usulkan Skema Hybrid untuk Pengembangan Blok Andaman

0
migas
Ilustrasi Migas Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) mengusulkan penerapan skema hybrid dalam pengembangan Blok Andaman sebagai solusi yang dinilai mampu menyeimbangkan kepentingan investasi dengan manfaat ekonomi bagi daerah. Usulan tersebut mencuat di tengah pembahasan rencana pengembangan (Plan of Development/POD) South Andaman yang saat ini masih menunggu keputusan pemerintah.

Ketua Umum Asprindo Jose Rizal kepada Nukilan.id menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua opsi utama dalam pengembangan proyek gas tersebut. Opsi pertama adalah seluruh gas diproses di laut menggunakan fasilitas Floating Production Storage Offloading (FPSO) sebagaimana yang diusulkan operator. Opsi kedua adalah seluruh gas diproses di darat melalui Onshore Processing Facility (OPF), sebagaimana yang didorong oleh Pemerintah Aceh.

Menurut Jose, kedua opsi tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda, baik dari sisi investasi maupun manfaat ekonomi yang dapat diterima daerah.

Pada skema FPSO, seluruh proses pengolahan gas dilakukan di laut sehingga dianggap lebih efisien dari sisi investasi dan dapat mempercepat pengambilan keputusan investasi atau Final Investment Decision (FID). Namun, dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat daerah dinilai tidak terlalu besar.

Sementara itu, skema OPF membutuhkan pembangunan infrastruktur tambahan di darat yang membuat kebutuhan investasinya lebih besar. Meski demikian, model tersebut diyakini mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan mendukung kebutuhan energi untuk pengembangan industri di Aceh.

Melihat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing opsi, Jose menilai skema hybrid dapat menjadi jalan tengah yang mengakomodasi kepentingan seluruh pihak.

“Investor dipermudah, pemerintah pusat tidak dirugikan, dan masyarakat Aceh juga tetap mendapatkan benefit jangka panjang,” kata Jose dalam keterangan tertulis, Ahad (14/6/2026).

Dalam skema yang diusulkan Asprindo, sekitar 60 persen gas diproses melalui fasilitas FPSO untuk menjaga keekonomian proyek sekaligus memberikan kepastian bagi investor. Sedangkan 40 persen sisanya dialirkan ke fasilitas pengolahan gas di darat yang dibangun di Aceh.

“Jangan semua di laut. Jangan semua di darat. Bagi dua, 60 persen gas diproses di FPSO, biar investor Mubadala yakin dan FID 2026 jalan. Selebihnya, 40 persen gas dipipa ke OPF mini di Lhokseumawe. Cukup buat menyalakan PLTU PLN Aceh dan menghidupkan Pupuk Iskandar Muda. Ini sekaligus bisa membuka 3.000-5.000 lapangan kerja tetap untuk anak Aceh,” paparnya.

Jose menegaskan bahwa pendekatan hybrid dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan negara, investor, dan masyarakat lokal. Menurutnya, pemerintah pusat tetap memperoleh penerimaan negara, investor mendapatkan kepastian investasi, sementara masyarakat Aceh memperoleh manfaat berupa lapangan kerja dan akses energi untuk pengembangan industri.

“Pusat tetap dapat penerimaan negara. Investor dapat kepastian. Rakyat Aceh dapat kerja dan gas murah untuk bangun industri sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar pembahasan pengembangan Blok Andaman tidak berlangsung terlalu lama karena berpotensi menghambat realisasi investasi yang diperkirakan mencapai 7 miliar dolar AS.

Selain itu, Jose mendorong Pemerintah Aceh untuk mengajukan opsi hybrid kepada pemerintah pusat sebagai alternatif penyelesaian perbedaan pandangan terkait pengembangan proyek gas tersebut.

“Aceh setuju POD, asal skemanya hybrid dan gas untuk rakyat Aceh diprioritaskan,” imbuhnya.

Menurut Jose, pengembangan Blok Andaman tidak hanya perlu mempertimbangkan aspek investasi semata, tetapi juga harus memperhatikan dampak ekonomi jangka panjang yang dapat dirasakan masyarakat di daerah penghasil, sehingga keberadaan proyek tersebut benar-benar memberikan manfaat berkelanjutan bagi Aceh. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Sekda Aceh: Pengabdian Abu Doto Akan Selalu Tercatat dalam Sejarah Aceh

0
sekda aceh
Sekda Aceh, M. Nasir, S.IP, MPA, saat memberikan sambutan pada acara Launching Buku Irjen Pol Drs. Marzuki Ali Basyah, MM, dengan Judul Polda Aceh Meutuah "Sabe Tajaga Aceh Mulia", di Gedung Landmark BSI, Banda Aceh, Rabu, (3/6/2026). (Foto; Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya mantan Gubernur Aceh periode 2012–2017, dr. Zaini Abdullah atau yang lebih dikenal dengan sapaan Abu Doto.

Menurut M. Nasir, sosok Abu Doto telah memberikan kontribusi besar bagi Aceh melalui berbagai gagasan, pemikiran, dan pengabdian yang didedikasikannya selama hidup. Karena itu, jejak pengabdiannya akan selalu menjadi bagian penting dari sejarah Aceh.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf almarhum, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kesabaran dan ketabahan,” ujar M. Nasir, Minggu (14/6/2026).

Sebagaimana diketahui, Abu Doto mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (13/6/2026) setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

M. Nasir menuturkan bahwa semasa hidupnya, Abu Doto tidak hanya dikenal sebagai seorang dokter yang mengabdikan diri di bidang kesehatan, tetapi juga sebagai pemimpin yang memiliki perhatian besar terhadap pembangunan Aceh serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia menilai, selama memimpin Aceh sebagai gubernur pada periode 2012–2017, dr. Zaini Abdullah telah memberikan kontribusi penting dalam mengarahkan pembangunan daerah. Berbagai kebijakan dan langkah yang diambilnya dinilai turut mewarnai perjalanan pembangunan Aceh pascakonflik dan pascatsunami.

Selain itu, M. Nasir menegaskan bahwa semangat pengabdian dan komitmen Abu Doto dalam melayani masyarakat patut dijadikan teladan oleh generasi penerus. Nilai-nilai dedikasi yang ditunjukkan almarhum selama hidup diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk terus berkontribusi bagi kemajuan Aceh.

Pada kesempatan tersebut, M. Nasir juga mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk bersama-sama mendoakan almarhum agar memperoleh husnul khatimah dan seluruh amal baik yang telah dilakukan selama hidup diterima sebagai amal jariyah di sisi Allah SWT.

Wafatnya Abu Doto meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh. Sosok yang dikenal sebagai dokter, tokoh perjuangan, dan pemimpin daerah itu dikenang atas dedikasinya dalam membangun Aceh serta upayanya memperjuangkan kesejahteraan rakyat selama masa pengabdiannya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Beasiswa PIP Usulan Teuku Riefky Harsya Mengalir ke Ribuan Pelajar di Aceh Selatan

0

NUKILAN.ID | ACEH SELATAN – Sebanyak 4.682 pelajar di Kabupaten Aceh Selatan menerima bantuan Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) Tahun 2026 yang diusulkan oleh Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Program bantuan pendidikan tersebut menyasar siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), hingga sekolah menengah kejuruan (SMK) yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sosialisasi sekaligus penyerahan simbolis beasiswa berlangsung di dua lokasi berbeda pada Minggu, 14 Juni 2026. Kegiatan pertama digelar di Alifa Land, Desa Padang Bakau, Kecamatan Labuhanhaji, dan dihadiri Wakil Bupati Aceh Selatan Baital Mukadis, Anggota DPRA Romi Syaputra, Koordinator PIP Aceh Selatan Misrizal, serta Penanggung Jawab Beasiswa PIP Usulan Teuku Riefky Harsya, Aidil Mashendra.

Sementara kegiatan kedua berlangsung di SD Negeri 1 Seubadeh, Kecamatan Bakongan Timur. Acara tersebut turut dihadiri Anggota DPRK Aceh Selatan Jasmar, bersama para koordinator PIP tingkat kecamatan, yakni Rendri, Lo Pratiwi, dan Liza Safitri.

Dalam kesempatan itu, Aidil Mashendra mengatakan penyaluran Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2026 diharapkan dapat membantu para siswa memenuhi kebutuhan pendidikan sekaligus mendorong mereka untuk terus berprestasi di sekolah.

“Tahun ini, sebanyak 4.682 siswa di Aceh Selatan yang bersekolah di bawah Kementerian Pendidikan, mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK, menerima beasiswa Program Indonesia Pintar dari usulan Teuku Riefky Harsya,” kata Aidil dalam keterangannya saat kegiatan berlangsung.

Penyerahan secara simbolis beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) usulan Teuku Riefky Harsya dalam kegiatan yang berlangsung di SD Negeri 1 Seubadeh, Kecamatan Bakongan Timur, Aceh Selatan pada Minggu, 14 Juni 2026. FOTO/dok. Rumoh Aspirasi TRH

Ia berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para penerima untuk menunjang kebutuhan pendidikan, seperti membeli perlengkapan sekolah, buku, maupun kebutuhan belajar lainnya.

Salah seorang siswa penerima beasiswa mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Menurut dia, dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan sekolah yang selama ini menjadi beban bagi keluarganya.

“Saya senang sekali mendapatkan bantuan ini. Uangnya akan saya gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah dan kebutuhan belajar. Terima kasih kepada Bapak Teuku Riefky Harsya yang sudah membantu kami,” ujar seorang siswa penerima PIP.

Ungkapan serupa disampaikan salah seorang wali murid penerima bantuan. Ia menilai program tersebut sangat membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.

“Harapan saya, beasiswa ini bisa terus berlanjut ke depannya. Kalau bisa, dengan jabatan Pak Riefky yang sekarang sebagai menteri, lebih banyak lagi kuota beasiswa bagi pelajar di Aceh Selatan,” katanya. []

TTI Soroti Keterlambatan Tender Lanjutan RS Regional Tapaktuan Senilai Rp13,8 Miliar

0
RS Regional Yulidin Away Tapaktuan. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Koordinator Transparansi Tender Indonesia (TTI), Nasruddin Bahar, menyesalkan belum diumumkannya proses tender lanjutan pembangunan Rumah Sakit Regional Yulidin Away Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, dengan nilai anggaran mencapai Rp13,8 miliar pada tahun 2026.

Menurut Nasruddin, keterlambatan proses tender tersebut berpotensi menghambat percepatan pembangunan fasilitas kesehatan yang sangat dibutuhkan masyarakat Aceh Selatan dan wilayah sekitarnya.

“Jika proses tender sudah diumumkan sejak awal tahun, saat ini progres pekerjaan diperkirakan sudah bisa mencapai sekitar 30 persen. Keterlambatan ini tentu berdampak terhadap target penyelesaian pembangunan rumah sakit,” kata Nasruddin Bahar kepada Nukilan, Minggu (14/6/2026).

Ia mengingatkan agar kegagalan tender lanjutan pembangunan RS Regional Tapaktuan yang terjadi pada tahun 2025 tidak kembali terulang pada tahun 2026. Menurutnya, apabila proses tender tahun 2025 dapat berjalan tepat waktu sejak awal tahun, kemungkinan besar tidak akan terjadi proses tender ulang yang berujung pada tertundanya pelaksanaan pekerjaan.

TTI juga meminta Kepala Dinas Kesehatan Aceh selaku Pengguna Anggaran (PA) dan Unit Layanan Pengadaan (ULP) Aceh memberikan penjelasan resmi kepada publik terkait penyebab keterlambatan proses tender tersebut. Menurut Nasruddin, alasan belum siapnya dokumen tender sulit diterima apabila dijadikan dasar keterlambatan, mengingat dokumen pekerjaan serupa telah tersedia pada pelaksanaan tender tahun sebelumnya.

“Kami meminta adanya penjelasan terbuka kepada masyarakat mengenai di mana sebenarnya letak hambatan proses tender ini. Jika disebutkan karena dokumen belum siap, tentu perlu dijelaskan secara rinci karena dokumen tender tahun sebelumnya sudah pernah disusun,” katanya.

Lebih lanjut, TTI mengaku mencermati adanya dugaan faktor nonteknis yang berpotensi mempengaruhi lambannya proses pengadaan. Namun demikian, pihaknya meminta seluruh pihak terkait tetap menjunjung tinggi prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah.

TTI juga meminta Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) untuk proaktif melakukan pengawasan terhadap seluruh tahapan proses tender guna mencegah potensi penyalahgunaan wewenang maupun pelanggaran hukum.

“APIP harus mengawal proses ini sejak awal agar setiap potensi penyimpangan dapat diantisipasi sebelum terjadi. Pengawasan yang efektif akan memperkuat kepercayaan publik terhadap proses pengadaan pemerintah,” tuturnya. []

Reporter: Sammy