Beranda blog Halaman 5

Pemko Banda Aceh Salurkan Bantuan Perlengkapan Sekolah untuk 250 Anak Yatim

0
PEMKO BANDA ACEH
emerintah Kota Banda Aceh menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada 250 anak yatim yang berasal dari 11 gampong di sembilan kecamatan. (FOTO: HUMAS BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada 250 anak yatim yang berasal dari 11 gampong di sembilan kecamatan. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan hak pendidikan anak menjelang dimulainya tahun ajaran baru.

Penyaluran bantuan berlangsung pada Jumat (10/7/2026). Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyerahkan bantuan secara langsung di Aula Kecamatan Ulee Kareng dan Aula Kecamatan Kuta Alam.

Bantuan yang diberikan meliputi tas sekolah, seragam, buku, dan berbagai perlengkapan belajar lainnya untuk membantu anak-anak mempersiapkan diri memasuki sekolah.

“Kita akan segera memasuki tahun ajaran baru. Insya Allah, tanggal 13 Juli anak-anak sudah mulai masuk sekolah. Karena itu, Pemko Banda Aceh membantu menyediakan berbagai perlengkapan sekolah, mulai dari seragam, buku, tas, hingga kebutuhan belajar lainnya untuk anak-anak yatim,” ujar Illiza.

Ia berharap bantuan tersebut dapat memberikan motivasi sekaligus meningkatkan rasa percaya diri anak-anak yatim dalam mengikuti proses belajar di sekolah.

“Mudah-mudahan anak-anak kita bisa bersekolah dengan baik dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti teman-temannya yang lain,” katanya.

Illiza menjelaskan, bantuan perlengkapan sekolah bagi anak yatim merupakan program rutin yang dilaksanakan Pemerintah Kota Banda Aceh setiap tahun melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kota Banda Aceh.

“Program ini sudah menjadi agenda tahunan kita. Tahun lalu kita laksanakan, dan tahun ini kembali kita lanjutkan. Selain bantuan perlengkapan sekolah, kita juga memiliki program Belanja Yatim yang dilaksanakan setiap Ramadan. Ini adalah bentuk komitmen kita untuk terus hadir dan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim,” ungkapnya.

Menurut Illiza, perhatian terhadap anak yatim tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat agar kesejahteraan mereka dapat terus ditingkatkan.

“Mudah-mudahan semakin banyak pihak yang memiliki kemampuan dapat turut peduli terhadap anak-anak yatim, sehingga mereka dapat tumbuh dan bersekolah dengan rasa percaya diri, menggunakan perlengkapan yang sama seperti anak-anak lainnya tanpa ada perbedaan,” tuturnya.

Program bantuan ini bertujuan membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah anak yatim, meringankan beban ekonomi keluarga maupun wali, meningkatkan semangat belajar, serta memperluas akses pendidikan yang setara bagi seluruh anak.

Pemerintah Kota Banda Aceh juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program sosial yang menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal dan Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah, perhatian terhadap anak yatim terus menjadi salah satu fokus pembangunan sosial.

Selain bantuan perlengkapan sekolah, pemerintah kota secara konsisten menjalankan program Belanja Yatim pada bulan Ramadan, menyalurkan santunan sosial, serta mendorong keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam mendukung perlindungan dan kesejahteraan anak yatim.

Melalui berbagai program tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh berharap setiap anak, termasuk anak yatim, memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Polres Aceh Timur Selidiki Penemuan Jenazah Bayi Perempuan di Sungai Arakundo

0
Polres Aceh Timur, Polda Aceh, masih menyelidiki penemuan jenazah bayi perempuan yang ditemukan mengapung di aliran Sungai Arakundo, tepatnya di Dusun Blang Raya, Desa Kuala Teupin Breuh, Kecamatan Simpang Ulim, Minggu (12/7/2026). (FOTO: POLRES ACEH TIMUR)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Polres Aceh Timur, Polda Aceh, masih menyelidiki penemuan jenazah bayi perempuan yang ditemukan mengapung di aliran Sungai Arakundo, tepatnya di Dusun Blang Raya, Desa Kuala Teupin Breuh, Kecamatan Simpang Ulim, Minggu (12/7/2026).

Penyelidikan difokuskan untuk mengungkap identitas bayi sekaligus menelusuri pihak yang diduga bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Informasi mengenai penemuan jenazah bayi diterima personel piket Polsek Simpang Ulim sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah menerima laporan, petugas segera menuju lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) sebelum Tim Identifikasi Satreskrim Polres Aceh Timur melakukan olah TKP.

Kapolres Aceh Timur AKBP Irwan Kurniadi, S.I.K. melalui Kasat Reskrim AKP Novrizaldi, S.H., mengatakan penyelidikan dilakukan secara menyeluruh guna mengungkap identitas bayi maupun pihak yang diduga membuangnya.

“Setiap informasi sekecil apa pun akan kami dalami. Fokus kami saat ini adalah mengungkap identitas bayi serta menelusuri siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa ini. Kami mengajak masyarakat yang mengetahui informasi terkait untuk turut membantu penyelidikan dengan menyampaikannya kepada kepolisian,” ujar AKP Novrizaldi.

Jenazah bayi kemudian dievakuasi ke Puskesmas Simpang Ulim untuk menjalani pemeriksaan medis. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, bayi berjenis kelamin perempuan tersebut diperkirakan berusia sekitar dua hari saat ditemukan. Sementara itu, hasil pemeriksaan luar tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan yang diduga menjadi penyebab kematian.

Dari keterangan sejumlah saksi, bayi itu pertama kali terlihat hanyut di sungai sebelum dievakuasi ke tepi oleh seorang warga menggunakan pelepah sawit. Perangkat desa selanjutnya melaporkan temuan tersebut kepada pihak kepolisian.

Dalam proses penyelidikan, polisi telah melakukan sejumlah langkah, di antaranya mengamankan lokasi, memasang garis polisi, melakukan olah TKP, memeriksa para saksi, mendokumentasikan temuan di lapangan, serta berkoordinasi dengan Polsek Simpang Ulim untuk mendata perempuan yang diketahui melahirkan dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir.

“Langkah tersebut merupakan bagian dari proses penyelidikan untuk mempersempit pencarian identitas bayi dan memastikan seluruh fakta yang berkaitan dengan perkara ini dapat terungkap secara objektif. Kami bekerja berdasarkan alat bukti dan keterangan yang diperoleh di lapangan.” Ungkap Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, AKP Novrizaldi, S.H.

Setelah proses identifikasi dan pemeriksaan medis selesai, jenazah bayi dimandikan dan dimakamkan oleh masyarakat Dusun Blang Raya, Desa Kuala Teupin Breuh, Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Peresmian Bendungan Keureuto dan Rukoh, Mualem: Sangat Bermanfaat bagi Aceh

0
GUBERNUR ACEH
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem). (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas peresmian Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara dan Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie.

“Berfungsinya dua bendungan itu, sangat bermanfaat bagi Aceh,” kata Gubernur Mualem, Sabtu (11/7/2026).

Peresmian kedua bendungan tersebut dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (10/7/2026) bersamaan dengan tiga bendungan lainnya di Indonesia. Acara dipusatkan di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), sementara Bendungan Keureuto, Bendungan Rukoh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, dan Bendungan Sidan di Bali diresmikan secara hybrid.

Mewakili Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M. Nasir Syamaun bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh mengikuti prosesi peresmian secara virtual dari lokasi Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie.

Dalam kesempatan itu, Nasir menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas rampungnya pembangunan dua bendungan yang telah lama dinantikan masyarakat Aceh.

“Pemerintah Aceh menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum atas penyelesaian dua bendungan di Aceh,” kata Sekda Nasir yang didampingi Kepala Dinas Pengairan Aceh, Erwin Ferdiansyah.

Ia menjelaskan, Bendungan Keureuto mulai dibangun pada 2015 dengan nilai kontrak mencapai Rp2,961 triliun, sedangkan Bendungan Rukoh mulai dikerjakan pada 2018 dengan nilai kontrak sekitar Rp1,7 triliun.

“Alhamdulillah sekarang sudah diresmikan Bapak Presiden Prabowo,” kata Nasir.

Menurutnya, penyelesaian Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh sebagai Proyek Strategis Nasional akan memperkuat ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan energi, sekaligus mendukung pengendalian banjir di Aceh.

Nasir menjelaskan, kedua bendungan tersebut memiliki kapasitas layanan irigasi hingga 26.889 hektare. Bendungan Keureuto memiliki kapasitas tampung mencapai 215 juta meter kubik air.

“Manfaatnya, bendungan itu dapat melayani 14.695 hektar irigasi, penyediaan air baku 650 liter per detik, pengendalian banjir 627 hektar. Bahkan memiliki potensi pembangkit Listrik PLTA 6,34 MW dan potensi PLTS terapung 179 MW sebagai energi baru terbarukan,” katanya.

Sementara itu, Bendungan Rukoh memiliki kapasitas tampung sekitar 128 juta meter kubik air.

“Bendungan Rukoh melayani irigasi 12.194 hektar di Daerah Irigasi Baro Raya, menyediakan air baku 900 liter per detik untuk 20 kecamatan, mengendalikan banjir 51 hektar, dan potensi pengembangan PLTMH 1,22 MW dan PLTS 137 MW,” katanya.

Nasir menambahkan, optimalisasi pemanfaatan kedua bendungan tersebut diharapkan mampu memperkuat program swasembada pangan nasional melalui peningkatan indeks pertanaman.

“Sebanyak 384 ton per tahun,” katanya. “Ketahanan air bagi masyarakat dan kawasan industri, pengembangan energi hijau, dan pengurangan risiko banjir,” katanya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Lahan Pertanian Aceh Mulai Pulih, Sekda Apresiasi Peran Satgas PRR

0
Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Upaya pemulihan sektor pertanian di wilayah Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi terus menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan mempercepat program rehabilitasi lahan sawah agar aktivitas pertanian masyarakat dapat kembali berjalan normal.

Hingga awal Juli 2026, realisasi program optimalisasi lahan telah mencapai 32 persen. Program tersebut menjadi bagian dari percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di 18 kabupaten/kota terdampak bencana di Aceh.

Kemajuan pemulihan itu ditandai dengan gerakan tanam padi perdana pascabencana hidrometeorologi yang digelar di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (5/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi simbol dimulainya kembali musim tanam sekaligus komitmen pemerintah dalam mengembalikan produktivitas lahan dan memperkuat ketahanan pangan di daerah terdampak.

Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir, mewakili Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf, mengatakan bencana hidrometeorologi telah memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian.

Sebanyak 57.364 hektare lahan sawah dan 60.438 hektare lahan perkebunan terdampak, dengan Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat banjir yang membawa lumpur serta material lainnya.

Meski demikian, proses pemulihan terus mengalami kemajuan. Menurut M. Nasir, capaian optimalisasi lahan yang telah mencapai 32 persen merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam melaksanakan konstruksi pemulihan di 18 kabupaten/kota, sebagai bagian dari upaya mengembalikan produktivitas pertanian dan mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.

“Kami berterima kasih kepada Menteri Pertanian dan seluruh jajaran Kementerian Pertanian yang bergerak cepat membantu petani kita. Pemulihan ini menjadi prioritas utama agar roda perekonomian masyarakat kembali normal,” ujar M. Nasir.

Ia menjelaskan, proses pemulihan dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kerusakan lahan. Untuk lahan dengan kerusakan ringan dilakukan optimalisasi, sementara lahan dengan kerusakan sedang menjalani rehabilitasi. Adapun lahan yang mengalami kerusakan lebih berat akan diolah kembali setelah seluruh pekerjaan konstruksi selesai sehingga dapat segera ditanami.

Selain pemulihan lahan, pemerintah juga memperkuat infrastruktur pendukung guna memperlancar proses produksi hingga distribusi hasil pertanian. Berbagai program yang dijalankan meliputi pembangunan dan rehabilitasi irigasi pemompaan, irigasi perpipaan, bangunan konservasi, jaringan irigasi tersier, hingga pembangunan Jalan Usaha Tani yang menjadi akses penting bagi mobilitas petani dan distribusi hasil panen.

M. Nasir turut menyampaikan apresiasi kepada Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Menteri Pertanian Amnar Sulaian beserta jajaran Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Kodam Iskandar Muda, kelompok tani, serta seluruh pihak yang terlibat dalam percepatan pemulihan sektor pertanian.

Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mengembalikan produktivitas lahan yang sebelumnya terdampak banjir sehingga mampu kembali menggerakkan perekonomian masyarakat.

Gerakan tanam padi perdana di Aceh Tamiang menjadi penanda dimulainya kembali musim tanam di kawasan terdampak bencana. M. Nasir juga mengajak para petani memanfaatkan momentum tersebut dengan mengoptimalkan musim tanam, menjaga semangat gotong royong, serta mengikuti arahan pemerintah dan pemangku adat.

“Tanam perdana hari ini bukan sekadar rutinitas menaburkan benih, melainkan simbol bahwa petani kita tetap kuat, semangat, dan optimis dalam menjaga pasokan pangan di Aceh tetap aman,” ujarnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Taman Budaya Negeri Gayo Diresmikan, Jadi Ruang Pelestarian Seni dan Budaya

0
GAYO
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah meresmikan Taman Budaya Negeri Gayo di halaman Gedung Olah Seni Takengon, Jumat (10/7/2026). (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah meresmikan Taman Budaya Negeri Gayo di halaman Gedung Olah Seni Takengon, Jumat (10/7/2026).

Peresmian dilakukan oleh Menteri Kebudayaan RI yang diwakili Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI, Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum.

Dalam sambutannya, Agus Mulyana mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang menghadirkan ruang khusus untuk pelestarian dan pengembangan budaya Gayo. Ia menyebut peresmian taman budaya di tingkat kabupaten merupakan pengalaman pertama yang ia temui selama menghadiri berbagai agenda kebudayaan di berbagai daerah di Indonesia.

“Ini menjadi sebuah kebanggaan. Aceh Tengah memiliki sejarah dan kebudayaan yang sangat kuat sehingga perlu terus dijaga sebagai identitas masyarakat”, ujarnya.

Menurut Agus, derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital membuat generasi muda semakin mudah terpapar budaya luar. Karena itu, keberadaan Taman Budaya Negeri Gayo diharapkan dapat menjadi wadah untuk memperkuat jati diri masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap lestari.

Ia juga menegaskan Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya atau mega diversity. Sesuai amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, budaya tidak hanya harus dilestarikan, tetapi juga dimanfaatkan dan dikembangkan agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Hadirnya Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian tersendiri menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memajukan kebudayaan nasional. Budaya harus menjadi identitas sekaligus mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi melalui industri budaya”, katanya.

Sebelum menghadiri peresmian, Agus mengaku telah meninjau museum di Aceh Tengah. Ia mengatakan usulan revitalisasi museum tersebut masih dalam tahap pembahasan di Kementerian Kebudayaan dan diharapkan memperoleh dukungan anggaran pada tahun ini.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Kebudayaan atas perhatian pemerintah pusat terhadap upaya pengembangan kebudayaan di Negeri Gayo.

Ia menjelaskan Aceh Tengah merupakan daerah yang terbuka terhadap keberagaman adat dan budaya. Kehidupan seni masyarakat juga berkembang dengan baik, tercermin dari berbagai pertunjukan musik hingga tradisi yang menjadikan kesenian sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelaksanaan pesta adat dan pernikahan.

Haili Yoga turut menyampaikan bahwa kondisi Aceh Tengah yang sebelumnya terdampak banjir dan longsor kini mulai berangsur pulih. Aktivitas masyarakat maupun kunjungan ke daerah tersebut disebut mulai meningkat kembali.

“Kami berharap budaya Gayo terus mendapat perhatian pemerintah pusat. Kehadiran Taman Budaya Negeri Gayo menjadi langkah penting untuk melestarikan, mengembangkan, sekaligus mempromosikan seni dan budaya daerah kepada generasi mendatang”, ungkapnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pemerintah Didesak Jadikan KEK Arun Pusat Hilirisasi Gas Blok Andaman

0
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe. (Foto: Antara/Rahmad)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Transparansi Tender Indonesia (TTI) mendesak pemerintah menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun di Aceh sebagai lokasi pengolahan gas Blok Andaman. Langkah itu dinilai penting agar manfaat ekonomi dari proyek migas tersebut tidak mengalir ke daerah lain.

Koordinator TTI, Nasruddin Bahar, mengatakan rencana pemerintah yang masih mengkaji lokasi pengolahan gas harus diarahkan untuk memperkuat industri di Aceh. Menurutnya, keberadaan KEK Arun memberikan peluang besar bagi daerah untuk memperoleh nilai tambah dari pengembangan Blok Andaman.

“Kalau gas Andaman hanya dialirkan ke luar Aceh tanpa diolah di KEK Arun, daerah ini hanya akan menjadi penonton. Yang kami dorong adalah agar industri, investasi, dan lapangan kerja tumbuh di Aceh, bukan di wilayah lain,” kata Nasruddin dalam keterangannya kepada Nukilan, Minggu (12/7/2026).

Ia menilai KEK Arun memiliki modal yang memadai untuk menjadi pusat hilirisasi gas. Selain didukung infrastruktur yang telah tersedia, kawasan tersebut juga memiliki rekam jejak sebagai pusat industri migas nasional sehingga siap mendukung pengembangan industri berbasis gas.

Menurut Nasruddin, pembangunan fasilitas hilirisasi di KEK Arun akan membuka peluang investasi baru sekaligus mendorong tumbuhnya industri petrokimia, pupuk, energi, hingga sektor manufaktur di Aceh.

TTI juga meminta pemerintah mengalokasikan sebagian produksi gas Blok Andaman untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, khususnya industri yang berkembang di Aceh. Kebijakan itu dinilai akan memperkuat daya saing kawasan industri sekaligus menciptakan efek berganda terhadap perekonomian daerah.

Selain aspek ekonomi, TTI menyoroti pentingnya tata kelola proyek yang terbuka. Organisasi tersebut meminta seluruh proses pengembangan Blok Andaman, mulai dari penetapan skema proyek, pembangunan fasilitas pengolahan, hingga pengadaan pekerjaan pendukung, dilakukan secara transparan dan dapat diawasi publik.

“Pemerintah harus memastikan proyek strategis ini memberi manfaat nyata bagi masyarakat Aceh. Transparansi dan keberpihakan kepada daerah penghasil harus menjadi bagian dari setiap keputusan yang diambil,” ujar Nasruddin.

TTI berharap keputusan pemerintah terkait hilirisasi gas Blok Andaman tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis, tetapi juga mampu mendorong pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil migas. []

Reporter: Sammy

Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Barat Daya Kota Sabang

0
Ilustrasi gempa. (Foto: iStockphoto)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,0 mengguncang wilayah barat daya Kota Sabang, Aceh, pada Minggu (12/7/2026) siang.

Berdasarkan informasi yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 14.11.12 WIB dengan pusat gempa berada di koordinat 5,32 Lintang Utara dan 94,68 Bujur Timur, atau sekitar 95 kilometer barat daya Kota Sabang.

BMKG menyebutkan, gempa tersebut terjadi pada kedalaman 115 kilometer.

“#Mag:3.0, 12-Jul-2026 14:11:12WIB, Lok:5.32LU, 94.68BT (95 km BaratDaya KOTA-SABANG-ACEH), Kedlmn:115 Km #BMKG, Disclaimer: Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” tulis BMKG, dilansir dari akun X BMKG. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BPS: Mayoritas Pekerja Aceh Masih Bergantung pada Sektor Pertanian dan Lapangan Kerja Informal

0
Ilustrasi pekerja sektor informal. (Foto: Kompas)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Struktur ketenagakerjaan di Aceh masih didominasi sektor pertanian dan pekerjaan informal. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh menunjukkan sebagian besar penduduk bekerja menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sementara hampir dua pertiga pekerja berada di sektor informal.

Dilansir Nukilan dari Data Sakernas menyebutkan sebanyak 2,5 juta penduduk Aceh bekerja dari total 2,657 juta angkatan kerja, sedangkan jumlah penganggur mencapai 156 ribu orang. BPS juga mencatat kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih menyebabkan jumlah tenaga kerja berkurang sekitar 55 ribu orang, sementara jumlah penganggur bertambah sekitar 7 ribu orang.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 41,39 persen dari total penduduk bekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan sebesar 13,41 persen, jasa lainnya 6,97 persen, industri pengolahan 6,72 persen, serta administrasi pemerintahan 5,63 persen.

Di sisi lain, BPS mencatat 64,15 persen pekerja di Aceh masih bekerja pada sektor informal, sedangkan pekerja formal hanya 35,85 persen. Pekerja informal lebih banyak terkonsentrasi di wilayah perdesaan, mencapai 71,38 persen, dibandingkan kawasan perkotaan sebesar 53,61 persen.

Berdasarkan status pekerjaan utama, kelompok terbesar merupakan buruh, karyawan, atau pegawai sebesar 31,44 persen. Selanjutnya pekerja yang berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap mencapai 19,18 persen, disusul pekerja yang berusaha sendiri sebesar 18,44 persen.

Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh pada Februari 2026 tercatat 5,88 persen. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar enam orang yang belum memperoleh pekerjaan. Tingkat pengangguran lebih tinggi di wilayah perkotaan (8,03 persen) dibandingkan perdesaan (4,34 persen), serta lebih tinggi pada perempuan (5,51 persen) dibanding laki-laki (6,09 persen).

BPS juga mencatat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni 10,13 persen. Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah terdapat pada penduduk berpendidikan SD ke bawah, yakni 1,30 persen.

Publikasi Sakernas Februari 2026 ini memberikan gambaran bahwa struktur ketenagakerjaan Aceh masih sangat bergantung pada sektor primer dan pekerjaan informal. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja formal sekaligus mendorong diversifikasi lapangan pekerjaan di luar sektor pertanian. []

Reporter: Sammy

BMKG Ingatkan Potensi Angin Kencang di Aceh Meski Musim Kemarau Mulai Berlangsung

0
Ilustrasi angin kencang. (Foto: Freepik)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Aceh agar tetap mewaspadai potensi angin kencang yang diprakirakan terjadi pada Minggu (12/7/2026), meskipun sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Dikutip Nukilan dari prakiraan cuaca terbarunya, BMKG menempatkan Aceh sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang. Kondisi tersebut berisiko mengganggu aktivitas masyarakat, terutama di kawasan terbuka, wilayah pesisir, dan perairan.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan pohon tumbang, gangguan pelayaran, serta dampak lain yang dapat dipicu oleh embusan angin kencang.

Secara nasional, BMKG juga memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di sejumlah daerah, seperti Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Namun, hingga periode prakiraan tersebut tidak ada wilayah yang masuk dalam kategori siaga maupun awas untuk potensi hujan lebat hingga ekstrem.

Selain Aceh, potensi angin kencang juga diperkirakan terjadi di Bali, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

BMKG mengimbau masyarakat Aceh untuk terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG dan menyesuaikan aktivitas apabila kondisi cuaca memburuk, terutama bagi nelayan, pelaku transportasi laut, serta warga yang beraktivitas di luar ruangan. []

Reporter: Sammy

Sekda Aceh Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 Lewat Senam Bersama

0
sekda aceh
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M. Nasir mengikuti Senam Pemerintah Aceh bersama ratusan peserta di Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, Minggu (12/7/2026). (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M. Nasir mengikuti Senam Pemerintah Aceh bersama ratusan peserta di Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, Minggu (12/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ajang mempererat silaturahmi antara jajaran Pemerintah Aceh, instansi pemerintah, dan masyarakat.

Selain senam bersama, kegiatan itu juga dirangkai dengan nonton bareng Piala Dunia serta sosialisasi pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh.

Usai mengikuti kegiatan, M. Nasir mengapresiasi inisiatif BPS Provinsi Aceh yang menggabungkan olahraga dengan edukasi mengenai pentingnya Sensus Ekonomi. Menurutnya, pendekatan tersebut efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa data yang berkualitas merupakan fondasi utama dalam penyusunan perencanaan pembangunan.

M. Nasir menegaskan, Pemerintah Aceh mendukung penuh pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 karena hasil pendataan tersebut akan menjadi dasar dalam penyusunan berbagai kebijakan pembangunan, mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada kesempatan itu, ia juga mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam menyukseskan pelaksanaan sensus dengan menerima petugas, memberikan data yang benar, serta tidak khawatir terhadap kerahasiaan informasi yang disampaikan.

“Pemerintah Aceh mendukung penuh pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 karena hasilnya akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan, mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”

Ia juga mengingatkan masyarakat agar memberikan data yang akurat kepada petugas sensus. “Masyarakat berpartisipasi aktif dalam menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 dengan menerima petugas sensus, memberikan data yang benar, serta tidak khawatir terhadap kerahasiaan data karena seluruh informasi dijamin sesuai ketentuan perundang-undangan.”

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Aceh berharap semangat hidup sehat, kebersamaan, serta kepedulian masyarakat terhadap pembangunan daerah terus meningkat, termasuk dalam mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News