Beranda blog Halaman 4

Hendak Umrah, Terpidana Korupsi di Bener Meriah Ditangkap Kejati Aceh di Bandara Kualanamu

0
Tim Kejaksaan Tinggi Aceh menangkap terpidana kasus korupsi kegiatan pengembangan tanaman tembakau rakyat di Kabupaten Bener Meriah bernama Usman Bin Naen (65). (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | MEDAN — Tim Tabur Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh mengamankan Usman Bin Naen (65), terpidana kasus korupsi pengembangan tanaman tembakau rakyat di Kabupaten Bener Meriah.

Pensiunan PNS yang berasal dari Kampung Bantin Wih Pongas, Kecamatan Bukit, Bener Meriah, tersebut ditangkap ketika berada di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Usman diketahui tengah bersiap melakukan perjalanan ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah.

Usman sebelumnya telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Kejaksaan Negeri Bener Meriah. Status tersebut diberikan setelah yang bersangkutan beberapa kali tidak memenuhi panggilan jaksa untuk menjalani hukuman.

“Terpidana berhasil diamankan berdasarkan hasil pelacakan dan pencarian intensif tim Tabur Kejaksaan Tinggi Aceh,” kata Kasipenkum Kejati Aceh, Ali Rasab Lubis, Kamis (27/8).

Usman merupakan terpidana perkara korupsi kegiatan pengembangan tanaman tembakau rakyat yang menggunakan anggaran APBK Bener Meriah Tahun Anggaran 2013. Dalam perkara tersebut, Usman berperan sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

Perkara tersebut menyebabkan kerugian keuangan negara mencapai Rp443,49 juta berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh.

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Banda Aceh melalui Putusan Nomor 64/Pid.Sus-TPK/2025/PN Bna, tertanggal 8 Januari 2026, menyatakan Usman terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama.

Atas perbuatannya, Usman dijatuhi hukuman pidana penjara selama 3 tahun 6 bulan serta denda Rp50 juta. Apabila denda tersebut tidak dibayarkan, maka diganti dengan pidana kurungan selama satu tahun.

Persidangan perkara tersebut sebelumnya berlangsung tanpa kehadiran Usman. Setelah putusan dibacakan, pihak kejaksaan telah beberapa kali memanggilnya untuk menjalani eksekusi hukuman.

Namun, Usman tidak memenuhi panggilan tersebut dan keberadaannya tidak diketahui. Kejaksaan Negeri Bener Meriah kemudian memasukkan namanya ke dalam DPO.

Pencarian terhadap Usman akhirnya membuahkan hasil setelah Tim Tabur Kejati Aceh memperoleh informasi mengenai keberadaannya di Bandara Internasional Kualanamu.

“Tim Tabur mendapatkan informasi bahwa terpidana berada di Bandara Internasional Kualanamu saat hendak melakukan perjalanan ibadah umrah. Mendapat informasi itu tim langsung mengamankan Usman,” katanya.

Usai diamankan, Usman dibawa ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara untuk menjalani pemeriksaan administrasi dan kesehatan.

“Dari sana terpidana akan kita bawa ke Kejaksaan Negeri Bener Meriah untuk dilaksanakan eksekusi sesuai dengan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap,” ucapnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BRA dan Unhan RI Bahas Penguatan Perdamaian Aceh lewat Kolaborasi Akademik

0
Badan Reintegrasi Aceh (BRA) melakukan audiensi dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) di Jakarta, Rabu (26/8/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Badan Reintegrasi Aceh (BRA) melakukan audiensi dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) di Jakarta, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut membahas upaya memperkuat keberlanjutan perdamaian Aceh melalui pendekatan akademik.

Dalam audiensi yang berlangsung sekitar satu jam itu, Ketua BRA, Cand (Dr) Jamaluddin, memaparkan rancangan Roadmap BRA 2026–2036. Dokumen tersebut disusun bersama tim akademisi dari Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Kedatangan rombongan BRA mendapat sambutan positif dari Rektor beserta sivitas akademika Unhan RI. Rektor Unhan RI, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., mengapresiasi langkah BRA yang memilih pendekatan akademik sebagai salah satu strategi untuk mempertahankan perdamaian Aceh yang telah berlangsung selama 21 tahun.

Dalam pertemuan itu, Unhan RI juga menyambut baik rencana kolaborasi yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Aceh maupun di luar Aceh. Kampus yang direncanakan terlibat antara lain USK, UIN Ar-Raniry, Universitas Teuku Umar (UTU), Universitas Gadjah Mada (UGM), serta Unhan RI.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memanfaatkan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai ruang bersama dalam memperkuat pendidikan, penelitian, serta pengembangan keilmuan yang konstruktif dan memberikan manfaat bagi keberlanjutan perdamaian Aceh.

Ketua BRA menjelaskan bahwa Roadmap BRA 2026–2036 diharapkan menjadi pijakan awal bagi Aceh untuk memberikan kontribusi bagi dunia melalui pengalaman Aceh dalam penyelesaian konflik dan pembangunan perdamaian.

Menurut BRA, rancangan roadmap tersebut sebelumnya telah dibahas dan mendapatkan rekomendasi dari tiga perguruan tinggi di Aceh, yakni USK, UIN Ar-Raniry, dan UTU. Ketiga perguruan tinggi tersebut selama ini turut memberikan dukungan terhadap BRA.

Dari pertemuan tersebut, kedua pihak menyepakati pentingnya keterlibatan akademisi Unhan RI dalam penyempurnaan roadmap yang telah disusun BRA bersama tim.

Rektor Unhan RI juga meminta akademisi di lingkungan Unhan untuk memberikan masukan terhadap rancangan tersebut. Selain itu, Unhan akan turut mendorong agar gagasan yang terdapat dalam roadmap dapat menjadi salah satu model dalam menjaga keberlanjutan perdamaian Aceh.

Jamaluddin, SH, MKn, dalam pemaparannya di hadapan Rektor, para Wakil Rektor, jajaran dekan, serta sivitas akademika Unhan RI, menyampaikan bahwa pendekatan akademik dinilai menjadi salah satu jalur strategis untuk memastikan perdamaian Aceh tetap terjaga sesuai dengan amanah MoU Helsinki, UUPA, dan berbagai regulasi terkait lainnya.

Ia juga menyinggung momentum 21 tahun perdamaian Aceh yang diperingati setiap 15 Agustus. Menurutnya, peringatan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum untuk mengenang perjalanan perdamaian sekaligus memastikan generasi saat ini memahami sejarah konflik Aceh.

Rangkaian peringatan tersebut juga diisi dengan berbagai agenda yang diselenggarakan BRA sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif mengenai perjalanan perdamaian Aceh.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan FISIP USK, Dr. Masrizal, S.Sos.I., M.A., yang sebelumnya menjabat Koordinator Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana USK, turut menyampaikan pandangannya dalam diskusi bersama pimpinan Unhan RI.

Masrizal yang juga menjadi bagian dari tim ahli penyusunan Roadmap BRA menyebut dokumen tersebut sebagai langkah BRA untuk membuka gagasan mengenai arah keberlanjutan perdamaian Aceh kepada publik.

Dalam audiensi tersebut, Ketua BRA didampingi sejumlah anggota tim, di antaranya Dr. Masrizal, M.A. selaku tim ahli Roadmap BRA, Kasubag Hukum BRA Masfirah, S.H., M.H., Ghazi Ahmad, S.H., M.Kn. selaku Kabid Politik, Hukum dan Pendidikan Damai, serta Intan Munirah, S.H., M.H., akademisi Fakultas Hukum.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran sivitas akademika Unhan RI dan rombongan BRA.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Realisasi Program Pemulihan Kementan di Aceh Tembus 52,9 Persen, Percepatan Diminta

0
SAFRIZAL
Kepala Posko Wilayah (Kaposwil) Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Aceh, Safrizal ZA. (FOTO: Ditjen Bina Adwil)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pelaksanaan sejumlah program Kementerian Pertanian (Kementan) untuk pemulihan sektor pertanian Aceh pascabencana telah mencapai 52,9 persen. Dari total anggaran yang disiapkan sebesar Rp515,22 miliar, sebanyak Rp272,37 miliar telah direalisasikan.

Kapoksowil Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, mengatakan capaian tersebut menunjukkan adanya progres positif. Namun, percepatan pelaksanaan tetap diperlukan mengingat waktu pelaksanaan program hingga akhir 2026 semakin terbatas.

“Realisasi di atas 50 persen hingga akhir Agustus menunjukkan kerja keras semua pihak. Tetapi waktu yang tersisa di tahun 2026 sangat terbatas, sehingga percepatan mutlak diperlukan agar target bisa tercapai,” kata Safrizal dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026).

Dari sejumlah sektor yang dikerjakan, pembangunan dan pemulihan irigasi menjadi program dengan tingkat realisasi tertinggi. Dari pagu Rp147,47 miliar, anggaran yang telah terserap mencapai Rp110,68 miliar atau sekitar 75,1 persen.

Untuk jaringan irigasi tersier yang tersebar di 13 kabupaten/kota, progres realisasinya telah mencapai 96 persen. Sementara itu, pembangunan irigasi perpipaan di wilayah yang sama telah mencapai 88 persen.

Program optimasi lahan (Opla) untuk pemulihan sawah yang mengalami kerusakan ringan juga mencatat perkembangan cukup signifikan. Dari total anggaran yang tersedia, realisasi telah mencapai Rp91 miliar atau 58,46 persen yang dilaksanakan di 16 kabupaten/kota.

Pelaksanaan program tersebut turut melibatkan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Malikussaleh (Unimal), dan Universitas Samudra (Unsam).

Berbeda dengan Opla, rehabilitasi lahan sawah dengan tingkat kerusakan sedang masih memiliki progres yang lebih rendah. Dari total anggaran Rp200,42 miliar, baru Rp64,34 miliar atau sekitar 32 persen yang terealisasi.

Kegiatan rehabilitasi sawah rusak sedang tersebut melibatkan kelompok tani bersama TNI di sejumlah daerah, yakni Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Pidie Jaya.

Sementara itu, pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) di 13 kabupaten/kota telah menyerap Rp6,34 miliar dari total pagu Rp11,66 miliar. Persentase realisasinya mencapai sekitar 54 persen.

Pengerjaan fisik JUT dilakukan di sejumlah wilayah, meliputi Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Aceh Timur, Pidie Jaya, Aceh Barat Daya (Abdya), Simeulue, Aceh Tamiang, Aceh Barat, dan Aceh Jaya.

Safrizal meminta perguruan tinggi, kelompok tani, TNI, serta pemerintah daerah mempertahankan koordinasi dan memperkuat kerja sama agar seluruh program dapat diselesaikan sesuai target.

“Kami berharap perguruan tinggi, kelompok tani, TNI, dan pemerintah daerah terus bersinergi. Dengan kolaborasi lintas sektor, manfaat program ini akan segera dirasakan petani dan memperkuat ketahanan pangan Aceh,” jelas Safrizal.

Selain mengejar percepatan pekerjaan, Safrizal turut menekankan pentingnya keterbukaan dalam pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi. Menurutnya, transparansi dibutuhkan agar masyarakat dan seluruh pihak dapat ikut mengawasi sekaligus berkontribusi dalam proses percepatan pemulihan.

“Ini penting, bukan hanya sebagai kewajiban memenuhi keterbukaan informasi publik, tapi dengan transparansi semua pihak bisa ambil bagian dalam kerja percepatan rehab rekon,” ujar Safrizal.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mendagri Jenguk Wali Nanggroe Aceh di Penang

0
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menjenguk Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar, yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan kesehatan di salah satu rumah sakit di Penang, Malaysia. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menjenguk Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar, yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan kesehatan di salah satu rumah sakit di Penang, Malaysia.

Kunjungan tersebut dilakukan atas penugasan langsung Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, setelah menerima laporan mengenai kondisi kesehatan Wali Nanggroe yang telah menjalani perawatan di Penang selama hampir tiga bulan.

Dalam kunjungan pada Selasa (25/8/2026) itu, Mendagri menyampaikan salam hormat dan doa Presiden Prabowo agar Wali Nanggroe segera diberikan kesembuhan dan dapat kembali ke Tanah Air.

“Saya menyampaikan salam hormat dan doa dari Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto kepada Yang Mulia Wali Nanggroe. Beliau berharap Yang Mulia segera diberikan kesembuhan, dapat menyelesaikan proses pemulihan dengan baik, dan segera kembali ke Aceh,” ujar Tito menyampaikan pesan Presiden.

Perhatian Presiden tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada Wali Nanggroe sebagai tokoh penting dalam kehidupan adat, budaya, serta persatuan masyarakat Aceh. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Lembaga Wali Nanggroe merupakan kepemimpinan adat yang independen dan berwibawa serta berperan sebagai pemersatu masyarakat Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, kondisi kesehatan Wali Nanggroe dilaporkan terus membaik. Tgk. Malik Mahmud menyampaikan kepada Mendagri bahwa proses pengobatannya hampir selesai dan telah mendekati tahap pemulihan penuh.

Apabila tidak terdapat kendala, Wali Nanggroe direncanakan kembali ke Aceh pada awal September 2026.

Mendagri Tito menyambut baik perkembangan tersebut dan berharap Wali Nanggroe dapat menuntaskan seluruh tahapan pemulihan sesuai anjuran tim medis sebelum kembali menjalankan berbagai kegiatan di Aceh.

Di tengah masa pemulihan, Wali Nanggroe juga tetap mengikuti sejumlah agenda kelembagaan secara daring. Pada Juli 2026, Tgk. Malik Mahmud mengikuti forum Mahkamah Agung terkait penyusunan naskah akademik pembentukan Pengadilan Niaga Syariah saat menjalani pemulihan dan fisioterapi ortopedi di Penang.

Kunjungan Mendagri tersebut mencerminkan perhatian Pemerintah Pusat terhadap kesehatan para tokoh masyarakat, sekaligus memperkuat komunikasi, persaudaraan, dan hubungan harmonis antara Pemerintah Pusat dengan seluruh elemen masyarakat Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Tujuh Kejadian Kebakaran Terjadi di Aceh Besar, Dua Hektare Lahan di Blang Bintang Terbakar

0
Kebakaran lahan di Aceh Besar. (Foto: Dok Damkar Aceh Besar)

NUKILAN.ID | ACEH BESAR — Tujuh kejadian kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Besar pada Kamis, dengan sebagian besar berupa kebakaran lahan. Kondisi cuaca terik dan material kering disebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran api.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Nukilan dari akun Instagram Damkar Aceh Besar, kejadian pertama dilaporkan di Gampong Rima Jeuneu, Kecamatan Peukan Bada, sekitar pukul 11.15 WIB. Kebakaran menghanguskan lahan sekitar 100 meter persegi dan ditangani Pos Peukan Bada.

Selanjutnya, sekitar pukul 13.13 WIB, kebakaran lahan terjadi di Gampong Meunasah Manyang, Kecamatan Lhoknga. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai satu hektare. Penanganan dilakukan oleh Pos Peukan Bada.

Kebakaran juga terjadi di Gampong Miruk Taman, Kecamatan Baitussalam, yang informasinya diterima sekitar pukul 14.22 WIB. Dalam kejadian tersebut, satu unit bangunan dapur berbahan batu bata mengalami rusak berat. Petugas dari Pos Khaju dikerahkan untuk melakukan penanganan.

Sekitar pukul 14.25 WIB, kebakaran lahan kembali dilaporkan di Gampong Lam Kawee, Kecamatan Darul Imarah. Lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 500 meter persegi dan ditangani oleh Pos Peukan Bada.

Pada pukul 15.00 WIB, kebakaran lahan terjadi di Gampong Data Makmur, Kecamatan Blang Bintang. Area yang terbakar diperkirakan mencapai dua hektare. Penanganan melibatkan Pos Kuta Baro, Pos Durung, dan Pos Induk.

Kebakaran berikutnya dilaporkan di Gampong Umong Seureube, Kecamatan Lhoong, sekitar pukul 15.35 WIB. Luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 500 meter persegi dan ditangani oleh Pos Lhoong.

Sementara itu, di Gampong Khaju, Dusun Lamseunong, Kecamatan Baitussalam, petugas juga menerima laporan terkait pohon bambu yang terbakar atau berpotensi membahayakan karena berada berdekatan dengan rumah warga.

Petugas menyebut kebakaran lahan di antaranya terjadi di kawasan kebun dan padang ilalang, termasuk di sekitar Bukit Radar Blang Bintang. Kondisi cuaca yang terik, ditambah rumput ilalang dan ranting kayu yang kering, membuat api mudah membesar dan menjalar ke area yang lebih luas.

Tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kejadian kebakaran tersebut. Namun, satu bangunan dapur di Gampong Miruk Taman dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Petugas pemadam kebakaran mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat cuaca panas dan kering, serta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api di area lahan terbuka. []

Reporter: Sammy

Fraksi Golkar DPRA Soroti Tingginya Harga Tiket Pesawat, Dinilai Hambat Investasi ke Aceh

0
Sekretaris Fraksi Golkar DPRA, Khalid. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fraksi Partai Golkar Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menilai tingginya harga tiket penerbangan domestik dari dan menuju Aceh perlu segera mendapat perhatian serius dari Pemerintah Aceh.

Selain memberatkan masyarakat, mahalnya tarif penerbangan disebut dapat berdampak terhadap perekonomian daerah, khususnya dalam menarik investasi serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Aceh.

Amatan Nukilan.id, hal tersebut disampaikan Sekretaris Fraksi Golkar DPRA, Khalid, dalam rapat paripurna terkait Rancangan Qanun Aceh tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBA Tahun Anggaran 2025 yang berlangsung di Gedung DPRA, Kamis (27/8/2026).

Fraksi Golkar meminta Pemerintah Aceh mengambil langkah konkret untuk mencari solusi atas persoalan harga tiket pesawat. Upaya tersebut, menurut mereka, dapat ditempuh melalui advokasi dan diplomasi, serta membangun komunikasi dengan maskapai penerbangan, Kementerian Perhubungan, hingga Presiden Republik Indonesia.

Golkar juga menilai perlu dilakukan evaluasi terhadap penerapan Tarif Batas Atas (TBA) penerbangan yang dianggap masih memberikan beban cukup besar kepada masyarakat Aceh.

“Kondisi ini sangat membebani warga Aceh. Selain itu, menjadi salah satu faktor penghambat masuknya investor serta menurunkan angka kunjungan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara,” ujar Khalid.

Fraksi Golkar menggambarkan tingginya tarif tersebut melalui harga tiket penerbangan rute Banda Aceh-Jakarta yang saat ini berada di kisaran lebih dari Rp2 juta untuk harga termurah. Kondisi itu dinilai tidak sebanding dengan harga tiket pada sejumlah rute penerbangan domestik lainnya di Indonesia.

Di sisi lain, Fraksi Golkar turut menyoroti pentingnya hubungan yang harmonis antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam mendukung penerapan tata kelola pemerintahan yang baik atau good governance di Aceh.

Karena itu, Fraksi Golkar mendorong adanya forum koordinasi yang dilaksanakan secara rutin antarlevel pemerintahan. Forum tersebut dinilai penting untuk menyatukan perencanaan program, menyelaraskan penganggaran, sekaligus mencari solusi bersama terhadap berbagai persoalan yang dihadapi Aceh. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Dispora Banda Aceh Tingkatkan Kapasitas Organisasi Kepemudaan

0
Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banda Aceh menggelar Pelatihan Manajemen Organisasi Kepemudaan Kota Banda Aceh Tahun 2026, Kamis (27/8/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banda Aceh menggelar Pelatihan Manajemen Organisasi Kepemudaan Kota Banda Aceh Tahun 2026, Kamis (27/8/2026).

Pelatihan tersebut diikuti 50 peserta dari berbagai unsur kepemudaan, mulai dari perwakilan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP), ketua pemuda, mahasiswa, hingga pelajar di Kota Banda Aceh.

Kepala Dispora Kota Banda Aceh, Reza Kamilin, S.STP, mengatakan pemuda memiliki posisi penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, potensi demografi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas, kreativitas, kepemimpinan, serta kemampuan mengelola organisasi secara profesional.

“Secara demografi, potensi pemuda sangat besar. Penduduk muda usia 16 sampai 30 tahun mencapai sekitar 23 persen dari total penduduk Kota Banda Aceh. Sekitar 61.000 dari 270.000 penduduk Kota Banda Aceh adalah anak muda,” ujar Reza.

Ia menyebutkan, jumlah pemuda yang besar harus dapat dioptimalkan sebagai kekuatan pembangunan daerah. Pemuda tidak hanya dituntut aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan, inovasi, membangun kolaborasi, dan mengelola organisasi secara efektif serta berkelanjutan.

Reza menilai OKP merupakan mitra strategis Pemerintah Kota Banda Aceh, khususnya dalam upaya pemberdayaan generasi muda.

“OKP merupakan mitra strategis pembangunan di Kota Banda Aceh. Karena itu, kita ingin organisasi kepemudaan memiliki kapasitas manajemen yang semakin baik, sehingga mampu berkontribusi secara nyata dalam pembangunan,” katanya.

Ia menjelaskan, pembangunan kepemudaan juga menjadi bagian dari misi keenam pembangunan Kota Banda Aceh yang berfokus pada pemberdayaan pemuda dan kemajuan olahraga.

Melalui pelatihan tersebut, Dispora Banda Aceh mendorong organisasi kepemudaan untuk memperbaiki tata kelola agar lebih terarah, profesional, mandiri, adaptif, dan berorientasi pada hasil.

Selain kemampuan manajemen, Reza juga mendorong OKP untuk membangun kemandirian organisasi. Menurutnya, organisasi kepemudaan tidak semestinya hanya mengandalkan dukungan pemerintah, tetapi perlu memperluas jejaring dan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

“Organisasi kepemudaan harus mampu berdiri secara mandiri, membangun jejaring dan menciptakan program-program yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemerintah tentu akan terus mendukung, tetapi kemandirian organisasi juga harus dibangun,” ujarnya.

Reza berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kapasitas pengurus dan kader sekaligus membentuk organisasi kepemudaan yang lebih solid dan produktif.

Dengan tata kelola yang semakin baik, OKP di Kota Banda Aceh diharapkan mampu melahirkan inovasi, menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan kemajuan Kota Banda Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BMKG Deteksi 10 Titik Panas di Aceh, Tersebar di Tujuh Kabupaten

0
Ilustrasi titik panas. (Foto: Dok Pemprov Lampung)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 10 titik panas (hotspot) di Provinsi Aceh berdasarkan pemantauan satelit pada Kamis (27/8/2026).

Prakirawan BMKG yang bertugas, Dedi, mengatakan 10 titik panas tersebut tersebar di sejumlah kabupaten di Aceh.

“Dari hasil pantauan terdapat 10 titik panas di Provinsi Aceh,” kata Dedi kepada Nukilan, Kamis (27/8/2026).

Berdasarkan data BMKG, dua titik panas terdeteksi di Aceh Besar, masing-masing berada di Kecamatan Indrapuri dan Seulimeum. Dua titik lainnya berada di Aceh Selatan, tepatnya di Kecamatan Trumon Timur.

Titik panas juga terdeteksi masing-masing satu lokasi di Aceh Tengah Kecamatan Ketol, Aceh Tenggara Kecamatan Leuser, Aceh Utara Kecamatan Sawang, serta Bener Meriah Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Sementara di Bireuen, BMKG mendeteksi dua titik panas yang berada di Kecamatan Simpang Mamplam.

Pemantauan dilakukan pada 27 Agustus 2026 sejak pukul 00.00 hingga 17.00 WIB menggunakan sensor MODIS dari satelit Terra, Aqua dan Suomi NPP serta NOAA20/VIIRS. Seluruh 10 titik panas yang tercatat dalam data tersebut terdeteksi oleh satelit NOAA20.

Tingkat kepercayaan deteksi berada pada angka 8 hingga 9. Sembilan titik memiliki tingkat kepercayaan 8, sedangkan satu titik di Simpang Mamplam, Bireuen, memiliki tingkat kepercayaan 9.

BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh mencatat data tersebut dalam peta sebaran titik panas Provinsi Aceh tertanggal 27 Agustus 2026. []

Reporter: Sammy

UMKM Aceh Raup Rp 7,98 Miliar dari Karya Kreatif Indonesia 2026

0
UMKM Aceh binaan BI dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Aceh mencatat lonjakan transaksi dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Total penjualan dan realisasi ekspor UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh mencapai Rp7,98 miliar atau meningkat 400 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Plh Kepala Perwakilan BI Aceh Hertha Bastiawan mengatakan capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang keikutsertaan UMKM binaan BI Aceh dalam KKI.

“KKI 2026 menjadi momentum penting bagi penguatan dan perluasan akses pasar UMKM Aceh,” kata Hertha dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nukilan, pada Kamis (27/8/2026).

KKI 2026 mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”. Ajang tersebut menjadi ruang bagi UMKM Aceh untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan produk unggulan daerah ke tingkat nasional hingga global.

Hertha merinci penjualan UMKM Aceh secara luring selama KKI 2026 mencapai Rp626,70 juta. Sementara transaksi melalui kanal daring tercatat Rp2,86 miliar.

Adapun realisasi ekspor mencapai Rp4,50 miliar. Jika diakumulasikan, total penjualan dan ekspor UMKM Aceh mencapai Rp7,98 miliar.

“Lonjakan ini menjadi bukti nyata semakin kuatnya daya saing produk UMKM Aceh, seiring semakin terbukanya akses terhadap kanal pasar domestik, digital, hingga pasar ekspor,” ujarnya.

Dalam KKI tahun ini, UMKM Aceh mendapat ruang lebih luas untuk menampilkan produk unggulan, mulai dari wastra, fesyen, kriya hingga kopi.

Sejumlah UMKM Aceh juga menorehkan prestasi pada kategori KKI 2026. Werkin Tandem meraih predikat UMKM dengan Transaksi Terbanyak pada Area Rupa Kini.

Sementara PT Melaya Kopi menjadi UMKM dengan Transaksi Terbanyak pada kategori Pesona Kopi Nusantara KKI Online.

Hertha menyebut capaian tersebut menunjukkan produk unggulan Aceh memiliki peluang semakin besar untuk bersaing di pasar nasional maupun global.

Menurutnya, kekuatan wastra, fesyen, kriya, dan kopi Aceh tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya dan potensi daerah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat terus dikembangkan.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui inovasi, peningkatan kualitas produk, penguatan merek, serta perluasan akses pasar.

BI Aceh, kata Hertha, akan terus memperkuat pengembangan UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, inovasi dan kualitas produk, digitalisasi, perluasan akses pasar dan pembiayaan, hingga fasilitasi UMKM menuju pasar ekspor.

Penguatan ekosistem UMKM juga dilakukan melalui sinergi dengan pemerintah daerah, perbankan, dunia usaha, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Sinergi dengan Pemerintah Daerah, Perbankan, Dunia Usaha, Komunitas, dan Pemangku Kepentingan lainnya akan terus diperkuat guna membangun ekosistem UMKM Aceh yang semakin terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan,” tutup Hertha.

Reporter: Rezi

175 Mahasiswa Baru Ikuti PBAK 2026 di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry

0
Sebanyak 175 mahasiswa baru Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengikuti kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 yang digelar di gedung fakultas tersebut, Rabu (26/8/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sebanyak 175 mahasiswa baru Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengikuti kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 yang digelar di gedung fakultas tersebut, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pimpinan dekanat, para dosen, serta perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkungan FAH UIN Ar-Raniry.

Pelaksanaan PBAK diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mulai mengenal lingkungan kampus, baik dari sisi akademik maupun kehidupan kemahasiswaan.

Ketua Panitia PBAK 2026, Fathin Rizqi Erasqal, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai tahap awal bagi mahasiswa baru dalam memahami lingkungan perkuliahan di Fakultas Adab dan Humaniora.

“Kegiatan PBAK 2026 merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus, khususnya lingkungan akademik, organisasi, serta berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan mahasiswa di Fakultas Adab dan Humaniora,” ujar Fathin.

Sementara itu, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FAH, Zayyaf Naufal Jannah Wal Fitrah, memberikan motivasi kepada mahasiswa baru agar menjalani masa perkuliahan dengan penuh keyakinan dan kesungguhan.

Ia mendorong para peserta untuk membangun komitmen sejak awal agar dapat mencapai keberhasilan selama menempuh pendidikan di kampus.

“Maka tanamlah dalam diri kalian bahwa saya akan sukses di sini, dan saya akan kerjakan semuanya dengan sepenuh hati,” tegas Zayyaf di hadapan para peserta.

Selanjutnya, kegiatan PBAK 2026 dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Dr. Syarifuddin, M.Ag., Ph.D.

Dalam amanatnya, Dr. Syarifuddin menekankan pentingnya mahasiswa memahami makna pendidikan di perguruan tinggi. Menurutnya, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak semata-mata berorientasi pada pencarian ilmu, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran.

“Melanjutkan program studi ke dunia pendidikan yang lebih tinggi adalah sebuah keharusan untuk menjadi sebuah pembelajaran, bukan sekadar mencari ilmu,” tutur Dr. Syarifuddin.

Melalui PBAK 2026, mahasiswa baru diharapkan dapat mengenal sekaligus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya akademik di FAH UIN Ar-Raniry. Mereka juga didorong untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan sebagai bagian dari proses pengembangan diri selama menjalani pendidikan di kampus. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News