Beranda blog Halaman 498

Maryam Al Fiyah Azka Wakili Aceh Besar di Grand Final OSI Nasional 2025

0
Maryam Al Fiyah Azka Wakili Aceh Besar di Grand Final OSI Nasional 2025. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | JANTHO – Siswi MIN 27 Aceh Besar, Maryam Al Fiyah Azka, berhasil melaju ke Grand Final Olimpiade Omni Sains Indonesia (OSI) Nasional 2025. Ia mewakili Aceh Besar untuk dua bidang sekaligus, yaitu IPA dan Bahasa Inggris pada Level 2 (kelas 3 dan 4 SD).

Kepastian keikutsertaan Azka di ajang nasional ini berdasarkan surat undangan resmi dari panitia OSI, setelah ia lolos dari babak penyisihan tingkat kota dan final provinsi. Grand Final berlangsung pada Sabtu, 21 Juni 2025 di Universitas Tarumanegara 2, Jakarta.

Dalam kompetisi ini, Azka bersaing dengan 205 peserta di bidang IPA dan 618 peserta di bidang Bahasa Inggris dari berbagai daerah di Indonesia. Acara Awarding dijadwalkan digelar di Hotel Ciputra, Jakarta, sebagai penutup kegiatan OSI Nasional.

Suasana pelaksanaan lomba berlangsung meriah. Ribuan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga SMP, memenuhi lokasi acara sejak pagi. Kompetisi dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembagian sesi lomba, termasuk berhitung untuk TK, serta olimpiade Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris.

“Shock berat…,” ujar Azka saat menggambarkan suasana lomba yang ramai. “Waktu final provinsi di SMA Methodist Banda Aceh, saya di lantai 7, tapi kali ini gedungnya jauh lebih besar dan peserta seperti semut—banyak sekali!” kenangnya.

Pengumuman hasil lomba akan dilakukan pada acara Awarding yang digelar esok hari. Keluarga besar MIN 27 Aceh Besar dan masyarakat Aceh berharap Azka dapat meraih hasil terbaik dan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

Editor: Akil

Aceh Menuju Kesejahteraan: Kelola Sumber Daya Alam dengan Bijak, Tinggalkan Citra Korupsi

0
Ketua Umum ICMI Aceh, Taqwaddin. (Foto: BeritaMerdeka)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan menjadi sorotan utama dalam Seminar Cendekiawan bertajuk “Akselerasi Pengembangan Sektor Migas dan Pertambangan Aceh; Menuju Tata Kelola Berkelanjutan dan Kesejahteraan Masyarakat” yang digelar oleh Pemuda ICMI Aceh pada Minggu (22/6/2025). Kegiatan ini dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Ketua Umum ICMI Aceh, Taqwaddin, dalam pemaparannya menekankan bahwa pengelolaan SDA merupakan kunci penting dalam mendorong kesejahteraan rakyat Aceh. Ia mengawali pemaparan dengan merujuk Pasal 18B ayat (1) UUD 1945 mengenai pengakuan dan penghormatan terhadap daerah istimewa.

Menurutnya, Aceh yang memiliki keistimewaan dan kekhususan, khususnya dalam hal pengelolaan SDA dan pembentukan BPMA, seharusnya mampu menghadirkan perubahan positif bagi rakyat.

Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Berdasarkan data BPS 2024, angka kemiskinan di Aceh masih mencapai 12,64 persen—tertinggi di Sumatera. Di sisi lain, laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun yang sama menempatkan Aceh dalam enam besar provinsi dengan kasus korupsi terbanyak secara nasional.

Tantangan lainnya juga muncul dari tingginya kasus penyalahgunaan narkoba (peringkat 2 nasional), prevalensi stunting (peringkat 7 nasional), hingga rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (75,36, peringkat 27 nasional). Ditambah lagi, indeks literasi masyarakat yang juga masih rendah, yaitu 72,4 menurut data terbaru.

Taqwaddin menjelaskan, penting untuk membedakan antara penguasaan dan pengelolaan SDA. “Penguasaan” merujuk pada aspek legal seperti hak dan kewenangan, sementara “pengelolaan” menyangkut aspek manajerial seperti perencanaan dan pelaksanaan. Menurutnya, pengelolaan tanpa kejelasan penguasaan hukum adalah kekeliruan kebijakan.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa pengelolaan sektor migas dan pertambangan Aceh masih menghadapi tumpang tindih regulasi. Sejumlah undang-undang yang mengatur sektor ini, seperti UU Pokok Agraria, UU Lingkungan Hidup, UU Minerba, hingga UU Pemerintahan Daerah dan UU Pemerintahan Aceh (UUPA), perlu diharmonisasi agar tidak menimbulkan konflik kewenangan.

Pasal 156 UUPA, misalnya, memberikan kewenangan pengelolaan SDA kepada Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota, mulai dari perencanaan hingga pengawasan. Namun, UU Pemerintahan Daerah tahun 2014 justru membatasi kewenangan kabupaten/kota, kecuali untuk izin panas bumi. Kondisi ini membuat banyak dinas pertambangan daerah kehilangan fungsi strategisnya, sementara eksploitasi tetap berlangsung.

“Ketika terjadi kerusakan lingkungan akibat tambang, pemerintah kabupaten/kota sering tidak berdaya,” ungkap Taqwaddin. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa prinsip lex specialis derogat legi generali harus dijalankan, di mana kekhususan Aceh sebagaimana diatur dalam UUPA perlu diprioritaskan.

Ia juga menekankan pentingnya konsensus dalam bentuk kebijakan administratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, sebagaimana diatur dalam Pasal 8 UUPA dan UU Administrasi Pemerintahan. Pemerintah Aceh, katanya, harus merumuskan kebijakan investasi tambang dan migas yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjamin kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan.

Tidak kalah penting, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Aceh menjadi kunci. Tanpa SDM yang kompeten dan siap terlibat di sektor migas dan pertambangan, masyarakat Aceh akan tetap menjadi penonton

. “Lagee buya krung teu dong-dong, buya tamong meuraseuki,” sindir Taqwaddin, mengingatkan pentingnya penguatan kapasitas tenaga kerja lokal agar mampu menikmati hasil dari kekayaan alam sendiri.

Dengan tata kelola yang bijak, kolaborasi antar-lembaga, dan SDM yang unggul, harapan untuk menghapus predikat Aceh sebagai salah satu daerah dengan kasus korupsi tertinggi dan mengubahnya menjadi provinsi yang sejahtera bukanlah sesuatu yang mustahil.

Editor: Akil

Cegah Curanmor, Polsek di Banda Aceh Pasang Spanduk Imbauan

0
Spanduk waspada curanmor. (Foto: MC BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Jajaran Polsek di bawah Polresta Banda Aceh memasang spanduk imbauan waspada pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) di sejumlah titik keramaian dan lokasi rawan, Sabtu (21/6/2025). Langkah ini sebagai bentuk antisipasi terhadap tindak kejahatan Curanmor di wilayah hukum Polresta Banda Aceh.

Pemasangan spanduk dilakukan langsung oleh sejumlah personel kepolisian, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keamanan kendaraan pribadi.

Selain itu, imbauan tersebut juga bertujuan memberikan edukasi kepada warga mengenai pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, melalui Kasi Humas Iptu Erfan Gustiar, mengatakan bahwa “Spanduk Waspada Curanmor” ini dimaksudkan untuk mengingatkan warga akan bahayanya kejahatan Curanmor serta mempersempit ruang gerak pencuri.

Ia menambahkan, jajaran Polsek Polresta Banda Aceh akan terus berkomitmen memberantas tindak kejahatan di wilayahnya.

“Imbauan pasang kunci ganda merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya curanmor,” pungkasnya.

Akademisi Minta Setiap Daerah di Aceh Miliki Dewan Pengawas Syariah

0
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Aceh Barat Dr Syamsuar. (Foto: ANTARA/HO-Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | Meulaboh – Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Dr Syamsuar, menyatakan bahwa seluruh kabupaten/kota di Aceh perlu membentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS) guna memperkuat pengawasan terhadap lembaga keuangan syariah.

Menurutnya, keberadaan DPS bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi instrumen penting dalam menjaga kemurnian transaksi keuangan dari unsur riba maupun praktik yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.

Syamsuar menjelaskan bahwa kewajiban memiliki DPS telah diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2018. Namun, sejauh ini baru empat daerah di Aceh yang membentuk DPS. Ia pun berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Barat segera membentuk dewan pengawas keuangan syariah.

Ia menekankan bahwa Lembaga Keuangan Syariah (LKS) memegang peran penting dalam menyediakan layanan keuangan berbasis syariah. Keberhasilan dan integritas lembaga tersebut, kata dia, sangat bergantung pada efektivitas pengawasan yang dijalankan oleh DPS.

Lebih dari sekadar pengawas normatif, DPS juga berperan sebagai mitra strategis bagi manajemen, penasihat, serta penghubung antara lembaga keuangan dengan regulator dan masyarakat.

Syamsuar turut menyoroti masih maraknya praktik sistem keuangan ribawi di tengah masyarakat Aceh Barat, seperti praktik rentenir dan sistem keuangan lain yang tidak sesuai prinsip Islam. Karena itu, ia menilai penguatan DPS perlu dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi regulasi, pendidikan, maupun implementasi di lapangan.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, otoritas keuangan, dan pelaku industri demi mendukung terbentuknya ekosistem ekonomi syariah yang sehat.

Sementara itu, Kepala Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, Zahrol Fajri, mengingatkan bahwa Qanun Aceh tidak hanya mengatur perbankan, tetapi juga seluruh lembaga yang berkaitan dengan sistem keuangan. Ia menyebut masih banyak lembaga keuangan di Aceh yang belum menerapkan sistem syariah sehingga berdampak merugikan masyarakat.

Pemerintah Aceh Dorong Gekrafs Jadi Penggerak Ekonomi Berbasis Budaya

0
Pemerintah Aceh Dorong Gekrafs Jadi Penggerak Ekonomi Berbasis Budaya. (Foto: Gekrafs Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mendorong Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Provinsi Aceh untuk berperan aktif dalam menggerakkan ekonomi berbasis budaya di berbagai sektor, mulai dari kuliner, kerajinan hingga seni pertunjukan.

Harapan tersebut disampaikan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, dalam pidatonya yang dibacakan oleh Asisten III Setda Aceh, Muhammad Diwarsyah, saat pelantikan pengurus DPW Gekrafs Provinsi Aceh di Anjong Mon Mata, Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Sabtu (15/6/2025).

“Kita harapkan organisasi ini mampu menjadi motor penggerak ekonomi berbasis budaya dan memberikan ide-ide barunya,” kata Mualem.

Menurutnya, Gekrafs merupakan gerakan yang mengusung nilai kreativitas, keberagaman, inovasi, dan kolaborasi, serta mencakup 17 subsektor ekonomi kreatif seperti seni pertunjukan, musik, kuliner, hingga kerajinan digital.

Ia menilai Aceh memiliki potensi besar dalam sektor ekonomi kreatif, terutama dari produk-produk kerajinan tangan dan kuliner khas daerah yang telah dikenal secara nasional.

Karena itu, Pemerintah Aceh berkomitmen menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.

“Jadikanlah momen ini sebagai kebangkitan ekonomi kreatif Aceh. Mari kobarkan semangat kreasi, kolaborasi, dan inovasi demi masa depan Aceh dan Indonesia yang lebih gemilang,” ujar Mualem.

Ketua Gekrafs Aceh, Sunnyl Ikbal, menyebut pelantikan pengurus bukan hanya sekadar pengukuhan struktur organisasi, tetapi menjadi awal dari perjuangan besar menjadikan ekonomi kreatif sebagai sektor unggulan di Aceh.

Ia menegaskan pentingnya peran Gekrafs sebagai wadah pembinaan dan penguatan jaringan pelaku ekonomi kreatif di berbagai bidang. Ia juga mengajak seluruh pengurus untuk bekerja secara kolaboratif guna memajukan sektor ini di Aceh.

“Kita ingin Gekrafs Aceh bergerak aktif membangun pusat-pusat kreatif menjadi garda terdepan kemajuan ekonomi kreatif Aceh,” kata Sunnyl Ikbal.

Editor: Akil

USK Raih Peringkat 66 Dunia dalam Kategori Pendidikan Berkualitas

0
Gedung Rektorat Universitas Syiah Kuala. (Foto: USK)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) mencatat prestasi di tingkat internasional dengan menempati peringkat ke-66 dunia untuk kategori Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2025.

THE Impact Rankings menilai kontribusi universitas terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mencakup aspek penelitian, tata kelola, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tahun ini, USK berpartisipasi dalam 12 dari 17 kategori SDGs, bersama 2.389 universitas dari berbagai negara. Selain mencatat hasil baik di SDGs 4, USK juga mengalami peningkatan peringkat secara keseluruhan dari posisi 801–1000 menjadi 601–800 dunia.

Secara nasional, USK berada di peringkat delapan dari 71 universitas Indonesia yang mengikuti pemeringkatan. Di kategori SDGs 14: Life Below Water, USK menduduki posisi ke-79 dunia, sementara untuk SDGs 17: Partnership for the Goals berada di rentang peringkat 101–200.

Rektor USK, Prof Dr Ir Marwan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika atas kerja keras dalam pencapaian ini.

“Alhamdulillah, pencapaian ini menjadi motivasi bagi USK untuk terus meningkatkan prestasinya dan menguatkan posisinya pada level nasional dan global,” ujar Marwan.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof Dr Ir Agussabti M.Si, juga mengapresiasi kerja kolektif tim yang dipimpin Direktorat Pendidikan dan Pembelajaran, Subdirektorat Reputasi Universitas. Ia menyebut capaian ini sebagai bukti peran USK sebagai “institusi pendidikan tinggi yang dicintai dan dinantikan oleh masyarakat sebagai Jantong Hatee Rakyat Aceh”.

Peningkatan peringkat ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi USK untuk terus memperkuat kualitas di berbagai lini dan mewujudkan visi sebagai universitas socio-technopreneur yang unggul dan mandiri di tingkat global.

Editor: Akil

Muhammadiyah Terus Tingkatkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan di Aceh

0
Universitas Muhammadiyah Aceh. (Foto: unmuha.ac.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Muhammadiyah terus menunjukkan peran aktif dalam bidang pendidikan dan kesehatan di Provinsi Aceh. Sejak masuk ke Aceh pada 1927, organisasi ini telah mendirikan delapan Sekolah Rakyat sebelum kemerdekaan.

Rektor Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), Aslam Nur, menyampaikan bahwa cikal bakal UNMUHA telah hadir sejak 1969 melalui dua fakultas awal, yaitu Fakultas Ilmu Dakwah (FIAT) dan Fakultas Hukum.

“Ketika itu ada dua fakultas yang sebagai fakultas tertua di UNMUHA sekarang ini yaitu pertama Fakultas Ilmu Dakwah disingkat dengan FIAT. Dan yang kedua Fakultas Hukum,” ujar Aslam Nur dalam sebuah acara TVRI Aceh, Kamis (19/6).

UNMUHA sendiri resmi berdiri pada 1991 sebagai gabungan beberapa fakultas yang telah ada sebelumnya. Kini, kampus tersebut telah berkembang dengan tujuh fakultas dan 22 program studi yang terus mencetak lulusan untuk kemajuan Aceh.

Selain di sektor pendidikan, Muhammadiyah juga memperkuat kiprahnya di bidang kesehatan. Organisasi ini mendirikan sejumlah fasilitas layanan, seperti klinik dan rumah sakit untuk mendukung kesejahteraan masyarakat Aceh.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, A. Malik Musa, menyatakan harapannya agar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) di Aceh mulai mendirikan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang kesehatan.

“Kami menyempatkan untuk berkunjung ke Rumah Sakit ’Aisyiyah Kudus Jateng untuk belajar dan mencari pengalaman tentang cara mendirikan rumah sakit,” kata A.

Malik Musa. Sebelumnya, ia juga telah melakukan kunjungan ke RS Sarkies ‘Aisyiyah sebagai bagian dari upaya memperluas jaringan layanan kesehatan Muhammadiyah di Aceh.

Editor: Akil

Fadhlullah Harap Bepro Jadi Mitra Pemerintah Aceh

0
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, memberikan sambutan dalam acar pelantikan Beyond Profesional (Bepro) Aceh, di Ballroom The Pade Hotel, Jumat, (20/6/2025) (Foto: Humas Pemerintah Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menghadiri pelantikan pengurus Beyond Profesional (Bepro) Aceh yang berlangsung di Ballroom The Pade Hotel, Jumat (20/6/2025).

Bepro yang sebelumnya dikenal sebagai relawan pendukung Prabowo-Gibran, kini bertransformasi menjadi Perkumpulan Profesional Muda Indonesia, tetap mempertahankan nama Bepro sebagai singkatan dari Beyond Professional.

Dalam sambutannya, Fadhlullah menyampaikan harapannya agar Bepro dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Aceh dalam mengadvokasi kepentingan masyarakat. Ia menilai, jaringan Bepro yang luas hingga tingkat nasional dapat berperan dalam mendukung berbagai program prioritas daerah.

Beberapa hal yang disebutkan Fadhlullah antara lain dukungan terhadap revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) guna memperpanjang dana Otsus, pengembalian Blang Padang sebagai aset wakaf Masjid Raya Baiturrahman, serta percepatan pembangunan pelabuhan internasional di Aceh.

Selain itu, ia mendorong anggota Bepro yang mayoritas anak muda untuk terus meningkatkan kapasitas diri demi masa depan Aceh yang lebih baik. “Dulu waktu muda saya tak pernah berpikir akan menjadi anggota DPR RI dan Wakil Gubernur, oleh sebab itu terus mempersiapkan diri untuk menyambut masa depan yang berkualitas,” kata Fadhlullah.

Pelantikan ini turut menjadi momen penguatan peran anak muda dalam pembangunan daerah, terutama melalui wadah profesional yang berbasis relawan.

Editor: Akil

Ancaman Bom Terima Saat di Langit Aceh, Pesawat Saudia Mendarat Darurat di Kualanamu

0
Pesawat Saudia Mendarat Darurat di Kualanamu. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | MEDAN – Pesawat Saudia Airlines dengan nomor penerbangan SVA5688 yang mengangkut jemaah haji dari Jeddah menuju Surabaya via Muscat, menerima ancaman bom saat melintas di wilayah udara Aceh, Sabtu (21/6/2025).

Kepala Kantor Otoritas Penerbangan Wilayah II Medan, Asri Santosa, menyebutkan bahwa ancaman tersebut diterima pilot ketika pesawat berada di atas langit Banda Aceh.

“Karena kapten di atas (langit) Banda Aceh, maka segera harus landing di KNO, alternative landing,” ujarnya kepada wartawan.

Pesawat kemudian melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Setibanya di bandara, aparat dari kepolisian, TNI, dan petugas terkait langsung melakukan pemeriksaan terhadap penumpang dan awak pesawat.

“Penumpang dievakuasi, tanpa bawa barang apa pun. Ditaruh di tempat yang clear, lalu di-screening,” kata Asri.

Penumpang dan kru akan bermalam di hotel yang telah disediakan sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya pada Minggu (22/6) menggunakan pesawat yang sama.

“Penumpang semuanya sudah dicek dan diatur penginapannya,” tambahnya.

Ancaman bom tersebut dilaporkan dikirim melalui pesan suara ke VPN radio teleskop. Hingga kini, pihak berwenang masih menyelidiki lebih lanjut untuk mengungkap pelaku di balik ancaman tersebut.

Editor: Akil

Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah Ikut Aksi Solidaritas untuk Palestina

0
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh Irwansyah ST ikut turun ke jalan dalam aksi bela Palestina yang berlangsung di Banda Aceh, Minggu (22/6/2025) (Foto: Humas DPRK Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Irwansyah ST, turut hadir dalam aksi solidaritas untuk Palestina yang digelar oleh Aliansi Rakyat Aceh Bela Palestina di Banda Aceh, Minggu (22/6/2025).

Aamtan Nukilan.id, aksi tersebut diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat. Dalam kesempatan itu, Irwansyah yang juga merupakan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menyampaikan orasi yang menyoroti situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan menyuarakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Irwansyah mengajak masyarakat Aceh, khususnya warga Banda Aceh, untuk terus peduli terhadap kondisi rakyat Palestina yang hingga kini masih berada di bawah pendudukan.

“Hubungan Aceh dan Palestina sangat dekat, bukan hanya karena kesamaan akidah, tetapi juga karena Palestina adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia,” ujarnya dalam orasi.

Ia menegaskan bahwa dukungan masyarakat Aceh terhadap kemerdekaan Palestina akan terus berlanjut hingga rakyat Palestina memperoleh hak-haknya secara penuh.

“Kami menyampaikan salam kepada saudara-saudara kami di Palestina. Sampai detik ini, dan hingga Palestina merdeka, kami akan terus bersama kalian,” kata Irwansyah.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintah Indonesia untuk bersikap lebih tegas terhadap tindakan militer Israel dan memperkuat langkah-langkah diplomatik di tingkat internasional guna menghentikan kekerasan di Gaza.

“Kami menyerukan kepada seluruh rakyat Aceh dan Indonesia agar terus menyisipkan doa untuk saudara-saudara kita di Gaza dalam setiap ibadah dan doa,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: AKil