Beranda blog Halaman 493

Menteri Pertahanan Tinjau Sistem Pelatihan Militer di Aceh

0
Menteri Pertahanan Tinjau Sistem Pelatihan Militer di Aceh. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, melakukan kunjungan kerja ke Aceh pada Senin (24/3/2025). Kedatangannya disambut langsung oleh Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayor Jenderal TNI Niko Fahrizal, M.Tr. (Han).

Dalam kunjungan tersebut, Menhan meninjau fasilitas pendidikan dan sistem pelatihan di Resimen Induk Kodam (Rindam) Iskandar Muda yang berlokasi di Mata’i, Aceh Besar. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertahanan untuk meningkatkan pembinaan sumber daya manusia prajurit TNI AD, khususnya di bidang pendidikan dan pelatihan militer.

Di Rindam IM, Menhan menerima paparan dari Komandan Rindam IM, Kolonel Inf Hasandi Lubis, S.I.P., M.M., M.Si., mengenai berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan dan latihan prajurit TNI AD. Dalam pemaparannya, Kolonel Hasandi menjelaskan inovasi metode pembelajaran yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas dan kesiapan tempur prajurit.

Selain itu, Menhan juga meninjau langsung barak para siswa TNI, dapur siswa, serta fasilitas pendidikan yang ada di Rindam IM. Langkah ini dilakukan untuk memastikan sistem pendidikan militer di Rindam IM terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan pertahanan negara.

Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Niko Fahrizal, menilai kunjungan Menteri Pertahanan ke Aceh sebagai momentum strategis dalam memperkuat sinergi antara Kementerian Pertahanan dan jajaran TNI AD di wilayah Kodam IM.

“Pendidikan dan pelatihan di Rindam IM adalah fondasi utama dalam mencetak prajurit yang disiplin, tangguh, dan siap menjalankan tugas negara. Dengan perhatian langsung dari Bapak Menteri Pertahanan, kami semakin termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan prajurit di lingkungan Kodam IM,” ujar Pangdam IM.

Lebih lanjut, Mayjen TNI Niko Fahrizal menekankan pentingnya sistem pendidikan dan pelatihan prajurit yang adaptif terhadap perkembangan zaman serta kebutuhan operasional. Ia menyoroti peningkatan kualitas instruktur, modernisasi metode latihan, dan pengadaan fasilitas pendidikan sebagai prioritas utama dalam lingkungan Rindam IM.

“Kami berharap kunjungan ini semakin memperkuat sinergi antara Kementerian Pertahanan dan Kodam Iskandar Muda dalam membangun sistem pendidikan militer yang lebih baik. Dengan sumber daya manusia yang unggul dan profesional, maka pertahanan negara akan semakin kokoh,” tambah Pangdam IM.

Kunjungan kerja ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam mendorong penguatan sistem pendidikan dan pelatihan militer di Rindam IM, guna mencetak prajurit TNI AD yang profesional, berintegritas, serta siap menjalankan tugas pertahanan negara di berbagai kondisi.

Editor: Akil

Daftar 18 Wilayah Rawan Kecelakaan Saat Mudik Lebaran di Aceh

0
Ilustrasi kecelakaan. (Foto: IDN Times)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjelang musim mudik Lebaran, kepolisian mengingatkan masyarakat agar lebih waspada saat melintas di sejumlah wilayah di Aceh yang dikenal rawan kecelakaan lalu lintas. Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Aceh, kecelakaan tunggal mendominasi insiden lalu lintas pada tahun 2024, dengan fatalitas yang cukup tinggi.

Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kombes Pol Iqbal, menyebutkan bahwa sejak Januari hingga 13 Maret 2025 telah terjadi 652 kecelakaan lalu lintas di Aceh. Dari total insiden tersebut, tercatat 1.180 korban dengan rincian 132 orang meninggal dunia, 81 orang mengalami luka berat, dan 967 lainnya mengalami luka ringan. Kerugian material akibat kecelakaan ini mencapai Rp1,39 miliar.

“Fatality rate laka lantas yang terjadi selama periode Januari sampai 13 Maret 2025 mencapai 20 persen. Data ini akan menjadi acuan saat Operasi Ketupat Seulawah 2025 yang berlangsung mulai 26 Maret hingga 8 April 2025,” ujar Iqbal, Senin (24/3/2025).

Sebagai perbandingan, dalam Operasi Ketupat Seulawah 2024 yang berlangsung pada 4-16 April 2024, Ditlantas Polda Aceh mencatat terjadi 155 kecelakaan lalu lintas. Dari total insiden tersebut, sebanyak 42 orang meninggal dunia, 13 orang mengalami luka berat, dan 249 orang mengalami luka ringan. Kerugian material akibat kecelakaan ini mencapai Rp498,2 juta.

“Untuk fatality rate laka lantas yang terjadi selama pelaksanaan Operasi Ketupat Seulawah Tahun 2024 mencapai 27 persen,” ujar Dir Lantas Polda Aceh.

Iqbal menambahkan bahwa wilayah timur Aceh memiliki tingkat kecelakaan lalu lintas tertinggi. Dari total 155 insiden yang tercatat selama Operasi Ketupat Seulawah 2024, sebanyak 104 kejadian atau sekitar 67 persen terjadi di wilayah timur Aceh. Fatality rate di daerah ini bahkan mencapai 62 persen.

“Adapun dominasi yang menyebabkan terjadinya laka lantas adalah kecelakaan tunggal,” kata Iqbal. Kecelakaan tunggal ini paling sering terjadi pada sore hari, antara pukul 15.00 hingga 18.00 WIB.

Untuk mengurangi risiko kecelakaan tunggal selama Operasi Ketupat Seulawah 2025, Ditlantas Polda Aceh mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, terutama saat merasa lelah di perjalanan.

“Jika tiba-tiba merasakan lelah bersegeralah ke pinggir jalan, jangan sampai memakan bahu jalan karena dapat memicu potensi laka lantas,” imbau Iqbal.

Selain faktor kelelahan, hewan ternak yang berkeliaran di jalan juga menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas di Aceh. Ditlantas Polda Aceh telah menetapkan 18 titik rawan kecelakaan di berbagai daerah sebagai berikut:

Polresta Banda Aceh: Jalan Laksamana Malahayati, Gampong Durung, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Polres Aceh Besar: Jalan Banda Aceh-Meulaboh, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar.

Polres Pidie: Jalan Sigli-Kembang Tanjong, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie.

Polres Pidie Jaya: Jalan Banda Aceh-Medan, Gampong Meurah Dua, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Polres Aceh Jaya: Jalan Banda Aceh-Meulaboh Km 12, Gampong Keude Unga, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Jalan Banda Aceh-Meulaboh Km 107, Gampong Lhok Kruet, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya.

Polres Aceh Barat: Jalan Banda Aceh-Meulaboh, Gampong Suak Geudebang, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat. Jalan Banda Aceh-Meulaboh, Gampong Seuneubok Teungoh, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat.

Polres Nagan Raya: Jalan Meulaboh-Tapaktuan, Gampong Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya. Jalan Meulaboh-Tapaktuan, Gampong Ujong Fatihah, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya.

Polres Aceh Barat Daya: Jalan Blangpidie-Nagan Raya, Gampong Ujong Pandang, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Polres Aceh Selatan: Jalan Tapaktuan-Meulaboh, Gampong Paya Peulumat, Kecamatan Labuhan Haji Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Jalan Tapaktuan-Subulussalam, Gampong Mata Ie, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. Jalan Tapaktuan-Subulussalam, Gampong Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan. Jalan Tapaktuan-Subulussalam, Gampong Ujung Mangki, Kecamatan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan.

Polres Gayo Lues: Jalan Blangkejeren-Terangun Abdya Km 11, Gampong Peparik Gaib, Kecamatan Kutapanjang, Kabupaten Gayo Lues. Jalan Blangkejeren-Rikit Gaib Km 25, Gampong Tungel Baru Gaib, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues.

Polres Lhokseumawe: Jalan Elak, Gampong Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Dengan adanya pemetaan titik rawan kecelakaan ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintas di jalur-jalur tersebut, terutama selama arus mudik dan balik Lebaran.

Editor: Akil

Pemerintah Aceh Terima Sementara Pengelolaan Kolam Renang Tirta Raya

0
Plt. Sekda Aceh, M. Nasir S.IP, MPA, bersama Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi Aceh, Ir. Larap Kemayan Estu melakukan penandatanganan dokumen penyerahan sementara pengelolaan aset venue Kolam Renang Tirta Raya dari Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh kepada Pemerintah Aceh, di Ruang Rapat Sekda Aceh, Banda Aceh, Senin (24/3/2025).

NUKILAN.id | Banda Aceh Pemerintah Aceh resmi menerima pengelolaan sementara Kolam Renang Tirta Raya dari Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Aceh. Serah terima ini ditandai dengan penandatanganan dokumen oleh Plt Sekda Aceh, M. Nasir, dan Kepala Satker Prasarana Permukiman Provinsi Aceh, Larap, di Ruang Rapat Sekda Aceh, Senin (24/3/2025).

Kolam renang yang telah direnovasi sejak Juli 2024 itu dipersiapkan sebagai venue pertandingan cabang olahraga renang dalam PON XXI Aceh-Sumut. Kepala Satker Prasarana Permukiman Provinsi Aceh, Larap, menyebut bahwa fasilitas tersebut kini berstandar internasional, meskipun sertifikasi resminya masih dalam proses pengurusan.

Plt Sekda Aceh, M. Nasir, menyambut baik penyerahan pengelolaan sementara tersebut. Ia menegaskan bahwa setelah PON XXI, kolam renang ini akan dibuka untuk masyarakat sebagai sarana olahraga.

“Insya Allah fasilitas yang sudah sangat baik ini akan kita rawat dengan baik,” kata Nasir.

Turut hadir dalam acara penandatanganan tersebut, Kepala BPKA Reza Saputra dan Inspektur Aceh Jamaluddin.

Sementara itu, peluang pengembangan ekonomi kreatif di Aceh juga menjadi perhatian. Zulkifli menegaskan bahwa, “Peluang ekonomi kreatif di Aceh sangat besar, khususnya bagi generasi muda. Namun, promosi dan pembinaan terhadap mereka harus lebih intensif.”

Editor: Akil

Provinsi Aceh Masuk dalam 15 Wilayah Pengembangan Ekraf Nasional

0
Ilustrasi Produk usaha ekonomi kreatif Aceh. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Provinsi Aceh resmi menjadi salah satu dari 15 wilayah prioritas dalam pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) nasional. Staf Khusus Menteri Ekonomi Kreatif Rian Syaf menegaskan bahwa Aceh memiliki potensi besar yang dapat dioptimalkan untuk menggerakkan perekonomian daerah.

“Kami percaya bahwa Aceh memiliki banyak potensi yang dapat dioptimalkan,” kata Rian Syaf di Banda Aceh.

Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke Pemerintah Aceh dalam rangka pembahasan kerja sama pengembangan ekonomi kreatif. Menurutnya, sektor ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak perekonomian lokal serta memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pengembangan ekonomi kreatif di Aceh menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menciptakan mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rian menjelaskan bahwa dalam Astacita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ekonomi kreatif menjadi salah satu fokus utama untuk menciptakan lapangan kerja bagi generasi muda serta mempercepat pengembangan sektor ini.

Maka, dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah, Aceh diharapkan dapat memanfaatkan peluang besar ini untuk berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif terkemuka di Indonesia.

“Ekonomi kreatif menjadi solusi untuk menciptakan lapangan kerja yang berkualitas dan diharapkan dapat menyerap tenaga kerja hingga 1 juta orang pada tahun 2025,” kata Rian Syaf.

Pelaksana Tugas Sekda Aceh M Nasir menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan kementerian guna mendukung pelaku ekonomi kreatif di Aceh.

“Kami telah memiliki roadmap untuk ekonomi kreatif di Aceh. Potensi besar, terutama di sektor kuliner, perlu disinkronkan dengan kementerian terkait untuk mendorong produksi dan pemasaran produk kreatif,” kata M Nasir.

Sementara itu, Asisten II Setda Aceh Zulkifli menambahkan bahwa promosi produk-produk kreatif Aceh masih perlu ditingkatkan agar lebih dikenal masyarakat luas.

“Peluang ekonomi kreatif di Aceh sangat besar, khususnya bagi generasi muda. Namun, promosi dan pembinaan terhadap mereka harus lebih intensif,” demikian Zulkifli.

Editor: Akil

Pemko Banda Aceh dan USK Inisiasi Kota Parfum, Petani Nilam Diprediksi Untung

0
Alman, S.H. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh dan Universitas Syiah Kuala (USK) sepakat menjalin kolaborasi untuk menginisiasi program Banda Aceh Kota Parfum Indonesia. Kesepakatan ini dibahas dalam pertemuan antara Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dengan Rektor USK, Prof. Marwan, di Aula Balai Senat USK pada Sabtu (22/3/2025) lalu.

Menurut Illiza, inisiatif ini muncul dari potensi besar Aceh dalam produksi minyak atsiri nilam, yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Minyak nilam Aceh telah lama menjadi bahan utama dalam industri parfum global, termasuk di Prancis, Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.

Gagasan ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk Alman, seorang warga yang aktif mengamati perkembangan budidaya nilam di Aceh Selatan. Ia menilai program ini sebagai langkah awal yang baik dalam menjaga keberlanjutan dan nilai ekonomi minyak nilam di Aceh.

“Tentu ini akan menjadi langkah awal yang baik dalam menjaga potensi (minyak nilam) yang ada. Baik menjaga dalam hal harga maupun dalam hal eksistensi. Saya mengapresiasi Pemko Banda Aceh dalam hal ini,” kata Alman kepada Nukilan.id, Selasa (25/3/2025).

Alman juga menilai bahwa jika program ini berhasil dijalankan maka berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani nilam. Menurutnya, harga minyak nilam akan semakin tinggi jika industri parfum lokal berkembang di Banda Aceh.

“Dengan adanya industri parfum lokal, maka petani tidak perlu lagi menjual minyak nilam ke tengkulak di kampung dengan harga yang rendah. Melainkan bisa langsung ke pabriknya dengan harga yang seharusnya lebih memuaskan karena tanpa campur tangan tengkulak-tengkulak ini,” ungkapnya.

Ia pun menepis kekhawatiran mengenai keterbatasan bahan baku. Menurutnya, jika harga minyak atsiri meningkat, maka minat petani untuk menanam nilam juga akan bertambah.

“Jika harga barang bakunya lebih berharga, saya kira petani akan lebih semangat dalam membudidaya tanaman ini,” tambahnya.

Kolaborasi antara Pemko Banda Aceh dan USK diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi industri parfum nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani nilam di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Kenapa Ada yang Bisa Hidup Sampai Umur 100? Studi Ungkap Alasannya

0
Dr. Howard Tucker. (Foto: Dok. guinnessworldrecords)

NUKILAN.id | Jakarta Usia panjang selalu menjadi misteri yang menarik perhatian banyak orang. Meskipun tak seorang pun dapat memastikan berapa lama seseorang akan hidup, berbagai penelitian menunjukkan bahwa umur panjang dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Dikutip Nukilan.id dari sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine mengungkap bahwa lingkungan dan gaya hidup seseorang memainkan peran yang jauh lebih besar daripada genetika dalam menentukan umur panjang.

Penelitian ini menggunakan data dari UK Biobank, basis data besar di Inggris yang mencakup informasi kesehatan dan gaya hidup dari 500 ribu orang. Data tersebut meliputi informasi genetik, catatan medis, pencitraan tubuh, serta berbagai faktor lingkungan dan sosial.

Bagian lain dari studi ini meneliti sampel darah dari lebih dari 45 ribu peserta menggunakan teknik ‘profil proteomik’. Metode ini mengamati perubahan protein dalam tubuh untuk mengidentifikasi usia biologis seseorang, yang sering kali berbeda dengan usia kronologisnya.

Para peneliti menilai 164 faktor lingkungan serta penanda genetik yang berkaitan dengan penyakit. Faktor lingkungan yang dianalisis meliputi pilihan gaya hidup (misalnya, merokok, aktivitas fisik), faktor sosial (misalnya, kondisi tempat tinggal, pendapatan rumah tangga, status pekerjaan) dan faktor kehidupan awal, seperti berat badan di masa kanak-kanak.

Temuan dalam studi ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan secara kolektif menyumbang sekitar 17 persen variasi dalam rentang hidup, sementara faktor genetik berkontribusi kurang dari 2 persen. Artinya, faktor lingkungan jauh lebih berpengaruh terhadap kesehatan dan umur panjang dibandingkan faktor keturunan.

Lebih lanjut, penelitian ini mengungkap bahwa faktor lingkungan memiliki dampak terbesar pada penyakit paru-paru, jantung, dan hati, sementara genetika memainkan peran terbesar dalam menentukan risiko seseorang terhadap kanker payudara, ovarium, prostat, serta demensia.

Beberapa faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap penuaan biologis dan kematian dini mencakup merokok, status sosial ekonomi, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi kehidupan.

Salah satu hasil studi yang cukup mengejutkan adalah tidak adanya hubungan antara pola makan dan penanda penuaan biologis, sebagaimana ditentukan oleh profil proteomik. Namun, temuan ini masih bisa diperdebatkan karena jumlah sampel yang diteliti dalam kaitannya dengan penuaan biologis dianggap kurang kuat secara statistik.

Meski demikian, penelitian ini mempertegas bahwa gaya hidup dan lingkungan memegang peran dominan dalam menentukan usia seseorang, memberikan wawasan berharga bagi mereka yang ingin meningkatkan peluang hidup lebih lama dan sehat. (XRQ)

Reporter: Akil

Petani Sawit di Aceh Utara Butuh Perbaikan Jalan, SPKS Upayakan Dana Hibah BPDPKS

0
Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Lhoksukon – Ratusan petani kelapa sawit swadaya di lima desa di Kabupaten Aceh Utara menghadapi kesulitan akibat rusaknya jalan produksi yang digunakan untuk mengangkut tandan buah segar (TBS). Menanggapi keluhan ini, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Aceh berupaya memanfaatkan dana hibah dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tahun 2025 untuk perbaikan infrastruktur tersebut.

Ketua SPKS Aceh, Abubakar AR, mengungkapkan bahwa kondisi jalan yang rusak semakin parah seiring meningkatnya curah hujan. Akibatnya, biaya pengangkutan TBS melonjak hingga Rp300 per kilogram, yang semakin membebani petani di tengah tingginya harga pupuk dan ongkos tenaga kerja.

“Jalan yang rusak menyebabkan biaya transportasi naik drastis, sehingga petani mengalami kerugian. Kami dari SPKS Aceh akan mendampingi pengajuan bantuan perbaikan jalan ini agar terealisasi pada Mei 2025,” ujar Abubakar AR kepada InfoSAWIT, Senin (24/3/2025).

Sebanyak 350 petani sawit swadaya yang tergabung dalam Koperasi Produsen Perkebunan Berkat Bunga Damai di Desa Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, dan empat desa lainnya—Seureuke, Lubok Pusaka, Buket Lintueng (Kecamatan Langkahan), serta Cinta Makmur (Kecamatan Baktiya)—mengelola lahan seluas 800 hektare. Seluruh kebun tersebut telah berproduksi dengan usia tanaman berkisar antara 5 hingga 17 tahun.

Saat ini, koperasi tengah mengajukan permohonan bantuan dana hibah sarana dan prasarana melalui aplikasi SAPRAS BPDPKS. Abubakar menegaskan bahwa pengajuan ini harus mendapat prioritas demi kelangsungan usaha petani. Ia juga berjanji akan mengawal proses ini hingga tuntas dan memastikan tidak ada pihak yang mempersulit pencairan bantuan.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN) Aceh Utara dan Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Provinsi Aceh, untuk mempercepat proses rekomendasi teknis. Semua syarat yang tercantum dalam Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor 62 Tahun 2023 harus segera dipenuhi,” tegasnya.

Lebih lanjut, SPKS Aceh juga menegaskan dukungannya terhadap delapan Asta Cita Presiden Prabowo-Gibran, khususnya dalam bidang ketahanan pangan dan bioenergi. Dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah dan BPDPKS, diharapkan perbaikan jalan produksi ini dapat segera terwujud demi kesejahteraan petani kelapa sawit di Aceh Utara.

Editor: AKil

Bupati Aceh Besar Terima Audiensi PB IPAR, Bahas Pembangunan

0
Bupati Aceh Besar, Muharram Idris menerima audiensi pengurus IPAR di kediamannya Gampong Ajuen Lam Hasan, Kecamatan Peukan Bada, pada Minggu (23/3/2025) malam. (FOTO: MC ACEH BESAR)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Bupati Aceh Besar, Muharram Idris (Syech Muharram), menerima audiensi Pengurus Besar Ikatan Pemuda Aceh Besar (PB IPAR) di kediamannya di Gampong Ajuen Lam Hasan, Kecamatan Peukan Bada, Minggu (23/3/2025) malam. Pertemuan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus wadah diskusi mengenai berbagai gagasan pembangunan daerah.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati Muharram Idris mengapresiasi semangat para pemuda yang ingin berkontribusi terhadap kemajuan Aceh Besar. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan generasi muda agar daerah ini dapat berkembang lebih pesat di berbagai sektor.

“Harapannya generasi muda untuk terus meningkatkan kapasitas diri, aktif dalam kegiatan sosial, serta berperan aktif dalam program-program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bupati Muharram Idris.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemuda menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Ia juga menekankan bahwa pemuda yang memiliki wawasan luas, kreativitas, serta semangat gotong royong akan menjadi pilar utama dalam membangun masa depan Aceh Besar yang lebih baik.

Pada kesempatan tersebut, Ketua PB IPAR, Fata Muhammad, S.Pd.I., MM, bersama sejumlah pengurus dan perwakilan pemuda dari berbagai kecamatan, menyampaikan aspirasi serta gagasan mereka terkait pembangunan daerah. Ia menjelaskan bahwa organisasi ini merupakan wadah bagi pemuda untuk bersatu, berkontribusi, dan membangun solidaritas dalam berbagai aspek kehidupan.

“Kami pemuda, khususnya IPAR siap bersinergi dengan berbagai pihak demi mendorong perubahan positif dan menciptakan Aceh Besar yang lebih maju,” tegasnya.

Dalam audiensi ini, para pemuda juga menyoroti sejumlah isu utama, seperti peningkatan lapangan pekerjaan, pengembangan UMKM, serta dukungan terhadap kreativitas dan inovasi anak muda.

“Mereka berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan dan pemberdayaan generasi muda agar mereka memiliki keterampilan serta kemandirian dalam membangun daerahnya sendiri,” ujar Fata.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban ini diakhiri dengan sesi foto bersama serta diskusi santai mengenai berbagai peluang dan tantangan pembangunan di Aceh Besar. Diharapkan, komunikasi antara pemerintah dan pemuda semakin erat sehingga berbagai program dan kebijakan yang dicanangkan dapat berjalan dengan baik serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Editor: Akil

Eks Panglima GAM Barsela: Kami Tidak Alergi dengan RUU TNI

0
Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Barat Selatan Aceh, Sayed Mustafa Usab. (Foto: SerambiNews)

NUKILAN.id | Jakarta – Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Barat Selatan Aceh, Sayed Mustafa Usab, menegaskan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan pengesahan revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI). Ia menyebut bahwa isu yang berkembang terkait revisi ini seharusnya tidak dibesar-besarkan.

“Kami dari Aceh tak alergi, biasa saja itu,” kata Sayed Mustafa dikutip dari beritamerdeka.net, Senin (24/3/2025).

Menurutnya, ada upaya sistematis yang mencoba membelokkan isu ini dengan memunculkan sentimen sejarah, seperti anggapan bahwa revisi tersebut akan membawa kembali Dwi Fungsi ABRI. Ia merasa heran dengan pihak-pihak yang seolah ketakutan terhadap revisi UU TNI.

Sayed, yang pernah menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Libya, menilai bahwa revisi ini tidak serta-merta mengembalikan dominasi militer dalam pemerintahan sipil. Menurutnya, penempatan prajurit TNI di lembaga-lembaga sipil harus didasarkan pada kapabilitas dan kelayakan individu yang bersangkutan.

“Penempatan TNI di lembaga sipil tentunya berdasarkan kemampuan dan kelayakan mereka. Kemarin saya dengar berita Panja revisi RUU TNI meminta kepada anggota TNI aktif yang menduduki jabatan sipil diminta mengundurkan diri dari jabatan TNI. Nah, itu kan bagus. Jadi kan tidak lagi kembali ke masa Orde Baru (Orba). Karena posisi TNI sekarang ingin membantu bagaimana pemerintah ini bisa berjalan dengan baik,” ujar Sayed.

Sayed menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai revisi ini tetap berada di tangan pemerintah. Ia juga menyebut bahwa RUU TNI disusun berdasarkan tugas dan kewajiban TNI dalam menjaga kedaulatan negara.

“Ini bukan dari TNI-nya, TNI hanya mengajukan saja. Diterima, lanjut, tidak diterima, kembali lagi. Menurut saya tempat-tempat yang mereka duduki, bukan tempat strategis juga yang dilemparkan di luar daripada ranah teknik itu. Sifatnya hanya membantu kekuatan pemerintah untuk menyelesaikan masalah,” ungkapnya.

Mengenai kekhawatiran masyarakat Aceh terhadap bangkitnya Dwi Fungsi ABRI, Sayed menyatakan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang dikhawatirkan oleh rakyat Aceh.

“Siapapun, TNI adalah warga negara Indonesia yang berhak menduduki lembaga sipil walaupun ada aturan-aturan yang harus diikuti,” tambahnya.

Sebagai mantan pejuang GAM, Sayed menegaskan bahwa dirinya tidak ingin lagi terjebak dalam narasi masa lalu yang mendiskreditkan langkah pemerintah. Ia justru menginginkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk Aceh.

“Sayalah orang yang memformulasi damai antara GAM dan pemerintah Indonesia. Saya di pihak GAM, pihak penguasa waktu itu Bapak Jusuf Kalla. Pemikiran pemberontakan seperti dulu sudah tamat. Cuman apa yang kita mau itu adalah kesejahteraan yang sama di Aceh dan seluruh rakyat Indonesia. Semuanya ingin sejahtera. Tidak ada manusia yang minta kesusahan,” terangnya.

Lebih lanjut, Sayed menyayangkan adanya pihak-pihak yang menggiring opini seolah revisi UU TNI ini adalah sebuah ancaman bagi demokrasi. Menurutnya, pengesahan revisi UU ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan saat ini.

“Jadi kalau kita tarik lagi ke belakang misalnya takut terjadi lagi Dwi Fungsi. Dulu waktu Dwi Fungsi pun, bagi saya tidak masalah. Masuk masa Orde Lama, tidak masalah. Malah dulu lebih ketat. Masyarakat itu lebih akur. Tidak seperti sekarang. Kalau sekarang kan sudah katakanlah reformasi ya, reformasi ini itu sama pak. Masyarakat bebas memang, tapi hancur-hancuran. Kita lihat di mana-mana. Ya kan? Di mana-mana kehidupan kita ini semakin berat,” ujarnya.

Sayed menegaskan bahwa hadirnya polemik dalam kebijakan baru adalah sesuatu yang wajar. Namun, ia menilai bahwa seharusnya penolakan atau kritik terhadap revisi UU TNI dilakukan setelah melihat implementasinya, bukan sebelum aturan tersebut diberlakukan.

“Mungkin ini belum berjalan soalnya. Nanti kalau sudah oh begini toh hasilnya kan belum nih masih baru diketok palu belum jalan. Harusnya protesnya waktu jalan. Ya kan? Ya kan kita belum berangkat dan bilang itu ada bahaya. Karena kita belum tahu bahaya apa tidak. Mengingatkan itu boleh tapi jangan berlingar gitu,” katanya.

Sayed berharap agar seluruh elemen masyarakat tetap tenang dan tidak memperkeruh suasana dengan spekulasi yang tidak berdasar. Ia juga mengkritik pihak-pihak yang mencoba menggiring opini publik ke arah yang justru merugikan bangsa.

“Mari kita pikirkan bagaimana negara ini yang sedang apa namanya susah. Kita bantu-bantu porsi kita masing-masing. Jadi jangan lagi kita grogoti aturan yang sudah ada itu. Kalau nanti apa namanya dalam perjalanan itu ada semacam yang tidak suka, nanti bisa di-review kembali ke lembaga terkait. Kan ke sana ujungnya. Jadi enggak usah lagi gembar-gembor memprovokasi sehingga negara lagi susah ini tambah sakit,” tegasnya.

Dengan demikian, Sayed Mustafa mengajak semua pihak untuk mendukung langkah-langkah pemerintah dalam membangun bangsa, serta menghindari provokasi yang dapat mengganggu stabilitas negara.

Editor: Akil

Forum Konsultasi Publik, Kolaborasi BPOM Aceh untuk Tingkatkan Kualitas Layanan

0
Forum Konsultasi Publik, Kolaborasi BPOM Aceh untuk Tingkatkan Kualitas Layanan. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BPOM Aceh) menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) pada Kamis (20/3/2025). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini bertujuan mengumpulkan masukan dari berbagai pihak guna meningkatkan kualitas layanan serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap BPOM.

Forum ini berlangsung di Aula Kantor BPOM Aceh serta melalui platform Zoom. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala BPOM Aceh, Yudi Noviandi, dan dihadiri perwakilan lintas sektor, termasuk Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Banda Aceh, serta perwakilan Mal Pelayanan Publik dari Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.

Hadir pula perwakilan Kepolisian Resor Kota Banda Aceh, pelaku usaha, Yayasan Perlindungan Konsumen Aceh (YaPKA), akademisi dari Universitas Muhammadiyah Aceh dan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, serta media dari Serambi Indonesia. Selain itu, perwakilan dari Loka POM Aceh Tengah dan Aceh Selatan, pejabat struktural BPOM Aceh, manajer mutu, ketua tim, serta mahasiswa yang pernah menerima layanan dari BPOM Aceh turut berpartisipasi.

Dalam sambutannya, Yudi Noviandi menegaskan komitmen BPOM Aceh dalam mempercepat pengurusan perizinan usaha dan mendukung investasi di sektor obat dan makanan. Ia menekankan pentingnya penyusunan standar pelayanan (SP) guna meningkatkan kualitas layanan publik.

“Pelayanan publik adalah kegiatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, baik dalam bentuk barang, jasa, maupun administrasi yang disediakan oleh penyelenggara layanan,” ujar Yudi.

Ia menambahkan, layanan publik harus mampu mengurangi kesenjangan antara kebijakan pusat dan implementasi di lapangan.

“Kami menyadari masih ada ruang untuk mengoptimalkan layanan, khususnya bagi kelompok rentan. Oleh karena itu, melalui kolaborasi bersama, kami berharap dapat mewujudkan pelayanan publik yang lebih prima,” tutupnya.

Ketua YaPKA, Fahmiwati, menyambut baik pelaksanaan FKP dan menilai forum ini sebagai wadah efektif bagi pelaku usaha dalam menyampaikan kendala yang dihadapi.

“Kami sering menerima laporan dari masyarakat mengenai produk obat dan makanan ilegal yang masih beredar di pasar tradisional Aceh. Ke depan, kami merekomendasikan koordinasi lebih intensif dengan pemerintah daerah dan Dinas Pangan untuk mendorong ekspor produk Aceh, yang dapat berkontribusi pada peningkatan perekonomian UMKM di daerah ini,” ujarnya.

Pelaku usaha UMKM yang hadir juga mengapresiasi layanan BPOM Aceh, terutama dalam aspek informasi dan pengaduan, sertifikasi, serta dukungan bagi kelompok rentan. Mereka memuji kemudahan akses informasi melalui aplikasi BPOM Mobile, namun mengusulkan peningkatan pengawasan terhadap produk tanpa izin edar yang masih beredar di toko-toko ritel dan pusat oleh-oleh di Aceh.

Selain itu, percepatan proses resertifikasi dan peningkatan keterlibatan pelaku usaha dalam proses tersebut juga menjadi harapan yang disampaikan.

Rangkaian FKP mencakup pemaparan standar pelayanan BPOM Aceh, hasil survei kepuasan masyarakat, pembahasan draft standar pelayanan, diskusi interaktif, serta sesi tanya jawab.

Forum ini ditutup dengan penandatanganan Berita Acara FKP 2025 sebagai bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik BPOM Aceh di masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, diharapkan BPOM Aceh dapat terus berinovasi dalam memberikan pelayanan yang lebih baik, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan sinergi antara BPOM, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, layanan publik yang lebih transparan dan efisien dapat terwujud guna mendukung ekosistem obat dan makanan yang aman serta berkualitas di Aceh.

Editor: Akil