Beranda blog Halaman 484

Pemerintah Aceh Pulangkan Lima Warga Korban TPPO di Myanmar

0
Pemerintah Aceh Pulangkan Lima Warga Korban TPPO di Myanmar. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Lima warga Aceh yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Myanmar akhirnya dipulangkan ke kampung halaman mereka, Minggu (30/3/2025). Pemulangan ini difasilitasi oleh Pemerintah Aceh melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) setelah sebelumnya mereka sempat tertahan di Jakarta.

“Hal ini merupakan arahan langsung dari Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh untuk memfasilitasi warga Aceh yang jadi korban TPPO di Myanmar,” kata Plt Kepala BPPA Said Marzuki saat dihubungi dari Banda Aceh.

Kelima warga tersebut merupakan bagian dari 11 warga Aceh yang sebelumnya telah dievakuasi dari Myanmar. Enam orang di antaranya sudah lebih dulu kembali ke Aceh dengan bantuan keluarga masing-masing, sementara lima orang lainnya harus menunggu di rumah singgah milik Pemerintah Aceh di Jakarta sejak tiba pada 20 Maret lalu.

Hari ini, kelima warga tersebut akhirnya dapat dipulangkan dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, berkat kerja sama antara BPPA dan Dinas Sosial Aceh.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah memulangkan sebanyak 564 WNI yang menjadi korban penipuan pekerjaan online di Myanmar. Proses pemulangan ini melibatkan Satgas Gabungan dari KBRI Yangon, KBRI Bangkok, dan Polri di bawah koordinasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

“Kita mewakili Pemerintah Aceh Jakarta menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri, serta pihak lainnya yang terlibat,” ujar Said.

Adapun lima warga Aceh yang dipulangkan hari ini adalah Syahrul Ramazan (22) asal Angkieng Barat, Samalanga, Bireuen; Riza Fadillah (26) warga Matang Seulimeng, Langsa Barat, Kota Langsa; Alfandi Pratama (27) asal Laksmana, Jumpa, Bireuen; Muklis Saputra (27) dan Muhammad Jafar (21) yang berasal dari Gelanggang Gampong, Kota Juang, Bireuen.

Pemulangan ini menjadi harapan baru bagi para korban untuk bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih baik setelah pengalaman pahit mereka di luar negeri.

Editor: Akil

Gubernur Aceh Santuni Anak Yatim dan Melepas Pawai Takbir Idul Fitri

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf bersama Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE dan Unsur Forkopimda Aceh, saat melepas Musabaqah Pawai Takbir Idul Fitri 1446H/2025 M di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu, (30/3/2025). (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ribuan masyarakat memadati kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (30/3/2025) malam, untuk menyaksikan kemeriahan Pawai Takbir Idul Fitri 1446 Hijriah. Acara tahunan yang menjadi tradisi dalam menyambut hari kemenangan ini dilepas langsung oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, didampingi Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh.

Namun, ada yang berbeda pada perayaan tahun ini. Sebelum melepas peserta pawai, Gubernur Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem, bersama Wakil Gubernur dan Forkopimda Aceh, menyerahkan santunan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas. Aksi ini menjadi simbol kepedulian dan semangat berbagi di hari yang penuh berkah.

Dalam sambutannya, Mualem mengajak masyarakat Aceh untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum mempererat kepedulian sosial dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang telah dijalankan selama bulan Ramadhan.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada seluruh masyarakat Aceh. Mari kita jadikan momentum Idul Fitri sebagai sarana mengaplikasikan segala hal baik yang telah kita lakukan di Bulan Ramadhan, semakin peduli pada sesama, saling tolong menolong. Insya Allah kita semua menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa,” ujar Mualem.

Prosesi pelepasan Pawai Takbir ditandai dengan pemukulan beduk oleh Gubernur Aceh, yang kemudian diikuti oleh Wakil Gubernur. Suasana semakin semarak dengan gema takbir yang berkumandang di seluruh penjuru kota.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Zahrol Fajri, dalam laporannya menyampaikan bahwa Pawai Takbir Idul Fitri tahun ini diikuti oleh 40 tim dengan total peserta mencapai 2.000 orang. Mereka berkeliling kota membawa berbagai ornamen bernuansa Islami, disambut antusias oleh masyarakat yang memadati ruas-ruas jalan protokol.

Acara ini juga dihadiri oleh Plt Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, Tuha Peut Wali Nanggroe Aceh, Sulaiman Abda, serta para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh dan tamu undangan lainnya.

Gema takbir, kebersamaan, dan semangat berbagi yang tercermin dalam kegiatan ini semakin menguatkan makna Idul Fitri sebagai momen penuh keberkahan bagi masyarakat Aceh.

Editor: Akil

Israel Tutup Akses Masjid Ibrahimi untuk Salat Idulfitri

0
Israel Tutup Akses Masjid Ibrahimi untuk Salat Idulfitri. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Jakarta – Umat Muslim di Hebron, Tepi Barat selatan, harus menghadapi kenyataan pahit saat Israel menutup akses ke Masjid Ibrahimi pada hari Idulfitri. Keputusan ini mendapat kecaman dari Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina, yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beribadah.

“Pendudukan (Israel) menolak menyerahkan Masjid Ibrahimi, termasuk seluruh aula, halaman, dan bagian-bagiannya, untuk perayaan Idulfitri yang penuh berkah,” kata Menteri Wakaf Mohamed Najm dalam sebuah pernyataan.

Najm juga menyoroti bahwa ini bukan kali pertama pembatasan semacam ini terjadi. Sejak awal Ramadan, Israel telah menolak membuka seluruh bagian masjid bagi umat Muslim sebanyak enam kali. Ia menilai tindakan ini sebagai bentuk provokasi terhadap sentimen Muslim serta pengabaian terhadap kesucian ritual keagamaan.

Situasi ini memicu seruan kepada warga Hebron untuk tetap menghadiri salat subuh dan Salat Idulfitri sebagai bentuk keteguhan dalam menghadapi rencana Yahudisasi di wilayah pendudukan tersebut.

Keputusan Israel menutup akses ke Masjid Ibrahimi terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Tepi Barat. Sejak serangan Israel ke Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 940 warga Palestina tewas dan hampir 7.000 lainnya terluka akibat serangan tentara Israel serta pemukim ilegal, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Masjid Ibrahimi, yang terletak di Kota Tua Hebron, berada di bawah pendudukan Israel dan dijaga ketat oleh sekitar 1.500 tentara. Sekitar 400 pemukim ilegal juga tinggal di wilayah ini, menambah kompleksitas konflik yang terjadi.

Sejarah panjang ketegangan di Masjid Ibrahimi semakin diperburuk sejak insiden tragis tahun 1994. Saat itu, seorang pemukim ilegal menembaki jemaah Muslim yang sedang beribadah, menewaskan 29 orang. Pasca kejadian tersebut, Israel membagi masjid menjadi dua bagian: 63 persen diperuntukkan bagi orang Yahudi, termasuk ruang salat utama, sementara umat Muslim hanya mendapat 37 persen area masjid.

Mahkamah Internasional dalam keputusannya pada Juli lalu menyatakan bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah ilegal. Pengadilan tersebut menyerukan agar semua permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur dievakuasi.

Di tengah berbagai tekanan internasional, keputusan Israel untuk kembali menutup akses ke salah satu situs suci umat Islam ini semakin memperburuk situasi di wilayah pendudukan. Sementara dunia merayakan Idulfitri dengan sukacita, warga Palestina di Hebron justru harus menghadapi ketidakadilan yang terus berulang.

Editor: Akil

Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Idul Fitri

0
Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia. (Foto: Biro Pers Skretariat Presiden)

NUKILAN.id | Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah kepada seluruh umat Islam di Indonesia dan dunia.

Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Minggu (30/3/2025), Prabowo menegaskan makna Lebaran sebagai momen suci untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, atas nama pemerintah Republik Indonesia dan atas nama pribadi, mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1446 Hijriah kepada seluruh umat Islam di Tanah Air dan di seluruh dunia,” ucap Prabowo.

Presiden juga menekankan bahwa Idul Fitri merupakan momentum kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ia mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjadikan momen ini sebagai kesempatan memperkokoh persatuan dan solidaritas sosial.

“Idul Fitri adalah momen suci untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan kembali komitmen kita sebagai pribadi untuk menjadi lebih baik, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama,” ujar Prabowo.

Lebaran, kata Prabowo, bukan sekadar perayaan, tetapi juga refleksi dalam membangun bangsa yang lebih adil dan sejahtera. Nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Fitri diharapkan dapat menjadi pijakan dalam memperkuat kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat.

“Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia di mana pun berada untuk menjadikan Idul Fitri ini sebagai kekuatan dalam memperkokoh persatuan bangsa, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun masa depan Indonesia yang lebih adil, lebih makmur, dan berkeadaban untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Presiden Prabowo menyampaikan doa agar Idul Fitri tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” imbuhnya.

Editor: Akil

Plt Sekda Aceh: Daftar Proyek Strategis Aceh yang Beredar Bukan Susunan Gubernur Mualem

0
M Nasir Syamaun, Plt Sekda Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamuan, menegaskan bahwa daftar Proyek Strategis Aceh (PSA) yang beredar di publik bukan merupakan susunan Gubernur Aceh saat ini, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Hal itu disampaikan dalam keterangannya dikutip dari Dialeksis.com pada Sabtu (29/3/2025).

“Itu bukan Gubernur Mualem yang susun, masih punya lama brother,” ujarnya.

Nasir menjelaskan bahwa daftar PSA yang beredar masih dalam bentuk rancangan dan belum ditandatangani sebagai Surat Keputusan (SK) oleh Gubernur Aceh. Oleh karena itu, proyek-proyek yang masih berstatus usulan tersebut perlu dikaji ulang sebelum ditetapkan.

“Jadi, masih draft dan sudah dikembalikan untuk dilakukan pembahasan kembali guna menyesuaikan dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Mualem – Dek Fadh,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nasir menyoroti perlunya menelusuri bagaimana draft tersebut bisa beredar ke publik sebelum resmi ditetapkan. Menurutnya, informasi yang belum final seharusnya tidak dipublikasikan agar tidak menimbulkan polemik.

“Harusnya, yang sudah final baru boleh dilaporkan ke publik melalui media massa, sehingga tidak menimbulkan polemik,” tutupnya.

Senada dengan pernyataan Sekda Aceh, Plt Kepala Bappeda Aceh, Dr. Husnan Harun, ST. M.P, juga menegaskan bahwa hingga saat ini proyek strategis Aceh belum diputuskan oleh Gubernur Aceh. Menurutnya, setiap proyek yang masuk dalam PSA harus sesuai dengan visi dan misi kepemimpinan saat ini.

“Saat ini yang sudah hampir final pembahasannya adalah program Quick Wins,” pungkasnya.

Editor: Akil

H-1 Lebaran, Pedagang Petasan di Kota Fajar Kebanjiran Pembeli

0
Pembeli sedang memilih petasan pada salah satu lapak di Kota Fajar Aceh Selatan. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Suasana malam takbiran semakin terasa di Kota Fajar, Aceh Selatan. Sehari menjelang Idul Fitri, lapak-lapak pedagang petasan dipadati pembeli, terutama anak-anak yang tak ingin melewatkan momen spesial ini tanpa gemerlap kembang api dan letusan petasan.

Rara, salah satu pedagang petasan di Kota Fajar, mengaku dagangannya laris manis di penghujung Ramadan. Menurutnya, anak-anak menjadi pelanggan utama yang datang bersama orang tua mereka.

“Anak-anak memang yang paling bersemangat. Setiap tahunnya, mereka datang dengan pengawasan orang tua untuk membeli petasan yang mereka inginkan. Kami harus cepat mengisi ulang persediaan jika barang yang laku keras telah habis,” ungkap Rara kepada Nukilan.id, Minggu (30/3/2025).

Puncak penjualan terjadi pada H-1 Lebaran, di mana omzet Rara melonjak drastis. Selain petasan, ia juga menyediakan berbagai jenis kembang api dengan harga yang bervariasi.

“Selain petasan, saya juga menjual berbagai jenis kembang api dengan harga yang beragam,” tuturnya.

Harga petasan di lapaknya berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 60.000 per bungkus. Dengan lonjakan pembeli, ia mengaku bisa meraup keuntungan hingga setengah juta rupiah per hari.

“Alhamdulillah, omzet yang saya dapatkan setiap harinya bisa mencapai Rp 200-500 ribu,” ujarnya.

Sementara itu, Azwa, salah seorang remaja yang membeli petasan untuk perayaan malam takbiran, mengaku antusias menyambut Idul Fitri dengan kembang api bersama teman-temannya.

“Kami memang sudah membeli beberapa petasan untuk malam takbiran nanti. Tapi kami sadar, keselamatan tetap nomor satu,” ujar Azwa sambil menunjukkan beberapa petasan yang baru saja ia beli.

Di sisi lain, Anton, seorang ayah dari dua anak, mengaku tetap berhati-hati dalam memperkenalkan petasan kepada anak-anaknya. Ia memilih membeli jenis kembang api yang lebih aman dan memberikan pesan penting kepada orang tua lainnya.

“Kita boleh saja membelikan petasan, tapi kita harus ingat untuk tetap mengawasi anak-anak kita. Kesenangan Lebaran tidak boleh berujung pada bahaya,” kata Anton dengan tegas.

Menjelang malam takbiran, suasana Kota Fajar semakin semarak. Cahaya kembang api menghiasi langit, sementara dentuman petasan menambah kemeriahan perayaan Idul Fitri di daerah tersebut. (XRQ)

Reporter: AKil

Akhir Ramadan, Semulin Tetap Jadi Primadona

0
Semulin, pucuk rotan yang diolah menjadi masakan khas Suku Kluet Aceh Selatan. (Foto: DetikTravel)

NUKILAN.id | Tapaktuan Menjelang akhir Ramadan, penjualan Semulin atau pucuk rotan di Kota Fajar, Aceh Selatan, tetap diburu warga. Makanan khas masyarakat Kluet ini menjadi salah satu jajanan favorit untuk berbuka puasa.

“Ramadan tahun ini meningkat sekali penjualannya,” kata Wahida, salah satu pedagang Semulin di Pasar Kota Fajar, Aceh Selatan, Minggu (30/3/2025).

Semulin merupakan makanan tradisional yang berasal dari pucuk rotan muda. Tidak semua jenis rotan bisa diolah, hanya batang muda tertentu yang dipilih. Setelah dibakar, bagian dalamnya yang lembut diambil dan disajikan sebagai kudapan khas.

Di bulan Ramadan, permintaan terhadap Semulin melonjak drastis. Wahida mengaku bisa menjual ratusan batang setiap hari selama bulan puasa. Semulin dijual dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per batang.

“Kalau hari biasanya itu memang jarang orang beli. Saat Ramadan ini bisa terjual 300 – 500 batang setiap harinya,” ujarnya.

Tak hanya lezat, Semulin juga memiliki nilai tradisional yang kental. Maulidin Selian, salah satu pembeli, mengungkapkan bahwa Semulin bukan sekadar camilan, tetapi juga warisan kuliner yang terus dijaga oleh masyarakat Kluet.

“Selain dinikmati sebagai santapan, mengonsumsi Semulin juga dapat menghadirkan kesehatan bagi tubuh kita di masa bulan Ramadan ini,” katanya.

Semulin menjadi bukti bagaimana kuliner tradisional tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. Kehadirannya di bulan Ramadan tidak sekadar mengisi meja makan, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. (XRQ)

Reporter: Akil

Polda Aceh: Arus Mudik Lancar dan Kondusif

0
Polda Aceh Sebut Arus Mudik Lancar dan Kondusif. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh memastikan arus mudik Lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah berjalan lancar, sementara kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap kondusif.

“Kamtibmas di wilayah hukum Polda Aceh berlangsung kondusif. Begitu juga dengan arus mudik Lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah, berjalan kondusif,” kata Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Ketupat Seulawah 2025, AKBP M Nuzir, di Banda Aceh, Sabtu (29/3/2025).

Operasi Ketupat Seulawah 2025 yang sudah memasuki hari keempat melibatkan personel kepolisian dalam patroli dialogis untuk memastikan keamanan dan kelancaran mudik. Selain menjaga kelancaran lalu lintas, personel juga fokus pada pengamanan rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya serta kawasan keramaian seperti pasar dan pusat perbelanjaan.

“Tempat ibadah, pusat perbelanjaan, dan lainnya menjadi sasaran patroli. Patroli dilakukan dengan dialogis dan preventif. Termasuk patroli dan pengamanan di terminal maupun pelabuhan,” ungkap M Nuzir.

Selain itu, kepolisian juga memberikan perhatian khusus pada lokasi penjualan daging meugang, tradisi menjelang Idul Fitri di Aceh. Di titik-titik ini, personel dikerahkan untuk mengatur arus lalu lintas guna mencegah kemacetan.

“Pelaksanaan Operasi Ketupat Seulawah 2025 ini merupakan wujud komitmen Polri dalam memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat dalam menjalankan ibadah puasa dan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1446-H serta menurunkan angka kriminalitas serta kecelakaan lalu lintas,” tambahnya.

M Nuzir juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama periode mudik. Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas agar perjalanan menuju kampung halaman tetap aman dan nyaman.

“Selalu mematuhi peraturan lalu lintas selama dalam perjalanan mudik serta saling menghormati sesama pengguna jalan lainnya. Mari wujudkan mudik menenangkan, perjalanan menyenangkan,” tutupnya.

Editor: Akil

Penjualan Kue Lebaran di Kota Fajar Melonjak, Pedagang Kebanjiran Pembeli

0
Kue lebaran di pasar tradisional Kota Fajar. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1446 H, pasar tradisional di Kota Fajar, Kluet Utara, Aceh Selatan, dipadati pembeli yang berburu kue Lebaran. Permintaan yang meningkat tajam membuat pedagang kue kering di pasar tersebut meraup keuntungan lebih besar dibandingkan hari biasa.

Zahra, salah satu pedagang kue kering, mengungkapkan bahwa lonjakan penjualan sudah terasa sejak akhir bulan Ramadan. Momen puncak terjadi pada hari terakhir puasa, ketika masyarakat mulai mempersiapkan suguhan khas Lebaran.

“Kami menjual berbagai macam kue kering kepada pelanggan, seperti kue nastar, putri salju keju, cookies, lidah kucing, kue kacang, dan aneka kue lainnya,” ujar Zahra saat ditemui Nukilan.id pada Minggu (30/3/2025).

Menurutnya, harga kue tetap stabil meski permintaan melonjak. Kue-kue tersebut dijual dengan kisaran harga antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per bungkus, tergantung jenisnya.

“Untuk kisaran harganya mulai Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Tergantung jenis kuenya,” tambahnya.

Meningkatnya penjualan kue Lebaran ini menjadi indikasi tingginya antusiasme masyarakat dalam menyambut Idulfitri. Beragam pilihan kue yang tersedia di pasar tradisional memudahkan pembeli mendapatkan hidangan khas Lebaran dengan cita rasa yang menggugah selera.

Dengan hanya beberapa hari tersisa menjelang Lebaran, para pedagang pun semakin giat melayani pelanggan yang terus berdatangan. Pasar tradisional Kota Fajar pun semakin ramai dengan suasana khas menjelang hari kemenangan. (XRQ)

Reporter: Akil

Sunnah-sunnah di Hari Idulfitri

0
Ilustrasi Idulfitri. (Foto: iStockphoto)

Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat salat Idulfitri

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seseorang pernah bertanya pada ‘Ali mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari Iduladha dan Idulfitri.” (HR. Al-Baihaqi, 3: 278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al-Irwa’, 1: 177)

Ada riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma sebagai berikut.

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idulfitri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang. (HR. Malik dalam Al-Muwatho’ 426. Imam Nawawi menyatakan bahwa atsar ini shahih)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa para ulama sepakat akan disunnahkannya mandi untuk salat ‘ied.

Dikatakan dianjurkan karena saat itu adalah berkumpungnya orang banyak sama halnya dengan salat Jum’at. Kalau salat Jum’at dianjurkan mandi, maka salat ‘ied pun sama.

Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik

Ada riwayat yang disebutkan dalam Bulughul Maram no. 533 diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki baju khusus di hari Jumat dan di saat beliau menyambut tamu. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adab Al-Mufrad)

Ada juga riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ‘Umar pernah mengambil jubah berbahan sutera yang dibeli di pasar. Ketika ‘Umar mengambilnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Ibnu ‘Umar lantas berkata, “Wahai Rasulullah, belilah pakaian seperti ini lantas kenakanlah agar engkau bisa berpenampilan bagus saat ‘ied dan menyambut tamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata,

إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

“Pakaian seperti ini membuat seseorang tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Bukhari, no. 948)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempermasalahkan berpenampilan bagus di hari Idul Fithri. Yang jadi masalah dalam cerita hadits di atas adalah jenis pakaian yang ‘Umar beli yang terbuat dari sutera.

Ada juga riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idulfitri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1765)

Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari ‘ied.

Aturan berpenampilan menawan di hari ‘ied berlaku bagi pria. Sedangkan bagi wanita, lebih aman baginya untuk tidak menampakkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain. Kecantikan wanita hanya spesial untuk suami.

Makan sebelum shalat Idulfitri

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352. Syaikh Syu’aib  Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Untuk salat Idulfitri disunnahkan untuk makan sebelum keluar rumah dikarenakan adanya larangan berpuasa pada hari tersebut dan sebagai pertanda pula bahwa hari tersebut tidak lagi berpuasa.

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Al-Fath (2: 446) menyatakan bahwa diperintahkan makan sebelum salat idulfitri adalah supaya tidak disangka lagi ada tambahan puasa. Juga maksudnya adalah dalam rangka bersegera melakukan perintah Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ .. وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar pada hari Idulfitri (ke tempat salat, pen.) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Bukhari, no. 953)

Kalau tidak mendapati kurma, boleh makan makanan halal lainnya.

Bertakbir dari rumah menuju tempat salat

Ketika puasa Ramadan telah sempurna, kita diperintahkan untuk mensyukurinya dengan memperbanyak takbir. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).

Dalam suatu riwayat disebutkan,

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak salat pada hari raya Idulfitri sambil bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/1/2. Hadits ini mursal dari Az-Zuhri namun memiliki penguat yang sanadnya bersambung. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)

Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan bahwa kaum muslimin ketika itu keluar dari rumah mereka sambil bertakbir hingga imam hadir (untuk salat ied, pen.)

Namun kalau kita lihat dari keumuman ayat Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menunjukkan perintah bertakbir itu dimulai sejak bulan Ramadhan sudah berakhir, berarti takbir Idulfitri dimulai dari malam Idulfitri hingga imam datang untuk shalat ‘ied.

Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd. (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya).

Kalau lafazh di atas takbir “Allahu Akbar” ditemukan sebanyak dua kali. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah pula disebutkan dengan sanad yang sama dengan penyebutan tiga kali takbir. (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36442)

Artinya di sini, dua atau tiga kali takbir sama-sama boleh.

Syaikhul Islam menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, itu juga diperbolehkan. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24: 220)

Disyari’atkan bertakbir dilakukan oleh setiap orang dengan menjaherkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24: 220)

Saling mengucapkan selamat

Termasuk sunnah yang baik yang bisa dilakukan di hari Idul Fithri adalah saling mengucapkan selamat. Selamat di sini baiknya dalam bentuk doa seperti dengan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima amalan kami dan kalian). Ucapan seperti itu sudah dikenal di masa salaf dahulu.

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2: 446)

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka.” (Al-Mughni, 2: 250)

Namun ucapan selamat di hari raya sebenarnya tidak diberi aturan ketat di dalam syari’at kita. Ucapan apa pun yang diutarakan selama maknanya tidak keliru asalnya bisa dipakai. Contoh ucapan di hari raya ‘ied:

  • ‘Ied mubarak, semoga menjadi ‘ied yang penuh berkah.
  • Minal ‘aidin wal faizin, semoga kembali dan meraih kemenangan.
  • Kullu ‘aamin wa antum bi khair, moga di sepanjang tahun terus berada dalam kebaikan.
  • Selamat Idul Fithri 1437 H.
  • Sugeng Riyadi 1437 H (selamat hari raya) dalam bahasa Jawa.

Ucapan selamat di atas biasa diucapkan oleh para salaf setelah shalat ‘ied. Namun jika diucapkan sebelum shalat ‘ied pun tidaklah bermasalah. (Lihat bahasan Fatwa Islam Web 187457)

Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di hari ied (ingin pergi ke tempat salat, pen.), beliau membedakan jalan antara pergi dan pulang. (HR. Bukhari, no. 986)

Di antara hikmah kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara jalan pergi dan pulang adalah agar banyak bagian bumi yang menjadi saksi bagi kita ketika beramal. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah : 4)

Rasul lalu bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا

Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi jadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, “Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi. (HR. Tirmidzi no. 2429. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Namun hadits ini punya penguat dalam Al-Kabir karya Ath-Thabrani 4596, sehingga hadits ini dapat dikatakan hasan sebagaimana kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin, 1: 439)

Dengan mengamalkan sunnah-sunnah ini, kita tidak hanya merayakan Idulfitri dengan penuh kegembiraan, tetapi juga meneladani ajaran Rasulullah SAW dalam menyambut hari yang suci. Semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Raya Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin! (XRQ)

Reporter: AKil