Beranda blog Halaman 467

Jacques Lacan: Psikoanalis yang Mengubah Cara Kita Melihat Diri Sendiri

0
Jacques Lacan, Tokoh psikoanalisis Prancis. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Dunia psikologi modern tak akan pernah sama sejak kelahiran seorang anak lelaki pada 13 April 1901 di Prancis. Namanya Jacques Lacan. Dalam lintasan sejarah pemikiran abad ke-20, Lacan tumbuh menjadi figur yang mengguncang fondasi psikoanalisis klasik. Ia bukan hanya pewaris gagasan Sigmund Freud, tetapi juga pengacau kreatif yang menghidupkan kembali wacana tentang “aku”, tubuh, bahasa, dan keinginan manusia.

Dikutip Nukilan.id dari buku Jacques Lacan: An Outline of a Life and History of a System of Thought, karya Elisabeth Roudinesco, Lacan adalah seorang filsuf yang bermain dengan bahasa, menantang batas-batas pemahaman tentang diri. Salah satu warisan intelektualnya yang paling menggugah dan mendalam adalah konsep “tahap cermin” (mirror stage), sebuah momen psikologis dalam kehidupan bayi yang bagi Lacan merupakan fondasi ilusi kesadaran diri.

Bayi, Cermin, dan Awal dari “Aku”

Sekitar usia enam hingga delapan belas bulan, menurut Lacan, seorang bayi untuk pertama kalinya melihat pantulan dirinya di cermin. Tampaknya sederhana, tetapi bagi Lacan, ini adalah revolusi kecil dalam batin manusia. Saat bayi melihat bayangan tubuhnya yang utuh, ia mulai mengidentifikasi diri dengan citra tersebut. Padahal, tubuhnya sendiri masih terasa terpecah, belum terkendali.

Proses ini melahirkan “aku ideal” — gambaran utuh dan sempurna yang dikagumi bayi, sekaligus menjadi sumber kebanggaan dan keterasingan. Karena yang dilihat bayi bukan dirinya yang sesungguhnya, tetapi sebuah konstruksi visual eksternal. Dari sinilah Lacan menarik kesimpulan mengejutkan: identitas diri manusia pada dasarnya adalah ilusi yang dibentuk oleh relasi dengan yang lain.

Tiga Tatanan Kehidupan

Tak berhenti di tahap cermin, Lacan melangkah lebih jauh dengan memperkenalkan tiga ranah yang membentuk realitas psikis manusia: Yang Imajinasi, Yang Simbolik, dan Yang Nyata.

  • Yang Imajinasi adalah dunia citra, fantasi, dan identifikasi. Di sinilah tahap cermin berlangsung, tempat kita jatuh cinta pada pantulan diri dan hidup dalam bayangan akan keutuhan yang tak pernah sepenuhnya kita miliki.

  • Yang Simbolik adalah wilayah bahasa, hukum, dan struktur sosial. Manusia yang telah melewati tahap cermin masuk ke dunia simbolik, tunduk pada aturan bahasa dan norma masyarakat. Di sinilah keinginan dibentuk dan dikekang.

  • Yang Nyata, kata Lacan, adalah sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dilambangkan. Ia adalah celah traumatik, bagian dari kenyataan yang selalu luput dari kata-kata, mengintai di balik struktur bahasa dan tak pernah bisa dikuasai sepenuhnya.

Lebih dari Psikoanalis

Lacan bukanlah psikoanalis konvensional. Kuliah-kuliahnya di Paris antara tahun 1950-an hingga 1970-an berubah menjadi pertunjukan intelektual yang membius sekaligus membingungkan. Ia mengutip Freud dan Shakespeare, berpindah dari matematika ke linguistik struktural, dari filsafat Plato ke puisi modern, semua dalam satu paragraf.

Gagasannya tidak hanya mengguncang dunia psikologi, tetapi juga merembes ke teori sastra, kajian film, feminisme, dan filsafat kontinental. Tokoh-tokoh besar seperti Julia Kristeva, Slavoj Žižek, hingga Judith Butler menjadikan Lacan sebagai bahan bakar intelektual mereka.

Warisan dan Kontroversi

Hingga wafatnya pada 9 September 1981, Jacques Lacan tetap menjadi tokoh kontroversial. Bagi sebagian orang, ia adalah penyelamat psikoanalisis dari kejumudan. Bagi yang lain, ia adalah penyulap kata-kata yang tak bisa dipahami. Namun satu hal pasti, Lacan telah membuka sebuah jalan berpikir baru tentang manusia — bahwa untuk memahami diri, kita harus melihat ke dalam cermin dan menyadari bahwa yang kita lihat mungkin bukanlah kita.

Kini, lebih dari empat dekade setelah kepergiannya, warisan Lacan terus hidup. Di universitas-universitas, forum filsafat, ruang terapi, bahkan dalam pembacaan film dan sastra, namanya tetap menggema. Di balik setiap pencarian akan jati diri, ada jejak cermin Lacan — retak, tapi memantulkan kenyataan yang tak pernah sepenuhnya utuh. (XRQ)

Reporter: AKil

13 April 1953: Ian Fleming Terbitkan Novel James Bond Pertama

0
Sampul Casino Royale, novel pertama James Bond karya Ian Fleming. (Foto: Universal)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Tanggal 13 April 1953 menandai sebuah momen penting dalam sejarah sastra populer dan dunia hiburan. Pada hari itu, penerbit Jonathan Cape di Inggris pertama kali merilis Casino Royale, novel perdana karya Ian Fleming yang memperkenalkan sosok ikonik: James Bond, agen rahasia dengan kode 007.

Dilansir Nukilan.id dari berbagai sumber, Fleming mengenalkan pembaca pada dunia spionase yang memadukan ketegangan, intrik, dan gaya hidup glamor. Bond, seorang agen MI6, diberi misi untuk menghancurkan Le Chiffre, seorang bandar judi sekaligus agen Soviet, dalam permainan bakarat bernuansa hidup dan mati di Royale-les-Eaux, sebuah kasino fiktif di Prancis.

Lebih dari sekadar kisah laga, Casino Royale menggali sisi psikologis dan moral sang agen rahasia. Hubungan Bond dengan Vesper Lynd, rekan sekaligus cinta pertamanya, membuka lapisan baru dari karakter yang tampak dingin dan tak kenal takut. Dalam novel ini, pembaca diajak menyelami konflik batin Bond—tentang pengkhianatan, loyalitas, dan harga yang harus dibayar dalam dunia gelap spionase.

“Fleming tidak hanya menciptakan karakter ikonik, tetapi juga menetapkan nada dan gaya untuk keseluruhan waralaba yang akan datang,” tulis seorang kritikus sastra Inggris, dalam sebuah ulasan retrospektif. “Dia membawa pembaca masuk ke dunia di mana bahaya dan pesona berjalan beriringan.”

Keberhasilan Casino Royale membuka jalan bagi lahirnya serangkaian novel Bond berikutnya, termasuk Live and Let Die dan From Russia with Love, yang kemudian diadaptasi ke dalam film-film sukses. Waralaba James Bond pun tumbuh menjadi salah satu fenomena budaya paling bertahan sepanjang abad ke-20 dan ke-21, dengan jutaan penggemar di seluruh dunia.

Film adaptasi Casino Royale sendiri baru hadir beberapa dekade kemudian, dengan Daniel Craig sebagai Bond dalam versi yang lebih realistis dan gelap. Adaptasi ini kembali menghidupkan cerita orisinal Fleming dan membuktikan bahwa kisah sang agen rahasia tetap relevan di era modern.

Tujuh dekade setelah penerbitannya, Casino Royale bukan hanya sebuah novel mata-mata. Ia adalah simbol awal dari sebuah dunia yang penuh misteri, strategi, dan dilema moral. James Bond telah menjadi ikon global, dan semuanya bermula dari sebuah buku tipis yang diterbitkan pada musim semi tahun 1953.

Begitulah sejarah mencatat kelahiran seorang agen—bukan dari senjata atau aksi ledakan, melainkan dari pena seorang penulis yang pernah bekerja sebagai intelijen Angkatan Laut Inggris. Ian Fleming mungkin telah tiada, namun karakter ciptaannya terus hidup, menembus batas generasi dan layar lebar. (XRQ)

Reporter: Akil

Maklumat Nantes 1598: Titik Balik Toleransi Beragama di Prancis

0
Maklumat Nantes. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pada tanggal 13 April 1598, Prancis menorehkan sebuah babak penting dalam sejarah toleransi beragama di Eropa. Hari itu, Raja Henry IV menandatangani Maklumat Nantes atau Edict of Nantes, sebuah dekrit bersejarah yang menjadi angin segar bagi umat Protestan (Huguenot) setelah puluhan tahun konflik berdarah dengan umat Katolik.

Dihimpun Nukilan.id dari berbagai sumber, maklumat ini lahir dari kelelahan bangsa yang dilanda perang saudara selama lebih dari tiga dekade. Perang Agama Prancis yang bermula sejak pertengahan abad ke-16 telah merenggut ribuan nyawa dan mengguncang fondasi negara.

Henry IV, yang semula seorang Huguenot dan kemudian berpindah ke Katolik demi meredam ketegangan, tampil sebagai sosok yang memilih jalan damai. Ia paham, bahwa persatuan hanya bisa diraih bukan dengan pedang, melainkan dengan keadilan.

Secara garis besar, Maklumat Nantes memberikan sejumlah hak yang tak pernah dibayangkan sebelumnya bagi umat Protestan di bawah sebuah kerajaan Katolik. Kebebasan hati nurani diakui di seluruh wilayah Prancis, dan ibadah Protestan diizinkan secara publik di beberapa daerah tertentu, serta secara privat di seluruh negeri. Lebih jauh lagi, umat Protestan diberi hak-hak sipil—termasuk untuk bekerja di sektor pemerintahan, mengakses pendidikan, serta membawa keluhan langsung ke istana raja.

Salah satu hal yang cukup unik, umat Protestan juga diberi wewenang untuk mempertahankan sejumlah kota berbenteng sebagai jaminan keamanan mereka. Ini menjadi bukti bahwa Raja Henry IV tak sekadar menjanjikan perlindungan, tapi juga memberikan instrumen nyata untuk memastikan ketenangan mereka.

Maklumat Nantes pun menjadi salah satu contoh awal toleransi beragama di Eropa modern. Meskipun Katolik tetap menjadi agama resmi negara, keputusan ini menandai langkah awal menuju masyarakat yang lebih inklusif. Di tengah suasana Eropa yang saat itu masih dibayang-bayangi dogma dan intoleransi, Prancis seolah tampil satu langkah lebih maju.

Namun, bab toleransi ini tidak berlangsung lama. Lebih dari delapan dekade kemudian, pada tahun 1685, Raja Louis XIV mencabut Maklumat Nantes melalui Edict of Fontainebleau. Pencabutan ini bukan hanya menghapus jaminan perlindungan bagi Huguenot, tetapi juga memicu eksodus besar-besaran umat Protestan ke negara-negara tetangga seperti Belanda, Inggris, dan wilayah-wilayah Jerman. Banyak dari mereka adalah pengrajin, pedagang, dan intelektual, yang kepergiannya menjadi kerugian besar bagi Prancis.

Kini, Maklumat Nantes dikenang sebagai tonggak awal kompromi dan toleransi dalam sejarah Eropa. Ia menjadi simbol bahwa perdamaian dan keberagaman bukanlah utopia, melainkan bisa menjadi kenyataan ketika pemimpin memilih keberanian untuk mendengar semua suara, bukan hanya suara mayoritas.

Di tengah dunia modern yang masih terus berjuang dengan isu intoleransi dan diskriminasi, kisah Maklumat Nantes adalah pengingat berharga: bahwa kekuasaan sejati bukan berasal dari dominasi, melainkan dari keadilan dan keberanian untuk menghormati perbedaan. (XRQ)

Reporter: Akil

Workshop TK ‘Aisyiyah se-Banda Aceh Buka Wawasan Baru untuk Pendidikan Anak Usia Dini

0
Workshop TK ‘Aisyiyah se-Banda Aceh Buka Wawasan Baru untuk Pendidikan Anak Usia Dini. (Foto: PWMU.co)

NUKILAN.id | BANDA ACEH – Puluhan guru dan pengelola TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal se-Kota Banda Aceh mengikuti Workshop Penguatan dan Pengelolaan Lembaga PAUD yang digelar pada Sabtu (12/4/2025) di Aula Utama Gedung Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah Aceh, kawasan Merduati.

Mengusung tema “Pendidikan Anak Usia Dini yang Berkualitas dan Berkemajuan”, kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk membangun sinergi antar pemangku kepentingan di lingkungan Amal Usaha ‘Aisyiyah, khususnya bidang pendidikan anak usia dini (PAUD).

Ketua PW Aisyiyah Aceh, Ashraf Djuned, mengatakan bahwa kolaborasi antara pembina, penyelenggara, dan pengelola lembaga pendidikan menjadi kunci dalam membangun sistem yang solid dan berdaya saing.

“Sinergitas ini sangat penting agar kolaborasi dalam membangun lembaga pendidikan yang solid bisa terwujud dengan baik,” ujar Ashraf dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Ashraf menjelaskan bahwa workshop ini juga menjadi titik awal dari pelaksanaan program pengembangan PAUD lima tahun ke depan yang sejalan dengan arah kebijakan nasional. Salah satu fokus utamanya adalah mendorong manajemen lembaga pendidikan yang lebih transparan dan akuntabel.

Tiga Narasumber, Tiga Perspektif

Workshop ini menghadirkan tiga narasumber dengan kompetensi di bidangnya. Narasumber pertama, Jauhari dari Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh, membahas pentingnya Sinkronisasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) PAUD Tahun 2025.

“Data yang dihasilkan harus reliabel, kapabel, dan akseptabel. Dengan data yang akurat, kebijakan yang diambil akan lebih tepat sasaran,” tegas Jauhari di hadapan peserta.

Sementara itu, Sabri selaku Kepala Bidang Pembinaan PAUD Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, memaparkan strategi manajemen dan tata kelola pendidikan anak usia dini. Ia menekankan peran penting kepala sekolah dalam membangun sistem yang efektif dan berkelanjutan.

Sebagai pemateri terakhir, Iskandar Muda Hasibuan dari Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) PWM Aceh membahas tantangan terkini dalam dunia pendidikan serta arah kebijakan yang akan diambil oleh majelis ke depan.

Diskusi yang Menggugah dan Solutif

Suasana workshop makin hidup saat sesi diskusi panel dimulai. Para peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan, menyampaikan pandangan, serta berbagi pengalaman. Forum ini pun menjadi ruang dialog yang produktif antara narasumber dan peserta.

“Forum ini sangat penting untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan kompetensi pengelola lembaga PAUD,” ujar salah satu peserta yang juga kepala TK ‘Aisyiyah dari Kecamatan Kuta Alam.

Tak hanya berhenti pada diskusi, workshop ini juga menghasilkan tindak lanjut konkret. Sebanyak 33 peserta yang terdiri dari operator, guru, dan kepala sekolah diminta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari materi yang diperoleh.

“Setiap peserta harus menyusun RTL sebagai panduan untuk meningkatkan mutu lembaga yang mereka kelola. Ini menjadi tolok ukur keberhasilan kegiatan hari ini,” tutup Ashraf Djuned.

Dengan berakhirnya workshop ini, para peserta membawa pulang bukan hanya ilmu dan wawasan baru, tetapi juga komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini yang inklusif, transparan, dan berkemajuan.

Editor: Akil

Danrem Lilawangsa Pimpin Sertijab Dandim Aceh Timur dan Gayo Lues

0
Danrem Lilawangsa Pimpin Sertijab Dandim Aceh Timur dan Gayo Lues. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Lhokseumawe – Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, memimpin langsung prosesi serah terima jabatan (sertijab) dua Komandan Kodim (Dandim) di jajaran Korem 011/Lilawangsa, Sabtu (12/4/2025).

Upacara yang berlangsung khidmat ini digelar di Gedung KNPI Korem 011/LW, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Dua jabatan strategis yang diserahterimakan yakni Dandim 0104/Aceh Timur dan Dandim 0113/Gayo Lues.

Letkol Inf Tri Purwanto resmi menyerahkan tongkat komando Dandim 0104/Aceh Timur kepada Letkol Inf Novi Widiyanto. Sementara itu, jabatan Dandim 0113/Gayo Lues diserahterimakan dari Letkol Czi Yanfri Satria Sanjaya kepada Letkol Inf Agus Satrio Wibowo.

Tak hanya itu, dalam acara tersebut juga dilakukan pelepasan pejabat Korem 011/LW lainnya, yakni Kepala Seksi Operasi (Kasi Ops) Mayor Inf Doni Prasetyo yang akan mengemban tugas baru sebagai Komandan Batalyon Infanteri 111/Karma Bhakti.

Kolonel Inf Ali Imran mengucapkan apresiasi tinggi kepada para pejabat lama atas dedikasi dan pengabdian mereka selama bertugas di Korem 011/Lilawangsa.

“Jadikan pengalaman tugas sebagai bekal bermanfaat untuk mengemban tugas selanjutnya,” pesannya.

Dalam sambutannya, Danrem juga menyampaikan selamat kepada pejabat yang akan bertugas di satuan baru.

“Selamat bertugas di satuan yang baru Letkol Inf Tri Purwanto, sebagai Kasrem 063/SGJ Kodam III/Siliwangi, Letkol Czi Yanfri Satria Sanjaya, Pabandya-1 Litpers Spaban IV/Pam Sintelad dan Mayor Inf Doni Prasetyo, sebagai Danyonif 111/KB,“ ujar Danrem.

Kepada para Dandim yang baru, Kolonel Ali Imran menekankan pentingnya adaptasi cepat serta peningkatan kinerja satuan untuk mewujudkan profesionalitas TNI AD yang semakin baik.

“Jalin komunikasi dan kerjasama yang baik dengan semua pihak, baik dengan forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun dengan seluruh elemen masyarakat,” sebutnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya soliditas di internal satuan serta peran istri dalam mendukung organisasi Persit Kartika Chandra Kirana.

“Tancap Gas terus, jaga soliditas dan tingkatkan profesionalisme prajurit dalam melaksanakan tugas. Begitupun kepada istri Ketua persit Cabang, agar senantiasa dapat mengayomi anggota dalam memajukan persit Kartika Chandra Kirana,” pesan Danrem.

Upacara sertijab ini juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus bentuk komitmen Korem 011/Lilawangsa dalam menjaga kesinambungan komando dan peningkatan kinerja di wilayah tugas masing-masing Kodim.

Editor: Akil

Kukuhkan Kepengurusan Baru, PDPI Aceh Komitmen Tingkatkan Layanan Paru di Daerah

0
PDPI Aceh Kukuhkan Kepengurusan Baru. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Provinsi Aceh resmi mengukuhkan kepengurusan baru periode 2024–2027 dalam sebuah acara pelantikan yang dirangkai dengan Halal Bihalal Idulfitri 1446 Hijriah. Kegiatan berlangsung di Hotel Ayani, Peunayong, Banda Aceh, Sabtu (12/4/2025), dan dihadiri puluhan dokter paru dari seluruh Aceh, perwakilan organisasi profesi kedokteran, serta undangan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tingkat provinsi dan kota.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan prosesi pelantikan oleh Ketua PDPI Pusat, dr. Alvin Kosasih, Sp.P(K), MKM, FISR, FAPSR, didampingi Wakil Sekretaris PDPI Pusat, Dr. dr. Rosa Marlina, Sp.P(K). Dalam sambutannya, dr. Alvin menyoroti pentingnya kolaborasi antardokter paru, terutama dalam menghadapi tantangan kesehatan global di era pascapandemi.

“Aceh memiliki potensi besar dalam pengembangan layanan respiratori. Kami berharap kepengurusan baru dapat memperkuat jejaring edukasi dan inovasi,” ujarnya di hadapan para peserta.

Sekretaris Umum PDPI Aceh, Dr. Hendra Kurniawan, M.Sc, Sp.P(K), menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah langkah kolektif menuju peningkatan layanan kesehatan paru di Aceh.

“Ini bukan hanya seremonial, tapi komitmen kolektif. Kami akan fokus pada peningkatan kapasitas dokter paru, deteksi dini penyakit, serta edukasi masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PDPI Aceh terpilih, Dr. dr. Mulkan Azhary, M.Sc, Sp.P(K), FAPSR, menyampaikan pidato strategis mengenai arah pengabdian PDPI Aceh ke depan. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya peran dokter paru tak hanya di rumah sakit, tetapi juga di tengah masyarakat.

“Tugas kita bukan hanya di rumah sakit, tapi juga di komunitas. Penyakit paru seperti TB, PPOK, dan kanker paru masih tinggi. Kami akan memperkuat program preventif dan kolaborasi lintas sektor,” ucap Mulkan.

Ia juga menambahkan bahwa profesionalisme harus disertai dengan integritas dan empati. “Kita harus hadir sebagai solusi, terutama di daerah terpencil. Teknologi dan kearifan lokal harus bersinergi,” imbuhnya.

Pernyataan ini disambut antusias oleh peserta, termasuk perwakilan IDI Aceh yang menyampaikan dukungan penuh terhadap program-program PDPI ke depan. Diharapkan, PDPI Aceh di bawah kepemimpinan Mulkan mampu menjadi garda terdepan dalam penanganan masalah paru serta memperkuat peran dokter sebagai agen perubahan di bidang kesehatan masyarakat.

Setelah pelantikan, acara dilanjutkan dengan Halal Bihalal yang diisi dengan tausiyah dari Ustaz H. Zul Arafah. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya membangun etos kerja yang dilandasi nilai-nilai spiritual.

“Profesi dokter adalah amanah. Setiap tindakan harus dilandasi niat ibadah dan keikhlasan. Kesehatan paru adalah bagian dari menjaga nikmat Allah,” ujar Ustaz Zul.

Acara ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan dunia kesehatan dan kedamaian Aceh. Dr. Hendra menegaskan, harmonisasi antara keilmuan medis dan spiritualitas merupakan kunci keberhasilan dalam memberikan layanan kesehatan yang menyentuh hati masyarakat.

“Acara ini mengingatkan kita bahwa di balik kompetensi teknis, ada tanggung jawab moral untuk membumi,” pungkasnya.

Sejarawan Aceh Dukung Fadli Zon Garap Film Kekaisaran Ottoman dan Kesultanan Aceh

0
Sejarawan Aceh Dukung Fadli Zon Garap Film Kekaisaran Ottoman dan Kesultanan Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Rencana Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk memproduksi film sejarah tentang Kekaisaran Ottoman dan Kesultanan Aceh mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi. Salah satu dukungan datang dari sejarawan Aceh, Dr M Adli Abdullah, yang menilai langkah tersebut sebagai inisiatif strategis untuk memperkuat kembali hubungan budaya antara Indonesia dan Turki.

“Rencana ini perlu mendapat dukungan oleh seluruh elemen bangsa, karena melalui media film ini dapat mempererat kembali hubungan budaya antara Turki dan Indonesia,” ujar M Adli Abdullah di Banda Aceh, Sabtu (12/4/2025).

Menurut Adli, kerja sama melalui medium film sejarah bukan hanya relevan secara kultural, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian warisan budaya. Ia menyebut film tersebut bisa menjadi momentum kolaborasi seni lintas negara, pertukaran akademik, penguatan kapasitas budaya, hingga eksplorasi dunia digital melalui sinema, musik, dan karya sastra kontemporer.

Lebih jauh, Adli mengungkapkan bahwa hubungan antara Turki dan Aceh memiliki akar sejarah yang dalam. Hubungan ini bahkan telah terjalin sejak abad ke-6, jauh sebelum Indonesia menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Turki pada 1950.

Ia memaparkan bahwa secara historis, Kesultanan Aceh dan Kekaisaran Ottoman (Turki Utsmani) menjalin kemitraan erat dalam menghadapi kolonialisme Barat di kawasan Asia Tenggara. Hubungan ini telah dimulai sejak masa Samudera Pasai pada abad ke-13 dan dilanjutkan oleh Kesultanan Aceh, terutama pasca jatuhnya Melaka ke tangan Portugis pada 1511.

“Turki Usmani membantu Aceh melawan hegemoni Portugis di Asia Tenggara dan melakukan hubungan diplomatik resmi dengan Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ketiga yang berkuasa antara 1537 hingga 1568,” jelasnya.

Kerja sama antara kedua kerajaan itu, menurut Adli, mencakup pengiriman pasukan, bantuan peralatan tempur, ahli persenjataan, hingga pelatihan pembuatan meriam. Dukungan tersebut memperkuat pertahanan Aceh dalam menghadapi penjajahan Portugis, Inggris, dan Belanda.

Selain aspek militer, hubungan tersebut juga berdampak pada perluasan perdagangan rempah-rempah, khususnya lada Aceh yang menjadi komoditas unggulan pada masa itu.

“Nama nama Turki juga masih muncul di Aceh seperti Efendi, Ali Basyah, Bey dan lain-lain,” kata Adli menambahkan.

Bukti hubungan historis tersebut hingga kini masih bisa ditelusuri, antara lain melalui surat-surat diplomatik dari Kesultanan Aceh yang tersimpan di Badan Arsip Turki di Istanbul, serta keberadaan Kompleks Makam Teungku di Bitay di Banda Aceh.

Sebelumnya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan niatnya untuk memproduksi film kolaborasi sejarah ini saat bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Nuri Ersoy.

Editor: Akil

Syair-syair Hamzah Fansuri Ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World

0
Hamzah Fansuri. (Foto: Hidayatuna)

Nukilan.id | Banda Aceh – United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan syair-syair Hamzah Fansuri masuk dalam kategori warisan Memory of the World (MOW). Hal tersebut disampaikan UNESCO dalam dokumen bernomor 221 EX/17.INF di Paris, 18 Maret 2025. Syair-syair Hamzah Fansuri ini diusulkan secara Bersama oleh Indonesia melalui Perpusnas RI dan Malaysia melalui Perpustakaan Negara). Sebelumnya, Hikayat Aceh juga sudah ditetapkan sebagai MOW oleh UNESCO.

Dikutip Nukilan dari dokumen UNESCO, untuk nominasi 2024-2025, UNESCO memasukkan 74 warisan MOW baru dari berbagai negara. Lima di antaranya diusulkan oleh Indonesia dengan beberapa negara lainnya, yaitu The Works of Hamzah Fansuri, Archives of Javanese Dance: Mangkunegaran Dance Arts, 1861-1944, The Sang Hyang Siksa Kandang Karesian Manuscript, The Birth of the Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) (Archives about the Formation ASEAN, 1967-1976) yang diusulkan bersama Malaysia, Singapura, dan Thailand, dan Kartini Letters and Archive: the struggle for gender equality yang diusulkan bersama Kerajaan Belanda.

Dalam dokumennya, UNESCO menjelaskan bahwa Hamzah Fansuri memiliki kontribusi besar terhadap budaya Melayu dan pemikiran intelektual di abad ke-16. Dia menjadi orang pertama yang membangun fondasi perdebatan sarjana di bidang bahasa melalui syair-syair dan prosanya.

“Karya-karyanya dalam bentuk syair populer di Nusantara, berpengaruh besar terhadap sastra Melayu dan menjadi fondasi dasar untuk sastra Indonesia dan Malaysia modern,” demikian tertulis dalam dokumen tersebut. []

Reporter: Sammy

Polres Aceh Besar Musnahkan Ladang Ganja Seluas 1 Hektare di Lamteuba

0
Operasi pemusnahan ganja di kawasan pegunungan Desa Lamteuba Droe, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: Dok. Polres Aceh Besar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Satu hektare ladang ganja berhasil dimusnahkan oleh jajaran Polres Aceh Besar dalam operasi yang dipimpin langsung Kapolres AKBP Sujoko di kawasan pegunungan Desa Lamteuba Droe, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu (12/4/2025).

Dalam operasi tersebut, petugas menemukan sekitar 1000 batang tanaman ganja dengan tinggi mencapai 1 hingga 2 meter yang diperkirakan berusia 2 hingga 3 bulan. Seluruh tanaman tersebut langsung dimusnahkan dengan cara dibakar di lokasi penemuan.

“Ladang ganja ini berlokasi sangat terpencil dengan medan yang sangat sulit dijangkau. Tim kami harus berjalan kaki selama tiga jam melewati jalur yang licin dan terjal di tengah hujan untuk bisa mencapai lokasi,” terang AKBP Sujoko dalam keterangannya kepada Nukilan.

Kapolres menegaskan bahwa pemusnahan ladang ganja tersebut merupakan bagian dari komitmen Polres Aceh Besar dalam memberantas peredaran narkotika di wilayahnya. Ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut berperan aktif dalam upaya pemberantasan narkoba.

“Kami terus menggencarkan pemberantasan narkoba, termasuk ladang ganja diwilayah Aceh Besar bisa benar-benar bersih dari narkoba,” tutup Kapolres.

Operasi pemusnahan ini melibatkan 60 personel gabungan yang terdiri dari anggota Polres Aceh Besar, Polsek jajaran, dan bantuan dari TNI AD Kompi Senapan B Yonif 117/KY. Kegiatan tersebut juga disaksikan oleh Ketua Bhayangkari Cabang Aceh Besar Ny. Nining Sujoko dan Kajari Aceh Besar Jemmy Novian Tirayudi.

Reporter: Rezi

Harga Gabah di Kluet Timur Rp6.500 per Kilogram, Bulog Pastikan Siap Jemput Langsung ke Lokasi

0
Proses penjembutan gabah petani di Kluet Timur oleh Tim Jemput Gabah Bulog Kancab Blangpidie. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Masyarakat petani di Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, tengah diselimuti rasa penasaran terkait harga jual gabah pada musim panen tahun ini. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa harga gabah bervariasi, mulai dari Rp6.000 hingga Rp6.500 per kilogram.

Untuk mengonfirmasi hal tersebut, Nukilan.id menghubungi Pimpinan Cabang Bulog Blangpidie, Nurul Irandasari, guna mengetahui harga resmi pembelian gabah oleh Bulog di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa harga beli gabah oleh Bulog tidak berada di bawah Rp6.500 per kilogram.

“Untuk wilayah kerja Bulog Kancab Blangpidie membawahi wilayah Aceh Barat Daya, Aceh Selatan dan Subulussalam. Untuk harga beli gabah wilayah ini tetap 6.500,” katanya saat dihubungi pada Jumat (11/4/2025).

Pernyataan itu sekaligus menjawab kekhawatiran petani bahwa harga akan jatuh di bawah standar. Nurul juga menambahkan bahwa Bulog telah mengaktifkan tim lapangan untuk turun langsung ke lokasi-lokasi panen guna melakukan pembelian gabah dari petani.

“Tim kita sudah turun ke lokasi yang mulai panen. Kemarin, tim sudah melakukan kegiatan jemput gabah di Gampong Alai, Kecamatan Kluet Timur,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nurul menjelaskan bahwa tidak ada batas minimal jumlah gabah yang harus dikumpulkan oleh petani untuk bisa dijual ke Bulog. Hal ini dilakukan agar memudahkan semua kalangan petani, termasuk skala kecil.

“Untuk pembelian tetap dilayani, berapa pun banyaknya tetap dibeli. Tidak ada batasan berapa karung gabah yg dibeli oleh Bulog,” katanya.

ia juga mengatakan Tim jemput gabah Bulog siap menjemput gabah-gabah petani yang sudah panen. Namun, dalam prosesnya, Bulog tetap berkoordinasi dengan petani atau kelompok tani untuk menentukan titik kumpul yang mudah diakses kendaraan pengangkut.

“Prosesnya, gabah dikumpulkan di satu titik yang telah disepakati petani agar memudahkan proses penjemputan oleh Bulog,” tambahnya.

Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga kestabilan harga gabah di tingkat petani serta mencegah praktik tengkulak yang merugikan. Bulog juga terus membuka komunikasi dengan kelompok tani guna memastikan distribusi dan pembelian berjalan lancar sepanjang musim panen. (XRQ)

Reporter: Akil