Beranda blog Halaman 454

Banda Aceh Rayakan HUT ke-820, Ketua DPRK Ajak Warga Perkuat Komitmen untuk Kemajuan Kota

0
Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah, ST. (Foto: DPRK BNA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Irwansyah, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperbaharui komitmen dalam berbakti dan berkarya demi kemajuan Kota Banda Aceh yang lebih baik. Hal ini disampaikannya dalam sidang paripurna peringatan Hari Jadi Kota Banda Aceh yang ke-820, Selasa (22/4/2025), di gedung DPRK.

Dalam kesempatan itu, Irwansyah mengingatkan tentang sejarah gemilang Banda Aceh, yang pernah dikenal sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan, setara dengan kota-kota besar di nusantara maupun dunia. Ia menekankan bahwa setiap pemimpin yang memimpin Banda Aceh telah berjuang keras untuk membangun kota ini dengan “mahakaryanya.”

“Banda Aceh merupakan kota yang pernah memiliki sejarah kegemilangan dalam hal pendidikan dan kebudayaan di bawah kepemimpinan yang jauh sebelumnya, sehingga Banda Aceh setara dengan kota-kota peradaban baik di nusantara maupun di dunia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengajak seluruh pemangku kebijakan dan masyarakat untuk menjadikan peringatan HUT Kota Banda Aceh sebagai momen reflektif yang juga inspiratif. Ia menekankan pentingnya pelestarian budaya dan kearifan lokal Aceh, terutama nilai-nilai adat yang menjadi jati diri masyarakat Banda Aceh.

“HUT Banda Aceh juga menjadi moment edukatif dan spiritual yang membangkitkan semangat cinta akan sejarah, adat dan budaya kita terutama dalam setiap kegiatan dan aktivitasnya tidak bertentangan dengan syariat dan adatnya guna memperkuat identitas ke-Acehan dan memperkuat silaturrahim antar generasi,” kata Irwansyah.

Senada dengan itu, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, juga mengajak seluruh pihak untuk memanfaatkan peringatan HUT Banda Aceh sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi mendalam atas sejarah dan jati diri kota yang telah melewati berbagai fase perjuangan dan kebangkitan.

“Banda Aceh sudah menjadi saksi atas berbagai peradaban, perjuangan, serta kebangkitan. Sekarang, sudah menjadi tugas bersama menjaga dan merawat serta mengembangkan warisan tersebut melalui kerja kolaboratif demi mewujudkan Banda Aceh yang aman dan nyaman,” ujar Illiza.

Dalam sambutannya, Illiza juga menekankan pentingnya pembangunan kota yang kolaboratif dan inklusif. Menurutnya, proses pembangunan harus melibatkan partisipasi aktif semua elemen masyarakat.

“Pembangunan kota Banda Aceh sebagai kota kolaboratif dan inklusif harus dibangun dengan partisipatif. Semua elemen harus memberikan kontribusi. Sehingga nantinya setiap ruang transformasi menjadi tempat kreasi yang penuh inovasi,” tambahnya.

Wali Kota Illiza berharap, peringatan HUT ke-820 ini dapat menjadi pemicu semangat bagi seluruh warga Banda Aceh untuk bersama-sama menciptakan kota yang harmonis, di mana setiap warga dapat hidup berdampingan dengan rasa saling menghargai.

Teuku Kamaruzzman Ungkap Alasan Mengapa Aceh Tidak Bisa Merdeka dalam Podcast SagoeTV

0
Teuku Kamaruzzman, yang lebih dikenal dengan sebutan Ampon Man, mantan juru runding GAM saat di Podcast SagoeTv. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Teuku Kamaruzzman, yang lebih dikenal dengan sebutan Ampon Man, mantan juru runding GAM yang kini menjabat sebagai juru bicara Pemerintah Aceh, memberikan pandangannya mengenai kemerdekaan Aceh dalam sebuah podcast di SagoeTV.

Dikutip Nukilan.id dari Podcast tersebut, ia mengungkapkan dua alasan mengapa Aceh tidak memiliki peluang untuk merdeka, baik dari segi keyakinan agama maupun dinamika internasional yang terjadi.

“Kenapa Aceh enggak merdeka? Padahal sikit lagi itu. Pertama, yang tidak meninginkan Aceh merdeka itu Allah Taala, yang sama sekali tidak memberikan peluang untuk orang merdeka,” ujar Ampon Man dengan tegas.

Menurutnya, faktor Tuhan merupakan dasar yang paling utama dalam memahami kenyataan ini. Lebih lanjut, ia menyebutkan faktor kedua yang menjadi hambatan bagi Aceh untuk merdeka adalah kekhawatiran dunia internasional, khususnya pemerintah pusat Indonesia.

“Kedua, dunia. Ada kecurigaan dari badan intelijen negara. Saya sendiri sempat diundang oleh Pak Kuntoro untuk berbicara di depan mereka. Pemerintah (Pusat) melihat banyaknya orang asing yang hadir di Aceh, yang bisa menimbulkan kekhawatiran,” ceritanya.

Keberadaan orang asing di Aceh, lanjutnya, menimbulkan kecemasan dari pemerintah pusat yang menganggap hal ini dapat memengaruhi potensi Aceh untuk merdeka atau bahkan berpisah dari Indonesia. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak seharusnya menjadi kekhawatiran yang berlebihan.

“Ketika itu saya bilang, kalau banyaknya orang asing itu (tidak bisa) membuat pemerintah daerah merdeka atau berpisah dari Indonesia, (seperti) Bali yang sejak ratusan tahun menjadi tempat berkumpulnya orang asing dan sebagian pemilik properti di sana orang Australia, Jepang, tapi enggak menjadi sebuah provinsi dari negara Australia,” katanya.

Ampon Man juga mengingatkan bahwa setelah MoU Helsinki yang ditandatangani pada tahun 2005, peluang Aceh untuk merdeka secara internasional sudah tidak ada lagi. Ia meyakini bahwa perundingan tersebut mengakhiri potensi kemerdekaan Aceh yang pernah ada.

“Setelah perundingan tersebut, saya yakin tidak ada lagi potensi Aceh untuk merdeka. Secara internasional, peluang untuk kemerdekaan Aceh sudah tidak ada,” ujarnya, menegaskan bahwa situasi tersebut menjadi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Ia pun menambahkan, “Oleh karena itu, kita tidak perlu lagi menganggap bahwa ada kemungkinan Aceh akan merdeka. Ada kalanya kita perlu melihat kenyataan ini dengan bijaksana, tanpa terbawa asumsi atau pandangan yang tidak berdasar.”

Menurutnya, sudah saatnya masyarakat Aceh menerima kenyataan ini dengan kepala dingin dan tidak terjebak dalam pandangan yang tidak realistis.

Pernyataan Ampon Man ini tentu menjadi bahan perenungan, mengingat peranannya dalam sejarah perdamaian Aceh dan posisinya saat ini sebagai juru bicara pemerintah. Dalam konteks ini, ia mengajak masyarakat untuk melihat ke depan, fokus pada pembangunan dan perdamaian, serta menjaga stabilitas dalam kerangka NKRI. (XRQ)

Reporter: Akil

Komisi I DPRK Banda Aceh Tinjau Kinerja Mitra Kerja, Fokus Kawal LKPJ Wali Kota

0
Komisi I DPRK Banda Aceh Tinjau Kinerja Mitra Kerja, Fokus Kawal LKPJ Wali Kota. (Foto: DPRK BNA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Komisi I DPRK Banda Aceh melakukan kunjungan langsung ke sejumlah mitra kerja dalam rangka mengawal pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Banda Aceh Tahun Anggaran 2024. Kegiatan ini berlangsung pada Senin (21/4/2025) dan dipimpin langsung oleh Ketua Komisi I, Teuku Nanta Muda.

Turut hadir dalam kunjungan ini para anggota Komisi I lainnya, yakni Aiyub Bukhari, Teuku Arief Khalifah, Ismawardi, dan Zulkasmi.

Kunjungan lapangan ini disebut sebagai langkah konkret dalam menjalankan fungsi pengawasan DPRK, terutama terhadap program-program yang tercantum dalam LKPJ Wali Kota.

“Kunjungan ini bertujuan untuk melihat kondisi riil di lapangan, mendengar aspirasi masyarakat secara langsung, serta memastikan bahwa pelayanan publik berjalan sesuai harapan,” ujar Teuku Nanta Muda.

Dalam rapat dan dialog yang dilakukan, Komisi I menyoroti berbagai aspek pelaksanaan program pemerintahan, hukum, dan politik yang menjadi ranah kerja mereka. Teuku Nanta Muda menegaskan bahwa hasil pemantauan di lapangan akan menjadi catatan penting dalam penyusunan rekomendasi kepada pemerintah kota.

“Temuan dan masukan dari lapangan nantinya akan menjadi bahan penting dalam penyusunan rekomendasi Komisi I DPRK Banda Aceh mendatang,” tambahnya.

Politisi dari Partai NasDem itu juga menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memastikan rekomendasi yang disusun tidak berhenti pada tataran dokumen administratif, melainkan benar-benar dijadikan acuan dalam pengambilan kebijakan.

“Kami dari Komisi I yang membidangi pemerintahan, hukum dan politik akan melanjutkan pembahasan secara mendalam dalam rapat-rapat komisi, dan menyusun rekomendasi strategis untuk disampaikan kepada Wali Kota sebagai bagian dari perbaikan ke depan,” ujarnya.

Teuku Nanta juga menyampaikan harapannya agar sinergi antara eksekutif, legislatif, dan masyarakat tetap terjaga demi mempercepat pembangunan dan pelayanan publik yang berkualitas.

“Dan kami siap kerja sama yang solid antara legislatif, eksekutif, dan masyarakat terus terjalin demi kemajuan Banda Aceh yang lebih baik,” tutupnya.

Harga Cumi di Pasar Anjo-Anjo Aceh Singkil Melonjak, Pedagang Sebut Pasokan Minim

0
Harga Cumi di Pasar Anjo-Anjo Aceh Singkil Melonjak, Pedagang Sebut Pasokan Minim. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Singkil — Harga cumi segar di pasar mingguan Anjo-Anjo, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga ini dipicu oleh terbatasnya pasokan cumi di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.

Saripah, salah satu pedagang yang rutin berjualan di pasar tersebut, menyebutkan bahwa kenaikan harga tak terelakkan akibat menurunnya hasil tangkapan nelayan belakangan ini.

“Untuk saat ini harga cumi terus naik dikarenakan kurangnya pasokan dan banyaknya permintaan di pasaran, sehingga harga terus melonjak,” ujar Saripah kepada RRI, Minggu (20/4/2025).

Menurutnya, harga cumi bervariasi tergantung pada ukuran dan kualitas. Untuk jenis cumi kecil, dibanderol antara Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Sementara cumi segar berkualitas super dijual dengan harga lebih tinggi, yakni mencapai Rp70.000 per kilogram.

“Untuk cumi kecil ada yang Rp40.000 sampai Rp45.000 per kilo. Kalau cumi segar super bisa sampai Rp70.000,” tambah Saripah.

Kondisi ini membuat sejumlah pembeli mengeluhkan mahalnya harga, namun tetap membeli karena tingginya kebutuhan rumah tangga, terutama menjelang akhir pekan.

Editor: Akil

Ampon Man Sebut Dua Hal yang Membuat Sebagian Orang Aceh Tidak Senang dengan Pemerintah Pusat

0
ampon man
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman. (Foto: Dok Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Mantan juru runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan kini juru bicara Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzman, mengungkapkan dua alasan utama yang membuat sebagian besar masyarakat Aceh tidak merasa puas dengan Pemerintah Pusat. Dalam sebuah wawancara podcast di SagoeTv, Teuku Kamaruzzman atau yang akrab disapa Ampon Man, berbicara tentang sentimen mendalam yang dirasakan oleh banyak orang Aceh terhadap Indonesia.

Dikutip Nukilan.id dari Podcast tersebut, menurut Ampon Man, dua perasaan ini telah mengakar dalam sejarah panjang hubungan Aceh dengan Indonesia. Pernyataan ini merujuk pada perasaan orang Aceh yang merasa dibohongi saat bergabung dengan Indonesia pasca kemerdekaan.

“Saya kalau punya kesempatan berbicara dengan Pak Prabowo, saya (akan) bilang orang Aceh itu persoalan dengan Indonesia itu ada dua. Satu, persoalannya ditipu, ketika bergabung dengan Indonesia,” ujarnya.

Ampon Man melanjutkan, bahwa meskipun Soekarno dikenang sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia, bagi orang Aceh, sosok tersebut justru dianggap sebagai seorang penipu.

“Soekarno oleh Indonesia dianggap proklamatorlah segala macam, tapi untuk orang Aceh itu penipu. Itu enggak hilang. Artinya apa? Orang Aceh itu seakan-akan merasa ditipu,” tambahnya.

Rasa kekecewaan yang mendalam ini terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh. Menurut Ampon Man, janji yang diberikan saat itu masih membekas kuat di hati orang Aceh.

“Saya ngutip pribahasa, (bagi orang Aceh) kalau berjanji itu ibarat kata-kata yang dipahat di batu, enggak hilang,” ungkapnya. Perasaan ini sangat terkait dengan tradisi dan budaya Aceh yang sangat menjunjung tinggi kata-kata dan janji, yang bagi mereka tidak bisa begitu saja diingkari.

Lebih lanjut, Ampon Man menyebutkan perasaan kedua yang sering menjadi akar ketidakpuasan masyarakat Aceh, yaitu perasaan dijajah oleh Indonesia.

“Kedua, (orang Aceh) merasa dijajah oleh Indonesia. Dua perasaan ini itu harus dihilangkan dalam periode Muzakir Manaf dan Fadhlullah dengan keadilan dan kesetiaan, dengan keadilan dan setara,” katanya.

Menurutnya, dalam kepemimpinan yang akan datang, diperlukan upaya untuk mengatasi dua perasaan tersebut agar dapat tercipta hubungan yang lebih baik antara Aceh dan pemerintah pusat.

Pernyataan Teuku Kamaruzzman ini menggambarkan perasaan yang kompleks dan mendalam yang dirasakan banyak warga Aceh terhadap Indonesia. Ia menekankan pentingnya keadilan dan kesetaraan untuk mewujudkan kedamaian dan hubungan yang lebih harmonis antara Aceh dan pemerintah pusat. (XRQ)

Reporter: Akil

Senyum Ceria Siswa SD Negeri 20 Banda Aceh Sambut Peluncuran Program “Dokter Saweu Sikula” oleh Wali Kota Illiza

0
Senyum Ceria Siswa SD Negeri 20 Banda Aceh Sambut Peluncuran Program “Dokter Saweu Sikula” oleh Wali Kota Illiza. (Foto: MC BNA)

NUKILAN.idBanda Aceh – Suasana ceria menyelimuti halaman SD Negeri 20 Banda Aceh pada Senin pagi, 21 April 2025. Senyuman dan antusiasme tampak jelas di wajah para siswa saat menyambut kedatangan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal. Tak sedikit dari mereka yang berebut untuk bersalaman, berfoto bersama, bahkan meminta tanda tangan dari sosok pemimpin yang dikenal dekat dengan masyarakat itu.

Kunjungan Wali Kota Illiza kali ini mengemban dua agenda penting. Selain bertindak sebagai pembina upacara bendera, ia juga secara resmi meluncurkan program kesehatan inovatif bertajuk “Dokter Saweu Sikula” (Dokter Menyapa Sekolah), yang menjadi inisiatif Pemerintah Kota Banda Aceh dalam meningkatkan kesadaran kesehatan sejak dini di lingkungan sekolah.

Dalam amanat upacara, Illiza membagikan motivasi kepada para siswa mengenai esensi kesuksesan seorang pelajar. Ia menyampaikan bahwa kesuksesan bukan semata-mata soal nilai akademik, tetapi juga keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan.

Menurut Illiza, ada tiga kunci utama untuk meraih kesuksesan. Pertama, rajin beribadah. “Bagi seorang muslim, shalat lima waktu adalah kewajiban mendasar,” tegasnya di hadapan para siswa dan guru.

Kedua, disiplin dalam belajar. Illiza menekankan pentingnya pengelolaan waktu yang baik, semangat dalam memahami pelajaran, serta konsistensi dalam menjalankan tugas-tugas sekolah. Dan yang ketiga, yakni memiliki motivasi yang kuat untuk meraih cita-cita. Ia mendorong para siswa untuk mengenali mimpi mereka dan menjadikannya sumber semangat dalam belajar.

Tak hanya menyampaikan pesan motivatif, Wali Kota Illiza juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan sekolah yang sehat dan bersih. Ia menegaskan larangan merokok di lingkungan sekolah serta menyarankan agar para siswa memilih makanan sehat demi mendukung tumbuh kembang mereka.

Peluncuran program “Dokter Saweu Sikula” menjadi momen penting dalam kegiatan ini. Illiza menjelaskan bahwa program tersebut menghadirkan para dokter ke sekolah-sekolah untuk berdialog langsung dengan siswa mengenai kesehatan, sekaligus mendorong perubahan pola hidup yang lebih sehat sejak usia dini.

“Kehadiran dokter-dokter ini ingin melihat kesehatan anak-anak melalui program Dokter Saweu Sikula. Manfaatkan kehadiran dokter untuk tempat konsultasi, jangan ditakuti,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa apabila dalam pemeriksaan ditemukan siswa dengan indikasi gangguan kesehatan, maka siswa tersebut akan direkomendasikan untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis.

Turut hadir dalam kegiatan ini Plt Asisten Pemerintahan Kesra dan Keistimewaan, M Ridha; Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sulaiman Bakri; Kepala Dinas Kesehatan, Lukman; Ketua IDI Aceh, Safrizal Rahmad; Kepala Kesbangpol, Heru Triwijanarko; serta sejumlah pejabat pemerintah lainnya.

Peluncuran program ini disambut hangat oleh para siswa dan guru, menjadi awal langkah penting dalam membangun budaya hidup sehat di lingkungan sekolah-sekolah Banda Aceh.

Demo Berujung Duka, Unaya Laporkan Enam Orang ke Polda Aceh

0
Demo Berujung Duka, Unaya Laporkan Enam Orang ke Polda Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Aksi unjuk rasa yang berujung duka di Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh terus bergulir ke ranah hukum. Pihak kampus resmi melaporkan enam orang ke Polda Aceh, yang diduga menjadi penggalang aksi demonstrasi hingga menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Rektor Unaya, Dr Nurlis Effendi, menyebut langkah hukum ini merupakan bentuk komitmen kampus untuk mencari keadilan atas insiden memilukan yang terjadi pada Kamis (17/4). Dalam aksi tersebut, seorang anggota satuan tugas kampus bernama Wahidin dilaporkan meninggal dunia saat bertugas mengamankan jalannya demonstrasi.

“Benar kita menempuh jalur hukum. Sedari awal kita selalu mengikuti proses hukum dan administrasi yang sesuai ketentuan hukum di NKRI, kami ingin keadilan,” ujar Dr Nurlis saat ditemui di Banda Aceh, Senin (21/4).

Pelaporan dilakukan oleh Ketua Yayasan Abulyatama Aceh, Musa Bintang. Menurutnya, peristiwa ini tak bisa dianggap sebagai insiden biasa karena telah menimbulkan korban jiwa.

“Tujuh korban luka-luka, dan satu orang meninggal dunia. Karena itu ini jadi persoalan hukum,” kata Musa.

Rektor Nurlis menjelaskan, keenam orang yang dilaporkan terdiri dari berbagai latar belakang, termasuk dosen dan unsur masyarakat sipil. Sementara mahasiswa yang terlibat dalam unjuk rasa tidak diikutsertakan dalam laporan tersebut.

“Sejauh ini belum ada mahasiswa yang dilaporkan. Sebab kita anggap mahasiswa itu murni menyalurkan aspirasi, hanya saja ada kelompok-kelompok yang menungganginya,” tambahnya.

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diterima pihak yayasan dan rektorat, terdapat tiga klaster dalam aksi demonstrasi tersebut. Klaster pertama berasal dari kalangan mahasiswa, klaster kedua dari dosen, dan klaster ketiga diduga merupakan kelompok provokator eksternal.

“Namun yang jadi masalah terdapat klaster ketiga. Ini saya duga klaster provokasi. Mereka ini dikumpulkan di dalam sebuah gudang di dekat kampus,” ungkap Nurlis.

Ia menegaskan bahwa unjuk rasa dalam lingkungan kampus adalah hal yang wajar, selama dilakukan secara damai dan bertanggung jawab. Pihak kampus, lanjutnya, selalu terbuka terhadap proses belajar-mengajar dan tidak pernah mengekang kegiatan akademik.

Kini, kasus tersebut sepenuhnya dipercayakan kepada aparat penegak hukum untuk ditangani secara adil dan transparan.

“Kami menyerahkan semuanya pada proses hukum. Mari kita sama-sama percaya penanganan oleh aparat hukum,” tutup Dr Nurlis.

Sekda Aceh dan Dinamika Birokrasi

0
Ilustrasi Sekda. (Foto: zonatotabuan.co)

NUKILAN.id | Opini – 19 Februari 2025, suasana Aula Serbaguna Kantor Gubernur Aceh dipenuhi cahaya. Lantai marmer berkilau, raut wajah para pejabat tampak sumringah. Di tengah ruangan, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyerahkan selembar Surat Keputusan (SK) penting kepada Alhudri. Dengan senyum lebar, mantan Kepala Dinas Sosial Aceh itu menerima mandat baru: Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, menggantikan Diwarsyah.

Namun, seperti banyak kisah politik di negeri ini, kehangatan itu hanya seumur jagung.

Sehari berselang, badai kecil mulai bertiup. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Zulfadhli — lebih dikenal sebagai Abang Samalanga — dengan lantang menyatakan bahwa SK Alhudri cacat hukum. Ia menunjuk absennya telaah staf dan paraf Kepala Badan Kepegawaian Aceh (BKA) sebagai lubang prosedural fatal.

Pernyataan Zulfadhli segera membelah opini publik. Pemerintah membalas. Juru Bicara Mualem-Dek Fadh, Kamaruzzaman alias Ampon Man, menegaskan bahwa tanda tangan gubernur sudah cukup untuk melegalkan keputusan tersebut. Asas presumption of legality — bahwa keputusan pejabat publik dianggap sah hingga dibatalkan pengadilan — menjadi tameng utama mereka.

Namun polemik tidak berhenti di tataran normatif. Faisal Jamaluddin, juru bicara tim relawan Mualem-Dek Fadh, mengungkapkan adanya ketergesaan dan kekeliruan administratif dalam penyusunan SK tersebut. Ini, menurutnya, berpotensi menjadi masalah di kemudian hari.

Di tengah silang pendapat itu, akademisi hukum dari Universitas Syiah Kuala, M Jafar, berpendapat lain. Ia menegaskan bahwa aspek administrasi, seperti paraf atau telaah staf, bukan syarat formil yang membatalkan keabsahan SK secara hukum.

Dengan begitu, perdebatan menjadi cermin betapa rapuhnya tatanan birokrasi kita: ketika tafsir hukum bisa lentur tergantung kepentingan.

Namun, panggung drama ini belum berakhir. Pada 17 Maret 2025, tanpa banyak seremoni, Alhudri digeser. Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem menunjuk M Nasir Syamaun sebagai Plt Sekda baru. Alasan resmi? “Penyegaran birokrasi.”

Tentu, narasi ini terdengar manis. Namun bagi publik yang jeli, peristiwa ini lebih menyerupai koreksi halus terhadap ketegangan yang sempat mencuat. Apalagi, kehadiran Zulfadhli dalam pelantikan Nasir menjadi isyarat politik yang terlalu jelas untuk diabaikan.

Ada hubungan lama yang dikedepankan: Nasir, kata Kamaruzzaman, sudah mengenal Mualem lebih dari 15 tahun sejak aktif di KONI. Chemistry itu menjadi dalih sahih bagi “pemilihan pasangan” baru dalam rumah tangga pemerintahan. Analogi yang menarik — dan cukup jujur — bahwa dalam birokrasi, kedekatan personal kerap mengalahkan parameter objektif lainnya.

Kini, Nasir mengemban dua jabatan sekaligus: Kepala Dispora Aceh dan Plt Sekda Aceh. Sementara Alhudri kembali ke posisi Staf Ahli Gubernur.

Kisah pergantian Plt Sekda ini meninggalkan pelajaran penting. Pertama, lemahnya prosedur administrasi tetap menjadi penyakit lama birokrasi Aceh. Kedua, politik kedekatan personal — bukan meritokrasi — masih dominan dalam pengisian jabatan strategis.

Di tengah riuh politik yang kadang berbalut senyum diplomatis, rakyat Aceh tetap memendam satu harapan: tata kelola pemerintahan yang lebih solid, profesional, dan terbebas dari tarik-menarik kepentingan.

Apakah pergantian ini akan menjadi awal penyegaran birokrasi? Atau justru menandai babak baru dalam cerita lama: pergulatan kuasa yang berbalut kepentingan personal?

Jawabannya, seperti biasa, akan ditulis oleh waktu. Dan sejarah Aceh akan terus mengalir, kadang deras, kadang berliku — mengikuti irama politik yang dimainkan di atas panggung kekuasaan. (XRQ)

Penulis: Akil

Pemerintah Aceh Raih Gold Award atas Komitmen Perkuat Ekosistem Halal di Indonesia

0
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (dua dari kiri) saat menerima penghargaan di Aula UB, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Senin (21/4/2025). (Foto: Humas BPPA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Komitmen Pemerintah Aceh dalam memperkuat ekosistem halal di Indonesia kembali mendapat apresiasi di level nasional. Dalam ajang UB Halalmetric Award 2025 yang digelar Universitas Brawijaya, Malang, Pemerintah Aceh berhasil menyabet gold award untuk kategori sektor pemerintahan.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung kepada Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, dalam seremoni yang berlangsung di Aula Universitas Brawijaya, Senin (21/4/2025). Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti, Dr Berry Juliandi, serta Wakil Rektor I Bidang Akademik UB, Prof Dr Imam Santoso.

“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi pemicu semangat bagi kami untuk terus mengembangkan potensi Aceh dalam sektor halal. Terima kasih Universitas Brawijaya dan Kementerian Dikti atas pengakuan ini,” ujar Fadhlullah dalam keterangannya di Banda Aceh, Senin.

Penilaian UB Halalmetric Award dilakukan melalui metode self-reporting yang mencakup lima indikator utama, yakni: kebijakan (policy), pendidikan, riset, infrastruktur, dan ekosistem halal. Keberhasilan Pemerintah Aceh memenuhi lima indikator tersebut mengukuhkan posisinya sejajar dengan berbagai institusi nasional lainnya yang dinilai berhasil mengintegrasikan prinsip halal dalam pembangunan berkelanjutan.

Wagub Fadhlullah menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan bukti nyata komitmen Pemerintah Aceh dalam memperkuat ekosistem halal, tidak hanya terbatas pada aspek regulasi, tetapi juga menyentuh sektor strategis seperti pendidikan, riset, hingga pariwisata.

“Apa yang kita capai hari ini akan terus kita pertahankan, bahkan kita kembangkan agar dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat Aceh,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, menyambut penghargaan ini sebagai energi baru dalam percepatan program wisata halal yang menjadi bagian penting dari arah pembangunan daerah.

“Penguatan ekosistem halal, termasuk sektor pariwisata, telah menjadi komitmen bersama. Kita akan terus memperkuat infrastruktur dan layanan wisata syariah agar Aceh tampil sebagai destinasi utama halal tourism di Indonesia,” ujar Almuniza.

Dalam ajang yang sama, sejumlah perguruan tinggi dan pelaku industri tanah air turut menerima penghargaan platinum award, di antaranya UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Brawijaya, Politeknik Negeri Malang, PT Aerofood ACS, dan PT Ajinomoto Indonesia.

Penghargaan ini diharapkan semakin memantapkan langkah Aceh dalam mewujudkan visinya sebagai kawasan unggulan halal di Asia Tenggara.

Editor: AKil

Fakta Menarik Tentang Hari Senin: Nomor 4 Jarang Diketahui

0
Ilsutrasi hari senin. (Foto: citizen.riau24.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Hari Senin sering kali mendapat reputasi buruk sebagai hari paling berat dalam sepekan. Namun, di balik keluh kesah banyak orang, ada sejumlah fakta menarik tentang hari pertama kerja ini, mulai dari asal-usul namanya hingga tradisi unik di berbagai negara.

1. Asal Nama “Senin” dalam Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, kata “Senin” ternyata berasal dari bahasa Arab الاِثْنَيْنِ (al-itsnayn), yang berarti “hari kedua”. Ini sesuai dengan sistem penanggalan dalam tradisi Islam, di mana hari pertama adalah Minggu atau Ahad.

Dikutip Nukilan.id dari kitab Al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari, Senin dianggap sebagai hari istimewa dalam ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin dan juga sering berpuasa pada hari ini sebagai bentuk ibadah sunah. Selain itu, etimologi kata “Senin” sendiri juga tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

2. Hari yang Paling Tidak Disukai

Bukan rahasia lagi bahwa banyak orang merasa berat menjalani hari Senin. Berbagai survei, termasuk dari YouGov (2019) dan Gallup Poll, menunjukkan bahwa Senin sering disebut sebagai hari paling tidak disukai.

Istilah “Monday Blues” bahkan lahir untuk menggambarkan perasaan malas, sedih, atau kehilangan motivasi saat menghadapi awal pekan setelah menikmati libur akhir pekan.

3. Senin dalam Mitologi Nordik

Dalam budaya Nordik kuno, Senin dihubungkan dengan dewi bulan bernama Máni, saudara dari dewi matahari, Sól. Hal ini memengaruhi bahasa Inggris modern, di mana “Monday” berasal dari “Moon’s Day” atau “hari bulan”.

Penjelasan tentang hubungan ini Nukilan.id temukan dalam buku Norse Mythology karya Neil Gaiman, yang menggali mitos dan legenda masyarakat Nordik kuno.

4. Fakta Sains: Risiko Serangan Jantung Meningkat di Hari Senin

Sebuah penelitian di Inggris pada tahun 2018 mengungkapkan bahwa risiko serangan jantung cenderung meningkat pada Senin pagi. Stres akibat kembali bekerja setelah akhir pekan diyakini menjadi faktor pemicu.

British Heart Foundation mencatat bahwa lonjakan hormon stres kortisol di pagi hari bisa memperburuk risiko ini, membuat Senin menjadi hari yang perlu diwaspadai bagi kesehatan.

5. Hari Khusus di Berbagai Negara

Meski di banyak tempat Senin dipandang “kelabu”, di beberapa negara justru punya makna spesial.

Mengutip Thai Royal Traditions, Nukilan.id menemukan fakta bahwa, kuning adalah warna nasional di Thailand, warna yang dikaitkan dengan Raja Bhumibol Adulyadej karena beliau lahir pada hari Senin. Tradisi ini masih sangat kuat dalam budaya Thailand.

Sementara itu, di Jepang, banyak restoran menawarkan “Senin Spesial” berupa diskon makanan untuk menarik pelanggan yang butuh semangat lebih di awal pekan, sebagaimana dilaporkan oleh Japan Times. (XRQ)

Reporter: AKil