Beranda blog Halaman 45

90 Persen Perkara di PN Idi Didominasi Kasus Narkotika

0
Foto adalah ilustrasi yang dibuat menggunakan AI.

NUKILAN.ID | IDI — Pengadilan Negeri (PN) Idi mengungkapkan perkara narkotika masih menjadi kasus yang paling dominan ditangani di wilayah hukumnya. Sepanjang 2025 hingga semester pertama 2026, sekitar 80 hingga 90 persen perkara pidana yang masuk ke pengadilan berkaitan dengan tindak pidana narkotika.

Humas PN Idi, Mohamad Bayyoumi Al Kautsar, S.H., mengatakan tingginya perkara narkotika merupakan fenomena yang terus berulang setiap tahun. Kasus yang ditangani tidak hanya mencakup penyalahgunaan narkoba, tetapi juga kepemilikan, penguasaan, hingga peredaran gelap narkotika dalam jumlah besar.

“Perkara yang paling banyak masuk ke PN Idi adalah perkara narkotika. Mulai dari penyalahgunaan, kepemilikan, penguasaan sampai transaksi gelap narkotika. Sekitar 80 sampai 90 persen perkara pidana yang kami tangani berkaitan dengan narkotika,” kata Bayyoumi dalam keterangannya kepada Nukilan, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, tingginya angka perkara narkotika diduga tidak terlepas dari kondisi geografis Kabupaten Aceh Timur yang memiliki garis pantai panjang dan akses laut yang terbuka. Selain itu, wilayah tersebut berada pada jalur strategis yang kerap dimanfaatkan jaringan peredaran narkotika internasional.

Selain perkara narkotika, PN Idi juga menangani berbagai kasus pidana lain seperti pembunuhan, pencurian, dan penggelapan. Namun jumlah perkara tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan kasus narkotika.

Bayyoumi menjelaskan, selama 2025 PN Idi menerima sekitar 290 perkara pidana. Dari jumlah itu, sebanyak 259 perkara berhasil diputus hingga akhir tahun, sementara sisanya diselesaikan pada awal 2026. Memasuki triwulan pertama 2026, jumlah perkara yang masuk berkisar antara 70 hingga 100 kasus.

“Sebagian perkara bisa diselesaikan cepat dan diputus dalam triwulan yang sama. Namun ada juga perkara yang pembuktiannya lebih kompleks sehingga penyelesaiannya berlanjut ke triwulan berikutnya,” ujarnya.

PN Idi juga masih menjatuhkan vonis pidana mati terhadap sejumlah terdakwa kasus narkotika pada 2025. Bayyoumi menyebut terdapat enam perkara yang berujung pada hukuman mati, mayoritas berasal dari kasus peredaran gelap narkotika dengan barang bukti dalam jumlah besar.

Salah satu perkara yang menjadi perhatian adalah kasus penyelundupan narkotika dengan barang bukti mencapai 200 kilogram yang diduga masuk melalui jalur laut dari luar negeri.

Menurut Bayyoumi, besarnya barang bukti serta pola kejahatan yang dilakukan secara terorganisir menjadi pertimbangan utama majelis hakim dalam menjatuhkan hukuman maksimal.

“Dalam beberapa perkara ditemukan adanya penggunaan kapal, telepon satelit, dan pola kerja yang sudah tersusun rapi. Itu menunjukkan bahwa tindak pidana tersebut dilakukan secara profesional dan terorganisir,” katanya.

Meski demikian, sejak akhir 2025 hingga 2026 penerapan pidana mati mulai diperketat seiring berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru. Hakim diwajibkan mempertimbangkan berbagai faktor tambahan sebelum menjatuhkan hukuman mati, termasuk latar belakang pelaku, motif tindak pidana, kondisi ekonomi, serta kemungkinan pelaku untuk memperbaiki diri.

Bayyoumi mengungkapkan, banyak terdakwa kasus narkotika yang berasal dari kalangan nelayan dengan kondisi ekonomi rendah. Mereka kerap tergiur imbalan besar yang ditawarkan jaringan narkotika untuk mengangkut barang haram tersebut.

“Tidak sedikit yang mengaku menerima tawaran karena faktor ekonomi. Imbalannya sangat besar dibandingkan penghasilan mereka sebagai nelayan,” ujarnya.

Di sisi lain, PN Idi mulai menerapkan sejumlah mekanisme baru yang diatur dalam KUHP dan KUHAP terbaru. Salah satunya adalah mekanisme pengakuan bersalah atau plea bargaining yang telah diterapkan pada dua perkara selama 2026.

Melalui mekanisme tersebut, terdakwa mengakui perbuatannya sejak awal persidangan sehingga proses pembuktian menjadi lebih sederhana dan perkara dapat diperiksa melalui acara singkat dengan hakim tunggal.

“Sudah ada dua perkara yang menggunakan mekanisme pengakuan bersalah. Salah satunya perkara pencurian sawit. Karena terdakwa mengakui perbuatannya sejak awal, proses persidangan menjadi lebih cepat,” kata Bayyoumi.

Sementara itu, mekanisme keadilan restoratif yang juga diatur dalam KUHP baru hingga kini belum diterapkan di PN Idi. Selain syarat penerapannya yang cukup ketat, aturan teknis pelaksanaannya masih menunggu regulasi lebih lanjut dari pemerintah dan Mahkamah Agung.

Reporter: Rezi

Budaya Aceh Berpeluang Besar Menjadi Produk Ekonomi Kreatif

0
budaya aceh
Staf Khusus Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Rian Firmansyah, saat berdiskusi dengan para seniman dan pegiat budaya di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Staf Khusus Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Rian Firmansyah, mendorong para seniman dan pelaku budaya Aceh untuk mengembangkan kekayaan budaya daerah menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai ekonomi tanpa meninggalkan akar budayanya.

Hal itu disampaikan Rian saat berdiskusi dengan para seniman dan pegiat budaya di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026). Menurutnya, kebudayaan dan ekonomi kreatif memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi.

“Kebudayaan bertugas menjaga nilai dan identitas budaya, sedangkan ekonomi kreatif bertugas mengolah kekayaan budaya itu menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu menghasilkan pendapatan,” kata Rian dalam keterengannya kepada Nukilan.

Ia menjelaskan, seni dan budaya tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang ekspresi, tetapi juga dapat menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan. Perkembangan teknologi digital telah membuka akses yang lebih luas bagi para kreator untuk memasarkan karya mereka ke tingkat nasional bahkan internasional.

Menurut Rian, tantangan yang masih dihadapi daerah-daerah di luar kota besar adalah cara pandang masyarakat yang belum sepenuhnya melihat profesi kreatif sebagai pekerjaan yang menjanjikan. Padahal, industri kreatif saat ini menjadi salah satu sektor yang tumbuh pesat dan mampu menciptakan lapangan kerja baru.

“Anak muda sekarang cenderung ingin bekerja sesuai minat dan passion mereka. Ekonomi kreatif memberikan ruang untuk itu, sekaligus membuka peluang menghasilkan pendapatan dari karya yang mereka ciptakan,” ujarnya.

Rian mengatakan Kementerian Ekonomi Kreatif saat ini fokus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui pengembangan sumber daya manusia, perlindungan kekayaan intelektual, serta membuka akses pasar bagi para pelaku kreatif.

Ia menilai Aceh memiliki potensi besar di berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari seni pertunjukan, musik, film, kuliner, kriya hingga konten digital yang berakar pada budaya lokal.

Menurutnya, konsep “hyperlocal” atau penguatan identitas daerah justru menjadi kekuatan baru di era digital. Karya yang mengangkat bahasa, tradisi, dan cerita lokal dapat diterima secara luas selama memiliki kualitas dan alur cerita yang kuat.

Rian mencontohkan keberhasilan sejumlah karya kreatif berbasis budaya daerah di Indonesia yang mampu menembus pasar nasional tanpa harus menghilangkan identitas lokalnya.

Karena itu, ia mengajak para seniman Aceh untuk terus berkarya dan berinovasi serta berani memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperluas jangkauan karya mereka.

“Kita ingin lahir lebih banyak local hero dari Aceh. Dari daerah menjadi juara nasional, lalu berkembang menjadi pemain global. Potensi itu ada, tinggal bagaimana kita membangun kapasitas, kualitas, dan jejaringnya bersama-sama,” kata Rian.

Ia menegaskan, tujuan utama pengembangan ekonomi kreatif adalah menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku seni dan budaya sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah persaingan global.

Hadir pada pertemuan Rian dengan seniman antara lain Chairian Ramli, Thayeb Loh Angen, Masrizal Rubi, Wina SW1, Nazar Shah Alam, Sarjev, dan lain-lain, sementara Rian Firmansyah turut didampingi Adi Rivai dan wahyu Wicaksono, Ketua koordinator ICCN Miswar Njong.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Reporter: Rezi

Bursa Ketua Demokrat Aceh Menghangat, DPP: Semua Punya Peluang

0
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron (tengah). Foto: (Nukilan/Rezi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat memastikan pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Aceh akan digelar setelah perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat pada September 2026.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron, mengatakan Musda merupakan agenda lima tahunan yang wajib dilaksanakan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.

“Musda tentu sebagai event lima tahunan yang diwajibkan oleh AD/ART dan akan kami laksanakan pada tahun ini,” kata Herman Khaeron saat diwawancarai Nukilan di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026)

Menurutnya, DPP saat ini masih fokus menyelenggarakan Musda di sejumlah daerah lain. Dalam waktu dekat, Musda akan digelar di Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung, kemudian dilanjutkan ke Sumatera Barat hingga akhir Juli 2026.

Karena itu, pelaksanaan Musda Partai Demokrat Aceh diperkirakan berlangsung setelah September 2026.

“Aceh mungkin setelah September, karena pada September kami akan melaksanakan rangkaian kegiatan ulang tahun Partai Demokrat ke-25. Setelah itu baru kami meneruskan pelaksanaan Musda,” ujarnya.

Herman menegaskan seluruh kader memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti kontestasi pemilihan Ketua DPD Partai Demokrat Aceh. Ia mengajak seluruh kader untuk berkompetisi secara damai dan menjunjung tinggi semangat demokrasi.

“Bagi siapa pun, kader silakan berkontestasi dengan damai, dengan baik, dan terbuka untuk siapa pun,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa Musda bukan hanya menjadi ajang pemilihan kepemimpinan, tetapi juga momentum memperluas partisipasi masyarakat dalam Partai Demokrat.

Menurutnya, proses Musda akan membuka peluang terbentuknya kepengurusan baru yang kemudian dilanjutkan dengan Musyawarah Cabang (Muscab), sehingga masyarakat yang ingin bergabung dan berjuang bersama Partai Demokrat memiliki ruang yang lebih luas.

“Sebagai partai modern dan inklusif, kami terbuka untuk siapa pun, baik tokoh masyarakat maupun warga yang berminat bergabung dengan Partai Demokrat,” ujarnya.

Terkait munculnya sejumlah nama yang disebut-sebut sebagai calon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Herman mengatakan hingga saat ini belum ada kandidat yang diumumkan secara resmi oleh partai.

Ia menegaskan Partai Demokrat terbuka bagi siapa saja, baik kader internal maupun figur dari luar partai yang memenuhi ketentuan untuk mengikuti proses yang berlaku.

“Hingga hari ini belum secara resmi, namun silakan saja siapa pun, apakah dari internal maupun eksternal. Kami sebagai partai modern dan terbuka, terbuka untuk siapa pun,” katanya.

Mengenai nama-nama yang mulai mencuat, Herman menyebut tidak hanya Nurdiansyah Alasta, tetapi juga sejumlah kader lain yang dinilai memiliki kapasitas memimpin partai di Aceh.

“Kalau wacana banyak, bukan hanya Pak Dian. Ada juga Pak Rian Syaf, Pak Bram, Pak Sayuti, dan banyak kader Demokrat lainnya yang cukup mampu menjadi pemimpin di DPD Partai Demokrat Aceh,” ujarnya.

Herman menjelaskan, sesuai mekanisme AD/ART partai, Musda nantinya akan 

menghasilkan calon yang diusulkan kepada Ketua Umum Partai Demokrat. Selanjutnya, keputusan akhir mengenai penetapan Ketua DPD Partai Demokrat Aceh berada di tangan Ketua Umum Partai Demokrat.

“Sesuai AD/ART, nanti ada pelaksanaan Musda. Dari Musda akan dihasilkan calon yang diusulkan kepada ketua umum, dan pada akhirnya otoritas ketua umum untuk menetapkan siapa Ketua DPD terpilih,” pungkasnya.

Reporter: Rezi

Meksiko Tundukkan Korea Selatan 1-0, Pastikan Tiket ke Babak 32 Besar

0
Meksiko Tundukkan Korea Selatan 1-0, Pastikan Tiket ke Babak 32 Besar. (fOTO: fifa)

NUKILAN.ID | Guadalajara – Timnas Meksiko menjadi tim pertama dari Grup A yang memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Korea Selatan dengan skor tipis 1-0 pada laga kedua fase grup, Jumat (19/6/2026) pagi WIB.

Bermain di Estadio Akron, El Tri tampil dominan sepanjang pertandingan dan akhirnya mengamankan kemenangan berkat gol Luis Romo pada awal babak kedua. Tambahan tiga poin membuat Meksiko mengoleksi enam poin dari dua pertandingan, jumlah yang sudah cukup untuk memastikan tempat di fase gugur.

Sementara itu, Korea Selatan harus menunda kepastian lolos. Kekalahan ini membuat mereka tetap mengoleksi tiga poin dan masih memiliki peluang untuk melangkah ke babak berikutnya pada laga terakhir fase grup.

Di pertandingan lain Grup A yang berlangsung beberapa jam sebelumnya, Republik Ceko bermain imbang 1-1 melawan Afrika Selatan. Hasil tersebut membuat kedua tim sama-sama mengoleksi satu poin sehingga persaingan memperebutkan satu tiket tersisa ke babak 32 besar masih terbuka.

Sejak peluit awal dibunyikan, Meksiko langsung mencoba mengambil inisiatif serangan. Peluang emas sempat didapat Julián Quiñones melalui sundulan di depan gawang, namun bola masih mampu diamankan penjaga gawang Korea Selatan.

Sebaliknya, Korea Selatan kesulitan mengembangkan permainan. Hingga pertandingan memasuki setengah jam pertama, tim asuhan Hong Myung-bo belum mampu mencatatkan tembakan yang mengarah ke gawang dan lebih banyak mengandalkan umpan-umpan panjang untuk membongkar pertahanan lawan.

Memasuki penghujung babak pertama, Korea Selatan mulai lebih banyak menguasai bola. Meski demikian, rapatnya lini belakang Meksiko membuat Taegeuk Warriors gagal menciptakan peluang berbahaya. Skor tanpa gol bertahan hingga turun minum.

Meksiko kembali tampil agresif selepas jeda. Baru dua menit babak kedua berjalan, Jesús Gallardo hampir membuka keunggulan setelah menusuk dari sisi kiri, tetapi sepakannya hanya mengenai sisi luar jaring gawang.

Gol yang ditunggu publik tuan rumah akhirnya hadir pada menit ke-50. Kesalahan kiper Kim Seung-gyu saat mengamankan bola dimanfaatkan dengan baik oleh Luis Romo. Gelandang Meksiko itu langsung menyambar bola liar dan mengirimnya ke dalam gawang untuk membawa timnya unggul 1-0.

Tertinggal satu gol, Korea Selatan mencoba meningkatkan intensitas serangan. Namun, Son Heung-min dan rekan-rekannya tetap kesulitan menembus disiplin pertahanan Meksiko yang tampil solid sepanjang pertandingan.

Meksiko hampir menggandakan keunggulan pada menit ke-75 melalui Raul Jimenez. Namun, Kim Seung-gyu menebus kesalahan sebelumnya dengan melakukan penyelamatan penting di tiang dekat.

Peluang terbaik Korea Selatan datang menjelang pertandingan usai. Pada menit ke-87, Cho Gue-sung memperoleh dua kesempatan beruntun di depan gawang. Akan tetapi, penjaga gawang Raul Rangel tampil sigap dengan menggagalkan tembakan pertama sebelum mengamankan bola pantul tepat di garis gawang.

Hingga wasit meniup peluit panjang, tidak ada tambahan gol yang tercipta. Meksiko mempertahankan keunggulan 1-0 sekaligus memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 sebagai pemuncak sementara Grup A dengan enam poin.

Susunan pemain

Meksiko: Rangel; Sanchez, Alvarez, Vasquez, Gallardo; Romo (Vargas 71′), Lira, Gutierrez; Alvarado (Reyes 80′), Jimenez (Gimenez 80′), Quinones (Huerta 84′).

Korea Selatan: Kim Seung-gyu; Lee Han-beom, Kim Min-jae, Lee Gi-hyuk; Kim Moon-hwan (Ji-sung 71′), Paik Seung-ho (Gue-sung 77′), Hwang In-beom, Seol Young-woo (Hyun-jun 71′); Lee Kang-in, Lee Jae-sung (Hee-chan 57′); Son Heung-min (Hyeon-gyu 57′).

Hasil Swiss vs Bosnia-Herzegovina: Menang 4-1, Swiss Puncaki Klasemen Grup B Piala Dunia 2026

0
Hasil Swiss vs Bosnia-Herzegovina: Menang 4-1, Swiss Puncaki Klasemen Grup B Piala Dunia 2026. (Foto: FIFA)

NUKILAN.ID | Jakarta – Timnas Swiss meraih kemenangan meyakinkan 4-1 atas Bosnia-Herzegovina pada laga kedua Grup B Piala Dunia 2026 di SoFi Stadium, Jumat (19/6/2026) dini hari WIB. Setelah bermain tanpa gol sepanjang babak pertama, Swiss tampil jauh lebih agresif usai turun minum dan mencetak empat gol untuk mengamankan tiga poin.

Amatan Nukilan.id, sejak peluit awal dibunyikan, Swiss tampil lebih dominan dalam penguasaan bola. Peluang pertama hadir pada menit ke-10 melalui Dan Ndoye. Namun, tembakannya masih melebar tipis di sisi kiri gawang Bosnia.

Sepuluh menit kemudian, Ndoye kembali mengancam. Kali ini sepakannya mengarah tepat ke gawang, tetapi masih mampu diamankan oleh penjaga gawang Bosnia, Nikola Vasilj.

Bosnia baru mampu memberikan ancaman berarti menjelang akhir babak pertama. Pada menit ke-38, Amar Dedic melepaskan tembakan dari luar kotak penalti, namun bola dapat diamankan dengan mudah oleh kiper Swiss, Gregor Kobel.

Skor 0-0 bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Swiss meningkatkan intensitas serangan. Peluang emas didapat pada menit ke-63 saat Breel Embolo melepaskan tembakan ke sisi kiri gawang. Vasilj kembali menunjukkan penyelamatan penting untuk menjaga gawangnya tetap aman.

Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-74. Berawal dari umpan silang dari sisi kiri, Johan Manzambi berhasil menyambut bola di dalam kotak penalti dan menaklukkan Vasilj untuk membawa Swiss unggul 1-0.

Situasi Bosnia semakin sulit setelah Tarik Muharemovic menerima kartu merah beberapa menit kemudian akibat melakukan pelanggaran terhadap Embolo. Bermain dengan 10 orang membuat pertahanan Bosnia semakin mudah ditembus.

Keunggulan Swiss bertambah pada menit ke-84. Breel Embolo memberikan umpan matang kepada Ruben Vargas yang kemudian melepaskan tendangan mendatar ke pojok kanan gawang untuk mengubah skor menjadi 2-0.

Swiss belum berhenti menekan. Pada menit ke-90, giliran Johan Manzambi mencatatkan namanya untuk kedua kalinya di papan skor setelah memanfaatkan umpan tarik dari Vargas. Gol tersebut membuat Swiss menjauh dengan keunggulan 3-0.

Bosnia sempat memperkecil ketertinggalan pada masa injury time. Menit ke-93, Ermin Mahmic memanfaatkan bola muntah di depan kotak penalti dan melepaskan tendangan keras yang gagal dibendung Kobel sehingga skor berubah menjadi 3-1.

Namun, Swiss memastikan kemenangan telak beberapa menit kemudian. Wasit menunjuk titik putih setelah terjadi pelanggaran di kotak penalti Bosnia. Granit Xhaka yang dipercaya sebagai algojo menjalankan tugasnya dengan sempurna dan membawa Swiss unggul 4-1.

Tak lama setelah gol tersebut, pertandingan berakhir dengan kemenangan meyakinkan Swiss.

Hasil ini mengantarkan Swiss ke puncak klasemen sementara Grup B dengan koleksi empat poin dari dua pertandingan. Sementara itu, Bosnia-Herzegovina masih tertahan di dasar klasemen dengan satu poin.

Susunan Pemain

Swiss: Gregor Kobel, Silvan Widmer (Jaquez 86′), Nico Elvedi, Manuel Akanji, Ricardo Rodriguez, Remo Freuler, Granit Xhaka, Michel Aebischer (Sow 72′), Fabian Rieder (Vargas 72′), Breel Embolo (Itten 89′), Dan Ndoye (Manzambi 72′).

Bosnia-Herzegovina: Nikola Vasilj, Tarik Muharemovic, Sead Kolasinac, Amar Dedic, Nihad Katic, Benjamin Tahirovic (Basic 63′), Ivan Sunjic (Hadziahmetovic 86′), Memic, Ermedin Demirovic (Lukic 86′), Edin Dzeko (Bajraktarevic 64′), Alajbegovic. (XRQ)

BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang di Aceh hingga 21 Juni 2026, Puluhan Daerah Diminta Waspada

0
Ilustrasi hujan. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang berpeluang terjadi di berbagai wilayah Aceh hingga Minggu, 21 Juni 2026.

Dalam prakiraan terbaru yang diterima Nukilan.id, sebagian besar kabupaten dan kota di Aceh diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Di sejumlah wilayah, hujan juga berpotensi disertai angin kencang yang dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Angga Dirta, mengatakan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang diperkirakan berlangsung selama beberapa hari ke depan.

Menurutnya, kondisi atmosfer saat ini masih mendukung terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah Aceh sehingga peluang terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih cukup tinggi hingga akhir pekan.

Sebanyak 20 daerah berpotensi diguyur hujan

Berdasarkan prakiraan BMKG, pada Jumat, 19 Juni 2026, terdapat 20 kabupaten dan kota yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Nagan Raya, Pidie, Pidie Jaya, Simeulue, Kota Lhokseumawe, serta Kota Subulussalam.

Memasuki Sabtu, 20 Juni 2026, jumlah daerah yang berpotensi mengalami hujan diperkirakan berkurang menjadi 19 wilayah. Meski demikian, cakupan wilayah terdampak masih relatif luas sehingga masyarakat di berbagai daerah tetap diminta mewaspadai kemungkinan hujan lebat.

Sementara itu, pada Minggu, 21 Juni 2026, potensi hujan diprediksi lebih terkonsentrasi di tujuh daerah, yakni Aceh Besar, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, dan Gayo Lues.

Empat daerah berpotensi mengalami angin kencang

Selain hujan lebat, BMKG juga memperkirakan adanya potensi angin kencang yang dapat terjadi pada periode 19 hingga 20 Juni 2026.

Wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi Kabupaten Aceh Barat, Aceh Besar, Aceh Selatan, serta Kota Sabang.

Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, hingga terganggunya aktivitas masyarakat, terutama di kawasan pesisir maupun daerah terbuka.

Dipengaruhi aktivitas atmosfer

BMKG menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi di Aceh dipicu oleh sejumlah fenomena atmosfer yang sedang aktif di kawasan Indonesia bagian barat.

Di antaranya adalah aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Gelombang Kelvin di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Pulau Sumatera. Selain itu, keberadaan daerah belokan angin di sekitar Aceh turut mendukung pertumbuhan awan konvektif yang menjadi pemicu hujan.

Faktor lainnya adalah suhu muka laut di perairan barat dan selatan Sumatera yang masih relatif hangat. Kondisi tersebut meningkatkan proses penguapan sehingga kandungan uap air di atmosfer bertambah dan memperbesar peluang terbentuknya awan hujan.

Warga diminta meningkatkan kewaspadaan

BMKG mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati selama beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika hujan lebat disertai angin kencang terjadi.

Pengendara diharapkan meningkatkan kewaspadaan karena kondisi cuaca tersebut dapat memicu berkurangnya jarak pandang di jalan. Selain itu, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir, tanah longsor, maupun daerah yang banyak pepohonan diminta terus memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG dan segera mengantisipasi apabila kondisi cuaca memburuk.

Kewaspadaan sejak dini dinilai penting untuk meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi secara tiba-tiba, khususnya pada sore hingga malam hari. (XRQ)

USK dan UII Tandatangani MoA, Bahas Memori, Perdamaian, dan Ketahanan Masyarakat dalam Menghadapi Krisis dan Bencana

0
Penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Islam Indonesia (FISB UII), Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, LPPM USK melalui PRISB, dan TDMRC USK di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan (DIB) Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) sukses menyelenggarakan Seminar Series I bertajuk “Memori, Perdamaian, dan Ketahanan Masyarakat dalam Menghadapi Krisis dan Bencana”.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Mini Theatre Sekolah Pascasarjana USK dan melalui Zoom Meeting ini mempertemukan akademisi, mahasiswa, peneliti, praktisi, serta masyarakat umum untuk mendiskusikan hubungan antara memori, perdamaian, media, dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai krisis dan bencana.

Kegiatan diawali dengan laporan Ketua Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan, Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil., yang menegaskan pentingnya pengembangan ruang akademik yang mampu menjembatani berbagai perspektif ilmu pengetahuan dalam memahami dinamika bencana, konflik, dan proses pemulihan masyarakat. Selanjutnya sambutan disampaikan oleh Direktur Sekolah Pascasarjana USK, Prof. Dr. Hizir.

Seminar secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, S.E., M.Ec.Dev., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala yang hadir mewakili Rektor Universitas Syiah Kuala. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya penguatan kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi dalam pengembangan ilmu kebencanaan, perdamaian, dan ketahanan masyarakat. Menurutnya, tantangan krisis dan bencana yang semakin kompleks membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial, budaya, dan kemanusiaan.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (FISB UII) dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala yang meliputi Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan (DIB), Magister Ilmu Kebencanaan (MIK), dan Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK), serta LPPM Universitas Syiah Kuala melalui Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB) dan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala.

Penandatanganan MoA dilakukan oleh Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. Hizir selaku Direktur Sekolah Pascasarjana USK, Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, S.E., M.Ec.Dev. selaku Ketua LPPM USK, dan Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil. selaku Ketua TDMRC USK. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, seminar akademik, pengembangan kebijakan, serta pengabdian kepada masyarakat pada isu-isu sosial, budaya, perdamaian, dan kebencanaan.

Memasuki sesi seminar, Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. menyampaikan materi bertajuk “Media, Komunikasi Publik, dan Ketahanan Sosial dalam Situasi Krisis dan Bencana.” Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa media memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi. Media turut membentuk cara masyarakat memahami krisis, mengingat peristiwa masa lalu, serta membangun makna terhadap proses pemulihan. Oleh karena itu, komunikasi publik yang inklusif dan berorientasi pada masyarakat menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan sosial di tengah berbagai situasi krisis dan bencana.

Narasumber kedua, Dr. Hamdani M. Syam, M.A., membawakan materi “Jurnalisme Damai: Media, Konflik, dan Rekonsiliasi dalam Masyarakat Pascakonflik.” Sebagai akademisi yang telah lama meneliti isu media dan perdamaian, Dr. Hamdani menyoroti pentingnya pendekatan peace journalism dalam peliputan konflik. Menurutnya, media tidak hanya berperan sebagai pengamat atau penyampai informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan narasi yang mampu mendorong dialog, mengurangi polarisasi, serta mendukung proses rekonsiliasi. Dalam konteks Aceh, pengalaman panjang konflik menunjukkan bahwa media dapat menjadi instrumen penting dalam membangun pemahaman bersama dan memperkuat perdamaian yang berkelanjutan.

Pada sesi berikutnya, Alfi Rahman, S.I.Kom., M.Si., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Direktur Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB), serta pengajar pada Program Magister dan Doktor Ilmu Kebencanaan dan Program Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK), menyampaikan materi berjudul “Layered Disasters and Contested Memory: Konflik, Tsunami, dan Pemulihan Pascakrisis di Aceh.”

Dalam presentasinya, Alfi memaparkan hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Social Science yang menunjukkan bahwa konflik bersenjata Aceh (1976–2005) dan tsunami Samudra Hindia tahun 2004 tidak dapat dipahami sebagai dua peristiwa yang terpisah. Kedua peristiwa tersebut membentuk apa yang disebut sebagai layered disasters atau krisis berlapis, yang secara bersama-sama memengaruhi pengalaman hidup, kerentanan, proses pemulihan, dan memori kolektif masyarakat Aceh.

Melalui wawancara mendalam di berbagai wilayah Aceh, penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascakrisis tidak hanya berlangsung melalui rekonstruksi fisik dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui proses sosial yang melibatkan praktik-praktik perawatan (care practices), dukungan psikososial, solidaritas komunitas, pengetahuan lokal, dan pewarisan memori antargenerasi. Studi ini juga menyoroti peran penting perempuan dalam menjaga keluarga dan komunitas selama masa konflik maupun pascatsunami, serta pentingnya pengetahuan lokal seperti Smong di Simeulue sebagai bentuk memori kolektif yang berkontribusi terhadap ketahanan masyarakat menghadapi bencana di masa depan.

Diskusi yang dipandu oleh Prof. Dr. Ir. Ella Meilianda, S.T., M.T., IPU. berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan terkait hubungan antara memori, media, konflik, perdamaian, trauma, dan kebencanaan, serta bagaimana pengalaman Aceh dapat menjadi pelajaran berharga bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.

Melalui penyelenggaraan Seminar Series I ini, Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala berharap dapat terus memperkuat tradisi akademik yang kritis, reflektif, dan transdisipliner dalam memahami berbagai bentuk krisis yang dihadapi masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk memperluas jejaring kolaborasi antara perguruan tinggi, pusat riset, dan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pembangunan perdamaian, serta pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Buntut Dugaan Kekerasan terhadap Tiga PMI Asal Aceh, Polisi Malaysia Amankan Empat Terduga Pelaku

0
Dokumentasi petugas KJRI Johor Bahru saat melakukan pendampingan terhadap PMI asal Aceh dalam melakukan laporan penganiaya ke pihak Kepolisian, Selasa (16/6/2026) (Foto: KOMPAS.COM/DOK KJRI JOHOR BAHRU)

NUKILAN.ID | JOHOR BAHRU – Kasus dugaan kekerasan yang dialami tiga Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Aceh di Johor, Malaysia, memasuki babak baru. Kepolisian Malaysia telah mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan terhadap ketiga PMI tersebut.

Ketiga korban yang berinisial YA, YY, dan SH sebelumnya telah menempuh jalur hukum dengan membuat laporan polisi terkait dugaan penganiayaan yang mereka alami saat bekerja di Malaysia. Selama proses hukum berlangsung, mereka mendapat pendampingan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru.

Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya (Pensosbud) KJRI Johor Bahru, Erry Kananga, membenarkan bahwa laporan resmi telah dibuat pada Selasa (16/6/2026). Menurutnya, KJRI Johor Bahru bersama pengacara yang ditunjuk turut mendampingi para korban saat membuat laporan dan memberikan keterangan kepada aparat penegak hukum Malaysia.

“Selasa lalu sudah buat laporan, KJRI Johor Bahru bersama pengacara yang ditunjuk mendampingi ketiga PMI dalam proses pembuatan laporan polisi dan pemberian keterangan kepada pihak kepolisian Malaysia,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui aplikasi pesan singkat, Kamis (18/6/2026).

Berdasarkan informasi yang diperoleh KJRI Johor Bahru, korban YA diduga mengalami kekerasan di kawasan Tampoi, Johor. Sementara itu, korban YY dan SH diduga mengalami tindakan serupa di kawasan Taman Daya, Johor Bahru.

Sesuai wilayah hukum masing-masing, laporan korban YA saat ini ditangani oleh Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Johor Bahru Utara. Sedangkan laporan yang diajukan YY dan SH diproses oleh IPD Johor Bahru Selatan.

Selain membuat laporan polisi, ketiga korban juga telah menjalani pemeriksaan medis dan visum di Hospital Sultanah Aminah (HSA), Johor Bahru, dengan pengawalan pihak kepolisian.

“Setelah pemeriksaan medis selesai, para korban kembali dimintai keterangan oleh penyidik untuk melengkapi berkas investigasi,” jelasnya.

Erry mengatakan, hasil penyelidikan awal yang dilakukan aparat kepolisian Malaysia mengarah pada pengamanan empat orang yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Keempatnya masing-masing berinisial HH, FA, F, dan FN.

Selain itu, seorang perempuan berinisial SN yang diduga merekam peristiwa kekerasan juga turut diamankan untuk dimintai keterangan sebagai bagian dari proses penyelidikan.

“SN telah dibebaskan setelah proses pengambilan keterangan selesai dilakukan,” ujarnya.

Dalam proses penyelidikan lanjutan, ketiga PMI juga didampingi KJRI Johor Bahru untuk melakukan pengecaman atau identifikasi terhadap para terduga pelaku di IPD Johor Bahru Selatan.

Para korban selanjutnya dijadwalkan kembali menjalani pemeriksaan tambahan di IPD Johor Bahru Utara guna melengkapi proses hukum yang masih berlangsung.

KJRI Johor Bahru menegaskan komitmennya untuk terus mengawal penanganan kasus tersebut hingga para korban memperoleh perlindungan serta hak-haknya sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Malaysia.

“KJRI Johor Bahru berkomitmen untuk terus mengawal penanganan kasus ini serta berkoordinasi secara intensif dengan pihak kepolisian Malaysia dan berbagai pihak terkait guna memastikan para korban memperoleh akses terhadap keadilan, perlindungan, dan pemulihan,” jelasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Reformasi Birokrasi Aceh Meningkat, Raih Predikat A- dari Kementerian PANRB

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh berhasil mencatatkan peningkatan capaian reformasi birokrasi pada tahun 2025. Berdasarkan hasil evaluasi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Indeks Reformasi Birokrasi (RB) Pemerintah Aceh mencapai 82,73 dengan predikat A-, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 79,69 dengan predikat BB.

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh perangkat daerah dalam menjalankan agenda reformasi birokrasi yang berfokus pada peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.

“Alhamdulillah, hasil evaluasi Kementerian PANRB menunjukkan adanya peningkatan nilai Reformasi Birokrasi Pemerintah Aceh. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat tata kelola pemerintahan yang efektif, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat,” kata M. Nasir.

Berdasarkan hasil evaluasi yang tertuang dalam surat Deputi Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan Kementerian PANRB Nomor B/23/RB.06/2026 tertanggal 10 April 2026, nilai RB General Pemerintah Aceh meningkat dari 69,04 pada tahun 2024 menjadi 70,99 pada tahun 2025. Sementara itu, nilai RB Tematik juga mengalami kenaikan dari 10,65 menjadi 11,74.

Dengan capaian tersebut, total Indeks Reformasi Birokrasi Pemerintah Aceh mencapai 82,73 dan berhasil masuk kategori A-.

Sejumlah indikator strategis dalam evaluasi tersebut menunjukkan hasil yang menggembirakan. Indeks Perencanaan Pembangunan tercatat sebesar 91,20 persen, Tingkat Digitalisasi Arsip mencapai 91,60 persen, Indeks Pelayanan Publik sebesar 91 persen, Tingkat Kepatuhan Standar Pelayanan Publik mencapai 86 persen, serta Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) berada pada angka 80,33 persen.

Selain itu, Pemerintah Aceh juga kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan dengan capaian 100 persen.

Meski mencatatkan peningkatan, M. Nasir menegaskan bahwa hasil evaluasi tersebut tetap menjadi bahan evaluasi dan perbaikan bagi Pemerintah Aceh ke depan. Dalam rekomendasinya, Kementerian PANRB mendorong penguatan implementasi SPBE, peningkatan kualitas pengelolaan pengaduan masyarakat, penguatan manajemen risiko, peningkatan kualitas kebijakan publik, serta percepatan pembangunan Zona Integritas di lingkungan perangkat daerah.

“kami akan menindaklanjuti seluruh rekomendasi yang diberikan Kementerian PANRB. Evaluasi ini bukan sekadar penilaian, tetapi menjadi instrumen penting untuk memastikan reformasi birokrasi benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat Aceh,” ujar M. Nasir.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Pemerintah Aceh akan terus memperkuat budaya kerja BerAKHLAK, mendorong digitalisasi layanan pemerintahan, meningkatkan integritas aparatur, serta memastikan seluruh program pembangunan berjalan secara efektif, transparan, dan akuntabel.

Kementerian PANRB dalam laporannya juga menyampaikan apresiasi atas upaya Pemerintah Aceh dalam melaksanakan reformasi birokrasi. Pemerintah pusat berharap seluruh rekomendasi hasil evaluasi dapat ditindaklanjuti secara berkelanjutan guna meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik di Aceh pada masa mendatang.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Bupati Al-Farlaky Kumpulkan Pimpinan PKS, Bahas Harga TBS, CSR hingga Investasi Hilirisasi Sawit

0
ALFARLAKY

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., mengumpulkan pimpinan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang beroperasi di Kabupaten Aceh Timur dalam sebuah rapat koordinasi yang berlangsung di Pendopo Bupati Aceh Timur, Kamis (18/6/2026).

Pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis yang berkaitan dengan sektor kelapa sawit di Aceh Timur, mulai dari harga Tandan Buah Segar (TBS), pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR), peningkatan koordinasi antara perusahaan dengan pemerintah daerah, hingga peluang investasi hilirisasi sawit.

Dalam arahannya, Al-Farlaky menyoroti persoalan harga TBS yang saat ini menjadi perhatian di tingkat nasional. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur menginginkan adanya standar harga yang memberikan kepastian dan tidak merugikan petani maupun pelaku usaha.

“Kami berharap harga TBS di Aceh Timur memiliki patokan yang jelas sehingga tidak merugikan petani. Pemerintah daerah juga perlu memperoleh informasi dan laporan berkala terkait perkembangan harga TBS agar dapat melakukan pemantauan dan pengawasan,” ujar Al-Farlaky.

Selain persoalan harga, Bupati juga meminta perusahaan-perusahaan PKS untuk memperkuat koordinasi dengan dinas terkait, terutama dalam penyampaian data dan informasi mengenai aktivitas usaha perkebunan serta pengolahan kelapa sawit.

Pada kesempatan itu, Al-Farlaky turut menekankan pentingnya pelaksanaan program CSR yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat, khususnya di wilayah yang menjadi kawasan operasional perusahaan.

“Kami berharap perusahaan dapat mengambil peran dalam pembangunan yang sedang digalakkan pemerintah. Misalnya membantu pembangunan atau perbaikan akses jalan yang digunakan dalam aktivitas perusahaan. Setiap kegiatan pembangunan yang dilakukan perusahaan sebaiknya dikoordinasikan dengan pemerintah daerah melalui dinas terkait agar dapat terdata dan tersinkronisasi,” katanya.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah dan perusahaan perlu terus diperkuat demi mendukung percepatan pembangunan di Aceh Timur.

“Koordinasi tidak harus selalu dengan Bupati. Yang terpenting adalah adanya komunikasi dan sinkronisasi yang baik dengan dinas-dinas terkait sehingga pembangunan di Aceh Timur berjalan searah,” tambahnya.

Dalam pembahasan sektor investasi, Al-Farlaky mengungkapkan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong pengembangan industri hilir kelapa sawit. Salah satu peluang yang terbuka adalah pembangunan pabrik minyak makan apabila terdapat investor yang berminat menanamkan modal di Aceh Timur.

“Kami membuka peluang investasi seluas-luasnya. Jika nantinya ada investor yang membangun pabrik minyak makan, tentu dapat membuka peluang kerja sama bisnis baru dengan PKS yang ada di Aceh Timur,” ujarnya.

Selain itu, Bupati juga mengingatkan seluruh perusahaan agar terus menerapkan standar keselamatan kerja secara maksimal. Ia meminta perusahaan memberikan pelatihan keselamatan kerja kepada para karyawan serta melengkapi fasilitas penanggulangan kebakaran, termasuk alat pemadam api ringan (APAR).

“Kita tidak ingin ada kejadian yang merugikan akibat kurangnya perhatian terhadap aspek keselamatan kerja. Karena itu perusahaan harus memastikan seluruh pekerja memahami prosedur keselamatan,” tegasnya.

Al-Farlaky kembali menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Timur berkomitmen mendukung iklim investasi yang sehat dan memberikan kenyamanan bagi para investor yang beroperasi di daerah tersebut.

“Kami mendukung investor dan menjamin kenyamanan berusaha di Aceh Timur. Namun kami juga ingin mengetahui dampak dan manfaat yang diberikan setiap perusahaan bagi masyarakat dan pembangunan daerah. Karena itu pertemuan seperti ini penting untuk terus dilakukan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan PT Teupin Lada menjelaskan bahwa perusahaan selama ini telah melaksanakan berbagai program CSR di lingkungan sekitar pabrik. Program tersebut mencakup pembagian sembako kepada 50 kepala keluarga setiap bulan, santunan bagi anak yatim di tujuh desa lingkar pabrik hingga usia 15 tahun, serta pembangunan rumah layak huni untuk warga lanjut usia.

Meski demikian, pihak perusahaan mengakui bahwa sebagian kegiatan CSR yang telah dijalankan belum seluruhnya dilaporkan secara administratif kepada dinas terkait.

Terkait harga TBS, PT Teupin Lada menyebutkan bahwa perusahaan mengikuti harga panduan yang berlaku dan melakukan penyesuaian setiap hari sesuai perkembangan pasar.

Perusahaan juga berharap adanya regulasi yang dapat mengendalikan arus penjualan TBS ke luar daerah. Menurut mereka, cukup banyak bahan baku sawit dari Aceh Timur yang dikirim ke Medan sehingga berdampak pada ketersediaan pasokan bagi PKS yang beroperasi di daerah tersebut.

Menanggapi hal itu, Bupati Aceh Timur menyatakan akan membahas aspek teknis bersama instansi terkait. Namun ia menegaskan bahwa setiap kebijakan yang diambil harus tetap memperhatikan keseimbangan kepentingan petani dan perusahaan.

“Kita akan duduk bersama membahas teknisnya. Yang terpenting adalah adanya jaminan harga yang adil sehingga petani tidak dirugikan dan perusahaan juga dapat terus beroperasi dengan baik,” pungkas Al-Farlaky.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News