Beranda blog Halaman 449

Aceh Jaya Semarakkan Hari Otonomi Daerah ke-29 dengan Semangat Kolaborasi

0
Wakil Bupati Aceh Jaya, Muslem D, S.E., memimpin langsung upacara peringatan Hari Otonomi Daerah ke-29 yang dilangsungkan di halaman Kantor Bupati Aceh Jaya, Jumat (25/4/2025). (Foto Pemkab Aceh Jaya)

NUKILAN.id | Calang – Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya memperingati Hari Otonomi Daerah ke-29 dengan penuh semangat dan refleksi mendalam. Dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Muslem D, S.E., upacara berlangsung khidmat di halaman Kantor Bupati Aceh Jaya, Jumat (25/4/2025). Acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk mengevaluasi capaian dan menyusun strategi baru menuju Indonesia Emas 2045.

Dengan mengusung tema “Sinergi Pusat dan Daerah Membangun Nusantara Menuju Indonesia Emas 2045”, Muslem menegaskan bahwa kolaborasi antar level pemerintahan adalah kunci kemajuan bangsa. Dalam amanat Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang dibacakannya, ia menekankan bahwa otonomi daerah harus dimaknai sebagai upaya bersama mewujudkan kesejahteraan merata.

“Dengan kekayaan alam, budaya, dan SDM yang melimpah, Indonesia tidak bisa bergerak sendiri. Butuh kerja sama erat antara pusat dan daerah untuk memastikan pembangunan menyentuh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Muslem memaparkan sejumlah prioritas pembangunan daerah di era otonomi saat ini, antara lain:

  • Penguatan ketahanan pangan dan energi

  • Pengelolaan sumber daya air berkelanjutan

  • Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan

  • Reformasi birokrasi dan penegakan hukum yang efektif

  • Pengembangan kewirausahaan dan lapangan kerja

Ia juga menyampaikan pesan khusus Presiden Prabowo Subianto yang mendorong seluruh kepala daerah untuk bersinergi dalam menjawab tantangan nasional.

Usai upacara, Muslem memantau langsung kedisiplinan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang hadir. Ia mengapresiasi antusiasme mereka, yang menurutnya mencerminkan komitmen kuat membangun birokrasi profesional dan berintegritas.

“Antusiasme para ASN menunjukkan bahwa kita memiliki semangat bersama untuk mewujudkan birokrasi yang profesional, berintegritas, dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati,” ucapnya.

Di akhir acara, Muslem menutup dengan pesan optimis: “Selamat Hari Otonomi Daerah ke-29. Semoga semangat otonomi menjadi motor penggerak pemerintahan yang lebih baik serta pelayanan publik yang semakin berkualitas.”

Peringatan ini menjadi pengingat bahwa otonomi daerah bukanlah akhir, melainkan jalan untuk menciptakan Aceh Jaya—dan Indonesia—yang lebih maju, adil, dan sejahtera.

Aceh Bisa Hemat Rp372 Miliar per Tahun Jika Ekspor CPO Langsung dari Pelabuhan Lokal

0
Ilustrasi Sawit (Foto: Sumatra.bisnis.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh  – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Aceh terus mendorong pengusaha kelapa sawit di provinsi itu untuk mengekspor minyak sawit mentah (CPO) langsung dari pelabuhan setempat, alih-alih melalui Sumatera Utara. Langkah ini bisa menghemat biaya logistik hingga Rp372 miliar per tahun sekaligus meningkatkan pendapatan daerah.

Saat ini, 93% dari total produksi CPO Aceh yang mencapai satu juta ton per tahun masih diekspor melalui pelabuhan di Sumatera Utara. Padahal, Provinsi Aceh memiliki 63 pabrik kelapa sawit aktif dengan luas perkebunan mencapai 470 ribu hektare.

“Ekspor melalui pelabuhan di provinsi lain membutuhkan ongkos angkut yang lebih besar. Jika diekspor langsung dari Aceh, biaya logistik bisa ditekan, dan penerimaan bea keluar untuk Aceh akan meningkat,” jelas Safuadi, Kepala Kantor Wilayah DJBC Aceh.

Perhitungan DJBC Aceh menunjukkan, pengiriman 930 ribu ton CPO ke Sumatera Utara membutuhkan 26.571 perjalanan truk tangki per tahun, atau sekitar 742 truk per hari. Dengan ongkos angkut Rp400 ribu per ton, total biaya logistik mencapai Rp372 miliar per tahun.

“Bayangkan jika dana sebesar itu bisa dialihkan untuk efisiensi produksi atau peningkatan kesejahteraan pekerja. Selain itu, ekspor dari Aceh juga akan mengurangi kerusakan jalan akibat muatan berat,” tambah Safuadi.

Aceh memiliki beberapa pelabuhan yang bisa menjadi pintu ekspor CPO, seperti Pelabuhan Krueng Geukueh dan Pelabuhan Calang. Dengan memaksimalkan pelabuhan lokal, Aceh tidak hanya menghemat biaya tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.

“Ekspor dari Aceh berarti lebih banyak tenaga kerja lokal yang terserap. Ini bisa mengurangi angka perantauan warga Aceh yang mencari pekerjaan ke luar daerah atau luar negeri,” tegas Safuadi.

Sebagai salah satu penghasil CPO terbesar di Indonesia, Aceh menyumbang 2,41% produksi nasional. Namun, hanya 7% dari total produksinya yang diekspor langsung melalui pelabuhan dalam provinsi.

DJBC Aceh berkomitmen mempercepat realisasi ekspor langsung ini dengan mempermudah proses kepabeanan dan bekerja sama dengan pelaku usaha. Jika terwujud, langkah ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu hub ekspor strategis di Indonesia.

Editor: AKil

Bupati Aceh Besar Dukung Investor Pengelola Limbah, Hadirkan Solusi Energi Terbarukan

0
Bupati Aceh Besar Dukung Investor Pengelola Limbah, Hadirkan Solusi Energi Terbarukan. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, menyambut positif kehadiran investor yang ingin mengembangkan kemitraan energi terbarukan dan pengelolaan limbah di wilayah Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Besar. Dalam sebuah pertemuan di Banda Aceh, ia mengungkapkan dukungannya terhadap inisiatif ini, yang bertujuan mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah besar bagi masyarakat.

“Saya menyambut baik apapun yang bisa menguntungkan bagi masyarakat dan daerah, apalagi hari ini kita membahas permasalahan sampah yang sudah menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat baik di Aceh Besar maupun Kota Banda Aceh,” ujar Muharram Idris dengan antusias.

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari pemaparan kerja sama investasi program pengelolaan sampah yang melibatkan GGIE Renewable Energy Technology Singapore dan PT Pembangunan Aceh (PEMA) Perseroda. Dalam kesempatan itu, Bupati Muharram menegaskan bahwa penanganan sampah sudah menjadi salah satu program utama sejak dirinya mencalonkan diri sebagai Bupati Aceh Besar.

“Alhamdulillah, pertemuan dengan Investor GGIE Renewable Energy Technology Singapore merupakan langkah awal bagi kita untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Kabupaten Aceh Besar maupun Kota Banda Aceh,” katanya optimistis.

Sebagai bagian dari visinya untuk membangun Aceh Besar, Muharram menekankan bahwa tahun 2025 merupakan momen penting untuk berkolaborasi dalam membangun daerah bersama seluruh elemen masyarakat. “Saya di Aceh Besar sudah mulai melakukan konsolidasi dan pertemuan dengan seluruh elemen untuk bersatu dalam membangun daerah,” tambahnya.

Aceh Besar, yang terletak strategis sebagai penyangga bagi kabupaten lainnya di Provinsi Aceh, menjadi wilayah yang sangat potensial bagi investor yang ingin berinvestasi di sektor ini. Menurut Muharram, daerah ini juga memiliki akses yang mudah dijangkau oleh investor, menjadikannya lokasi yang ideal untuk pengembangan investasi.

“Saya berharap pertemuan dengan Investor GGIE Renewable Energy Technology Singapore mendapatkan hasil yang terbaik,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Director Biosyn Indonesia – GGI Energy Pte Ltd, Yumaidar, menjelaskan bahwa GGI Energy adalah perusahaan asal Singapura yang berfokus pada pemasaran investasi internasional di bidang teknologi limbah menjadi energi di kawasan ASEAN. Yumaidar menjelaskan bahwa teknologi pirolisis yang dipatenkan oleh perusahaannya dapat mengubah berbagai jenis limbah yang biasanya dibuang ke tempat pembuangan akhir menjadi energi hijau yang bersih dan ramah lingkungan.

“Dengan teknologi ini, kami berharap dapat memberikan solusi yang berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan yang bermanfaat bagi masyarakat Aceh,” jelas Yumaidar.

Kerja sama ini diyakini akan menjadi titik awal bagi Aceh Besar dan Kota Banda Aceh untuk mengatasi permasalahan sampah yang sudah berlangsung lama, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis energi terbarukan.

Editor: AKil

Usung Inovasi Pendidikan Ramah Disabilitas, USK Sabet Medali Perak di Anugerah Innovillage 2024

0
Usung Inovasi Pendidikan Ramah Disabilitas, USK Sabet Medali Perak di Anugerah Innovillage 2024. (Foto: Humas USK)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK). Tim DisasteAR dari Fakultas Teknik USK sukses meraih medali perak dalam ajang nasional Anugerah Innovillage 2024.

Dalam awarding ceremony yang digelar pada 24 April 2025 di Auditorium Gedung Damar, Telkom University, Bandung, USK membawa pulang dua penghargaan bergengsi sekaligus.

Tim DisasteAR terdiri dari mahasiswa Teknik Geofisika USK, yakni Muhammad Faizul (ketua), M. Fadil Ramadhan, dan Irfan Ferdiansyah, dengan bimbingan Muhammad Yanis, S.Si., M.Si.

Dikutip Nukilan.id dari laman usk.ac.id, mereka berhasil menjadi runner-up pada kompetisi Kategori Dampak Sosial Berkelanjutan – Disabilitas, serta masuk dalam jajaran 20 besar tim terbaik nasional, mengungguli lebih dari 800 tim peserta yang berasal dari 150 perguruan tinggi se-Indonesia.

“Penghargaan ini menegaskan kontribusi nyata USK, dalam menciptakan solusi inklusif berbasis teknologi untuk kelompok rentan,” ujar Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc.

Tak hanya itu, USK juga dinobatkan sebagai universitas dengan jumlah proposal terbanyak yang disubmit dalam ajang ini. Antusiasme mahasiswa dalam berpartisipasi di berbagai kategori kompetisi mencerminkan semangat inovatif dan kepedulian sosial yang kuat dari generasi muda USK.

Pada Innovillage 2024, Tim DisasteAR memperkenalkan proyek inovatif bertajuk Inovasi Pendidikan Kebencanaan Berbasis Augmented Reality (AR) untuk Penyandang Disabilitas dan Anak Sekolah Dasar.” Program ini telah diimplementasikan di SDN 58 Alue Naga, Banda Aceh.

Mengusung pendekatan teknologi VR/AR dan game edukatif, inovasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman mitigasi bencana pada anak-anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Game interaktif dikembangkan melalui Roblox Studio, dilengkapi dengan video 360° yang kompatibel dengan perangkat VR Cardboard maupun Oculus Quest 3s.

“Program ini menyasar 40 siswa sekolah dasar, termasuk dua siswa tunarungu, serta 10 guru yang turut menerima pelatihan penggunaan perangkat,” jelas Faizul.

Selama program berjalan, tim menggelar berbagai kegiatan seperti pelatihan guru, demo alat, sesi kuis, hingga uji coba langsung oleh siswa. Hasilnya, program ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap mitigasi bencana, sekaligus menjadi simbol konkret inklusivitas pendidikan berbasis teknologi.

“Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa mahasiswa USK mampu bersaing di level nasional dan membawa solusi konkret bagi masyarakat,” ujar Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Prestasi USK, Prof. Dr. Ir. Farid Mulana, S.T., M.Eng.

Sebagai informasi, Anugerah Innovillage merupakan program tahunan hasil kolaborasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dengan Telkom University (Tel-U) dan Yayasan Pendidikan Telkom (YPT). Ajang ini bertujuan mendorong kolaborasi mahasiswa dalam menciptakan solusi berbasis teknologi untuk berbagai persoalan sosial.

Kompetisi tahun ini mempertandingkan enam kategori utama, yakni Disabilitas, Kerawanan Pangan, Lingkungan, Penurunan Stunting, UMKM, dan Pemberdayaan Perempuan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). (XRQ)

Reporter: Akil

Tim Terpadu Sidak Supermarket di Banda Aceh, Cegah Peredaran Produk Mengandung Babi

0
Tim Terpadu Sidak Supermarket di Banda Aceh, Cegah Peredaran Produk Mengandung Babi. (Foto: MPU)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menyikapi keresahan masyarakat terkait beredarnya produk pangan olahan yang terindikasi mengandung unsur babi, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh bergerak cepat. Melalui Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM), MPU Aceh bersama Tim Terpadu melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah minimarket dan supermarket di Banda Aceh dan Aceh Besar, Jumat (25/4/2025).

Sidak ini dilakukan menyusul rilis resmi dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pusat, yang menyebutkan adanya sembilan produk makanan olahan yang terkontaminasi najis babi. Dari jumlah itu, tujuh produk disebut telah memiliki sertifikat halal, sementara dua lainnya belum bersertifikat.

Menurut Ketua LPPOM MPU Aceh, Deni Candra, ST., MT., tim sidak gabungan melibatkan berbagai unsur Pemerintah Aceh, seperti Biro Isra Setda Aceh, Dinas Syariat Islam, Satpol PP dan WH, Dinas Pangan, Disperindag, Kanwil Kemenag, serta pemerintah daerah setempat.

“Sidak yang dilakukan tadi pagi bersama dengan tim Pemerintah Aceh itu didasari oleh press rilis yang dikeluarkan Badan Penyelanggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) pusat dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait dengan temuan beberapa produk yang terkontaminasi dengan najis yaitu babi,” jelas Deni.

Inspeksi ini, kata Deni, diinisiasi langsung oleh Ketua MPU Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Faisal. Ia menegaskan bahwa pengawasan ketat terhadap produk pangan di Aceh harus dijalankan secara serius.

“Tentu harapan yang sangat-sangat adalah sidak ini bisa dijalankan dengan baik dan menjadi shock therapy bagi seluruh orang yang mencari rezeki di Aceh bahwa jangan bermain-main tentang masalah halal itu,” ujar Abu Faisal.

Dalam sidak yang menyasar beberapa titik, termasuk salah satu supermarket ternama di pusat Kota Banda Aceh, tim tidak menemukan produk bermasalah yang terpajang di etalase. Namun, pihak pengelola supermarket mengaku bahwa produk tersebut sebelumnya telah ditarik dari rak penjualan dan kini disimpan di gudang.

Deni Candra menambahkan, pihaknya akan menindaklanjuti temuan lapangan dengan menganalisis produk yang dicurigai dan mengonfirmasikan ke lembaga terkait.

“Setelah kita menganalisa hasil sidak tadi kita akan mencoba mengkonfirmasi jenis-jenis produk yang kita curigai ke pihak berwenang yaitu BPOM dan BPJPH karena ada produk yang dibuat oleh pabrik yang sama kemudian memiliki nomor sertifikat halal yang sama, izin edar yang sama namun memiliki bentuk dan varian yang berbeda,”

Kekhawatiran juga muncul karena produk-produk tersebut banyak dikonsumsi oleh anak-anak sekolah. Deni menyebut kemungkinan kios-kios di sekitar sekolah ikut menjual produk serupa, dan perlu menjadi perhatian serius.

“Dinas teknis yang dimaksud, mungkin bisa Satpol PP/WH, Disperindag melalui Bidang Perlindungan Konsumen bahkan mungkin bisa pihak kepolisian, disamping LPPOM MPU Aceh sendiri,” tutupnya.

Melalui langkah ini, MPU Aceh menegaskan komitmennya dalam menjaga kemurnian konsumsi masyarakat Aceh, yang menjunjung tinggi prinsip halal dalam kehidupan sehari-hari. Sidak ini diharapkan tak hanya menjadi bentuk pengawasan, tetapi juga peringatan keras bagi pelaku usaha agar tidak lalai terhadap tanggung jawab moral dan hukum dalam peredaran produk di Aceh.

Editor: Akil

Universitas Syiah Kuala Perketat Pengawasan UTBK 2025 Setelah Isu Kecurangan Merebak

0
Universitas Syiah Kuala Perketat Pengawasan UTBK 2025 Setelah Isu Kecurangan Merebak. (Foto: Humas USK)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) merespons cepat isu kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025. Pihak universitas menegaskan akan memperketat pengawasan guna memastikan proses seleksi berjalan dengan jujur dan kredibel.

Amatan Nukilan.id, isu kecurangan tersebut mencuat setelah sejumlah unggahan di media sosial yang menunjukkan bocoran soal UTBK serta video dari oknum peserta yang merekam soal saat ujian berlangsung.

Namun, dilansir dari laman resmi usk.ac.id, Panitia Pelaksana SNPMB 2025 telah mengeluarkan pernyataan bahwa yang beredar tersebut bukanlah bocoran soal UTBK, tindakan peserta yang terekam jelas menunjukkan potensi kecurangan yang perlu segera ditindaklanjuti.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si, menegaskan bahwa USK tidak akan tinggal diam dengan kejadian ini.

“Tentu kita semua berharap pelaksanaan UTBK ini berjalan secara jujur dan kredibel. Kita tidak ingin praktik kecurangan seperti ini terjadi, apalagi di lingkungan Pendidikan. Untuk itulah, USK akan memperketat pengawasannya,” ujar Agussabti, sambil menginstruksikan kepada seluruh panitia untuk meningkatkan kewaspadaan.

Langkah-langkah yang telah direncanakan meliputi pemeriksaan setiap peserta menggunakan metal detector sebelum memasuki ruang ujian. Selain itu, peserta juga tidak diperkenankan membawa barang apapun kecuali dokumen yang diwajibkan untuk ujian. Semua barang peserta akan dikumpulkan di tempat yang telah disediakan oleh panitia di USK untuk menghindari potensi kecurangan lebih lanjut.

Agussabti juga mengapresiasi partisipasi masyarakat yang turut berperan serta dalam mengungkapkan kecurangan ini.

“Saya sangat mengapresiasi sikap masyarakat yang telah berinisiatif atau berpartisipasi dalam memberikan informasi laporan kecurangan terhadap pelaksanaan UTBK ini. Keterlibatan masyarakat seperti ini sangatlah penting. Sebab pelaksanaan UTBK ini merupakan salah satu tahapan untuk memilih calon mahasiswa di perguruan tinggi. Selanjutnya, di pundak merekalah masa depan bangsa ini diamanahkan,” tambahnya.

Terkait para peserta UTBK, Agussabti mengingatkan agar mereka tetap berkomitmen untuk mengikuti seluruh proses seleksi dengan integritas.

“Untuk itu, kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga integritas proses seleksi nasional ini. Karena ini juga merupakan bentuk tanggung jawab kita terhadap masa depan bangsa,” tutup Agussabti. (XRQ)

Reporter: AKil

Makan Bergizi Gratis buat Kroni

0
Ilustrasi makan bergizi gratis. (Foto: iStockphoto)

NUKILAN.id | Opini – Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto menyisakan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Diluncurkan secara nasional pada 6 Januari 2025, program ini digadang-gadang sebagai solusi untuk meningkatkan gizi anak Indonesia. Namun, realisasi di lapangan justru menunjukkan ironi: makanan tidak layak konsumsi, vendor gulung tikar karena tak dibayar, dan pelaksanaan yang minim transparansi serta penuh konflik kepentingan.

Dengan anggaran fantastis sebesar Rp71 triliun, program ini sedianya menjangkau 82,9 juta penerima manfaat hingga akhir tahun. Namun, fakta menunjukkan bahwa anggaran sebesar itu pun hanya cukup hingga pertengahan tahun, menyisakan kekhawatiran akan kelanjutan program. Lebih jauh, pembengkakan anggaran berisiko menambah beban fiskal dan memicu peningkatan pungutan pajak bagi rakyat.

Konsistensi Prabowo dalam menjalankan program ini mengingatkan kita pada pernyataannya dalam pidato Maret 2025: “Anjing menggonggong, kafilah berlalu.” Ia tampak bergeming atas kritik, baik dari pakar gizi, aktivis antikorupsi, hingga masyarakat luas. Tapi, apa jadinya jika kafilah berjalan sambil membawa beban bobrok administrasi, perencanaan yang lemah, dan distribusi yang amburadul?

Kritik terhadap program ini bukan tanpa alasan. Banyak pihak menyoroti bahwa MBG tidak disiapkan dengan saksama. Tidak seperti kebijakan serupa di negara-negara maju seperti Jepang, Finlandia, atau Tiongkok, di mana pelibatan publik dan proses perencanaan berlangsung secara terbuka dan terukur, MBG justru lahir secara top-down. Tidak ada konsultasi publik. Tidak ada koordinasi antarlembaga. Bahkan, pengambilan keputusan tampak semata-mata bertumpu pada kehendak presiden.

Lebih mengkhawatirkan, pelaksanaan MBG mengandung aroma kuat nepotisme dan konflik kepentingan. Investigasi menemukan bahwa sejumlah yayasan mitra Badan Gizi Nasional memiliki kedekatan langsung dengan Presiden Prabowo dan lingkaran politiknya. Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional, misalnya, dikelola oleh tokoh-tokoh dekat Prabowo, termasuk anak dan adiknya. Ada pula Yayasan Prabu Center 08 yang melibatkan staf khusus Menteri Pertahanan, serta Yayasan Bosowa Bina Insani milik keluarga pengusaha dan elite politik.

Kemitraan semacam ini bukan sekadar persoalan etika. Ketika proyek makanan untuk rakyat dikelola oleh orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, maka potensi penyimpangan makin besar. Komisi Pemberantasan Korupsi bahkan menerima laporan bahwa sejumlah mitra MBG menurunkan harga per porsi dari Rp10.000 menjadi Rp8.000 demi keuntungan pribadi, bahkan menyerahkan pekerjaan ke pihak ketiga tanpa kejelasan kualitas. Ini bukan sekadar kelalaian administratif, tetapi bisa masuk ke ranah korupsi sistemik.

Laporan juga menyebutkan adanya makanan basi dan tak layak konsumsi. Di satu sisi, anak-anak dipaksa mengonsumsi makanan seadanya, di sisi lain pihak-pihak yang ditunjuk secara sepihak memanen keuntungan. Jika ini bukan persekongkolan elit, lalu apa?

Jika Prabowo benar-benar ingin mewujudkan visinya tentang gizi anak bangsa, maka jalan pintas bukan jawabannya. Program MBG harus segera dihentikan untuk dievaluasi secara menyeluruh. KPK dan Badan Pemeriksa Keuangan wajib turun tangan. Audit harus dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari perencanaan, distribusi, hingga pencairan anggaran.

Jika hendak dilanjutkan, program ini harus dibangun ulang dari titik nol. Pemerintah perlu menyusun perencanaan dengan matang, melibatkan para ahli, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan tentu saja perwakilan dari masyarakat penerima manfaat. Pendanaan harus dikaji ulang agar tidak menjadi beban fiskal yang mencederai sektor lain. Sebab, tak ada gunanya anak makan gratis di sekolah jika orang tuanya di rumah kehilangan pekerjaan karena industri tumbang akibat anggaran negara yang terserap ke program populis yang ugal-ugalan.

Dalam demokrasi, kebijakan publik seharusnya menjadi ruang partisipasi, bukan alat balas jasa politik. MBG, jika terus dijalankan dalam model saat ini, bukan hanya gagal memenuhi tujuannya, tapi juga bisa menjadi preseden buruk bahwa kekuasaan bisa digunakan untuk memperkaya handai tolan.

Program makan bergizi gratis seharusnya menjadi jembatan menuju masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan kuat. Tapi jika yang terjadi justru pesta anggaran oleh elite dan kroni, maka saatnya rakyat bersuara: hentikan! Jangan biarkan anak-anak kita jadi korban dari ambisi politik yang lapar kekuasaan, tapi miskin perencanaan. (XRQ)

Penulis: Akil

41 Kampus Ditetapkan Jadi Penyelenggara Beasiswa SDM Sawit 2025, 5 di Antaranya Berada di Aceh

0
Ilustrasi Beasiswa. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kabar gembira bagi para pelajar dan lulusan SMA/SMK yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi dengan dukungan pendanaan. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) resmi menetapkan 41 lembaga pendidikan sebagai penyelenggara Program Beasiswa SDM Sawit 2025.

Dikutip Nukilan.id dari surat resmi bernomor Peng-3/DPKS/2025 yang diterbitkan BPDP pada 23 April 2025, proses seleksi lembaga pendidikan ini dilakukan berdasarkan evaluasi proposal yang masuk sejak pengumuman sebelumnya pada 2 Desember 2024.

“Pengumuman ini bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat. Jumlah peserta per Program Studi akan dituangkan dalam Surat Keputusan Direktur Utama BPDP yang disampaikan pada kesempatan pertama atau pembahasan selanjutnya,” jelas Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrahman, dalam surat resmi tersebut.

Dalam penetapan tahun ini, sebanyak 41 lembaga pendidikan dari berbagai wilayah di Indonesia lolos seleksi, dengan total 94 program studi yang ditawarkan. Program ini mencakup jenjang pendidikan mulai dari diploma hingga sarjana.

Khusus untuk Aceh, terdapat lima kampus yang terpilih sebagai mitra penyelenggara, yakni Politeknik Aceh, Politeknik Aceh Selatan, Politeknik Negeri Lhokseumawe, Politeknik Kutaraja, dan Universitas Teuku Umar. Kehadiran lima lembaga ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi generasi muda Aceh dalam industri kelapa sawit berkelanjutan.

Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah lembaga pendidikan tahun ini mengalami peningkatan signifikan. Bila pada 2024 hanya terdapat 23 lembaga, maka pada 2025 meningkat menjadi 41 lembaga. Penambahan ini seiring dengan meningkatnya jumlah penerima beasiswa, dari 3.000 peserta menjadi 4.000 peserta.

Dengan bertambahnya kuota dan penyebaran lembaga pendidikan yang lebih merata, BPDP berharap program ini dapat menjangkau lebih banyak generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan sektor perkebunan kelapa sawit nasional. (XRQ)

Reporter: Akil

DPR Sering Rapat di Hotel, Zico Simanjuntak Gugat UU MD3 ke MK

0
Ilustrasi Gedung Mahkamah Konstitusi, (Foto: Aditia Noviansyah)

NUKILAN.id | Jakarta — Praktik rapat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di luar kompleks parlemen kembali menuai sorotan. Advokat Zico Leonard Djagardo Simanjuntak resmi mengajukan gugatan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap Pasal 229 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3).

Zico mempermasalahkan frasa “semua rapat di DPR” dalam bunyi pasal yang menyebutkan bahwa “semua rapat di DPR wajib dilakukan di Gedung DPR kecuali terdapat keadaan tertentu yang menyebabkan fasilitas di seluruh ruang rapat di gedung DPR tidak dapat digunakan atau berfungsi dengan baik.”

Dikutip dari Tirto, Zico menganggap frasa tersebut membuka celah bagi DPR untuk kerap menggelar rapat di luar gedung parlemen, seperti di hotel atau tempat lain yang dinilai tidak relevan dengan semangat efisiensi dan transparansi.

“Karena DPR sering tidak melakukan meaningful participation yaitu partisipasi yang bermakna dari publik,” kata Zico.

Zico menilai, selama ini DPR lebih sering berperan sebagai stempel pengesahan undang-undang ketimbang menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal. Ia juga khawatir praktik rapat di luar kompleks parlemen justru memperlemah partisipasi publik dalam proses legislasi.

Ia menegaskan, MK perlu memberikan tafsir yang jelas dan mengikat bahwa semua rapat DPR harus digelar di dalam Gedung DPR RI, demi menjaga keterbukaan informasi dan akuntabilitas kepada masyarakat.

Lebih lanjut, Zico juga menyinggung persoalan efisiensi anggaran. Di tengah upaya pemerintah melakukan penghematan belanja negara, DPR justru dianggap memberikan citra buruk dengan tetap menggelar rapat di hotel atau tempat mewah lainnya.

“Saat rakyat disuruh efisiensi, DPR tetap rapat di hotel sekalipun ada gedung dan ruangan memadai. Itu termasuk argumen kedua, tapi pokok utamanya yang di atas,” tambah Zico.

Menanggapi gugatan tersebut, Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mengatakan pihaknya menghargai langkah Zico. Ia menilai, langkah itu merupakan bagian dari hak konstitusional setiap warga negara.

“Ya itu kan hak konstitusi, perkembangannya nanti seperti apa, kita lihat,” kata Cucun saat ditemui di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (23/4/2025).

Gugatan ini menjadi sorotan di tengah kritik publik terhadap kinerja legislatif yang dinilai belum sepenuhnya transparan dan partisipatif. Putusan MK nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian hukum mengenai lokasi penyelenggaraan rapat-rapat DPR serta menjawab kegelisahan masyarakat soal akuntabilitas wakil rakyat mereka.

Editor: AKil

Semangat Kartini di Tanah Rencong: Perempuan Aceh Menembus Sekat Patriarki

0
Foto bersama Staf Flower Aceh bersama kelompok perempuan di komunitas, perwakilan unsur pemerintah terkait dan LSM dalam memperingati Hari Kartini pada 21 April 2025 di Banda Aceh dan Aceh Utara. (Foto/ist).

NUKILAN.id | Banda Aceh – Perempuan Aceh kian mantap melangkah di ruang-ruang publik, menantang batasan tradisi yang selama ini dikendalikan oleh budaya patriarki. Di balik gerakan ini, Flower Aceh telah menjadi motor penggerak yang konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan selama lebih dari tiga dekade.

Sejak didirikan pada 23 September 1989, Flower Aceh menjadi organisasi perempuan pertama yang lahir di tengah situasi konflik di Aceh. Awalnya mereka fokus pada isu lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Namun seiring perjalanan waktu, cakupan gerakan mereka semakin luas: dari pendampingan korban kekerasan hingga pelatihan kepemimpinan perempuan.

“Dulu perempuan tidak terlibat dalam rapat gampong. Sekarang, mereka mulai hadir, bahkan ikut menentukan arah kebijakan desa,” ujar Elvida, Ketua Pengurus Flower Aceh. Menurutnya, perubahan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang pendidikan dan pendampingan di akar rumput.

Saat ini, Flower Aceh mendampingi 175 perempuan dari tujuh kabupaten/kota di Aceh. Mereka tampil sebagai pengambil peran penting di masyarakat: tuha peut, kader kesehatan, kepala urusan desa, penggerak PKK, hingga tokoh adat dan agama.

Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, menjelaskan bahwa pendekatan mereka bersifat menyeluruh—membangun kapasitas, memperkuat kesehatan, dan memperluas jaringan dukungan sosial.

“Ketika perempuan sehat, sadar, dan didukung, mereka mampu menjadi agen perubahan yang kuat,” tegasnya.

Namun, membangun kesadaran kritis tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh proses panjang dan berkelanjutan melalui pengorganisasian, edukasi, serta kolaborasi lintas sektor. Apalagi, budaya patriarki yang masih mengakar menjadikan pelibatan laki-laki sebagai bagian penting dari strategi perubahan.

Dalam konteks Aceh yang kuat dengan nilai keislaman, Flower Aceh juga berupaya membangun dialog konstruktif agar ajaran agama menjadi jembatan, bukan hambatan, bagi keterlibatan perempuan dalam pembangunan.

“Nilai kepemimpinan sejati adalah tentang semangat membawa perubahan dan keadilan,” tambah Riswati.

Ia menekankan bahwa keberadaan perempuan di ruang publik bukanlah ancaman, melainkan energi positif bagi pembangunan yang lebih inklusif.

“Kehadiran perempuan bukan ancaman, tapi kekuatan untuk pembangunan yang lebih adil dan inklusif,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Hendra Lesmana, Koordinator Divisi Kekerasan terhadap Perempuan dan Perempuan Kepala Keluarga (KPP) Flower Aceh. Ia menekankan bahwa perjuangan kesetaraan bukan sekadar isu perempuan, tapi menyangkut keadilan sosial yang harus diperjuangkan oleh semua pihak.

“Keterlibatan laki-laki sangat penting untuk menghapus bias dan stereotip. Tanpa dukungan semua pihak, perjuangan kesetaraan tidak akan berjalan efektif,” kata Hendra.

Momentum Hari Kartini menurutnya menjadi pengingat bahwa perubahan tidak akan hadir jika hanya mengandalkan satu pihak.

“Perjuangan untuk kesetaraan bukan hanya tugas perempuan. Ini tugas kita bersama. Kesetaraan gender bukan berarti perempuan mengambil alih peran laki-laki, tapi berjalan bersama, saling mendukung, dan bertumbuh bersama,” tutupnya.

Hari Kartini di Aceh bukan sekadar perayaan simbolik, tetapi menjadi ruang refleksi atas langkah panjang perempuan yang terus bergerak, menembus sekat-sekat patriarki, dan menorehkan kontribusi dalam berbagai bidang kehidupan—mulai dari tingkat gampong hingga panggung kebijakan.