Beranda blog Halaman 428

Wakil Bupati Aceh Barat Bantu Penyandang Disabilitas Netra dengan Al-Qur’an Braille

0

NUKILAN.id | Meulaboh – Haru menyelimuti kediaman Muhammad, seorang warga tunanetra asal Desa Drien Caleu, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat. Di tengah keterbatasannya, Muhammad menyimpan harapan besar: bisa membaca dan memahami Al-Qur’an seperti umat Muslim lainnya.

Doanya terkabul. Kisah inspiratif Muhammad sampai ke telinga Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil. Tanpa menunggu lama, ia langsung menginstruksikan Dinas Sosial untuk mengambil langkah nyata.

Pada Jumat (9/5/2025), Said Fadheil bersama tim dari Dinas Sosial menyambangi langsung rumah Muhammad. Dalam kunjungan tersebut, mereka menyerahkan satu mushaf Al-Qur’an Braille, serta bantuan tambahan berupa pakaian dan sarung untuk keperluan ibadah.

“Memberikan Al-Qur’an Braille ini bukan sekadar bantuan, tapi sebuah bentuk tanggung jawab dan kepedulian pemerintah kepada masyarakat disabilitas. Kita ingin mereka juga memiliki hak yang sama untuk belajar, bekerja, dan beribadah,” ujar Said.

Said juga menegaskan komitmen Pemerintah Aceh Barat dalam memberikan akses yang inklusif bagi penyandang disabilitas, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, hingga dunia kerja.

Ia berharap, langkah kecil ini bisa menjadi awal bagi gerakan yang lebih besar dalam memberdayakan tunanetra Muslim di wilayahnya.

“Semoga ini menjadi semangat baru bagi Pak Muhammad dan saudara-saudara kita lainnya yang memiliki keterbatasan penglihatan, bahwa mereka tidak sendiri,” tutup Said.

Kejari Aceh Barat Luncurkan Layanan Pengaduan Korupsi Online “APA KABAR”

0

NUKILAN.id | Meulaboh – Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Barat resmi meluncurkan layanan pengaduan tindak pidana korupsi berbasis daring bernama APA KABAR (Aduan Pelayanan Korupsi Aceh Barat), Sabtu (10/5/2025). Inovasi ini dihadirkan sebagai sarana deteksi dini dalam upaya pencegahan korupsi di tengah masyarakat.

“Peluncuran layanan ini sebagai upaya deteksi dini dalam melakukan pencegahan tindak pidana korupsi,” ujar Pelaksana Harian Kepala Kejari Aceh Barat, Ipsaini.

Menurut Ipsaini, keberadaan layanan tersebut akan mempermudah masyarakat dalam menyampaikan laporan yang lebih jelas dan terarah, sekaligus memudahkan aparat penegak hukum dalam melakukan tindak lanjut secara cepat dan tepat.

Ia menambahkan bahwa upaya penegakan hukum semata tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan korupsi, karena dampaknya dapat meluas ke ranah keluarga pelaku.

“Memang selesai dengan negara, tapi dengan keluarga tidak, karena keluarga akan menjadi masalah baru karena ada pimpinan keluarga atau keluarga yang harus dihukum,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Aceh Barat, Taqdirullah, menjelaskan bahwa inisiatif ini berangkat dari pengalaman selama ini, di mana banyak laporan masyarakat tidak disertai informasi yang memadai.

“Selama ini pelaporan ke kami hanya selembar surat pengaduan, tidak jelas objek yang dilaporkan dan tidak tahu bidang pelaporannya,” kata Taqdirullah.

Dengan layanan APA KABAR, setiap laporan harus dilengkapi dengan objek pengaduan, lokasi kejadian, dan identitas pelapor yang nantinya akan dirahasiakan.

“Indentitas pelapor juga akan kami rahasia kan identitas nya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Taqdirullah menegaskan pentingnya data valid dalam setiap laporan agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

“Misalnya, jangan karena tidak harmonis dengan perangkat desa, tidak dilibatkan dalam sesuatu kegiatan di desa, sehingga terjadi pelaporan ke kejaksaan,” katanya.

Setiap laporan yang masuk diharapkan benar-benar mengandung indikasi kuat dugaan korupsi agar langkah pencegahan bisa segera dilakukan sebelum negara mengalami kerugian.

“Sehingga sekecil apa pun kita lakukan pencegahan, maka dapat menyelamatkan keuangan negara dari perbuatan korupsi,” pungkas Taqdirullah.

Wagub Fadhlullah Ajak Alumni Aceh-Malang Berperan Aktif Bangun Daerah

0
Wagub Fadhlullah Ajak Alumni Aceh-Malang Berperan Aktif Bangun Daerah. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, mengajak para alumni Aceh yang pernah menempuh pendidikan di Malang untuk ikut ambil bagian dalam mempercepat pembangunan daerah. Ajakan ini ia sampaikan saat membuka kegiatan Silaturahmi Akbar dan Sarasehan Ikatan Keluarga Alumni Mahasiswa Aceh Malang Raya, yang digelar di Banda Aceh, Sabtu (10/05/2025).

Kegiatan ini mengusung tema “Kontributif Partisipatif: Akselerasi Membangun Aceh.” Menurut Fadhlullah, tema tersebut bukan hanya sekadar slogan. Sebaliknya, ia mencerminkan semangat kolektif para alumni untuk membawa perubahan nyata bagi kampung halaman.

“Tema ini bukan sekadar slogan. Ini adalah semangat kolektif yang mencerminkan tekad kita semua untuk membawa Aceh maju lebih cepat, lebih kuat, dan lebih inklusif,” ujar Fadhlullah.

Tak Hanya Pemerintah, Alumni Punya Peran Strategis

Dalam sambutannya, Fadhlullah menegaskan bahwa pembangunan Aceh bukan hanya tugas pemerintah semata. Ia menyebut, seluruh elemen masyarakat, termasuk para alumni Malang yang kini tersebar di berbagai sektor, turut memikul tanggung jawab moral dan intelektual.

Fadhlullah juga membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Malang. Di sana, ia menyambangi Kampus Universitas Brawijaya dan bertemu langsung dengan mahasiswa asal Aceh.

“Saya baru tahu, alumni Aceh di Malang hebat-hebat semua. Waktu ke sana, saya kunjungi kampus Brawijaya, ada 385 mahasiswa Aceh. Saya juga singgah di asrama-asrama Aceh, dengar langsung keluhan mereka. Maka tahun 2025, kita komitmen renovasi beberapa asrama sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.

Potensi Besar Aceh Belum Tergarap Maksimal

Lebih lanjut, Fadhlullah menyoroti potensi besar Aceh yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Ia menyebut komoditas unggulan seperti kopi Gayo, nilam, dan pala, serta kekayaan alam lain seperti cadangan gas di Blok Andaman.

Tak hanya itu, sektor pariwisata dan kelautan juga dinilai sangat potensial. Namun hingga kini, banyak peluang yang belum digarap serius.

“Aceh punya laut seluas 58 ribu kilometer persegi, dan Sabang adalah salah satu kawasan paling strategis. Negara seperti Singapura yang penuh sesak sudah melirik pelabuhan alternatif, salah satunya Aceh. Tapi kenapa kita belum bisa manfaatkan semua ini?” tanya Fadhlullah.

Peluang Geopolitik dan Energi Nasional

Fadhlullah juga menekankan pentingnya posisi strategis Aceh dalam konteks geopolitik nasional. Ia menyebut kehadiran investor besar seperti Mubadala dan cadangan gas besar sebagai peluang emas bagi masa depan Aceh.

“Bayangkan, Aceh yang berada di ujung barat Indonesia, dilintasi jalur laut dan udara internasional, punya posisi geopolitik yang sangat penting. Presiden juga telah menetapkan Aceh sebagai daerah pertahanan Indonesia di barat. Pangkogabwilhan mungkin akan ditempatkan di sini,” tambahnya.

Ia juga menyinggung pentingnya sinergi antara eksekutif dan legislatif dalam mendorong pembangunan yang adil. Menurutnya, salah satu akar konflik masa lalu adalah ketimpangan sosial yang belum tertangani secara serius.

“Kami bertekad membawa Aceh keluar dari status sebagai daerah miskin. Ini tekad dan misi kami bersama. Aceh tidak boleh lagi tertinggal,” tegasnya.

Alumni Harus Jadi Motor Perubahan

Di hadapan ratusan alumni, Fadhlullah mengajak mereka untuk menyatukan visi dan misi. Ia mendorong agar alumni tidak hanya menjadi pengamat, melainkan aktor utama dalam perubahan.

“Mari kita satukan visi dan misi untuk mewujudkan Aceh yang maju. Kita bangun jaringan, kita siapkan strategi. Karena di tangan kita semua, para alumni, profesional, dan pemimpin masa depan, masa depan Aceh ditentukan,” kata Fadhlullah.

Konsolidasi Alumni untuk Perubahan Nyata

Ketua Panitia, Jimmy Zikria, menyebut acara ini sebagai momentum penting. Tujuannya adalah menyatukan kembali para alumni dari berbagai kampus di Malang dan memperkuat peran mereka dalam pembangunan.

“Sekitar 500 alumni tersebar di Aceh dan luar negeri. Mereka adalah profesional di berbagai bidang dan dipercaya menduduki posisi strategis. Kami yakin, kontribusi alumni mampu mempercepat pembangunan Aceh,” ujarnya.

Sarasehan ini juga menghadirkan sejumlah tokoh penting sebagai narasumber. Di antaranya, Anggota DPR RI Komisi III Nasir Jamil, Guru Besar Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Prof. Muhammad Sidiq Armia, dan Guru Besar Ekonomi Unsyiah Prof. Mukhlis Yunus.

Bangun Solidaritas, Perkuat Kolaborasi

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Mahasiswa Aceh Malang, Erwandi, mengajak seluruh alumni untuk menjadikan organisasi ini sebagai wadah kolaborasi. Ia menilai, semangat perjuangan semasa kuliah di Malang harus dihidupkan kembali melalui aksi nyata.

“Malang menyimpan banyak kenangan perjuangan. Hari ini, kita bawa semangat itu untuk berkontribusi membangun kampung halaman. Kita semua punya kapasitas dan keahlian, mari kita tunjukkan kontribusi terbaik melalui ikatan alumni ini,” ujarnya.

Acara ini pun diharapkan menjadi ruang sinergi antara ide dan tindakan, antara pengalaman dan solusi. Pemerintah Aceh menyambut baik dukungan alumni dan melihat mereka sebagai mitra strategis dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Editor: Akil

Rayakan Hari Bumi, FH USK Bersihkan Pantai Alue Naga dan Tanam 500 Bibit Pohon

0
FH USK Bersihkan Pantai Alue Naga dan Tanam 500 Bibit Pohon Bersama BPN. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) menggandeng Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) Aceh serta Kementerian Kehutanan untuk memperingati Hari Bumi dan Hari Lingkungan Hidup. Kegiatan bertema “Hijau Bumiku, Lestari Alamku” dipusatkan di Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala. Selain membersihkan bibir pantai, tim menanam dan membagikan 500 bibit pohon.

Wakil Dekan I FH USK, Prof. Dr. Efendi. S.H., M.Si, hadir dan membuka acara. Ia menegaskan pentingnya sinergi semua pihak, termasuk masyarakat pesisir, dalam menjaga ekosistem.

“Melalui kegiatan pengabdian ini, kami ingin hadir secara langsung di tengah masyarakat untuk berbagi pengetahuan, sekaligus membangun kesadaran hukum yang kuat terhadap isu lingkungan hidup,” ujar beliau.

“Para dosen yang berpartisipasi tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menunjukkan bahwa profesi akademisi memiliki tanggung jawab sosial yang nyata. Kegiatan ini membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi sarana efektif untuk menggerakkan perubahan positif, terutama dalam isu lingkungan yang semakin mendesak” pungkasnya.

Di sela kegiatan bersih pantai, dosen dan mahasiswa FH USK menggelar penyuluhan hukum pertanahan. Mereka mengundang petugas Kanwil BPN Aceh untuk menjelaskan status kepemilikan lahan pesisir. Sementara itu, Kementerian Kehutanan memberi panduan praktis tentang rehabilitasi mangrove.

Ketua pelaksana, Basri Effendi, S.H., M.Kn., M.H, memaparkan hasil kegiatan dalam laporannya. Ia mencatat 500 kantong sampah terkumpul dan seluruh bibit tertanam di lahan kritis Alue Naga.

“Kita berharap kegiatan ini bisa terselenggara setiap tahun sebagai bentuk perwujudan kampus berdampak yang dicanangkan oleh kemendiktisaintek” Tutup Basri.

Dengan demikian, FH USK berharap kolaborasi serupa dapat memicu gerakan lokal yang berkelanjutan. Lebih jauh, inisiatif ini juga mempererat hubungan kampus dengan masyarakat pesisir Kota Banda Aceh.

Editor: Akil

Mengenang Rosihan Anwar, Jurnalis Penjaga Ingatan Sejarah Indonesia

0
mengenang Rosihan Anwar
Rosihan Anwar, Tokoh Pers Indonesia. (Foto: tinjauindonesia.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Hari ini, 10 Mei, menandai hari kelahiran salah satu tokoh pers dan kebudayaan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, ialah H. Rosihan Anwar. Lahir pada 10 Mei 1922 di Kubang Nan Dua, Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Rosihan Anwar dikenang bukan hanya sebagai jurnalis ulung, tapi juga sebagai sejarawan, budayawan, dan sastrawan yang tekun menjaga denyut nalar kritis bangsa melalui tulisan.

Dilansir dari Kompas, Rosihan wafat pada 14 April 2011 di Jakarta dalam usia 88 tahun. Ia meninggalkan jejak panjang sebagai saksi hidup sejarah Republik ini, mulai dari masa pendudukan Jepang hingga era reformasi. Kompas menyebutnya sebagai salah satu jurnalis paling berpengaruh di Indonesia, dengan warisan tulisan yang tersebar di berbagai media dan buku-buku penting.

Dari Asia Raya ke Pedoman: Pilar Demokrasi

Karier jurnalistik Rosihan dimulai saat masa pendudukan Jepang, ketika ia bergabung dengan harian Asia Raya. Dilansir Nukilan.id dari buku Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia, ia menuturkan perjalanannya mendirikan surat kabar Pedoman pada 1948, yang kemudian menjadi salah satu corong demokrasi paling vokal sebelum akhirnya dibredel oleh pemerintahan Orde Lama pada 1961.

Tak hanya memimpin redaksi, Rosihan juga aktif menulis kolom di media seperti Kompas dan The Jakarta Post, menjadikannya suara yang konsisten dalam membela nilai-nilai kebebasan pers dan demokrasi.

Pena yang Mengarsip Sejarah

Selain sebagai jurnalis, Rosihan dikenal sebagai penulis yang produktif. Beberapa karyanya menjadi rujukan penting dalam memahami dinamika sejarah Indonesia. Di antaranya:

  • Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia (2004), yang merekam kisah-kisah pinggiran sejarah nasional.

  • Memimpin Indonesia: Dari Soekarno sampai SBY (2007), potret pemimpin bangsa dalam berbagai era.

  • Napak Tilas ke Belanda: 60 Tahun Perjalanan Wartawan KMB 1949 (2009), memoar perjalanannya meliput Konferensi Meja Bundar (Anwar, 2009, hlm. 5).

Melalui karya-karya ini, Rosihan tak hanya menyampaikan fakta sejarah, tapi juga menyuarakan refleksi kritis atas perjalanan bangsa.

Saksi Mata Republik

Nama Rosihan Anwar tercatat dalam sejarah sebagai salah satu wartawan yang meliput langsung peristiwa Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 di Den Haag, Belanda — sebuah tonggak diplomasi yang menandai pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Ia juga menjadi saksi banyak peristiwa besar, dari proklamasi kemerdekaan hingga masa transisi kekuasaan nasional (Anwar, 2009, hlm. 45).

Selain dunia jurnalistik, Rosihan aktif dalam dunia kebudayaan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), membuktikan bahwa komitmennya terhadap kehidupan intelektual dan seni budaya Indonesia tak kalah besar dari dedikasinya terhadap dunia pers (Tempo, 2011).

Warisan Tak Tergantikan

Di tengah derasnya arus informasi hari ini, sosok Rosihan Anwar tetap relevan. Ia mewakili generasi wartawan yang bukan hanya menulis berita, tapi juga merawat nurani bangsa. Dalam setiap karyanya, Rosihan mengajarkan bahwa menulis adalah bagian dari tanggung jawab sejarah.

Mengutip sebuah catatannya: “Jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tapi perlawanan terhadap lupa.” (XRQ)

Reporter: Akil

Sejarah Hari Lupus Sedunia 10 Mei

0
Hari lupus sedunia. (Foto: SerayuNews.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Setiap 10 Mei, dunia memperingati Hari Lupus Sedunia (World Lupus Day). Peringatan ini tidak sekadar simbolik. Ia menjadi seruan global untuk menyadarkan masyarakat terhadap lupus—penyakit autoimun kronis yang hingga kini masih menjadi teka-teki medis dan menyita perhatian komunitas ilmiah.

Dikutip Nukilan.id dari data World Lupus Federation (2023), jutaan orang di dunia hidup dengan lupus. Banyak dari mereka yang menjalani tahun-tahun pertama dengan diagnosa keliru, atau bahkan tidak tahu bahwa tubuh mereka sedang diserang oleh sistem imun mereka sendiri.

Apa Itu Lupus?

Lupus, atau lebih tepatnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE), adalah penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, bukan virus atau bakteri asing. Serangan ini memicu peradangan di berbagai organ, mulai dari kulit, sendi, ginjal, hingga otak (Tsokos, 2011).

Penyakit ini tidak mudah dikenali. Gejalanya bisa menyerupai banyak kondisi lain, dari kelelahan biasa hingga nyeri sendi. Karena sifatnya yang sangat bervariasi, lupus dijuluki sebagai penyakit seribu wajah.

Gejala yang Tak Selalu Disadari

Beberapa gejala lupus yang umum antara lain ruam malar berbentuk kupu-kupu di wajah, artritis simetris, fotosensitivitas, kerusakan ginjal, dan kelelahan ekstrem. Data menunjukkan bahwa 40–60 persen pasien mengalami nefritis lupus (Bertsias et al., 2012), dan lebih dari 90 persen mengeluhkan kelelahan yang mengganggu aktivitas harian (Strand et al., 2019).

Namun, banyak pasien baru mendapatkan diagnosis setelah organ vital mereka sudah terdampak. Global Lupus Trust (2023) mencatat, separuh pasien mengalami kerusakan organ permanen akibat keterlambatan diagnosis.

“Deteksi dini sangat krusial,” tulis American College of Rheumatology (ACR) dalam panduan klinisnya tahun 2020. Pemeriksaan antibodi antinuklear (ANA) dan anti-dsDNA disebut sebagai standar diagnosis lupus.

Dari Genetika hingga Sinar Matahari

Penyebab lupus tidak tunggal. Peneliti menyebut adanya campur tangan faktor genetik, lingkungan, hormon, hingga obat-obatan.

Risiko lupus meningkat hingga sepuluh kali lipat jika seseorang memiliki kerabat tingkat pertama yang juga mengidap penyakit ini (Harley et al., 2008). Variasi genetik seperti HLA-DR2 dan DR3 serta defisiensi protein komplemen (C1q, C4) juga berkaitan erat dengan penyakit ini (Tsokos, 2011).

Sementara dari sisi lingkungan, paparan sinar ultraviolet (UV) dan infeksi virus—terutama Epstein-Barr Virus (EBV)—dapat memicu reaksi autoimun (Rahman & Isenberg, 2008; James et al., 2006).

Menariknya, lupus jauh lebih banyak menyerang perempuan. Perbandingannya mencapai 9:1 dibanding pria. Ini membuat ilmuwan meyakini peran besar hormon estrogen dalam patogenesis lupus (Archer & Chao, 2022).

Beberapa jenis obat seperti procainamide, hidralazin, dan terapi anti-TNFα juga dilaporkan dapat memicu drug-induced lupus, sebuah bentuk lupus yang disebabkan oleh reaksi obat (Rubin, 2020).

Perjuangan yang Belum Usai

Meski belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan lupus, berbagai terapi penunjang terus dikembangkan. Salah satunya adalah belimumab, obat biologis yang menargetkan sel B—salah satu komponen sistem imun yang berperan dalam lupus.

Organisasi seperti Lupus Foundation of America dan World Lupus Federation aktif mendorong pendekatan personalized medicine untuk menangani penyakit ini secara lebih spesifik sesuai profil imunologi pasien (Fanouriakis et al., 2021).

Peringatan Hari Lupus Sedunia bukan hanya peristiwa seremonial. Ia adalah pengingat bahwa di balik data statistik dan istilah ilmiah, terdapat jutaan wajah manusia yang sedang berjuang—dalam senyap—melawan penyakit yang tak mudah dikenali ini. (XRQ)

Reporter: Akil

Aceh Barat Juara TP2DD se-Aceh 2025

0
Aceh Barat Juara TP2DD se-Aceh 2025. (Foto: Humas Aceh Barat)

NUKILAN.id | BANDA ACEH – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat kembali mengukir prestasi membanggakan di tingkat provinsi. Pada ajang Capacity Building dan Workshop Championship TP2DD se-Aceh Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh, Jumat (9/5/2025), Aceh Barat berhasil meraih predikat juara.

Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan Aceh Barat dalam menginput dokumen ke dalam sistem SIP2DD secara lengkap dan tercepat. Kemenangan tersebut sekaligus menjadi bukti nyata keseriusan daerah itu dalam mempercepat digitalisasi transaksi keuangan pemerintah.

QRIS Jadi Andalan, PAD Dipacu

Sekretaris Daerah Aceh Barat, Marhaban, SE, M.Si., yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), menegaskan pentingnya digitalisasi dalam pengelolaan keuangan daerah.

“Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Kami terus mendorong pemanfaatan kanal pembayaran digital seperti QRIS dalam layanan pajak dan retribusi daerah. Ini penting untuk mewujudkan efisiensi, transparansi, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujar Marhaban di hadapan para peserta kegiatan.

Menurutnya, pencapaian ini merupakan hasil sinergi antara Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) dan Bagian Perekonomian Setdakab Aceh Barat. Kedua lembaga ini dinilai aktif dan konsisten dalam proses penginputan serta pelaporan dokumen melalui platform SIP2DD milik Bank Indonesia.

Inovasi dan Kolaborasi Jadi Kunci

Selain menjadi ajang penghargaan, kegiatan yang diinisiasi oleh BI ini juga membuka ruang strategis untuk memperkuat inovasi antar daerah. Di saat yang sama, forum ini mendorong peningkatan kapasitas sumber daya aparatur dalam menghadapi tantangan sistem keuangan yang semakin modern.

“Semoga ini menjadi pemantik semangat bagi Pemkab Aceh Barat untuk terus berinovasi dalam tata kelola keuangan yang lebih baik,” pungkas Marhaban.

Dengan capaian ini, Aceh Barat menunjukkan bahwa digitalisasi keuangan bukan hanya slogan, tetapi telah menjadi budaya kerja yang nyata dan terukur.

Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah Perkuat Pendidikan di Aceh

0
Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah Perkuat Pendidikan di Aceh. (Foto: muhammadiyah.or.id)

NUKILAN.id | Kuala Simpang — Upaya penguatan pendidikan di kawasan timur Aceh kembali mendapat angin segar. Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi membebaskan lahan untuk pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) SD Muhammadiyah Lembah Jaya di Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang.

Kabar ini disampaikan langsung oleh Hizqil Afandi, Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, dalam konferensi pers di Media Centre PWM Aceh, Banda Aceh, Rabu (7/5/2025).

Komitmen Nasional untuk Pendidikan Daerah

Menurut Hizqil, inisiatif pembebasan lahan ini tak lepas dari peran Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, serta Tim Monitoring Penjaminan Mutu Pendidikan yang dipimpin oleh Agus Suroyo. Mereka berkolaborasi dengan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Aceh, Iskandar Muda Hasibuan, yang turut memberikan kontribusi signifikan di lapangan.

Iskandar menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian pimpinan pusat Muhammadiyah terhadap dunia pendidikan di Aceh. Ia mengatakan, “Sebelumnya Pak Didik Suhardi pernah memberikan bantuan alat peraga ke SD Muhammadiyah Lhokseumawe, Sinabang, SMP Muhammadiyah Lhoksukon, Aceh Tamiang, Singkil, Subulussalam, Singkil, dll dan sering mengunjungi sekolah-sekolah di Aceh.”

Menurut Iskandar, langkah ini menjadi motivasi penting bagi para aktivis pendidikan Muhammadiyah di daerah. Ia berharap, perjuangan mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa terus mengarah pada penyelenggaraan pendidikan yang Islami dan bermutu untuk semua kalangan.

Ia menambahkan, “Beliau juga menyampaikan komitmen penuh semua sekolah Muhammadiyah di Aceh untuk meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan yang dikelola Muhammadiyah.”

Rapat Kerja Wilayah Akan Diperluas

Tak berhenti sampai di situ, langkah berikutnya adalah memperkuat struktur kelembagaan. Hizqil mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, pihaknya akan menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang diperluas. Agenda ini akan melibatkan seluruh satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SLB, baik yang berada di bawah naungan Muhammadiyah maupun Aisyiyah.

Rakerwil ini direncanakan akan dihadiri oleh semua Kepala Sekolah Muhammadiyah se-Aceh, para Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen serta PNF di berbagai tingkatan, hingga Koordinator Pendidikan di lingkungan Pimpinan Cabang (PC), Daerah (PDM), dan Wilayah (PWM).

Sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat, acara ini direncanakan akan dibuka oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Editor: Akil

Matahari Kembar dan Bom Waktu Bernama Gibran

0
Jokowi Tanggapi Santai Usulan Purnawirawan TNI yang Minta Gibran Dicopot. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Opini – Ketika Mahkamah Konstitusi memelintir syarat usia calon presiden dan wakil presiden demi membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, publik tahu keputusan itu bukan sekadar produk hukum, melainkan akrobat kekuasaan. Kini, akrobat itu mulai menampakkan risiko politiknya. Forum purnawirawan TNI, terdiri dari ratusan jenderal, laksamana, dan marsekal, baru-baru ini menyerukan tuntutan pemakzulan terhadap Gibran. Ini bukan suara sumbang yang datang tiba-tiba, melainkan akumulasi kegelisahan yang telah lama membusuk di bawah permukaan.

Tuntutan tersebut mungkin terlihat prematur, bahkan terlalu politis. Namun, seperti pepatah, tak ada asap tanpa api. Kekhawatiran para pensiunan perwira tinggi itu—termasuk mantan Wakil Presiden Try Sutrisno—berangkat dari satu pertanyaan besar: apa jadinya negara ini jika presiden terpilih Prabowo Subianto yang telah berusia 73 tahun mengalami halangan tetap, dan kekuasaan penuh jatuh ke tangan seorang wakil presiden berusia 37 tahun yang naik lewat “jalan belakang”?

Gibran dan Legitimasi yang Terluka

Naiknya Gibran ke kursi wakil presiden sejak awal tidak pernah lepas dari kontroversi. Berkat putusan MK yang diketuai oleh iparnya sendiri, Gibran berhasil mencalonkan diri meski belum memenuhi usia minimal 40 tahun. Ini mencederai rasa keadilan publik, mengoyak konstitusi, dan meninggalkan luka dalam sistem ketatanegaraan kita. Kemenangan pasangan Prabowo-Gibran pun, meski sah secara administratif, terus dihantui narasi bahwa Gibran adalah “anak haram konstitusi”.

Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan emosional. Ia mencerminkan krisis legitimasi yang akan terus membayangi jalannya pemerintahan mendatang. Seperti kutukan, status politik Gibran akan menjadi beban permanen, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Presiden Prabowo. Gibran akan terus menjadi sasaran kritik, dan Prabowo, pada titik tertentu, tak bisa mengelak dari pertanggungjawaban politik atas pilihannya menggandeng Gibran.

Prabowo dan Bayang-Bayang Jokowi

Prabowo sendiri tidak bisa lepas tangan. Dia yang membuka pintu bagi Gibran demi meraih dukungan Jokowi, kini harus menghadapi konsekuensinya: sebuah pemerintahan dengan dua matahari. Prabowo boleh jadi presiden, tapi bayang-bayang Jokowi belum juga pudar. Dan Gibran, sebagai anak Jokowi, dianggap sebagai kepanjangan tangan sang ayah di tubuh pemerintahan baru.

Tuntutan purnawirawan TNI mempermasalahkan bukan hanya Gibran, tapi juga proyek-proyek strategis nasional warisan Jokowi, termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Mereka menuntut agar PSN dievaluasi, bahkan dihentikan. Ini menunjukkan bahwa serangan terhadap Gibran adalah bagian dari kritik yang lebih luas terhadap dominasi Jokowi di era Prabowo.

Ada aroma tawar-menawar di sini. Seolah-olah Prabowo sedang mengizinkan kelompok-kelompok tertentu “menyerang” Jokowi lewat Gibran, sebagai bagian dari upaya memotong pengaruh politik sang mantan presiden. Politik balas budi telah berubah menjadi politik balas dendam.

Manuver Gibran dan Ketidaknyamanan Istana

Situasi makin rumit ketika Gibran mulai bergerak sendiri. Program “Lapor Mas Wapres” dan pembagian bantuan pendidikan tanpa koordinasi dengan presiden menambah kecurigaan bahwa Gibran tengah membangun panggungnya sendiri. Ini menjadi alarm bagi Prabowo dan lingkaran istana. Konon, Prabowo tak nyaman dengan ambisi Gibran yang dinilai terlalu dini menyiapkan langkah menuju 2029.

Beberapa menteri bahkan telah diminta untuk tidak menghadiri undangan Gibran. Istana menyarankan agar Gibran tak memanggil pejabat tanpa seizin presiden. Ini adalah sinyal jelas bahwa matahari kembar di tubuh kekuasaan mulai saling membakar.

Politik sebagai Seni Memanfaatkan

Seperti biasa, para politisi mencium peluang. Di satu sisi, mereka menolak gagasan pemakzulan—terlalu ekstrem, terlalu awal. Namun di sisi lain, mereka menebar sinyal ketidaksukaan terhadap Gibran. Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, menyatakan partainya mendukung Prabowo tapi bukan Gibran. Pernyataan ini tak bisa dianggap angin lalu. Ini adalah umpan politik yang bisa menjadi bola liar dalam empat tahun ke depan.

Para purnawirawan sendiri, meski mengusung agenda pemakzulan, juga punya kepentingan politik jangka panjang. Usulan mereka untuk mengembalikan UUD ke naskah asli sebelum amandemen sejalan dengan wacana politik Prabowo. Artinya, pemakzulan ini bukan sekadar upaya membersihkan pemerintahan, tetapi juga bagian dari upaya membentuk ulang wajah konstitusi Indonesia.

Demokrasi yang Luka

Sayangnya, semua ini menunjukkan satu hal: demokrasi kita masih rapuh. Politik Indonesia saat ini tak ubahnya ajang saling tikung dan saling sandera. Gibran hanya simbol dari kerusakan yang lebih dalam—kerusakan pada institusi hukum, pada sistem rekrutmen pemimpin, dan pada etika kekuasaan.

Tuntutan pemakzulan Gibran bisa berakhir dalam lobi-lobi gelap, atau malah dibuang ke tong sampah sejarah. Tapi yang jelas, publik kembali dibiarkan duduk di kursi penonton, menyaksikan elite bersiasat demi kepentingan mereka masing-masing. Kita telah jauh melenceng dari cita-cita para pendiri bangsa. Demokrasi tidak lagi menjadi alat mencapai kesejahteraan rakyat, melainkan sekadar panggung tawar-menawar kuasa.

Dan bom waktu itu kini berdetak. Kita hanya tinggal menunggu kapan meledak.

Penulis: Akil

Dirjen Dikti Sosialisasikan Program “Kampus Berdampak” di Forum Rektor Aceh

0
Dirjen Dikti Sosialisasikan Program “Kampus Berdampak” di Forum Rektor Aceh. (Foto: HUMAS USK)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dirjen Dikti) Prof Khairul Munadi menyosialisasikan program nasional “Kampus Berdampak” dalam Rapat Koordinasi Forum Rektor Aceh (FRA) yang digelar di Universitas Syiah Kuala (USK), Darussalam, Jumat (9/5).

Program ini, menurut Khairul, merupakan langkah strategis yang bertujuan mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan masyarakat dan daerah.

“Kampus Berdampak dirancang sebagai langkah strategis untuk mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan masyarakat dan daerah,” kata Prof Khairul di Darussalam, Banda Aceh.

Lebih dari Sekadar Akademik

Dalam pemaparannya, Prof Khairul menegaskan bahwa perguruan tinggi seharusnya tidak hanya fokus pada pengajaran dan penelitian. Ia ingin kampus menjadi motor perubahan sosial di tengah masyarakat.

“Kampus Berdampak ingin mengajak perguruan tinggi melangkah lebih jauh. Tidak hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan yang fokus pada pengajaran dan penelitian, tetapi sebagai agen perubahan sosial yang hadir di tengah masyarakat,” tambahnya.

Dengan demikian, program ini mendorong kolaborasi lebih erat antara kampus dan mitra eksternal—termasuk pemerintah, dunia usaha, serta komunitas masyarakat.

Dukungan dari Para Rektor

Ketua Forum Rektor Aceh, Prof Herman Fithra, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk mempercepat pembangunan di Aceh.

“Kami sangat mendukung program ini dan berkomitmen untuk mengintegrasikan prinsip-prinsipnya ke dalam program kerja kampus, khususnya dalam memberdayakan mahasiswa agar lebih aktif terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Rektor USK, Prof Marwan, menekankan pentingnya keselarasan antara program kampus dengan kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki sumber daya yang sangat potensial untuk menjadi aktor perubahan.

“Kampus harus mampu menjawab tantangan yang ada di tengah masyarakat. Program pengabdian harus dirancang berdasarkan data dan hasil riset yang valid, serta melibatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan dunia usaha,” jelas Prof Marwan.

Meski demikian, Prof Marwan juga menggarisbawahi berbagai dinamika lokal yang dapat memengaruhi implementasi program tersebut. Ia menyinggung soal perubahan kepemimpinan daerah, otonomi daerah, serta kondisi sosial-ekonomi mahasiswa yang perlu mendapat perhatian khusus.

Ia menambahkan bahwa dukungan dari pemerintah daerah sangat krusial, terutama dalam menjamin keberlanjutan pendidikan dan membantu mahasiswa kurang mampu.

Rektor se-Aceh Hadiri FRA

Pertemuan Forum Rektor Aceh ini turut dihadiri oleh para pimpinan perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Aceh. Hadir di antaranya Rektor Universitas Teuku Umar, Rektor Universitas Samudra, Rektor ISBI Aceh, serta para rektor IAIN dari Lhokseumawe, Langsa, dan Takengon, termasuk Ketua STAIN Tengku Dirundeng Meulaboh.

Melalui program Kampus Berdampak, pemerintah berharap akan lahir lebih banyak inovasi sosial dan teknologi dari kampus-kampus di seluruh Aceh. Inovasi tersebut diharapkan mampu berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Editor: AKil