Beranda blog Halaman 427

20 Gempa Terbesar dalam Sejarah Aceh

0
20 Gempa Terbesar
Ilustrasi Gempa. (Foto: Antara)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Guncangan gempa kembali mengguncang wilayah barat Aceh. Kali ini, gempa tektonik berkekuatan 6,2 magnitudo mengguncang Kabupaten Aceh Barat Daya pada Minggu (11/5/2025) pukul 15.57 WIB.

Berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pusat gempa berada di laut, sekitar 21 kilometer barat daya Blangpidie. Gempa yang terjadi di kedalaman 45 kilometer ini juga berjarak sekitar 60 km barat laut Kabupaten Aceh Selatan dan 64 km barat daya Gayo Lues.

Guncangan terasa cukup kuat selama 10 hingga 15 detik, terutama di wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya. Sementara itu, getaran dirasakan lebih lemah di Kabupaten Aceh Selatan. Warga sempat panik dan berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi.

Meski begitu, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Laporan sementara menyebutkan bahwa tiga rumah mengalami rusak ringan di Kecamatan Manggeng dan Lembah Sabil. Sementara itu, sepanjang 50 meter ruas jalan di Kecamatan Tangan dilaporkan ambruk.

Peristiwa ini menambah daftar panjang gempa bumi yang pernah mengguncang wilayah Aceh—provinsi yang secara geografis terletak di atas jalur megathrust Sumatra, salah satu zona subduksi paling aktif di dunia.

Aceh, Daerah Rawan Gempa dan Tsunami

Aceh memang bukan wilayah asing bagi gempa besar. Sejarah mencatat, provinsi ini berkali-kali diguncang gempa bumi dengan kekuatan di atas 7 magnitudo.

Salah satu peristiwa paling memilukan terjadi pada 26 Desember 2004. Gempa berkekuatan M9,1 mengguncang Samudra Hindia dan menyebabkan tsunami dahsyat yang menewaskan lebih dari 283 ribu orang di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.

“Korban meninggal 283.100 orang, 14.000 orang dinyatakan hilang, dan 1.126.500 orang terpaksa mengungsi,” demikian catatan resmi terkait gempa dan tsunami 2004.

Gempa tersebut terjadi akibat retakan sepanjang 1.300 kilometer di zona megathrust. Retakan ini menyebabkan dasar laut terangkat lebih dari 20 meter. Akibatnya, gelombang tsunami setinggi 30 meter melaju dengan kecepatan 360 kilometer per jam menyapu daratan.

Peristiwa itu menjadi gempa paling kuat di Asia dan bencana alam terburuk di abad ke-21.

20 Gempa Terbesar dalam Sejarah Aceh

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Nukilan.id merangkum 20 gempa bumi paling mematikan yang pernah mengguncang Aceh, masing-masing dengan kekuatan di atas 6,4 magnitudo:

No Tanggal Kekuatan (M) Keterangan
1 4 Januari 1907 7,8
2 24 Agustus 1936 7,3 Korban meninggal 9 orang, luka 20 orang, bangunan rusak berat
3 4 April 1983 6,8 Tembok sekolah roboh, bangunan rusak berat
4 21 November 1969 7,6
5 26 Desember 2004 9,1 “Korban meninggal 283.100 orang, 14.000 orang dinyatakan hilang, 1.126.500 terpaksa mengungsi.”
6 26 Februari 2005 6,8
7 20 Februari 2005 7,3 “Korban meninggal 3 orang, 25 orang luka serius.”
8 20 Maret 2005 8,6
9 20 Februari 2008 7,3 “Korban meninggal 3 orang.”
10 2 November 2002 7,4
11 13 Juni 2010 7,5 “Dilaporkan tidak ada korban jiwa.”
12 9 Mei 2010 7,2 “Korban luka 7 orang, bangunan rusak berat.”
13 7 April 2010 7,6 “Korban luka 5 orang, bangunan rusak berat.”
14 13 Juni 2010 7,5 “Dilaporkan tidak ada korban jiwa.”
15 6 September 2011 6,7 “Korban meninggal 3 orang, bangunan rusak berat.”
16 25 Juli 2012 6,4 “Korban meninggal 1 orang, bangunan rusak berat.”
17 11 April 2012 8,4 “Korban meninggal 5 orang, bangunan rusak berat.”
18 7 Desember 2016 6,4 “Korban meninggal 104 orang, korban luka 857 orang, sebanyak 45.000 orang mengungsi.”
19 7 Januari 2020 6,4 “Bangunan rusak.”
20 20 Juli 2013 6,1 “Korban meninggal 39 orang, korban luka 420 orang.”

Catatan: Gempa Kecil, Dampak Besar

Catatan khusus diberikan pada gempa tahun 2013. Meskipun kekuatannya “hanya” 6,1 magnitudo, gempa ini menelan korban jiwa sebanyak 39 orang. Selain itu, sebanyak 420 orang luka-luka.

Hal ini menjadi pengingat bahwa bukan hanya kekuatan gempa yang menentukan tingkat kerusakan dan korban jiwa. Kedalaman, lokasi pusat gempa, dan kepadatan penduduk juga memegang peranan besar.

Serangkaian gempa besar yang pernah mengguncang Aceh menegaskan pentingnya edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan warga. Masyarakat Aceh diharapkan semakin sadar akan potensi gempa dan tsunami, mengingat daerah ini termasuk zona merah aktivitas seismik di Indonesia. (XRQ)

Reporter: Akil

Tiga Rumah Warga Aceh Selatan Rusak Akibat Gempa M 6,2 di Blangpidie

0
Ilustrasi Gempa Bumi. (Foto: Freepik)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Getaran gempa bumi magnitudo 6,2 yang mengguncang wilayah Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), juga berdampak hingga ke Kabupaten Aceh Selatan. Akibatnya, tiga unit rumah milik warga mengalami kerusakan.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) yang diterima oleh Nukilan.id, rumah yang terdampak berada di dua kecamatan berbeda. Dua rumah masing-masing milik Zulfa dan Jufri berada di Desa Kuta Baro, Kecamatan Sawang. Sementara satu rumah lainnya milik Arif Rahman terletak di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Kluet Tengah.

“Mengalami rusak ringan, di rumah Zulfa terdapat 2 KK/8 Jiwa, dan Jufri 1 KK/ 6 Jiwa, serta Arif Rahman 1 KK,” kata Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Nara Setia.

Meski rumah mengalami kerusakan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban jiwa ataupun warga yang mengungsi. Menurut Teuku Nara, tim dari BPBD Kabupaten Aceh Selatan telah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pengecekan langsung.

“Kondisi rumah sedang dalam pembersihan oleh tim. Kami meminta kepada warga untuk tetap waspada dan berhati-hati,” tambahnya.

Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 6,2 terjadi pada Minggu (11/5/2025) pukul 15.57 WIB. Guncangan tersebut dirasakan di sejumlah wilayah Aceh, bahkan hingga ke sebagian wilayah Sumatera Utara. Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

BMKG mencatat, episenter gempa berada di laut, sekitar 23 kilometer barat daya Blangpidie, dengan kedalaman 83 kilometer.

“Gempa ini merupakan jenis gempa menengah yang terjadi akibat aktivitas deformasi batuan dalam lempeng (intraslab), dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault,”
jelas Daryono, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, dalam keterangannya, Minggu sore.

Meski dampaknya tergolong ringan, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap siaga. Aktivitas pembersihan rumah yang terdampak kini tengah dilakukan, sembari tim terus memantau perkembangan di lapangan. (xrq)

Reporter: Akil

PT PEMA Komersialisasikan Kredit Karbon di Aceh

0
PT PEMA Komersialisasikan Kredit Karbon di Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh — PT Pembangunan Aceh (PT PEMA) resmi mengumumkan langkah strategis untuk mengkomersialisasikan potensi kredit karbon dari kawasan hutan dan lahan kritis di Aceh. Melalui pendekatan berbasis Nature-Based Solutions (NBS), proyek ini menargetkan lebih dari 100.000 hektare lahan di Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Timur.

Sebagai catatan, NBS adalah metode perlindungan dan pengelolaan ekosistem alam secara berkelanjutan, yang tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Aceh dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berbasis restorasi lingkungan. Selain itu, proyek ini juga membuka jalan baru dalam monetisasi jasa ekosistem.

Kolaborasi dengan Sagint Hadirkan Teknologi Real-Time

Untuk mendukung validitas dan transparansi proyek, PT PEMA menggandeng Sagint, sebuah perusahaan teknologi asal Arab Saudi dan Amerika Serikat. Sagint akan menyediakan infrastruktur digital yang memungkinkan validasi, registrasi, serta monitoring stok karbon secara real-time.

Dengan pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI), data geospasial, dan uji biomassa di lapangan, proyek ini memenuhi standar internasional dalam pengukuran dan pelaporan karbon, atau yang dikenal sebagai MRV (Measurement, Reporting, and Verification).

Transformasi Tata Kelola Hutan Berbasis Masyarakat

Menurut Direktur Komersial PT PEMA, Faisal Ilyas, proyek ini bukan semata-mata soal nilai ekonomi karbon, melainkan juga menyentuh aspek sosial dan tata kelola lingkungan.

“Kami percaya, potensi karbon Aceh harus dikelola oleh orang Aceh sendiri dengan standar global. Kami ingin menjadikan hutan sebagai aset strategis yang menghasilkan nilai ekonomi tanpa menebang satu pohon pun,” ujar Faisal Ilyas.

Saat ini, PEMA tengah menyelesaikan proses pemetaan legal dan sosial terhadap lahan-lahan yang potensial. Pendekatan ini mencakup hutan adat, hutan desa, hutan lindung, hingga lahan gambut.

Menariknya, proses ini melibatkan akademisi, LSM lingkungan, dan komunitas lokal. Pendekatan transdisipliner seperti ini dinilai mampu menciptakan legitimasi sosial yang kuat dalam pengelolaan karbon.

Potensi Ekonomi Mencapai Ratusan Juta Dolar

Berdasarkan skenario konservatif, lahan yang disasar diperkirakan mampu menyerap rata-rata 10 ton CO₂ per hektare per tahun. Dengan demikian, proyek ini berpotensi menghasilkan lebih dari 1 juta ton CO₂e setiap tahunnya.

Jika mengacu pada harga karbon global saat ini, yakni antara USD 10 hingga USD 20 per ton, maka nilai ekonomi proyek ini dapat mencapai USD 100 juta hingga 200 juta per tahun dalam beberapa tahun mendatang.

Aceh Menuju Ekonomi Hijau Berbasis Bukti Ilmiah

Proyek kredit karbon ini menjadi simbol arah baru pembangunan ekonomi di Aceh. Tidak lagi bergantung pada ekstraksi sumber daya alam secara konvensional, melainkan pada model pembangunan berkelanjutan dan ilmiah.

Pemerintah Aceh pun menyambut baik langkah ini. Sebab, proyek ini dinilai mampu menjawab tantangan krisis iklim sekaligus memperkuat posisi Aceh dalam peta transisi energi nasional.

Ketum Asprindo: Evaluasi Kebijakan Fiskal Jadi Kunci Perbaikan Ekonomi

0
Ketum Asprindo
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Jose Rizal. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Jakarta – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Jose Rizal, menyoroti arah kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai kurang tepat sasaran. Dalam keterangan persnya pada Minggu (11/5/2025), ia menyatakan bahwa strategi pemangkasan anggaran kementerian serta peningkatan target pendapatan pajak justru berisiko memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kebijakan ini mungkin memang memberi sedikit tambahan keleluasaan ruang fiskal, mengatasi defisit anggaran; tapi pemerintah lupa bahwa kebijakan ini memiliki dampak multiplier,” terang Jose.

Belanja Pemerintah Melemah, Industri Ikut Terseret

Jose menjelaskan bahwa pemotongan anggaran kementerian berimbas langsung pada melemahnya belanja pemerintah, yang selama ini menjadi penggerak utama bagi sejumlah sektor usaha.

“Dengan pemangkasan anggaran kementerian, belanja pemerintah yang selama ini banyak menghidupi industri perhotelan, industri makanan dan industri pendukung lainnya, menjadi kolaps,” jelasnya.

Ia juga menyoroti potensi penurunan kinerja aparatur sipil negara (ASN) akibat terbatasnya dana operasional program kerja kementerian.

“Kinerja ASN pun saya kira akan menurun. Bagaimana mereka menjalankan program, jika tidak tersedia anggaran?” ujarnya.

Dorongan Reformasi Struktural dan Evaluasi Kabinet

Lebih lanjut, Jose menilai bahwa kebijakan fiskal saat ini menjadi salah satu kontributor utama terjadinya perlambatan ekonomi. Sebaliknya, ia mendorong pemerintah untuk mengutamakan reformasi struktural, termasuk pembenahan birokrasi dan pengurangan kebocoran anggaran.

“Kalau ini kan kita melihat ada anomali. Di satu sisi, presiden membuat kabinet menjadi lebih gemuk, tapi di sisi lain anggaran dipotong. Saya bukan ekonom, tapi di pikiran saya logika ini gak nyambung.”

Menurut Jose, langkah pemotongan anggaran seharusnya dilakukan secara realistis dan selektif, bukan menyasar pos yang vital bagi pelayanan publik.

“Jadi bukan malah memotong anggaran. Atau kalaupun ada pemotongan, ya tetap realistis dengan menyisir mata anggaran yang benar-benar dianggap tidak atau kurang efektif,” sambungnya.

UMKM: Pilar Ekonomi yang Terabaikan

Dalam kesempatan yang sama, Jose mengingatkan bahwa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selalu menjadi penyangga ekonomi dalam situasi krisis. Namun sayangnya, perhatian pemerintah terhadap sektor ini dinilainya masih setengah hati.

“Setiap krisis, ekonomi kita terselamatkan oleh UMKM. Perusahaan besar banyak yang gulung tikar, PHK besar-besaran terjadi. Tapi UMKM tetap resilience, mereka punya kemampuan untuk beradaptasi dalam situasi sulit, dan tetap bisa bertahan terhadap gempuran berbagai kesulitan,” tambahnya.

Meski demikian, menurut Jose, program dukungan pemerintah terhadap UMKM masih belum menyentuh akar masalah. Salah satunya adalah sulitnya akses terhadap pembiayaan dari lembaga keuangan.

“Pemerintah, misalnya, sering punya program kredit perbankan untuk UMKM. Tapi di sisi lain, lembaga keuangan punya persyaratan yang sulit dipenuhi oleh pelaku UMKM. Gelontoran kredit kita terbesar tetap pada usaha skala besar. Jadi bagaimana UMKM bisa maju dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas?” ungkap Jose.

Kampung Industri dan Sinergi SDM

Dalam menghadapi tekanan ekonomi global, Jose menyarankan agar pemerintah mengedepankan penguatan jaring pengaman sosial, dengan memberi fokus lebih besar kepada pemberdayaan UMKM.

“Sistem jaring pengaman sosial juga harus diperkuat. Bansos boleh-boleh saja. Tapi insentif ke UMKM jauh lebih bagus. Di Asprindo, kami merancang Kampung Industri dengan ikhtiar memberikan kail, bukan memberikan ikan,” jelas Jose.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sinergi antara pemerintah dan sektor swasta.

“Di luar semua itu, ya kembali mengevaluasi semua kebijakan ekonomi, termasuk kebijakan moneter, bagaimana mencegah inflasi agar kita tidak terperosok lebih dalam. Jika pemerintah tetap mempertahankan kebijakan seperti sekarang, saya kira mustahil mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen,” pungkasnya.

Editor: Akil

Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Blangpidie, Terasa hingga Medan dan Banda Aceh

0
Gempa Magnitudo
Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Blangpidie, (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.id | Blangpidie — Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,2 mengguncang wilayah barat daya Aceh pada Minggu (11/5/2025) pukul 15.57 WIB.

Dilansir Nukilan.id dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut, sekitar 21 kilometer barat daya Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya. Gempa terjadi pada kedalaman 45 kilometer dengan koordinat 3,67 Lintang Utara dan 96,86 Bujur Timur.

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Guncangan gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah, antara lain Aceh Selatan, Banda Aceh, Lhokseumawe, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tamiang, Medan (Sumatera Utara), hingga Nias Selatan.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG melalui kanal-kanal resminya. (XRQ)

Reporter: AKil

Delegasi Banda Aceh Curi Perhatian di Karnaval Budaya APEKSI VII Surabaya

0
Delegasi Banda Aceh
Delegasi Banda Aceh Curi Perhatian di Karnaval Budaya APEKSI VII Surabaya. (Foto: HUMAS BNA)

NUKILAN.id | Surabaya – Sorak sorai ribuan penonton membahana di sepanjang rute Karnaval Budaya Munas ke-VII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Surabaya, Jumat (9/5/2025). Dari sekian banyak delegasi, penampilan Kota Banda Aceh sukses mencuri perhatian publik.

Karnaval budaya yang mengusung tema “Light Culture Paradise” ini menjadi bagian penting dari rangkaian Munas APEKSI. Sebanyak 98 kota anggota ikut ambil bagian dalam kegiatan tahunan ini, dengan rute karnaval membentang dari pertigaan Genteng Besar hingga depan Gedung BNI di samping Alun-Alun Surabaya.

Gemerlap Aceh di Kota Pahlawan

Antusiasme masyarakat meningkat tajam saat rombongan dari “Bumi Serambi Mekkah” melintas. Delegasi Banda Aceh tampil memikat dengan mengenakan bajee linto dan bajee dara baro, busana adat yang sarat makna. Mereka juga menampilkan alunan musik tradisional dan tarian khas Tanah Rencong yang menggugah rasa bangga akan kekayaan budaya Nusantara.

Tak hanya itu, kehadiran Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, juga mencuri perhatian. Ia tampil anggun dalam balutan busana adat Aceh, didampingi oleh suaminya, Amir Ridha, serta Ketua Dekranasda dan Ketua TP PKK Banda Aceh, Dessy Maulida. Ketiganya menyapa warga Surabaya dengan ramah, menghadirkan suasana akrab dan penuh kehangatan.

“Karnaval budaya ini merupakan tradisi yang setiap tahun digelar oleh Asosiasi. Ini jadi wadah penting memperkuat pelestarian warisan budaya daerah di tengah tantangan modernisasi,” ujar Illiza.

Mempromosikan Budaya dan Pariwisata

Lebih lanjut, Wali Kota Illiza menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang pertunjukan seni. Ia menyebut bahwa momen ini juga penting untuk memperkenalkan identitas budaya Aceh yang kuat dengan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas.

“Kita juga memperkenalkan potensi wisata, kuliner, serta industri kreatif daerah melalui sajian budaya yang khas,” tambahnya.

Delegasi Banda Aceh terdiri dari 60 orang yang berasal dari berbagai unsur, seperti kepala OPD, camat, keuchik, tim seni tari, dan duta wisata. Keikutsertaan mereka menunjukkan komitmen serius dalam mempererat hubungan antar pemerintah kota melalui jalur budaya.

“Ini adalah momentum untuk memperkuat jejaring antar pemerintah kota dalam membangun peradaban yang inklusif dan berkelanjutan melalui budaya,” pungkas Illiza.

Melalui penampilan yang memukau dan pesan-pesan kebudayaan yang mendalam, Banda Aceh berhasil menjadikan karnaval ini bukan sekadar tontonan. Lebih dari itu, ini adalah panggung diplomasi budaya yang memperlihatkan betapa kayanya Indonesia, sekaligus memperkuat peran budaya dalam membangun sinergi antar daerah.

Editor: Akil

Penipuan Catut Nama Istri Gubernur Aceh, Berkedok Bantuan Modal Usaha

0
penipuan catut
Ilustrasi penipuan. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Aksi penipuan dengan mencatut nama istri Gubernur Aceh, Marlina Muzakir, kembali mencuat dan meresahkan masyarakat. Kali ini, pelaku menyasar warga melalui platform WhatsApp dan Facebook, dengan iming-iming bantuan modal usaha.

Menurut Kepala Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Aceh, Akkar Arafat, pelaku yang tidak bertanggung jawab menyamar sebagai perantara bantuan dari Dinas Sosial. Mereka berdalih bisa memberikan rekomendasi langsung dari istri Gubernur Aceh.

“Dia lalu meminta pengiriman dana administrasi sebesar Rp 300.000 dengan alasan untuk pembuatan proposal,” kata Akkar dikutip dari Kompas.com, Minggu (11/5/2025).

Sudah Banyak Korban Tertipu

Akkar mengungkapkan bahwa sejauh ini sudah banyak korban yang tertipu oleh modus tersebut. Ia mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya terhadap pesan yang mencatut nama tokoh publik.

“Modus ini kembali mencuat di tengah masyarakat dan berpotensi merugikan banyak pihak,” ujarnya.

Selain itu, Akkar juga menegaskan bahwa Pemerintah Aceh tidak pernah menyalurkan bantuan resmi melalui pesan pribadi.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Aceh agar jangan mudah percaya apabila ada akun WhatsApp atau sosmed lainnya yang mengatasnamakan tokoh publik. Cek dan verifikasi dulu kebenarannya melalui sumber yang tepercaya dan akurat,” tuturnya.

Lapor ke Pihak Berwajib

Menanggapi fenomena ini, Akkar meminta masyarakat yang menerima pesan serupa untuk segera melaporkan kepada pihak kepolisian. Tujuannya adalah untuk mencegah jatuhnya korban baru serta menindaklanjuti praktik penipuan yang makin marak.

Sebelumnya, berbagai kasus serupa juga pernah terjadi di Aceh. Salah satunya menimpa warga Banda Aceh yang tertipu Rp 140 juta karena tergiur iklan mobil di Facebook.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan semakin bijak dalam menyaring informasi dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, terlebih jika menyangkut urusan keuangan.

Editor: Akil

Buka FK IJK Run 2025, Fadhullah Ajak Pelari Nikmati Keindahan dan Keamanan Aceh

0
Peserta event FK IJK Run 2025 saat mengambil start di Lapangan Blang, Padang, Banda Aceh, Minggu 11 Mei 2025. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id |Banda Aceh – Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FK IJK) Run 2025 resmi digelar di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, pada Minggu (11/5/2025) pagi. Ajang lari berskala nasional yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh ini buka langsung oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah.

Dalam sambutannya, Fadhullah berharap agar FK IJK Run 2025 menjadi sarana memperkenalkan Aceh kepada peserta dari luar daerah, tidak hanya sebagai tempat olahraga, tetapi juga sebagai daerah yang aman dan kaya akan potensi.

“Kami dari Pemerintah Aceh mengharapkan dari acara ini sekaligus memperkenalkan bagaimana Aceh yang sebenarnya. Para tamu kami, pelari yang berhadir pada pagi ini, silakan rasakan dan nikmati apa yang ada di Aceh,” kata Fadhlullah dalam sambutannya.

Menurutnya, Aceh merupakan salah satu provinsi dengan tingkat kriminalitas yang rendah. “Mau malam hari, warung kopi, pelaku usaha — semua terasa aman dan nyaman, inilah Aceh yang sebenarnya,” katanya.

Direktur Utama Bank Aceh Syariah, M Hendra Supardi menyampaikan dukungan penuh terhadap FK IJK Run 2025 ini. Sebagai sponsor utama, Bank Aceh menyediakan berbagai layanan keuangan bagi peserta, termasuk mobil kas keliling dan stand layanan di lokasi acara.

“Kita support para pelari dari luar Aceh dengan menyediakan layanan jasa perbankan dan memudahkan semua transaksi keuangan baik secara digital maupun tunai. Nanti hadiahnya juga disalurkan melalui Bank Aceh,” kata Hendra. 

Kepala OJK Aceh, Deddy Prayoga menjelaskan bahwa acara ini merupakan kolaborasi dari seluruh lembaga keuangan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan. Menurutnya, tujuan utama FK IJK Run 2025 adalah untuk meningkatkan citra positif Aceh di tingkat nasional maupun internasional.

“Tujuannya agar Aceh dikenal dunia dan domestik. Sehingga orang akan mudah ke Aceh, senang ke Aceh, dan bersensasi di Aceh,” pungkas Deddy.

FK IJK Run 2025 diikuti oleh ribuan peserta peserta dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jambi, Pekanbaru, Sulawesi, hingga Jawa. Adapun rute lari terbagi dalam dua kategori, yakni 5 kilometer yang melintasi kawasan Hotel Permata Hati, dan 10 kilometer yang mencapai gerbang Pelabuhan Ulee Lheue.

Reporter: Rezi

60 Warga Terjaring Razia Syariat Islam di Aceh Besar

0
60 Warga Terjaring Razia Syariat Islam di Aceh Besar. (Foto: Satpol PP dan WH Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sebanyak 60 orang warga terjaring dalam razia penegakan syariat Islam yang digelar oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Provinsi Aceh pada Sabtu (10/5/2025). Dari jumlah tersebut, 17 orang merupakan laki-laki dan 43 lainnya perempuan.

Operasi gabungan ini melibatkan unsur Satpol PP dan WH Aceh, Satpol PP dan WH Aceh Besar, serta Polisi Militer (POM). Kegiatan dimulai sekitar pukul 15.30 WIB dan berlangsung di sejumlah titik di wilayah Aceh Besar.

Pelanggaran Dominan: Busana Tak Sesuai Syariat

Razia ini dilaksanakan berdasarkan Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam di Bidang Aqidah, Ibadah, dan Syiar Islam, serta Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Fokus utama dalam razia kali ini adalah pelanggaran terhadap ketentuan berpakaian dalam Islam, khususnya sebagaimana diatur dalam Pasal 13 Ayat 1 Qanun Nomor 6 Tahun 2014.

Kepala Satpol PP dan WH Aceh, Jalaluddin, SH., MM melalui Kasi Humas Mohd Nanda Rahmana, S.STP., M.Si menyebutkan bahwa pelanggaran paling banyak ditemukan pada perempuan.

“Kami mendapati beberapa warga, khususnya perempuan, yang mengenakan celana ketat, celana pendek, dan tidak memakai hijab. Terhadap mereka langsung dilakukan pembinaan di tempat agar tidak mengulangi pelanggaran serupa di kemudian hari,” ujar Nanda.

Pendekatan Persuasif dan Edukatif

Meski bersifat penindakan, petugas tetap mengedepankan pendekatan persuasif. Selain memberikan sanksi pembinaan di tempat, petugas juga menyampaikan imbauan langsung kepada masyarakat di sekitar lokasi razia.

Menurut Nanda, mayoritas warga yang terjaring menerima pembinaan dengan baik dan menyatakan kesediaan untuk mematuhi aturan berpakaian sesuai syariat.

“Kami mendapati beberapa warga, khususnya perempuan, yang mengenakan celana ketat, celana pendek, dan tidak memakai hijab. Terhadap mereka langsung dilakukan pembinaan di tempat agar tidak mengulangi pelanggaran serupa di kemudian hari,” ujar Nanda.

Komitmen Pemerintah Wujudkan Lingkungan Religius

Kegiatan razia tersebut merupakan bagian dari program berkelanjutan Pemerintah Aceh dalam menegakkan nilai-nilai keislaman di ruang publik. Melalui razia seperti ini, Pemerintah ingin memastikan pelaksanaan Syariat Islam berjalan secara konsisten dan menyeluruh di seluruh wilayah Aceh.

Dengan langkah ini, diharapkan tercipta lingkungan sosial yang religius, tertib, dan menjunjung tinggi norma hukum syariah sebagai karakter khas Bumi Serambi Mekkah.

Editor: Akil

Bima Arya Sebut Gubernur Aceh Sudah Izin Berobat ke Singapura

0
bima arya
Wamendagri, Bima Arya. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya mengonfirmasi bahwa Gubernur Aceh Muzakir Manaf saat ini sedang menjalani perawatan medis di luar negeri.

Menurut Bima, Gubernur Muzakir—yang akrab disapa Mualem—telah mengantongi izin resmi dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk berobat ke luar negeri.

“Betul. Pak Gubernur (Muzakir Manaf) sedang dalam perawatan. Dan sudah melaporkan serta izin kepada Mendagri. (Pergi) ke Singapura,” ujar Bima Arya saat dikutip dari Kompas.com, Sabtu (10/5/2025).

Wakil Gubernur Jalankan Tugas Harian

Selama masa perawatan Gubernur Muzakir di Singapura, roda pemerintahan Aceh tetap berjalan. Wamendagri menyebut bahwa pelaksanaan tugas-tugas harian kepala daerah sementara diemban oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah.

“Pemerintahan (di Aceh) sehari-hari dilaksanakan Wakil Gubernur (selama gubernur ke luar negeri),” kata Bima menegaskan.

Belum Ada Rincian Kondisi Kesehatan

Sebelumnya, kabar mengenai sakitnya Muzakir Manaf sudah beredar sejak awal Mei 2025. Informasi tersebut pertama kali dikonfirmasi oleh Juru Bicara Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Teuku Kamaruzzaman atau yang akrab disapa Ampon Man.

“Benar, Pak Gubernur saat ini sedang melakukan pemeriksaan kesehatan di luar negeri,” ungkap Ampon Man melalui pesan WhatsApp, Kamis (1/5/2025).

Meski demikian, hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyakit yang diderita Gubernur Muzakir. Juru bicara tersebut mengatakan bahwa dirinya belum mendapat penjelasan langsung dari tim medis yang menangani sang gubernur.

“Tentang detail kondisi beliau, saya belum mendapat konfirmasi dari dokter yang memeriksa beliau,” ujarnya.

Ampon Man juga menyampaikan harapannya agar masyarakat Aceh turut mendoakan kesembuhan sang gubernur.

“Tentang detail kondisi beliau, saya belum mendapat konfirmasi dari dokter yang memeriksa beliau,” imbuhnya.

Masyarakat Diminta Mendoakan

Sebagai penutup, Ampon Man mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk menunjukkan kepedulian mereka melalui doa.

“Tentang detail kondisi beliau, saya belum mendapat konfirmasi dari dokter yang memeriksa beliau,” ucapnya kembali seraya menambahkan bahwa kesehatan gubernur adalah prioritas utama saat ini.

Editor: Akil