Beranda blog Halaman 426

TNI dan BNN Bakar 3 Hektare Ladang Ganja di Gayo Lues

0
Ilustrasi aparat gabungan musnahkan ladang ganja seluas tiga hektare di Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Blangkejeren — Aparat gabungan TNI dan Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan ladang ganja seluas tiga hektare di wilayah perbukitan Desa Ekan, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Minggu (11/5).
Langkah ini merupakan hasil respons cepat setelah adanya laporan dari warga yang sedang berburu di hutan sekitar lokasi.

Operasi pemusnahan langsung dipimpin Komandan Kodim 0113/Gayo Lues, Letnan Kolonel Agus Satrio Wibowo. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa ladang ganja ditemukan tumbuh subur di lahan terbuka yang tersembunyi di balik lebatnya hutan pegunungan.

“Kami telah memusnahkan ladang ganja seluas tiga hektare. Operasi ini berawal dari laporan warga kepada petugas pembina desa kami,” ujar Letkol Agus dalam keterangan tertulis yang diterima di Kota Banda Aceh, mengutip Antara.

Ganja Berumur Lima Bulan, Berat Kering Diperkirakan 5 Ton

Tanaman ganja yang ditemukan diketahui berusia sekitar lima bulan dengan tinggi mencapai 1,3 meter. Jumlahnya cukup mengejutkan karena total berat basah tanaman mencapai 8,5 ton.

“Daun-daun ganja itu diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 5.100 kilogram ganja kering,” jelas Agus.

Menurutnya, seluruh tanaman dicabut dari akar dan langsung dimusnahkan di lokasi dengan cara dibakar. Untuk sampai ke titik ladang, tim harus berjalan kaki sejauh enam kilometer menyusuri medan terjal dan menanjak.

Masih Diselidiki: Siapa Pemilik Ladang?

Meski ladang telah dihancurkan, aparat masih menyelidiki siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan lahan ganja ilegal tersebut. Letkol Agus menekankan bahwa wilayah Gayo Lues memang rawan dijadikan lokasi penanaman ganja karena medannya yang tersembunyi dan sulit dijangkau.

“Diperlukan patroli berkala dan langkah pencegahan agar masyarakat terhindar dari bahaya penyalahgunaan serta peredaran narkotika, termasuk ganja,” tutupnya.

Editor: Akil

Tarian Ratoh Jaroe Guncang Harvard Arts Festival 2025

0
tari ratoh jaroe
Tari Ratoh Jaroe Guncang Harvard Arts Festival 2025. (Foto: KabarSDGS)

NUKILAN.id | Boston — Tarian Ratoh Jaroe, yang berasal dari Aceh, sukses memukau penonton dalam ajang Harvard Arts Festival 2025 di Boston, Amerika Serikat. Penampilan ini menjadi bukti bahwa seni tradisional bisa menjelajahi dunia, bahkan di panggung bergengsi seperti Harvard.

Sanggar Tari Cendrawasih Boston menjadi penggerak utama dalam pertunjukan ini. Meskipun para penarinya bukan berasal langsung dari Aceh, mereka mampu menghadirkan semangat dan kekompakan yang luar biasa. Grup ini terdiri dari mahasiswi Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Harvard.

Suasana Autentik di Tanah Rantau

Penampilan Ratoh Jaroe diadakan di Plaza Tent dan berhasil menghadirkan nuansa yang khas. Kehadiran Trisia, seorang perempuan Aceh yang telah menetap di Boston selama satu dekade terakhir, semakin memperkuat suasana. Ia membacakan syair Ratoh dengan penuh penghayatan.

Trisia juga dikenal sebagai aktivis pendidikan dan bagian dari Diaspora Global Aceh (DGA) Sagoe USA. Kehadirannya menjadi penghubung emosional antara budaya Aceh dan para penikmat seni di Amerika.

Ratoh Jaroe bukan sekadar tarian. Di atas panggung Harvard, tarian ini menjadi simbol diplomasi budaya yang memperkenalkan Aceh kepada dunia melalui gerak dan irama.

Tak hanya menghibur, penampilan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pelestarian budaya di kancah global. Ini menunjukkan bagaimana seni dapat menyampaikan pesan damai dan identitas suatu bangsa tanpa perlu banyak kata.

Pesan dari Diaspora Aceh

Ketua Diaspora Global Aceh Sagoe USA, Adron Yusuf, menyambut baik keterlibatan seni Aceh dalam festival internasional tersebut.

“Sungguh membanggakan karena nama Aceh terus berkumandang di pentas internasional melalui seni budaya,” ujarnya dikutip dari Kabar SDGS.

Lebih lanjut, Adron berharap agar momentum ini dapat menggugah kesadaran berbagai pihak di tanah air.

“Semoga pemerintah Aceh, Majelis Adat Aceh, para pengusaha asal Aceh, serta politisi mau untuk memikirkan dan berkontribusi dalam penyediaan perangkat budaya dan seni untuk dipamerkan dalam forum internasional. Seni adalah jalan diplomasi yang paling ampuh,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa perlengkapan budaya dan kesenian dari Aceh sebaiknya dipersiapkan dengan lebih baik untuk tampil di berbagai acara serupa di masa depan.

Warisan Budaya di Tangan Generasi Muda

Menurut Adron, tampilnya Ratoh Jaroe di Harvard menunjukkan bahwa seni Aceh masih memiliki daya tarik yang kuat. Apalagi, tarian ini dibawakan oleh generasi muda Indonesia dan komunitas diaspora.

“Dengan penampilan Ratoh Jaroe di Harvard, dunia kembali diingatkan akan kekayaan budaya Aceh yang penuh warna dan makna.”

Ia pun menutup dengan optimisme bahwa seni budaya Aceh akan terus berkembang dan mendunia, membawa pesan harmoni dan kedamaian dari Serambi Mekah.

Editor: Akil

Mengenang 27 Tahun Peringatan Tragedi Trisakti

0
Tragedi Trisakti. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Jakarta – Setiap tanggal 12 Mei, bangsa Indonesia memperingati sebuah peristiwa kelam dalam perjalanan reformasi. Tragedi Trisakti—itulah nama yang melekat pada momentum berdarah yang merenggut nyawa empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998.

Sebagaimana dilansir Nukilan.id dari Detik.com, ribuan mahasiswa kala itu turun ke jalan menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah mencekam setelah aparat keamanan melakukan penembakan secara brutal.

Dalam tragedi tersebut, empat mahasiswa gugur, yakni Elang Mulia Lesmana (1978–1998), Heri Hertanto (1977–1998), Hafidin Royan (1976–1998), dan Hendriawan Sie (1975–1998).

Kematian mereka menjadi simbol pengorbanan generasi muda dalam memperjuangkan keadilan dan demokrasi di negeri ini.

Latar Belakang Krisis Multi-Dimensi

Peristiwa berdarah ini tak muncul tiba-tiba. Saat itu, Indonesia tengah dilanda krisis dari berbagai sisi—ekonomi, politik, hukum, hingga krisis kepercayaan. Harga kebutuhan pokok melambung, pengangguran meningkat, dan masyarakat mulai kehilangan harapan terhadap pemerintah Orde Baru.

Dalam situasi tersebut, mahasiswa tampil sebagai motor perubahan. Mereka menggugat sistem yang dirasa telah gagal dan menuntut reformasi total, termasuk turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Kronologi Tragedi: Dari Aksi Damai Menuju Duka

Aksi demonstrasi besar-besaran dilakukan mahasiswa Universitas Trisakti pada Selasa, 12 Mei 1998. Berdasarkan informasi dari laman resmi Universitas Trisakti, aksi dimulai pukul 10.30 WIB, di parkiran depan Gedung Syarif Thayeb. Selain mahasiswa, dosen dan pejabat fakultas turut hadir.

Sekitar pukul 10.45–11.00 WIB, para demonstran melakukan penurunan bendera setengah tiang. Mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan melakukan hening cipta sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi bangsa.

Meski suasana awalnya tenang, ketegangan mulai terasa ketika aparat keamanan berdatangan pada pukul 12.25 WIB. Para mahasiswa tetap tenang dan melanjutkan aksi menuju gerbang arah Jalan Jendral S. Parman untuk menyuarakan aspirasi ke DPR/MPR.

Namun, pada pukul 12.40 WIB, mereka terhenti di depan kantor Wali Kota Jakarta Barat. Setelah berdiskusi dengan aparat, massa akhirnya mundur secara damai sekitar pukul 16.45 WIB.

Sayangnya, situasi berubah drastis hanya beberapa menit kemudian.

Tembakan yang Merenggut Nyawa

Pada pukul 17.05 WIB, saat mahasiswa mulai membubarkan diri, sejumlah aparat justru memprovokasi dengan melontarkan kata-kata kasar. Ketegangan meningkat, dan dalam sekejap, suasana damai berubah menjadi kekacauan.

Aparat kemudian melakukan tindakan represif. Mereka melepaskan tembakan membabi buta, melemparkan gas air mata, serta melakukan pemukulan dengan pentungan. Bahkan, menurut kesaksian, ada tindakan pelecehan seksual yang dilakukan kepada mahasiswi.

Dari atas jembatan layang, aparat kembali menembak ke arah mahasiswa yang berlarian masuk ke dalam kampus Universitas Trisakti.

Akibat penembakan brutal tersebut, tiga mahasiswa meninggal di tempat, sementara satu lainnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit.

Peringatan dan Luka yang Tak Hilang

Tragedi Trisakti bukan sekadar catatan sejarah. Setiap 12 Mei, mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul untuk mengenang para korban. Mereka menggelar doa, aksi damai, hingga mimbar bebas sebagai bentuk penghormatan.

Hingga kini, pelaku penembakan belum pernah diadili secara tuntas. Hal ini menambah luka kolektif yang belum sepenuhnya sembuh dalam memori bangsa.

Tragedi ini mengingatkan kita bahwa harga dari perubahan bisa sangat mahal. Namun, semangat para mahasiswa yang gugur tetap hidup sebagai obor perjuangan untuk masa depan Indonesia yang lebih adil dan demokratis. (XRQ)

Reporter: Akil

Cegah Premanisme, Polres Aceh Besar Patroli di Kawasan Wisata Lhoknga

0
Cegah Premanisme, Polres Aceh Besar Patroli di Kawasan Wisata Lhoknga. (Foto: KontraS Aceh)

NUKILAN.id | Jantho – Dalam upaya menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang aman dan kondusif, Tim Satgas Anti Premanisme Polres Aceh Besar menggelar patroli di sejumlah titik rawan gangguan keamanan, khususnya kawasan objek wisata pantai di Kecamatan Lhoknga, Minggu (11/5/2025).

Patroli ini dipimpin langsung oleh Padal Kasat Samapta AKP Syamsul, bersama Wakil Padal Ipda Surya Abrian Teguh Pahlawan, S.Tr.K. Mereka menyasar lokasi-lokasi yang dinilai rawan terhadap tindak premanisme yang kerap meresahkan masyarakat.

Tanggapi Keluhan Masyarakat

Kegiatan ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, masyarakat setempat dan para wisatawan mengeluhkan adanya pungutan liar di lokasi wisata. Beberapa pengunjung melaporkan ketidaksesuaian antara biaya masuk yang dibayarkan dengan tiket yang mereka terima. Selain itu, ditemukan pula pungutan tambahan di area parkir yang tidak resmi.

Tak hanya itu, satu lokasi wisata juga diketahui belum menyetorkan pendapatan tiket masuk sebagai bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang semestinya menjadi hak pemerintah daerah.

Pelaku Dibina dan Buat Surat Pernyataan

Menanggapi laporan tersebut, Tim Satgas segera melakukan sosialisasi kepada pihak-pihak terkait. Beberapa terduga pelaku berhasil diamankan untuk dimintai keterangan. Setelah didata, mereka diberikan pembinaan serta diminta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya.

Dalam keterangannya, Kapolres Aceh Besar AKBP Sujoko, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa operasi ini adalah bentuk nyata komitmen Polri dalam menjaga keamanan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan Komitmen Polres Aceh Besar dalam menciptakan kondusifitas di wilayahnya, serta sebagai bukti jika Polri hadir dan siap berada di tengah-tengah masyarakat,” ungkap Kapolres.

Polri Hadir, Masyarakat Tenang

Dengan hadirnya patroli semacam ini, diharapkan tercipta lingkungan wisata yang nyaman dan bersih dari praktik premanisme. Selain itu, langkah ini sekaligus mempertegas bahwa Polri akan selalu berada di garda terdepan dalam menindak segala bentuk gangguan keamanan.

Langkah responsif yang dilakukan Polres Aceh Besar ini pun menuai apresiasi dari warga. Mereka berharap patroli serupa terus dilakukan secara berkala, terlebih saat kunjungan wisata meningkat di akhir pekan dan musim liburan.

Editor: Akil

BSI Tetap Buka di Hari Libur, Layanan Nasabah Makin Diperkuat

0
Ilustrasi Bank Syariah Indonesia (Foto: Dok. BSI)

NUKILAN.id | IKLAN — Untuk memberikan kemudahan bagi nasabah dalam bertransaksi, PT Bank Syariah Indonesia, Tbk. (BSI) Regional Aceh tetap membuka layanan di akhir pekan dan hari libur nasional sepanjang Mei 2025. Sebanyak 53 kantor cabang di seluruh Aceh disiagakan untuk melayani kebutuhan perbankan masyarakat.

Langkah ini merupakan bentuk komitmen BSI dalam memperkuat kualitas layanan, khususnya saat momen-momen ketika kebutuhan transaksi meningkat.

Regional CEO BSI Aceh, Wachjono, menyampaikan bahwa layanan weekend banking adalah layanan tambahan yang konsisten dilakukan oleh BSI untuk memfasilitasi nasabah, baik saat akhir pekan maupun pada libur nasional.

“Kami terus mengedukasi nasabah untuk mencoba alternatif layanan e-channel BSI yang lain. Melalui pemanfaatan layanan 900 lebih ATM/CRM yang tersebar di seluruh Aceh, BYOND by BSI, BEWIZE by BSI, BSI QRIS, BSI Agen, BSI Net maupun BSI Call 14040,” ujar Wachjono, Minggu (11/5/2025).

Tidak hanya mengandalkan layanan konvensional, BSI juga mendorong pemanfaatan e-channel melalui jaringan BSI Agen. Hingga kini, jumlah BSI Agen di Aceh tercatat mencapai lebih dari 18 ribu agen.

Menariknya, layanan BSI Agen mengalami pertumbuhan signifikan, yakni mencapai 7,3 juta transaksi dengan volume transaksi menyentuh angka Rp 22,5 triliun. Angka tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital BSI.

Namun di tengah kemudahan layanan, Wachjono juga mengingatkan nasabah untuk waspada terhadap maraknya penipuan yang mengatasnamakan bank. Modus yang digunakan pun semakin beragam, mulai dari penyebaran informasi palsu tentang perubahan tarif antarbank melalui WhatsApp, aplikasi APK, hingga situs palsu berbasis web.

“Kami mengimbau nasabah untuk rutin mengecek saldo, mencetak rekening koran, serta mengganti kata sandi secara berkala demi keamanan transaksi perbankan nasabah,” tutup Wachjono.

Selain itu, nasabah juga diminta untuk menjaga kerahasiaan data pribadi perbankan, seperti PIN, kode OTP, serta nomor CVV yang tertera pada kartu.

Editor: AKil

DPD IMM Aceh Gelar FGD Bahas Strategi Atasi Tambang Ilegal

0
DPD IMM Aceh
DPD IMM Aceh Gelar FGD Bahas Strategi Atasi Tambang Ilegal. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mengatasi Pertambangan Ilegal di Aceh: Strategi, Tantangan, dan Kolaborasi Multipihak”. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Rektorat Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), belum lama ini.

FGD ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai instansi dan disiplin keilmuan. Mereka antara lain:

  • Dr. Ir. Mahyuddin, S.P., M.P., IPU – Kepala BPHL Wilayah I Ditjen Pengelolaan Hutan Lestari KLHK RI

  • Hasballah – Anggota Komisi III DPRA

  • Ir. Febi Mutia, S.T., M.Sc – Dosen Teknik Pertambangan USK

  • Khairil Basyar, S.T., M.T. – Kabid Mineral dan Batubara Dinas ESDM Aceh

Melalui diskusi ini, mereka memaparkan persoalan tambang ilegal dari berbagai sudut pandang, mulai dari aspek lingkungan, hukum, tata kelola, hingga tantangan di lapangan.

IMM Ajak Mahasiswa Jadi Garda Depan

Ketua Umum DPD IMM Aceh, Muhammad Dwi Cahyo, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam menyuarakan persoalan tambang ilegal.

“FGD ini dirancang agar mahasiswa dapat memahami persoalan tambang ilegal secara komprehensif dari para ahli. Jika bukan mahasiswa yang menyuarakan dampaknya, lalu siapa lagi?” tegasnya.

Menurutnya, maraknya praktik tambang ilegal tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga menghambat investasi yang sehat dan berkelanjutan di Aceh.

Dorongan Qanun dan Kolaborasi Multipihak

Salah satu rekomendasi yang mengemuka dalam diskusi adalah pentingnya penyusunan Qanun Pertambangan Aceh. Hal ini dinilai penting sebagai dasar hukum yang sejalan dengan kekhususan Aceh dalam kerangka otonomi daerah.

Selain itu, narasumber juga mengusulkan studi banding ke daerah-daerah yang telah berhasil mengelola tambang secara legal dan berkelanjutan. Tujuannya, agar Aceh dapat mengadopsi praktik-praktik terbaik yang relevan dengan konteks lokal.

Tak hanya itu, penguatan koordinasi antarinstansi, keterlibatan masyarakat dalam pengawasan, serta edukasi dan pelatihan teknis bagi pelaku tambang lokal juga menjadi solusi yang ditekankan. Termasuk pula penataan ulang Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) agar sesuai dengan prinsip legalitas dan keberlanjutan.

Disambut Positif Pihak Kampus

Apresiasi terhadap FGD ini datang dari Wakil Rektor III Unmuha, Dr. Mirza Murni, S.E., M.M., yang hadir mewakili rektor.

“Forum seperti ini sangat penting untuk memperluas wawasan, terutama dalam hal perizinan dan dampak lingkungan dari aktivitas tambang ilegal yang nyata-nyata merusak,” ungkapnya.

Acara ini turut dihadiri oleh mahasiswa pecinta lingkungan, organisasi kemahasiswaan pertambangan, hingga penggiat isu energi. Antusiasme peserta memperkaya diskusi dan membuka ruang kolaborasi lintas sektor.

Sebagai tindak lanjut, hasil FGD akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah, DPR Aceh, serta instansi terkait. Ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mencari solusi atas maraknya tambang ilegal di Aceh.

Editor: Akil

Santri Perempuan Dayah Tradisional Didorong Kuasai Soft Skill

0
Santri Perempuan Dayah Tradisional Didorong Kuasai Soft Skill. (Foto: MI)

NUKILAN.id | Jantho — Untuk memperkuat kemandirian ekonomi, para santri perempuan di dayah tradisional Aceh didorong agar memiliki keterampilan non-akademik atau soft skill. Dengan keahlian tersebut, mereka diharapkan mampu bersaing dan hidup mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.

Dorongan ini mengemuka dalam kegiatan bertajuk Santriwati Menginspirasi yang digelar Komunitas Santri Berdaya dan Mandiri (KSBM), Minggu (11/5/2025). Acara tersebut berlangsung seharian penuh di Dayah Darul Ulum Abu Lueng Ie, Kemukiman Ulee Kareng, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar.

Kegiatan itu mengangkat tema “Softskill Itu Keren, Santri Perempuan Cerdas, Mandiri, dan Berkemajuan” dan menghadirkan entrepreneur ternama sekaligus alumni Dayah Tinggi (Dayah A’li) MUDI Mesra Samalanga, Ustadzah Zikra Azizi Luqman, sebagai pemateri utama.

Membangun Kemandirian dari Lingkungan Dayah

Sosialisasi ini bertujuan menanamkan kesadaran pentingnya penguasaan soft skill bagi santri perempuan. Harapannya, para santriwati tidak hanya unggul dalam keilmuan agama, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan keterampilan.

Kehadiran alumni sukses seperti Ustadzah Zikra menjadi inspirasi tersendiri. Ia menunjukkan bahwa santriwati pun mampu menjadi pelaku usaha yang tangguh tanpa meninggalkan nilai-nilai dayah.

Gagasan KSBM Berawal dari Keprihatinan

Komunitas Santri Berdaya dan Mandiri (KSBM) sendiri digagas oleh Saidil Mukammil Bawarith, santri senior Dayah Putra MUDI Mesra Samalanga. Saidil, yang akrab disapa Kamim, dikenal sebagai mantan Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Kabupaten Pidie Jaya sekaligus aktivis pelajar yang aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan.

Menurut Saidil, ide mendirikan KSBM berangkat dari kegelisahan pribadi terhadap stigma masyarakat yang menganggap masa depan santri—khususnya santriwati—tidak menjanjikan secara ekonomi.

“Masih sering terdengar anggapan seperti kepeu neubeh aneuk u dayah (untuk apa membuang anak ke dayah), yang menggambarkan pandangan sempit tentang masa depan santri, khususnya santriwati,” tutur Kamim.

Ia menilai, jika santri laki-laki kerap diarahkan menjadi imam atau khatib, maka santriwati kerap kali memiliki ruang gerak yang lebih sempit. Oleh karena itu, KSBM hadir sebagai wadah untuk mengembangkan potensi santri sejak dini, khususnya bagi perempuan.

Rancang Pelatihan dan Publikasi Karya

Lebih dari sekadar sosialisasi, KSBM juga menargetkan pelatihan peningkatan kapasitas santri. Program pelatihan ini dirancang agar tetap sejalan dengan nilai-nilai syariat Islam dan membuka ruang bagi santri untuk mempublikasikan karya-karya bernilai jual.

“Kami ingin menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya santri berdaya secara keilmuan dan ekonomi, agar tidak ada lagi alumni yang menyesal pernah menimba ilmu di dayah hanya karena keterbatasan finansial,” jelas Saidil.

Bersama Nailis Wildani, sesama alumni dayah dan aktivis organisasi kepemudaan di Aceh, Saidil terus memperluas jaringan dan inisiatif KSBM untuk menjangkau lebih banyak santri perempuan di seluruh Aceh.

Kini, selain aktif sebagai penggagas KSBM, Saidil juga menjabat sebagai Youth Program Coordinator di International Institute of Peace and Development Studies (IIPDS) yang berbasis di Thailand. Ia aktif dalam program-program pengembangan pemuda dan perdamaian di tingkat internasional.

Editor: Akil

Investor Malaysia Siap Bangun Pabrik Lithium di Aceh Besar

0
Ilustrasi Pabrik Lithium. (Foto: Liputan6)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Investasi besar siap mengalir ke Aceh Besar. Investor asal Malaysia, Michael Soh, melalui perusahaannya Oggec Sdn Bhd, berencana membangun pabrik pemulihan tembaga dan lithium di kawasan industri Ladong, Krueng Raya. Proyek ini akan mengusung konsep ramah lingkungan dengan sistem daur ulang 100 persen, khusus untuk mendukung produksi baterai lithium-ion kendaraan listrik (EV).

Tidak hanya menjanjikan teknologi hijau, proyek ini juga membuka peluang kerja yang besar. Sekitar 2.000 tenaga kerja akan direkrut, dan menariknya, lebih dari 95 persen di antaranya akan berasal dari masyarakat lokal. Sementara itu, hanya 5 persen yang akan diisi oleh tenaga kerja asing.

Survei Lokasi Dimulai

Pada Jumat, 9 Mei 2025, rombongan investor dijadwalkan melakukan survei langsung ke lokasi. Tujuannya adalah memastikan kesiapan lahan dan infrastruktur sebelum proses pembangunan dimulai. Hal ini disampaikan oleh Munawar Khalil, fasilitator proyek dari Aceh.

“Kami siap memberikan dukungan penuh untuk kelancaran proses pembangunan pabrik, asalkan tetap mematuhi regulasi yang berlaku,” ujar Bupati Aceh Besar, Muharram Idris. Ia menyambut baik rencana investasi ini dan berharap proyek tersebut dapat berjalan lancar serta membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Dukung Transisi Energi dan Perluasan Industri

Seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik di Indonesia, kehadiran pabrik ini menjadi momentum penting dalam mendukung transisi energi bersih di Tanah Air. Selain itu, proyek ini juga dianggap sebagai langkah strategis dalam pengembangan kawasan industri di Aceh Besar, yang selama ini memiliki potensi besar namun belum tergarap optimal.

Pabrik pemulihan lithium ini tidak hanya memperkuat rantai pasok industri baterai, tetapi juga membuka jalan bagi Aceh untuk menjadi bagian dari ekosistem energi terbarukan nasional. Dengan komitmen pada keberlanjutan dan pemberdayaan lokal, investasi ini diharapkan dapat menjadi model industri hijau di Indonesia.

Editor: AKil

Dua WNA Sakit Dievakuasi dari Kapal Pesiar di Perairan Aceh

0
Dua WNA Sakit Dievakuasi dari Kapal Pesiar di Perairan Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Tim dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banda Aceh berhasil mengevakuasi dua warga negara asing yang jatuh sakit di atas kapal pesiar saat melintas di perairan Aceh, Sabtu (10/5/2025).

Dua penumpang tersebut adalah Hebert Ronald, pria asal Jerman berusia 86 tahun, dan Yulia, seorang perempuan asal Rusia yang tengah hamil 15 minggu. Keduanya tengah berlayar menggunakan kapal pesiar berbendera Malta, Mein Schiff 6, dalam perjalanan dari Port Klang, Malaysia menuju Afrika.

Evakuasi Dimulai Setelah Panggilan Darurat

Kepala Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, menjelaskan bahwa operasi evakuasi dimulai setelah pihak kapal mengirim sinyal darurat pada Sabtu sore.

“Kedua orang tersebut sedang melakukan perjalanan dengan kapal pesiar berbendera Malta, Mein Schiff 6, yang sedang dalam pelayaran dari Port Klang, Malaysia, menuju Afrika,” kata Hussain dalam keterangan resminya pada Minggu (11/5/2025).

Setelah menerima laporan, tim Basarnas segera bergerak cepat. Mereka mengerahkan kapal penyelamat KN Kresna 323 dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Lokasi Evakuasi Dekat Sabang

Lokasi kapal berada sekitar 7,31 mil laut dari Pelabuhan Ulee Lheue, tepatnya di arah barat laut menuju Pulau Weh, Sabang. KN Kresna 323 tiba di lokasi sekitar pukul 18.40 WIB.

Setibanya di kapal pesiar, tim medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Banda Aceh melakukan pemeriksaan awal. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa kedua pasien tidak membawa penyakit menular.

“Lokasi evakuasi berada 7,31 mil laut di barat laut Pelabuhan Ulee Lheue Kota Banda Aceh, dekat Pulau Weh di Kota Sabang. KN Kresna 323 tiba di kapal pesiar sekitar pukul 18.40 waktu setempat,” imbuh Hussain.

Kondisi Kesehatan dan Penanganan Lanjutan

Hasil evaluasi medis awal menunjukkan bahwa Hebert Ronald mengalami komplikasi akibat hipertensi dan diabetes. Sementara itu, Yulia dilaporkan mengalami mimisan, yang dapat berdampak serius karena kehamilannya.

Setelah dinyatakan aman untuk dipindahkan, keduanya dievakuasi ke kapal penyelamat. Selanjutnya, mereka dibawa ke darat dan langsung dilarikan menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin di Banda Aceh untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Operasi darurat ini dimulai setelah kapal pesiar mengirim panggilan darurat pada Sabtu (10 Mei) sore, meminta bantuan medis mendesak bagi dua penumpang tersebut,” jelas Hussain.

Koordinasi Lintas Instansi

Operasi penyelamatan ini melibatkan koordinasi berbagai pihak, termasuk TNI AL, kepolisian, serta otoritas setempat. Berkat kerja sama yang solid, proses evakuasi berlangsung lancar dan efisien.

“Seluruh personel kembali ke instansi masing-masing setelah misi berhasil diselesaikan,” ujar Hussain.

Editor: Akil

Dek Fadh Jadi Plh Gubernur Aceh, Ini Tugas dan Wewenangnya

0
Dek Fadh
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE, atau yang akrab disapa Dek Fadh, resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (Plh) Gubernur Aceh. Penunjukan ini dilakukan menyusul kondisi Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, yang saat ini sedang menjalani perawatan kesehatan di Singapura.

Kondisi ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya. Ia membenarkan bahwa roda pemerintahan Aceh saat ini dijalankan oleh Dek Fadh.

“Pak Gubernur sedang dalam perawatan, dan sudah melaporkan, serta izin kepada Mendagri. (Pergi) ke Singapura,” ujar Bima Arya mengutip Kompas.com, Sabtu (10/5/2025).

Apa Tugas dan Wewenang Plh Gubernur?

Penunjukan Plh Gubernur diatur dalam ketentuan perundang-undangan. Plh atau Pelaksana Harian memiliki tanggung jawab utama untuk memastikan jalannya pemerintahan daerah tetap berjalan stabil saat Gubernur berhalangan sementara, baik karena sakit, cuti, maupun tugas luar negeri.

Berikut penjabaran tugas dan wewenang Plh Gubernur sebagaimana dikutip Nukilan.id dari laman Hukumonline dan BPK RI:

1. Menjalankan Tugas Rutin Pemerintahan

Plh Gubernur memiliki kewenangan untuk melaksanakan tugas-tugas harian yang biasa dijalankan oleh Gubernur. Hal ini mencakup pengambilan keputusan administratif dan teknis sesuai peraturan yang berlaku.

2. Keputusan dan Tindakan Rutin

Selain menjalankan tugas rutin, Plh juga dapat mengambil keputusan administratif yang bersifat rutin dan tidak berdampak strategis. Ini termasuk tindakan-tindakan yang mendukung keberlanjutan layanan publik.

3. Urusan Kepegawaian

Dalam urusan kepegawaian, Plh Gubernur dapat menetapkan sejumlah hal, seperti sasaran kerja pegawai, penilaian kinerja, pemberian cuti, kenaikan gaji berkala, serta menjatuhkan hukuman disiplin ringan.

Selain itu, Plh dapat memberikan izin belajar dan seleksi jabatan, serta mengusulkan pegawai untuk mengikuti pengembangan kompetensi.

4. Koordinasi Pelaksanaan Tugas

Plh Gubernur juga memiliki tanggung jawab dalam mengoordinasikan berbagai urusan pemerintahan di tingkat provinsi agar tidak terjadi kekosongan kendali dalam masa peralihan.

Kewenangan Plh yang Bersifat Terbatas

Namun, meski memiliki sejumlah tugas penting, kewenangan Plh Gubernur tidak mencakup hal-hal yang bersifat strategis. Ada batasan yang perlu diperhatikan:

  • Tidak Berwenang Mengambil Keputusan Strategis:
    Plh tidak dapat mengambil keputusan yang dapat mengubah status hukum, seperti menyangkut organisasi pemerintahan, alokasi anggaran, dan kebijakan kepegawaian strategis.

  • Mutasi dan Pengangkatan Pegawai:
    Plh tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengangkatan, pemindahan, atau pemberhentian pegawai kecuali telah mendapatkan persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri.

  • Pertimbangan BKN untuk Mutasi:
    Untuk melakukan mutasi kepegawaian, Plh Gubernur juga wajib menunggu pertimbangan teknis dari Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Stabilitas Pemerintahan Jadi Prioritas

Penunjukan Dek Fadh sebagai Plh Gubernur Aceh menjadi langkah strategis pemerintah pusat agar roda pemerintahan di Aceh tetap berjalan optimal. Meski bersifat sementara, tugas yang diemban sangat penting demi menjamin pelayanan publik tidak terganggu.

Selama masa penunjukan ini, publik diharapkan tetap tenang dan mendukung proses pemerintahan yang berjalan. Pemerintah pusat melalui Kemendagri juga terus memantau perkembangan kesehatan Gubernur Mualem, sembari memastikan semua urusan administratif di Aceh tetap terkendali. (XRQ)

Reporter: Akil