Beranda blog Halaman 42

Warga Korban Banjir Bertenda di Kantor Bupati Bireuen, DPRA Desak Pemerintah Aceh Bangun Huntara

0
Warga Korban Banjir Bertenda di Kantor Bupati Bireuen (Foto: KabarBireuen)

NUKILAN.ID | BIREUEN – TSejumlah warga korban banjir dari Desa Kapa, Kecamatan Peusangan, dan Desa Salah Sirong, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, tampak mendirikan tenda di halaman Kantor Bupati Bireuen pada Jumat (13/3/2026).

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes sekaligus tuntutan agar pemerintah segera membangun hunian sementara (huntara) bagi para korban banjir yang hingga kini masih mengalami kesulitan tempat tinggal.

Mengutip Beritamerdeka.net, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Daerah Pemilihan III Kabupaten Bireuen, Rusyidi Mukhtar atau yang akrab disapa Ceulangiek, turut mengunjungi warga yang berteduh di bawah tenda tersebut.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi para korban bencana yang masih harus bertahan di tenda pengungsian. Karena itu, ia mendesak Presiden Prabowo Subianto serta Pemerintah Aceh, termasuk Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, untuk segera merespons kebutuhan hunian sementara bagi para korban.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi korban bencana di Kabupaten Bireuen. Mereka butuh hunian, tidak mungkin berlarut di tenda, kami mohon kepada Pemerintah Aceh untuk peduli terhadap mereka agar segera dibangun huntara,” ujarnya.

Salah seorang korban banjir, Jamilah, mengatakan bahwa pendirian tenda di halaman kantor bupati dilakukan untuk menuntut kepastian atas janji yang sebelumnya disampaikan oleh pemerintah daerah.

“Sekarang ada kejelasan dari bupati, sekarang kami pulang. Kalau tidak selamanya kami bertenda di sini,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan M. Amin, korban banjir yang juga merupakan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia mengaku sedih dengan kondisi yang dialami para korban dan berharap pemerintah segera memberikan perhatian.

“Kami mohon kepada Gubernur Aceh agar membangun hunian sementara. Saya eks kombatan GAM, tolong diperhatikan, kami butuh bantuan pemerintah Aceh, karena di Bireuen tidak diusulkannya huntara untuk kami,” jelasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Kemenag Aceh Besar Salurkan 300 Paket Sembako Lewat Program Selasar Lintas Agama x Joyful Ramadan

0
Kemenag Aceh Besar Salurkan 300 Paket Sembako Lewat Program Selasar Lintas Agama x Joyful Ramadan (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JANTHO – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar menyalurkan 300 paket sembako kepada masyarakat fakir miskin dalam rangka menyukseskan program Selasar Hangat Lintas Agama x Joyful Ramadan.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (12/3/2026).

Program nasional bertema Indonesia Berdaya Melalui Tebar Harapan Ramadhan (THR) itu dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah di Indonesia dan terhubung secara virtual.

Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem sekaligus memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam penguatan zakat, infak, dan sedekah selama bulan Ramadan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H Saifuddin SE, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian Kementerian Agama terhadap masyarakat yang membutuhkan, khususnya pada momentum bulan suci Ramadan.

“Melalui program ini, kita ingin menghadirkan semangat berbagi dan kepedulian antar sesama,” ujarnya.

Saifuddin, yang akrab disapa Yahwa, menambahkan kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama untuk menumbuhkan nilai kebersamaan sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Untuk penyaluran di Aceh Besar, setiap paket bantuan berisi sejumlah kebutuhan pokok, seperti beras 10 kilogram, gula pasir 2 kilogram, serta minyak goreng 2 liter.

“Semoga santunan ini dapat membantu meringankan beban kebutuhan sehari-hari para mustahik,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Aceh Besar Yasmaidar, Kepala Subbagian Tata Usaha Azzahri, Kasi Bimas Islam Khalid Wardana, Kasi Pendidikan Madrasah Suryadi, Kasi Pendidikan Agama Islam Muhammad, Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ikhram, serta Penyelenggara Zakat dan Wakaf Munandar.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Soroti Anggaran untuk Korban Bencana, Martini: DPRA Bukan Tempat Melindungi Mafia dan Bandit”

0
martini
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi NasDem, Martini. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi NasDem, Martini, melontarkan kritik tajam terhadap lembaganya sendiri dalam Rapat Paripurna DPRA di Banda Aceh, Rabu (11/3/2026).

Dalam forum resmi tersebut, Martini menyatakan bahwa DPRA seharusnya tidak menjadi tempat yang melindungi kepentingan kelompok tertentu.

“DPRA bukan tempat melindungi mafia dan bandit. Juga bukan milik pribadi atau kelompok,” katanya saat menyampaikan pandangan di hadapan anggota dewan lainnya.

Politisi perempuan dari daerah pemilihan (Dapil) Aceh Timur itu menyampaikan kritiknya dengan nada emosional hingga sempat menangis. Ia mempertanyakan keberpihakan lembaga legislatif Aceh terhadap masyarakat yang terdampak banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025 lalu.

Menurut Martini, selama bencana tersebut terjadi, ia tidak melihat langkah nyata dari institusi DPRA dalam mendorong kebijakan maupun alokasi anggaran bagi korban.

“Selama banjir ini saya tidak melihat ada pergerakan dari lembaga DPRA. Kami kecewa. Sebagai wakil rakyat yang duduk di sini, saya merasa tidak ada keberpihakan anggaran terhadap korban banjir dan longsor,” ujarnya di hadapan forum Paripurna DPRA.

Ia juga mengingatkan bahwa DPRA merupakan lembaga yang memiliki marwah dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Mohon dibenah DPRA ini lembaga bermarwah. Maaf pak jangan dipotong, APBA adalah untuk rakyat bukan uang milik pejabat,” tegas Martini saat sempat memprotes pimpinan sidang yang hendak memotong penyampaiannya.

Dalam pidatonya, Martini menggambarkan kondisi masyarakat korban bencana yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan keterbatasan kebutuhan dasar.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat kontras dengan situasi para pejabat yang membahas anggaran di ruang rapat yang nyaman.

“Hari ini kita duduk di ruangan ber-AC, sementara masyarakat kita di bawah tenda makan seadanya. Bahkan uang jajan anak saja tidak ada,” katanya.

Selain itu, Martini juga menyoroti kebijakan pemotongan sejumlah anggaran bantuan rumah bagi korban bencana oleh Pemerintah Aceh. Ia menilai kebijakan tersebut justru memperburuk kondisi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir dan longsor.

Sebagai lembaga yang memiliki fungsi pengawasan terhadap anggaran, Martini menilai DPRA seharusnya memastikan setiap penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat, terutama dalam situasi darurat.

Ia juga mengingatkan agar lembaga legislatif tersebut tidak terjebak dalam kepentingan kelompok tertentu yang dapat memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat.

“DPRA ini lembaga terhormat yang dipilih oleh lebih dari lima juta masyarakat Aceh. Karena itu satu rupiah pun dari anggaran harus memihak kepada rakyat,” ujarnya.

Martini menegaskan bahwa APBA pada dasarnya merupakan uang milik masyarakat Aceh yang harus dikelola secara transparan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan publik, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi bencana.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Wakil Wali Kota Banda Aceh Safari Ramadan ke Masjid Baitul Makmur Blower

0
Wakil Wali Kota Banda Aceh Safari Ramadan ke Masjid Baitul Makmur Blower (Foto: Humas BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah memimpin tim Safari Ramadan Pemerintah Kota Banda Aceh ke Masjid Baitul Makmur di Gampong Sukaramai (Blower), Rabu (11/3/2026) malam.

Masjid yang berada tidak jauh dari Kerkhof atau kompleks pemakaman Belanda tersebut menjadi masjid kesembilan dari total 12 masjid yang masuk dalam agenda Safari Ramadan Pemko Banda Aceh tahun ini.

Dalam kesempatan itu, Afdhal turut menyerahkan bantuan dana kemakmuran masjid sebesar Rp15 juta. Selain itu, Bank Aceh Syariah juga menyalurkan bantuan berupa ambal masjid, kurma, dan air mineral untuk kebutuhan jamaah selama bulan Ramadan.

Dalam sambutannya, Afdhal menyoroti pentingnya pengawasan bersama terhadap penggunaan gadget oleh anak-anak usia sekolah.

“Di era keterbukaan informasi dan digital saat ini, anak-anak kita sangat rentan menyerap konten-konten negatif tanpa filter. Salah satu akibatnya, anak menjadi kurang sopan kepada orang tua,” ujarnya.

Ia menegaskan Pemerintah Kota Banda Aceh berkomitmen untuk mengatasi persoalan tersebut melalui berbagai program dan kebijakan.

“Kami juga perlu dukungan besar dari perangkat gampong serta semua unsur masyarakat,” tambahnya.

Turut mendampingi Wakil Wali Kota dalam Safari Ramadan tersebut Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Jalaluddin bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kota Banda Aceh serta unsur pimpinan Bank Aceh Syariah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Bank Aceh Serahkan Zakat Karyawan Rp1,43 Miliar ke Baitul Mal Aceh

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT Bank Aceh Syariah (BAS) melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) menyalurkan zakat karyawan tahun 2026 sebesar Rp1,43 miliar kepada Baitul Mal Aceh serta Baitul Mal kabupaten/kota di seluruh Aceh.

Penyerahan zakat tersebut dilakukan secara resmi di Banda Aceh, Kamis (12/3/2026). Dana zakat yang dihimpun dari seluruh unit kerja Bank Aceh di berbagai daerah itu diharapkan dapat disalurkan kepada para mustahik atau penerima zakat secara tepat sasaran.

Direktur Utama Bank Aceh Syariah, Fadhil Ilyas, mengatakan penyaluran zakat tersebut merupakan amanah dari seluruh karyawan Bank Aceh yang dikumpulkan melalui Unit Pengumpul Zakat.

“Alhamdulillah, hari ini kami kembali menunaikan amanah dari seluruh karyawan Bank Aceh,” kata Fadhil.

Ia menjelaskan, dari total zakat yang terkumpul sebesar Rp1,43 miliar, sebanyak Rp450 juta disalurkan ke Baitul Mal Aceh. Sementara sisanya didistribusikan ke Baitul Mal kabupaten/kota melalui kantor cabang Bank Aceh di masing-masing daerah.

Menurut Fadhil, penyaluran zakat ini bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi juga merupakan bentuk ketaatan karyawan Bank Aceh dalam menjalankan kewajiban sebagai umat Islam.

“Kami berharap sinergi dengan Baitul Mal ini dapat menjadi katalisator dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan umat di Aceh maupun luar Aceh,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun Bank Aceh terus melakukan ekspansi secara nasional, komitmen terhadap nilai-nilai keislaman serta kepedulian terhadap masyarakat Aceh tetap menjadi prioritas.

Melalui penyaluran zakat tersebut, Bank Aceh juga berharap hubungan antara institusi perbankan dan lembaga pengelola zakat pemerintah dapat semakin erat dan harmonis.

Ke depan, Bank Aceh berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan ekonomi syariah yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Selain itu, Bank Aceh juga mendorong masyarakat dan nasabah untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui layanan digital yang tersedia.

“Sejalan dengan semangat transparansi dan kemudahan dalam beribadah, Bank Aceh juga terus mendorong masyarakat dan nasabah setia untuk menunaikan kewajiban zakat, infak, dan sedekah melalui fitur-fitur digital unggulan,” katanya.

Fadhil menjelaskan, nasabah kini dapat menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah melalui aplikasi Action Mobile Banking tanpa harus datang langsung ke kantor bank atau lembaga terkait.

“Prosesnya sangat cepat, aman, dan langsung terhubung dengan rekening Baitul Mal yang telah bekerja sama dengan kami,” ujarnya.

Melalui fitur tersebut, nasabah cukup masuk ke menu layanan di aplikasi Action Mobile, memilih menu ZIS, lalu memasukkan nominal dana yang ingin disalurkan.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Bank Aceh dalam mendorong digitalisasi ekosistem syariah di Aceh.

Sementara itu, Ketua Baitul Mal Aceh, Tgk Muhammad Yunus M Yusuf, menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan Bank Aceh yang telah menyalurkan zakat melalui lembaga tersebut.

“Terima kasih kepada Bank Aceh yang telah menyalurkan zakat karyawan kepada Baitul Mal untuk disalurkan kepada masyarakat yang berhak,” demikian Tgk M Yunus.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

1.954 Warga Korban Bencana di Aceh Timur Masih Bertahan di Pengungsian

0
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Alfarlaky berdialog dengan pengungsi banjir di Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Selasa (2/12/2025). (FOTO: Pemkab Aceh Timur)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebanyak 1.954 jiwa dari 601 keluarga korban bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Timur hingga kini masih berada di lokasi pengungsian.

Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mengatakan para warga tersebut merupakan korban bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025.

“Hingga saat ini, ada sebanyak 601 keluarga dengan 1.954 jiwa masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi yang terjadi akhir November 2025 masih berada di pengungsian,” kata Iskandar Usman Al-Farlaky saat dihubungi dari Banda Aceh, Kamis (12/3/2026).

Ia menyebutkan para pengungsi tersebar di 13 titik yang berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Pante Bidari, Kecamatan Serbajadi, dan Kecamatan Simpang Jernih.

Lokasi pengungsian terbanyak berada di Kecamatan Pante Bidari dengan tujuh titik yang tersebar di empat gampong. Di Gampong Sah Raja terdapat tiga titik pengungsian dengan jumlah 712 jiwa dari 239 keluarga.

“Di Gampong Sah Raja ada tiga titik pengungsian yakni di Dusun Pureng, Dusun Sarah Gala, dan Dusun Sarah Raja. Para pengungsi tersebut mengungsi mandiri di tenda keluarga,” katanya.

Selain itu, terdapat satu titik pengungsian di Gampong Pante Labu dengan 39 jiwa dari 10 keluarga yang mengungsi di meunasah Dusun Bahagia.

Kemudian di Gampong Alue Ie Mirah terdapat satu titik pengungsian dengan 18 jiwa dari lima keluarga. Sementara di Gampong Sijudo terdapat dua titik pengungsian dengan total 160 jiwa dari 40 keluarga yang mengungsi secara mandiri di tenda.

Di Kecamatan Serbajadi, pengungsi tersebar di lima titik. Di Dusun Karang Kuda, Gampong Bunin terdapat 372 jiwa dari 100 keluarga yang mengungsi.

“Satu titik pengungsian di Dusun Peukan Lokop, Gampong Lokop, dengan jumlah pengungsi sebanyak 47 jiwa dari 27 keluarga. Warga terdampak mengungsi di kantor kepala desa setempat,” katanya.

Selanjutnya, di Dusun Bugak, Gampong Sunti terdapat 187 jiwa dari 50 keluarga yang mengungsi di Balai Adat Desa Sekualan.

Kemudian di Gampong Umah Taring terdapat 180 jiwa dari 55 keluarga yang mengungsi di SD Loot Jering. Sementara di Gampong Ujung Karang terdapat 18 jiwa dari lima keluarga yang mengungsi secara mandiri di tenda keluarga di Dusun Tembolon.

“Sedangkan di Kecamatan Simpang Jernih ada satu titik pengungsian di Gampong Ranto Panjang dengan pengungsi sebanyak 221 jiwa dari 70 keluarga. Mereka mengungsi dengan membangun rumah darurat,” kata Iskandar Usman Al-Farlaky.

Sumber: ANTARA

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Gerindra Aceh Serahkan Bantuan bagi Korban Banjir dan Anak Yatim di Pidie Jaya

0
Ketua DPD Gerindra Aceh, Fadhlullah menyerahkan bantuan untuk korban banjir di Pidie Jaya, Kamis. (FOTO: Gerindra Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – DPD Partai Gerindra Aceh menyalurkan bantuan bagi korban banjir dan santunan untuk anak yatim di Kabupaten Pidie Jaya. Bantuan tersebut diberikan untuk meringankan beban masyarakat menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Ketua DPD Gerindra Aceh, Fadhlullah, mengatakan Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial kepada masyarakat, terutama mereka yang sedang menghadapi musibah.

“Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial. Kami ingin hadir di tengah masyarakat, khususnya saudara-saudara kita yang sedang menghadapi cobaan,” kata Ketua DPD Gerindra Aceh, Fadhlullah di Pidie Jaya, Kamis (12/3/2026).

Di sela kegiatan penyerahan bantuan dan santunan anak yatim, Fadhlullah menyebut Partai Gerindra berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat dengan memberikan dukungan moral maupun bantuan nyata bagi warga yang membutuhkan.

Kegiatan tersebut berlangsung di hunian sementara (huntara) Gedung MTQ Kabupaten Pidie Jaya. Dalam agenda itu, Fadhlullah yang juga Wakil Gubernur Aceh turut berbuka puasa bersama korban banjir dan longsor asal Pidie Jaya.

Ketua panitia pelaksana kegiatan, Mahfudz Y. Loethan, mengatakan pihaknya menyalurkan sejumlah bantuan kepada para penghuni huntara.

“Dalam kegiatan ini kami menyalurkan paket Lebaran untuk penghuni huntara, santunan anak yatim, serta wakaf Al-Qur’an dari Partai Gerindra,” katanya.

Mahfudz juga menyampaikan bahwa di tengah kesibukannya menjalankan tugas pemerintahan, Fadhlullah saat ini sedang menempuh pendidikan program pascasarjana di Universitas Syiah Kuala.

“Insya Allah, Pak Ketua DPD Gerindra yang juga Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, akhir tahun ini akan menyandang gelar Magister Manajemen di Universitas Syiah Kuala,” katar Mahfudz.

Sementara itu, Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan melalui kegiatan tersebut. Menurut dia, perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi dan partai politik, sangat berarti bagi masyarakat yang masih berupaya bangkit usai diterpa banjir.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Kunjungi Pidie Jaya, EVP Indosat Pastikan Kualitas Jaringan dan Program CSR Berjalan Optimal

0
EVP – Head of Circle Sumatra Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio di Meunasah Kulam, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Rabu 11 Maret 2026. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Pidie Jaya — Indosat Ooredoo Hutchison mengunjungi dua meunasah di Kabupaten Pidie Jaya yang telah direhabilitasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bertajuk “Surau Kita Berdaya” dalam rangka Indosat Berkah Ramadan. 

Kunjungan dipimpin langsung oleh EVP – Head of Circle Sumatra Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio beserta rombongan, pada Rabu 11 Maret 2026.

Dua meunasah yang dikunjungi adalah Meunasah Kulam di Desa Meunasah Kulam, Kecamatan Meurah Dua, serta Meunasah Blang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu. Keduanya merupakan bagian dari 13 meunasah yang menjadi sasaran program CSR Indosat di Aceh.

Agus Sulistio mengatakan, program Surau Berdaya tidak hanya sekadar memberikan bantuan, tetapi dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Program yang kita konsepkan sebagai tagline Surau Berdaya ini bukan hanya program CSR biasa atau sekadar bantuan, tetapi program yang memberikan impact nyata ke masyarakat,” kata Agus kepada Nukilan di sela-sela kunjungannya di Pidie Jaya.

Ia menjelaskan, program tersebut berfokus pada renovasi surau atau meunasah yang terdampak bencana agar kembali menjadi tempat ibadah yang layak. Selain perbaikan fisik bangunan, Indosat juga menyediakan berbagai perlengkapan ibadah seperti sajadah, Al-Qur’an, dan fasilitas pendukung lainnya.

“Harapannya masyarakat bisa lebih nyaman beribadah dan menjadikan surau sebagai tempat berkumpul secara sosial yang produktif bagi masyarakat,” ujarnya.

Di Provinsi Aceh, kata Agus, terdapat 13 meunasah yang menjadi sasaran program ini. Lokasinya tersebar di beberapa daerah, yakni Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Tengah.

“Kita targetkan seluruh program ini selesai selama bulan Ramadan. Jadi kalau terealisasi sesuai rencana, 100 persen sudah selesai dalam bulan ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, proses renovasi dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing lokasi. Untuk memastikan kebutuhan tersebut, Indosat bekerja sama dengan Filantra sebagai mitra dalam melakukan asesmen terhadap kondisi bangunan dan fasilitas surau sebelum dilakukan renovasi.

Selain program CSR, Agus juga memastikan bahwa kualitas jaringan Indosat di wilayah terdampak bencana telah pulih sepenuhnya.

“Kualitas jaringan sudah 100 persen recover. Kami juga berkomitmen untuk terus melakukan investasi di Provinsi Aceh agar konektivitas masyarakat semakin baik,” katanya.

Sementara itu, Geuchik Gampong Meunasah Kulam, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Baharuddin, mengapresiasi bantuan yang diberikan Indosat kepada masyarakat desa. Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu memperindah meunasah sekaligus mendukung kegiatan keagamaan masyarakat.

“Dengan adanya bantuan dari Indosat, alhamdulillah meunasah kami sekarang terlihat lebih indah. Anak-anak juga terbantu dengan adanya bantuan iqra dan Al-Qur’an untuk belajar mengaji,” ujarnya.

Ia menyebutkan bantuan yang diterima antara lain pengecatan surau, sajadah, Al-Qur’an, iqra untuk anak-anak, sarung, serta kegiatan buka puasa bersama selama tiga hari yang seluruh biayanya ditanggung oleh Indosat.

“Harapan kami ke depan, program seperti ini bisa terus berlanjut dan tidak berhenti sampai di sini saja,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan Geuchik Gampong Meunasah Blang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Ia menyampaikan terima kasih atas kepedulian Indosat dalam membantu pemulihan sarana ibadah di desanya.

Menurutnya, sebelum direnovasi, meunasah di desa tersebut sempat terdampak banjir bandang yang menyebabkan air dan lumpur masuk hingga ke dalam bangunan dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter. Akibatnya, sejumlah fasilitas seperti sajadah, mikrofon, dan peralatan audio rusak karena terendam banjir.

“Alhamdulillah, dengan bantuan dari Indosat, meunasah kami kini telah direnovasi melalui pengecatan bagian luar dan dalam, termasuk fasilitas tempat wudu. Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap bantuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi warga serta menjadi amal kebaikan bagi pihak perusahaan, terutama karena diberikan pada bulan suci Ramadan.

“Semoga apa yang diberikan oleh Indosat membawa berkah bagi semua pihak,” tutupnya.

Reporter: Rezi

FISIP USK Akan Buka Prodi HI, Terima 80 Mahasiswa Angkatan Perdana

0
Kampus FISIP USK (FOTO: USK)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK) berencana membuka Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI). Program studi baru ini ditargetkan dapat menerima sekitar 80 mahasiswa untuk angkatan pertama.

Pembukaan Prodi HI tersebut bertujuan mencetak lulusan yang mampu berkiprah di bidang hubungan internasional, termasuk menjadi diplomat yang dapat memperluas jaringan kerja sama Aceh dan Indonesia dengan berbagai negara di dunia.

Untuk mendukung operasional program studi tersebut, FISIP USK telah menyiapkan tiga dosen dengan latar belakang keilmuan Hubungan Internasional yang akan menjadi dosen tetap (home base). Selain itu, pihak fakultas juga menyiapkan berbagai strategi promosi guna memperkenalkan Prodi HI kepada masyarakat.

Promosi tersebut akan dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari media massa, jaringan institusi, hingga media internal kampus seperti podcast.

Mengutip Detakusk.com, Dekan FISIP USK, Prof. Dr. Mahdi Syahbandir, S.H., M.Hum., mengatakan kehadiran Prodi Hubungan Internasional diharapkan dapat melahirkan lulusan yang mampu bekerja di berbagai bidang yang berkaitan dengan hubungan antarnegara.

“Kita berharap banyak alumni HI nantinya bisa menjadi diplomat yang bekerja di luar negeri dan menjalin hubungan baik antara Indonesia dengan dunia internasional. Termasuk memperluas jaringan Aceh dengan luar negeri dalam rangka memajukan Aceh dan Indonesia,” ungkapnya.

Ia menambahkan, rencana pembukaan Prodi HI juga telah mendapat dukungan dari pimpinan universitas. Meski demikian, pihak fakultas masih menunggu Surat Keputusan (SK) dari Lembaga Akreditasi Mandiri Sosial-Politik, Administrasi, dan Komunikasi (LAM-SPAK) sebagai syarat resmi pembukaan program studi tersebut.

“Kita sebenarnya sudah disetujui untuk akreditasi minimal, tetapi masih menunggu keluarnya SK. Setelah SK itu keluar, barulah kita bisa menerima mahasiswa,” tambahnya.

Di akhir wawancara, Mahdi Syahbandir juga menyampaikan harapannya kepada calon mahasiswa agar dapat memanfaatkan peluang hadirnya program studi baru tersebut.

“Kita mengharapkan lulusan-lulusan terbaik dapat menggunakan peluang ini agar nanti mereka bisa menjadi sarjana Hubungan Internasional yang mampu berkiprah di dunia internasional dan membawa nama baik FISIP USK serta Aceh,” pungkasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Syariat Islam di Aceh: Kesadaran atau Keterpaksaan?

0
Ilustrasi cambuk (Foto: Pinterest)

NUKILAN.ID | OPINI – Aceh, apa yang tergambar olehmu saat pertama kali mendengar nama “Aceh”? Kesultanan dengan gelar Darussalam-nya kah? Cerita-cerita heroistik dengan gelar Aceh pungoe-nya kah? Kisah-kisah pilu dari musibah tsunami-nya kah? Atau keislaman dengan gelar “Serambi Mekkah”nya?

Aceh, ia telah berumur lebih dari 800 tahun. Jauh sebelum Indonesia lahir, imperium Aceh telah berhasil menjadi 5 imperium terbesar pada saat itu. Saat hampir seluruh wilayah Nusantara dikuasai Belanda, Aceh adalah salah satu wilayah yang tidak bisa dikuasai Belanda. Namun, itu dulu, dulu sekali.

Aceh dewasa kini lebih dikenal dengan syariat Islamnya cambuk, Wilayatul Hisbah (WH), jilbab, adalah sederet hal yang akan tergambar dalam kepala generasi saat ini saat mendengar kata “Aceh”.

Media sosial yang ada di Aceh pun kerap menampakkan berita-berita tentang razia pakaian syar’i, penggerebekan rumah makan saat bulan puasa, dan foto-foto dokumentasi mereka yang dicambuk akibat meminum khamar dan berzina.

Saya ingin bertanya (dengan nada lembut), apakah syariat Islam hanya terletak pada simbol-simbol tersebut? Santai, jangan salah paham dulu dengan pertanyaan saya ini. Saya tidak mengkiritik mentah-mentah, dan mengusulkan untuk menghapus hal-hal tersebut. Saya bertanya dengan kata “hanya”. Apakah syariat hanya terletak di situ?

Seingat saya, bab Jinayat ditulis dalam kitab Fikih pada halaman-halaman akhir. Fikih dimulai dengan cara bersuci, lalu dilanjutkan dengan ibadah, muamalat, dst. Bahkan sebelum belajar Fikih, kita diharuskan dulu untuk belajar ilmu Tauhid untuk mengenal Tuhan dan terlindungi dari syubhat-syubhat. Intinya adalah edukasi. Edukasi atau pendidikan adalah pondasi fundamental dalam berdirinya syariat Islam dimana pun itu.

Namun, hipotesa saya mengatakan-semoga saya salah-minimnya kepedulian pemerintah terhadap pendidikan sekarang, terlebih pendidikan agama. Salah satu faktor yang membuat kuatnya fanatisme masyarakat Aceh terhadap agama adalah bale-bale beut gampong. Di mana di bale-bale tersebut, masyarakat mengenal agama. Mulai dari hafal sifat 20, hingga belajar tata cara shalat dan puasa. Lalu kita lihat sekarang, hanya segelintir orang yang mengindahkan bale-bale tersebut.

Edukasi adalah hal terpenting yang mulai dilupakan. Setiap gampong punya teungku imeum, ia punya peran penting untuk mengedukasi masyarakat tentang agama. Bagaimana kalau pemerintah mengajak para teungku imeum untuk bekerja sama dalam rangka mengedukasi syariat Islam.

Memerintahkan para teungku imeum untuk mengajak bapak-bapak dan ibu-ibu supaya menyuruh anak-anak mereka meramaikan bale beut. Namun, pemerintah jangan hanya omong saja, melainkan juga mendukung mereka dari segi finansial, jok peng ke teungku, jok peng ke bale beut. Uang yang diberikan untuk mendidik generasi, saya rasa lebih bermanfaat dari uang yang diberikan hanya untuk dana pembuatan A atau B, yang ujung-ujungnya hanya menjadi simbol sahaja.

Di bulan Februari 2025, sebuah situs berita menuliskan sebuah judul dengan font ukuran besar: “ACEH MASUK 5 BESAR PENGGUNA JUDI ONLINE, KAGAMA ACEH: DARURAT MORAL”

Dikutip dari Dialeksis.com, “Provinsi Aceh menempati peringkat kelima nasional sebagai wilayah dengan akses situs judi online (judol) tertinggi sepanjang Februari 2025. Data ini diungkap Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Aceh melalui pantauan Google Trends, di mana pencarian kata kunci “judi online” di wilayah tersebut mencapai skor maksimal 100 Temuan ini memantik keprihatinan serius dari kalangan akademisi dan tokoh masyarakat.”

Apakah mengirimkan para mata-mata untuk menciduk para pelaku judi online ini menjadi solusi jangka panjang untuk memberantasnya? Saya rasa tidak. Lagi-lagi apa yang kita butuhkan? Yap, edukasi yang cukup.

Aceh sekarang mengalami darurat moral, darurat pendidikan, darurat ekonomi, ditambah dengan harga emas terus melambung tinggi yang membuat angka pernikahan turun. Aceh juga sedang darurat nikah–walau bukan itu yang sedang kita bicarakan sekarang.

Masyarakat membutuhkan edukasi agama yang layak, memberdayakan dayah-dayah dan tempat pengajian, bukan hanya memberikan dukungan berupa uang, namun juga bekerjasama untuk  meningkatkan kualitas para santri. Bukankah kita membutuhkan para santri yang berkualitas untuk menerapkan syariat dengan lebih baik?

Banyak hal-hal primer yang telah kita lupakan, banyak pondasi-pondasi syariat yang tidak lagi dipedulikan. Sampai kapan kita hanya berbangga dengan simbol-simbol, namun sejatinya masyarakat malah semakin merasa risih dengan hal-hal tersebut?

Mari sama-sama kita menilik sedikit sejarah kejayaan Islam di masa Abbasiyah, yang menjadi simbol pada saat itu adalah “ilmu pengetahuan”. Pemerintah mengeluarkan dana puluhan ribu dinar untuk membayar para guru, membuka ruang pustaka besar-besaran, membangun panggung-panggung debat dan memberikan baju kehormatan kepada para pendidik. Bukankah pendidikan adalah jantung dari syariat Islam?

Terakhir, sebelum menutup tulisan sederhana ini, di sebuah sudut kedai kopi di Aceh, saya mendengar suara kicauan, “aku berjilbab hanya karena aku di Aceh, coba kalau diluar aku udah ga pake jilbab.”

Jadi, apakah kita bersyariat karena kita di Aceh, atau kita bersyariat karena kita Muslim? apakah syariat hanya tinggal simbol?

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Penulis: Fudhail N. Huda, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, mahasiswa magister Akidah Filsafat Islam, UIN Sunan Kalijaga)