Beranda blog Halaman 413

Pemprov Aceh Kejar Realisasi APBA 35 Persen di Semester Pertama 2025

0
Pemprov Aceh Kejar Realisasi APBA 35 Persen di Semester Pertama 2025. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | Banda AcehPemerintah Aceh menargetkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2025 dapat menembus angka 35 persen pada akhir semester pertama. Target ini dicanangkan meskipun hingga 19 Mei, realisasi baru menyentuh angka 18,23 persen dari total pagu anggaran sebesar Rp11 triliun lebih.

Mudah-mudahan di semester pertama, itu 35 persen anggaran kita bisa terserap,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, di Banda Aceh, Selasa (20/5).

Dana Otsus Terlambat Cair, Realisasi Melambat

Berdasarkan data dari layar monitor Percepatan dan Pengendalian Kegiatan APBA (P2K-APBA), target serapan anggaran hingga 31 Mei 2025 berada di angka 29,36 persen. Artinya, dalam waktu kurang dari dua pekan, Pemprov harus menambah serapan sebesar lebih dari 10 persen untuk mengejar target semester.

Keterlambatan realisasi ini, menurut M Nasir, disebabkan oleh lambatnya pencairan dana transfer dari Pemerintah Pusat. Salah satu yang paling signifikan adalah dana otonomi khusus (Otsus) Aceh yang nilainya mencapai Rp4,3 triliun.

Otsus sudah cair dari tanggal 16 Mei. Sekarang sedang proses amprahan secara keseluruhan, ini lagi digarap supaya bisa percepatan realisasi,” ujarnya.

Langkah Cepat Ditempuh

M Nasir menyebutkan bahwa pencairan dana tersebut langsung direspons cepat oleh Pemerintah Aceh. Sejak pekan lalu, seluruh proses amprahan mulai digarap secara menyeluruh agar percepatan penyerapan anggaran bisa tercapai sebelum akhir Mei.

Insya Allah akan terkejar (targetnya), untuk itu saya bersama teman-teman Bappeda dan BPKA truss bekerja keras siang malam. Realisasi kita kawal terus. Tetapi tetap harus sesuai (ketentuan berlaku),” demikian M Nasir.

Upaya Maksimal di Tengah Tantangan

Dengan kondisi yang ada, Pemprov Aceh berupaya keras mengejar ketertinggalan dalam waktu yang singkat. Upaya percepatan ini menjadi kunci untuk memastikan pembangunan di berbagai sektor tetap berjalan sesuai rencana.

Meski waktu terus menekan, Pemerintah Aceh optimistis target realisasi akan tercapai, terutama setelah anggaran besar seperti dana Otsus mulai mengalir. Kini, tinggal bagaimana pengelolaan dan penyalurannya bisa dieksekusi secara cepat namun tetap sesuai aturan.

Editor: Akil

Memilukan! Siswa SD di Aceh Timur Belajar Sambil Tengkurap

0
memilukan
Siswa SD di Aceh Timur Belajar Sambil Tengkurap. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK Pemandangan memilukan terlihat di SD Negeri Seuneubok Teungoh, Kecamatan Darul Ihsan, Aceh Timur. Sejumlah siswa tampak belajar sambil tengkurap di lantai karena tidak memiliki meja dan kursi yang layak.

Kondisi ini terjadi akibat rusaknya perabotan sekolah, terutama meja dan kursi, yang selama ini digunakan siswa. Bahkan, sebagian besar mebel telah tak layak pakai.

Menurut Kepala SD Negeri Seuneubok Teungoh, Nurul Fajri, situasi paling parah dialami siswa kelas satu dan dua. Mereka harus mengikuti proses belajar mengajar di ruangan tanpa alas, dengan posisi tengkurap sambil menulis.

Meja dan kursi sudah rusak. Yang ada pun, tidak layak pakai lagi. Akibatnya, anak-anak terpaksa tengkurap saat belajar. Kondisi ini menyebabkan beberapa anak mengeluh sakit punggung,” kata Nurul Fajri di Aceh Timur, Selasa (20/5).

Selain tidak nyaman, kondisi tersebut juga berdampak pada semangat belajar siswa. Bahkan, kegiatan belajar harus dilakukan secara bergantian karena keterbatasan ruang.

Lebih lanjut, Nurul menjelaskan bahwa keterbatasan ruang dan sarana membuat proses belajar harus diatur dengan sistem bergilir.

Usai kelas satu menyelesaikan proses belajar mengajar, barulah kelas dua masuk. Kemudian, siswa kelas dua menyapu lantai sebagai persiapan ruang belajar,” tambahnya.

Faktor utama penyebab kerusakan ini adalah banjir yang secara rutin melanda kawasan sekolah. Akibatnya, berbagai sarana dan prasarana, termasuk mebel, menjadi rusak berat dari tahun ke tahun.

Kami berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan memberikan perhatian serius agar anak-anak bisa belajar dengan layak dan bermartabat,” ujar Nurul Fajri.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Timur, Rizwan, membenarkan bahwa kerusakan meja dan kursi disebabkan oleh banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut.

Kami juga sudah turun langsung ke lokasi dan melihat sendiri kondisinya. Memang memprihatinkan, tidak ada kursi dan meja, siswa harus belajar di lantai,” kata Rizwan.

Namun, Rizwan mengakui bahwa hingga saat ini belum ada pengadaan baru untuk mengganti meja dan kursi tersebut. Salah satu alasan utamanya adalah keterbatasan anggaran.

Kami baru bisa mengusulkan anggaran pengadaan meja dan kursi serta lainnya untuk sekolah dasar tersebut pada perubahan anggaran sekitar Juni atau Juli 2025,” tambahnya.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di berbagai wilayah Aceh, bencana banjir memang kerap melumpuhkan aktivitas pendidikan. Namun, ketika anak-anak terpaksa belajar sambil tengkurap, maka jelas sudah bahwa intervensi serius tak bisa ditunda lagi.

Editor: Akil

Raih Akreditasi Unggul, Prodi Ilmu Kelautan USK Semakin Mantap Menatap Masa Depan

0
Gedung Rektorat Universitas Syiah Kuala. (Foto: USK)

NUKILAN.ID | BANDA ACEHProgram Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Syiah Kuala (USK), resmi meraih akreditasi unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan kampus, tetapi juga menegaskan kualitas pendidikan tinggi di bidang kelautan di Aceh.

Pencapaian ini menjadi penanda penting atas kualitas pendidikan, tata kelola, dan kontribusi keilmuan yang telah dikembangkan oleh Prodi Ilmu Kelautan selama ini,” kata Dekan FKP USK, Prof Muchlisin di Darussalam, Banda Aceh, Senin.

Sebagai informasi, akreditasi unggul tersebut berdasarkan Surat Keputusan BAN-PT No. 6483/SK/BAN-PT/Ak.KP/S/V/2025. Status ini berlaku sejak 14 Mei 2025 hingga 10 April 2029.

Bukti Nyata Inovasi dan Kolaborasi

Lebih lanjut, Prof Muchlisin menegaskan bahwa predikat unggul ini menunjukkan komitmen Prodi Ilmu Kelautan dalam berinovasi dan meningkatkan mutu secara berkelanjutan.

Ia mengatakan akreditasi unggul menjadi bukti nyata bahwa Prodi Ilmu Kelautan terus berinovasi dan meningkatkan mutu demi mencetak lulusan yang kompeten dan berdaya saing global.”

Menurutnya, pencapaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh unsur kampus. Mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni dan mitra strategis turut berkontribusi dalam perjalanan panjang ini.

Momentum Baru Menuju Keunggulan Global

Ini bukan akhir, melainkan momentum awal untuk terus berbenah dan melaju lebih jauh. FKP USK berkomitmen kuat untuk menjadi institusi pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berkontribusi nyata bagi pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan,” katanya.

Karena itu, akreditasi unggul menjadi dorongan bagi FKP USK untuk terus bergerak maju. Terlebih, tantangan pengelolaan sumber daya kelautan kian kompleks dan memerlukan pendekatan yang inovatif serta berorientasi pada keberlanjutan.

Pendidikan Kelautan yang Visioner

Tak hanya itu, Prof Muchlisin juga menyebutkan bahwa Prodi Ilmu Kelautan akan terus memperkuat posisinya sebagai pusat pendidikan kelautan yang visioner. Fokus mereka adalah pendidikan berbasis riset yang selaras dengan kebutuhan industri dan tantangan global ke depan.

Ia menambahkan program Studi Ilmu Kelautan terus memperkuat posisinya sebagai pusat pendidikan kelautan yang visioner, berbasis riset, dan relevan dengan kebutuhan industri serta tantangan global di masa mendatang.”

Sebagai penutup, ia menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah bekerja keras mewujudkan capaian ini.

Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah berkontribusi sehingga akreditasi unggul tersebut dapat tercapai,” katanya.

Editor: Akil

Sepeda Listrik Dilarang di Jalan Raya Aceh

0
Sepeda Listrik
Sepeda Listrik Dilarang di Jalan Raya Aceh. (Foto: Kredivo)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Penggunaan sepeda listrik di jalan raya resmi dilarang di seluruh wilayah Aceh. Kebijakan ini dikeluarkan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Aceh menyusul meningkatnya angka kecelakaan, termasuk insiden yang merenggut tiga korban jiwa.

Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kombes Pol. Muhammad Iqbal Alqudusy, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi melindungi pengguna jalan, khususnya anak-anak yang kerap mengendarai sepeda listrik tanpa pengawasan.

Di Aceh, sepeda listrik kami larang beroperasi di jalan raya karena belum tersedia jalur khusus sebagaimana diatur dalam regulasi nasional,” ungkap Iqbal saat dikutip dari Kompas.com pada Selasa (20/5/2025).

Risiko Tinggi di Jalan Raya Padat Kendaraan

Iqbal menjelaskan, karakteristik jalan di Aceh yang padat kendaraan bermotor membuat sepeda listrik sangat rentan mengalami kecelakaan. Menurutnya, perbedaan kecepatan antara sepeda listrik dan kendaraan bermotor menjadi faktor utama larangan ini diterapkan.

Larangan ini juga merespons situasi di lapangan, di mana banyak anak-anak yang mengendarai sepeda listrik tanpa mengenakan helm, belum cukup umur, dan tanpa pendampingan orang tua.

Ini sangat berbahaya,” tegasnya.

Belum Ada Jalur Khusus, Regulasi Sudah Ada

Sebetulnya, penggunaan sepeda listrik sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 45 Tahun 2020 tentang Kendaraan Tertentu dengan Penggerak Motor Listrik.

Dalam regulasi tersebut disebutkan bahwa kecepatan sepeda listrik dibatasi maksimal 25 km/jam. Selain itu, kendaraan ini wajib dilengkapi dengan lampu, reflektor, sistem rem, dan klakson. Pengguna juga diwajibkan memakai helm. Adapun batas usia pengguna minimal adalah 12 tahun, dan mereka yang berusia 12–15 tahun harus didampingi oleh orang dewasa.

Namun demikian, di Aceh belum tersedia jalur khusus untuk sepeda listrik sebagaimana yang diatur dalam regulasi nasional. Hal inilah yang menjadi alasan kuat larangan diberlakukan.

Penindakan Berdasarkan UU LLAJ

Meskipun Permenhub belum memuat sanksi khusus, Iqbal memastikan pelanggaran akan tetap ditindak. Aparat kepolisian akan menggunakan dasar hukum dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).

Tindakan hukum dapat berupa teguran, penyitaan kendaraan, hingga sanksi administratif. Hal ini dilakukan untuk memberi efek jera sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat.

Harapan untuk Pemerintah Daerah

Menutup keterangannya, Iqbal mengimbau masyarakat agar tidak lagi mengoperasikan sepeda listrik di jalan raya. Ia juga berharap pemerintah daerah dapat segera menyediakan jalur khusus sepeda, guna menjamin keselamatan pengguna sepeda maupun sepeda listrik.

Kami mengimbau masyarakat agar tidak mengoperasikan sepeda listrik di jalan raya, serta berharap pemerintah daerah untuk segera menyiapkan jalur khusus sepeda sesuai ketentuan agar keselamatan pengguna sepeda maupun sepeda listrik dapat terjamin,” pungkas Iqbal.

Editor: Akil

SEKATA: Langkah Mahasiswa PPL-PPG PPKn USK Ciptakan Sekolah Bebas Diskriminasi

0
SEKATA, Langkah Mahasiswa PPL-PPG PPKn USK Ciptakan Sekolah Ramah dan Bebas Diskriminasi. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kekerasan, diskriminasi, dan perundungan di lingkungan pendidikan Indonesia masih menjadi masalah serius. Beberapa kasus tragis kembali muncul dalam beberapa waktu terakhir. Misalnya, di Bekasi, seorang siswa sekolah dasar menjadi korban perundungan berat hingga harus diamputasi dan meninggal dunia. Di Sulawesi Selatan, seorang guru merendahkan siswanya karena pekerjaan orang tuanya sebagai petani. Sementara itu, di Tarakan, tiga siswa tidak naik kelas hanya karena menganut agama berbeda. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa perlindungan dan empati di lingkungan sekolah belum berjalan optimal.

Menanggapi persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa PPL-PPG Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Syiah Kuala (USK) meluncurkan program inovatif bernama SEKATA. Nama ini merupakan singkatan dari Sekolah Aman Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi. Program ini adalah bagian dari mata kuliah Design Thinking dalam PPG Calon Guru Gelombang II Tahun 2024 di USK. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang ramah, aman, serta bebas dari diskriminasi dan kekerasan.

SEKATA menekankan empat pilar utama. Pertama, pelatihan guru dan staf untuk mencegah kekerasan dan diskriminasi. Kedua, pengembangan kurikulum karakter yang menanamkan nilai toleransi dan empati. Ketiga, sistem pelaporan yang aman bagi siswa. Terakhir, komitmen bersama seluruh elemen sekolah untuk menciptakan suasana inklusif. Keempat pilar ini menjadi fondasi penting dalam membangun budaya sekolah yang sehat dan harmonis.

Ketua kelompok PPL-PPG Mapel PPKn USK, Munawir, S.Pd, menegaskan, “SEKATA bukan sekadar program, melainkan gerakan transformasi budaya sekolah yang mengedepankan hak-hak anak dan keberagaman sebagai kekuatan, bukan penghalang.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa SEKATA diharapkan menjadi pijakan bagi guru, tenaga kependidikan, dan seluruh pemangku kepentingan di sekolah. Tujuannya adalah menciptakan ruang belajar yang nyaman dan aman bagi semua siswa, tanpa diskriminasi.

Indah Nur Fernanda, S.Pd, menambahkan, “Senada dengan apa yang disampaikan ketua kami, Bang Awil. SEKATA menjadi wadah konkret untuk membangun kesadaran kolektif. Kami percaya perubahan besar dimulai dari sikap kecil yang menghargai perbedaan dan menolak segala bentuk kekerasan.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya partisipasi aktif seluruh komunitas sekolah dalam program ini.

Anggota lain seperti Warni Sasmita, S.Pd, Supira, S.Pd, dan Satria Hastuti, S.Pd, menyampaikan harapan besar. Mereka ingin agar komitmen yang tertanam dalam program SEKATA dapat tersampaikan ke seluruh guru hebat di Indonesia. Dengan begitu, semangat untuk menciptakan sekolah yang ramah dan inklusif bisa tersebar lebih luas.

Program SEKATA tidak hanya fokus pada perlindungan siswa. Melalui pelatihan intensif, penguatan kurikulum karakter, dan sistem pelaporan yang aman, program ini juga menanamkan nilai penting seperti saling menghargai dan solidaritas. Lebih dari itu, SEKATA mengedepankan kolaborasi antara guru, tenaga kependidikan, siswa, dan orang tua. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah budaya sekolah menjadi lebih inklusif dan penuh empati.

Dengan segala upaya tersebut, SEKATA diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia. Harapannya, langkah serupa dapat diadopsi demi mewujudkan pendidikan yang tidak hanya berkualitas secara akademis, tetapi juga sehat secara sosial dan emosional. Program ini membawa harapan bahwa setiap siswa dapat belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari diskriminasi serta kekerasan.

Kejari Banda Aceh Musnahkan Barang Bukti Narkotika Hingga Miras

0
Proses pemusnahan barang bukti di Halaman Kantor Kejaksaan Negeri Banda Aceh, pada Selasa 20 Mei 2025. (Foto: Dok. Kejari Banda Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh memusnahkan barang bukti dan barang rampasan dari perkara yang ditangani selama periode Desember 2024 hingga Mei 2025. Pemusnahan tersebut berlangung di halaman kantor Kejaksaan setempat, pada Selasa (20/5/2025).

Kepala Kejaksaan Negeri Banda Aceh, Suhendri menjelaskan pemusnahan barang bukti merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Kejari Banda Aceh sebagai tindak lanjut atas putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht).

“Pemusnahan ini juga merupakan upaya untuk menghindari adanya penyalahgunaan terhadap barang bukti yang tersimpan,” kata Suhendri dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nukilan.

Suhendri menyampaikan, pelaksanaan pemusnahan barang bukti dilaksanakan secara terbuka dan di tempat terbuka, sehingga masyarakat dapat melihat langsung apa saja barang bukti yang dimusnahkan, terutama jenis barang bukti.

Lebih lanjut, Suhendri merincikan, barang bukti yang dimusnahkan berasal dari 57 perkara, terdiri dari 41 perkara narkotika, 9 perkara keamanan dan ketertiban umum (Kamtibum/TPUL), dan 7 perkara hukum pidana umum (Oharda).

“Jenis barang bukti yang dimusnahkan antara lain narkotika jenis sabu seberat 238,57 gram (bruto), ganja seberat 418,73 gram (bruto), 13 unit handphone berbagai merek, 6 botol minuman keras/khamar, 3 buah tang/linggis, 1 pistol mainan, berbagai jenis pakaian, serta sejumlah alat hisap sabu (bong),” pungkanya.

Kegiatan pemusnahan tersebut dihadiri oleh jajaran Kasi dan staf Kejaksaan Negeri Banda Aceh, perwakilan dari Pengadilan Negeri Banda Aceh, perwakilan Wakil Ketua Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh, perwakilan Kapolresta Banda Aceh, dan BNNK (Badan Narkotika Nasional Kota) Banda Aceh.

Reporter: Rezi

Ekonomi Aceh Tumbuh 4,59 Persen di Triwulan I 2025, Diprediksi Terus Menguat

0
Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini didampingi oleh Deputi Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Hertha Bastiawan. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini mengungkapkan ekonomi Aceh menunjukkan tren positif pada triwulan I 2025 dengan pertumbuhan sebesar 4,59 persen (year-on-year), meningkat dari 4,15 persen pada triwulan sebelumnya.

“Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan I 2025 cukup baik. Kalau dibanding triwulan 4 tahun 2024, pertumbuhannya meningkat dari 4,15% menjadi 4,59%. Walaupun ada efisiensi yang ditetapkan pemerintah, ekonomi Aceh masih berjalan dengan baik,” kata Agus kepada Nukilan di Banda Aceh, Selasa (20/5/2025).

Berdasarkan data BPS yang disampaikan oleh Chusaini, pertumbuhan ekonomi Aceh didorong oleh meningkatnya kinerja Lapangan Usaha (LU) pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran. Hal ini tercermin pada peningkatan ekspor barang dan jasa serta konsumsi rumah tangga di Aceh.

“Konsumsi masyarakat juga tercatat masih cukup baik dengan kontribusi sekitar 55 persen terhadap perekonomian Aceh,” tambahnya.

Menurutnya, perekonomian Aceh akan tetap tumbuh kuat pada triwulan berikutnya, selama tidak terjadi gejolak besar seperti ketegangan geopolitik yang bisa berdampak pada sektor ekspor. Sejauh ini, kata Agus, ekspor batubara dan kopi masih menunjukkan kinerja positif.

“Kalau kita melihat ke triwulan berikutnya, saya rasa di triwulan II akan lebih tinggi dibanding triwulan I. Ekspor tetap cukup baik, konsumsi juga masih baik, dan pertanian juga baik dengan cuaca yang mendukung,” tambah Chusaini.

Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, Kepala BI menekankan pentingnya mendorong masuknya investasi di Aceh mengingat tingkat kemiskinan di provinsi tersebut masih cukup tinggi dibandingkan provinsi lain.

“Investasi sangat penting untuk menciptakan lapangan kerja baru dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kami berharap investasi yang masuk bisa memanfaatkan potensi ekonomi Aceh secara optimal,” pungkasnya. 

Reporter: Rezi

DEMA FSH UIN Ar-Raniry Audiensi dengan DPRK Banda Aceh

0
DEMA FSH UIN Ar-Raniry Audiensi dengan DPRK Banda Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menjelang pelaksanaan agenda strategis Upgrading dan Rapat Kerja (Raker), Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (DEMA FSH) UIN Ar-Raniry menggelar audiensi dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Tuanku Muhammad. Pertemuan ini berlangsung pada Selasa, 20 Mei 2025, di ruang kerja politisi yang juga dikenal sebagai tokoh muda tersebut.

Menariknya, audiensi ini turut didampingi oleh kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Hasan Tiro. Kolaborasi ini menjadi langkah awal yang kuat untuk membangun komunikasi lintas organisasi serta menjaring dukungan dari para pemangku kepentingan.

Ketua DEMA FSH, Razif Al Farisy, menjelaskan maksud kedatangan mereka. Ia menekankan bahwa kegiatan Upgrading dan Raker yang akan dilaksanakan pada 21 Mei 2025 merupakan titik awal dari berbagai program jangka panjang yang tengah dirancang.

Insyaallah DEMA FSH akan melaksanakan upgrading sekaligus rapat kerja pada 21 Mei 2025, dan banyak agenda ke depannya yang tentu butuh dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari lembaga legislatif daerah,” ujar Razif.

Selain itu, kegiatan ini diharapkan menjadi pemicu semangat baru bagi seluruh pengurus untuk memperkuat kapasitas kelembagaan serta meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet DEMA FSH, M. Ikram Al Ghifari, menambahkan bahwa audiensi ini bukan sekadar bentuk silaturahmi. Lebih dari itu, ini adalah langkah strategis untuk membangun sinergi antara mahasiswa dan wakil rakyat dalam mewujudkan kepemimpinan yang lebih responsif dan berintegritas.

Kami berharap melalui audiensi ini, DEMA FSH mampu merumuskan program kerja yang tidak hanya bermanfaat bagi civitas akademika, tetapi juga berdampak bagi masyarakat luas, khususnya dalam bidang keagamaan, hukum, dan sosial kemasyarakatan,” ujar Ikram.

Dengan menyasar isu-isu publik dan kemasyarakatan, DEMA FSH ingin menghadirkan program yang relevan dan solutif, tidak sekadar seremonial kampus semata.

Di sisi lain, Tuanku Muhammad memberikan apresiasi atas semangat mahasiswa yang terus menunjukkan inisiatif dan keberanian berdialog dengan para pengambil kebijakan. Ia menilai, gerakan mahasiswa yang bersentuhan langsung dengan masyarakat akan menjadi aset penting bagi pembangunan daerah.

Semangat adik-adik DEMA FSH patut diapresiasi. Mahasiswa harus menjadi pelopor gerakan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Tuanku Muhammad.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi rakyat secara konstruktif. Oleh karena itu, sinergi antara kampus dan parlemen lokal perlu terus dijaga.

Pertemuan ini kemudian ditutup dengan komitmen kedua belah pihak untuk menjaga hubungan yang produktif dan saling mendukung. Tujuannya jelas: mewujudkan visi gerakan mahasiswa yang progresif, solutif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Melalui audiensi seperti ini, DEMA FSH menunjukkan keseriusannya dalam menjalin komunikasi lintas sektor. Hal tersebut menjadi modal penting dalam membangun gerakan mahasiswa yang adaptif dan relevan di tengah perubahan zaman.

Editor: Akil

Kloter 3 Jemaah Haji Aceh Diberangkatkan ke Tanah Suci

0
Ilustrasi Pesawat Garuda yang membawa Kloter 3 Jemaah Haji Aceh. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Sebanyak 392 jemaah haji asal Aceh yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) BTJ-03 embarkasi Aceh resmi diberangkatkan ke Arab Saudi pada Selasa siang, 20 Mei 2025. Keberangkatan ini menjadi bagian dari rangkaian pemberangkatan haji tahun ini yang berlangsung secara bertahap dari Aceh.

Pesawat Garuda Indonesia yang membawa rombongan jemaah tersebut mulai bergerak mundur ke taxiway pada pukul 13.45 WIB. Setelah itu, pesawat lepas landas menuju Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, Arab Saudi.

Didominasi Jemaah Perempuan

Menurut Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari, kloter BTJ-03 terdiri atas 165 jemaah laki-laki dan 227 jemaah perempuan. Jumlah tersebut termasuk empat petugas kloter dan tiga petugas haji daerah yang akan mendampingi mereka selama menjalani ibadah haji.

Para jemaah berasal dari tiga kabupaten/kota di Aceh, yakni Bener Meriah sebanyak 179 orang, Aceh Tengah 164 orang, dan Banda Aceh 42 orang.

Tiga Jemaah Gagal Berangkat

Meskipun rencana awal mencatat 393 jemaah, namun hanya 392 kursi yang terisi. Hal ini terjadi karena tiga jemaah dinyatakan batal berangkat. Dua di antaranya berasal dari Bener Meriah dan satu dari Aceh Tengah.

Seat-nya digantikan jemaah kloter 12 yang berasal dari Banda Aceh. Yang dari Aceh Tengah sudah di asrama tapi harus dirujuk ke rumah sakit, jadi tidak sempat kita gantikan,” kata Azhari.

Salah satu jemaah dari Bener Meriah batal berangkat karena kondisi kesehatan sebelum masuk ke asrama haji. Akibatnya, pendamping yang seharusnya turut berangkat juga dibatalkan keberangkatannya.

Dilepas oleh Wakil Bupati Bener Meriah

Sehari sebelumnya, tepatnya Senin malam, 19 Mei 2025, pelepasan jemaah dilakukan secara resmi oleh Wakil Bupati Bener Meriah, Armia. Ia hadir langsung ke lokasi untuk menyampaikan doa dan dukungannya kepada para tamu Allah tersebut.

Diperkirakan, jemaah kloter BTJ-03 akan tiba di Jeddah pada malam yang sama, sekitar pukul 22.00 waktu setempat.

Editor: AKil

Kuliah di USK, Mahasiswi Asal Myanmar Ini Jatuh Hati pada Budaya Aceh

0
Htet Eaint Khine, Mahasiswi USK asal Myanmar. (Foto: KabarAktual)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Ketertarikan terhadap budaya Indonesia, khususnya bahasa dan kehidupan masyarakat Aceh, membawa Htet Eaint Khine, mahasiswi asal Myanmar, ke Banda Aceh. Melalui program Beasiswa Darmasiswa, Htet memilih Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai tempat menimba ilmu sekaligus menjelajahi kekayaan budaya lokal.

Menariknya, keputusan Htet bukan tanpa alasan. Ia punya prinsip kuat dalam menentukan pilihan dan tidak mudah terpengaruh informasi yang sudah tersaji di media sosial.

Saya ingin melihat sisi lain Indonesia yang jarang terekspos media sosial. Sumatra, khususnya Banda Aceh, menawarkan kekayaan budaya dan keindahan alam yang luar biasa,” ujar Htet, Selasa (20/5/2025).

USK Jadi Pilihan karena Reputasi

Lebih lanjut, Htet menjelaskan bahwa USK dipilih karena merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Aceh. Selain itu, kampus ini memiliki program akademik yang ramah bagi mahasiswa internasional. Tak hanya belajar Bahasa Indonesia, ia juga ingin memperdalam pemahaman tentang budaya lokal yang unik dan berakar kuat pada tradisi.

Setibanya di Banda Aceh, kesan pertama yang ia rasakan adalah suasana damai dan keramahan masyarakat. Meskipun ia seorang penganut Buddha, Htet mengamati secara terbuka bagaimana kehidupan masyarakat Aceh sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam.

Saya sangat terkesan dengan bagaimana nilai-nilai Islam begitu terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari di sini,” ujarnya.

Tantangan Bahasa dan Aksen Lokal

Dalam proses belajar, tentu ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah pengucapan serta memahami berbagai aksen lokal yang cukup beragam. Meski begitu, Htet justru mengapresiasi struktur Bahasa Indonesia yang menurutnya cukup sederhana dan fleksibel.

Bahasa Indonesia fleksibel dan tidak terlalu rumit secara tata bahasa, membuat saya lebih percaya diri untuk mengekspresikan diri,” tuturnya.

Perkembangan kemampuannya semakin terasa ketika ia berhasil menulis esai budaya untuk ujian. Pada awalnya, ia merasa kesulitan menyampaikan ide secara jelas. Namun, kini ia bisa menulis dengan lancar dan penuh percaya diri.

Awalnya sulit menyampaikan ide dengan jelas, tetapi kini saya bisa menulis dengan lancar dan percaya diri,” kata Htet.

Merayakan Idul Fitri dan Mengenal Tradisi Aceh

Selain mengikuti perkuliahan, Htet juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya. Ia kerap berinteraksi dengan mahasiswa lokal dan warga sekitar. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat merayakan Idul Fitri di Banda Aceh.

Perayaan Idul Fitri di sini sangat berbeda dengan di Myanmar. Saya kagum dengan tradisi khas Aceh, seperti salam-salaman dan pertemuan masyarakat. Ini memperkaya perspektif saya tentang hubungan antara agama dan budaya,” ungkapnya.

Kagum pada Kuliner dan Keramahan Warga

Tidak hanya budaya, kekayaan kuliner dan keindahan alam Aceh juga meninggalkan kesan mendalam bagi Htet. Ia menyebut Mie Aceh dan Sate sebagai hidangan favoritnya selama tinggal di Banda Aceh. Namun, bukan hanya makanan yang membuatnya terkesan.

Namun yang paling membekas adalah keramahan penduduk Banda Aceh. Mereka membuat saya merasa diterima dan nyaman,” ucapnya.

Melalui pengalaman ini, Htet Eaint Khine berharap bisa membagikan kisahnya ke dunia. Ia ingin menjadi jembatan pemahaman antarbudaya, khususnya antara masyarakat Asia Tenggara. Bagi Htet, belajar di Aceh bukan hanya tentang pendidikan, tapi juga tentang memahami manusia, nilai, dan perbedaan yang menyatukan.

Editor: Akil