Beranda blog Halaman 414

Kloter 3 Jemaah Haji Aceh Diberangkatkan ke Tanah Suci

0
Ilustrasi Pesawat Garuda yang membawa Kloter 3 Jemaah Haji Aceh. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Sebanyak 392 jemaah haji asal Aceh yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) BTJ-03 embarkasi Aceh resmi diberangkatkan ke Arab Saudi pada Selasa siang, 20 Mei 2025. Keberangkatan ini menjadi bagian dari rangkaian pemberangkatan haji tahun ini yang berlangsung secara bertahap dari Aceh.

Pesawat Garuda Indonesia yang membawa rombongan jemaah tersebut mulai bergerak mundur ke taxiway pada pukul 13.45 WIB. Setelah itu, pesawat lepas landas menuju Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, Arab Saudi.

Didominasi Jemaah Perempuan

Menurut Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari, kloter BTJ-03 terdiri atas 165 jemaah laki-laki dan 227 jemaah perempuan. Jumlah tersebut termasuk empat petugas kloter dan tiga petugas haji daerah yang akan mendampingi mereka selama menjalani ibadah haji.

Para jemaah berasal dari tiga kabupaten/kota di Aceh, yakni Bener Meriah sebanyak 179 orang, Aceh Tengah 164 orang, dan Banda Aceh 42 orang.

Tiga Jemaah Gagal Berangkat

Meskipun rencana awal mencatat 393 jemaah, namun hanya 392 kursi yang terisi. Hal ini terjadi karena tiga jemaah dinyatakan batal berangkat. Dua di antaranya berasal dari Bener Meriah dan satu dari Aceh Tengah.

Seat-nya digantikan jemaah kloter 12 yang berasal dari Banda Aceh. Yang dari Aceh Tengah sudah di asrama tapi harus dirujuk ke rumah sakit, jadi tidak sempat kita gantikan,” kata Azhari.

Salah satu jemaah dari Bener Meriah batal berangkat karena kondisi kesehatan sebelum masuk ke asrama haji. Akibatnya, pendamping yang seharusnya turut berangkat juga dibatalkan keberangkatannya.

Dilepas oleh Wakil Bupati Bener Meriah

Sehari sebelumnya, tepatnya Senin malam, 19 Mei 2025, pelepasan jemaah dilakukan secara resmi oleh Wakil Bupati Bener Meriah, Armia. Ia hadir langsung ke lokasi untuk menyampaikan doa dan dukungannya kepada para tamu Allah tersebut.

Diperkirakan, jemaah kloter BTJ-03 akan tiba di Jeddah pada malam yang sama, sekitar pukul 22.00 waktu setempat.

Editor: AKil

Kuliah di USK, Mahasiswi Asal Myanmar Ini Jatuh Hati pada Budaya Aceh

0
Htet Eaint Khine, Mahasiswi USK asal Myanmar. (Foto: KabarAktual)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Ketertarikan terhadap budaya Indonesia, khususnya bahasa dan kehidupan masyarakat Aceh, membawa Htet Eaint Khine, mahasiswi asal Myanmar, ke Banda Aceh. Melalui program Beasiswa Darmasiswa, Htet memilih Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai tempat menimba ilmu sekaligus menjelajahi kekayaan budaya lokal.

Menariknya, keputusan Htet bukan tanpa alasan. Ia punya prinsip kuat dalam menentukan pilihan dan tidak mudah terpengaruh informasi yang sudah tersaji di media sosial.

Saya ingin melihat sisi lain Indonesia yang jarang terekspos media sosial. Sumatra, khususnya Banda Aceh, menawarkan kekayaan budaya dan keindahan alam yang luar biasa,” ujar Htet, Selasa (20/5/2025).

USK Jadi Pilihan karena Reputasi

Lebih lanjut, Htet menjelaskan bahwa USK dipilih karena merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Aceh. Selain itu, kampus ini memiliki program akademik yang ramah bagi mahasiswa internasional. Tak hanya belajar Bahasa Indonesia, ia juga ingin memperdalam pemahaman tentang budaya lokal yang unik dan berakar kuat pada tradisi.

Setibanya di Banda Aceh, kesan pertama yang ia rasakan adalah suasana damai dan keramahan masyarakat. Meskipun ia seorang penganut Buddha, Htet mengamati secara terbuka bagaimana kehidupan masyarakat Aceh sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam.

Saya sangat terkesan dengan bagaimana nilai-nilai Islam begitu terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari di sini,” ujarnya.

Tantangan Bahasa dan Aksen Lokal

Dalam proses belajar, tentu ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah pengucapan serta memahami berbagai aksen lokal yang cukup beragam. Meski begitu, Htet justru mengapresiasi struktur Bahasa Indonesia yang menurutnya cukup sederhana dan fleksibel.

Bahasa Indonesia fleksibel dan tidak terlalu rumit secara tata bahasa, membuat saya lebih percaya diri untuk mengekspresikan diri,” tuturnya.

Perkembangan kemampuannya semakin terasa ketika ia berhasil menulis esai budaya untuk ujian. Pada awalnya, ia merasa kesulitan menyampaikan ide secara jelas. Namun, kini ia bisa menulis dengan lancar dan penuh percaya diri.

Awalnya sulit menyampaikan ide dengan jelas, tetapi kini saya bisa menulis dengan lancar dan percaya diri,” kata Htet.

Merayakan Idul Fitri dan Mengenal Tradisi Aceh

Selain mengikuti perkuliahan, Htet juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya. Ia kerap berinteraksi dengan mahasiswa lokal dan warga sekitar. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat merayakan Idul Fitri di Banda Aceh.

Perayaan Idul Fitri di sini sangat berbeda dengan di Myanmar. Saya kagum dengan tradisi khas Aceh, seperti salam-salaman dan pertemuan masyarakat. Ini memperkaya perspektif saya tentang hubungan antara agama dan budaya,” ungkapnya.

Kagum pada Kuliner dan Keramahan Warga

Tidak hanya budaya, kekayaan kuliner dan keindahan alam Aceh juga meninggalkan kesan mendalam bagi Htet. Ia menyebut Mie Aceh dan Sate sebagai hidangan favoritnya selama tinggal di Banda Aceh. Namun, bukan hanya makanan yang membuatnya terkesan.

Namun yang paling membekas adalah keramahan penduduk Banda Aceh. Mereka membuat saya merasa diterima dan nyaman,” ucapnya.

Melalui pengalaman ini, Htet Eaint Khine berharap bisa membagikan kisahnya ke dunia. Ia ingin menjadi jembatan pemahaman antarbudaya, khususnya antara masyarakat Asia Tenggara. Bagi Htet, belajar di Aceh bukan hanya tentang pendidikan, tapi juga tentang memahami manusia, nilai, dan perbedaan yang menyatukan.

Editor: Akil

BPOM Aceh Dukung Peluncuran Layanan Terpadu MPP untuk Pelaku UMKM

0
Peluncuran Sistem Informasi Mal Pelayanan Publik (MPP), MPP Care, dan One Stop Service (OSS) khusus untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Senin (19/5/2025). (Foto: Ist)

Nukilan.id | Banda Aceh – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh (BPOM Aceh) mendukung upaya Pemerintah Kota Banda Aceh terkait peluncuran Sistem Informasi Mal Pelayanan Publik (MPP), MPP Care, dan One Stop Service (OSS) khusus untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Senin (19/5/2025).

Kepala BPOM Aceh, Yudi Noviandi mengatakan layanan ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah daerah untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan terintegrasi, khususnya bagi masyarakat dan pelaku UMKM. Melalui sistem layanan terpadu ini, masyarakat kini dapat lebih mudah mengakses berbagai informasi serta menghubungi instansi terkait tanpa harus berpindah-pindah tempat atau bingung dengan prosedur yang rumit.

Kehadiran BPOM Aceh dalam kegiatan ini merupakan bentuk komitmen dalam mendukung penguatan pelayanan publik yang inklusif, terutama dalam mendampingi UMKM agar dapat berkembang secara legal dan berdaya saing. Melalui sinergi ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mendapatkan kemudahan layanan, tetapi juga jaminan terhadap keamanan dan mutu produk yang beredar,” ujar Yudi Noviandi dalam keterangannya kepada Nukilan, Selasa (20/5/2025).

Dia berharap sistem layanan terintegrasi ini dapat menjadi model pelayanan publik yang efektif dan efisien, serta mendorong tumbuhnya UMKM yang sehat, inovatif, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi daerah.

Sementara Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal menyampaikan bahwa peluncuran ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan publik melalui integrasi teknologi informasi dan sinergi antarinstansi.

“Kita harapkan sistem ini akan memberikan kemudahan dan mempercepat pelayanan, terutama bagi pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal,” katanya.

Selain peluncuran sistem, kegiatan juga dirangkaikan dengan pembukaan counter layanan Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) serta re-launching counter layanan Imigrasi dan Pegadaian dengan tampilan dan sistem baru yang lebih optimal dan ramah pengguna. []

Reporter: Sammy

Ronaldo Bisa Tinggalkan Al Nassr demi Piala Dunia Antarklub 2025

0
ronaldo
Cristiano Ronaldo berpotensi tolak kontrak baru dari Al Nassr. (FOTO: REUTERS/Stringer)

NUKILAN.ID | Riyadh Cristiano Ronaldo dikabarkan berpeluang meninggalkan Al Nassr dan merapat ke klub Brasil, demi satu tujuan besar: tampil di Piala Dunia Antarklub 2025 yang digelar pada 14 Juni hingga 13 Juli mendatang.

Kontrak Ronaldo bersama Al Nassr akan berakhir pada Juni 2025. Meski negosiasi perpanjangan kontrak sudah dibahas, peluang untuk bertahan tampaknya semakin tipis.

Hal ini tak lepas dari performa Al Nassr yang dinilai mengecewakan. Klub asal Riyadh itu kini duduk di peringkat keempat Liga Arab Saudi. Artinya, mereka gagal tampil di Liga Champions Asia musim depan.

Ronaldo Mulai Tak Nyaman di Al Nassr

Menurut laporan Marca, situasi ini mulai mengusik kenyamanan sang megabintang. Ronaldo disebut “mulai tidak nyaman di Al Nassr”. Apalagi, musim ini Al Nassr juga gagal meraih trofi.

Situasi ini membuka kemungkinan besar bagi Ronaldo untuk menolak kontrak baru yang ditawarkan klub. Padahal, tawaran tersebut disebut-sebut menggiurkan dari sisi finansial.

Di tengah ketidakpastian ini, Ronaldo justru menerima tawaran mengejutkan dari klub Brasil. Klub tersebut ingin meminang pemain 40 tahun itu agar bisa memperkuat mereka di Piala Dunia Antarklub 2025.

Meski belum diungkap secara pasti, ada empat klub Brasil yang menjadi peserta turnamen: Palmeiras, Flamengo, Fluminense, dan Botafogo. Ronaldo bisa saja bergabung dengan salah satu dari mereka.

Tak main-main, seperti dilaporkan Sportbible, klub tersebut menawarkan gaji sebesar 183 juta euro atau sekitar Rp3,3 triliun. Angka fantastis ini tetap akan menjadikan Ronaldo sebagai pemain dengan bayaran tertinggi di dunia.

Potensi Duel Ulang dengan Messi

Jika Ronaldo memutuskan hengkang ke Brasil dan tampil di Piala Dunia Antarklub, ada kemungkinan ia akan kembali bertemu rival lamanya, Lionel Messi.

Saat ini, Messi bermain untuk Inter Miami, klub asal Amerika Serikat yang juga menjadi salah satu tuan rumah turnamen tersebut.

Piala Dunia Antarklub 2025 diprediksi akan menjadi ajang megabintang dunia. Selain wakil dari Eropa dan Amerika Selatan, Asia juga akan mengirimkan empat tim: Al Hilal (Arab Saudi), Urawa Red Diamonds (Jepang), Al Ain (Uni Emirat Arab), dan Ulsan HD (Korea Selatan).

Al Hilal sendiri merupakan juara Liga Champions Asia 2021 dan menjadi salah satu kekuatan besar di kawasan Asia.

Bagi Ronaldo, tampil di Piala Dunia Antarklub mungkin menjadi kesempatan emas untuk menambah satu trofi prestisius sebelum mengakhiri kariernya. Jika benar-benar pindah ke Brasil, ini bisa menjadi langkah strategis demi legacy yang lebih lengkap.

Editor: AKil

Biro Isra Aceh Gelar Kajian Perempuan dan Anak di SMAN 1 Dewantara: Bekali Siswa dengan Nilai Spiritual dan Kesadaran Hak Anak

0
Pemerintah Aceh melalui Biro Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat (Isra) Sekretariat Aceh kembali menggelar kegiatan Kajian Perempuan dan Anak di SMAN 1 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (20/5/2025). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Pemerintah Aceh melalui Biro Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat (Isra) Sekretariat Aceh kembali menggelar kegiatan Kajian Perempuan dan Anak di SMAN 1 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (20/5/2025).

Dengan mengusung tema “Pembinaan Mental Spiritual sebagai Penguatan Tsaqafah Keislaman dalam Pemenuhan Hak-hak Anak”, kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan dari Bagian Kesra Kabupaten Aceh Utara, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Utara, Dinas Sosial, Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Aceh Utara, pengawas sekolah, guru bimbingan konseling, serta siswa-siswi SMAN 1 Dewantara.

Kepala SMAN 1 Dewantara, Mustafa, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap siswa yang mengikuti kajian ini dapat menjadi agen perubahan dalam menguatkan isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, khususnya di lingkungan sekolah.

“Kajian seperti ini sangat penting untuk membekali siswa dengan nilai-nilai spiritual dan kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap hak anak,” ujar Mustafa.

Sementara itu, Kepala Biro Keistimewaan Aceh dan Kesra yang diwakili oleh Kepala Bagian Kesra Non Pelayanan Dasar, Mukhsin Rizal, S.Hum., M.Ag., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk respons konkret Pemerintah Aceh dalam menyikapi berbagai persoalan yang dihadapi remaja saat ini.

“Remaja Aceh tengah menghadapi tantangan serius, mulai dari perubahan perilaku dan penampilan, kesulitan belajar, rasa enggan bersekolah, hingga persoalan komunikasi yang tidak sehat dengan lingkungan sekitar,” kata Mukhsin.

Mukhsin juga menyoroti maraknya fenomena perundungan, baik di sekolah maupun di dunia maya, yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental remaja.

“Kita semua memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga dan membina generasi muda. Melalui kegiatan seperti ini, kita berharap dapat mencetak generasi emas Aceh menuju 2045,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Ibu Nucke Yulandari, M.Psi., Psikolog, turut hadir sebagai narasumber dengan materi “Kesehatan Reproduksi dalam Pandangan Islam dan Membangun Karakter Positif untuk Menjadi Remaja yang Bijak.”

Materi disampaikan secara inspiratif dan edukatif, mendorong peserta memahami pentingnya menjaga diri secara fisik, mental, dan spiritual dalam masa pertumbuhan mereka.

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini mendapat sambutan antusias dari para siswa dan guru. Mereka berharap program serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai sekolah di Aceh untuk memperkuat kesadaran dan perlindungan terhadap hak-hak anak.

Ustaz Ivan Hidayat: Tak Semua Pertanyaan tentang Tuhan Layak Dijawab

0
ustaz ivan hidayat
Pimpinan Balee Usmaniyah Tgk Chik Dilampoh, Muhammad Ivan Hidayat. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan kerap kali menjadi topik perdebatan yang pelik, terutama di ruang publik dan media sosial. Namun, menurut Ustaz Muhammad Ivan Hidayat, tidak semua pertanyaan semestinya dijawab, apalagi jika landasan logikanya keliru sejak awal.

Dilansir Nukilan.id dari salah satu tayangan di kanal YouTube SagoeTv beberapa waktu lalu, Ustaz Ivan memberikan analogi yang menggelitik namun sarat makna saat menjawab pertanyaan “Tuhan di mana?”, yang kerap kali diajukan oleh kaum ateis.

Misalnya ada suami istri ya, Jono suami, Jini istri. Jono dan Jini sudah menikah. Ketika Jono hamil, anaknya diberi nama siapa? Ini bisa dijawab enggak? Tentu tidak perlu dijawab karena tidak mungkin Jono yang suaminya hamil,” kata Ustaz Ivan dalam video tersebut.

Ia menekankan bahwa tidak semua pertanyaan bisa serta-merta dijawab jika struktur berpikirnya cacat sejak awal.

Jadi pertanyaannya dulu diubah, diperbaiki, baru bisa kita jawab,” lanjut Pimpinan Balee Usmaniyah Tgk Chik Dilampoh tersebut.

Menurutnya, pendekatan rasional dalam menjawab isu-isu ketuhanan tetap penting, namun harus diiringi dengan kehati-hatian terhadap logika dasar dari pertanyaan yang diajukan. Sebab, alih-alih menghasilkan pemahaman, debat yang berangkat dari premis keliru justru berisiko memelintir esensi dari keyakinan itu sendiri.

Nah, itulah yang saya maksud bahwasanya tidak semua pertanyaan perlu dijawab kalau pertanyaannya salah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustaz Ivan menegaskan bahwa konsep tentang Tuhan—dalam hal ini Allah SWT—tidak bisa disederhanakan dengan pendekatan empiris seperti menanyakan lokasi secara fisik.

Termasuk pertanyaan di mana Allah?. Itu pertanyaan yang tidak layak kita tanyakan. Karena Allah itu pencipta, Allah itu Tuhan,” pungkasnya.

Pernyataan Ustaz Ivan tersebut menyiratkan bahwa dalam diskursus tentang keimanan, penting untuk mengedepankan etika bertanya dan menghindari jebakan debat yang justru menjauhkan seseorang dari substansi spiritual. (XRQ)

Reporter: Akil

Wisatawan Bisa Jelajahi Banda Aceh dengan Becak Heritage Tour

0
Wisatawan Bisa Jelajahi Banda Aceh dengan Becak Heritage Tour. (Foto: MC BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEHWisatawan yang datang ke Banda Aceh kini punya cara baru untuk menikmati keindahan dan sejarah kota: naik becak wisata sambil mengikuti Heritage Tour. Program ini resmi diluncurkan oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, Senin (19/5/2025) di kawasan PLTD Apung.

Program unik ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Bank Aceh Syariah. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat daya tarik wisata budaya dan sejarah di ibu kota Provinsi Aceh.

Edukasi Sejarah dari Atas Becak

Dalam sambutannya, Wali Kota Illiza menjelaskan bahwa Becak Heritage Tour dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda kepada para wisatawan. Tidak hanya sekadar transportasi, becak ini juga dilengkapi dengan pemandu wisata yang telah mendapatkan pelatihan khusus.

Mereka juga kita latih tentang bagaimana bisa memberikan pelayanan sebagai tour guide kita, mereka paham betul mana tempat-tempat bersejarah, mana peninggalan tsunami, mana peninggalan kolonial dan sebagainya sehingga ada pilihan-pilihan. Kemudian juga bisa menikmati kuliner dan pilihan-pilihan hotel yang bisa mereka ajukan agar wisatawan senang dan nyaman ada di kota,” kata Illiza.

Untuk saat ini, baru tersedia sepuluh unit becak yang tergabung dalam program wisata ini. Meski demikian, para pengemudi sudah tergabung dalam sebuah grup daring yang memudahkan koordinasi dan pemesanan.

PLTD Apung Jadi Titik Awal

Lebih lanjut, Illiza mengungkapkan bahwa lokasi favorit wisatawan saat ini adalah PLTD Apung. Oleh karena itu, titik awal Becak Heritage Tour pun difasilitasi di kawasan tersebut.

Kegiatan ini tentu akan kita tingkatkan akan tambah lagi karena peminat becak di kota Banda Aceh sangat bagus terutama wisatawan lokal, nasionl dan internasional,” harap Illiza.

Tambah Penghasilan, Angkat Nama Kota

Tak hanya bertujuan memperkaya pilihan wisata, inovasi ini juga diharapkan bisa membantu para abang becak untuk meningkatkan penghasilan. Di sisi lain, inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Banda Aceh ke kancah nasional maupun internasional melalui pendekatan budaya dan sejarah.

Dengan sentuhan lokal, nuansa sejarah, serta keramahan khas Banda Aceh, Becak Heritage Tour diharapkan menjadi daya tarik baru yang meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjung.

Editor: Akil

Premanisme Ormas dan Ancaman terhadap Demokrasi

0
Rosario de Marshal alias Herkules, Pimpinan organisasi Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya). (Foto: penapos)

NUKILAN.ID | OPINI – Naiknya Prabowo Subianto ke tampuk kekuasaan sebagai Presiden Republik Indonesia memberikan harapan baru bagi stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, di balik euforia itu, terselip kegelisahan yang mengendap di ruang publik: kebangkitan organisasi massa bergaya preman yang mendapat ruang baru di era kekuasaannya. Salah satu simbol fenomena ini adalah Rosario de Marshal alias Herkules dan organisasi Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya) yang dipimpinnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, GRIB Jaya menunjukkan gejala klasik organisasi massa yang menjelma menjadi alat kekuasaan. Mereka beraksi liar di sejumlah daerah, mulai dari membakar mobil operasional polisi hingga menyerbu markas ormas lain. Bahkan, mereka secara terang-terangan mengancam akan mengerahkan massa besar untuk mendatangi kantor gubernur Jawa Barat, walau lokasinya disebut keliru di Kalimantan Tengah.

Ini bukan sekadar ulah ormas biasa. Ini adalah pertunjukan kekuasaan yang dibungkus dengan legitimasi politik.

Hubungan Herkules dengan Prabowo bukanlah rahasia. Keduanya memiliki ikatan sejarah sejak operasi militer di Timor Timur. Herkules, eks pejuang pro-integrasi, dibawa ke Jakarta dan kemudian menancapkan kuku bisnis keamanannya dengan restu kekuatan militer. GRIB Jaya sendiri lahir sebagai organisasi sayap politik Partai Gerindra, kendaraan politik Prabowo.

Kedekatan inilah yang menjelaskan mengapa GRIB Jaya tampak tak tersentuh. Aparat hukum seolah kehilangan taring ketika menghadapi organisasi ini. Bahkan, ketika muncul desakan publik agar polisi bertindak tegas, baru ada respons setelah Presiden Prabowo sendiri memerintahkannya. Itupun dengan sikap setengah hati.

Fenomena ini bukan tanpa preseden. Dalam sejarah politik Indonesia, premanisme telah lama menjadi alat kuasa, mulai dari era Orde Baru hingga reformasi. Dalam buku Politik Jatah Preman” (2015), peneliti asal Australia, Ian Douglas Wilson, mencatat bahwa ormas-ormas bergaya preman berubah menjadi pemain politik pascareformasi. Mereka menjadi mitra bagi elite politik dalam memobilisasi suara dan melindungi kepentingan.

Herkules adalah contoh nyata dari model ini. Ia bukan hanya tokoh jalanan, tetapi juga aktor politik yang mengerti betul cara memanfaatkan demokrasi. Di satu sisi, GRIB Jaya berlindung di balik kebebasan berserikat dan menyatakan diri sebagai representasi rakyat kecil. Namun di sisi lain, mereka mengintimidasi, memalak, bahkan mengancam kebebasan ekonomi.

Kasus penggangguan terhadap proyek pabrik BYD, produsen kendaraan listrik asal Cina, di Subang, Jawa Barat, menjadi ilustrasi bagaimana ormas semacam ini dapat mengancam iklim investasi. Di tengah upaya besar Indonesia menarik investasi asing dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, kehadiran kelompok preman menjadi batu sandungan serius.

Persoalan ini juga bisa berimplikasi terhadap perumusan kebijakan yang lebih luas. Muncul kekhawatiran bahwa situasi semacam ini dapat dijadikan dalih untuk merevisi Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan. Di satu sisi, publik tentu menginginkan ketegasan terhadap ormas-ormas liar. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa revisi undang-undang akan dimanfaatkan untuk merepresi kelompok-kelompok kritis yang justru menjadi pilar demokrasi.

Dalam situasi ini, Presiden Prabowo menghadapi ujian penting. Apakah ia akan memilih jalan populis dengan memelihara loyalitas kelompok-kelompok seperti GRIB Jaya demi stabilitas semu dan perhitungan politik jangka pendek? Atau, ia berani mengambil sikap tegas dengan memutus mata rantai hubungan antara kekuasaan dan premanisme?

Kebijakan yang setengah hati hanya akan membuat demokrasi kian cacat. Ketika aparat hukum tunduk pada tekanan kekuasaan informal, dan ketika negara membiarkan kelompok premanisme menjadi alat kendali sosial, maka cita-cita besar seperti pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan negara hukum yang berkeadilan hanya akan menjadi ilusi.

Dalam demokrasi yang sehat, kekuasaan harus berjarak dari kekerasan jalanan. Hubungan patron-klien antara elite dan ormas harus diputus demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Indonesia butuh pemimpin yang berani menempatkan hukum di atas loyalitas politik. Dan saat inilah Prabowo diuji: apakah ia seorang negarawan, atau hanya politisi lain yang memelihara para preman sebagai alat kekuasaan?

Jika tidak segera bertindak tegas, Herkules dan GRIB Jaya bukan hanya akan menjadi kerikil dalam sepatu kekuasaan Prabowo, tetapi juga ranjau bagi demokrasi Indonesia. (XRQ)

Penulis: Vira Fitriani (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan USK)

Ijazah Palsu, Ketua Panwaslih Aceh Barat Dicopot DKPP

0
Ketua DKPP, Heddy Lugito. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) resmi mencopot Aidil Azhar dari jabatannya sebagai Ketua Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Kabupaten Aceh Barat. Pencopotan ini dilakukan setelah terbukti bahwa ijazah strata satu (S1) yang digunakan Aidil adalah palsu.

Sidang putusan digelar pada Senin (19/5/2025). Ketua DKPP, Heddy Lugito, membacakan langsung sanksi tersebut.

Menjatuhkan sanksi Peringatan Keras dan Pemberhentian dari Jabatan Ketua kepada teradu Aidil Azhar selaku Ketua merangkap Anggota Panwaslih Kabupaten Aceh Barat terhitung sejak putusan ini dibacakan,” ujar Heddy dalam putusan Nomor: 300-PKE-DKPP/XI/2024.

Dalam proses seleksi Panwaslih, Aidil diketahui mencantumkan ijazah S1 dengan Nomor: 1038/408/KIM-II5/2000. Namun, setelah ditelusuri, ijazah tersebut tidak terdaftar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Nomor Ijazah Milik Orang Lain

Fakta di persidangan menunjukkan, kode nomor ijazah 1038 ternyata terdaftar atas nama Munira, lulusan Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Syiah Kuala. Munira sendiri diwisuda pada Mei 2000.

Sementara itu, nomor ijazah 408/KIM-115—yang seharusnya mewakili kode fakultas—tercatat atas nama Jamaluddin, dari Program Studi Kimia, pada tahun dan fakultas yang sama.

Demikian pula nomor ijazah 408/KIM-115 sebagai kode fakultas terdaftar di arsip duplikat atas nama Jamaluddin dengan NIM 94811493, Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Syiah Kuala dan wisuda pada Mei tahun 2000,” jelas anggota DKPP, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi.

Lebih lanjut, Aidil juga mengaku pernah menyerahkan daftar riwayat hidup yang menyebut dirinya sebagai lulusan SMTI Banda Aceh. Namun, dalam sidang, ia gagal menunjukkan bukti dokumen tersebut.

Atas semua fakta itu, DKPP menilai Aidil telah melanggar etika penyelenggara pemilu.

Ia dinilai melanggar Pasal 9 huruf a dan Pasal 15 huruf a dalam Peraturan DKPP Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu.

Putusan Lain dan Sanksi Tambahan

Dalam sidang yang sama, DKPP juga menyampaikan putusan terhadap perkara lain. Salah satunya adalah perkara Nomor 297-PKE-DKPP/XI/2025 dengan teradu Ketua dan Anggota KIP Provinsi Aceh. Namun, karena pengadu mencabut laporan, kasus ini tidak dilanjutkan.

Secara total, DKPP membacakan putusan untuk sembilan perkara. Jumlah penyelenggara pemilu yang terlibat mencapai 55 orang.

Dari hasil sidang tersebut, DKPP menjatuhkan sanksi berupa Peringatan (19), Peringatan Keras (6), dan Pemberhentian dari Jabatan Ketua (1).

Di sisi lain, terdapat 23 penyelenggara pemilu yang dinyatakan tidak bersalah. Nama baik mereka pun direhabilitasi karena tidak terbukti melanggar kode etik penyelenggara pemilu.

Editor: Akil

117 Tahun Harkitnas: Menapak Sejarah Boedi Oetomo Menuju Indonesia Kuat

0
Logo Harkitnas 2025 (Foto: Dok. Komdigi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Tanggal 20 Mei 2025 menandai peringatan ke-117 Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), sebuah momentum bersejarah yang memperingati berdirinya organisasi pergerakan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Organisasi ini kerap disebut sebagai tonggak awal kesadaran nasional, ketika semangat persatuan mulai tumbuh melintasi sekat-sekat etnis, agama, dan golongan untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Sejarah Nasional Indonesia Jilid V, sebagaimana dikutip Nukilan.id, Boedi Oetomo didirikan oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo dan dr. Soetomo bersama sekelompok mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia (sekarang Jakarta).

Pada mulanya, organisasi ini berfokus pada peningkatan pendidikan dan pelestarian kebudayaan. Namun seiring waktu, geliat perjuangannya meluas menjadi wadah politik melawan kolonialisme Belanda.

Sebagaimana ditulis oleh sejarawan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku tersebut, Boedi Oetomo menjadi pelopor pergerakan nasional yang memantik lahirnya berbagai organisasi serupa di penjuru nusantara.

Kebangkitan ini tidak hanya dimaknai sebagai lahirnya organisasi modern, melainkan sebagai kebangkitan semangat kebangsaan dan kesadaran kolektif sebagai satu bangsa yang merdeka.

Harkitnas dan Spirit Nasionalisme

Presiden Soekarno menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Mengutip Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), peringatan ini ditujukan untuk memupuk kembali semangat nasionalisme, solidaritas, dan rasa cinta tanah air di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Pada tahun ini, tema Harkitnas 2025 adalah Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat”. Seperti dikutip dari detik.com, tema ini menjadi seruan moral bagi seluruh elemen masyarakat untuk bangkit menghadapi beragam tantangan sosial, ekonomi, maupun lingkungan, demi terciptanya Indonesia yang tangguh, adil, dan berkelanjutan.

Makna Logo Harkitnas ke-117

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui surat bernomor B-395/M.KOMDIGI/HM.04.01/05/2025 tertanggal 14 Mei 2025, telah merilis pedoman resmi peringatan Harkitnas ke-117.

Salah satu elemen penting dalam pedoman tersebut adalah logo resmi yang menggambarkan makna filosofis dari semangat kebangkitan nasional. Logo tersebut dapat diunduh melalui tautan resmi: https://s.komdigi.go.id/HARKITNAS2025

Berikut penjabaran simbolik dari elemen-elemen logo tersebut:

  • Tegas dan Kokoh: Angka 117 merepresentasikan usia peringatan Harkitnas sejak tahun 1908. Angka ini didesain tegas dan padat, mencerminkan keteguhan dan kontinuitas perjuangan bangsa.

  • Pilar Kebangsaan: Bentuk angka 11 menyerupai dua pilar yang melambangkan pondasi kebangsaan yang kuat dan tak mudah runtuh.

  • Titik Perubahan: Bola merah menggambarkan energi semangat juang serta sebagai titik awal penggerak perubahan sosial dan nasional.

  • Masa Depan: Garis horizontal biru di bagian atas melambangkan arah ke depan, kemajuan, dan visi Indonesia yang jauh ke masa depan.

  • Kebangkitan: Lengkungan emas ke atas menjadi simbol dari gerakan bangkit secara kolektif, menggambarkan semangat gotong royong dan optimisme menuju masa depan.

Refleksi Sejarah di Tengah Tantangan Zaman

Di tengah era digital dan globalisasi seperti sekarang, semangat Harkitnas kian relevan. Ketika tantangan baru seperti ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, dan krisis sosial melanda, kebangkitan nasional bukan lagi sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan bersama.

Dengan mengusung tema “Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat”, peringatan Harkitnas 2025 menjadi ajakan untuk tidak hanya mengenang, melainkan juga meneladani semangat para pendiri bangsa—semangat belajar, bersatu, dan berjuang dalam segala keterbatasan.

Harkitnas bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah refleksi kolektif bahwa kebangkitan sejati hanya bisa dicapai melalui kerja bersama, kesadaran nasional, dan komitmen terhadap kemajuan bersama. Sebuah pesan yang tetap menyala dari 1908 hingga kini—dan seterusnya. (xrq)

Reporter: Akil