Beranda blog Halaman 403

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

0
Bulan Dzulhijjah. (Foto: Suarananggroe)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Bulan Dzulhijjah, bulan ke-12 dalam kalender hijriah, memiliki makna istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya menjadi penutup tahun hijriah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbanyak amal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dilansir Nukilan.id dari berbagai sumber, Bulan Dzulhijjah memiliki bebrapa kautamaan:

1. Bulan Mulia dalam Islam

Dalam Islam, terdapat empat bulan yang disebut sebagai asyhurul hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan. Salah satunya adalah Dzulhijjah.

Menariknya, sepuluh hari pertama di bulan ini memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari di mana amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amalan yang dilakukan pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Tidak pula ditandingi dengan jihad fi sabilillah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Jihad fi sabilillah juga tidak, kecuali jika orang tersebut keluar berjihad lalu sesuatu membahayakan diri dan hartanya lantas kembali dalam keadaan tidak membawa apa pun.” (HR. Bukhari no. 969)

Artinya, siapa pun yang memaksimalkan ibadah di sepuluh hari pertama ini, bisa mendapatkan keutamaan luar biasa yang bahkan tak tertandingi oleh jihad, kecuali dalam kondisi tertentu.

2. Bulan Haji

Selain dikenal sebagai bulan yang dimuliakan, Dzulhijjah juga menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji, rukun Islam kelima yang hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu secara fisik dan finansial.

Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai belahan dunia berkumpul di tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah ini. Tidak heran jika kedatangan bulan Dzulhijjah selalu disambut dengan suka cita oleh umat Muslim.

3. Terdapat Hari Arafah

Salah satu momen penting di bulan ini adalah Hari Arafah, yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Di hari tersebut, para jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah.

Bagi yang tidak berhaji, dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Sebab, sebagaimana disebutkan dalam hadis, puasa ini dapat menghapus dosa selama dua tahun: tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang. Pahala besar inilah yang membuat banyak umat Islam berlomba-lomba melaksanakan puasa Arafah.

4. Bulan yang Diharamkan untuk Berperang

Tidak hanya sebagai bulan ibadah, Dzulhijjah juga termasuk bulan yang diharamkan untuk berperang. Larangan ini merupakan bagian dari penghormatan terhadap kemuliaan bulan tersebut.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 36:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…”

Dengan demikian, umat Islam dianjurkan untuk tidak melakukan kekerasan atau peperangan selama bulan ini, kecuali dalam rangka membela diri. Sebagai gantinya, umat didorong untuk memperbanyak amal ibadah dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.

5. Bulan Kurban

Puncak lain dari bulan Dzulhijjah adalah Iduladha, yang identik dengan pelaksanaan ibadah kurban. Umat Islam menyembelih hewan ternak sebagai bentuk keteladanan atas ketaatan Nabi Ibrahim AS.

Setelah disembelih, daging kurban dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ini menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial yang tinggi dalam ajaran Islam. Tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga mempererat solidaritas antarumat.

Dzulhijjah bukan sekadar bulan penutup tahun hijriah. Lebih dari itu, ia adalah waktu emas untuk memperbanyak amal, meningkatkan keimanan, dan menyucikan diri melalui ibadah-ibadah istimewa yang hanya terjadi setahun sekali.

Rasulullah SAW bahkan bersabda:

“Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089)

Karena itu, jangan lewatkan kesempatan langka ini. Mari manfaatkan bulan Dzulhijjah dengan sebaik-baiknya, demi meraih pahala yang tak tertandingi. (XRQ)

Reporter: Akil

Hasil Sidang Isbat: Idul Adha 2025 Jatuh pada 6 Juni

0
Ilustrasi Idul Adha. (Foto: Gramedia)

NUKILAN.ID | Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) RI resmi menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah dan Idul Adha 1446 Hijriah melalui sidang isbat yang digelar pada Selasa, 27 Mei 2025. Penetapan ini disampaikan langsung oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam konferensi pers yang berlangsung di Kantor Kemenag, Jakarta.

Berdasarkan hasil pantauan Nukilan.id dari siaran langsung Konferensi Pers Penetapan 1 Zulhijah 1446 H / 2025 M melalui kanal YouTube Kementerian Agama RI, hilal berhasil terlihat di Aceh Jaya. Pengamatan tersebut dilakukan oleh petugas bernama Nabil yang telah disumpah sebagai saksi.

“Hasil pengamatan hilal di 114 titik lokasi di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa hilal telah terlihat di Aceh Jaya oleh Bapak Nabil yang telah disumpah. Berdasarkan data tersebut, kami menetapkan 1 Zulhijah 1446 H jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025,” kata Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa secara astronomis (hisab), posisi hilal telah memenuhi kriteria visibilitas berdasarkan standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

“Ijtmak sudah terjadi di seluruh Indonesia. Kemudian secara hisab, posisi hilal sudah di atas ufuk dengan ketinggian dan elongasi yang memenuhi kriteria MABIMS. Oleh karena itu, secara hisab imkan rukyat sudah terpenuhi,” jelasnya.

Tanggal Idul Adha 2025 dan Libur Nasional

Dengan penetapan tersebut, 1 Dzulhijjah 1446 H jatuh pada hari Rabu, 28 Mei 2025. Artinya, Idul Adha 2025 yang bertepatan dengan 10 Dzulhijjah akan dirayakan pada Jumat, 6 Juni 2025.

Tak hanya itu, pemerintah juga telah menetapkan hari libur nasional dan cuti bersama melalui SKB 3 Menteri Nomor: 1017 Tahun 2024, Nomor: 2 Tahun 2024, dan Nomor: 2 Tahun 2024. Libur Idul Adha 2025 pun menjadi lebih panjang karena berdekatan dengan akhir pekan.

Berikut adalah rangkaian tanggal merah yang bisa Anda manfaatkan untuk beristirahat atau bersilaturahmi:

  • Jumat, 6 Juni 2025: Libur nasional Idul Adha

  • Sabtu, 7 Juni 2025: Libur akhir pekan

  • Minggu, 8 Juni 2025: Libur akhir pekan

  • Senin, 9 Juni 2025: Cuti bersama Idul Adha

Dengan demikian, masyarakat berkesempatan menikmati akhir pekan panjang selama empat hari berturut-turut.

Tanggal Merah Lainnya di Bulan Juni

Selain perayaan Idul Adha, bulan Juni 2025 juga diwarnai dengan dua hari besar lainnya, yakni Hari Lahir Pancasila dan Tahun Baru Islam. Berikut jadwalnya:

  • Minggu, 1 Juni 2025: Hari Lahir Pancasila

  • Jumat, 27 Juni 2025: Tahun Baru Islam 1447 H

Dengan kepastian tanggal Idul Adha dan jadwal libur nasional yang telah diumumkan, masyarakat kini dapat merencanakan momen kebersamaan bersama keluarga. Di sisi lain, bagi yang ingin berkurban, penetapan ini juga menjadi acuan penting dalam persiapan ibadah. (XRQ)

Reporter: Akil

Kapolda Terima Audiensi Kepala Dinas Peternakan Aceh

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kapolda Aceh Irjen Pol Dr. Achmad Kartiko menerima audiensi Kepala Dinas Peternakan Aceh, Zalsufran, di ruang kerjanya, Selasa, 27 Mei 2025. Audiensi tersebut bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar instansi.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, dalam keterangannya menyampaikan bahwa pertemuan itu menjadi langkah awal yang positif untuk mempererat hubungan serta membangun sinergi antarinstansi.

“Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antara kepolisian dan Dinas Peternakan, terutama terkait aspek keamanan,” ujar Joko.

Joko menambahkan, Kapolda Aceh sangat mengapresiasi kunjungan tersebut dan berharap komunikasi serta kerja sama lintas sektor dapat terus ditingkatkan demi kepentingan masyarakat Aceh secara luas.

“Sinergi ini penting dalam menjaga stabilitas kamtibmas, apalagi menjelang hari raya qurban,” pungkas Joko. []

FPMPA Kecam Sikap Pemimpin Aceh Terkait Polemik Empat Pulau yang Diklaim Sumut

0
Ketua FPMPA Muhammad Jasdi, (foto: Dok Ist)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Forum Mahasiswa dan Pemuda Aceh (FPMPA) melayangkan kritik keras terhadap kepemimpinan Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Singkil yang dinilai gagal mempertahankan kedaulatan wilayah dalam polemik pengklaiman empat pulau oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Ketua FPMPA, Jhon Jasdy, menyatakan bahwa kedua pemimpin daerah tersebut telah gagal menjalankan fungsi strategis sebagai penjaga marwah dan kedaulatan Aceh. 

“Mereka seolah hanya menjadi penonton dalam permainan tarik-ulur batas wilayah ini. Padahal, ini soal marwah dan kedaulatan Aceh,” tegasnya dalam keterangan pers, Selasa (27/5).

Kritik tersebut mencuat setelah terbitnya Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025 yang secara resmi memasukkan empat pulau—Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek—ke dalam wilayah administratif Provinsi Sumatera Utara.

FPMPA menganggap keputusan tersebut sebagai puncak dari pembiaran dan ketidakmampuan pemimpin Aceh dalam menjaga integritas wilayahnya. Jhon Jasdy menyebut sikap Pemerintah Aceh selama ini hanya sebatas retorika tanpa tindakan nyata.

“Yang kami lihat selama ini hanyalah narasi kosong. Seolah-olah pulau-pulau itu milik Aceh, tapi tidak ada langkah hukum, diplomasi, atau bahkan komunikasi publik yang jelas. Semua seperti dongeng pengantar tidur,” ujarnya.

Forum tersebut menekankan bahwa persoalan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan menyangkut kehormatan rakyat Aceh secara keseluruhan. “Jika pemerintah daerah tidak segera bergerak, maka rakyat yang akan turun tangan. Kami tidak butuh pemimpin yang pandai bicara tapi lumpuh dalam bertindak,” tegasnya.

FPMPA mendesak agar Gubernur Aceh dan Bupati Aceh Singkil segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan ini. Langkah-langkah yang diminta meliputi menggugat Kepmendagri ke Mahkamah Agung, melibatkan DPR Aceh dalam upaya penyelesaian, serta mengaktifkan diplomasi antarprovinsi.

“Jangan hanya jadi simbol di spanduk dan baliho, pemimpin harus bertarung di garis depan,” pungkas Jhon Jasdy. []

Satu Jemaah Haji Asal Pidie Meninggal di Makkah

0
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Makkah – Seorang jemaah haji asal Kabupaten Pidie, Aceh, meninggal dunia di Arab Saudi pada Senin (27/5/2025) pukul 13.30 waktu setempat. Rusli Sulaiman (62), yang tergabung dalam kloter BTJ-08, dikabarkan mengembuskan napas terakhir akibat komplikasi penyakit jantung.

Kabar duka ini disampaikan oleh Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari, setelah menerima laporan dari petugas haji kloter BTJ-08 di Tanah Suci.

“Innalillahi wainna ilaihi raajiun, telah meninggal dunia salah seorang jamaah kloter 8 atas nama Rusli Sulaiman, pada jam 13.30 WAS. Kelengkapan surat sedang diurus,” kata Azhari dalam keterangannya kepada Nukilan.

Azhari menjelaskan berdasarkan sertifikat kematian (Certificate of Death/CoD) yang dikeluarkan pihak rumah sakit, almarhum didiagnosa mengalami syok kardiogenik akibat penyakit jantung iskemik kronis. Kondisi ini diperparah dengan riwayat penyakit diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi yang diderita almarhum.

“Semoga almarhum diampuni segala dosa dan ditempatkan di sisi-Nya bersama anbiya dan shalihin,” ujar Azhari.

Untuk pelaksanaan fardhu kifayah, Ketua Kloter 8 Zarkasyi menyampaikan bahwa salat jenazah direncanakan akan dilaksanakan di Masjidil Haram.

“Saat ini dalam proses pengurusan jenazah di Rumah Sakit An Nur. Insyaallah akan disalatkan di Masjidil Haram magrib nanti,” jelas Zarkasyi.

Reporter: Rezi

Seleksi CBT MQK Nasional 2025 Resmi Ditutup

0
Seleksi CBT MQK Nasional 2025 Resmi Ditutup. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Seleksi berbasis Computer Based Test (CBT) untuk ajang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional 2025 resmi ditutup pada Minggu, 25 Mei 2025. Penutupan ini sekaligus menandai berakhirnya tahap awal penjaringan peserta dari berbagai pesantren dan Ma’had Aly di seluruh Indonesia.

Provinsi Aceh menunjukkan antusiasme tinggi dalam seleksi tahun ini. Menurut Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kanwil Kemenag Aceh, Dr. H. Muntasyir, S.Ag., M.A., jumlah total peserta yang mendaftar mencapai 558 orang dari 72 lembaga.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Tingkat Ula: 71 santri

  • Tingkat Wustha: 188 santri

  • Tingkat Ulya: 276 santri

  • Tingkat Ma’had Aly: 23 mahasantri

Tak hanya dari jumlah, partisipasi ini juga mencerminkan kesiapan pesantren Aceh dalam menyambut transformasi digital di dunia pendidikan Islam.

Seleksi Digital Jadi Langkah Strategis

Seleksi CBT tahun ini menjadi momen bersejarah bagi ajang MQK. Pasalnya, sistem seleksi tidak lagi dilakukan secara manual di tingkat daerah, melainkan langsung terintegrasi secara nasional. Menanggapi hal ini, Muntasyir menyatakan:

“Melalui pendekatan CBT, MQK menjadi lebih terbuka, partisipatif, serta terukur dan adil dalam proses seleksinya,” ujar Muntasyir.

Ia menambahkan bahwa CBT bukan hanya inovasi teknis, melainkan juga strategi nasional dalam menjaga mutu seleksi.

“Ini pertama kalinya seleksi dilakukan secara nasional melalui sistem terpusat. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Direktorat Pesantren Kementerian Agama RI atas pelaksanaan sistem ini, serta kepada seluruh pesantren dan Ma’had Aly atas partisipasinya,” tegasnya.

Capaian Nasional: 8.788 Santri dan 337 Mahasantri

Secara keseluruhan, sistem seleksi MQK Nasional 2025 telah diakses oleh 2.170 pesantren di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, terdata sebanyak 8.788 santri mendaftar. Sementara dari kalangan Ma’had Aly, tercatat 337 mahasantri dari 57 institusi yang ikut berpartisipasi.

Direktur Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Basnang Said, menegaskan bahwa sistem ini dirancang agar seleksi lebih berkualitas.

“Melalui CBT, seleksi awal dilakukan langsung oleh pusat dengan standar nasional. Nantinya, tiga peserta terbaik putra dan putri dari setiap majelis akan diserahkan ke provinsi untuk ditetapkan sebagai kafilah yang akan mewakili daerah di MQK tingkat nasional, sesuai ketentuan MQKN 2025,” jelas Basnang, dikutip dari laman resmi pendis.kemenag.go.id.

Jadwal Lengkap Seleksi MQK 2025

Untuk diketahui, rangkaian tahapan seleksi telah dirancang dengan sistematis. Berikut jadwal lengkapnya:

  • 26–28 Mei 2025: Pengumuman peserta yang berhak mengikuti seleksi CBT

  • 2–5 Juni 2025: Workshop, sosialisasi teknis, dan simulasi ujian CBT

  • 9–21 Juni 2025: Pelaksanaan ujian CBT secara serentak di seluruh provinsi

  • 22–24 Juni 2025: Penarikan hasil CBT oleh panitia pusat

  • 25–27 Juni 2025: Pengumuman tiga peserta terbaik di setiap majelis dan kategori

Dengan alur seleksi yang ketat dan terstruktur ini, MQK tidak sekadar menjadi ajang perlombaan. Lebih dari itu, ia mencerminkan kemajuan dunia pesantren dalam merespons era digital secara adaptif. Sebagai penutup, Muntasyir menyampaikan harapannya atas pencapaian Aceh tahun ini.

“Semoga Aceh kembali meraih prestasi terbaik di tingkat nasional,” tutup Muntasyir.

Editor: Akil

Ulama dan Tokoh Politik Aceh Iringi Keberangkatan Wagub Fadhlullah ke Tanah Suci

0
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE, saat menerima kunjungan silaturahmi para Ulama Aceh dan Tokoh Publik yang datang untuk berdoa dan peusijuek keberangkatannya menunaikan ibadah haji, di Ruang Kerja Wakil Gubernur Aceh. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Suasana di Ruang Rapat Wakil Gubernur Aceh pada Selasa pagi (27/5/2025) tampak berbeda dari biasanya. Para ulama dan tokoh politik Aceh berkumpul dalam nuansa religius yang khidmat. Mereka hadir untuk melepas keberangkatan Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.

Prosesi pelepasan ini dibuka dengan pembacaan doa bersama. Para ulama memanjatkan harapan terbaik agar perjalanan Fadhlullah berlangsung lancar dan penuh keberkahan. Selain itu, tradisi adat turut mewarnai rangkaian acara, menegaskan nilai-nilai budaya yang tetap dijunjung tinggi di Aceh.

Doa dan Pesan untuk Aceh

Di tengah prosesi, salah satu ulama kharismatik Aceh, Tgk H Azhari Alatif—yang lebih dikenal sebagai Abati Seulimuem—menyampaikan doa dan harapannya secara langsung.

“Insya Allah, perjalanan Pak Wakil Gubernur selamat, penuh berkah dapat menjalankan tugas dengan baik serta menjadi Haji Mabrur. Kami para ulama berharap, Pak Fadhlullah dapat beribadah dengan baik di sana,” ujar Abati Seulimuem.

Tak hanya itu, ia juga menitipkan pesan khusus kepada Fadhlullah agar mendoakan kemajuan Aceh.

“Panjatkan do’a-do’a terbaik untuk Aceh, agar masyarakat dan para pemimpinnya bersatu demi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan Aceh di masa mendatang, terutama dalam bidang penguatan Syariat Islam. Tolong sampaikan salam rindu kami pada Rasulullah,” sambung Abati Seulimuem.

Kehadiran Para Ulama Terkemuka

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah ulama ternama Aceh, seperti Abi Lampisang dan Abon Yunus. Selain mereka, beberapa tokoh politik dan pemuka agama lain juga tampak hadir dan ikut dalam doa bersama.

Momen ini tidak hanya menjadi pelepasan simbolik bagi seorang pejabat tinggi, tetapi juga menjadi ruang spiritual yang mempertemukan nilai agama, adat, dan harapan rakyat Aceh untuk masa depan yang lebih bersatu dan sejahtera.

Editor: Akil

Megawati Puji Layanan Asrama Haji Aceh

0
Jemaah haji Aceh. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyambut kedatangan para jemaah calon haji di Asrama Haji Embarkasi Aceh. Di antara mereka, terdapat sosok Megawati, jemaah asal Bireuen yang mengaku puas dengan layanan yang diterimanya sejak tiba di lokasi.

Sejak turun dari bus, Megawati langsung merasakan keramahan para petugas. Mereka sigap membantu, bahkan mendorong koper-koper milik para jemaah tanpa diminta.

“Pelayanannya bagus sekali. Petugasnya ramah-ramah,” kata Megawati kepada Media Center Haji, di Asrama Haji Banda Aceh, Senin (26/5/2025).

Berangkat Menggantikan Ayah, Disambut Menu yang Lezat

Megawati sendiri berangkat haji menggantikan sang ayah yang telah wafat. Sang orang tua tercatat mendaftar sejak 2012 silam. Kini, giliran Megawati yang menjadi ‘Tamu Allah’.

Selama berada di asrama, ia merasa sangat diperhatikan, baik dari sisi pelayanan maupun konsumsi.

“Menu makanannya enak,” jelasnya.

Tak hanya Megawati, jemaah lain asal Bireuen, Faridah Muhammad (67), juga menyampaikan kesan yang sama. Menurutnya, keberadaan para petugas sangat membantu, terutama bagi jemaah lanjut usia sepertinya.

“Petugas di sini sangat membantu kami,” jelas perempuan yang sudah 13 tahun menunggu untuk berhaji.

Jemaah Termuda Ikut Terlayani dengan Baik

Layanan prima dari petugas tidak hanya dirasakan oleh para lansia. Jemaah termuda asal Nagan Raya, Muhammad Walis Salikin (18), juga mengakui hal yang sama.

Menurutnya, bantuan dari petugas asrama sangat terasa, mulai dari kedatangan hingga saat hendak menuju bandara.

“Bagus pelayanan di sini,” jelas Walis.

Prioritaskan Lansia, Petugas Turun Tangan Langsung

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari, menegaskan bahwa pihaknya memang memberikan perhatian khusus kepada jemaah lansia. Bahkan, sejak jemaah turun dari bus, pelayanan sudah langsung disiapkan.

“Ketika turun dari bus yang membawanya dari daerah, jemaah lansia langsung dibawa ke kamar dengan menggunakan kursi roda. Mereka lebih banyak istirahat selama di asrama haji,” kata Azhari.

Ia menambahkan, jemaah lansia juga ditempatkan di lantai satu agar lebih mudah beraktivitas. Dengan pendekatan ini, kenyamanan dan kesehatan para jemaah dapat lebih terjaga sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.

Editor: AKil

Harga Emas Masih Mahal, Ini Nasihat Ustaz Miswal bagi Pemuda yang Ingin Menikah

0
Ilustrasi pernikahan. (Foto: Ayosemarang.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Di tengah naiknya harga emas yang menjadi mahar utama dalam budaya pernikahan di Aceh, para pemuda kerap merasa terbebani secara ekonomi untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Padahal, menurut Ustaz Miswal Saragih, pernikahan yang berkah tidak ditentukan oleh kemewahan atau mahalnya mahar, melainkan oleh niat yang tulus dan kesederhanaan.

Dalam sebuah wawancara khusus bersama Nukilan.id pada Selasa (27/5/2025), Ustaz Miswal menyampaikan tiga nasihat penting bagi para pemuda yang berniat menikah di tengah situasi ekonomi yang belum membaik, namun tetap ingin menjaga kesakralan dan keberkahan pernikahan mereka.

“Pertama, jangan takut menikah karena alasan ekonomi. Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan bagi yang menikah dengan niat menjaga diri dan menjaga agama,” ujar Ustaz Miswal mengawali nasihatnya.

Ia kemudian menegaskan bahwa keyakinan terhadap janji Allah harus menjadi pondasi utama dalam membangun rumah tangga, terutama ketika seseorang memulainya dalam keterbatasan materi.

“Allah menyebutkan dalam surah An-Nur ayat 32 yang artinya; jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan karunia Allah,” lanjutnya.

Nasihat kedua, kata Ustaz Miswal, menyoroti pentingnya sikap sederhana dalam menggelar pernikahan. Ia mengingatkan bahwa standar mewah yang kerap dijadikan tolak ukur kesuksesan pernikahan di zaman sekarang justru bisa mengaburkan esensi keberkahan dalam pernikahan itu sendiri.

“Nasihat yang kedua, utamakan kesederhanaan dan keberkahan. Jadi jangan bebani diri sendiri dengan standar dunia zaman sekarang, karena pernikahan yang diberkahi bukanlah pernikahan yang mewah, tapi yang mengikuti sunnah,” jelasnya.

Selain itu, komunikasi yang jujur dan niat yang lurus menurutnya menjadi kunci ketiga dalam menghindari konflik dan kesalahpahaman di awal pernikahan. Terutama bagi pihak laki-laki yang hendak melamar, ia menganjurkan agar keterbukaan menjadi dasar dalam menjalin komitmen dengan pasangan dan keluarganya.

“Ketiga, jaga niat dan komunikasikan dengan baik. Jadi bagi para laki-laki yang ingin menikah sampaikan dengan jujur kondisi ekonomi kepada calon pasangan dan keluarganya. Jika niatnya baik dan jujur, maka Insya Allah nanti akan Allah mudahkan itu,” tutur Ustaz Miswal.

Tak hanya kepada calon pengantin, Ustaz Miswal juga menitipkan pesan kepada para orang tua, terutama yang memiliki anak perempuan. Ia berharap orang tua tidak mempersulit jalan pernikahan hanya karena faktor mahar.

“Juga bagi para orang tua, yang anak gadisnya akan ingin dilamar oleh laki-laki maka hendaknya mudahkanlah pernikahan mereka dan mudahkanlah maharnya, karena mahar tidak mesti emas,” imbuhnya.

Dalam penutup nasihatnya, Ustaz Miswal mengajak seluruh pihak untuk menjadikan pernikahan sebagai solusi, bukan beban. Hal ini penting agar pernikahan dapat menjadi benteng dari berbagai potensi penyimpangan dalam pergaulan.

“Jadikanlah pernikahan ini sebagai solusi bukan menjadi beban sehingga bisa mencegah perzinahan dan pergaulan bebas,” tegasnya.

Sebagai informasi, harga emas per mayam di Banda Aceh pada Selasa (27/5/2025) terpantau masih bertahan di angka Rp 5.660.000 per mayam, belum termasuk ongkos pembuatan. Dalam setahun terakhir, harga emas mengalami kenaikan sekitar 43,66 persen dibandingkan Mei 2024.

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi para pemuda di Aceh, mengingat adat yang mengharuskan mahar pernikahan berupa emas, dengan jumlah minimal berkisar 3 hingga 5 mayam.

Dengan kenyataan ekonomi yang serba sulit, nasihat Ustaz Miswal menjadi pengingat bahwa esensi pernikahan bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada keberkahan, kesederhanaan, dan kejujuran niat. (XRQ)

Reporter: Akil

Ustaz Miswal: Dalam Islam, Mahar Tak Harus Emas

0
Ilustrasi mahar pernikahan (Foto: pixabay.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Harga emas yang terus melambung dalam beberapa waktu terakhir menjadi beban tersendiri bagi pemuda Aceh yang ingin menikah. Di tengah budaya lokal yang mengharuskan mahar berupa emas, bahkan paling sedikit 3 hingga 5 mayam, banyak kalangan muda mulai merasa tertekan secara ekonomi.

Saat ini, harga emas per mayam di Banda Aceh bertahan di angka Rp 5.660.000, belum termasuk ongkos pembuatan. Dalam setahun terakhir, angka ini melonjak tajam hingga sekitar 43,66 persen dibandingkan Mei 2024.

Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan: adakah alternatif mahar yang lebih ringan namun tetap sah menurut Islam?

Menanggapi hal tersebut, pada Selasa (27/5/2025), Nukilan.id mewawancarai Ustaz Miswal Saragih. Ia menegaskan bahwa Islam sesungguhnya tidak membatasi mahar hanya pada bentuk emas atau materi yang mahal.

“Jadi Nabi kita Muhammad ﷺ, memberikan contoh bahwa mahar itu tidak harus mahal dan tidak mesti berupa emas,” kata Ustaz Miswal membuka penjelasannya.

Lebih lanjut, ia mencontohkan pernikahan agung antara Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Rasulullah ﷺ. Dalam kisah tersebut, Ali hanya memberikan mahar berupa barang sederhana yang ia miliki kala itu.

“Contohnya ketika Ali bin Abi Thalib ingin menikahi Fatimah binti Rasulullah, dengan mahar baju atau perisai besi miliknya,” sambungnya.

Tak hanya itu, Ustaz Miswal juga mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad ﷺ pernah menikahkan seorang sahabatnya yang tidak memiliki harta sedikit pun untuk dijadikan mahar. Dalam kasus ini, mahar digantikan oleh sesuatu yang lebih bermakna dan bermanfaat.

“Begitu juga dulu ada seorang sahabat lainnya yang menikah dengan mahar berbentuk pengajaran Al-Quran kepada calon istrinya, karena dia tidak memiliki harta, sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim,” jelasnya.

Menurutnya, berbagai kisah tersebut menjadi bukti bahwa Islam sangat fleksibel dalam memandang mahar. Yang terpenting bukanlah nilai material yang besar, tetapi niat baik, keberkahan, dan kesepakatan yang dicapai antara kedua calon mempelai.

“Jadi kisah-kisah ini menunjukkan bahwa yang penting itu keberkahan dan kesepakatan, bukan dari nilai materi yang besar,” pungkasnya.

Dalam konteks Aceh yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat sekaligus berlandaskan pada syariat Islam, pernyataan ini patut menjadi bahan renungan bersama. Budaya pemberian mahar dalam bentuk emas, meski memiliki nilai simbolik dan penghormatan, perlu dilihat ulang agar tidak menjadi beban yang justru menghalangi generasi muda untuk membina rumah tangga.

Dengan meneladani kesederhanaan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, para pemuda Aceh dapat menemukan jalan keluar yang bijak dalam menghadapi tantangan ekonomi masa kini, tanpa mengurangi esensi dan kesakralan sebuah pernikahan. (xrq)

Reporter: Akil