Beranda blog Halaman 398

Seminar Nasional Grapensi Angkat Deeplearning, Kacabdin Bireuen Tuai Apresiasi

0
Kacabdin Bireuen Gelar Seminar Nasional Grapensi Angkat Deeplearning. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BIREUEN – Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru di era pendidikan berbasis karakter, Grapensi menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk The Power of Teaching dengan tema “Menjadi Guru Berpengaruh dan Inspiratif dengan Pendekatan Deeplearning”. Kegiatan ini berlangsung sejak 31 Mei hingga 1 Juni 2025, bekerja sama dengan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen. Seminar diselenggarakan di Aula Universitas Islam Aceh.

Dihadiri Narasumber Nasional

Seminar ini menghadirkan para pembicara nasional yang berpengalaman di bidang pendidikan. Mereka adalah Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd. (Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia), Saad Budiman Lubis, S.Pd.I., M.M. (Motivator Nasional), serta Dr. Erwin Yunaz, S.E., M.M. (Penggerak Sekolah Vokasi Nasional).

Kehadiran ketiga tokoh ini menjadi magnet tersendiri bagi ratusan peserta. Para guru yang datang dari berbagai wilayah Bireuen tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Apresiasi untuk Kacabdin Bireuen

Dalam sambutannya, Dr. Azaki Khoirudin memberikan apresiasi khusus kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen, Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, seminar ini merupakan bentuk nyata dari respons cepat terhadap kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Mu’ti, yang sedang mendorong pendekatan deeplearning dalam proses belajar-mengajar.

“Pendekatan deeplearning sangat relevan dalam upaya mencapai delapan profil lulusan yang menjadi fokus kebijakan pendidikan nasional,” ujar Azaki.

Apresiasi senada juga datang dari Saad Budiman Lubis, yang dikenal sebagai motivator nasional sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Grapensi.

“Abdul Hamid merupakan sosok kepala cabang dinas yang visioner dan selangkah lebih maju dibandingkan daerah lain dalam merespons isu strategis pendidikan, khususnya terkait pengembangan konsep deeplearning,” katanya.

Sosok yang Menginspirasi

Tak hanya aktif dalam merancang kebijakan peningkatan kompetensi guru, Abdul Hamid juga dikenal dengan keteladanan pribadinya. Salah satu tindakannya yang sempat viral adalah ketika ia menukarkan sepatunya dengan milik seorang siswa yang robek.

Meski sederhana, tindakan itu mendapat sambutan positif dari masyarakat dan dianggap sebagai bentuk kepedulian nyata seorang pemimpin di dunia pendidikan.

Harapan Grapensi

Grapensi berharap seminar ini menjadi langkah awal yang strategis dalam memperkenalkan pendekatan deeplearning kepada para pendidik di Aceh. Mereka ingin konsep ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar diterapkan dalam kelas-kelas.

“Dengan terselenggaranya seminar ini, Grapensi berharap pendekatan deeplearning dapat semakin dikenal dan diterapkan secara luas oleh para pendidik, serta menjadi salah satu upaya strategis dalam mencetak generasi pembelajar yang berdaya saing tinggi dan berkarakter,” ujarnya.

Editor: Akil

Desi Hartika Nahkodai Kopri PKC PMII Aceh 2025–2027

0
Desi Hartika Nahkodai Kopri PKC PMII Aceh 2025–2027. (Foto; Dok Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XII PKC PMII Aceh resmi berakhir. Dalam forum yang digelar sejak 30 Mei hingga 1 Juni tersebut, Desi Hartika terpilih sebagai Ketua Kopri PKC PMII Aceh untuk periode 2025–2027.

Kemenangan Desi tak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga simbol semangat kolektif kader perempuan PMII. Dalam sambutannya usai pemilihan, Desi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh kader yang telah memberikan kepercayaan besar kepadanya.

“Saya percaya, bersama-sama kita bisa memperkuat peran PMII Putri sebagai garda terdepan perjuangan perempuan,” katanya seraya menyebutkan kemenangannya sebagai kemenangan seluruh kader putri PMII.

Komitmen untuk Gerakan Progresif dan Responsif

Lebih lanjut, Desi menegaskan komitmennya untuk membawa Kopri PKC PMII Aceh menjadi organisasi yang progresif dan responsif terhadap isu-isu perempuan dan kemahasiswaan. Ia percaya, perubahan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui sinergi dan semangat kolektif di antara kader.

Konkoorcab XII juga menjadi penanda berakhirnya masa kepemimpinan Widia Fitri sebagai Ketua Kopri PKC PMII Aceh sebelumnya. Pergantian kepemimpinan ini diharapkan membawa energi baru bagi gerakan perempuan di lingkungan PMII Aceh.

Duet Baru Pemimpin PKC PMII Aceh

Selain Desi, forum Konkoorcab XII juga menetapkan Teuku Raysoel Akram sebagai Ketua PKC PMII Provinsi Aceh. Keduanya kini memikul tanggung jawab besar untuk menakhodai organisasi ke depan, di tengah dinamika sosial dan tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ketua PKC PMII Aceh demisioner, Reza Rizki, menyampaikan ucapan selamat dan harapan kepada kedua sosok terpilih tersebut.

“Saya ucapkan selamat kepada sahabat Teuku Raysoel Akram dan Desi Hartika atas terpilihnya sebagai Ketua PKC PMII Aceh dan Ketua Kopri PKC PMII Aceh,” ujarnya.

Menurut Reza, amanah ini menuntut integritas, dedikasi, dan semangat kebersamaan. Ia berharap keduanya mampu menjaga marwah organisasi, memperkuat kaderisasi, serta menjadikan PMII lebih dekat dengan persoalan rakyat dan dunia akademik.

Harapan Kader dan Tantangan ke Depan

Di sisi lain, Reza menekankan pentingnya kesinambungan organisasi melalui semangat kolektif-kolegial. Menurutnya, ruang gerak PMII harus terus diperluas di tengah perubahan sosial yang cepat dan kompleks.

Dengan terpilihnya Desi Hartika, para kader PMII di Aceh menyimpan harapan besar. Mereka menantikan terwujudnya visi dan misi yang telah Desi paparkan dalam forum Konkoorcab. Harapan itu bukan sekadar ucapan, melainkan dorongan nyata agar PMII Putri semakin solid, progresif, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Editor: Akil

Sosiolog Aceh Minta Pemda Gunakan Data Empirik untuk Cegah Pengemis Menjamur

0
sisiolog aceh
Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sosiolog Aceh, Dr. Masrizal, menilai bahwa kemunculan pengemis dan pengamen di Aceh harus dibaca sebagai sinyal kegagalan sistemik dalam pemberdayaan masyarakat di tingkat paling bawah. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah dalam merespons situasi ini secara serius dan terstruktur.

“Pemerintah perlu serius menggali potensi-potensi lokal yang ada di masyarakat. Setiap gampong (desa) di Aceh sebaiknya memiliki data profil yang menggambarkan potensi masing-masing secara akurat,” ungkapnya saat diwawancarai Nukilan.id pada Minggu (1/6/2025).

Menurutnya, pengumpulan data tersebut tidak hanya berhenti pada aspek potensi ekonomi semata, namun juga harus mencakup dimensi sosial dan kultural dari masyarakat setempat. Hal ini penting agar program yang dirancang tidak bersifat seragam, melainkan kontekstual dan tepat sasaran.

“Selain itu, diperlukan pula pemetaan sosial di setiap daerah untuk memahami karakter dan mentalitas masyarakat secara lebih menyeluruh,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan kebijakan yang berbasis pemetaan sosial akan mampu mengenali beragam pola tantangan yang dihadapi masyarakat, baik di wilayah pesisir, pegunungan, maupun perkotaan.

“Mentalitas dan tantangan sosial antara satu daerah dan daerah lain bisa sangat berbeda, sehingga pendekatannya pun harus disesuaikan,” katanya lagi.

Dalam konteks pembangunan daerah, Masrizal menyayangkan masih minimnya penggunaan data empirik dalam perencanaan pembangunan. Padahal, data tersebut sangat penting untuk memastikan arah pembangunan tidak menyimpang dari kebutuhan riil masyarakat.

“Pemerintah daerah, terutama para bupati dan walikota, harus menjadikan pemetaan sosial sebagai dasar dalam menyusun kebijakan,” ungkap akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa Aceh hingga kini masih menyandang status sebagai salah satu daerah termiskin di Pulau Sumatra. Kondisi ini menurutnya menuntut kebijakan yang lebih berbasis bukti dan bukan sekadar rutinitas administratif belaka.

“Penting untuk menggunakan data-data empirik agar pembangunan masyarakat Aceh benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Apalagi Aceh hingga kini masih menyandang status sebagai salah satu daerah termiskin di Sumatra,” jelasnya.

Masrizal juga mengkritik penyusunan dokumen perencanaan pembangunan yang selama ini cenderung formalistik dan tidak mengakar pada dinamika sosial masyarakat.

“Oleh karena itu, dokumen perencanaan seperti RPJM harus benar-benar dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar formalitas administratif,” pungkasnya.

Fenomena sosial yang kian kompleks seperti menjamurnya pengemis dan pengamen di Banda Aceh, menurut Masrizal, seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah untuk lebih responsif dan berbasis pada realitas lapangan. Tanpa itu, potensi daerah akan terus terkubur dan masalah sosial akan terus membesar tanpa solusi jangka panjang. (XRQ)

Reporter: Akil

Sosiolog Beberkan Alasan Banda Aceh Diserbu Pengemis

0
Sosiolog Beberkan Alasan
Koordinator Prodi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana USK, Dr. Masrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fenomena meningkatnya jumlah pengemis dan pengamen di sudut-sudut Kota Banda Aceh serta sejumlah kabupaten lain di Aceh belakangan ini mengundang keprihatinan berbagai kalangan.

Mereka tak lagi hanya hadir di persimpangan lampu merah, tetapi mulai memasuki ruang-ruang privat seperti warung dan kafe, menyuguhkan alunan musik dengan harapan imbalan uang dari pengunjung.

Fenomena ini mengindikasikan persoalan sosial yang lebih dalam, yang tak sekadar soal pilihan hidup di jalanan. Untuk menelusuri akar masalah tersebut, Nukilan.id mewawancarai Dr. Masrizal, sosiolog dari Aceh, pada Minggu (1/6/2025).

Menurutnya, kemunculan pengemis dan pengamen di ruang publik sangat berkaitan erat dengan kondisi ekonomi lokal yang rapuh dan tidak stabil.

“Tentu saja ada. Lemahnya ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor utama munculnya pengemis dan pengamen di ruang-ruang publik,” ujar Dr. Masrizal.

Ia menjelaskan bahwa ketergantungan masyarakat Aceh terhadap sektor ekonomi tradisional yang tidak memiliki daya tahan terhadap fluktuasi pasar, memperparah situasi tersebut.

Ketika komoditas mengalami penurunan produksi, dampaknya langsung terasa pada kehidupan sehari-hari warga.

“Misalnya, di Aceh Selatan, saat pala mulai mati, ekonomi masyarakat pun langsung terdampak. Daya beli menurun, aktivitas ekonomi lesu. Hal serupa terjadi di Pidie, di mana produksi muling (melinjo) tidak sebaik dulu,” sambungnya.

Kondisi ini, menurut Dr. Masrizal, mencerminkan betapa rapuhnya ketahanan ekonomi masyarakat Aceh dalam menghadapi perubahan, baik yang bersifat lokal maupun global.

“Semua ini memperlihatkan betapa rentannya masyarakat kita terhadap fluktuasi ekonomi,” tambahnya.

Namun, akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala ini menekankan bahwa penyebab tumbuh suburnya praktik mengemis dan mengamen di ruang publik tidak hanya berpangkal pada faktor ekonomi semata.

Ada dimensi sosiokultural yang juga memainkan peran signifikan, khususnya yang berkaitan dengan keluarga dan pendidikan.

“Dari sisi keluarga, dulu nilai-nilai keharmonisan dan rasa saling memiliki dalam keluarga sangat kuat. Kini, nilai-nilai tersebut mulai memudar. Rasa kepedulian terhadap sesama anggota keluarga pun semakin menipis,” tuturnya.

Perubahan nilai-nilai kekeluargaan ini, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari menurunnya kualitas pendidikan yang dalam jangka panjang turut membentuk mentalitas dan orientasi hidup generasi muda.

“Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas pendidikan di Aceh, yang kini berada di bawah rata-rata dibandingkan dengan beberapa wilayah lain di Sumatra,” jelas Dr. Masrizal.

Pendidikan yang lemah, lanjutnya, membuka celah bagi tumbuhnya pola pikir instan dalam menyikapi persoalan hidup. Di tengah keterbatasan lapangan kerja dan tekanan ekonomi, sebagian masyarakat justru melihat praktik mengemis sebagai solusi cepat untuk mendapatkan penghasilan.

“Lemahnya pendidikan ini secara tidak langsung turut membentuk mentalitas masyarakat, termasuk tumbuhnya pola pikir bahwa mengemis adalah jalan cepat untuk mendapatkan uang,” katanya.

Ia menambahkan bahwa fenomena ini cenderung lebih menonjol di kawasan-kawasan yang berada di sekitar wilayah perkotaan, di mana lalu lintas manusia dan potensi pemberian lebih besar.

“Fenomena ini mulai banyak ditemukan terutama di wilayah-wilayah yang dekat dengan perkotaan,” tutupnya.

Fenomena ini menjadi cermin persoalan struktural yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan. Perbaikan ekonomi lokal, penguatan pendidikan, serta revitalisasi nilai-nilai sosial di tingkat keluarga adalah langkah-langkah krusial yang perlu diambil untuk menekan gejala sosial yang kian mengemuka di ruang-ruang publik Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Fenomena Pengemis di Aceh, Cermin Perubahan Sosial yang Mengkhawatirkan

0
fenomena pengemis
Ilustrasi pengemis di Kota Banda Aceh. (Foto: Dinsos Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fenomena meningkatnya jumlah pengemis dan pengamen di berbagai sudut Kota Banda Aceh dan kabupaten lainnya belakangan ini menjadi sorotan publik. Keberadaan mereka yang kian menjamur di simpang-simpang lampu merah, bahkan masuk ke warung-warung dan kafe dengan alunan gitar dan permintaan uang seikhlasnya, memantik keprihatinan masyarakat.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah ingatan kolektif tentang masa lalu Aceh yang dikenal sebagai tanah para dermawan. Sejarah mencatat, masyarakat Aceh pernah menunjukkan semangat memberi yang luar biasa, salah satunya dengan menyumbangkan satu unit pesawat Dakota RI-001 Seulawah kepada pemerintah pusat pada awal kemerdekaan Indonesia. Sebuah aksi monumental yang bukan sekadar bantuan materiel, tetapi juga simbol kebesaran jiwa dan solidaritas rakyat Aceh.

Namun kini, suasana itu terasa memudar. Alih-alih menjadi pihak yang memberi, masyarakat Aceh justru mulai terlihat menengadahkan tangan. Perubahan ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Nukilan.id menghubungi Dr. Masrizal, seorang sosiolog Aceh, pada Minggu (1/6/2025). Dalam pandangannya, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial yang lebih luas.

“Jika dilihat dari aspek sosiologis, meningkatnya jumlah pengemis di Aceh salah satunya disebabkan oleh faktor kemiskinan yang masih tinggi,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa realitas ekonomi yang tidak mendukung kehidupan layak turut memperparah situasi tersebut. Bukan hanya soal pendapatan yang minim, tetapi juga soal peluang untuk mandiri yang makin sulit ditemukan.

“Selain itu, akses terhadap lapangan kerja yang sulit juga menjadi pemicu utama. Kedua hal ini saling berkaitan dan berdampak langsung terhadap bertambahnya jumlah pengemis di ruang-ruang publik,” lanjutnya.

Lebih jauh, Dr. Masrizal menyoroti adanya pergeseran nilai dan pola kehidupan masyarakat Aceh jika dibandingkan dengan kondisi pada masa lampau.

“Dulu, masyarakat Aceh dikenal sebagai pihak yang memberi karena ditopang oleh kondisi ekonomi yang relatif kuat dan tersedianya banyak lapangan kerja,” katanya.

Kini, menurutnya, realitas itu telah bergeser secara signifikan. Struktur sosial dan ekonomi masyarakat tidak lagi berdiri kokoh sebagaimana dahulu.

“Namun kini, situasinya berbalik, kita justru lebih sering melihat masyarakat menengadahkan tangan. Ini menjadi refleksi bahwa struktur ekonomi dan sosial masyarakat kita telah mengalami perubahan yang cukup mendalam,” pungkasnya.

Fenomena ini, jika dibiarkan tanpa penanganan yang serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, berpotensi menimbulkan masalah sosial yang lebih besar di masa mendatang.

Bukan hanya soal meningkatnya angka kemiskinan, tetapi juga tentang lunturnya nilai-nilai kemandirian, martabat, dan jati diri masyarakat Aceh yang sejatinya dikenal sebagai pemberi, bukan peminta. (XRQ)

Reporter: Akil

Luis Enrique Kenang Mendiang Putrinya Usai PSG Juara Liga Champions

0
Pelatih PSG Luis Enrique pakai kaus bergambar mendiang sang putri menancapkan bendera di lapangan. (Foto: REUTERS/Peter Cziborra)

NUKILAN.ID | Jakarta — Kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions musim 2024/2025 menghadirkan momen emosional, bukan hanya bagi para pemain, tetapi juga sang pelatih, Luis Enrique. Dalam euforia pesta juara, Enrique mencuri perhatian lewat aksinya mengenakan kaus bergambar dirinya bersama mendiang putrinya, Xana.

Ganti Baju Setelah Juara

Setelah PSG memastikan kemenangan gemilang atas Inter Milan dengan skor telak 5-0 di Allianz Arena, Munchen, Minggu (1/6) dini hari WIB, Luis Enrique segera mengganti bajunya. Dari semula mengenakan kaus hitam polos, ia berganti mengenakan kaus berwarna hitam dengan ilustrasi dirinya bersama putrinya, tengah menancapkan bendera PSG di lapangan.

Gambar di kaus tersebut merupakan representasi penuh makna. Pasalnya, mendiang Xana, yang meninggal pada 2019 akibat kanker saat berusia sembilan tahun, digambarkan sedang menemaninya dalam momen simbolis itu.

Kenangan Manis yang Mengharukan

Tak berhenti di situ, suasana semakin mengharukan ketika ribuan pendukung PSG membentangkan spanduk besar bergambar Xana. Dalam ilustrasi itu, Xana tampak sedang menyaksikan ayahnya menancapkan bendera PSG — sebuah penghormatan menyentuh yang membuat Enrique menitikkan air mata.

“Itu sangat mengharukan. Sungguh indah membayangkan para penggemar memikirkan saya dan keluarga saya,” ujar Enrique.

Kaus yang dikenakan Enrique disebut-sebut sebagai pengingat akan momen serupa ketika ia dan Xana bersama-sama merayakan kemenangan Liga Champions saat masih melatih Barcelona.

Xana, Selalu di Hati

Kapten PSG, Marquinhos, menjadi yang pertama mengangkat trofi di hadapan lebih dari 30.000 pendukung Les Parisiens yang memadati stadion. Namun sesaat setelah itu, sorotan pun beralih kepada Enrique yang berdiri terharu, mengenang sang buah hati yang telah tiada.

Momen emosional itu menjadi penutup manis bagi malam bersejarah PSG — klub yang akhirnya menuntaskan penantian panjang mereka meraih gelar juara Liga Champions pertama sepanjang sejarah.

Meski demikian, Enrique menegaskan bahwa perasaan cintanya kepada Xana tak pernah tergantung pada keberhasilannya di lapangan hijau.

“Saya tidak perlu memenangkan Liga Champions untuk memikirkan putri saya. Saya selalu memikirkannya. Dia selalu bersama saya dan keluarga. Ini tentang mengambil sisi positif dari situasi negatif. Itulah mentalitas saya,” kata Enrique.

Di balik gemuruh kemenangan PSG, tersimpan kisah personal yang tak kalah menyentuh. Enrique menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar trofi, tetapi juga tentang keluarga, cinta, dan kenangan yang terus hidup di hati.

Editor: AKil

Menteri PPPA Kawal Langsung Hak Jemaah Haji Perempuan

0
Rombongan jemaah haji Indonesia terakhir yang akan bertolak dari Bir Ali menuju Mekkah, Arab Saudi.(Dok. Humas Kementerian Agama)

NUKILAN.ID | JEDDAH – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan komitmennya untuk memastikan jemaah haji perempuan mendapat layanan setara selama pelaksanaan ibadah haji 1446 Hijriah atau 2025.

Tak sekadar hadir sebagai satu-satunya anggota perempuan dalam Tim Amirul Hajj 2025, Arifatul menegaskan peranannya membawa tanggung jawab nyata.

“Tahun ini, jumlah jemaah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Karena itu, saya akan fokus mengawal layanan bagi mereka, memastikan pendampingan dan pemantauan agar perempuan juga bisa merasakan kualitas pelayanan terbaik,” ujar Arifatul di Jeddah, dikutip dalam keterangan resmi, Sabtu (31/5/2025).

Soroti Masalah Sanitasi hingga Minimnya Pembimbing Ibadah

Lebih lanjut, Arifatul mengangkat sejumlah persoalan yang selama ini masih dirasakan oleh jemaah perempuan. Ia menyoroti isu sanitasi dan keterbatasan jumlah pembimbing ibadah khusus perempuan.

Menurutnya, kebutuhan dasar seperti toilet harus benar-benar dipenuhi sesuai dengan kebutuhan spesifik perempuan.

“Durasi penggunaan toilet oleh perempuan umumnya lebih lama, jadi secara logis jumlahnya juga harus lebih banyak dibandingkan pria,” jelas Ketua PP Muslimat NU tersebut.

Masalah ini, kata Arifatul, akan terus dicatat sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan layanan haji ke depan.

Dorong Penambahan Pembimbing Perempuan

Tak berhenti di situ, Arifatul juga mengusulkan langkah strategis. Ia mendorong agar pemerintah menambah jumlah pembimbing ibadah perempuan pada musim haji 2026.

Langkah tersebut dianggap penting demi menjamin pelayanan spiritual bagi jemaah perempuan dapat dilakukan secara maksimal.

“Saya berharap pelaksanaan haji ke depan bisa lebih ramah perempuan, termasuk dalam edukasi fikih seputar kesehatan reproduksi,” tandas Arifah.

Upaya untuk Perbaikan Nyata

Meski mengakui belum semua layanan bisa sempurna, Arifatul tetap optimistis. Ia meyakini bahwa dengan kerja keras, kualitas layanan bisa ditingkatkan dan lebih dirasakan manfaatnya oleh jemaah perempuan.

“Kalau sempurna mungkin tidak ada. Tapi kalau bisa lebih baik dan dirasakan manfaatnya oleh jemaah perempuan, itu yang sedang kami perjuangkan,” ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Agama, jemaah haji Indonesia tahun ini memang didominasi oleh perempuan. Maka dari itu, kehadiran Menteri PPPA di dalam tim Amirul Hajj menjadi sinyal penting bahwa pelayanan haji kini semakin inklusif dan berpihak pada kebutuhan spesifik jemaah perempuan.

Editor: Akil

Gletser Menopang Kehidupan, PBB Serukan Aksi Global

0

NUKILAN.ID | TAJIKISTAN — Dalam sebuah pertemuan internasional penting di Dushanbe, Tajikistan, Wakil Sekretaris Jenderal PBB Amina Mohammed menyerukan aksi segera untuk melindungi ekosistem air dari ancaman mencairnya gletser. Dalam pidato pembukaan Konferensi Internasional tentang Pelestarian Gletser pada Jumat (30/5/2025), ia menyampaikan peringatan keras.

Sejak 1975, dunia telah kehilangan lebih dari 9.000 miliar ton es. Jumlah itu setara dengan balok es setebal 25 meter yang menutupi seluruh Jerman.

“Jika tren saat ini terus berlanjut, banyak gletser mungkin tidak akan bertahan di abad ini. Ini akan mengubah bentang alam, ekosistem, penghidupan, dan keamanan air dalam skala global,” ujar Mohammed tegas.

Krisis Lambat yang Menerjang Dunia

Menurut Mohammed, mencairnya gletser bukan hanya persoalan daerah pegunungan. “Ini bukan sekadar krisis pegunungan – ini adalah bencana global yang bergerak lambat dengan konsekuensi luas bagi planet dan manusia,” ungkapnya.

Sehari sebelum konferensi, ia mengunjungi Gletser Vanj Yakh di bagian tengah utara Tajikistan. Di sana, ia menyaksikan langsung keindahan luar biasa dari gletser yang padat dan vital itu.

Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan kenyataan pahit. Dalam delapan dekade terakhir, gletser tersebut telah kehilangan volume air yang setara dengan 6,4 juta kolam renang Olimpiade. Hal ini menandakan percepatan mencairnya es akibat perubahan iklim.

“Ini bukan sekadar es. Ini adalah makanan, air, dan keamanan untuk generasi mendatang,” kata Mohammed.

“Gletser Kita Sedang Sekarat”

Gletser dan lapisan es menyimpan sekitar 70 persen air tawar dunia. Artinya, keberadaan mereka sangat penting bagi kelangsungan hidup umat manusia. Sayangnya, lima dari enam tahun terakhir mencatat pencairan gletser tercepat yang pernah tercatat.

“Gletser kita sedang sekarat,” kata Celeste Saulo, Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), yang menjadi salah satu penyelenggara konferensi.

Ia menambahkan, “Kematian sebuah gletser berarti lebih dari sekadar hilangnya es. Ini adalah pukulan mematikan bagi ekosistem kita, ekonomi kita, dan tatanan sosial kita.”

Tak hanya itu, mencairnya gletser juga meningkatkan risiko bencana seperti banjir dan longsor lumpur, serta mengganggu berbagai sektor penting seperti pertanian dan kehutanan.

Ilmu Harus Menyatu dengan Aksi

Melihat percepatan krisis ini, Mohammed menyerukan bahwa komunitas internasional tidak bisa menunda lagi.

“Waktu untuk bertindak adalah sekarang, demi rakyat kita dan planet ini,” tegasnya.

Konferensi ini bertujuan untuk menjadikan pelestarian gletser sebagai prioritas utama dalam agenda iklim global menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) yang akan digelar di Brasil pada November mendatang.

Sementara itu, Saulo menekankan pentingnya memperkuat pemantauan gletser dan sistem peringatan dini. Menurutnya, langkah ini akan membantu “menjembatani ilmu pengetahuan dan layanan publik”. Ia menambahkan, semua upaya tersebut harus diwujudkan dalam bentuk aksi konkret untuk memperlambat pencairan gletser.

Membangun Ketahanan Komunitas

Di Tajikistan sendiri, PBB telah mendukung para petani lokal melalui pelatihan dan transfer pengetahuan. Hal ini dijelaskan oleh Parvathy Ramaswami, Koordinator Residen PBB di negara tersebut.

“[Pelatihan] ini berarti lebih banyak anak-anak aman dari bencana, mereka bisa pergi ke sekolah, belajar, dan berkembang,” ujarnya. “Keluarga dan komunitas menjadi tangguh dan sejahtera.”

Suara Anak Muda Harus Didengar

Selain bertemu dengan para pejabat dan ilmuwan, Mohammed juga berdialog dengan banyak aktivis muda pegiat iklim di Tajikistan. Ia menekankan bahwa penanganan krisis gletser harus melibatkan lintas generasi, sebagaimana semangat konferensi ini.

“Keputusan global yang kita bentuk hari ini akan memengaruhi hidup mereka. Jadi, berpikir bahwa kita bisa menentukan masa depan seseorang tanpa melibatkan mereka jelas tidak sejalan dengan hak mereka untuk menentukan masa depan dan aspirasi mereka sendiri,” katanya.

Sebagai pesan untuk generasi muda, Mohammed menyampaikan harapannya agar mereka terus berani menyuarakan pandangan mereka.

“Mereka harus terus menyuarakan pendapat, terus memiliki keyakinan yang teguh, dan mengingat bahwa ini adalah perjalanan hidup—dan setiap langkah harus memiliki makna.”

Editor: Akil

Menpora Yakin Timnas U-23 Mampu Kalahkan Korea Selatan

0
Menpora RI, Dito Ariotedjo. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | Jakarta — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo menunjukkan rasa percaya dirinya terhadap peluang Timnas Indonesia U-23 di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026. Ia optimistis, Garuda Muda mampu mengalahkan lawan tangguh seperti Korea Selatan.

Hasil undian yang digelar di Arab Saudi pada Kamis (29/5/2025) menempatkan Indonesia di Grup J. Di grup ini, skuad asuhan Gerald Vanenburg akan berhadapan dengan Korea Selatan, Laos, dan Makau.

Meskipun Korea Selatan dikenal sebagai salah satu kekuatan besar di Asia, Menpora Dito menilai bahwa Indonesia tak perlu gentar. Ia menilai kualitas sepak bola Indonesia saat ini sudah berkembang pesat dan siap bersaing.

“Saya rasa bagaimana kita melihat Timnas junior dan bahkan U-23 ini sudah siap melawan negara-negara yang jauh di atas kita. Bisa kita lihat kemarin. Saya sih optimistis,” kata Dito, Sabtu (31/5/).

Menariknya, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah babak kualifikasi Grup J. Rencananya, pertandingan akan digelar di Jakarta pada 1–9 September 2025.

Faktor tuan rumah ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Dukungan penuh dari suporter di stadion bisa menjadi tambahan semangat bagi Marselino Ferdinan dan kawan-kawan.

Di antara ketiga lawan, hanya Korea Selatan yang dipandang sebagai lawan berat. Namun, sejarah menunjukkan bahwa Indonesia bukan tanpa peluang. Pada ajang Piala Asia U-23 2024, Timnas Indonesia sukses menyingkirkan Korea Selatan melalui drama adu penalti.

Kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa Garuda Muda bisa bersaing bahkan dengan tim unggulan Asia sekalipun.

Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 diikuti oleh 44 negara dan dibagi ke dalam 11 grup. Nantinya, hanya 15 tim yang akan melaju ke putaran final. Rinciannya, 11 juara grup ditambah empat runner-up terbaik.

Dengan hanya satu tempat otomatis dari setiap grup, laga melawan Korea Selatan bisa menjadi penentu. Karena itu, setiap pertandingan akan sangat krusial bagi Indonesia.

Untuk mempersiapkan skuad sebaik mungkin, pelatih kepala Gerald Vanenburg berencana menggelar pemusatan latihan jangka panjang di Jakarta. Program ini diharapkan dapat mematangkan strategi serta meningkatkan kekompakan tim.

Dengan persiapan matang, dukungan publik, dan semangat juang tinggi, Timnas Indonesia U-23 memiliki modal kuat untuk mencetak sejarah baru.

Editor: Akil

Cegah Praktik Calo, Anggota DPRA Desak Disdik Aceh Umumkan Hasil AKKS

0
Anggota DPRA Komisi VI, Muhammad Zakiruddin. (Foto: Dok Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Hasil asesmen kompetensi kepala sekolah (AKKS) tingkat SMA, SMK, dan SLB se-Aceh yang telah dilaksanakan lebih dari sebulan lalu, hingga kini belum diumumkan ke publik. Kondisi ini memicu kekhawatiran berbagai pihak, termasuk dari kalangan legislatif.

Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai Aceh, Muhammad Zakiruddin, angkat bicara. Ia mendesak Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh untuk segera mempublikasikan hasil AKKS yang digelar pada 27 April 2025 lalu.

“1.105 orang, terdiri atas kepala sekolah aktif dan calon kepala SMA, SMK, dan SLB dari seluruh Aceh telah mengikuti AKKS. Tapi sudah sebulan lebih kenapa hasil AKKS tidak diumumkan ke publik dan implementasi hasilnya tidak ada,” ujar Muhammad Zakiruddin, Sabtu (31/5/2025).

Menurut pria yang akrab disapa Bang Zak itu, penundaan pengumuman hasil AKKS dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai spekulasi liar di masyarakat. Oleh karena itu, Disdik Aceh diminta segera bertindak transparan.

“Pelaksanaan AKKS ini untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Tapi kalau hasilnya tidak diumumkan segera bisa menimbulkan persepsi lain di tengah-tengah masyarakat,” lanjutnya.

Waspadai Oknum Calo Bermain

Lebih lanjut, Bang Zak menyoroti potensi munculnya praktik percaloan dalam proses penempatan kepala sekolah jika hasil asesmen tidak diumumkan secara terbuka.

“Jangan sampai pelaksanaan AKKS ini dimanfaatkan oleh oknum oknum calo atau orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk meminta sejumlah uang dengan calon kepala sekolah atau kepala sekolah yang telah mengikuti AKKS, dengan iming-iming bisa mengurus penempatan menjadi kepala sekolah di sekolah-sekolah favorit atau yang memiliki jumlah siswa yang banyak,” tegasnya.

Transparansi, menurut Bang Zak, adalah benteng utama untuk mencegah praktik-praktik tak sehat tersebut. Ia menilai, publik berhak tahu siapa saja yang lolos dan layak menduduki jabatan kepala sekolah.

Data AKKS: Dari 1.337 Hanya 1.105 yang Lolos Administrasi

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 1.105 orang telah mengikuti AKKS yang diselenggarakan oleh Disdik Aceh. Mereka terdiri atas kepala sekolah aktif maupun calon kepala sekolah dari seluruh provinsi.

Jumlah itu merupakan hasil seleksi dari 1.337 orang yang sebelumnya mendaftar sebagai Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) jenjang SMA, SMK, dan SLB. Setelah seleksi administrasi, hanya 1.105 peserta yang dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti asesmen.

Mendesak untuk Kualitas Pendidikan

Desakan dari anggota dewan ini mencerminkan urgensi pembenahan sistem pendidikan di Aceh. Pengumuman hasil asesmen, selain menjadi bentuk akuntabilitas publik, juga menjadi fondasi penting untuk menjamin kualitas kepemimpinan sekolah yang profesional dan bebas intervensi.

Bang Zak berharap, tidak ada lagi kesan pengelolaan pendidikan yang tertutup dan rawan manipulasi. Disdik Aceh diminta segera menjawab kepercayaan masyarakat dengan membuka hasil AKKS secara transparan.

Editor: Akil