Beranda blog Halaman 397

Presiden Prabowo Serahkan 24 Sapi Kurban untuk Warga Aceh

0
Iluatrasi Sapi. (Foto:Instagram @raffinagita1717)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, Presiden RI Prabowo Subianto memberikan bantuan 24 ekor sapi kurban kepada masyarakat Aceh. Bantuan ini ditujukan untuk seluruh kabupaten/kota serta pemerintah provinsi, guna dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Menurut Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Aceh, Zalsufran, bantuan tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini kurban Presiden ada perbedaan dari sebelumnya. Tahun ini Presiden Prabowo memberikan kurban ke semua kabupaten/kota dan masing-masing pemerintahan provinsi satu ekor,” kata Zalsufran di Banda Aceh.

Dengan demikian, seluruh 23 kabupaten/kota di Aceh masing-masing akan menerima satu ekor sapi kurban. Satu ekor tambahan disalurkan untuk pemerintah provinsi, sehingga totalnya mencapai 24 ekor.

Bobot Sapi Minimal 800 Kilogram

Lebih lanjut, Zalsufran menjelaskan bahwa jenis sapi tidak ditentukan secara spesifik. Namun, ada syarat minimal berat untuk hewan kurban yang disumbangkan Presiden.

“Jenisnya tidak ditentukan, tetapi beratnya rata-rata di atas 800 kg. Kalau penerima itu ada kebijakan di kabupaten/kota, pastinya dibagikan kepada masyarakat,” katanya.

Menariknya, pembelian sapi dilakukan langsung oleh pemerintah kabupaten/kota masing-masing. Sementara itu, anggaran pengadaannya akan ditransfer langsung oleh Sekretariat Presiden.

Sapi untuk Provinsi Diserahkan ke Masjid Raya

Khusus untuk satu ekor sapi yang diserahkan ke tingkat provinsi, jenis yang dipilih adalah Simental dengan berat mencapai 860 kilogram. Nantinya, hewan kurban tersebut akan diserahkan langsung oleh Gubernur Aceh.

“Untuk provinsi sapinya jenis Simental dengan berat 860 kg. Dan, bakal diserahkan ke Masjid Raya Baiturrahman oleh Gubernur Aceh usai pelaksanaan shalat Idul Adha,” demikian Zalsufran.

Bantuan hewan kurban dari Presiden ini menjadi simbol kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama di hari raya yang penuh berkah. Selain itu, distribusi yang merata ke seluruh kabupaten/kota diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bupati Muharram Idris Lantik dr. Bunaiya Sebagai Direktur RSUD Aceh Besar

0
Bupati Muharram Idris Lantik dr. Bunaiya Sebagai Direktur RSUD Aceh Besar. (Foto: MC Abes)

NUKILAN.ID | JANTHO – Suasana di Teras Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Besar, Indrapuri, Senin (2/6/2025), terasa khidmat namun penuh harapan. Di hadapan puluhan tenaga kesehatan dan Aparatur Sipil Negara (ASN), Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, resmi melantik dr. Bunaiya Putra, MKM sebagai Direktur RSUD Aceh Besar.

Pelantikan ini sekaligus menjadi momentum penting bagi sektor kesehatan di kabupaten tersebut. Sebab, dalam kesempatan yang sama, Bupati Muharram juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada Nelly Ulfiati, SKM MPH sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar. Sebelumnya, Nelly menjabat sebagai Sekretaris di dinas yang sama.

“Saya Bupati Aceh Besar melantik dan meresmikan saudara sebagai direktur RSUD, semoga Allah memberikan petunjuk dan bimbingan dalam menjalankan tugas sehari-hari,” ujar Muharram saat membacakan naskah pelantikan.

Tegaskan Komitmen Pelayanan

Dalam sambutannya, Muharram Idris menegaskan bahwa pelayanan kesehatan yang prima merupakan prioritas utama. Ia berharap kehadiran direktur baru mampu membawa perubahan signifikan, khususnya dalam memastikan masyarakat mendapat pelayanan maksimal.

“Saya tidak mau dengar ada pasien yang tidak terlayani dengan baik, dan tidak ada dokter,” tegasnya di hadapan para tamu undangan.

Arahan tersebut menjadi sorotan, mengingat keluhan masyarakat terhadap layanan rumah sakit selama ini kerap mencuat. Oleh karena itu, dr. Bunaiya langsung menyambut kepercayaan ini dengan pernyataan tegas.

Tanda Tangan Pakta Integritas

Usai dilantik, dr. Bunaiya membacakan Pakta Integritas yang menunjukkan komitmennya dalam menjalankan tugas. Dalam pernyataannya, ia menyatakan kesediaannya untuk mengundurkan diri jika tidak mampu melakukan perubahan dalam enam bulan ke depan.

“Saya bersedia mengundurkan diri jika dalam enam bulan ke depan tidak mampu melakukan perubahan dalam pelayanan kesehatan dan tidak akan menempuh jalur hukum,” katanya dengan mantap.

Langkah ini diapresiasi oleh berbagai kalangan sebagai bentuk tanggung jawab moral yang tinggi dari seorang pemimpin layanan publik.

Hadirkan Pejabat Penting

Pelantikan ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Di antaranya adalah Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten (Sekdakab) Aceh Besar, Jamaluddin, SSos MM; Kepala BKPSDM Aceh Besar, Drs. Asnawi, MSi; serta Inspektur Aceh Besar, Zia Ul Azmi, SH MH.

Keikutsertaan para pejabat tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melakukan pembenahan sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Dengan pelantikan ini, publik menaruh harapan besar pada sosok dr. Bunaiya dan Nelly Ulfiati. Keduanya diharapkan mampu menghadirkan semangat baru dalam pelayanan kesehatan yang humanis, profesional, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Editor: AKil

Kepala BPBD Aceh Utara Dicopot Usai Kebakaran Renggut Nyawa Bocah

0
Bocah 6 Tahun Tewas dalam Kebakaran di Aceh Utara. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil atau akrab disapa Ayahwa, mengambil langkah tegas setelah insiden kebakaran di Desa Alue Bili Rayeuk, Kecamatan Baktiya, yang menewaskan seorang anak berusia 6 tahun. Ia memutuskan untuk mencopot Kepala BPBD Asnawi, menyusul dugaan kelalaian dalam penanganan peristiwa tersebut.

Saat memimpin apel di halaman Kantor Bupati pada Senin (2/6/2025), Ayahwa menyampaikan duka mendalam atas musibah yang terjadi pada Kamis, 29 Mei lalu. Dalam tragedi tersebut, seorang bocah bernama Muhammad Ishak meninggal dunia. Kebakaran diketahui terjadi tak jauh dari pos pemadam kebakaran.

Dalam pidatonya, Ayahwa menyampaikan langkah tegas kepada jajaran BPBD.

“Pertama, saya perintahkan pemberhentian dan penonaktifan sementara terhadap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Utara, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran, Danpos Damkar Alue Bili Rayeuk. Tugaskan pengganti, atau pelaksana harian untuk menjamin kelangsungan layanan,” kata Ayahwa.

Tak hanya pejabat utama, Ayahwa juga menyoroti enam petugas pemadam kebakaran yang tidak hadir saat kejadian. Mereka langsung dikenai sanksi pemberhentian sementara dan tidak menerima penghasilan selama proses pemeriksaan berlangsung.

Selain itu, dua petugas lainnya yang hadir saat kejadian namun dinilai masih perlu pembinaan juga tak luput dari perhatian.

“2 petugas Damkar yang hadir namun perlu pembinaan, saya perintahkan untuk bertugas penuh 24 jam selama satu bulan ke depan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan evaluasi kinerja,” jelasnya.

Langkah pembinaan tidak berhenti di situ. Ayahwa menyebutkan akan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh ASN di lingkungan BPBD Aceh Utara.

“Tidak berhenti di situ, evaluasi menyeluruh akan dilakukan terhadap seluruh ASN BPBD Aceh Utara. Siapa pun yang terbukti menyebabkan terhambatnya pelayanan, baik langsung maupun tidak langsung, akan dikenakan sanksi sesuai aturan,” lanjutnya.

Lebih jauh, Ayahwa menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi peringatan keras bagi seluruh aparatur pemerintah, khususnya yang terlibat langsung dalam pelayanan publik bersifat darurat.

“Terutama pimpinan OPD dan petugas lapangan yang memberikan pelayanan publik secara langsung atau bersifat darurat, seperti unsur Satpol PP dan WH, Petugas Lalulintas (LLAJ) (Perhubungan), Pemadam Kebakaran, Tim SAR, Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan lain lain,” ungkapnya.

Langkah tegas yang diambil Bupati Ayahwa ini menjadi cermin komitmen terhadap tanggung jawab publik, khususnya dalam sektor kebencanaan. Diharapkan, peristiwa tragis ini menjadi momentum untuk memperbaiki sistem, serta menguatkan kedisiplinan dan kesiapsiagaan semua unsur yang terlibat dalam penanggulangan bencana.

Editor: Akil

Harga Daging Sapi di Banda Aceh Masih Normal Jelang Meugang Idul Adha

0
Pedagang daging sapi di Pasar Al-Mahirah Lamdingin, Kota Banda Aceh, pada Kamis 27 Februari 2025. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Harga daging sapi di Pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh, masih terpantau stabil menjelang hari meugang menyambut hari raya Idul Adha 1446 Hijriah.

Salah seorang pedagang daging sapi, Rahmat menyebutkan harga daging sapi kualitas nomor satu masih dijual dengan harga Rp140.000 per kilogram. Untuk kualitas nomor dua dibanderol Rp120.000 per kilogram, sementara tulang rusuk dijual seharga Rp50.000 per kilogram.

“Harga daging sapi saat ini masih normal, belum ada kenaikan. Daging paling murah Rp120 ribu per kilogram, itu khusus untuk pelanggan tetap,” kata Rahmat kepada Nukilan, pada Senin (2/6/2025).

Kendati demikian, Rahmat memprediksi harga akan melonjak pada hari meugang pertama. Ia memperkirakan harga daging sapi bisa mencapai Rp170.000 hingga Rp180.000 per kilogram, dan harga tulang rusuk naik menjadi Rp80.000 per kilogram.

Rahmat juga memastikan stok daging yang disiapkannya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumen selama hari meugang. Namun, ia memprediksi jumlah pembeli akan menurun dibandingkan meugang Idul Fitri lalu.

“Kalau Idul Adha kan banyak pembagian daging kurban, jadi orang beli daging tidak terlalu banyak. Ditambah lagi kondisi ekonomi masyarakat sekarang sedang sulit,” tambanya.

Reporter: Rezi

Kuliah Umum Prodi IAN UIN Ar-Raniry: Bongkar Mitos ‘No Viral No Justice’

0
Kuliah Umum Prodi IAN UIN Ar-Raniry. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Fenomena “no viral, no justice” kembali menjadi sorotan. Melalui kuliah umum bertema “Relevansi Isu Viral terhadap Responsivitas Pelaksana Layanan”, Program Studi Ilmu Administrasi Negara (IAN), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Ar-Raniry, mengajak mahasiswa dan civitas akademika untuk merenungi paradigma baru pelayanan publik.

Kegiatan ini digelar di Ruang Lab Analisis Kebijakan dan menghadirkan narasumber utama, Dian Rubianty, SE., Ak., MPA, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh.

Dalam paparannya, Dian mengangkat isu yang kian marak terjadi di tengah masyarakat, yaitu respons layanan publik yang hanya muncul setelah sebuah kasus viral di media sosial.

“Fenomena ‘no viral, no responden; no viral, no justice’ merupakan bentuk konstruksi sosial yang saat ini semakin dianggap wajar oleh masyarakat,” ujar Dian.

Dampak Buruk Pola Reaktif

Menurut Dian, jika kecenderungan ini dibiarkan, akan lahir dua masalah besar. Pertama, pelaksana layanan menjadi pasif dan enggan bertindak sebelum ada tekanan publik. Kedua, masyarakat menjadi terlalu mudah percaya pada informasi viral tanpa memverifikasi sumber dan kebenarannya.

Akibatnya, terjadi kekacauan dalam memilah isu yang patut ditindaklanjuti dengan yang hanya sensasional belaka. Hal ini tentu berisiko mencederai prinsip-prinsip pelayanan publik yang adil dan bertanggung jawab.

Lebih lanjut, Dian mengajak seluruh pelaksana layanan untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan utama. Dalam sesi diskusi, ia menekankan pentingnya keteladanan dan sikap proaktif dalam melayani masyarakat.

Menurutnya, seorang pelayan publik harus menumbuhkan kesadaran bahwa tugas pelayanan bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga amanah moral dan spiritual.

Kolaborasi Mahasiswa untuk Perubahan Nyata

Tak hanya itu, Dian juga menyampaikan rencana strategis Ombudsman RI Perwakilan Aceh dalam memperkuat pengawasan terhadap praktik maladministrasi, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi.

Ia mengusulkan pembentukan Komunitas Mahasiswa Peduli Layanan Publik sebagai mitra kritis dalam menjaga kualitas pelayanan di kampus.

“Ombudsman RI akan terus hadir sebagai lembaga yang mendengar, menerima, dan menindaklanjuti setiap laporan masyarakat terkait layanan publik,” tegas Dian.

Menjunjung Prinsip Keadilan Substantif

Dalam pelaksanaannya, Ombudsman RI juga berkomitmen pada prinsip affirmative equity policy—yaitu menegakkan keadilan substantif bagi kelompok rentan dan termarjinalkan.

Acara yang dihadiri oleh para mahasiswa dan civitas akademika ini diharapkan menjadi momen penting bagi generasi muda. Terutama dalam membangun kesadaran bahwa pelayanan publik sejatinya lahir dari tanggung jawab, bukan sekadar reaksi atas viralitas.

Plt Sekda Aceh: Musdalub HIPMI, Momentum Konsolidasi dan Penguatan Internal

0
Plt. Sekda Aceh, M. Nasir, S.IP, MPA, saat menyampaikan sambutan Gubernur Aceh, dan membuka Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) BPD HIPMI Aceh XV, di Anjong Mon Mata, Banda Aceh. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) ke-15 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Aceh diharapkan menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat soliditas internal. Hal tersebut ditegaskan oleh Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah (Plt Sekda) Aceh, M Nasir, saat membacakan sambutan Gubernur Aceh dalam pembukaan Musdalub yang digelar di Anjong Mon Mata, Komplek Meuligoe Gubernur Aceh, Minggu (1/6/2025).

“Selain sebagai agenda organisasi untuk memilih kepemimpinan baru, Musdalub juga merupakan ajang konsolidasi yang penting untuk memperkuat soliditas internal, mempererat jejaring, serta mempertegas peran HIPMI sebagai katalisator pembangunan ekonomi Aceh,” ujar Plt Sekda.

Penurunan Kemiskinan dan Peran Strategis Dunia Usaha

Dalam sambutannya, M Nasir mengungkapkan bahwa Aceh saat ini tengah memasuki fase transformasi yang menjanjikan. Salah satu indikator penting adalah penurunan angka kemiskinan yang signifikan, yakni dari 14,23 persen pada Maret 2024 menjadi 12,64 persen di September 2024. Angka tersebut menempatkan Aceh sebagai provinsi dengan penurunan kemiskinan tertinggi di Sumatera dan ketiga secara nasional sejak Maret 2019.

“Kita menyadari bahwa kemajuan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari peran dunia usaha. Dalam konteks ini, saya menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada HIPMI yang terus melahirkan wirausahawan muda yang tangguh dan visioner,” sambung M Nasir.

Pemuda, Bonus Demografi, dan Rasio Wirausaha yang Meningkat

Plt Sekda turut menyoroti potensi demografi Aceh. Menurutnya, pada 2023 sebanyak 24,96 persen penduduk Aceh adalah pemuda—sekitar 1,36 juta jiwa dari total 5,48 juta. Ini merupakan bonus demografi yang harus dikelola secara strategis.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa semangat kewirausahaan di Aceh menunjukkan tren positif. Per Agustus 2024, rasio wirausaha di Aceh telah mencapai 3,94 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 3,08 persen.

“Namun kita tidak boleh berhenti pada kuantitas semata. Tantangan ke depan adalah meningkatkan skala usaha, memperkuat formalitas bisnis, dan mendorong digitalisasi serta inovasi. Dengan demikian, kontribusi dunia wirausaha, terutama UMKM, terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan serapan tenaga kerja bisa lebih optimal,” ucap M Nasir.

Pendidikan dan Tantangan Penciptaan Lapangan Kerja

Dalam kesempatan tersebut, M Nasir juga menyoroti data dari Survei Angkatan Kerja Nasional 2022. Ia menyebutkan bahwa dari setiap 100 pemuda yang bekerja, 19 di antaranya adalah wirausahawan—mayoritas berusaha secara mandiri.

Selain itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pemuda mencapai 61,84 persen dari total 2,6 juta angkatan kerja di Aceh pada awal 2024.

“Kita juga patut bersyukur bahwa tingkat partisipasi pendidikan dasar dan menengah pertama di Aceh sudah cukup menggembirakan. Berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Nasional 2024. Angka Partisipasi Sekolah usia 7–12 tahun sebesar 99,42 persen, dan usia 13–15 tahun sebesar 97,77 persen,” sebut Plt Sekda.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Pada jenjang pendidikan menengah atas (usia 16–18 tahun), partisipasi menurun menjadi 81,55 persen. Ini menjadi perhatian serius karena pendidikan merupakan pondasi utama lahirnya wirausahawan muda yang berdaya saing.

Hal ini diperparah dengan rendahnya serapan lulusan diploma dan sarjana di dunia kerja. Saat ini, hanya 3,37 persen dari total tenaga kerja yang berasal dari jenjang pendidikan tersebut. Sebaliknya, mayoritas angkatan kerja masih didominasi lulusan SMA sederajat.

Sinergi Pendidikan dan Dunia Usaha Jadi Kunci

Menurut Plt Sekda, sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha harus diperkuat. Aceh membutuhkan lebih banyak pemuda yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan.

“Di sinilah HIPMI memegang peranan penting dalam membentuk mentalitas entrepreneur sejak dini. Aceh memiliki berbagai potensi sektor unggulan yang siap digarap oleh pemuda, mulai dari pertanian, perikanan, pariwisata berbasis halal, ekonomi kreatif, hingga teknologi digital,” kata Plt Sekda berpromosi.

UMKM dan Peluang Bonus Demografi

M Nasir menambahkan bahwa pada 2023, jumlah UMKM di Aceh mencapai 424.850 unit, dengan mayoritas merupakan usaha mikro. Sektor ini menyerap banyak tenaga kerja dan berkontribusi besar pada perekonomian daerah.

“Aceh memiliki peluang besar dari bonus demografi. Pada tahun 2025, 60 persen penduduk Aceh akan berada dalam usia produktif. Ini adalah waktu yang tepat bagi HIPMI untuk memperluas pengaruhnya, bukan hanya sebagai wadah pengusaha muda, tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dalam membentuk ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” sebut M Nasir.

Ia menegaskan bahwa pemerintah terus mendukung penguatan kewirausahaan, mulai dari pelatihan, bantuan alat usaha, sertifikasi halal, pendampingan manajerial, hingga perluasan akses pembiayaan.

Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong agar pemuda masuk ke sektor inovatif dan berorientasi ekspor.

Harapan untuk HIPMI Aceh ke Depan

“Kami optimis, Musdalub ini semakin mempertegas kebangkitan HIPMI Aceh, yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman, lebih aktif dalam membina kader, dan lebih kuat dalam advokasi kebijakan yang berpihak kepada wirausahawan muda. Pemimpin yang akan terpilih nanti, harus mampu menjawab tantangan zaman, membangun kolaborasi lintas sektor, serta merawat semangat solidaritas dan etika berusaha yang luhur,” kata Plt Sekda.

Ia juga mengajak seluruh anggota HIPMI untuk menjadikan Musdalub sebagai momentum lahirnya strategi baru dan kepemimpinan yang mampu mengakselerasi peran organisasi sebagai lokomotif ekonomi daerah.

“Jadikan HIPMI sebagai rumah besar bagi para inovator, dan motor pembangunan lokal. Insya Allah, dengan semangat kolaborasi dan integritas, HIPMI Aceh akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun masa depan Aceh yang lebih sejahtera dan berdaya saing. Selamat bermusyawarah, semoga berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi kemajuan HIPMI dan kesejahteraan masyarakat Aceh,” pungkas Plt Sekda.

Acara pembukaan Musdalub turut dihadiri oleh Wakil Sekjen HIPMI Pusat, sejumlah anggota DPRA, Wakil Wali Kota Banda Aceh, Wakil Bupati Aceh Barat, serta berbagai tamu undangan lainnya.

Editor: Akil

PPIH Aceh: Satu Lagi Jemaah Haji Wafat di Mekkah

0
Satu Lagi Jemaah Haji Aceh Wafat di Makkah. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | MEKKAH – Kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Seorang jemaah haji asal Aceh, Burhanuddin (67), yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) BTJ-03, meninggal dunia di Makkah, Arab Saudi, pada Sabtu malam, 31 Mei 2025, pukul 22.35 waktu setempat.

Informasi mengenai wafatnya almarhum disampaikan langsung oleh Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Azhari. Ia menerima kabar tersebut dari Ketua Kloter 3, Syahri Ramadhan, melalui pesan daring.

“Innalillahi wainna ilaihi raajiun, telah berpulang ke rahmatullah jemaah haji BTJ-03, Burhanuddin Bin Muhammad Bin Muhammad Budiman, alamat Atuek Deah Teungoh kota Banda Aceh,” tulis Syahri kepada Azhari.

Menurut Azhari, berdasarkan sertifikat kematian (Certificate of Death/CoD), almarhum mengalami penyakit jantung iskemik. Selain itu, ia juga memiliki riwayat diabetes melitus.

Lebih lanjut, Azhari menjelaskan bahwa almarhum sudah mulai merasakan nyeri dada sejak 27 Mei lalu. Meski telah mendapatkan penanganan medis, nyawanya tak terselamatkan.

“Menurut tim kesehatan di sana, almarhum sudah mulai merasakan nyeri dada sejak 27 Mei. Beliau wafat di Saudi National Hospital Abeer. Semoga almarhum diampuni segala dosa dan ditempatkan disisiNya bersama anbiya dan shalihin,” ujar Azhari.

Meskipun berpulang di negeri orang, fardhu kifayah untuk almarhum telah ditunaikan dengan baik. Ketua Kloter 3, Syahri Ramadhan, memastikan seluruh proses dilakukan sesuai syariat.

“Alhamdulillah shalat jenazah dilaksanakan di Masjidil Haram dan almarhum sudah dimakamkan di pemakaman Syaraya,” kata Syahri.

Dengan wafatnya Burhanuddin, tercatat sudah dua jemaah haji asal Aceh yang meninggal dunia di Arab Saudi pada musim haji tahun ini. Sebelumnya, Rusli Sulaiman (62), jemaah dari kloter 8, wafat pada Senin, 26 Mei 2025, pukul 13.30 waktu setempat.

Pihak PPIH Embarkasi Aceh berharap seluruh jemaah tetap menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah. Musim haji memang menjadi ujian fisik dan mental, terutama bagi jemaah lanjut usia dengan riwayat penyakit bawaan.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan kekuatan, serta semua jemaah lainnya diberikan kesehatan hingga dapat menyelesaikan rangkaian ibadah dengan lancar.

Editor: Akil

Wakil Gubernur Aceh Hadiri Penyaluran Dana Wakaf Habib Bugak di Mekkah

0
Wakil Gubernur Aceh Hadiri Penyaluran Dana Wakaf Habib Bugak di Mekkah. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | MEKKAH – Suasana khidmat menyelimuti Mushalla Hotel 910 Misfalah, Mekkah, Sabtu (31/5/2025) sore waktu Arab Saudi. Di tempat itulah berlangsung momen penting: penyaluran dana wakaf Habib Bugak kepada jamaah calon haji asal Aceh, khususnya kloter BTJ 12.

Wakil Gubernur Aceh, H Fadlullah SE, hadir langsung dalam acara tersebut. Ia tampak berdampingan dengan Staf Ahli Menteri Agama, Dr H Faisal Ali Hasyim SE MSi CA CSEP, serta tim nazir wakaf yang dipimpin oleh Dr Abdul Latief Muhammad Balthu, atau yang dikenal dengan nama Syaikh Balto.

Wakaf yang Terus Memberi Manfaat

Dalam sambutannya, Fadlullah menyampaikan apresiasi yang tinggi atas pengelolaan dana wakaf Habib Bugak yang dinilainya sangat bermanfaat.

“Alhamdulillah, wakaf ini dikelola dengan amanah sehingga maslahatnya dirasakan masyarakat Aceh, terutama jamaah haji. Saya juga sangat senang atas undangan Pemerintah Aceh, insyaallah saya akan menghadirinya,” ujarnya.

Dana wakaf tersebut, sebagaimana diketahui, telah menjadi bentuk nyata keberlanjutan semangat filantropi ulama Aceh tempo dulu. Bahkan, hingga kini manfaatnya tetap dirasakan oleh jamaah haji Aceh yang sedang menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci.

Doa dan Harapan untuk Jamaah Haji Aceh

Sebelum prosesi penyaluran dana dimulai, suasana khusyuk tercipta saat Syaikh Balto memimpin doa.

“Semoga Allah mengumpulkan kita di surga, sebagaimana kita dikumpulkan di tempat ini,” ucapnya, menutup sesi pembukaan.

Tak hanya jamaah kloter BTJ 12 yang menerima manfaat. Dana wakaf Habib Bugak juga turut disalurkan kepada petugas haji non-kloter asal Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa keberkahan wakaf tak dibatasi oleh kloter maupun posisi.

Penyerahan Cenderamata Penuh Kehangatan

Sebagai penutup acara, Wakil Gubernur Aceh menyerahkan cenderamata secara simbolis kepada Syaikh Balto. Momen tersebut turut disaksikan oleh Dr Faisal Ali Hasyim dan seluruh peserta yang hadir, termasuk para petugas haji dari Aceh.

Kehadiran para tokoh penting ini tak hanya mempererat hubungan spiritual antara Aceh dan Mekkah, tetapi juga menjadi bukti nyata komitmen pemerintah Aceh dalam menjaga warisan wakaf ulama.

Editor: Akil

Plt Sekda Aceh: Pancasila adalah Jiwa Bangsa, Bukan Sekadar Simbol

0
Plt Sekda Aceh saat upacara peringatan hari lahir Pancasila. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pancasila bukan hanya deretan kalimat dalam naskah sejarah. Lebih dari itu, Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia. Ia menjadi bintang penuntun dalam perjalanan menuju cita-cita kemerdekaan: Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir, saat bertindak sebagai Inspektur Upacara Hari Lahir Pancasila di halaman Kantor Gubernur Aceh, Minggu (1/6/2025) pagi. Dalam kesempatan itu, ia membacakan pidato resmi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi.

“Hari ini, kita kembali memperingati momentum yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Hari Lahir Pancasila bukan sekedar mengenang rumusan dasar negara, tetapi juga meneguhkan kembali komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar M Nasir.

Pancasila, Rumah Besar Keberagaman

Melalui pidato tersebut, M Nasir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali merenungkan bahwa Pancasila adalah rumah besar bagi keberagaman. Di dalamnya, terangkum nilai-nilai yang mampu menyatukan lebih dari 270 juta jiwa dengan latar belakang budaya, agama, ras, dan bahasa yang berbeda-beda.

“Dalam Pancasila, kita belajar bahwa kebinekaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu. Dari sila pertama hingga sila kelima, terkandung prinsip-prinsip yang menuntun kita membangun bangsa dengan semangat gotong royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” kata Plt Sekda.

Asta Cita: Pancasila sebagai Agenda Prioritas

Dalam konteks pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah telah menetapkan delapan agenda prioritas nasional atau Asta Cita. Salah satu yang paling fundamental adalah memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia.

M Nasir mengingatkan bahwa kemajuan tanpa arah ideologis akan rapuh. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dan teknologi harus berakar pada nilai-nilai luhur bangsa.

“Ini menjadi prioritas karena kita menyadari bahwa kemajuan tanpa arah ideologis akan mudah goyah. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi,” ungkap M Nasir.

Menjawab Tantangan Zaman: Revitalisasi Pancasila

Plt Sekda juga mengingatkan bahwa tantangan terhadap ideologi Pancasila semakin nyata, terutama di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Menurutnya, ekstremisme, intoleransi, dan disinformasi kini menjadi ancaman serius terhadap kohesi sosial.

“Dalam dunia pendidikan, kita perlu menanamkan Pancasila sejak dini, bukan sekadar dalam pelajaran formal, tetapi dalam praktik keseharian. Sekolah dan universitas harus menjadi tempat lahirnya generasi yang cerdas secara intelektual, tangguh secara karakter, dan kuat dalam integritas moral,” ujar M Nasir berpesan.

Pancasila dalam Kebijakan Publik dan Ekonomi

Tak hanya dalam dunia pendidikan, nilai-nilai Pancasila juga perlu dihadirkan secara nyata di pemerintahan. Plt Sekda berharap pelayanan publik dilakukan secara adil, transparan, dan berpihak pada rakyat.

“Di bidang ekonomi, kita perlu memastikan bahwa pembangunan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi menjadi berkah bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial, sebagaimana termaktub dalam sila kelima, harus menjadi orientasi utama. UMKM, ekonomi kerakyatan, dan koperasi harus terus diberdayakan agar tidak ada warga yang tertinggal dalam kemajuan bangsa,” ucap M Nasir.

Literasi Digital dengan Semangat Pancasila

Plt Sekda juga menyoroti pentingnya menjaga nilai dalam ruang digital. Menurutnya, etika dan toleransi harus tetap menjadi fondasi dalam berinteraksi secara daring.

“Pancasila harus menjadi panduan dalam berinteraksi di media sosial maupun platform digital lainnya. Mari kita perangi hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi dengan literasi digital dan semangat gotong royong,” kata M Nasir.

Menanamkan, Menjalankan, dan Menghidupi

Dalam upaya membumikan Pancasila, BPIP telah menjalankan berbagai program strategis. Di antaranya pelatihan bagi ASN, penguatan kurikulum Pancasila, hingga kolaborasi lintas sektor.

“Semua ini bertujuan agar Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi dihidupi dan dijalankan dalam tindakan nyata. Namun, tugas ini tentu tidak bisa dijalankan sendiri. Kita semua, seluruh elemen bangsa, dari pusat hingga daerah, dari pejabat hingga masyarakat, dari tokoh agama hingga pemuda, memiliki peran untuk menjadi pelaku utama pembumian Pancasila,” sebut M Nasir.

Momentum Bukan Sekadar Seremonial

Plt Sekda mengajak masyarakat agar peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi acara seremonial tahunan. Ia ingin momentum ini menjadi pemantik semangat untuk menanamkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Raya, maka tidak ada jalan lain selain memastikan bahwa Pancasila tetap menjadi jiwa dalam setiap denyut nadi pembangunan. Marilah kita terus bergotong royong, menjaga persatuan, menghargai perbedaan, dan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan. Jadikan Pancasila sebagai sumber inspirasi dalam berkarya, berbangsa, dan bernegara,” pungkas Plt Sekda Aceh.

Upacara peringatan ini turut dihadiri oleh para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), aparatur sipil negara, serta tamu undangan lainnya. Suasana upacara berlangsung khidmat dan penuh makna, menandai tekad bersama untuk menjaga Pancasila sebagai pijakan utama dalam membangun masa depan Indonesia.

Editor: Akil

Kentaro Ogawa: Kaya Raya Berkat Semangkuk Nasi Daging Sapi

0
Kentaro Ogawa. (Foto: Forbes)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Tak selamanya makanan tradisional harus berada di bawah bayang-bayang sajian modern. Bahkan, dalam beberapa kasus, kuliner klasik justru mampu menyingkirkan dominasi makanan cepat saji global. Itulah yang terjadi pada Kentaro Ogawa.

Lewat seporsi gyudon—nasi hangat berisi daging sapi ala Jepang—Ogawa membuktikan bahwa kekayaan bisa diraih dari sesuatu yang sederhana.

Dari Demonstran ke Pengusaha

Kentaro Ogawa bukan berasal dari keluarga konglomerat. Ia lahir pada 29 Juli 1948 di Jepang. Saat muda, Ogawa tercatat kuliah di Universitas Tokyo pada era 1960-an. Di masa itu, ia dikenal sebagai mahasiswa kritis yang aktif berorganisasi.

Namun, pandangan ideologis yang tajam membuatnya meninggalkan kampus terbaik di Jepang. Setelah itu, ia bekerja sebagai buruh galangan kapal dan aktif dalam serikat pekerja. Tetapi, pekerjaan tersebut tak bertahan lama.

Perjalanan hidupnya berubah saat ia bekerja di Yoshinoya, restoran cepat saji yang populer di Jepang. Dari pengalaman itu, Ogawa melihat peluang besar di dunia kuliner.

Mendirikan Zensho dengan Modal Terbatas

Dalam waktu lima tahun, Ogawa mengambil langkah berani. Ia keluar dari Yoshinoya dan mendirikan usaha sendiri. Bermodal 5 juta yen, ia membangun Zensho—perusahaan jasa makanan yang bermarkas di Prefektur Kanagawa.

Mimpinya sederhana namun besar: menciptakan infrastruktur pangan yang menjamin makanan aman dan terjangkau untuk semua orang.

Tak hanya itu, ia juga membawa dua misi besar. “Menciptakan dunia yang bebas dari kelaparan dan kemiskinan serta menjadi perusahaan makanan terkemuka di dunia.”

Menu pertama yang ditawarkan adalah bento, kotak makan siang khas Jepang. Usahanya berkembang cepat. Hanya empat bulan setelah didirikan, Ogawa membuka restoran Sukiya di Yokohama.

Menyaingi Raksasa, Menguasai Pasar

Restoran Sukiya menjadi titik balik. Menu gyudon yang murah dan cepat menjadi primadona. Hanya dalam waktu lima tahun, pangsa pasar gyudon Zensho melesat ke angka 67 persen—mengalahkan Yoshinoya dan Matsuya.

Meski sukses besar di Jepang, Ogawa tak lantas berpuas diri. Ia menyadari bahwa profil demografi Jepang yang menua bisa menghambat pertumbuhan.

Karena itu, ia mulai melirik pasar internasional.

Ekspansi ke Mancanegara

Ekspansi dimulai ke Tiongkok. Awalnya, Zensho hanya memiliki 13 gerai Sukiya. Jumlah itu jauh di bawah Yoshinoya yang sudah memiliki lebih dari 250 gerai di Tiongkok dan Hong Kong.

Namun, Ogawa tak berhenti di sana. Ia terus melebarkan sayap ke Amerika Serikat dan Brasil. Sepanjang tahun 1990-an hingga 2000-an, ekspansi dilakukan secara agresif.

Zensho tak hanya fokus pada gyudon. Mereka juga mengakuisisi dan meluncurkan berbagai merek restoran lain. Beberapa di antaranya adalah Coco’s Japan, Big Boy, Nakau (udon dan mangkuk nasi), Hanaya Yohei (sushi), dan Jolly-Pasta.

Dengan strategi ini, Ogawa ingin meningkatkan porsi penjualan dari luar negeri menjadi 20 persen dalam lima hingga sepuluh tahun. Impian itu kini menjadi kenyataan.

Mengalahkan McDonald’s di Jepang

Pada 2017, Sukiya semakin bersinar. Rantai restoran 24 jam ini menawarkan gyudon seharga hanya US$3 per porsi. Popularitasnya melonjak tajam.

Berkat performa tersebut, Zensho berhasil mencetak pendapatan tahunan sekitar US$4,7 miliar—angka yang bahkan mengalahkan pendapatan McDonald’s di Jepang.

Tiga bulan pertama tahun 2025 mencatatkan prestasi baru. Penjualan Zensho melonjak 17,7 persen menjadi 1,136 triliun yen. Untuk pertama kalinya, perusahaan makanan di Jepang mencatatkan penjualan lebih dari 1 triliun yen.

Hartanya Tembus Rp57 Triliun

Capaian bisnis yang luar biasa ini membuat Ogawa masuk dalam jajaran orang terkaya di Jepang. Forbes mencatat bahwa Ogawa memiliki kekayaan mencapai US$3,5 miliar atau setara Rp57,02 triliun (kurs Rp16.294 per dolar AS).

Dengan kekayaan sebesar itu, ia duduk di posisi ke-14 sebagai orang paling tajir di Jepang.

Editor: Akil