Beranda blog Halaman 396

Kemenkum Aceh Verifikasi DPP PPA

0
Kemenkum Aceh Verifikasi DPP PPA. (Foto: HUMAS KEMENKUM ACEH)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Aceh kembali melanjutkan proses legalitas partai politik lokal. Kali ini, giliran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Perjuangan Aceh (PPA) yang diverifikasi secara langsung oleh tim Administrasi Hukum Umum (AHU) Kemenkum Aceh.

Verifikasi ini berlangsung pada Senin (2/6/2025) di Banda Aceh. Sebelumnya, tim telah menyelesaikan tahapan serupa terhadap Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PPA di sembilan kabupaten/kota.

Kantor Diperiksa, Struktur Diteliti

Dalam proses ini, tim AHU meninjau langsung kantor DPP PPA. Mereka memeriksa kelengkapan dokumen legalitas, struktur pengurus, serta aktivitas organisasi.

Tak hanya itu, para pengurus PPA juga diajak berdialog. Tujuannya adalah untuk menggali komitmen partai terhadap integritas dan keberlanjutan organisasi.

Verifikasi ini penting untuk memastikan bahwa partai lokal memiliki struktur kepengurusan yang sah, aktif, dan sesuai aturan. Selain itu, kelengkapan administrasi juga menjadi indikator utama dalam evaluasi.

Harapan Meurah Budiman untuk PPA

Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Aceh, Meurah Budiman, menegaskan bahwa kehadiran partai lokal seperti PPA merupakan bagian dari kekhususan Aceh dalam sistem politik nasional.

“Kami berharap DPP PPA dapat terus membangun sistem kepartaian yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Verifikasi ini bukan sekadar formalitas, tapi bentuk pembinaan agar parlok mampu bersaing secara sehat dan profesional,” kata Meurah Budiman.

Pernyataan ini menekankan bahwa verifikasi bukan hanya persoalan administratif, tetapi juga langkah pembinaan yang substansial.

Pendampingan dan Pembinaan Berkelanjutan

Senada dengan Meurah, Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kemenkum Aceh, Purwandani H Pinilihan, juga menyampaikan komitmen lembaganya dalam mendampingi partai lokal secara berkelanjutan.

“Kami memberikan arahan dan motivasi agar PPA dapat memenuhi seluruh persyaratan administratif dengan baik. Harapan kami, partai ini dapat menjadi kanal aspirasi masyarakat Aceh yang kuat, dengan tata kelola yang modern,” ujar Purwandani.

Menurutnya, pendampingan terhadap partai lokal bukan sekadar tugas teknis, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat demokrasi Aceh.

Menjaga Demokrasi Pasca-MoU Helsinki

Kemenkumham Aceh menyadari bahwa partai lokal adalah pilar penting dalam sistem demokrasi Aceh pasca-MoU Helsinki. Oleh sebab itu, pengawasan dan pembinaan terhadap partai-partai lokal akan terus dilakukan secara reguler.

Verifikasi ini tidak berhenti pada tahap administrasi. Nantinya, hasilnya akan dijadikan dasar evaluasi lanjutan untuk menentukan status legalitas PPA secara menyeluruh di seluruh Aceh.

Editor: AKil

Diduga Rudapaksa Anak Kandung, Pria di Aceh Selatan Diringkus Polisi

0
Ilustrasi ditangkap Polisi. (Foto: LintasJatim.com)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Aceh Selatan berhasil mengamankan seorang pria berinisial SK (54), warga Gampong Pinto Rimba, Kecamatan Trumon Timur, Selasa malam, 3 Juni 2025. Pria tersebut diduga kuat telah melakukan tindak pidana rudapaksa terhadap anak kandungnya sendiri hingga korban hamil.

Kasus ini menggemparkan warga setempat, mengingat peristiwa tragis ini terjadi di dalam lingkup keluarga inti.

Laporan Warga Jadi Awal Terbongkarnya Kasus

Pengungkapan kasus bermula dari laporan masyarakat yang diterima Unit 4 PPA Satreskrim Polres Aceh Selatan pada Senin malam, 2 Juni 2025, sekitar pukul 20.00 WIB. Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas segera melakukan interogasi awal terhadap korban dan sejumlah saksi.

Tak hanya itu, tim juga mengumpulkan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana tersebut. Dari penyelidikan awal yang cepat, diketahui bahwa pelaku masih berada di sekitar lokasi.

Pelaku Ditangkap di Kilang Kayu

Berbekal informasi yang ada, tim gabungan yang dipimpin langsung oleh KBO Satreskrim kemudian berkoordinasi dengan Polsek Trumon Timur untuk melakukan pemetaan lokasi. Sekitar pukul 23.00 WIB, hanya tiga jam setelah laporan masuk, pelaku berhasil diamankan di salah satu kilang kayu di Gampong Pinto Rimba.

Tanpa melakukan perlawanan, pelaku langsung digelandang ke Mapolres Aceh Selatan untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut.

Polisi: Kasus Ini Sangat Memprihatinkan

Kapolres Aceh Selatan AKBP T. Ricki Fadlianshah, S.I.K., melalui Kasat Reskrim Iptu Narsyah Agustian, S.H., M.H., menyampaikan bahwa pihaknya akan menangani kasus ini dengan serius.

“Setelah menerima laporan dari masyarakat, tim kami segera bergerak cepat melakukan pendalaman dan penindakan di lapangan. Pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan. Kami akan menangani kasus ini secara serius dan profesional,” ujarnya.

Kasus ini akan diproses berdasarkan Pasal 49 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, yang secara tegas mengatur sanksi bagi pelaku rudapaksa.

Imbauan untuk Warga

Di sisi lain, pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Terutama, jika melihat atau mengetahui adanya kekerasan seksual terhadap anak-anak.

“Kejadian ini menjadi peringatan bagi kita semua pentingnya menjaga dan melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan, terlebih yang dilakukan oleh orang terdekat,” tegas Iptu Narsyah.

Saat ini, SK masih menjalani pemeriksaan intensif di Polres Aceh Selatan. Polisi berkomitmen untuk memberikan pendampingan hukum serta psikologis kepada korban demi pemulihan yang maksimal.

Editor: Akil

Kilas Balik Gemini 4: Langkah Berani Amerika dalam Pertarungan Menuju Bulan

0
Peluncuran Gemini 4 dan Spacewalk Pertama AS (3 Juni 1965). (Foto: NASA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pada 3 Juni 1965, sebuah roket Titan II meluncur dari Kennedy Space Center, mengangkut dua astronot Amerika Serikat ke luar angkasa dalam misi yang akan mencatat sejarah: Gemini 4. Lebih dari sekadar penerbangan, misi ini menjadi batu loncatan penting bagi ambisi Amerika menjejakkan kaki di Bulan.

Dilansir Nukilan.id dari NASA History Office, dalam empat hari dunia menyaksikan keberanian, eksperimen, dan salah satu momen paling dramatis dalam perlombaan antariksa: spacewalk pertama oleh astronot AS, Edward H. White II.

Dua Astronot, Satu Misi Bersejarah

Di dalam kapsul Gemini 4, dua nama besar dalam sejarah antariksa duduk dalam keterbatasan ruang dan tekanan ekstrem: James McDivitt sebagai komandan dan Edward H. White II sebagai pilot. Misi ini menandai penerbangan luar angkasa berawak terlama dalam sejarah Amerika Serikat saat itu—empat hari penuh mengelilingi Bumi.

Namun, di balik catatan waktu itu, misi ini mengusung tujuan yang jauh lebih ambisius. NASA hendak menguji sejauh mana manusia bisa bertahan dan bekerja di luar angkasa dalam jangka waktu yang lebih lama, sekaligus mencoba manuver orbit yang kelak sangat krusial untuk pendaratan di Bulan.

Langkah Kecil Ed White di Luar Angkasa

Di orbit ketiga, saat Bumi bergulir pelan di balik jendela kapsul, Ed White membuka palka pesawat dan keluar, menggantung dalam kehampaan luar angkasa. Dengan senjata dorong berbasis gas di tangannya, ia mengambang bebas selama 23 menit, menjadi orang Amerika pertama yang melakukan Extra-Vehicular Activity (EVA), atau dikenal sebagai spacewalk.

“Ini adalah pengalaman terbaik dalam hidup saya,” ucap White, yang begitu terpukau hingga enggan kembali ke dalam kapsul. Butuh perintah tegas dari McDivitt agar ia akhirnya menyudahi petualangan pendeknya itu.

Momen tersebut tidak hanya menyentuh sisi emosional umat manusia, tapi juga menjadi pembuktian teknologi Amerika yang hingga saat itu masih tertinggal dari Uni Soviet.

Belajar dari Kegagalan dan Menang dalam Spirit

Meskipun Gemini 4 juga mencoba melakukan manuver pertemuan (rendezvous) dengan tahap roket Titan II, upaya itu tidak sepenuhnya berhasil. Namun, seperti yang ditulis Gene Kranz, direktur penerbangan legendaris NASA, kegagalan ini justru menjadi guru terbaik bagi tim misi. Pengalaman tersebut menginspirasi pengembangan strategi yang lebih canggih di misi Gemini berikutnya—satu demi satu membuka jalan menuju Apollo 11.

Selain itu, McDivitt dan White juga menjalankan eksperimen fotografi yang membantu pemetaan dan pemantauan cuaca dari luar angkasa, membuka dimensi baru dalam observasi Bumi.

Tiga Bulan Setelah Soviet, AS Membalas

Gemini 4 bukanlah EVA pertama dalam sejarah—Alexei Leonov dari Uni Soviet sudah melakukannya lebih dulu pada Maret 1965. Namun, White dan tim NASA tidak ingin sekadar mengekor. Dengan kontrol misi yang presisi dan teknologi yang terus dikembangkan, AS mengirim pesan tegas: mereka siap menyusul dan melampaui.

Dalam konteks Perang Dingin, spacewalk ini lebih dari sekadar penjelajahan ilmiah. Ia adalah simbol tekad dan kompetisi antara dua negara adidaya. Dan dalam empat hari itu, Amerika membuktikan bahwa mereka tidak hanya mengejar, tetapi siap memimpin.

Jejak yang Tak Terhapuskan

Gemini 4 tidak berakhir di tanggal 7 Juni 1965. Ia terus hidup dalam catatan sejarah sebagai misi transisi—dari eksplorasi awal ke persiapan serius menuju pendaratan manusia di Bulan. Langkah kecil Ed White di luar angkasa menjadi salah satu batu bata penting yang membangun jalan ke momen ikonik Neil Armstrong empat tahun kemudian.

Kini, setiap kali manusia menatap langit malam dan membayangkan perjalanan ke luar angkasa, nama Ed White dan Gemini 4 terukir sebagai simbol keberanian manusia melawan batas-batasnya sendiri. Sebuah pengingat bahwa untuk menggapai bintang, kita harus terlebih dahulu berani membuka palka dan melangkah ke kehampaan. (XRQ)

Reporter: Akil

Kunjungan Wisman ke Aceh Meningkat pada April 2025, Didominasi Pelancong Malaysia

0
Ilustrasi Kunjungan Wisman ke Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh melaporkan bahwa sebanyak 2.204 wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi Aceh selama bulan April 2025. Jumlah ini mengalami peningkatan signifikan sebesar 9,30 persen poin dibandingkan dengan Maret 2025.

Namun demikian, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angka tersebut justru menunjukkan penurunan.

“Sedangkan jika dibandingkan dengan bulan April 2024 mengalami penurunan sebesar 17,69 persen poin,” ujar Tasdik Ilhamudin, Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Senin (2/6/2025).

Malaysia Menjadi Penyumbang Wisman Terbanyak

Dari total kunjungan tersebut, wisatawan asal Malaysia mendominasi dengan jumlah mencapai 1.335 orang. Sementara itu, pelancong dari Thailand tercatat sebanyak 38 orang, diikuti oleh wisatawan asal Jerman yang berjumlah 33 orang.

Dominasi Malaysia bukanlah hal yang mengejutkan, mengingat letak geografis yang berdekatan serta hubungan budaya yang relatif erat dengan Aceh.

Seiring dengan jumlah kunjungan tersebut, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Aceh masih tergolong rendah. Hotel berbintang mencatatkan TPK sebesar 22,60 persen, sedangkan hotel non-bintang berada pada angka 20,94 persen.

Rendahnya tingkat hunian ini bisa menjadi sinyal bagi pelaku industri pariwisata untuk melakukan evaluasi terhadap layanan dan promosi yang ditawarkan.

Keindahan Alam Jadi Daya Tarik Wisatawan

Sebagai informasi, Aceh memiliki potensi wisata yang sangat kaya. Mulai dari keindahan alam, keragaman budaya, hingga keramahan penduduk lokal, semuanya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing.

Salah satu destinasi yang paling banyak dikunjungi adalah Pulau Sabang. Terletak di ujung barat Indonesia, pulau ini menawarkan pantai berpasir putih dan air laut yang jernih—kondisi ideal bagi para penyelam dan pecinta snorkeling. Di samping itu, keindahan terumbu karang serta keberagaman hayati bawah laut Sabang turut memperkuat daya tariknya sebagai ikon pariwisata Aceh.

Melihat adanya tren peningkatan dari bulan sebelumnya, pelaku industri pariwisata di Aceh diharapkan dapat terus berinovasi. Dengan pengelolaan yang lebih profesional serta promosi yang menyasar pasar internasional, jumlah kunjungan wisman ke Aceh berpotensi tumbuh lebih baik pada bulan-bulan mendatang.

Editor: Akil

Kakanwil Kemenkum Aceh Tekankan Etika dan Integritas kepada CPNS

0
Kakanwil Kemenkum Aceh Tekankan Etika dan Integritas kepada CPNS. (Foto: HUMAS KEMENKUM ACEH)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Aceh, Meurah Budiman, menyerahkan surat keputusan (SK) pengangkatan kepada 14 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Kanwil Kemenkumham Aceh. Penyerahan dilakukan di halaman kantor wilayah, Senin (3/6/2025), dan disaksikan oleh jajaran pimpinan tinggi pratama serta pejabat manajerial.

Momen ini menandai awal perjalanan baru bagi para CPNS. Menurut Meurah, SK yang mereka terima bukan sekadar dokumen administratif, melainkan simbol tanggung jawab besar sebagai abdi negara.

Pentingnya Integritas dan Loyalitas

Dalam sambutannya, Meurah menekankan bahwa setiap CPNS harus memegang teguh nilai-nilai integritas dan loyalitas. Ia mengingatkan bahwa menjadi bagian dari Kemenkumham berarti bekerja berdasarkan prinsip dasar PASTI: Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan, dan Inovatif.

“Menjadi bagian dari Kementerian Hukum berarti siap bekerja dengan nilai dasar PASTI: Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan, dan Inovatif,” ujar Meurah.

Ia juga mengajak para CPNS untuk tidak terjebak pada status formal sebagai ASN. Sebaliknya, mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan pelayanan publik.

Birokrasi Harus Siap Beradaptasi

Seiring dengan perkembangan zaman, tuntutan terhadap birokrasi pun semakin kompleks. Karena itu, Meurah menegaskan pentingnya kecepatan, adaptasi teknologi, dan kepekaan terhadap perubahan lingkungan kerja.

“Jangan berhenti belajar. Dunia terus berubah, dan birokrasi harus menjadi bagian dari perubahan itu,” tambahnya dengan tegas.

Pernyataan ini sekaligus menjadi dorongan bagi para CPNS agar terus meningkatkan kapasitas diri. Proses belajar, menurutnya, adalah bekal utama untuk menghadapi tantangan birokrasi modern.

Harapan bagi Wajah Baru Kemenkumham

Sementara itu, Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkumham Aceh, Purwandani H. Pinilihan, turut memberikan pengarahan. Ia berharap para CPNS mampu menjadi wajah baru yang membawa semangat positif dalam pelayanan hukum di Aceh.

“Kalian adalah generasi yang akan mewarnai wajah Kemenkum Aceh ke depan. Bekerjalah dengan hati, karena masyarakat menilai institusi ini dari pelayanan yang kalian berikan,” ungkap Purwandani.

Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya membangun karakter sejak masa awal pengabdian. Etika kerja, kepatuhan terhadap aturan, serta budaya melayani harus ditanamkan secara konsisten sejak dini.

Tak Cukup Sekadar Kuasai Regulasi

Menurut Purwandani, penguasaan regulasi memang penting. Namun, lebih penting lagi adalah kesadaran moral dalam menjalankan tugas.

“Penguasaan regulasi penting, tetapi lebih penting lagi adalah kesadaran moral dalam menjalankan tugas,” ujarnya.

Sebagai informasi, ke-14 CPNS yang menerima SK tersebut akan ditempatkan sesuai dengan formasi yang telah mereka pilih. Selama satu tahun ke depan, mereka akan menjalani masa percobaan sebelum diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) penuh.

Editor: Akil

Nilam Aceh Diusulkan Jadi Standar Nasional Minyak Atsiri

0
Petani nilam. (Foto: Kemenag RI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Minyak nilam (patchouli oil) sudah sejak lama menjadi komoditas strategis Indonesia. Perannya pun sangat vital, khususnya dalam industri minyak atsiri dunia. Seiring meningkatnya permintaan global akan bahan baku alami untuk kosmetik, parfum, dan aromaterapi, Indonesia terus menunjukkan dominasinya sebagai salah satu produsen utama.

Namun, di balik peluang besar itu, terselip tantangan yang tak ringan. Salah satu yang paling mendesak adalah soal konsistensi mutu dan daya saing produksi. Di sinilah Aceh mengambil peran penting.

Aceh, Pusat Nilam Berkualitas Dunia

Aceh dikenal luas sebagai penghasil nilam dengan kualitas unggulan. Minyak nilam dari provinsi ini memiliki kandungan yang tinggi dan aroma yang khas. Tak heran jika nilam Aceh sering disebut sebagai yang terbaik, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sayangnya, keberhasilan Aceh belum sepenuhnya diikuti oleh daerah penghasil nilam lainnya di Indonesia. Ketimpangan kualitas antardaerah masih terjadi, dan hal ini bisa berdampak terhadap upaya Indonesia dalam membangun industri nilam yang solid serta terstandarisasi.

“Nilam Aceh itu sejak dulu sudah dikenal sebagai nilam yang memiliki keunggulan yang sangat luar biasa. Selain di Aceh, Indonesia juga memproduksi nilam, salah satunya di Sulawesi,” ujar Dr. Ir. Elly Sufriadi, S.Si., M.Si., Sekretaris Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK), dalam dialog interaktif di PRO 1 RRI Banda Aceh, Minggu (1/6/2025).

Kualitas yang Belum Merata

Dalam kesempatan yang sama, Elly menyoroti perbedaan kualitas antarwilayah. Meski Indonesia adalah salah satu produsen terbesar nilam dunia, belum semua wilayah mampu menyamai standar Aceh.

“Perlu kita ketahui juga, nilam produksi Sulawesi secara kualitasnya kurang baik. Justru nilam kualitas Aceh-lah yang terbaik,” tegasnya.

Perbedaan ini, lanjut Elly, dapat memengaruhi kinerja ekspor. Pasalnya, pasar internasional kini semakin selektif dan menuntut mutu yang tinggi dan konsisten. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengolahan dan pencampuran yang cermat.

“Jadi, untuk memproduksi nilam yang baik, apalagi untuk mengekspor ke luar negeri, Indonesia harus mencampur kedua nilam yang berbeda daerah ini. Tujuannya agar dapat dibeli di market luar negeri,” tambahnya.

Sinergi dan Inovasi Jadi Kunci

Pernyataan Elly menggarisbawahi pentingnya membangun sinergi antardaerah dalam industri nilam nasional. Aceh, dengan keunggulannya, bisa menjadi pusat pembelajaran bagi daerah lain. Dengan begitu, potensi nilam Indonesia dapat dimaksimalkan secara kolektif.

Lebih jauh, pembangunan industri nilam yang kuat tak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kerja sama lintas sektor — pemerintah, akademisi, petani, hingga pelaku industri — untuk membangun ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, penguatan riset, inovasi teknologi, dan dukungan kebijakan yang berpihak pada petani nilam lokal juga sangat diperlukan. Pendekatan holistik ini diharapkan mampu menjadikan nilam Aceh sebagai lokomotif ekonomi ekspor, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.

Editor: Akil

Harga Cabai Merah Jadi Pemicu Utama Deflasi Aceh pada Mei 2025

0
Cabai di Pasar Induk Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. (Foto: Nukilan/Hadiansyah)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Harga cabai merah yang terus menurun sepanjang Mei 2025 menjadi faktor utama yang mendorong deflasi di Provinsi Aceh. Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, penurunan harga komoditas ini menyumbang andil terbesar sebesar 0,36 persen terhadap total deflasi Aceh yang tercatat sebesar 0,59 persen.

“Secara umum penurunan harga yang terjadi pada Mei 2025 di Provinsi Aceh disumbang oleh kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau dengan kontribusi 0,60 persen,” kata Plt Kepala BPS Aceh Tasdik Ilhamudin di Banda Aceh, Senin.

Deflasi Paling Signifikan Terjadi di Aceh Tamiang

Berdasarkan perhitungan indeks harga konsumen (IHK) dari lima kabupaten/kota di Aceh, deflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang dengan andil sebesar 1,36 persen. Sementara itu, Meulaboh mencatatkan deflasi paling rendah yakni sebesar 0,18 persen.

Adapun daerah lain yang turut menjadi sampel pemantauan harga adalah Banda Aceh, Aceh Tengah, dan Lhokseumawe. Keempat daerah tersebut juga mengalami penurunan harga, namun tidak sekuat Aceh Tamiang.

Beberapa Komoditas Justru Mengalami Kenaikan

Meskipun tren deflasi mendominasi, terdapat beberapa komoditas yang justru mengalami kenaikan harga. Di antaranya adalah tomat, beras, ikan bandeng, jeruk, serta tarif angkutan udara.

Kenaikan harga komoditas ini menjadi penyeimbang terhadap turunnya harga cabai merah dan bahan makanan lain, meski tidak cukup kuat untuk menahan laju deflasi bulanan.

Inflasi Tahunan Masih Terjadi

Jika dilihat dari sisi tahunan (year on year), Aceh masih mengalami inflasi sebesar 2,35 persen. Kenaikan ini tercermin dari IHK yang naik dari 106,84 pada Mei 2024 menjadi 109,35 pada Mei 2025.

Menariknya, Meulaboh justru mencatatkan inflasi tahunan tertinggi, yaitu 3,32 persen, dengan IHK sebesar 111,10. Di sisi lain, Aceh Tamiang mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 1,33 persen dengan IHK 108,71.

“Secara umum kenaikan harga barang dan jasa naik rata-rata sebesar 2,35 persen dibanding periode yang sama sebelumnya,” ujar Tasdik.

Makanan dan Tembakau Penyumbang Inflasi Tahunan

Tasdik menjelaskan bahwa inflasi tahunan di Aceh, termasuk di seluruh daerah penghitungan, masih dipicu oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini memberikan kontribusi sebesar 0,91 persen terhadap inflasi.

Beberapa komoditas yang berperan dalam kenaikan inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, ikan dencis, tarif air minum, ikan tongkol, dan sigaret kretek mesin.

Namun demikian, tidak semua komoditas mengalami lonjakan harga. Sebaliknya, ada pula yang memberikan kontribusi terhadap deflasi tahunan, seperti cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bensin.

Editor: AKil

Cuaca Panas Ekstrem Melanda Aceh, Ini Tips Aman Beraktivitas

0
Ilustrasi cuaca panas. (Foto: Pinterest)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kondisi cuaca panas ekstrem tengah melanda wilayah Aceh dan sekitarnya. Berdasarkan data terbaru dari Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, suhu maksimum pada 29 Mei 2025 tercatat mencapai 36,1°C.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem ini. Meski suhu tersebut masih dalam batas normal, masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap risiko kesehatan yang ditimbulkan.

Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan berbagai gangguan, mulai dari dehidrasi, sengatan matahari, hingga heatstroke. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan sejak dini.

Tips Menghadapi Cuaca Panas

Agar tetap nyaman dan aman saat beraktivitas, berikut beberapa langkah yang dapat diikuti untuk menghadapi cuaca panas ekstrem di Aceh. Tips ini juga penting bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi di luar ruangan.

  • Cukupi Minum Air putih 8 Gelas per hari
    Air adalah kunci utama menjaga tubuh tetap terhidrasi. Pastikan kebutuhan cairan harian Anda tercukupi.

  • Hindari keluar pada pukul 11.00–15.00 WIB, jika tidak ada kepentingan. Karena di waktu tersebut suhu yang paling panas
    Waktu ini merupakan periode puncak terik matahari. Beraktivitas di luar pada jam ini meningkatkan risiko terkena sengatan panas.

  • Jika ada kepentingan di luar, pakai pelindung, topi, baju lengan panjang dan paling penting pakai sunscreen
    Melindungi kulit dari sinar UV bisa mencegah kerusakan kulit dan risiko jangka panjang lainnya.

  • Kurangi makanan pedas dan kopi, perbanyak makan buah yang mengandung air, seperti semangka, pir, dan lain-lain
    Makanan dengan kadar air tinggi membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh secara alami.

  • Kenali tanda heatstroke, pusing, mual, kulit memerah, segera cari tempat teduh dan suhu dingin
    Respon cepat terhadap gejala ini sangat krusial untuk mencegah kondisi menjadi lebih parah.

  • Tambahkan minum vitamin, agar membantu imun tubuh tetap terjaga
    Imunitas yang baik bisa membantu tubuh bertahan dalam kondisi ekstrem.

Jangan Sepelekan Suhu Tinggi

Meskipun suhu 36 derajat Celcius masih tergolong wajar dalam konteks iklim tropis, bukan berarti dapat diabaikan. Terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta, cuaca seperti ini bisa berdampak lebih serius.

Dengan mengikuti tips di atas, diharapkan masyarakat bisa lebih siap menghadapi suhu panas ekstrem yang melanda Aceh beberapa waktu ke depan. Tetap jaga kesehatan, dan utamakan keselamatan di tengah cuaca yang tak menentu ini.

Editor: Akil

UIN Ar-Raniry Salurkan 1.000 Paket Pakaian dan 20 Sapi Kurban dari Uni Emirat Arab

0
UIN Ar-Raniry Salurkan 1.000 Paket Pakaian dan 20 Sapi Kurban dari Uni Emirat Arab. (Foto: HUMAS UINAR)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Menjelang perayaan Idul Adha 1446 Hijriah, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menyalurkan bantuan dari Emirates Red Crescent berupa 1.000 paket pakaian dan 20 ekor sapi kurban. Penyaluran dilakukan pada Senin, 2 Juni 2025, dengan menyasar mahasiswa kurang mampu dari berbagai fakultas.

Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian lembaga kemanusiaan asal Uni Emirat Arab (UEA) kepada mahasiswa UIN Ar-Raniry. Menariknya, bantuan pakaian diberikan dalam bentuk voucher yang kemudian dikonversi menjadi e-money. Para mahasiswa pun bisa langsung berbelanja di gerai khusus Matahari Department Store yang dibuka di Auditorium Prof Ali Hasjmy, kampus setempat.

Mahasiswa Bebas Belanja di Gerai Khusus

Sebanyak 500 mahasiswa laki-laki menerima masing-masing Rp 1 juta. Sementara itu, 500 mahasiswi lainnya mendapat Rp 1,25 juta. Dengan saldo tersebut, mereka dapat memilih pakaian lebaran sesuai kebutuhan.

Gerai dibuka selama empat hari, dari pagi hingga malam. Tidak hanya melayani mahasiswa, masyarakat umum juga dipersilakan berbelanja. Namun, pada hari pertama, pelayanan difokuskan untuk mahasiswa penerima bantuan.

Menambah khidmat momen tersebut, Syekh Hamood Matar dari tim Pemerintah UEA turut hadir di lokasi. Ia bersama tim memantau langsung pelaksanaan kegiatan yang berlangsung tertib dan meriah.

20 Ekor Sapi untuk Warga Sekitar

Tak hanya pakaian, Emirates Red Crescent juga memberikan 20 ekor sapi kurban. Rencananya, hewan-hewan tersebut akan disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) pada hari kedua Idul Adha, kemudian dagingnya dibagikan kepada masyarakat pada hari ketiga.

Penerima manfaat bantuan kurban meliputi masyarakat fakir miskin dari empat gampong sekitar kampus: Rukoh, Blang Krueng, Tanjung Selamat, dan Limpok. Selain itu, tenaga kebersihan, petugas keamanan, serta tenaga pendidik dan kependidikan golongan rendah juga mendapatkan bagian.

UIN Ar-Raniry Kian Diakui Internasional

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman MAg, mengapresiasi dukungan dari lembaga filantropi internasional tersebut. Ia berharap, kerja sama serupa akan terus berlanjut di masa mendatang.

“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan dan bantuan dari Emirates Red Crescent. Kami berharap ke depan akan ada lebih banyak dukungan serupa, baik dari pemerintah maupun filantropi UEA untuk semakin memperkuat kepedulian sosial di kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh,” ujar Prof Mujiburrahman.

Ia menambahkan, kegiatan ini adalah bagian dari ikhtiar kampus untuk memastikan mahasiswa kurang mampu tetap dapat merayakan hari besar keagamaan dengan bahagia. Tidak hanya itu, program seperti ini juga mencerminkan peran sosial kampus yang semakin kuat.

“Dukungan dari mitra global seperti Emirates Red Crescent menjadi bukti nyata bahwa kampus ini semakin diakui di level internasional,” pungkasnya.

Kolaborasi Global, Dampak Lokal

Sebagai kampus yang terus memperluas jejaring internasional, UIN Ar-Raniry tidak hanya fokus pada peningkatan mutu akademik. Lebih dari itu, kampus ini juga aktif mendorong peran sosial dan kemanusiaan melalui kolaborasi lintas negara.

Dengan dukungan global yang terus mengalir, kampus yang berlokasi di jantung ibu kota Provinsi Aceh ini menunjukkan bahwa semangat solidaritas tak mengenal batas wilayah.

Editor: AKil

KPA Aceh Singkil Siap Duduki Empat Pulau yang Ditetapkan Masuk Sumut

0
KPA Aceh Singkil Siap Duduki Empat Pulau yang Ditetapkan Masuk Sumut. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | SINGKIL – Ketegangan memuncak di Aceh Singkil setelah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menetapkan empat pulau yang selama ini diklaim sebagai milik Aceh, masuk ke wilayah Sumatra Utara. Keputusan tersebut langsung menuai protes keras dari berbagai elemen masyarakat, termasuk Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Aceh Singkil.

Ketua KPA Aceh Singkil, Sarbaini Agam, menyampaikan kecaman secara terbuka terhadap keputusan tersebut. Ia menyebut keputusan Mendagri itu sebagai bentuk pelecehan terhadap Aceh dan mencurigai adanya motif politik di baliknya.

“Kami mengecam keras keputusan Mendagri, ini merupakan bentuk penghinaan bagi Aceh dan menduga bagian untuk menjelekkan citra kepemimpinan Mualem-Dek Fad,” kata Sarbaini, Minggu 1 Juli 2025, di Singkil.

Siap Duduki Pulau Jika Diperintahkan

Lebih lanjut, Sarbaini menyatakan kesiapan pihaknya untuk mengambil langkah nyata. Jika diperlukan, kata dia, KPA siap melakukan pendudukan terhadap keempat pulau tersebut.

“Kami segenap pengurus dan anggota KPA siap menduduki 4 pulau milik Aceh Singkil yang masuk ke Sumut itu,” tegasnya.

Menurut Sarbaini, pemerintah pusat seharusnya mengacu pada batas wilayah sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Ia menekankan bahwa garis batas berdasarkan Peta 1 Juli 1956 merupakan bagian dari komitmen negara dalam proses perdamaian Aceh.

“Kami minta Mendagri membatalkan keputusan itu dan mengeluarkan keputusan tapal batas berdasarkan Peta 1 Juli 1956,” tambah Sarbaini.

Empat Pulau Jadi Simbol Konflik Tapal Batas

Keempat pulau yang menjadi sengketa adalah Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek. Dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025 yang diteken pada 25 April 2025, pulau-pulau tersebut ditetapkan masuk ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.

Namun, keputusan ini dianggap mengabaikan sejarah dan realitas sosial masyarakat di Aceh Singkil. Bagi banyak pihak di Aceh, pulau-pulau itu tidak sekadar soal wilayah, tetapi juga harga diri.

“Aceh sudah konflik 30 tahun, kita sudah berdamai. Secara teritorial, pulau itu milik Aceh,” kata Sarbaini, mengutip pernyataan Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Alhaytar.

Menanti Sikap Gubernur Aceh

Sarbaini juga menegaskan bahwa KPA wilayah Aceh Singkil akan bertindak jika mendapat perintah dari pimpinan tertinggi, yakni Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang juga dikenal sebagai Panglima Komando KPA.

“Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Aceh Singkil mengaku siap menduduki pulau tersebut atas perintah Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, selaku panglima komando tinggi.”

“Semoga Mendagri mendengarkan pesan ini,” kata Sarbaini tegas.

Sikap KPA ini menunjukkan bahwa persoalan empat pulau tersebut bukan sekadar urusan administratif, melainkan menyangkut aspek politik, sejarah, dan martabat Aceh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah pusat pun dituntut untuk segera merespons dengan arif sebelum konflik ini berkembang menjadi ketegangan yang lebih luas.

Editor: Akil