Beranda blog Halaman 39

Bila Negara Kalah dari Narkoba

0
Ilustrasi narkoba. (Foto: Gemini AI)

NUKILAN.ID | OPINI – Berdasarkan World Drug Report 2025 yang diterbitkan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), jumlah pengguna narkoba di dunia telah mencapai 316 juta orang pada 2023. Angka itu setara dengan sekitar 6 persen populasi global usia 15-64 tahun dan merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah pengguna narkoba meningkat 28 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa narkoba bukan lagi persoalan pinggiran, melainkan krisis global yang terus berkembang menjadi industri kejahatan bernilai ratusan miliar dolar.

Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia yang terpapar narkoba diperkirakan mencapai 4,1 hingga 4,9 juta orang, atau sekitar 2,11 persen dari total populasi. Angka tersebut mencakup berbagai lapisan masyarakat, namun kelompok usia muda dan produktif menjadi yang paling rentan terjerat penyalahgunaan narkotika.

Ancaman narkoba juga tidak luput menyasar masyarakat di Serambi Mekkah. Mengutip data yang disampaikan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh pada Juli 2025, sekitar 80 ribu warga Aceh tercatat terpapar narkoba. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen diketahui memulai penyalahgunaan narkotika dari ganja, yang selama ini kerap dianggap sebagai pintu masuk menuju penggunaan narkoba jenis lainnya.

Begitu menggilanya narkoba, dia tidak kenal lagi usia, tempat, kasta, asal yang bernama manusia pasti dicecarnya. Hari ini, Narkoba bukan lagi semata urusan sekantong sabu-sabu yang ditemukan di kamar kos, ganja yang ditanam di lereng gunung, atau pil ekstasi yang beredar di ruang hiburan malam. Cara pandang seperti itu terlalu kecil untuk membaca kejahatan yang telah berubah menjadi industri gelap lintas negara, lintas benua

Di belakang satu paket sabu yang sampai ke tangan pemakai, ada rantai panjang: produsen bahan kimia, laboratorium rahasia, kapal pengangkut, kurir, bandar, rekening penampung, perusahaan kedok, aparat yang bisa dibeli, hingga jaringan kekerasan yang hidup dari uang haram yang kesemuanya itu ada dan eksis bahkan ditempat kita menetap.

Di titik inilah narkoba menjadi ancaman langsung terhadap masa depan bangsa. Ia tidak hanya merusak tubuh pemakai, tetapi juga menggerogoti negara, merusak moral, semangat dan spirit kebangsaan, bangsa yang punya potensi bagus untuk maju, malah menjadi Bangsa terpuruk karena jaringan Narkoba. Yang paling menyakitkan adalah generasi muda penerus Bangsalah yang dilemahkan oleh narkoba, kita juga tahu bahwa hukum dibeli, dan ekonomi kita timpang karena disusupi uang kotor.

Bila dibiarkan, narkoba bukan sekadar problem kriminal, melainkan ancaman terhadap ketahanan nasional yang tahapannya bukan lagi mengkhawatirkan, tetapi tinggal satu langkah lagi bisa meruntuhkan negara karena tidak ada lagi spirit hidup yang positif dari warga negaranya, terutama generasi Muda.

Laporan UNODC menyebutkan pasar kokain global mencetak rekor baru, dengan produksi ilegal diperkirakan lebih dari 3.708 ton. Narkotika sintetis, terutama jenis amphetamine-type stimulants seperti metamfetamin, juga terus meluas karena biaya produksinya murah dan lebih mudah disembunyikan dalam rantai perdagangan modern.

Asia Tenggara berada di pusaran besar itu. Laporan UNODC juga menyebut penyitaan metamfetamin di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara mencapai 236 ton pada 2024, naik 24 persen dibanding tahun sebelumnya. Produksinya banyak dikaitkan dengan kawasan Segitiga Emas, terutama Negara Bagian Shan, Myanmar, yang rentan karena konflik, lemahnya penegakan hukum, dan beroperasinya kelompok kriminal bersenjata.

Indonesia tidak boleh merasa aman – aman saja, karena ketak geografis sebagai negara kepulauan membuat negeri ini menjadi pasar, jalur transit, sekaligus sasaran empuk sindikat narkoba internasiomal. Pada 2023, aparat Indonesia mengungkap lebih dari 52 ribu kasus narkoba dengan barang bukti antara lain 6,2 ton sabu dan 1,1 ton ganja. Pada 2024, jumlah kasus meningkat menjadi lebih dari 56 ribu dengan penyitaan 7,5 ton sabu dan 3,3 ton ganja, senilai sekitar Rp7,5 triliun.

Angka itu harus dibaca dengan jernih. Banyaknya kasus bukan semata tanda keberhasilan aparat, tetapi juga cermin besarnya pasar gelap. Setiap tangkapan besar selalu menyisakan pertanyaan: berapa banyak yang lolos? Bila satu kapal bisa membawa berton-ton sabu, berarti jaringan di belakangnya memiliki modal besar, rute aman, teknologi komunikasi yang sangat rapi dan canggih, perlindungan, dan sistem distribusi yang tidak sederhana.

Jeremy Douglas, mantan Kepala UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik, pernah mengingatkan bahwa di balik arus perdagangan legal terdapat operasi canggih untuk memindahkan prekursor narkoba ke wilayah produksi seperti Shan, Myanmar. Peringatan ini penting bagi Indonesia, sebab ancaman narkoba sintetis tidak hanya datang dalam bentuk barang jadi, tetapi juga bahan kimia, transaksi daring, perusahaan kedok, dan jalur logistik yang tampak legal.

Dimensi paling berbahaya dari narkoba adalah relasinya dengan kejahatan transnasional. Sindikat narkoba modern tidak bekerja seperti komplotan kampung. Mereka bergerak seperti korporasi. Ada pemasok, operator logistik, pengendali lapangan, akuntan, pengacara, kaki tangan di pelabuhan, dan jaringan digital. Mereka memanfaatkan celah perbatasan, lemahnya koordinasi antarnegara, transaksi kripto, perusahaan cangkang serta perdagangan legal sebagai selubung.

Hasil penelitian tentang jaringan kriminal dan terorisme juga menunjukkan bahwa perekrutan merupakan mekanisme penting yang membuat organisasi kejahatan dan jaringan teror bertahan. Studi Luis A. Martinez-Vaquero, Valerio Dolci, dan Vito Trianni tentang dinamika jaringan kriminal dan teror menunjukkan bahwa pertumbuhan organisasi semacam itu dipengaruhi faktor sosial-ekonomi, peluang rekrutmen, dan hubungan antara individu, komunitas, serta jaringan ilegal. Artinya, narkoba tidak hanya bekerja melalui zat adiktif, tetapi juga melalui kemiskinan, pengangguran, rasa putus asa, dan lemahnya kontrol sosial dalam masyarakat di sebuah negara.

Di sinilah perang melawan narkoba tidak cukup dengan razia dan penangkapan. Negara harus memotong ekosistemnya. Anak muda yang kehilangan harapan mudah menjadi pengguna, kurir, bahkan bagian dari jaringan. Daerah miskin yang minim lapangan kerja mudah menjadi ruang perekrutan. Pelabuhan kecil yang lemah pengawasan mudah menjadi pintu masuk. Aparat yang lemah dan rapuh integritasnya mudah menjadi pagar pelindung para penjahat narkoba ini.

Keterkaitan narkoba dengan terorisme juga harus dibaca secara hati-hati. Tidak semua kasus narkoba berhubungan dengan terorisme. Namun pada tingkat global, kejahatan terorganisir dan kelompok ekstrem dapat bertemu pada kebutuhan yang sama : uang, senjata, rute penyelundupan, dokumen palsu, wilayah abu-abu, dan sistem keuangan bawah tanah.

Dalam literatur crime-terror nexus, relasi keduanya tidak selalu berupa penyatuan organisasi, tetapi bisa berupa kerja sama taktis meliputi berbagi rute, jual beli senjata, memakai jasa penyelundup, atau memanfaatkan bisnis ilegal yang sama.

Dalam praktiknya, narkoba menghasilkan uang tunai dalam jumlah besar. Uang itu tidak mungkin disimpan selamanya di gudang atau koper. Ia harus “dibersihkan” agar dapat membeli rumah, ruko, kebun, kendaraan, hotel, kapal, usaha hiburan, atau masuk ke sistem keuangan.

Di titik ini narkoba bertemu mitra pencucian uang. Operasi anti-narkoba di Indonesia pada April-Juni 2025 memperlihatkan pola tersebut. Aparat menangkap 285 orang, menyita lebih dari 0,68 ton narkotika, dan mengungkap skema pencucian uang yang terkait dua sindikat besar. Nilai aset yang disita sekitar Rp 26 miliar.

Operasi itu disebut mencegah potensi peredaran kepada lebih dari 1,3 juta orang. Maka perang melawan narkoba yang hanya berhenti pada kurir adalah perang yang kalah sejak awal. Kurir mudah diganti. Bandar kecil mudah tumbuh. Pemakai baru terus direkrut. Yang harus diputus adalah aliran uangnya. Selama rekening, aset, perusahaan kedok, dan jaringan pembiayaan tidak dibongkar, maka penjara hanya menjadi biaya operasional sindikat dan tempat transit sementara saja.

Riset terbaru tentang laporan transaksi mencurigakan juga memberi pelajaran penting. Studi Rasmus Ingemann Tuffveson Jensen, Sebastian Holmby Hansen, dan Kalle Johannes Rose pada 2025 menunjukkan bahwa bertambahnya laporan transaksi mencurigakan tidak otomatis meningkatkan vonis pencucian uang. Dengan kata lain, laporan keuangan saja tidak cukup; ia harus diikuti analisis tajam, koordinasi aparat, pembuktian kuat, dan keberanian menjerat aktor utama.

Di sinilah peran PPATK, perbankan, OJK, Polri, BNN, Kejaksaan, Bea Cukai, dan pengadilan menjadi sangat menentukan. Sistem anti-pencucian uang tidak boleh hanya menjadi ritual kepatuhan. Ia harus menjadi senjata untuk merampas keuntungan kejahatan. Bandar narkoba takut kehilangan uang lebih dari kehilangan kurir.

Financial Action Task Force atau FATF berulang kali menekankan pentingnya negara memperkuat pertahanan sistem keuangan dari penyalahgunaan oleh kriminal dan jaringan teror. Dalam evaluasi terhadap sejumlah negara, FATF mendorong peningkatan investigasi pencucian uang, pendanaan terorisme, pemanfaatan intelijen keuangan, dan pengawasan sektor di luar perbankan.

Bagi Indonesia, pesan itu relevan. Uang narkoba bisa masuk ke sektor apa saja: properti, perkebunan, tambang, perdagangan, hiburan, koperasi, aset digital, bahkan politik lokal. Bila uang narkoba masuk ke pemilu, demokrasi berubah menjadi pasar gelap. Bila masuk ke birokrasi, pelayanan publik menjadi komoditas. Bila masuk ke aparat, hukum kehilangan wibawa. Bila masuk ke lingkungan anak muda, bonus demografi berubah menjadi bencana demografi.

Indonesia sedang berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Namun tidak ada Indonesia Emas dengan generasi yang rusak oleh zat adiktif, sekolah yang kalah oleh bandar, kampus yang menjadi pasar, desa yang menjadi jalur distribusi, dan kota yang dipenuhi uang haram.

Bonus demografi tidak cukup dihitung dari jumlah penduduk usia produktif. Ia harus dijaga melalui kualitas kesehatan, pendidikan, moralitas publik, dan daya tahan sosial. Karena itu, kebijakan narkoba perlu digeser dari sekadar slogan perang menuju strategi yang lebih cerdas.

Pertama, negara harus memperkuat pendekatan follow the money. Setiap kasus besar narkoba wajib ditelusuri ke hulu keuangan : siapa pemilik modal, dari mana uang berasal, ke mana mengalir, aset apa yang dibeli, perusahaan apa yang dipakai, dan siapa pelindungnya. Penanganan narkoba tidak boleh berhenti pada barang bukti dan tersangka lapangan.

Kedua, aparat harus membedakan pengguna, kurir, bandar, dan pengendali jaringan. Pengguna perlu diselamatkan melalui rehabilitasi yang serius. Kurir perlu diproses hukum, tetapi juga dipakai untuk membuka jaringan. Bandar dan pemodal harus dihukum berat, asetnya dirampas, dan jaringannya diputus.

Ketiga, pengawasan laut dan pelabuhan kecil harus diperkuat. Indonesia memiliki garis pantai panjang yang tidak mungkin dijaga hanya dengan pendekatan konvensional. Teknologi pemantauan, patroli terpadu, intelijen maritim, kerja sama nelayan, dan pengawasan pelabuhan tikus harus menjadi prioritas.

Keempat, pencegahan harus menyasar anak muda dengan bahasa yang realistis. Kampanye moral semata tidak cukup. Anak muda perlu diberi literasi tentang cara sindikat merekrut, bahaya narkoba sintetis, jebakan transaksi digital, dan konsekuensi hukum. Sekolah, kampus, dayah, pesantren, komunitas olahraga, dan ruang kreatif harus menjadi benteng sosial.

Kelima, negara harus menutup ruang pencucian uang. Beneficial ownership perusahaan harus transparan. Transaksi mencurigakan di sektor properti, kendaraan mewah, aset kripto, hiburan, dan perdagangan tunai harus diawasi. Hukum harus bergerak bukan hanya ketika narkoba ditemukan, tetapi ketika uang haram mulai mencari wajah legal.

Keenam, kerja sama regional harus lebih agresif. Sindikat bergerak lintas negara, maka negara tidak boleh bekerja sendirian. Pertukaran intelijen, operasi bersama, ekstradisi, bantuan hukum timbal balik, dan pelacakan aset lintas yurisdiksi harus dipercepat. Sindikat bekerja dalam hitungan jam; birokrasi hukum tidak boleh bergerak dalam hitungan bulan.

Ancaman narkoba pada akhirnya adalah ujian keberanian negara. Berani menangkap kurir itu biasa. Berani menyita aset bandar itu penting. Tetapi berani membongkar pelindung, pemodal, pencuci uang, dan jaringan kekuasaan di baliknya itulah inti perang sesungguhnya.

Bangsa ini tidak sedang kekurangan pidato tentang masa depan. Yang sering kurang adalah kesungguhan menjaga masa depan itu dari bisnis gelap yang bekerja dalam senyap. Narkoba membeli generasi muda dengan candu, membeli aparat dengan uang, membeli bisnis dengan modal kotor, dan membeli negara dengan pembiaran.

Bila negara kalah, yang hilang bukan hanya barang bukti. Yang hilang adalah masa depan.

Penulis: Aryos Nivada (Peneliti Jaringan Survei Inisiatif)

Bertemu Mendagri dan Wamentan di Gorontalo, Plt Kadistanbun Aceh Laporkan Percepatan Pemulihan Lahan Sawah

0
Bertemu Mendagri dan Wamentan di Gorontalo, Plt Kadistanbun Aceh Laporkan Percepatan Pemulihan Lahan Sawah. (Foto: ist)

NUKILA.ID | GORONTALO – Momentum kehadiran di Gorontalo dimanfaatkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia, untuk menyampaikan perkembangan pemulihan lahan sawah terdampak kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Pertemuan tersebut berlangsung di Hotel Aston, Gorontalo, pada 24 Juni 2026. Azanuddin mengaku pertemuan dengan kedua pejabat itu terjadi secara tidak direncanakan karena mereka kebetulan menginap di hotel yang sama.

Dalam kesempatan singkat itu, Azanuddin memaparkan perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pertanian, terutama terhadap lahan sawah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang.

Ia menjelaskan bahwa proses pemulihan terus dipercepat sebagai tindak lanjut arahan pemerintah pusat, menyusul pertemuan sebelumnya di Banda Aceh yang dipimpin Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Satuan Tugas Pemulihan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (PRR).

Menurut Azanuddin, pemerintah telah menambah cakupan penanganan lahan sawah yang mengalami kerusakan kategori sedang hingga lebih dari 9.000 hektare. Dengan penambahan tersebut, seluruh lahan sawah yang masuk kategori rusak sedang kini telah masuk dalam program penanganan pemerintah melalui Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Aceh serta pemerintah kabupaten dan kota.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Menteri Dalam Negeri atas dukungan dan perhatian terhadap percepatan pemulihan sektor pertanian di Aceh. Menurutnya, arahan yang diberikan menekankan pentingnya mempercepat seluruh tahapan agar para petani dapat kembali mengelola lahan dan menjalankan aktivitas ekonomi secara normal.

Selain bertemu Menteri Dalam Negeri, Azanuddin juga menyampaikan laporan perkembangan rehabilitasi areal persawahan kepada Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Dalam pertemuan tersebut, kata Azanuddin, Wakil Menteri Pertanian mendorong seluruh jajaran agar terus mempercepat proses pemulihan tanpa kehilangan semangat dalam mendampingi para petani. Upaya percepatan dinilai menjadi kunci agar produktivitas pertanian dapat segera kembali pulih.

Di sela agenda di Gorontalo, Azanuddin juga berdiskusi dengan Ismail Rasyid mengenai strategi pengembangan sektor pertanian dan perkebunan Aceh dalam jangka panjang.

Pembahasan mencakup upaya meningkatkan produksi komoditas unggulan daerah agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Potensi ekspor melalui pelabuhan-pelabuhan di Aceh juga menjadi salah satu fokus pembicaraan.

Menurut Ismail, Aceh memiliki sumber daya dan potensi pertanian yang besar sehingga perlu dikelola secara lebih optimal melalui penguatan sektor agribisnis.

Ia juga mendorong para petani dan pekebun untuk meningkatkan etos kerja serta tidak mudah menyerah menghadapi tantangan usaha. Selain memenuhi kebutuhan sendiri, pelaku pertanian diharapkan mulai mengembangkan orientasi usaha ke arah agribisnis dengan memanfaatkan peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Muhammad Nasir Resmi Jadi Komisaris Utama Bank Aceh Syariah Periode 2026–2030

0
Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Nasir, resmi ditetapkan sebagai Komisaris Utama PT Bank Aceh Syariah untuk masa jabatan 2026–2030. Penetapan tersebut dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (23/6/2026). (Foto: Humas Bank Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Nasir, resmi ditetapkan sebagai Komisaris Utama PT Bank Aceh Syariah untuk masa jabatan 2026–2030. Penetapan tersebut dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (23/6/2026).

Penetapan Muhammad Nasir sebagai Komisaris Utama dilakukan oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) Bank Aceh Syariah. Keputusan tersebut mendapat persetujuan dari seluruh pemegang saham yang hadir dalam rapat.

Gubernur Aceh yang akrab disapa Mualem menyampaikan bahwa keputusan terkait penetapan jajaran komisaris dan direksi Bank Aceh Syariah telah melalui proses yang sesuai dan telah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain menetapkan Muhammad Nasir sebagai Komisaris Utama, RUPSLB juga menyetujui Faisal untuk menduduki posisi Komisaris Independen Bank Aceh Syariah. Dalam rapat yang sama, Erwin Konadi juga ditetapkan sebagai Direktur Bisnis Bank Aceh Syariah untuk periode 2026–2030.

RUPSLB PT Bank Aceh Syariah turut dihadiri jajaran direksi Bank Aceh Syariah, Dewan Pengawas Syariah Bank Aceh, serta para pemegang saham yang terdiri atas bupati dan wali kota dari seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Mualem berharap susunan baru komisaris dan direksi Bank Aceh Syariah dapat semakin memperkuat tata kelola perusahaan serta meningkatkan kinerja bank dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah di Aceh.

“Mualem berharap susunan baru komisaris dan direksi Bank Aceh Syariah dapat semakin memperkuat tata kelola perusahaan serta meningkatkan kinerja bank dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah di Aceh,” demikian harapan yang disampaikan dalam RUPSLB tersebut.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

UMKM Aceh Harus Masuk Rantai Pasok FPSO South Andaman

0
Dosen Teknik Kebumian Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), Teuku Andika Rama Putra. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Harapan baru bagi sektor minyak dan gas (migas) di Aceh kembali mengemuka seiring rencana pengembangan proyek Floating Production Storage and Offloading (FPSO) South Andaman. Proyek yang diperkirakan bernilai investasi triliunan rupiah tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi daerah dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat Aceh.

FPSO South Andaman nantinya akan menjadi pusat pengolahan gas alam di perairan Selat Malaka, yang berada di wilayah Kabupaten Aceh Utara dan sekitarnya. Proyek strategis nasional ini juga diproyeksikan beroperasi selama lebih dari dua dekade, sehingga membutuhkan rantai pasok yang besar dan berkelanjutan.

Dosen Teknik Kebumian Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), Teuku Andika Rama Putra, menilai masyarakat Aceh tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proyek migas berskala besar tersebut. Menurutnya, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Aceh harus diberi ruang untuk terlibat dalam berbagai kebutuhan operasional proyek.

Berdasarkan praktik operasi FPSO di berbagai negara, kebutuhan yang muncul mencakup berbagai sektor, mulai dari jasa katering, transportasi laut, fabrikasi dan pengelasan, penyediaan alat keselamatan kerja, hingga pengelolaan limbah industri.

Andika, yang merupakan lulusan University of Colorado, Amerika Serikat, menyebut peluang tersebut berpotensi menciptakan ribuan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Aceh. Selain itu, keterlibatan UMKM lokal diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Tanah Rencong.

” Pemerintah melalui SKK Migas dan KKKS Mubadala perlu membuka peta kebutuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri untuk FPSO South Andaman secara transparan.

Jika UMKM Aceh mengetahui kebutuhan tersebut sejak dini, kami bisa mempersiapkan diri, mengikuti sertifikasi, dan naik kelas menjadi pemasok resmi. Gasnya untuk energi nasional, tetapi dampak ekonominya harus dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh,” ujar dosen senior USK tersebut.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Ibu Asal Aceh dan Bayinya Diduga Dianiaya hingga Tewas di Malaysia

0
Ilustrasi Meninggal. (Foto: iStockphoto)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Seorang perempuan asal Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, bernama Putri Hensy Aprilda (22) diduga menjadi korban pembunuhan di Malaysia. Korban yang diketahui sedang hamil disebut mengalami penyiksaan berat hingga melahirkan secara prematur.

Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma, mengungkapkan bahwa korban diduga mengalami kekerasan fisik yang sangat kejam sebelum meninggal dunia.

“Korban disiksa dengan sangat kejam. Perutnya dipijak dan dipukul berulang kali hingga akhirnya melahirkan sendiri sebelum waktunya. Dalam kondisi tersebut, bayi lahir berlumuran darah,” kata Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma.

Informasi tersebut diperoleh setelah tim Haji Uma bersama Gabungan Aceh Bersatu (GAB) Malaysia melakukan penelusuran dan pengurusan jenazah korban serta bayinya di Malaysia. Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa itu disebut terjadi pada 25 Maret 2026 di kawasan Klang, Selangor.

Akibat penganiayaan yang dialami, Putri diduga melahirkan bayinya secara prematur. Bayi yang dilahirkan tersebut juga diduga menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia.

“Bayi itu tidak hanya sekali disakiti, tetapi diduga berulang kali diperlakukan secara kejam hingga akhirnya meninggal dunia,” jelasnya.

Kasus ini pertama kali diketahui berdasarkan informasi yang diterima dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Dalam laporan yang diterima Gabungan Aceh Bersatu (GAB) di Malaysia, Putri dan bayinya diduga dibunuh oleh seorang perempuan di kawasan Sepang, Selangor, pada Rabu, 3 Juni 2026.

Jasad ibu dan bayi tersebut ditemukan di lokasi yang berbeda. Jenazah Putri saat ini berada di Rumah Sakit Serdang, Selangor, sementara jenazah bayinya berada di Rumah Sakit Shah Alam.

Menurut Haji Uma, terduga pelaku merupakan seorang perempuan warga negara Malaysia yang saat ini telah diamankan oleh pihak berwenang setempat dan sedang menjalani proses hukum.

“Dari informasi yang kami terima melalui KBRI Kuala Lumpur, pelaku diduga seorang perempuan warga Malaysia. Saat ini pelaku sudah berhasil diamankan pada 19 Juni 2026 dan sedang menjalani proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku di Malaysia,” ujar Haji Uma.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Gubernur Aceh Lantik Dr. Misran Fuadi sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, melantik Dr. Misran Fuadi, S.Ag., MAP sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh dalam prosesi yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (23/6/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, melantik Dr. Misran Fuadi, S.Ag., MAP sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh dalam prosesi yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh, Selasa (23/6/2026).

Pelantikan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Aceh dalam memperkuat pelaksanaan program pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai syariat Islam, sekaligus meningkatkan kinerja pelayanan publik di lingkungan Dinas Syariat Islam Aceh.

Dr. Misran Fuadi dikenal sebagai birokrat yang memiliki pengalaman panjang di lingkungan pemerintahan. Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat berbagai program strategis yang menjadi tanggung jawab Dinas Syariat Islam Aceh.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Aceh berharap pejabat yang baru dilantik dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, profesional, dan mampu memperkuat implementasi syariat Islam di Aceh sesuai dengan kewenangan dan kekhususan daerah.

Prosesi pelantikan yang berlangsung di Pendopo Gubernur Aceh tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat Pemerintah Aceh serta tamu undangan lainnya.

Dengan dilantiknya Dr. Misran Fuadi sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Pemerintah Aceh berharap berbagai program pembinaan, pengawasan, dan pengembangan syariat Islam dapat berjalan lebih optimal serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Harga TBS Sawit Aceh Periode Akhir Juni Capai Rp3.537 per Kg

0
Ilustrasi kelapa sawit. (Foto: Reuters)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Pekebun Mitra Provinsi Aceh menetapkan harga TBS sawit untuk periode 17–30 Juni 2026. Dalam penetapan terbaru tersebut, harga tertinggi tercatat pada tanaman sawit berusia 10 hingga 20 tahun yang mencapai Rp3.537 per kilogram di wilayah timur dan Rp3.476 per kilogram di wilayah barat.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh yang dilansir Nukilan, harga tersebut ditetapkan melalui rapat tim penetapan harga yang juga menetapkan harga referensi minyak sawit mentah (CPO) sebesar Rp15.136,16 per kilogram dan harga inti sawit (kernel) sebesar Rp12.537,27 per kilogram.

Sementara itu, indeks K yang menjadi salah satu komponen penentu harga TBS ditetapkan sebesar 89,38 persen untuk wilayah timur dan 87,84 persen untuk wilayah barat.

Untuk wilayah timur, harga TBS pekebun plasma bervariasi berdasarkan umur tanaman. Harga terendah tercatat pada tanaman berusia tiga tahun sebesar Rp2.652 per kilogram dan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada usia 10–20 tahun sebesar Rp3.537 per kilogram. Setelah melewati masa produktif tersebut, harga kembali mengalami penurunan seiring bertambahnya usia tanaman.

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah barat. Harga TBS tanaman berusia tiga tahun ditetapkan sebesar Rp2.607 per kilogram dan meningkat secara bertahap hingga mencapai Rp3.476 per kilogram pada usia 10–20 tahun.

Selain pekebun plasma, tim penetapan harga juga menetapkan harga TBS untuk pekebun swadaya. Dengan komposisi buah 100 persen jenis tenera, harga TBS swadaya ditetapkan sebesar Rp3.241 per kilogram di wilayah timur dan Rp3.185 per kilogram di wilayah barat.

Harga tersebut dapat berubah menyesuaikan komposisi buah yang dipanen. Semakin tinggi proporsi buah dura dalam hasil panen, maka harga yang diterima pekebun akan semakin rendah.

Secara umum, harga TBS sawit di Aceh masih berada pada level yang relatif tinggi. Kondisi ini didukung oleh kuatnya harga CPO nasional yang masih bertahan di atas Rp15.000 per kilogram.

Selain faktor harga CPO, pelaku industri sawit juga mulai mencermati dampak penerapan program biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada Juli 2026. Kebijakan tersebut diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan minyak sawit di dalam negeri dan berpotensi memberikan dukungan terhadap harga komoditas sawit.

Tim Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Pekebun Mitra Provinsi Aceh dijadwalkan kembali menggelar rapat pada 1 Juli 2026 untuk menetapkan harga TBS periode berikutnya. []

Reporter: Sammy

Bupati Aceh Selatan Lantik Pejabat Eselon II Hari Ini

0

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan kembali melakukan penyegaran birokrasi. Bupati Aceh Selatan, H Mirwan MS, SE, MSos melantik dan mengambil sumpah jabatan sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan pemerintah daerah setempat, Selasa (23/6/2026). Agenda pelantikan tersebut berlangsung di Gedung Rumoh Agam, Tapaktuan, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Nukilan, pelantikan itu tertuang dalam surat undangan resmi bernomor 005/08 yang diterbitkan di Tapaktuan pada 22 Juni 2026 dan ditandatangani langsung oleh Bupati Aceh Selatan. Berdasarkan salinan surat yang beredar, para pejabat yang diundang diminta hadir untuk mengikuti prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam surat tersebut disebutkan bahwa pelantikan dilaksanakan berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil yang mengatur bahwa setiap PNS yang diangkat dalam jabatan wajib dilantik dan mengangkat sumpah atau janji jabatan.

“Dimohon kehadiran Saudara untuk dilantik dan mengangkat sumpah jabatan,” demikian isi surat undangan tersebut, dikutip Nukilan, Selasa (23/6/2026).

Pelantikan kali ini disebut-sebut merupakan tindak lanjut dari hasil Uji Kompetensi (Ukom) yang telah dilaksanakan pada awal Februari 2026 lalu. Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan evaluasi terhadap pejabat yang telah menduduki jabatan pimpinan tinggi selama lima tahun atau lebih.

Sebelumnya, sebanyak 17 pejabat eselon II tercatat mengikuti seleksi Uji Kompetensi Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama. Mereka berasal dari berbagai perangkat daerah, mulai dari unsur staf ahli, kepala dinas hingga sekretaris dewan.

Di antaranya Asisten I Setdakab Aceh Selatan Kamarsyah, Staf Ahli sekaligus Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Erwiandi, Staf Ahli sekaligus Plt Kepala Dinas Kesehatan Yuhelmi, Kepala Satpol PP dan WH Dicky Ichwan, Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Junaidi, serta Kepala Dinas Pertanian H Nyaklah.

Selain itu terdapat Kepala Dinas Dukcapil Masriadi, Kepala Dinas Infokom dan Persandian Munharsam, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Teuku Masrizar, Kepala Dinas Pariwisata Uchsin, Kepala DPMPTSP Dzumairi, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Teuku Hasrida Aslim, Kepala Dinas Perpustakaan Erdiansyah, Kepala BPBD H Zainal A, Kepala Kesbangpol Safril, dan Sekretaris DPRK Darwis.

Sementara itu, sejumlah pejabat lainnya juga masuk dalam proses evaluasi jabatan karena telah menduduki posisi yang sama selama lima tahun atau lebih. Mereka antara lain Kepala Dinas Syariat Islam Indra Hidayat, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong Hj Agustinur, Kepala Dinas Perhubungan Filda Yulisbar, dan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Syamsul Bahri.

Hingga berita ini ditayangkan, Pemkab Aceh Selatan belum mengumumkan secara resmi nama-nama pejabat yang akan menempati posisi baru maupun pejabat yang akan mengalami pergeseran jabatan dalam pelantikan tersebut.

Pelantikan ini menjadi mutasi perdana pejabat pimpinan tinggi yang dilakukan pada masa kepemimpinan Bupati Mirwan MS setelah rangkaian uji kompetensi dan evaluasi jabatan rampung dilaksanakan. []

Reporter: Sammy

Tim Rimueng Nanggroe Teknik Pertambangan USK Siap Berlaga di DAMC V, Targetkan Prestasi Nasional

0
Melalui Tim Rimueng Nanggroe, enam mahasiswa terbaik USK resmi bertolak mengikuti Depati Amir Mining Competition V (DAMC V) yang diselenggarakan oleh Universitas Bangka Belitung pada 22–27 Juni 2026. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menunjukkan semangat kompetitif di tingkat nasional. Melalui Tim Rimueng Nanggroe, enam mahasiswa terbaik USK resmi bertolak mengikuti Depati Amir Mining Competition V (DAMC V) yang diselenggarakan oleh Universitas Bangka Belitung pada 22–27 Juni 2026.

Keikutsertaan tim ini menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan akademik, keterampilan teknis, serta mental kompetitif dalam kompetisi pertambangan bergengsi tingkat nasional.

Tim Rimueng Nanggroe dipimpin oleh Raisha Nadya sebagai manajer tim. Sementara lima anggota lainnya yang akan bertanding adalah Iqlal Hamdi, T. Syafama Adha, M. Tri Sulthan Nurrahman, Muhammad Nabil, dan Risky Ramadhan.

Selama pelaksanaan DAMC V, mereka akan mengikuti sembilan kategori perlombaan yang menguji ketelitian, kecepatan, kemampuan analisis, serta kerja sama tim. Adapun cabang yang dipertandingkan meliputi Mine Surveying, Tie In Underground, Bangka Drill, Bench Blasting, Written Test, Mine Plan, Sluice Box, Joint Measuring, dan Grain Counting Analysis.

Persiapan menuju kompetisi tersebut telah dilakukan selama beberapa bulan terakhir melalui latihan intensif, simulasi perlombaan, hingga berbagai diskusi teknis. Seluruh rangkaian persiapan itu dilakukan untuk memaksimalkan peluang meraih prestasi sekaligus membawa nama baik Program Studi Teknik Pertambangan USK dan Aceh di tingkat nasional.

Dosen pembimbing tim, Febi Mutia, menilai DAMC V menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam tantangan nyata di bidang pertambangan.

“Kami percaya bahwa setiap proses latihan yang telah dilalui akan menjadi bekal penting saat bertanding. Target kami tentu memberikan penampilan terbaik di setiap cabang lomba. Lebih dari sekadar mengejar medali, kami ingin mahasiswa memperoleh pengalaman, jejaring, dan kepercayaan diri sebagai calon profesional di industri pertambangan. Mohon doa dan dukungan dari seluruh sivitas akademika serta masyarakat Aceh agar Tim Rimueng Nanggroe diberikan kesehatan, kelancaran, dan mampu mengharumkan nama USK dengan meraih prestasi terbaik,” katanya kepada Nukilan.id.

Sementara itu, Koordinator Program Studi Teknik Pertambangan USK, Haqul Baramsyah, menegaskan bahwa partisipasi mahasiswa dalam kompetisi nasional merupakan bagian dari upaya membangun budaya akademik yang unggul dan kompetitif.

“Kami sangat mengapresiasi semangat dan dedikasi mahasiswa yang telah mempersiapkan diri untuk mengikuti DAMC V. Kompetisi ini menjadi wadah untuk menunjukkan kualitas lulusan Teknik Pertambangan USK di tingkat nasional. Kami berharap Tim Rimueng Nanggroe mampu tampil maksimal, meraih medali pada cabang-cabang yang dipertandingkan, serta membawa pulang kebanggaan bagi universitas dan Aceh.”

Dukungan penuh juga terus mengalir dari keluarga besar Program Studi Teknik Pertambangan USK. Harapannya, perjuangan Tim Rimueng Nanggroe selama mengikuti DAMC V dapat membuahkan hasil terbaik sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi dan mengembangkan kompetensi di bidang pertambangan.

Dengan persiapan yang matang, semangat pantang menyerah, serta dukungan dari masyarakat Aceh, Tim Rimueng Nanggroe optimistis mampu memberikan performa terbaik selama kompetisi berlangsung dan membawa pulang prestasi yang membanggakan bagi USK maupun Aceh. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mbappe Cetak Dua Gol, Prancis Tumbangkan Irak 3-0 dan Pastikan Tiket ke Babak 32 Besar

0
Prancis Tumbangkan Irak 3-0 dan Pastikan Tiket ke Babak 32 Besar. (FOTO; FIFA)

NUKILAN.ID | Philadelphia – Timnas Prancis memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Irak dengan skor meyakinkan 3-0 pada laga kedua Grup I di Philadelphia Stadium, Selasa (23/6/2026) WIB. Kylian Mbappe menjadi bintang kemenangan Les Bleus lewat torehan dua gol, sementara satu gol lainnya disumbangkan Ousmane Dembele.

Kemenangan ini mengantarkan Prancis memimpin klasemen sementara Grup I dengan koleksi enam poin dari dua pertandingan. Hasil tersebut sekaligus memastikan Les Bleus lolos ke fase gugur. Di sisi lain, Irak masih belum mengumpulkan poin, meski peluang untuk melaju melalui jalur peringkat ketiga terbaik belum sepenuhnya tertutup.

Sejak peluit awal dibunyikan, Prancis langsung mengambil inisiatif menyerang dan menguasai jalannya pertandingan. Dominasi penguasaan bola membuat Irak lebih banyak bertahan di wilayah sendiri.

Keunggulan Prancis tercipta pada menit ke-14 melalui aksi individu Kylian Mbappe. Berawal dari kombinasi permainan dengan Michael Olise di sisi kanan, sang kapten menusuk ke dalam kotak penalti sebelum melepaskan tembakan kaki kiri yang bersarang di sudut kanan atas gawang Irak. Skor berubah menjadi 1-0.

Setelah tertinggal, Irak berupaya memberikan respons. Beberapa peluang sempat tercipta, termasuk melalui sundulan Ali Alhamadi yang memanfaatkan umpan Merchas Doski. Namun, upaya tersebut belum mampu mengancam gawang Mike Maignan.

Prancis tetap tampil dominan sepanjang babak pertama dan berhasil mempertahankan keunggulan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, pertandingan sempat tertunda sekitar dua jam akibat cuaca buruk yang melanda stadion. Setelah kondisi dinyatakan aman, laga kembali dilanjutkan.

Tak butuh waktu lama bagi Prancis untuk memperbesar keunggulan. Pada menit ke-54, kesalahan koordinasi di lini belakang Irak dimanfaatkan dengan baik oleh Les Bleus. Ousmane Dembele berhasil merebut bola dan memberikan umpan kepada Mbappe yang tanpa kesulitan menceploskan bola ke gawang kosong untuk mencetak gol keduanya.

Prancis terus menekan pertahanan Irak. Michael Olise hampir mencatatkan namanya di papan skor, tetapi tembakannya hanya membentur mistar gawang.

Gelombang serangan akhirnya kembali membuahkan hasil pada menit ke-66. Kali ini Ousmane Dembele sukses mencetak gol setelah menerima umpan dari Olise. Winger Paris Saint-Germain itu melepaskan tendangan keras kaki kanan yang gagal diantisipasi kiper Ahmed Basil, membawa Prancis unggul 3-0.

Irak sempat memperoleh peluang emas melalui situasi bola lambung yang diarahkan Rebin Sulaka ke depan gawang. Namun Ali Alhamadi gagal menjangkau umpan tersebut meski berada dalam posisi yang cukup baik.

Menjelang pertandingan berakhir, Mbappe hampir melengkapi penampilannya dengan hat-trick. Penyerang berusia 27 tahun itu berhasil menembus pertahanan Irak, tetapi penyelesaian akhirnya masih belum menemui sasaran.

Skor 3-0 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.

Dengan hasil ini, Prancis menjadi salah satu tim yang lebih dulu memastikan tempat di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sementara Irak wajib meraih hasil maksimal pada laga terakhir fase grup sembari berharap hasil pertandingan lain berpihak kepada mereka agar peluang lolos tetap terjaga.

Susunan pemain

Prancis: Mike Maignan; Jules Kounde (Malo Gusto 83′), Dayot Upamecano, William Saliba, Lucas Digne; Manu Kone, Adrien Rabiot; Michael Olise (Rayan Cherki 68′), Ousmane Dembele (Desire Doue 68′), Bradley Barcola (Maghnes Akliouche 83′); Kylian Mbappe (Marcus Thuram 90+1′).

Irak: Ahmed Basil; Merchas Doski, Frans Putros Hashim, Hussein Tahseen (Rebin Sulaka 60′), Hussein Ali; Osama Rashid Ismael (Ali Jasim Amyn 60′), Ali Al Ammari (Sher 68′), Ahmed Qasem, Zidane Iqbal, Ibrahim Bayesh (Farhan Farji 68′); Aymen Hussein (Ali Alhamadi 26′).