Beranda blog Halaman 34

Sambut Idulfitri, Demokrat Pidie Salurkan Bantuan untuk Warga dan Penyintas Banjir Bandang

0

NUKILAN.id | Pidie – Partai Demokrat kembali berbagi kebahagiaan dengan warga dan penyintas banjir bandang di Kabupaten Pidie, sebagai bagian dari semangat menyambut Idulfitri 1447 Hijriah meski masih diliput suasana paska bencana.

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Pidie menyalurkan sejumlah 300 paket sembako berupa sirup, minyak goreng, bubuk teh, gula dan mie instant.

Mengusung tema Ramadhan Berbagi, Demokrat Peduli, DPC Partai Demokrat Kabupaten Pidie menyatakan bahwa bantuan paket sembako tersebut berasal DPP Partai Demokrat atas instruksi Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono dan Plt. Ketua Demokrat Aceh, Rian Syaf agar Demokrat dirasakan kehadirannya dan peduli terhadap kondisi masyarakat.

“Proses penyalurannya, kita langsung turun menyasar warga ke wilayah terdampak banjir bandang dan juga disalurkan di Kantor DPC Partai Demokrat Pidie,” kata Teuku Syahwal kepada awak media. Jum’at, 20 Maret 2026.

Lanjutnya, penyaluran bantuan paket sembako sudah kita laksanakan sejak kemarin (Kamis, 19 Maret 2026) dan kita selesaikan pada hari ini, dengan menyentuh target yang kita data sebelumnya. 

“Meskipun tergolong sederhana, semoga paket sembako tersebut mampu mempererat hubungan Partai Demokrat dengan masyarakat dan sebagai bentuk kepedulian untuk bangkit dan pulih bersama,” harapnya.

Bantu Kursi Roda untuk Lansia di Gampong Puuk

Bergerak dari Kecamatan Kembang Tanjong dalam agenda penyaluran paket sembako dari DPP Partai Demokrat, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pidie, Teuku Syahwal juga menyerahkan 1 (satu) unit kursi roda kepada Lansia di Gampong Puuk, Kecamatan Peukan Baro.

“Trimoeng gaseh, kana teumpat duek loen ( terima kasih, sudah ada tempat duduk untuk saya),” ucap Wa Mansyah (89) usai dipindahkan ke kursi roda dari tempat pembaringan selama ini oleh pengurus yang turun ke lapangan. []

Camat Pulo Aceh dan Panglima Laot Aceh Besar Sambut Kepulangan Nelayan yang Terdampar di Sri Lanka

0
Camat Pulo Aceh, Jamaluddin SE bersama Panglima Laot Aceh Besar, Baharuddin dan unsur lainnya menjemput kepulangan nelayan Meulingge, Pulo Aceh, Sadiqin yang terdampar ke Srilangka sebulan lalu, di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang. (Foto: Humas Abes)

NUKILAN.ID | JANTHO – Camat Pulo Aceh, Jamaluddin SE bersama Panglima Laot Aceh Besar, Baharuddin menjemput kepulangan seorang nelayan asal Gampong Meulingge, Pulo Aceh, Sadiqin yang sebelumnya terdampar di Sri Lanka selama sebulan.

Penjemputan dilakukan pada Kamis (19/3/2026) di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang. Turut hadir dalam penjemputan tersebut Panglima Laot Aceh, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh, Keuchik Meulingge, serta Panglima Laot Lhok Lampuyang.

Camat Pulo Aceh yang didampingi Panglima Laot Aceh Besar menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pemulangan nelayan tersebut, termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sri Lanka.

Sadiqin pun mengungkapkan rasa syukur atas kepulangannya ke tanah air. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sejak dirinya terdampar hingga proses pemulangan ke Aceh.

Setelah tiba di Bandara SIM, Sadiqin kemudian dibawa ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk prosesi peusijuek sebelum diberangkatkan kembali ke Pulo Aceh.

Sebelumnya, Sadiqin dilaporkan hilang saat melaut pada 1 Februari 2026. Ia berangkat menggunakan perahu motor jenis bot teptep untuk mencari ikan di perairan Samudra Hindia.

“Saat itu, Sadiqin melaut menggunakan perahu motor yang biasa disebut bot teptep,” kata Miftah Tjut Adek.

Diduga, perahu yang digunakan mengalami kerusakan mesin sehingga hanyut terbawa arus hingga ke wilayah perairan Sri Lanka.

Setelah ditemukan, Sadiqin kemudian diselamatkan dan sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit di negara tersebut. Lokasi rumah sakit tersebut dilaporkan berada sekitar dua jam dari Kota Kolombo, Sri Lanka.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Ribuan Warga Padati Meuligoe, Terima THR dari Mualem

0
Ribuan Warga Padati Meuligoe, Terima THR dari Mualem. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ribuan warga memadati Meuligoe Gubernur Aceh untuk menerima tunjangan hari raya (THR) yang dibagikan oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, Jumat (20/3/2026) siang.

Pembagian THR dilakukan usai salat Jumat melalui tim yang ditugaskan oleh Mualem. Diperkirakan sekitar seribu warga hadir dalam kegiatan tersebut.

Sejak pagi, warga telah berdatangan ke kompleks Meuligoe dan menunggu di halaman belakang. Jumlah mereka terus bertambah hingga setelah salat Jumat. Petugas kemudian mengatur antrean dengan memisahkan barisan perempuan dan anak-anak di bagian depan, sementara laki-laki berada di belakang.

Dalam pelaksanaannya, Mualem tidak menyerahkan bantuan secara langsung, melainkan melalui tim yang telah ditugaskan untuk menyalurkan THR kepada masyarakat.

Setiap warga dewasa menerima Rp100.000, sedangkan anak-anak memperoleh Rp50.000. Setelah menerima bantuan, warga diarahkan keluar dari kompleks guna menghindari penumpukan massa. Proses pembagian berlangsung sekitar satu jam.

Muslim, warga Neuheun, Aceh Besar, mengaku datang sejak pagi demi mendapatkan bantuan tersebut. Ia pun menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Terima kasih kepada Mualem dan timnya. Ini pertama kali saya dapat, tahun sebelumnya belum pernah,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Zulkarnaini, warga Sigli, Pidie, yang juga baru pertama kali mengikuti pembagian THR tersebut.

“Terima kasih Mualem, semoga sehat selalu. Ini pengalaman pertama, semoga ke depan ada lagi,” katanya.

Sementara itu, Budiman, warga Keudah, Banda Aceh, mengatakan dirinya sengaja datang sejak pagi untuk menerima THR dari Mualem.

Tradisi berbagi THR ini telah menjadi kebiasaan Mualem setiap meugang Ramadan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan serupa juga telah dilakukan sejak ia menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh pada periode 2012–2017.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Sekda Aceh Lepas Pawai Takbir Idul Fitri 1447 H di Masjid Raya Baiturrahman

0
Sekda Aceh Lepas Pawai Takbir Idul Fitri 1447 H di Masjid Raya Baiturrahman. (FOTO: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Wali Kota Banda Aceh, secara resmi melepas pawai takbir Idul Fitri 1447 Hijriah di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Jumat malam (20/3/2026).

Pelepasan pawai tersebut disaksikan ribuan warga Banda Aceh dan sekitarnya yang telah memadati sejumlah ruas jalan protokol yang menjadi jalur lintasan peserta.

Kegiatan ini juga dihadiri unsur pimpinan daerah, ulama, tokoh masyarakat, serta ratusan peserta yang turut memeriahkan suasana di kawasan masjid yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Aceh.

Dalam sambutan Gubernur Aceh yang dibacakan Sekda, disampaikan bahwa pawai takbir keliling merupakan bagian dari syiar Islam yang telah lama menjadi tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

“Pawai takbir keliling merupakan bagian dari syiar Islam yang telah menjadi tradisi masyarakat Aceh dalam menyambut hari kemenangan. Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat,” ujar Sekda membacakan sambutan gubernur.

Selain itu, disebutkan bahwa lantunan takbir yang dikumandangkan merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana perintah dalam Al-Qur’an untuk mengagungkan-Nya atas segala petunjuk yang telah diberikan.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengingatkan bahwa Idul Fitri tahun ini dirayakan di tengah kondisi Aceh yang baru saja menghadapi berbagai musibah. Karena itu, momentum hari raya diharapkan menjadi titik kebangkitan bagi seluruh masyarakat.

“Momentum Idul Fitri hendaknya menjadi titik kebangkitan, memperkuat semangat, dan menumbuhkan optimisme untuk bangkit kembali. Dengan doa, ikhtiar, serta kepedulian sosial, insya Allah Aceh akan pulih dan menjadi lebih baik,” lanjutnya.

Pemerintah Aceh turut mengimbau seluruh peserta pawai untuk menjaga ketertiban dan keselamatan selama kegiatan berlangsung, sehingga takbir keliling dapat berjalan lancar dan khidmat.

Di akhir kegiatan, Sekda Aceh atas nama Pemerintah Aceh menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Aceh, seraya memohon maaf lahir dan batin.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Bocah 8 Tahun di Bireuen Kirim Surat ke Presiden, Curhat Hidup 4 Bulan di Tenda Pengungsian

0
Bocah bernama Nur Fitri (8) itu menyampaikan keluh kesahnya setelah empat bulan tinggal di tenda darurat akibat banjir yang merusak rumahnya. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | BIREUEN – Seorang bocah sekolah dasar di Kabupaten Bireuen, Aceh, menyita perhatian publik setelah menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia. Bocah bernama Nur Fitri (8) itu menyampaikan keluh kesahnya setelah empat bulan tinggal di tenda darurat akibat banjir yang merusak rumahnya.

Momen tersebut viral setelah diunggah melalui akun Instagram @acehgroundtimes. Dalam video itu, Fitri tampak membacakan surat yang ia tulis tangan di atas kertas bergaris.

Dalam suratnya, Fitri menceritakan kondisi yang ia alami bersama warga lainnya di lokasi pengungsian yang berada di halaman Kantor Bupati Bireuen.

”Nama saya Nur Fitri, umur saya 8 tahun. Saya masih sekolah di SD. Sekarang saya tinggal di tenda di halaman kantor bupati Bireuen, rumah saya rusak karena banjir tahun lalu,” ungkap Fitri saat membacakan isi suratnya.

Ia menggambarkan sulitnya menjalani kehidupan sehari-hari di bawah tenda. Cuaca ekstrem menjadi tantangan utama, mulai dari panas menyengat di siang hari hingga dingin menusuk saat malam.

”Di tenda saya sedih, pak. Malam kedinginan, siang panas. Kalau hujan saya takut, kadang saya menangis diam-diam di selimut,” ungkapnya.

Ia mengaku merindukan kehidupan normal seperti anak-anak lain, terutama bisa belajar dengan nyaman di rumah dan berangkat ke sekolah dari tempat tinggal sendiri.

”Pak Presiden, saya rindu rumah saya. Rindu bisa belajar di rumah saya. Rindu pergi ke sekolah dari rumah seperti anak-anak lain,” lanjutnya lagi.

Menjelang Hari Raya, harapan Fitri semakin besar agar keluarganya dapat kembali memiliki rumah. Ia ingin merayakan momen tersebut tidak lagi di tenda pengungsian.

”Sebentar lagi Hari Raya. Saya ingin merayakannya di rumah, bukan di tenda,” pintanya.

Dalam bagian akhir suratnya, Fitri juga menyampaikan janji kepada Presiden jika permohonannya dikabulkan.

”Pak Presiden, kalau bapak bangun rumah saya dan teman-teman yang kena banjir, saya janji akan belajar rajin dan jadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua, agama, dan negara,” pungkasnya.

Kisah Fitri menjadi potret kondisi anak-anak korban bencana yang masih bertahan di pengungsian dan berharap adanya perhatian serta bantuan dari pemerintah. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Istri Gubernur Aceh Keliling Kota Bagikan Daging Meugang kepada Warga Kurang Mampu Jelang Idulfitri

0
Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir (Kak Na), berkeliling kota membagikan daging meugang kepada warga kurang mampu di kawasan Simpang Lima, Kamis (19/3/2026). (Foto: Biro Adpim)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir berkeliling kota membagikan daging meugang kepada warga kurang mampu, Kamis (19/3/2026).

Perempuan yang akrab disapa Kak Na itu menyusuri sejumlah ruas jalan menggunakan mobil. Ia berhenti setiap kali melihat warga seperti petugas parkir, pedagang kecil, hingga abang becak untuk menyerahkan bantuan daging meugang.

Salah satu penerima bantuan, Hafsah (70), mengaku terkejut saat Kak Na menghampirinya dan memberikan daging meugang. Tidak hanya itu, seluruh dagangan pisang miliknya juga diborong.

Hafsah yang berjualan di depan salah satu toko sepatu di kawasan Simpang Lima itu diketahui merupakan korban banjir asal Panton Labu, Aceh Utara.

“Rumah saya terendam saat banjir, hingga kini belum bisa ditempati lagi. Makanya sementara ini saya tinggal bersama anak saya di Gampong Laksana,” ujar Hafsah sambil merapikan lapaknya setelah dagangannya habis diborong.

“Alhamdulillah, terima kasih. Hari ini dapat daging meugang dari Ibu Ana. Dagangan saya juga diborong ibu gubernur tadi,” ucap Hafsah semringah.

Hal serupa disampaikan Aswardi (71), seorang tukang becak yang mangkal di kawasan Simpang Lima. Ia mengaku tidak menyangka akan menerima bantuan tersebut.

“Tiba-tiba ada mobil berhenti dan ada Ibu-ibu ngasih saya daging meugang. Setelah saya lihat, ternyata Ibu Ana istri Gubernur Mualem. Alhamdulillah, terima kasih ibu,” ucap Aswardi.

Aswardi mengaku telah menjalani profesinya sebagai tukang becak sejak muda. Meski pernah mengalami kecelakaan pada 1995 yang menyebabkan kakinya patah, ia tetap bekerja untuk menghidupi keluarganya.

“Patah ni bang, panjang sebelah kaki saya karena kecelakaan itu. Tapi saya tetap harus bekerja untuk menghidupi istri dan 3 anak saya,” ucap Aswardi sambil memperlihatkan kondisi kakinya.

Usai kegiatan tersebut, Kak Na mengaku bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan.

“Saya iba sekaligus salut melihat perjuangan mereka. Meski telah berusia senja, sudah kakek-kakek dan nenek-nenek, bahkan ada yang sakit tadi. Tapi mereka tetap berusaha mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Perjuangannya luar biasa. Semangat itu tentu harus kita tiru,” ujar Kak Na.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Ustaz Muda Asal Aceh, Tengku Habibi An-Nawawi Raih Juara 1 AKSI Indosiar 2026

0
Tengku Habibi An-Nawawi, juara pertama dalam ajang pencarian bakat dakwah Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar 2026. (Foto: IG @indosiar)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Tengku Habibi An-Nawawi berhasil meraih juara pertama dalam ajang pencarian bakat dakwah Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar 2026. Keberhasilan ustaz muda asal Aceh ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat daerahnya.

Informasi kemenangan tersebut dikutip Nukilan.id dari unggahan akun Instagram resmi Indosiar, @indosiar.

“Alhamdulillah, selamat kepada Ustaz Habibi dari Aceh atas kemenangannya sebagai Juara 1 di AKSI 2026!” tulis akun tersebut.

“Perjuangan, ketekunan, dan keikhlasan akhirnya berbuah manis. Semoga kemenangan ini menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya dan selalu membawa keberkahan,” tambahnya.

Ajang Akademi Sahur Indonesia (AKSI) sendiri merupakan program pencarian bakat dakwah yang disiarkan oleh Indosiar dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kemenangan Tengku Habibi An-Nawawi menambah daftar prestasi putra Aceh di tingkat nasional, khususnya di bidang dakwah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Kemenag: Hilal Belum Penuhi Kriteria, 1 Syawal 1447 H Diprediksi Jatuh 21 Maret 2026

0
Hilal Syawal 1447 H di Aceh Belum Penuhi Kriteria Imkan Rukyat (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) melaporkan hasil pemantauan posisi hilal dalam rangka penetapan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal di Indonesia belum memenuhi kriteria yang ditetapkan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, menyampaikan bahwa secara keseluruhan wilayah Indonesia tidak memenuhi kriteria awal bulan Qomariyah versi MABIMS.

“Kita lihat. Gambarnya jelas, magenta semua, merah semua. Kalau tadi kurva tadi digabungkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak memenuhi kriteria awal bulan Qomariyah MABIMS, warnanya magenta,” ujar Cecep dikutip Nukilan.id dari seminar jelang sidang isbat di Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2026).

Ia menjelaskan, meskipun di sebagian wilayah Provinsi Aceh tinggi hilal telah memenuhi batas minimum 3 derajat, namun elongasinya belum mencapai syarat minimal 6,4 derajat. Padahal, kedua parameter tersebut harus terpenuhi secara bersamaan sesuai ketentuan MABIMS.

“Sehingga tanggal 1 Syawal 1447 Hijriah secara hisab MABIMS jatuh bertepatan dengan hari Sabtu Pahing tanggal 21 Maret 2026 Masehi. Tingginya masuk tapi elongasinya tidak. Padahal MABIMS mensyaratkan dua-duanya harus memenuhi. Itu syaratnya wajib dua-duanya. Tidak pakai atau, dan,” jelasnya.

Meski demikian, Cecep menegaskan bahwa hasil hisab bersifat informatif. Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia tetap mengacu pada kombinasi metode hisab dan rukyat.

“Ini hisab. Hisab itu informatif. Nanti kita akan mendengarkan hasil dari rukyah. Rukyah itu konfirmasi, rukyah itu verifikasinya. Karena kita tahu bahwa di Indonesia lazimnya penetapan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah ditetapkan berdasar metode rukyah dan hisab. Ya, jadi hisabnya sudah ada, rukyahnya kita tunggu,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa secara teoritis hilal diprediksi tidak dapat dirukyat karena posisinya masih berada di bawah kriteria visibilitas saat matahari terbenam.

“Secara teoritis diprediksi tidak mungkin dapat dirukyat karena posisinya berada di bawah kriteria visibilitas hilal pada saat matahari terbenam,” ungkapnya.

Sebagai informasi, penentuan resmi Idul Fitri akan diputuskan dalam sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 18.00–18.45 WIB, dengan pengumuman hasil disampaikan sekitar pukul 19.25 WIB. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026

0
Ilustrasi idulitri. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu (21/3/2026).

Amatan Nukilan.id dari siarang langsung, keputusan tersebut diumumkan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam konferensi pers usai sidang isbat yang digelar di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2026).

“Dengan demikian berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal yang terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1477 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026,” ujar Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

Penetapan 1 Syawal ini didasarkan pada hasil hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal) yang dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.

Berdasarkan paparan Tim Falak Kemenag, posisi hilal tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Adapun kriteria MABIMS meliputi tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

Karena tidak memenuhi kriteria tersebut serta tidak adanya laporan hilal terlihat, maka bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari.

Hasil seminar yang menjadi bagian dari rangkaian sidang juga menunjukkan bahwa hilal secara astronomi tidak memungkinkan untuk terlihat.

Sidang isbat sendiri diawali dengan seminar posisi hilal yang membahas metode hisab dan rukyat. Setelah itu, sidang dilanjutkan secara tertutup dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan organisasi masyarakat Islam dan instansi terkait.

Hasil sidang kemudian diumumkan kepada publik melalui konferensi pers.

Penetapan ini tetap mengacu pada metode yang digunakan pemerintah selama ini, yakni kombinasi antara hisab sebagai dasar perhitungan dan rukyat sebagai konfirmasi. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Sejarah THR di Indonesia: Lahir dari Perjuangan Onderbouw PKI Era 1950-an

0
Ilustrasi THR. (Foto: Aristya Rahadian)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tunjangan Hari Raya (THR) yang kini rutin diterima pekerja menjelang Lebaran ternyata memiliki sejarah panjang yang berakar dari perjuangan kaum buruh pada era 1950-an.

Tahun ini, pemerintah menetapkan penyaluran THR bagi pekerja swasta maupun aparatur negara—termasuk ASN, PNS, PPPK, TNI, Polri, dan pensiunan—paling lambat tujuh hari (H-7) sebelum Hari Raya Idulfitri. Kebijakan ini telah menjadi tradisi penting untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan menjelang hari besar keagamaan.

Namun, berdasarkan penelusuran Nukilan.id, asal-usul THR bermula dari kondisi ekonomi Indonesia yang sulit pada dekade 1950-an. Saat itu, ketidakstabilan politik memicu krisis ekonomi yang menyebabkan harga barang melonjak drastis dan daya beli masyarakat menurun tajam.

Dalam catatan Jan Luiten van Zanden melalui buku Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2011), harga bahan pokok di Jakarta pada 1959 bahkan meningkat hingga 325 persen dibandingkan tahun 1950. Kondisi ini membuat masyarakat, terutama kaum buruh dengan upah rendah, semakin terpuruk.

Situasi menjadi semakin berat saat memasuki Lebaran. Harga kebutuhan pokok meningkat, sementara penghasilan buruh tetap. Akibatnya, banyak pekerja tidak mampu merayakan hari raya dengan layak.

Dari kondisi inilah muncul gagasan pemberian pendapatan tambahan di luar gaji bulanan yang kemudian dikenal sebagai Tunjangan Hari Raya. Pada awalnya, sejumlah perusahaan memberikan THR secara sukarela, namun kebijakan ini belum merata dan memicu ketimpangan.

Melihat kondisi tersebut, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) mulai mendorong pemerintah untuk menetapkan aturan resmi terkait THR. Organisasi buruh yang berdiri pada 29 November 1946 di Yogyakarta ini aktif memperjuangkan kesejahteraan pekerja, termasuk tuntutan pemberian THR sebesar satu bulan gaji.

Dalam perjalanannya, SOBSI memiliki kedekatan dengan ideologi Marxisme dan beririsan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini membuat organisasi tersebut kerap dikaitkan sebagai Onderbouw/bagian dari kekuatan politik kiri pada masa itu.

Meski demikian, kiprah SOBSI berakhir pada 1966 setelah dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soeharto. Banyak anggotanya ditangkap dan ditahan, sehingga gerakan buruh besar seperti SOBSI tidak lagi muncul dengan skala yang sama.

Sebelum pembubaran tersebut, tekanan dari SOBSI dan kelompok buruh lainnya telah mendorong pemerintah mengeluarkan kebijakan awal terkait THR pada 1954.

Pertama, melalui Surat Edaran No. 3676/54 yang diterbitkan Menteri Perburuhan S.M. Abidin, perusahaan dianjurkan memberikan “Hadiah Lebaran” kepada buruh dengan nominal sekitar Rp50 hingga Rp300.

Kedua, pemerintah juga menerbitkan PP No. 27 Tahun 1954 yang memberikan fasilitas “Persekot Hari Raja” bagi pegawai negeri sipil (PNS), berupa pinjaman untuk kebutuhan Lebaran yang kemudian dikembalikan melalui pemotongan gaji.

Namun, kebijakan awal tersebut belum memiliki kekuatan hukum yang kuat sehingga tidak semua perusahaan mematuhinya. Barulah pada 1961 pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Perburuhan No. 1 Tahun 1961 yang mewajibkan perusahaan memberikan THR kepada pekerja.

Dalam aturan tersebut, pekerja yang telah bekerja minimal tiga bulan berhak menerima THR sebesar satu kali gaji. Sejak saat itu, THR menjadi hak pekerja yang terus dipertahankan hingga sekarang.

Berkat perjuangan panjang kaum buruh di masa lalu, tradisi pemberian THR kini menjadi bagian penting dalam kehidupan pekerja di Indonesia, khususnya dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.