Beranda blog Halaman 324

Kembali Raih Penghargaan Nasional, Kepala ARC USK Diapresiasi Kemenperin atas Inovasi Atsiri Nilam

0
Kepala ARC USK Diapresiasi Kemenperin atas Inovasi Atsiri Nilam. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala ARC-PUIPT Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala, Syaifullah Muhammad, kembali menorehkan prestasi nasional. Kali ini, ia menerima penghargaan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia atas kontribusinya dalam pengembangan inovasi minyak atsiri Indonesia, khususnya nilam.

Penghargaan ini diberikan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Aromatika Indofest 2025 bertema “Aroma Nusantara, Wangi Alami Karya Anak Negeri”, yang diselenggarakan oleh Kemenperin. Setelah melalui proses evaluasi oleh tim Kemenperin, Syaifullah dinilai layak menerima penghargaan dalam kategori Inovasi Sosial, Lingkungan, dan Bisnis.

Syaifullah diusulkan sebagai penerima penghargaan oleh Asosiasi Peneliti Atsiri Indonesia (APAI) bersama sejumlah peneliti lainnya di Tanah Air.

Selama lebih dari satu dekade, Syaifullah bersama tim ARC Universitas Syiah Kuala (USK) aktif mengembangkan industri nilam dari hulu ke hilir. Mulai dari pendampingan petani, transfer teknologi, pengembangan pasar, hingga menciptakan berbagai produk turunan nilam yang kini telah dipasarkan secara komersial.

Piagam penghargaan diserahkan langsung oleh Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Krisna Septiningrum, pada Jumat, 15 Juli 2025, di Kantor Kemenperin, Jakarta. Dalam penyerahan tersebut, turut hadir sejumlah staf Kemenperin serta dua perwakilan dari ARC, yakni Suraiya Kamaruzzaman dan Adinda Gusti Vonna.

“Kami sangat mengapresiasi ARC atas kontribusi dalam inovasi industri nilam di Indonesia. Kami ingin belajar dari ARC dan mereplika keberhasilan ARC di Aceh untuk diterapkan pada propinsi lain di Indonesia,” ujar Krisna.

“Saya minta staf untuk menjalin komunikasi intensif dengan ARC USK agar bisa segera bench marking dari berbagai inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan di Aceh oleh Universitas Syiah Kuala,” lanjutnya.

Krisna juga menekankan pentingnya meniru kelembagaan bisnis dan praktik terbaik yang telah dilakukan ARC dalam komersialisasi produk atsiri nilam di pasar nasional maupun internasional.

“Kelembagaan bisnis dan berbagai best practice dalam komersialisasi produk atsiri nilam baik di pasar nasional dan internasional harus bisa dipelajari, direplika dan dikembangkan untuk berbagai komoditas lainnya,” pungkas Krisna.

Menanggapi penghargaan tersebut, Syaifullah menyampaikan rasa syukurnya dan mendedikasikan pencapaian ini kepada seluruh tim ARC.

“Saya bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa atas berbagai anugrah dan penghargaan bagi ARC. Ini bukti bahwa kerja kita sudah pada jalur yang tepat dalam membantu rakyat,” jelas Syaifullah.

“Penghargaan ini kembali didedikasikan kepada tim ARC yang tiada lelah berpikir, meneliti dan bekerja untuk kemajuan industri nilam masyarakat,” lanjutnya.

“Terima kasih utk kawan-kawan ARC dan Pimpinan USK terutama Rektor dan jajarannya atas dukungan terhadap kerja-kerja inovatif di ARC,” sambungnya.

“Untuk seluruh tim ARC, teruslah berbuat baik untuk kepentingan orang banyak. Meski hambatan dan tantangan tiada henti datang, tapi kebaikan akan menemukan jalannya dan tidak akan bisa dibendung,” tutup Syaifullah.

Sebelumnya, ARC USK telah mengantongi berbagai penghargaan bergengsi baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Terakhir, pada 2024, Syaifullah dan ARC memperoleh Global Innovation Awards dari GIMI Institute yang diserahkan di Barcelona, Spanyol, serta menerima Indonesia Inovator Lecture Awards dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Editor: Akil

WALHI Desak Tindak Aktivitas Tambang Galian C Ilegal di Lueng Bata

0
aktivitas tambang Galian C ilegal yang diduga berlangsung secara terbuka di Gampong Lueng Bata, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh. (Foto: Dok Walhi Aceh)

Nukilan | Banda Aceh – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh mendesak aparat penegak hukum menindak aktivitas tambang Galian C ilegal yang diduga berlangsung secara terbuka di Gampong Lueng Bata, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh.

Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Ahmad Shalihin menyebut aktivitas tambang tersebut tidak memiliki izin resmi dan dilakukan di kawasan sempadan sungai tanpa kajian lingkungan.

“Ini bukan sekadar pelanggaran izin atau administrasi, tetapi kejahatan lingkungan,” ujar Shalihin dalam keterangannya kepada Nukilan, Jumat (25/7/2025).

WALHI merujuk pada laporan sejumlah media yang sebelumnya mengungkap aktivitas penambangan ilegal di lokasi tersebut. Laporan tersebut menyebutkan bahwa meskipun tidak mengantongi izin, penambangan tetap berlangsung. Bahkan, menurut WALHI, Camat Lueng Bata telah mengirimkan surat penghentian operasional kepada pihak pemilik tambang.

WALHI juga menerima salinan surat penghentian tersebut dan meminta agar kasus ini segera diusut, termasuk dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum.

“Informasi yang kami peroleh menyebutkan adanya dugaan keterlibatan oknum polisi. Karena itu, kami mendesak Kepolisian Daerah Aceh segera melakukan penyelidikan,” kata Shalihin.

WALHI menilai aktivitas tambang di kawasan padat penduduk berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Di antaranya kerusakan struktur tanah, gangguan sistem drainase, risiko banjir dan longsor, hingga polusi debu dan kebisingan yang berpotensi mengganggu kesehatan warga sekitar.

Menurut WALHI, pembiaran terhadap aktivitas tambang ilegal tersebut mencerminkan lemahnya penegakan hukum serta kegagalan negara dalam melindungi ruang hidup masyarakat.

Organisasi lingkungan itu juga meminta Wali Kota Banda Aceh dan instansi terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, untuk segera turun tangan. WALHI mendesak dilakukan audit lingkungan terhadap lokasi tambang dan penertiban aktivitas ilegal.

Selain itu, WALHI menekankan bahwa wilayah perkotaan, khususnya ibu kota provinsi, tidak seharusnya menjadi lokasi praktik eksploitasi sumber daya alam yang melanggar hukum.

“Semua pihak harus bertindak. Pemerintah daerah, kepolisian, dan lembaga terkait diminta untuk tidak menutup mata terhadap persoalan ini,” kata Shalihin. []

Reporter: Sammy

Gelar Latihan Perdana, Wajah Baru Hiasi Skuad Asuhan Akhyar Ilyas

0
Proses latihan perdana Persiraja. (Foto: Persiraja)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Persiraja Banda Aceh menggelar latihan perdana musim ini dengan nuansa berbeda. Sejumlah wajah baru terlihat menghiasi skuad asuhan Akhyar Ilyas, mulai dari pemain muda potensial hingga jebolan ajang olahraga bergengsi.

Amatan Nukilan.id, latihan yang berlangsung di Stadion H Dimurthala, Lampineung, Banda Aceh, Jumat (25/7/2025), dipadati ratusan pendukung setia. Mereka antusias menyaksikan aksi para pemain anyar tim berjuluk Lantak Laju tersebut.

Sejumlah pemain telah menandatangani kontrak, sementara beberapa lainnya masih menjalani masa trial. Di antara pemain yang mengikuti seleksi terdapat Raj Vereen, gelandang muda asal Sumatera Utara yang sebelumnya memperkuat Dewa United U-20.

Turut hadir rekan seprovinsinya, Ahmad Rifai atau yang akrab disapa Wanggai, serta dua alumni PON Aceh, Akhirul Wahdan dan Haikal Khalil Fatta.

Dua pemain asing, Connor Flyn dan Matheus Machado, juga tampak bergabung dalam latihan perdana tersebut, memperkuat indikasi pembenahan skuad secara menyeluruh.

Musim ini, Persiraja memang melakukan perubahan besar-besaran. Sebagian besar pemain musim lalu tidak lagi memperkuat tim. Ada yang memilih bergabung dengan klub lain, dan ada pula yang tidak mendapat perpanjangan kontrak dari manajemen.

Presiden Persiraja, Nazaruddin Dekgam, terlihat hadir langsung di lapangan untuk memantau proses latihan yang dipimpin oleh Akhyar Ilyas. (XRQ)

Reporter: Akil

Mahasiswa KKN USK Kampanyekan “Stop Bullying” di MIN 50 Bireuen

0
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Universitas Syiah Kuala (USK) yang bertugas di Gampong Mns Tgk Digadong, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, menggelar kampanye bertajuk “Stop Bullying” di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 50 Bireuen. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BIREUEN — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Universitas Syiah Kuala (USK) yang bertugas di Gampong Mns Tgk Digadong, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, menggelar kampanye bertajuk “Stop Bullying” di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 50 Bireuen, Kamis (25/7/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan penuh kasih sayang.

Kegiatan edukatif tersebut dipimpin langsung oleh dua koordinator kelompok, Yolanda Fitrah Vadisa dan Desi Marlina, bersama seluruh anggota KKN lainnya. Kedatangan mereka disambut hangat oleh ratusan siswa MIN 50 Bireuen yang tampak antusias mengikuti rangkaian acara.

Literasi Sosial di Tengah Anak-anak

Melalui pendekatan literasi sosial, para mahasiswa memberikan pemahaman tentang definisi, bentuk, dan dampak perundungan di lingkungan sekolah. Materi disampaikan secara interaktif, mulai dari ceramah singkat hingga permainan peran dan diskusi ringan. Pendekatan tersebut membuat anak-anak lebih mudah mencerna pentingnya saling menghargai dan menjaga sikap.

“Kami ingin mengajarkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang memahami emosi, menghargai perbedaan, dan mencegah kekerasan, terutama di lingkungan sekolah,” ujar Yolanda Fitrah Vadisa, selaku koordinator, dalam keterangnnya.

Kampanye ditutup dengan ajakan kepada para siswa untuk berkomitmen menolak segala bentuk bullying. Sebagai simbol, para siswa dan mahasiswa membentuk tangan menyerupai huruf “L” yang bermakna “Love” dan “Literasi”.

Dukungan dari Guru dan Pihak Sekolah

Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari Kepala MIN 50 Bireuen dan seluruh dewan guru. Mereka menilai, kampanye seperti ini sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini, tidak hanya dari sisi intelektual tetapi juga emosional.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran adik-adik mahasiswa dari USK. Anak-anak kami sangat antusias, dan ini menjadi pelajaran berharga bagi mereka untuk lebih memahami pentingnya empati dan toleransi,” ujar salah satu guru yang turut mendampingi acara.

Ucapan Terima Kasih dan Harapan Jangka Panjang

Ketua Kelompok KKN USK Gampong Mns Tgk Digadong, T. Ridwansyah, dalam keteranganya kepada Nukilan.id, menyampaikan apresiasi mendalam atas sambutan hangat yang diberikan pihak sekolah selama pelaksanaan program.

“Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kepala MIN 50 Bireuen, seluruh dewan guru, serta adik-adik siswa yang telah menyambut dan mendukung kami dengan luar biasa. Semoga kegiatan ini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga menjadi pemantik perubahan dalam perilaku sosial di lingkungan sekolah,” ungkapnya pada Jumat (25/7/2025).

Ucapan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan dari hubungan emosional yang telah terjalin antara para mahasiswa dan warga sekolah. Selama kegiatan berlangsung, pendekatan literasi yang digunakan berhasil membuka ruang diskusi yang sehat dan edukatif tentang pentingnya menghentikan segala bentuk perundungan di sekolah dasar.

Tak hanya berhenti pada kampanye dan penyuluhan, mahasiswa juga menekankan bahwa transformasi sosial harus dibangun melalui pendekatan yang menyentuh sisi kemanusiaan anak-anak, bukan sekadar transfer pengetahuan semata. Dalam hal ini, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepekaan sosial.

“Kami percaya, melalui pendekatan literasi yang menyentuh sisi emosional dan sosial, akan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki empati dan keberanian untuk menolak segala bentuk kekerasan,” tambahnya.

Mimpi Sekolah Bebas Bullying

Kampanye “Stop Bullying” menjadi bagian dari rangkaian program kerja mahasiswa KKN Tematik Literasi USK yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan dan literasi anak di Gampong Mns Tgk Digadong dan sekitarnya. Mereka berharap semangat literasi sosial ini terus bergulir, menjangkau lebih banyak sekolah dan anak-anak di seluruh Aceh. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Reporter: Akil

Populisme dan Jerat Politik di Balik Penetapan Tersangka Riza Chalid

0
Tersangka kasus korupsi minyak mentah dan produk kilang, Mohammad Riza Chalid. (Foto: CNBC)

NUKILAN.ID | OPINI – Penetapan Muhammad Riza Chalid sebagai tersangka dalam dugaan korupsi tata kelola minyak Pertamina tak ubahnya kejutan di tengah rutinitas penegakan hukum yang stagnan. Sebagai sosok yang dikenal malang melintang dalam bisnis minyak lintas rezim, Riza Chalid seperti memiliki kekebalan hukum.

Berkali-kali namanya muncul dalam kasus-kasus janggal impor minyak Pertamina, namun selalu lolos dari jeratan hukum. Kini, ketika Kejaksaan menetapkan dirinya bersama 17 orang lainnya sebagai tersangka, publik patut bertanya: mengapa sekarang?

Riza bukan pemain kemarin sore. Pengusaha yang dijuluki Godfather minyak Indonesia ini sudah tersandung berbagai perkara sejak lama. Pada 2008, perusahaannya memenangkan tender minyak pentah dengan cara yang melanggar prosedur.

Ia memasok minyak Zatapi untuk Petral—anak usaha Pertamina di Singapura—tanpa menyertakan sertifikat asal usul dan hasil uji laboratorium, yang seharusnya menjadi syarat utama tender. Meski polisi sempat menetapkan empat tersangka, kasus itu dihentikan dengan dalih tak ada kerugian negara.

Audit forensik Cordamenta asal Australia pada 2015 kembali menunjukkan nama Riza dalam transaksi mencurigakan Petral dari 2012 hingga 2014. Kebutuhan impor minyak dan bahan bakar Pertamina, termasuk spesifikasi dan harga perkiraan, bocor ke pihak luar. Bocoran itu menjadi senjata Riza untuk menjadi pemasok utama Pertamina, siapapun direktur utamanya. Sayangnya, aparat penegak hukum seakan tak pernah serius mengusutnya.

Satu-satunya cara bertahan dalam bisnis curang seperti itu adalah dengan menyandarkan diri pada kekuatan politik. Dan Riza paham betul akan hal ini. Di era Orde Baru, ia menjalin kedekatan dengan Bambang Triatmojo, anak ketiga Presiden Soeharto. Pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, ia merapat ke elite PDIP.

Saat SBY berkuasa, ia menyusup ke lingkaran Cikeas dan menjalin kedekatan dengan politikus PAN, Hatta Rajasa. Dalam rekaman pertemuan antara petinggi DPR dan Freeport, Riza mengaku menjadi bohir Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa di Pilpres 2014, bahkan ikut mendanai pembelian rumah Polonia sebagai markas pemenangan.

Namun Riza bukan tipe petaruh tunggal. Ia juga menjalin hubungan dengan kubu Joko Widodo, lawan Prabowo dalam dua pemilihan umum terakhir. Jaringan politik Riza yang luas membuat banyak pihak meragukan keberanian Kejaksaan menyentuhnya, kecuali jika ada kepentingan yang lebih besar bermain di belakang layar.

Di sinilah persoalan sesungguhnya mengemuka. Dalam banyak kasus besar, Kejaksaan kerap dijadikan alat kosmetik politik untuk menampilkan wajah negara yang seolah peduli pada penegakan hukum. Penetapan tersangka bukan murni urusan hukum, melainkan strategi populisme politik.

Pemerintahan Prabowo, bahkan sejak awal kampanye, kerap memainkan narasi populis. Penyerahan lahan sawit oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan kepada PT Agrenas Nusantara Palma—perusahaan pelat merah yang dikendalikan tentara—adalah contoh nyata populisme itu. Pemain lama digusur, karpet merah digelar bagi pemain baru: militer.

Begitu pula dengan kasus Riza Chalid. Jika benar langkah hukum ini dilatari penolakan Riza berbagi lapak bisnis dengan kelompok pengusaha tertentu, maka kita sedang menyaksikan pergantian pemain dengan baju populisme. Penegakan hukum yang seharusnya menjunjung keadilan justru menjadi alat distribusi kekuasaan dalam bisnis energi. Dari buaya ke harimau.

Populisme dalam penegakan hukum bukan hanya menyesatkan, tapi juga berbahaya. Ia menciptakan ilusi perubahan sembari mempertahankan akar busuk tata kelola. Jika pergantian pemain menjadi tujuan utama, maka perbaikan sistem takkan pernah terjadi. Kerugian negara senilai Rp285 triliun akibat manipulasi pengadaan minyak bukan sekadar angka; itu adalah nyawa dari hulu ke hilir yang dikorbankan demi kerakusan segelintir elite.

Kasus Riza Chalid adalah cermin telanjang dari wajah industri minyak Indonesia: korup, tertutup, dan dikendalikan oleh tangan-tangan tak kasatmata. Menyasar satu dua pemain hanya akan mengubah wajah penjarah, bukan menghentikan penjarahan. Ibarat lepas dari mulut buaya, masuk ke cangkeman harimau.

Jika Kejaksaan ingin membuktikan bahwa penindakan ini bukan sekadar pertunjukan politik, maka harus ada jaminan transparansi, pembongkaran seluruh jaringan mafia minyak, serta reformasi total tata kelola impor energi. Tanpa itu, populisme hukum hanya akan menyingkirkan satu Riza untuk memberi tempat pada Riza yang lain. (XRQ)

Penulis: Akil

Dukung Astacita Presiden Prabowo, ASPRINDO dan Kemendes Teken MoU

0
Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) memantapkan Program Kampung Industri sebagai program unggulan untuk mempercepat peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan perdesaan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) memantapkan Program Kampung Industri sebagai program unggulan untuk mempercepat peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan perdesaan. Inisiatif ini sejalan dengan Astacita Keenam yang menjadi arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Ketua Umum ASPRINDO, Jose Rizal, mengatakan bahwa program Kampung Industri dirancang sebagai kerja kolaboratif antara pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan masyarakat desa.

“Kampung Industri akan menjadi kerja kolaborasi antara pengusaha Asprindo, pemerintah, masyarakat akademik dan masyarakat desa. Karena meskipun digagas dan diinisiasi oleh Asprindo, tanpa melibatkan pemerintah dan masyarakat, program ini tidak bisa berjalan,” kata Jose seusai penandatanganan nota kesepahaman dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDTT), Rabu (23/7/2025).

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara ASPRINDO dan Kemendes menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan ekosistem Kampung Industri dan digitalisasi ekonomi desa, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan di desa dan wilayah tertinggal.

Kerja sama ini meliputi berbagai aspek, mulai dari pertukaran data dan informasi, pemberdayaan masyarakat desa, penguatan kelembagaan ekonomi lokal, hingga peningkatan kapasitas teknologi ekonomi digital di tingkat desa.

Perluasan Kerja Sama dengan Berbagai Kementerian

Jose menjelaskan bahwa MoU ini merupakan kerja sama kedua ASPRINDO dengan kementerian terkait Kampung Industri. Sebelumnya, ASPRINDO telah menjalin kerja sama serupa dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Kebetulan pilot project Kampung Industri Asprindo di bidang perikanan. Jadi kami membutuhkan sinergi dengan KKP. Kami bekerja sama dengan KKP dalam hal penguatan masyarakat pelaku usaha kelautan dan perikanan dalam rangka mendukung implementasi ekonomi biru. Ke depan, jika Kampung Industri di bidang pertanian/peternakan mulai berjalan, kami berharap bisa bersinergi juga dengan Kementrian Pertanian,” ujar Jose.

ASPRINDO juga berharap agar program ini mendapat perhatian dan dukungan langsung dari Presiden Prabowo.

“Kami mengikhtiarkan setiap DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Asprindo di seluruh Indonesia membangun dan membina satu Kampung Industri, baik di bidang perikanan, pertanian/peternakan, maupun pariwisata,” katanya.

Konsep Kampung Industri: Ekosistem Usaha Terintegrasi

Kampung Industri versi ASPRINDO diartikan sebagai kawasan yang memiliki ekosistem usaha lengkap, mulai dari produksi hingga distribusi. Masyarakat lokal dilibatkan sebagai pelaku usaha mikro, sementara pengusaha ASPRINDO bertindak sebagai pengelola industri inti. Semua proses dijalankan secara terintegrasi dan berkeadilan.

Program percontohan Kampung Industri saat ini tengah dikembangkan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dengan fokus pada sektor perikanan. Delapan desa di wilayah tersebut dilibatkan, bersama pemerintah daerah dan koperasi setempat.

Dalam upaya peningkatan kapasitas, ASPRINDO menggandeng UNIDO melalui program Global Quality and Standard Programme (GQSP) untuk mendorong produktivitas komoditas perikanan.

Tak hanya itu, kerja sama dengan kalangan akademik juga dijalin. ASPRINDO telah bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin Makassar, serta melibatkan sejumlah ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyatakan kesediaan mendukung program ini.

Jose juga membuka peluang keterlibatan investor.

“Terakhir, tentu saja kami juga membuka peluang bagi investor masuk dalam program Kampung Industri, terutama jika kelompok pengusaha Asprindo di kawasan tersebut tidak cukup memiliki sumber permodalan yang memadai,” pungkasnya.

Editor: AKil

Anggota DPRK Pidie Kecam Pelaporan Mahasiswa Unigha ke Polisi

0
Ketua Fraksi Gerindra Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie, Muhammad Khairil Umam. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | SIGLI – Ketua Fraksi Gerindra Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie, Muhammad Khairil Umam, menyayangkan langkah Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli yang melaporkan dua mahasiswanya ke pihak kepolisian tanpa terlebih dahulu menempuh penyelesaian secara internal.

Kedua mahasiswa yang dilaporkan adalah Muhammad Pria Al Ghadzi (Tuma) sebagai koordinator aksi dan Mirzatul Akmal sebagai peserta. Keduanya disebut hanya menyampaikan kritik terhadap tata kelola kampus.

Khairil Umam menilai, pelaporan tersebut bertentangan dengan semangat Kampus Merdeka yang menjunjung tinggi kebebasan akademik dan ruang aman dalam menyampaikan pendapat.

“Kekerasan tentu tidak dapat dibenarkan, namun menyampaikan kritik adalah bagian dari hak mahasiswa yang harus dilindungi. Langkah hukum ini saya nilai berlebihan dan justru berpotensi memicu gerakan solidaritas yang lebih luas,” tegasnya.

Dorongan Penyelesaian Humanis

Khairil mendorong agar kasus ini diselesaikan melalui jalur mediasi internal, sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi.

Ia menekankan pentingnya pendekatan yang dialogis, melibatkan berbagai unsur kampus, termasuk dosen, pakar, dan alumni. Pendekatan ini dinilai lebih sehat dan demokratis dalam merespons dinamika yang terjadi di lingkungan akademik.

“Kampus harus menjadi ruang dialog, bukan ruang intimidasi. Kritik adalah bagian dari proses belajar. Jika mahasiswa takut bersuara, maka kita sedang membunuh demokrasi dari akarnya,” ujarnya.

Siap Fasilitasi Dialog

Sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan dunia pendidikan, Khairil menyatakan bahwa DPRK Pidie siap menjadi fasilitator dialog antara mahasiswa dan pihak kampus. Ia juga menyatakan kesiapannya untuk turut mendampingi proses mediasi agar berjalan adil dan transparan, serta tidak menimbulkan efek jera terhadap mahasiswa.

Di samping itu, ia mengajak seluruh pihak untuk memperkuat edukasi mengenai hak dan kewajiban mahasiswa, sehingga penyampaian aspirasi dapat berlangsung secara konstruktif dan sesuai prosedur.

“Demokrasi bermula dari kampus. Mari jaga nilai-nilai akademik dan jadikan kampus sebagai tempat tumbuhnya keberanian, bukan ketakutan,” tutup Khairil.

Editor: Akil

TP-PKK Aceh Meriahkan Parade Hari Kebaya Nasional ke-2 di Banda Aceh

0
Istri Wakil Gubernur Aceh, Ny. Mukarramah Fadhlullah, membuka peringatan Hari Kebaya Nasional II Tahun 2025, di Plenary Hall Universitas Ubudiyah, Banda Aceh, Kamis, (24/7/2025). (Foto: Humas Pemerintah Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Ketua Staf Ahli TP-PKK Aceh, Ny. Mukarramah Fadhlullah, menghadiri Parade Hari Kebaya Nasional ke-2 yang digelar di Plenary Hall Universitas Ubudiyah, Banda Aceh, Kamis (24/7/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Kebaya Nasional yang ditetapkan setiap tanggal 24 Juli melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023.

Parade yang mengusung tema “Kebaya Warisan Budaya, Langkah Maju Perempuan Indonesia” ini dibuka secara resmi dengan penabuhan rapa’i oleh Ny. Mukarramah Fadhlullah sebagai tanda dimulainya acara.

Dalam sambutannya, Mukarramah menekankan pentingnya kebaya sebagai simbol budaya dan identitas perempuan Indonesia. Mengenakan setelan kebaya bermotif khas Aceh, ia mengajak semua pihak untuk tidak menjadikan kebaya sekadar busana seremoni.

“Kebaya adalah bagian dari kearifan lokal yang harus kita jaga dan kita lestarikan supaya aset budaya ini bisa diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Mukarramah juga menyampaikan bahwa kebaya tidak hanya mencerminkan keanggunan, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai luhur yang melekat pada perempuan Indonesia.

Selain TP-PKK Aceh, acara turut dihadiri oleh perwakilan dari organisasi Perempuan Indonesia Maju (PIM), Kongres Wanita Indonesia (Kowani), dan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) dari berbagai SKPA.

Kemeriahan kegiatan tidak hanya terlihat dari parade kebaya, tetapi juga melalui rangkaian acara lain seperti bazar UMKM lokal, peragaan busana, hingga lomba lagu tembang kenangan yang ikut menyemarakkan suasana.

Editor: AKil

Kemenag Terima Hibah Lahan dari Pemkab Aceh Tengah untuk Pembangunan KUA Lut Tawar

0
Kemenag Terima Hibah Lahan dari Pemkab Aceh Tengah untuk Pembangunan KUA Lut Tawar. (Foto: Kemenag RI)

NUKILAN.ID | JAKARTA Kementerian Agama (Kemenag) resmi menerima hibah lahan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk pembangunan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lut Tawar. Penyerahan hibah dilakukan oleh Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, kepada Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Cecep Khairul Anwar, di Jakarta, Rabu (23/7/2025).

Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Cecep Khairul Anwar, menyampaikan bahwa penyediaan infrastruktur yang memadai akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas layanan di KUA.

“Sarana dan prasarana yang layak adalah salah satu prasyarat penting dalam menghadirkan layanan yang prima dan profesional,” ujarnya, Kamis (24/7/2025).

Cecep menjelaskan, lahan hibah tersebut akan segera ditindaklanjuti dengan perencanaan pembangunan gedung KUA Lut Tawar melalui skema pembiayaan dari Kementerian Agama. Ia berharap proses pembangunan dapat segera dimulai setelah seluruh kelengkapan administrasi rampung.

“Ini bagian dari upaya kami dalam mendekatkan layanan kepada masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Cecep menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang telah menyerahkan hibah tersebut. Ia menilai langkah ini merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

“Ini menunjukkan semangat kolaborasi yang kuat antara pusat dan daerah dalam mewujudkan pelayanan KUA yang lebih optimal,” jelasnya.

Menurutnya, perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah terhadap pembangunan bidang agama tergolong tinggi. Ia pun menegaskan pentingnya membangun ketangguhan keluarga sebagai fondasi utama bagi kemajuan daerah.

“Jika ketangguhan keluarga dibangun, maka cita-cita kabupaten unggul dan maju dapat terwujud,” ungkap Cecep.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan bahwa hibah lahan ini merupakan bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan pelayanan keagamaan di masyarakat. Menurutnya, keberadaan KUA yang representatif menjadi kebutuhan mendesak.

“Kami berharap kehadiran KUA yang representatif dapat memberi dampak positif bagi masyarakat,” pungkas Haili.

Editor: AKil

Haji Uma Fasilitasi Pemulangan 12 TKI Asal Aceh dari Batam

0
Sebanyak 12 TKI asal Aceh difasilitasi pemulangannya oleh Haji Uma dari Batam menuju Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara, dan selanjutnya ke kampung halaman masing-masing di berbagai daerah di Provinsi Aceh. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, memfasilitasi pemulangan 12 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Aceh yang sebelumnya dideportasi dari Johor, Malaysia. Para TKI tersebut diberangkatkan dari Batam menuju Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke kampung halaman masing-masing di Provinsi Aceh.

Pemulangan ini merupakan bagian dari gelombang deportasi sebanyak 232 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Johor yang tiba di Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Batam. Dari jumlah tersebut, 12 orang diketahui berasal dari Aceh.

Haji Uma turun langsung ke Batam untuk menjenguk para TKI di shelter P4MI Batam. Ia meninjau kondisi mereka secara langsung serta memastikan proses pemulangan berlangsung aman, lancar, dan manusiawi.

“Saya bersyukur hari ini saudara-saudara kita dari Aceh bisa kembali ke tanah air dan akan segera berkumpul dengan keluarga. Ini adalah bagian dari ikhtiar kemanusiaan yang bisa saya lakukan,” kata Haji Uma saat memberikan keterangan di Bandara Hang Nadim, Batam.

Dari 15 TKI Aceh yang berada di Batam, 12 di antaranya difasilitasi oleh Haji Uma hingga ke Kuala Namu. Biaya kepulangan itu ditanggung bersama oleh Haji Uma dan pihak keluarga. Sementara tiga orang lainnya memilih pulang secara mandiri.

Pemulangan dari Kuala Namu ke berbagai daerah di Aceh turut dibantu oleh BP3MI Aceh. “Kolaborasi dan kerja sama ini kita lakukan sebagai wujud kepedulian terhadap Warga Aceh di perantauan,” ujar Haji Uma.

Dalam kesempatan itu, Haji Uma juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu kelancaran proses pemulangan, seperti Konsulat Jenderal RI (KJRI) Johor Bahru, Kepala P4MI Batam Wahyu Probo Asmoro, Kepala BP2MI Aceh Siti, serta Kepala Kantor DPD RI Perwakilan Batam.

Ia turut berpesan agar warga Aceh yang ingin bekerja di luar negeri dapat menempuh jalur resmi melalui lembaga penyalur tenaga kerja yang diakui pemerintah. Hal ini dinilainya penting untuk menghindari persoalan hukum dan perlakuan tidak manusiawi di luar negeri.

“Semoga ini menjadi pengalaman pertama dan terakhir. Jika ingin bekerja ke luar negeri, tempuhlah jalur yang benar dan sesuai aturan agar tidak ada lagi kejadian yang merugikan seperti ini,” tegasnya.

Aksi kemanusiaan ini mempertegas komitmen Haji Uma dalam membela dan melindungi hak-hak masyarakat Aceh, khususnya para pekerja migran yang kerap berada dalam kondisi rentan. Ia berharap, momentum kepulangan ini dapat menjadi awal baru bagi para TKI untuk membangun kehidupan yang lebih baik di tanah kelahiran mereka.

Editor: AKil