Beranda blog Halaman 316

Rajut Kebersamaan di Perantauan, Komunitas Rajolelo Peusijuek Mahasiswa Baru Gampong Sapik

0
Ketua Pembina Komunitas Rajolelo, Kusnadi, S.Ag., M.A., melakukan prosesi peusijuek kepada mahasiswa baru tahun ajaran 2025–2026 di Pantai Riting Stable, Leupung, Aceh Besar, Minggu (26/10/2025). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | BANDA ACEH – Dalam semangat merajut persaudaraan sesama perantau, masyarakat Gampong Sapik, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, yang tergabung dalam Komunitas Rajolelo, menggelar kegiatan silaturahmi sekaligus prosesi peusijuek bagi mahasiswa baru tahun ajaran 2025–2026. Acara berlangsung di Pantai Riting Stable, Leupung, Aceh Besar, pada Minggu (26/10/2025).

Kegiatan yang digagas oleh para mahasiswa dan tokoh masyarakat tersebut turut dihadiri oleh Kusnadi, S.Ag., M.A., selaku Ketua Pembina Komunitas Rajolelo. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga akhlak dan etika di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital yang kian bebas.

“Generasi muda harus menjaga tutur kata yang sopan, berperilaku santun, dan berpakaian sesuai dengan syariat Islam. Kita boleh modern, tapi jangan kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman yang menjadi jati diri,” ungkap Kusnadi yang juga Kasubbag Tata Usaha Kemenag Kota Banda Aceh tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan silaturahmi seperti ini penting untuk menjaga kekompakan dan memperkuat tali persaudaraan antarwarga Gampong Sapik yang tinggal di perantauan.

“Melalui silaturahmi, hati menjadi tenang, rezeki dilapangkan, dan umur diberkahi. Inilah cara kita menjaga hubungan antarsesama, terutama antara mahasiswa baru dengan para orang tua dan tokoh masyarakat Gampong Sapik di Banda Aceh,” tambahnya.

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan prosesi peusijuek mahasiswa baru sebagai simbol doa dan restu agar mereka diberi keselamatan, kemudahan rezeki, serta kesuksesan dalam menempuh pendidikan. Prosesi ini juga menjadi penanda bahwa mereka resmi menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Gampong Sapik di Banda Aceh.

Ketua panitia, Arifandi, menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan komunitas. Tahun 2025 menjadi tahun keempat pelaksanaan acara yang selalu diisi dengan suasana keakraban dan kebersamaan.

“Silaturahmi ini menjadi momen penting untuk berkumpul dan saling merangkul seluruh lapisan masyarakat Gampong Sapik yang berada di Banda Aceh dan Aceh Besar,” ujarnya kepada Nukilan.id.

Sementara itu, Ketua Umum Komunitas Rajolelo, Khairul Umadi, berharap kegiatan tersebut menjadi ajang mempererat rasa kekeluargaan di perantauan.

“Kami ingin acara ini menjadi tempat duduk bersama, berbagi cerita dan semangat, seperti istilah Kluet ‘serung, pulung tandok sehamparan’. Harapannya, kebersamaan ini terus terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.

Selain peusijuek, acara turut diisi dengan sharing session mengenai dunia perkuliahan yang dibawakan oleh Kusnadi. Ia berbagi pengalaman serta memberikan motivasi kepada mahasiswa baru agar mampu beradaptasi, menjaga disiplin, dan menyeimbangkan antara ilmu dunia dan ilmu agama.

Keluarga besar masyarakat Gampong Sapik, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, yang tergabung dalam Komunitas Rajolelo. (Foto: For Nukilan)

Rangkaian kegiatan ditutup dengan makan bersama dan berbagai permainan tradisional yang melibatkan seluruh peserta. Suasana hangat dan penuh keakraban menjadi penanda bahwa semangat kekeluargaan Gampong Sapik tetap hidup, meski jauh dari kampung halaman.

Melalui acara ini, diharapkan mahasiswa baru tidak hanya mendapat dukungan moral dari komunitas, tetapi juga merasa memiliki keluarga besar yang siap mendampingi mereka dalam perjalanan menuntut ilmu di perantauan. (XRQ)

Reporter: Akil

Rekor Manis Persiraja di Medan Terhenti Usai Takluk dari PSMS 0–1

0
Persiraja Takluk dari PSMS 0–1. (Foto: Humas Persiraja)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tren positif Persiraja Banda Aceh di markas PSMS Medan akhirnya terhenti. Skuad Lantak Laju harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor tipis 0–1 dalam lanjutan pekan ke-7 Liga Pegadaian Championship 2025/2026 di Stadion Utama Sumatera Utara, Sabtu malam (25/10/2025).

Amatan Nukilan.id, gol tunggal Rifal Lastori pada menit ke-14 menjadi pembeda dalam laga sengit tersebut. Tertinggal lebih dulu, Persiraja justru tampil dominan sepanjang pertandingan, terutama di babak kedua. Serangan demi serangan dibangun dari berbagai sisi, namun penyelesaian akhir masih menjadi pekerjaan rumah.

Trio lini depan Miftahul Hamdi, Connor Flynn, dan Anthony Putro beberapa kali mengancam gawang PSMS, tetapi tak satu pun peluang berbuah gol. Di lini tengah, duet Fitra Ridwan dan Matheus Machado juga berupaya keras membongkar pertahanan rapat Ayam Kinantan yang tampil disiplin sejak awal laga.

Situasi sempat menguntungkan Persiraja ketika PSMS harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Ichlasus Qadri menerima kartu merah pada menit ke-56. Namun, meski unggul jumlah pemain, Lantak Laju tetap kesulitan menembus barisan belakang PSMS hingga peluit panjang dibunyikan.

Skor 1–0 bertahan hingga laga usai. Hasil ini menandai berakhirnya catatan apik Persiraja yang dalam tiga musim terakhir selalu berhasil membawa pulang poin dari Medan.

Meski gagal melanjutkan tren positif, permainan agresif dan determinasi tinggi yang ditunjukkan skuad asuhan Ridwan Nasution menjadi modal penting bagi Persiraja untuk bangkit di laga berikutnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Pelajar Banda Aceh Tanam 1.000 Mangrove di Lampulo, Wujud Nyata Generasi Hijau Hadapi Krisis Iklim

0
Pelajar mengangkat bibit mangrove untuk ditanam di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh, Sabtu (25/10/2025). (Foto: ANTARA/M Haris SA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Puluhan pelajar dari berbagai sekolah di Banda Aceh ikut menanam 1.000 bibit mangrove di kawasan Mangrove Park Lampulo, Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera Kutaraja, Sabtu (25/10/2025). Kegiatan ini menjadi langkah nyata generasi muda Aceh dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Penanaman mangrove tersebut digelar oleh SMA Muhammadiyah 1 Banda Aceh bekerja sama dengan lembaga lingkungan Natural Aceh dan beberapa komunitas lokal lainnya.

Wakil Kepala SMA Muhammadiyah 1 Banda Aceh, Zulhilmi, kepada Nukilan.id mengatakan kegiatan ini menjadi media edukasi bagi pelajar agar memahami pentingnya menjaga alam, khususnya ekosistem pesisir.

“Dalam penanaman mangrove, pelajar diajarkan mendukung konservasi dengan harapan mereka menjadi generasi hijau yang peduli terhadap lingkungan hidup,” kata Zulhilmi.

Menurutnya, melalui kegiatan tersebut, para pelajar juga dapat mengetahui fungsi penting hutan mangrove dalam mencegah abrasi pantai dan menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain itu, penanaman ini menjadi bentuk nyata kontribusi pelajar dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim yang semakin terasa.

“Dari kegiatan ini, mereka belajar bagaimana semangat pemuda kekinian dalam pembangunan serta apa yang bisa mereka berikan kepada bangsa dan negara nantinya,” ujarnya.

Zulhilmi menambahkan, aksi tanam mangrove ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang diharapkan dapat menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian lingkungan di kalangan generasi muda.

Sementara itu, Koordinator Natural Aceh, Putri Kusumawadinullah, menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan nasional penanaman mangrove serentak di seluruh Indonesia.

“Penanaman ini dilakukan serentak di Indonesia dan di Aceh di Mangrove Park Lampulo. Kami melibatkan pelajar dalam penanaman mangrove ini sebagai upaya melahirkan generasi muda peduli lingkungan,” ujar Putri.

Sebagai salah satu kawasan konservasi pesisir, Mangrove Park Lampulo kini telah memiliki sekitar 100 ribu batang mangrove yang tumbuh di atas lahan seluas 11 hektare. Kawasan ini terus dikembangkan menjadi pusat edukasi lingkungan dan wisata hijau di Banda Aceh.

Kegiatan penanaman mangrove oleh pelajar ini menjadi bukti bahwa semangat menjaga bumi dapat dimulai dari langkah kecil—sebatang mangrove yang tumbuh, menandai harapan baru bagi masa depan hijau Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Wali Kota Illiza Perkuat Diplomasi Kota Banda Aceh di Forum CityNet Asia Pasifik ke-45 di Bali

0
Wali Kota Illiza Perkuat Diplomasi Kota Banda Aceh di Forum CityNet Asia Pasifik ke-45 di Bali. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | DENPASAR — Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menghadiri hari pertama 45th Executive Committee (ExCom) Meeting CityNet Asia Pacific yang digelar di Bali Beach Convention Center, Denpasar, Minggu (26/10/2025).

Forum tingkat Asia Pasifik ini mempertemukan para pemimpin kota dari berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi dan berbagi pengalaman dalam mewujudkan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan, inklusif, dan tangguh.

Sebagai anggota aktif CityNet, Pemerintah Kota Banda Aceh berpartisipasi dalam forum ini guna memperluas jejaring kerja sama global serta memperkuat kapasitas tata kelola kota.

Pada sesi hari pertama, para kepala daerah dan perwakilan anggota CityNet membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari laporan perkembangan program, arah kebijakan organisasi, hingga rencana kerja sama lintas kota di kawasan Asia Pasifik.

Selain itu, forum juga menyoroti isu-isu utama yang menjadi tantangan bersama, seperti pengelolaan sampah, mitigasi bencana, inovasi lingkungan, dan penguatan kapasitas pemerintahan daerah.

Illiza hadir bersama sejumlah pemimpin kota dari Korea Selatan, Filipina, Malaysia, Bangladesh, dan Jepang. Dalam keterangan yang diterima Nukilan.id, ia menegaskan komitmen Banda Aceh untuk terus mengambil peran aktif dalam jejaring kerja sama internasional demi terwujudnya kota yang berdaya saing dan berkelanjutan.

“Kehadiran kita di forum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi kota dan memperluas kolaborasi global. Banda Aceh terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi bersama kota-kota lain di Asia Pasifik,” ujar Illiza.

Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan Welcoming Dinner, yang menjadi ajang silaturahmi dan pertukaran pengalaman antaranggota CityNet.

Sementara itu, pada hari kedua, Wali Kota Illiza dijadwalkan menghadiri Asia Pacific Zero Waste International Seminar serta menerima penghargaan dalam ajang 4th SDG City Awards 2025 atas inovasi “Women in Waste Management: The WCP System.” (XRQ)

Reporter: Akil

Harga Semen Andalas di Aceh Lebih Mahal daripada Sumut, Komisi VII DPR RI Minta PT SBA dan Pemerintah Tertibkan Distribusi

0
Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Komisi VII DPR RI menyoroti perbedaan harga semen yang dinilai tidak wajar antara Aceh dan Sumatera Utara. Padahal, pabrik produsen semen tersebut, PT Solusi Bangun Andalas (SBA), beroperasi langsung di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, mengungkapkan keheranannya usai melakukan kunjungan kerja (reses) masa persidangan I tahun 2025–2026 ke PT SBA pada Jum’at (24/10/2025).

“Semen yang dikirim ke Medan dan kembali lagi ke Aceh justru lebih murah harganya. Ini sangat tidak masuk akal. Kenapa bisa lebih murah di luar daerah?” ujar Saleh dalam pertemuan dengan manajemen PT SBA.

Menurut Saleh, kondisi tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam kontrol pasar dan distribusi semen oleh pihak perusahaan. Karena itu, Komisi VII mendesak agar induk perusahaan PT SBA segera menertibkan tata distribusi dan melakukan pengawasan harga secara transparan.

Selain soal harga, Komisi VII juga menyoroti sejumlah persoalan lain, seperti belum maksimalnya penggunaan mesin produksi, perlunya penertiban penggerukan klinker di pelabuhan, serta peningkatan kontribusi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi masyarakat sekitar.

“Kami minta Kementerian Perindustrian menindaklanjuti temuan lapangan ini. Persoalan harga hingga efisiensi produksi harus diperbaiki agar industri semen di Aceh bisa bersaing,” tegas Saleh.

Bupati Aceh Besar Soroti Kapasitas Produksi

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Aceh Besar Muharram Idris atau akrab disapa Syech Muharram, menegaskan bahwa daerahnya memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah sebagai bahan baku utama semen, seperti batu kapur, pozzolan, dan pasir besi.

“Aceh Besar ini sangat kaya. Kita punya semua bahan bakunya, tapi pabrik semen di sini masih kecil. Di daerah lain seperti Padang, pabriknya besar dan produksinya tinggi. Kami juga ingin maju seperti provinsi lain,” ujar Syech Muharram.

Ia berharap PT SBA dapat memperluas kapasitas produksi agar kontribusinya terhadap pembangunan daerah semakin besar. Selain itu, Bupati juga menekankan pentingnya komitmen perusahaan terhadap perjanjian awal dengan masyarakat sejak pabrik semen berdiri di Lhoknga pada era 1980-an.

Syech Muharram turut menyoroti pelaksanaan CSR yang menurutnya perlu disalurkan langsung ke desa-desa tanpa bergantung pada proposal.

“Kalau menunggu proposal, ada desa yang aktif dan ada yang tidak. Akibatnya pembagian tidak merata. CSR itu harus dirasakan adil oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.

Kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ini diharapkan menjadi momentum pembenahan industri semen di Aceh. Pemerintah daerah berharap keberadaan perusahaan besar seperti PT SBA membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

“Kami mendukung investasi dan industri, tapi harus seimbang dengan kesejahteraan masyarakat di sekitar pabrik,” pungkas Bupati Aceh Besar.

Polemik Utang Whoosh: Jerat Diplomasi China dalam Proyek Kereta Cepat

0
Kereta Cepat Whoosh. (Dok. KCIC)

NUKILAN.ID | INDEPTH – Ketidakterlibatan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam tim restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh menjadi sinyal kuat bahwa persoalan di balik proyek ambisius ini tak sederhana. Kompleksitas finansial dan politik yang menyelimuti Whoosh kini menimbulkan tanda tanya besar: ke mana arah masa depan proyek ini?

Kereta cepat Whoosh yang semula digembar-gemborkan sebagai simbol kemajuan transportasi Indonesia, kini justru berada dalam sorotan tajam. Di balik kebanggaan atas teknologi mutakhir dan efisiensi waktu tempuh antara Jakarta dan Bandung, tersimpan persoalan serius yang menyangkut posisi Indonesia dalam diplomasi ekonomi dengan China.

Proyek Whoosh merupakan bagian dari inisiatif besar Belt and Road Initiative (BRI) — agenda global yang dirancang Beijing untuk memperluas pengaruhnya melalui investasi infrastruktur lintas negara. Dengan pendanaan yang sebagian besar berasal dari China, proyek ini tak hanya berkutat pada rel dan kecepatan, melainkan juga beririsan dengan kepentingan geopolitik. Ketergantungan pada modal, teknologi, dan operator dari Negeri Tirai Bambu menempatkan Indonesia dalam situasi diplomatik yang rumit dan penuh perhitungan.

Pemerintah memang menegaskan bahwa kerja sama tersebut bersifat saling menguntungkan. Namun, di sisi lain, kekhawatiran publik muncul bahwa proyek seperti Whoosh bisa memperdalam ketergantungan finansial dan teknologi terhadap China. Dalam istilah hubungan internasional, fenomena ini dikenal sebagai debt-trap diplomacy — jebakan diplomasi utang yang berpotensi melemahkan posisi tawar negara penerima.

Keberlanjutan proyek Whoosh kini menjadi ujian penting bagi Indonesia: apakah mampu menjaga kemandirian ekonomi dan politiknya, atau justru semakin terjerat dalam pengaruh diplomasi ekonomi China?

Wakil Ketua Komisi I DPR menilai, proyek infrastruktur seperti Whoosh mencerminkan pergeseran arah diplomasi Indonesia — dari yang dulunya berfokus pada politik formal, kini menuju diplomasi ekonomi dan konektivitas. Keterlibatan negara mitra seperti China dalam proyek strategis tentu memiliki konsekuensi politik. Karena itu, Indonesia perlu tegas membedakan antara kerja sama yang setara dan ketergantungan yang merugikan. Selama prinsip kedaulatan, transparansi, dan kepentingan nasional tetap dijunjung, proyek seperti Whoosh dapat menjadi instrumen diplomasi yang memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

Indonesia di Tengah Persaingan Dua Kekuatan Ekonomi

Menyoroti dinamika persaingan dalam tahap awal tender proyek Whoosh, Dave menilai bahwa Indonesia kini berada di posisi yang strategis, yakni di antara dua kekuatan ekonomi besar dunia: China dan Jepang. Menurutnya, proses seleksi saat itu mencerminkan betapa pentingnya peran Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan akhir dalam proyek ini seharusnya dipandang sebagai bagian dari strategi nasional, bukan sekadar cerminan pilihan geopolitik. Bagi Dave, yang paling utama adalah bagaimana proyek Whoosh dikelola secara efisien, transparan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi rakyat.

Dikutip dari Inilah.com pada, Sabtu (25/10/2025), Dave mengakui bahwa proyek Whoosh kini menjadi representasi dari Belt and Road Initiative (BRI)—strategi pembangunan infrastruktur global yang digagas China sejak 2013 untuk menghubungkan berbagai negara di dunia melalui jalur darat (sabuk ekonomi Jalur Sutra) dan laut (Jalur Sutra Maritim).

“Secara teknis, iya, karena proyek ini berada dalam kerangka kerja sama lintas negara yang didorong oleh inisiatif tersebut,” kata Dave. Ia menambahkan, Indonesia harus memastikan agar simbolisme kerja sama ini tidak mengaburkan kepentingan nasional. Dengan kata lain, Indonesia harus tetap menjadi pemain utama dalam setiap proyek strategis, bukan sekadar penerima investasi asing.

Lebih jauh, Dave juga menyoroti pentingnya peran para pemangku kepentingan dalam negeri. Ia mengapresiasi langkah mereka dalam mempercepat pembangunan, namun mengingatkan bahwa dalam sistem demokrasi, setiap kebijakan publik wajib dijalankan dengan prinsip akuntabilitas dan pengawasan yang ketat. Menurutnya, keterlibatan BUMN maupun elite politik harus ditempatkan dalam konteks tata kelola yang baik, bukan dijadikan sarana untuk memperkuat kekuasaan.

Skema Pembayaran Jangan Korbankan Generasi Mendatang

Terkait kritik mengenai potensi “jebakan utang”, Dave menilai hal tersebut sebagai bagian wajar dari dinamika demokrasi yang sehat. Menurutnya, kritik seharusnya disikapi dengan terbuka, didengar, dan dijawab menggunakan data serta transparansi. Pemerintah, kata dia, tidak boleh menutup diri terhadap kritik, karena justru dari sanalah peluang untuk memperbaiki kebijakan dapat muncul. Ia menegaskan, yang paling penting adalah memastikan bahwa skema pembiayaan tidak membebani generasi mendatang dan tetap berjalan dalam prinsip keberlanjutan fiskal.

Selain itu, Dave juga menyinggung penggunaan proyek Whoosh dalam konteks politik, baik menjelang maupun saat masa transisi pemerintahan. Hal tersebut, menurutnya, sah-sah saja selama tidak menyesatkan publik atau dijadikan alat propaganda.

“Infrastruktur adalah warisan lintas pemerintahan, dan keberhasilannya harus menjadi milik bersama, bukan diklaim secara sepihak,” ujar politikus Partai Golkar tersebut.

Lebih lanjut, Dave menilai pandangan publik saat ini menunjukkan tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat terhadap arah pembangunan bangsa. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan keterhubungan global, ia melihat adanya semangat kolektif masyarakat yang bangga terhadap karya anak negeri. Meski muncul kekhawatiran terhadap meningkatnya pengaruh asing, Dave memandang hal itu justru menjadi pemacu untuk memperkuat daya saing sekaligus mempertegas karakter nasional, agar Indonesia terus maju tanpa kehilangan jati diri.

Jejak Geoekonomi China di Balik Proyek Whoosh

Proyek kereta cepat Whoosh tak bisa dilepaskan dari peran besar China di baliknya. Pengamat Hubungan Internasional dari UPN Veteran Jakarta, Dr. Asep Kamaluddin, menilai keberadaan Whoosh merupakan wujud nyata dari diplomasi geoekonomi China. Menurutnya, proyek ini menjadi bukti keberhasilan negeri Tirai Bambu dalam menjalankan strategi Belt and Road Initiative (BRI).

Dari sisi politik dan hubungan luar negeri, Asep melihat proyek tersebut memperkokoh posisi China sebagai mitra strategis utama Indonesia, sekaligus menggeser dominasi Jepang di sektor transportasi. Lebih jauh, Whoosh dijadikan sebagai etalase kemampuan teknologi dan komitmen China dalam membangun konektivitas global bersama Indonesia. “Dan juga menunjukkan kepada dunia bahwa hubungan bilateral kepercayaan Indonesia terhadap China cukup tinggi,” ujar Asep sebagaimana diberitakan oleh Inilah.com, Sabtu (25/10/2025).

Asep mengingatkan, persaingan antara Jepang dan China dalam memperebutkan tender proyek Whoosh menjadi titik penting dalam sejarah investasi Asia. Sebagai pemenang, China menawarkan skema pembiayaan yang lebih menarik bagi Indonesia, yakni tanpa jaminan utang dari APBN.

“Jadi awalnya kan business to business dan kemudian risikonya ditanggung oleh konsorsium BUMN Indonesia dan China kelompok. Kemudian kalau Jepang yang awalnya dianggap kandidat kuat, waktu itu seingat saya Jepang memang menawarkan bunga yang sangat rendah sekitar 0,1 persen, namun mensyaratkan jaminan pemerintah,” tutur Asep.

Presiden Joko Widodo kala itu menolak tawaran Jepang, dan keputusan tersebut menjadi titik balik bagi China untuk memperkuat dominasi geoekonominya di kawasan, khususnya di Indonesia.

Namun, menurut Asep, kemenangan China itu kini menjadi bumerang bagi Indonesia karena beban utang yang semakin menumpuk. Ia menilai, pada dasarnya China tetap konsisten dengan komitmennya sejak awal, tetapi kelemahan Indonesia dalam perencanaan membuat skema business to business yang semula diharapkan berjalan lancar justru berubah menjadi tanggungan pemerintah. “Nah, itu yang yang kemudian tidak diamini oleh Menteri Keuangan Purbaya saat ini,” kata Asep menegaskan.

Lebih lanjut, Asep menekankan bahwa China tetap berpegang pada prinsipnya. “Terserah dari mana duitnya, ya gitu kan. Nah, itu termasuk dengan jebakan Batman lah katakanlah gitu, ya. Jebakan China ini ya, itu sebetulnya sudah berlaku juga di beberapa negara seperti di Tibet atau di Afrika,” ujarnya. Ia pun mengingatkan agar Indonesia ke depan lebih berhati-hati dan cermat dalam mengambil keputusan strategis.

Beban bagi Pemerintahan Prabowo

Narasi yang saat ini berkembang dinilai bertujuan untuk menekan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto agar turut bertanggung jawab atas persoalan yang muncul. Menurut Asep, hal itu juga dapat dipahami sebagai bagian dari proses penyelesaian masalah. “Jadi, kalau di kita kan ada no viral, no justice, ya. Mungkin dalam bisnis juga nih harus, harus ramai dulu gitu, baru diperhatikan.”

Namun di sisi lain, situasi ini justru dinilai merugikan pemerintah, sementara pihak yang diuntungkan adalah para mitra pengusaha. Dengan kata lain, meski perjanjian dilakukan oleh pihak sebelumnya, pemerintahan sekarang yang harus menanggung konsekuensinya. Asep menegaskan, risiko yang ditimbulkan cukup besar, terutama jika utang dengan China tidak mampu dilunasi. “Mungkin harus ada beberapa perjanjiannya katanya ada jaminan pulau atau apa. Itu juga mungkin perlu ditelusuri lagi lebih lanjut,” ungkapnya.

Lebih jauh, Asep menilai proyek Whoosh memang dapat disebut sebagai simbol kebanggaan nasional, namun sekaligus memperlihatkan ketergantungan Indonesia terhadap pihak asing. “Kalau saya lihat sih, ada istilah high performance, low profit. Jadi secara keunggulan nama baik meningkatkan performa negara, tapi secara profit merugikan. Bahkan tidak ada profitnya, gitu kan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari sebuah kebijakan besar yang dampaknya bisa sangat fatal. Meski begitu, Asep menilai kebijakan itu tetap dilandasi niat baik, seperti memperkuat citra bangsa atau melakukan nation branding sebagai bagian dari diplomasi.

Pada akhirnya, semua ini menjadi catatan penting untuk dilakukan evaluasi. Jika sebuah rencana tidak berjalan sesuai harapan, maka harus segera diperbaiki. Kini, pertanyaannya: bagaimana nasib proyek Whoosh dan hubungan Indonesia dengan China ke depan? Apakah bangsa ini mampu keluar dari lingkaran masalah tersebut? (XRQ)

Reporter: Akil

Wagub Aceh Buka Friendship Run UAE–Indonesia 2025: Simbol Persahabatan dan Komitmen Investasi Mubadala Energy

0
Wagub Aceh, Fadhlullah, resmi membuka Friendship Run UAE–Indonesia 2025. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Suasana Minggu pagi di kawasan Museum Tsunami Aceh tampak semarak. Ratusan peserta dari berbagai negara berbaur mengikuti Friendship Run UAE–Indonesia 2025, ajang lari santai yang menjadi simbol persahabatan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA). Acara ini resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, pada 26 Oktober 2025.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Mubadala Energy dan dihadiri sejumlah tamu kehormatan, di antaranya Duta Besar Kerajaan Bahrain untuk Republik Indonesia H.E. Ahmed Abdulla Alharmasi Alhajeri, Presiden Direktur Mubadala Energy Indonesia Abdulla Bu Ali, Kepala Kantor UNOCHA Indonesia Thandie Mwape, serta mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti.

Amatan Nukilan.id, Wakil Gubernur Fadhlullah hadir bersama Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh Akkar Arafat, sejumlah kepala SKPA, serta Wakil Wali Kota Banda Aceh. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan menilai Friendship Run sebagai momentum berharga untuk mempererat hubungan diplomatik antara kedua negara.

“Atas nama Pemerintah Aceh, saya mengucapkan terima kasih kepada Uni Emirat Arab dan kepada Mubadala Energy atas terselenggaranya acara ini,” ujar Fadhlullah.

Ia menegaskan, ajang ini bukan sekadar perayaan olahraga, melainkan bentuk diplomasi masyarakat yang memperkuat kerja sama lintas budaya. Pemerintah Aceh, lanjutnya, siap membuka diri terhadap kegiatan internasional yang membawa pesan perdamaian, persahabatan, dan kolaborasi.

Selain menyoroti nilai persahabatan, Fadhlullah juga mengapresiasi komitmen investasi Mubadala Energy di Aceh. Ia berharap kerja sama yang telah terbangun akan terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan ekonomi daerah.

“Terima kasih dan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan lari persahabatan ini. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjalin hubungan baik antarbangsa,” tutupnya.

Presiden Direktur Mubadala Energy Indonesia, Abdulla Bu Ali, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Pemerintah Aceh dan masyarakat Banda Aceh. Ia menegaskan, kegiatan ini menjadi simbol nyata persahabatan dan sinergi antara Indonesia dan UEA.

“Acara ini lebih dari sekadar olahraga. Ini adalah wujud nyata semangat persahabatan dan kerja sama yang telah terjalin erat antara kedua negara,” ujar Abdulla Bu Ali.

Menurutnya, Aceh memiliki posisi penting dalam rencana investasi berkelanjutan Mubadala Energy. Komitmen tersebut bersifat jangka panjang dan diharapkan mampu memberi dampak positif bagi masyarakat.

“Komitmen kami di sini bersifat jangka panjang dan diharapkan memberikan dampak positif bagi kedua negara, khususnya bagi masyarakat Aceh,” lanjutnya.

Ia menambahkan, keberadaan Mubadala Energy di Aceh tidak semata berorientasi pada bisnis, tetapi juga pembangunan manusia dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan sosial disebut akan terus diperkuat untuk menjaga hubungan baik antara Mubadala Energy dan Aceh sebagai mitra strategis.

“Terima kasih atas sambutan yang begitu hangat. Mari kita terus melangkah maju bersama untuk masa depan yang lebih baik,” tutup Abdulla Bu Ali.

Usai kegiatan Friendship Run, Wakil Gubernur Fadhlullah bersama para tamu kehormatan berkesempatan meninjau bagian dalam Museum Tsunami Aceh. Mereka melihat berbagai artefak serta dokumentasi peristiwa tsunami 2004 yang menjadi pengingat akan ketangguhan dan semangat bangkit masyarakat Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Batu Giok Raksasa 5.000 Ton Ditemukan di Hutan Nagan Raya, Bupati: Anugerah yang Harus Disyukuri

0
Rombongan Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan berdiri di atas batu giok raksasa yang baru ditemukan. (Foto: Diskominfo Nagan Raya)

NUKILAN.ID | SUKAMAKMUE – Sebuah batu giok berukuran raksasa ditemukan di kawasan hutan Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Batu mulia berwarna hijau itu diperkirakan memiliki berat mencapai 5.000 ton, menjadikannya salah satu temuan giok terbesar yang pernah ditemukan di wilayah tersebut.

Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan (TRK) mengatakan, ukuran batu tersebut jauh lebih besar dibandingkan penemuan sebelumnya.

“Ini adalah batu dengan ukuran lebih berat dan lebih besar dari penemuan batu giok sebelumnya di Nagan Raya. Berdasarkan perkiraan awal, batu giok yang baru ditemukan ini memiliki berat hampir mencapai 5.000 ton,” ujar TRK dalam keterangannya, Jumat (24/10/2025).

Penemuan giok ini tidak jauh dari lokasi penemuan batu serupa beberapa tahun lalu yang beratnya mencapai 20 ton. Temuan tersebut awalnya diketahui oleh warga setempat, kemudian dilaporkan kepada pemerintah daerah.

Menindaklanjuti laporan itu, Teuku Raja bersama unsur Forkopimda Nagan Raya meninjau langsung lokasi batu giok tersebut. Untuk mencapai lokasi, rombongan harus menempuh perjalanan melalui jalan setapak di dalam kawasan hutan Beutong.

Bupati menyebut, batu giok raksasa itu akan dikelola untuk kepentingan masyarakat luas dan kemaslahatan umat. Ia berharap kekayaan alam tersebut tidak hanya membawa manfaat bagi warga Nagan Raya, tetapi juga menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.

“Ini merupakan salah satu anugerah Allah yang patut kita syukuri. Mungkin tidak semua daerah di Indonesia memiliki kekayaan seperti ini. Karena itu, peruntukannya harus untuk kemaslahatan umat dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat,” jelasnya.

Penemuan batu giok raksasa ini menambah daftar panjang potensi sumber daya alam Aceh yang bernilai tinggi. Pemerintah daerah berencana melakukan kajian lanjutan untuk memastikan kualitas dan potensi ekonomi dari batu berharga tersebut.

Haili Yoga Lantik 219 Pejabat Administrator dan Pengawas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah

0
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga Lantik 219 Pejabat Administrator dan Pengawas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. (Foto: Humas Aceh Tengah)

NUKILAN.ID | Takengon – Suasana haru menyelimuti Gedung Ummi Pendopo Bupati Aceh Tengah, Jumat (24/10/2025), saat Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si, melantik dan mengambil sumpah jabatan 219 pejabat administrator dan pengawas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

Pelantikan tersebut digelar berdasarkan Keputusan Bupati Aceh Tengah Nomor 820/395/BKPSDM/2025 tentang Mutasi Jabatan Administrator dan Pengawas. Dari jumlah tersebut, 13 orang di antaranya ditetapkan sebagai camat baru, 10 pejabat menerima Surat Pelaksana Tugas (PLT), sementara 12 lainnya berhalangan hadir karena alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Acara pelantikan turut dihadiri oleh Wakil Bupati Muchsin Hasan, MSP, Sekretaris Daerah Drs. Mursyid, M.Si, para kepala perangkat daerah, serta keluarga para pejabat yang dilantik.

Dalam arahannya, Bupati Haili Yoga menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar proses administratif, melainkan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang efektif dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Nawaitu saya dalam jabatan ini adalah pelayanan, bukan kekuasaan. Semua pelayanan di Aceh Tengah sudah baik, namun wajib terus dipertahankan dan ditingkatkan,” ujar Haili Yoga disambut tepuk tangan peserta pelantikan.

Ia menekankan, jabatan adalah amanah yang menuntut tanggung jawab, keikhlasan, dan integritas tinggi. Karena itu, ia mengingatkan seluruh pejabat untuk segera bekerja dan menunjukkan kinerja nyata.

“Kami akan melakukan evaluasi, jika dalam enam bulan kinerja tidak menunjukkan hasil yang baik, maka tidak menutup kemungkinan dilakukan penurunan jabatan menjadi staf,” tegasnya.

Bupati juga memberi perhatian khusus kepada para camat, yang disebutnya sebagai ujung tombak pemerintahan daerah. Ia meminta mereka fokus menjalankan program prioritas daerah, seperti desa bersih, posyandu aktif, dan pelayanan masyarakat terpadu.

“Kalau program prioritas seperti desa bersih dan posyandu tidak berjalan, berarti camatnya tidak bekerja dengan sungguh-sungguh,” ucap Haili Yoga.

Kepada camat perempuan, ia memberi penegasan agar tetap berkomitmen menjalankan tanggung jawab besar di lapangan.

“Kalau ibu camat merasa berat dalam bertugas, buat surat resmi. Tapi ingat, setiap jabatan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat,” imbuhnya.

Di tengah suasana resmi pelantikan, Bupati sempat meneteskan air mata saat mengenang perjuangan orang tuanya. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan pesan menyentuh tentang makna amanah jabatan.

“Evaluasi terbaik datang dari Allah SWT. Kita tidak akan menjadi apa-apa tanpa doa orang tua. Jabatan ini adalah kado dari mereka yang harus kita hargai dengan kerja keras dan ketulusan,” ungkapnya.

Sebelum prosesi pelantikan, seluruh pejabat yang dilantik mengikuti pengambilan sumpah jabatan yang dipandu oleh rohaniawan. Setelahnya, perwakilan pejabat membacakan Fakta Integritas sebagai bentuk komitmen untuk bekerja profesional dan siap dievaluasi secara berkala.

Bupati Haili Yoga menutup arahannya dengan pesan agar seluruh pejabat yang baru dilantik segera menyesuaikan diri dan memperkuat kolaborasi lintas sektor demi tercapainya pemerintahan yang bersih dan responsif.

“Setiap pejabat harus memahami tugasnya sebagai pelayan masyarakat. Tidak ada jabatan yang istimewa kecuali yang bekerja dengan hati dan memberi manfaat untuk rakyat,” pesannya.

Ia berharap momentum pelantikan ini menjadi awal dari semangat baru bagi seluruh aparatur di Aceh Tengah.

“Jabatan ini adalah kepercayaan yang harus dijaga. Gunakanlah waktu enam bulan ke depan untuk membuktikan kinerja terbaik. Mari kita bekerja bersama untuk Aceh Tengah yang maju, bersih, dan berkeadilan,” pungkasnya.

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Aceh, Warga Diminta Waspadai Lereng dan Sungai

0
Ilustrasi cuaca ekstrem. (Foto: Liputan6)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa hari ke depan.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I SIM Banda Aceh, Dedy Ardana, mengatakan saat ini wilayah Aceh masih berada dalam masa puncak musim hujan. Kondisi ini dipicu oleh aktifnya Monsoon Asia serta nilai Dipole Mode yang terpantau negatif, yang menyebabkan meningkatnya aktivitas pembentukan awan hujan di kawasan Indonesia bagian barat.

Selain itu, kata Dedy, faktor lain yang memperkuat potensi hujan lebat adalah aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) pada Fase 3, adanya belokan angin dan konvergensi di wilayah Aceh, serta suhu muka laut yang hangat di Samudra Hindia Barat Sumatera.

“Beberapa kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Aceh,” ujar Dedy dikoutip dari Kompas.com, Kamis (23/10/2025).

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap hujan berintensitas sedang hingga lebat yang berpotensi terjadi secara terus-menerus atau berdurasi panjang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, serta angin kencang di sejumlah daerah.

“Jika melihat awan tebal hitam dan hujan mulai rintik-rintik di daerah pegunungan maka masyarakat disarankan untuk meninggalkan daerah lerengan serta wilayah aliran sungai,” tambah Dedy.

BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk periode 24–26 Oktober 2025. Dalam rentang waktu tersebut, sejumlah wilayah di Aceh diperkirakan mengalami hujan ringan hingga lebat yang disertai angin kencang.

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Sabang, Pidie, Pidie Jaya, Nagan Raya, Gayo Lues, dan Bener Meriah. Pada 25–26 Oktober, daerah berisiko diperkirakan meluas ke Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Utara, Bireuen, Lhokseumawe, dan Simeulue.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca serta mengambil langkah antisipasi dini guna mengurangi dampak dari potensi bencana yang mungkin terjadi.