Beranda blog Halaman 310

Pramuka MAN 2 Banda Aceh Tanamkan Semangat Toleransi Lewat Dialogue for Peace

0
Pramuka MAN 2 Banda Aceh Tanamkan Semangat Toleransi Lewat Dialogue for Peace. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Gerakan Pramuka Gugus Depan MAN 2 Banda Aceh bekerja sama dengan Peace Generation Aceh menggelar kegiatan bertajuk “Dialogue for Peace” di Aula MAN 2 Banda Aceh, Sabtu (1/11/2025). Kegiatan ini mengusung tema “Peran Pemuda Agama dalam Mewujudkan Toleransi di Kota Banda Aceh” sebagai upaya menumbuhkan nilai-nilai perdamaian dan menghargai perbedaan di kalangan generasi muda.

Kegiatan dibuka oleh Pembina Gugus Depan MAN 2 Banda Aceh, Kak Khaidir Marzuki. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran Pramuka sebagai agen perdamaian di tengah masyarakat.

“Pramuka harus menjadi teladan dalam menebarkan nilai-nilai toleransi dan kedamaian. Melalui kegiatan ini, kita belajar menghargai perbedaan dan memperkuat persaudaraan,” ujarnya.

Selama kegiatan, para fasilitator dari Peace Generation Aceh memandu peserta dalam memahami 12 Nilai Dasar Perdamaian, seperti saling percaya, menghargai perbedaan, berpikir positif, serta menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Materi tersebut dikemas secara interaktif melalui permainan dan diskusi kelompok agar mudah dipahami oleh peserta.

Sebanyak 47 peserta terlibat aktif dalam kegiatan ini, yang berasal dari MAN 2 Banda Aceh, SMAN 2 Banda Aceh, dan Saka Kencana Kwartir Daerah Aceh. Antusiasme peserta terlihat saat mereka mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat.

Salah satu fasilitator Peace Generation Aceh menyampaikan harapannya agar semangat perdamaian yang ditanamkan dalam kegiatan ini bisa diteruskan oleh para peserta di lingkungan masing-masing.

“Perdamaian berawal dari diri sendiri. Saat kita memahami dan menghormati perbedaan, kita telah menjadi bagian dari perubahan,” ujarnya.

Cut Nailul Muna, peserta dari MAN 2 Banda Aceh, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kegiatan tersebut.

“Saya sangat senang bisa ikut kegiatan ini. Permainannya seru, materinya juga membuka pikiran saya bahwa perdamaian bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita,” ungkapnya.

Peserta lain dari Saka Kencana, Surya Fuadi, menambahkan bahwa kegiatan ini membuat mereka lebih memahami pentingnya menghargai perbedaan dan menghindari prasangka terhadap orang lain.

Sementara itu, salah satu fasilitator Peace Generation Aceh, Kak Nyanyak, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat para peserta.

“Anak-anak Pramuka punya energi positif yang luar biasa. Kami berharap mereka bisa menjadi agen perdamaian di sekolah dan lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Kak Khaidir Marzuki selaku penanggung jawab kegiatan turut mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang terjalin antara Peace Generation Aceh dan Gerakan Pramuka MAN 2 Banda Aceh.

“Kami sangat mengapresiasi kerja sama ini. Semoga kegiatan Dialogue for Peace menjadi awal dari langkah-langkah nyata dalam menumbuhkan sikap toleransi dan perdamaian di kalangan Pramuka, dan ke depannya akan ada banyak kegiatan serupa yang dilaksanakan bersama Peace Generation Aceh,” tuturnya.

Kegiatan diakhiri dengan refleksi bersama serta ajakan kepada seluruh peserta untuk menjadi Duta Perdamaian di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Suasana penutupan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, mencerminkan nilai-nilai persaudaraan khas Gerakan Pramuka.

Melalui kegiatan Dialogue for Peace ini, Pramuka MAN 2 Banda Aceh menegaskan komitmennya dalam mendukung pendidikan karakter berbasis nilai-nilai perdamaian dan toleransi. Para peserta diharapkan dapat menjadi contoh nyata bagi rekan sebaya dalam menebarkan semangat damai dan harmonis di Kota Banda Aceh.

KKR Aceh Rekomendasikan 2.680 Korban Pelanggaran HAM untuk Terima Reparasi 2025–2030

0
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Reparasi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh,Yuliati. (Foto: KKR Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh terus melanjutkan upaya pemulihan bagi korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa konflik di Tanah Rencong. Hingga tahun ini, sebanyak 2.680 korban telah direkomendasikan kepada Badan Reintegrasi Aceh (BRA) untuk menerima program reparasi atau hak pemulihan dalam kurun waktu 2025–2030.

“Secara keseluruhan dari 2025–2030, BRA sudah menginput 2.680 data korban pelanggaran HAM masa lalu berdasarkan rekomendasi KKR Aceh untuk mendapatkan reparasi,” ujar Ketua Pokja Reparasi KKR Aceh, Yuliati, di Banda Aceh, Jumat (31/10/2025).

Ia menambahkan, khusus untuk tahun 2025, sebanyak 557 korban telah direkomendasikan untuk menerima reparasi dan kini menunggu proses realisasi dari BRA.

KKR Aceh, yang dibentuk untuk menegakkan kebenaran dan memulihkan martabat korban konflik, hingga kini telah mengambil pernyataan dari 5.155 korban pelanggaran HAM di Aceh. Selain itu, 1.200 data lainnya masih dalam proses analisis kebenaran, sebelum nantinya turut direkomendasikan sebagai penerima reparasi.

Sejak berdiri, lembaga ini telah menjalankan program reparasi mendesak terhadap korban, salah satunya pada 2022 lalu. Dari 242 korban yang direkomendasikan kepada Gubernur Aceh melalui BRA, sebanyak 235 orang telah menerima bantuan sosial tunai.

BRA sendiri merupakan lembaga yang lahir pascaperdamaian Aceh, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Lembaga ini bertugas mengakomodasi kebutuhan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tahanan dan narapidana politik, serta korban konflik lainnya.

Menurut Yuliati, bentuk reparasi selama ini masih berupa bantuan sosial. Namun, ke depan, pendekatannya akan diperluas menjadi pemberdayaan ekonomi dan rehabilitasi sosial, seiring dengan terbitnya Keputusan Gubernur Aceh Nomor 100.3.2/1180/2025 tentang Pedoman Pelaksanaan Reparasi Penyelesaian Non Yudisial Pelanggaran HAM Masa Lalu di Aceh, yang ditandatangani pada 29 September 2025.

“Kalau dulu kita tidak memiliki ketentuan khusus soal reparasi, sehingga diberikan dalam bentuk bansos. Tapi, mulai ke depan sudah dalam dua skema, yaitu pemberdayaan ekonomi dan rehabilitasi sosial,” jelasnya.

Yuliati menegaskan, pemenuhan hak korban pelanggaran HAM bersifat berkelanjutan dan tidak terbatas pada kondisi sosial ekonomi penerima.

“Ketika dia adalah korban yang pernah mengalami peristiwa di masa lalu, dia berhak untuk mendapatkan pemenuhan atau pemulihan yang memang menjadi haknya,” tegasnya.

Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya keberlanjutan perdamaian dan pemulihan sosial di Aceh, dua dekade setelah konflik berakhir.

Perkuat Hubungan Internasional, Wali Nanggroe Bahas Peluang Kerja Sama Aceh–Rusia

0
wali nanggroe aceh
Wali Nanggroe Aceh, Paduka yang Mulia Teungku Mahmud Malik Alhaytar saat menjamu Dubes Rusia di Meuligo Nanggroe Aceh, Sabtu (1/11/2025). (Foto: Humas LWN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Alhaytar, menerima kunjungan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, H.E. Sergei Gennadievich Tolchenov, di Meuligoe Wali Nanggroe, Sabtu (1/11/2025). Pertemuan tersebut menjadi langkah penting dalam menjajaki peluang kerja sama antara Aceh dan Moskow di berbagai sektor strategis.

Dubes Rusia didampingi Sekretaris Kedutaan, Mrs. Ekaterina Kuznetsova. Sementara dari pihak Aceh, Wali Nanggroe turut didampingi Staf Khusus Dr. M. Raviq, Katibul Wali Abdullah Hasbullah, S.Ag., MSM, serta sejumlah kepala dinas Pemerintah Aceh, di antaranya Kadis Energi dan Sumber Daya Mineral, Kadis Perhubungan, Kadis Pertanian dan Perkebunan, serta Kadis Pendidikan Aceh.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Dalam kesempatan itu, kedua pihak membahas potensi kerja sama di bidang energi, pendidikan, dan pertanian—tiga sektor yang dinilai strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di Aceh.

Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud menegaskan pentingnya memperkuat hubungan internasional Aceh dengan negara-negara sahabat, khususnya yang memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi dan sumber daya manusia.

Sementara itu, Duta Besar Rusia menyampaikan ketertarikannya terhadap potensi besar Aceh yang kaya sumber daya alam dan memiliki posisi strategis di jalur perdagangan dunia, Selat Malaka.

Hubungan Aceh dan Rusia sendiri bukanlah hal baru. Dalam catatan sejarah, kedua wilayah memiliki hubungan panjang yang berakar sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Saat itu, Aceh dikenal luas sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan di Asia Tenggara. Rusia, yang mulai memperluas pengaruhnya ke kawasan Asia Pasifik pada abad ke-19, mengenal Aceh sebagai kerajaan yang berdaulat dan disegani.

Bahkan, beberapa catatan kolonial Belanda sempat menyinggung perhatian Rusia terhadap perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan, lantaran melihat Aceh sebagai bangsa yang tangguh dan memiliki jati diri kuat.

Kini, semangat diplomasi itu kembali dihidupkan. Melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta, Pemerintah Rusia menunjukkan minat untuk menjalin hubungan dengan berbagai daerah potensial di Indonesia, termasuk Aceh.

Dengan kekayaan sumber daya alam, potensi energi yang menjanjikan, serta komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan teknologi, Aceh dipandang sebagai mitra yang layak diperhitungkan.

Lembaga Wali Nanggroe yang dipimpin Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Alhaytar pun terus memainkan peran penting dalam memperkuat citra dan martabat Aceh di mata dunia. Melalui diplomasi budaya dan dialog internasional, lembaga ini menjadi jembatan yang menghubungkan Aceh dengan komunitas global.

Pertemuan antara Wali Nanggroe dan Duta Besar Rusia tersebut diharapkan membuka babak baru hubungan Aceh–Moskow, demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Aceh di masa depan.

Influenza Tipe A: Kenali Gejalanya dan Alasan Mengapa Kita Harus Waspada

0
influenza tipe a
Ilustrasi Gejala Influenza Tipe A. (Foto: Google)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Memasuki musim hujan, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada meningkatnya risiko penyakit menular, salah satunya influenza. Cuaca lembap dan berkurangnya paparan sinar matahari membuat daya tahan tubuh menurun, sehingga virus dan bakteri lebih mudah berkembang.

Berdasarkan laporan Pengawasan Kasus Influenza dan Covid-19 sepanjang Oktober 2025, tercatat 115 kasus influenza di Indonesia. Dari jumlah tersebut, flu A (H1N1) menyumbang 13 kasus, flu A (H3N2) sebanyak 86 kasus, dan flu B (Victoria) 16 kasus. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding bulan sebelumnya yang hanya mencatat 54 kasus.

Apa Itu Influenza A?

Influenza A merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan bagian atas, meliputi hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Virus ini memiliki beberapa subtipe seperti H1N1, H5N1, dan H3N2—yang kini tengah mendominasi wilayah Asia.

Dibandingkan dengan influenza B, tipe A dinilai lebih berbahaya karena dapat menular antar manusia maupun dari hewan ke manusia. Tingkat mutasinya yang tinggi membuat virus ini mudah menyebar dan berpotensi menimbulkan varian baru yang lebih ganas, bahkan berisiko memicu pandemi global.

Salah satu contoh pandemi akibat virus ini adalah flu Spanyol tahun 1918 yang disebabkan oleh virus H1N1 dengan gen unggas. Dalam kurun satu tahun, penyakit tersebut menyebar ke seluruh dunia, menginfeksi sekitar 500 juta orang, dan menewaskan hingga 50 juta jiwa.

Di Indonesia, influenza A subtipe H5N1 sempat merebak antara tahun 2005 hingga 2017. Sejak 2018, tak ada laporan terbaru kasus infeksi virus tersebut. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini mengonfirmasi bahwa influenza A subtipe H3N2 kembali terdeteksi di Tanah Air.

Penularan dan Gejala

Penularan influenza A dapat terjadi melalui percikan ingus atau liur yang keluar saat penderita bersin, batuk, atau berbicara. Virus juga bisa menular secara tidak langsung ketika seseorang menyentuh permukaan benda yang telah terkontaminasi, lalu tanpa sadar menyentuh hidung atau mulut.

Setiap orang dapat mengalami gejala yang berbeda-beda, tergantung kondisi tubuhnya. Umumnya, gejala berlangsung selama 7 hingga 10 hari. Namun, pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta, gejala dapat bertahan lebih lama dan terasa lebih berat.

Dilansir Nukilan.id dari Healthline, influenza A utamanya menyerang sistem pernapasan. Berikut gejala umum yang sering muncul:

  • Nyeri otot atau tubuh

  • Batuk

  • Hidung tersumbat atau berair

  • Sakit tenggorokan

  • Demam atau menggigil

  • Kelelahan

  • Sakit kepala

  • Mual atau muntah

  • Fotofobia (sensitivitas terhadap cahaya terang)

  • Diare

Dalam kasus yang lebih berat, influenza A dapat menyebabkan tekanan darah rendah, sesak napas, dan detak jantung tidak teratur. Jika gejala semakin parah, pasien disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis guna mencegah komplikasi.

Pencegahan

Langkah paling efektif mencegah penularan influenza A adalah vaksinasi flu tahunan. Vaksin membantu sistem imun mengenali dan melawan virus yang beredar. Selain itu, menjaga kebersihan tangan juga penting, terutama sebelum menyentuh hidung, mulut, atau mata.

Penggunaan masker di ruang publik turut disarankan untuk mengurangi risiko penyebaran percikan liur. Masker berfungsi ganda, baik sebagai pelindung diri maupun pencegah penularan ke orang lain.

Terakhir, menjaga daya tahan tubuh tetap optimal menjadi kunci utama. Pola makan bergizi, istirahat cukup, dan olahraga teratur dapat membantu memperkuat sistem imun agar tubuh lebih siap melawan infeksi influenza A. (xrq)

Reporter: Akil

Harga Cabai Merah di Aceh Tembus Rp100 Ribu per Kg, Petani Tomat Justru Merana

0
Cabai Merah. (Foto: Kompas)

NUKILAN.ID | SIGLI – Harga cabai merah di sejumlah daerah di Provinsi Aceh masih bertahan di level tinggi selama sebulan terakhir. Di sisi lain, harga tomat justru anjlok tajam dalam dua pekan terakhir. Kondisi ini menjadi kabar gembira bagi petani cabai, namun menjadi pukulan berat bagi petani tomat lokal.

Dilansir dari Media Indonesia di Pasar Sayur Pante Teungoh, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Jumat (31/10), menunjukkan harga cabai merah kualitas super kini dijual antara Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Sementara cabai kualitas sedang berada di kisaran Rp75.000 hingga Rp80.000 per kilogram.

“Harga demikian sudah bertahan sejak sebulan terakhir. Pasokan barang ada, tapi harga tinggi, makanya harus jual sesuai modal,” tutur Fadli, pedagang cabai eceran di Kota Sigli.

Sementara itu, harga tomat mengalami tren sebaliknya. Dalam dua pekan terakhir, harga tomat turun drastis hingga separuh dari harga sebelumnya. Tomat kualitas terbaik kini dijual sekitar Rp3.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp6.000 hingga Rp7.000. Adapun tomat kualitas sedang yang semula Rp4.000–Rp5.000 kini hanya Rp2.000 per kilogram.

“Tomat malah lebih murah dari dua pekan lalu. Sudah turun paling rendah kali ini,” ujar Fadli.

Penurunan harga tomat diduga akibat melimpahnya hasil panen petani lokal serta masuknya pasokan dari daerah tetangga seperti Berastagi, Sumatera Utara. Sementara itu, tingginya harga cabai merah disebut karena tingginya permintaan dan biaya produksi yang meningkat, meskipun stok di pasar masih tersedia.

Kebutuhan cabai merah di Kota Sigli dan sekitarnya sebagian besar dipenuhi dari hasil panen petani lokal. Namun fluktuasi harga yang tajam ini menunjukkan tantangan klasik di sektor pertanian Aceh: belum stabilnya rantai pasok dan ketergantungan pada musim panen.

Bagi masyarakat, terutama para ibu rumah tangga, kondisi ini membuat harga kebutuhan dapur semakin tak menentu. Sementara para petani berharap pemerintah daerah bisa lebih aktif membantu menjaga stabilitas harga hasil pertanian lokal agar tidak ada yang terlalu dirugikan di satu sisi.

Kasus Influenza A Meningkat di Banda Aceh, Dinkes Siagakan Layanan 24 Jam

0
Ilustrasi Influenza. (Foto: almaata.ac.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh mencatat adanya peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak Agustus hingga September 2025. Lonjakan kasus ini juga diikuti dengan ditemukannya sejumlah warga yang terkonfirmasi positif Influenza A.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, saat dihubungi Nukilan.id, pada Jumat (31/10/2025), menyebutkan bahwa kasus ISPA naik dari 1.612 kasus pada Agustus menjadi 1.860 kasus pada September 2025.

“Sampai dengan 29 Oktober 2025, dari pemeriksaan 41 spesimen pasien dengan gejala Influenza Like Illness (ILI) di site sentinel ILI UPTD Puskesmas Banda Raya, ditemukan 14 kasus positif Influenza A dan 2 kasus positif Influenza B, sementara 25 kasus lainnya negatif,” ujar Wahyudi.

Meski demikian, Wahyudi menegaskan agar masyarakat tetap tenang namun waspada. Ia mengimbau warga untuk terus menerapkan protokol kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.

“Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, memakai masker terutama saat sakit atau di kerumunan, serta menerapkan etika batuk dan bersin,” tegasnya.

Warga yang mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, atau nyeri otot diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan faktor risiko.

“Kita juga sudah mengintruksikan Rumah Sakit, Puskesmas atau Pustu untuk memberikan pelayanan 24 jam kepada masyarakat apabila ada yang ingin berobat. Jadi, masyarakat diharapkan tenang dan apabila ada gejala segera ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat karena sudah kami siagakan tenaga medis,” imbaunya.

Wahyudi menambahkan, Dinkes Kota Banda Aceh terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus Influenza A serta menyiapkan langkah penanggulangan sesuai prosedur kesehatan.

“Kita juga sudah melakukan kolaborasi dengan BPBD Kota Banda Aceh untuk melakukan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat yang berisiko. Kita memastikan tenaga medis dan petugas lainnya mendapatkan perlindungan optimal dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar, serta memperkuat kewaspadaan dan pengendalian infeksi di lingkungan kerja,” tutup Wahyudi. (XRQ)

EO Pelaksana MTQ Aceh ke-37 Diduga Tinggalkan Tanggung Jawab, Panitia Turun Tangan di Detik Pembukaan

0
Venue panggung yang akan di gunakan pada acara MTQ Aceh Detik Pembukaan MTQ Aceh ke-37 . |(Foto: KBA.ONE)

NUKILAN.ID | Meureudu – Menjelang detik-detik pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Aceh ke-37 di Kabupaten Pidie Jaya, suasana persiapan di lokasi utama sempat diwarnai kepanikan. Pasalnya, pihak Event Organizer (EO) pelaksana kegiatan, PT Qpro Creasindo, dikabarkan menghilang dari tanggung jawabnya menjelang acara dimulai.

Dilansir dari KBA.ONE, sejak Sabtu (1/11/2025) siang, tidak terlihat lagi aktivitas maupun perwakilan EO di lapangan. Sejumlah panitia menyatakan, seluruh pekerjaan yang seharusnya menjadi kewenangan EO kini diambil alih oleh panitia lokal dan relawan daerah.

Juru Bicara MTQ Aceh ke-37, Saiful Rasyid, mengatakan bahwa panitia terpaksa turun tangan langsung untuk memastikan persiapan tidak terhenti.

“Karena ketidaksiapan EO, sehingga kami yang menyelesaikannya. Termasuk venue utama, tadi panitia yang menyelesaikan,” ujar Saiful yang juga Asisten III Sekdakab Pidie Jaya, Sabtu malam.

Menurut Saiful, keputusan tersebut diambil karena EO tidak lagi dapat dihubungi, sementara waktu pelaksanaan semakin sempit.

“Tadi kami pukul 14.00 WIB mengambil sikap, bahwa semua ini akan kami selesaikan sendiri. Dari pagi kami hubungi EO, sampai sekarang belum terkoneksi,” ungkapnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan, hingga malam hari panitia bersama sejumlah relawan masih bekerja keras menyelesaikan berbagai detail teknis di sejumlah venue lomba. Mereka memastikan seluruh lokasi siap digunakan agar pembukaan MTQ ke-37 dapat berlangsung sesuai jadwal.

Sementara itu, pihak PT Qpro Creasindo hingga berita ini diterbitkan oleh KBA.ONE belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi melalui panggilan telepon maupun pesan WhatsApp, nomor perwakilan EO atas nama Nasrullah tidak merespons. Status pesan juga hanya menunjukkan satu centang, menandakan pesan belum terbaca.

Sebelumnya, Nasrullah sempat menyampaikan kepada media bahwa seluruh pekerjaan di venue utama telah selesai dan sudah diserahterimakan kepada panitia.

“Venue utama sudah siap semua, sudah serah terima tadi siang. Untuk WC portable memang kami yang kerjakan, tapi penempatannya itu pihak panitia,” katanya dalam pesan sebelumnya.

Namun, kondisi di lapangan memperlihatkan hal berbeda. Beberapa titik di lokasi utama tampak masih dalam proses penyelesaian hingga malam hari. Panitia berharap seluruh sarana dan prasarana dapat siap tepat waktu sebelum pembukaan resmi MTQ Aceh ke-37 yang dijadwalkan digelar malam ini.

Wagub Aceh Fadhlullah Tegaskan Evaluasi Ulang Pembayaran Tanam Tumbuh di Proyek Tol Padang Tiji–Seulimeum

0
Wagub Aceh Fadhlullah Tegaskan Evaluasi Ulang Pembayaran Tanam Tumbuh di Proyek Tol Padang Tiji–Seulimeum. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan pembayaran ganti rugi tanaman masyarakat yang terdampak pembangunan proyek tol Padang Tiji–Seulimeum secara adil dan transparan. Hal tersebut disampaikan dalam rapat percepatan pembangunan jalan tol seksi 1 yang digelar di Ruang Potensi Daerah Kantor Gubernur Aceh, Kamis (30/10/2025).

Rapat yang juga dihadiri Kapolda Aceh, Irjen Marzuki Alibasyah, membahas langkah-langkah strategis guna mempercepat penyelesaian kendala pembebasan lahan, terutama terkait penilaian dan pembayaran tanam tumbuh milik warga di sepanjang trase tol.

Dalam pertemuan itu, terungkap bahwa sebagian masyarakat belum menyetujui hasil penilaian terhadap nilai tanam tumbuh yang dilakukan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pidie. Warga menilai ada kekeliruan pada tahap awal pendataan, di mana sebelum BPN melakukan inventarisasi tanaman, pihak pelaksana proyek—PT Adi Karya—telah terlebih dahulu membersihkan sebagian lahan menggunakan alat berat.

Padahal, menurut warga, pihak pelaksana proyek telah mendokumentasikan jumlah tanaman yang dibersihkan. Namun, data tersebut tidak tercantum dalam hasil pendataan resmi yang diserahkan oleh BPN dan Satgas A kepada Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) sebagai dasar penentuan nilai ganti rugi.

“Akibat tidak adanya komunikasi antara pihak pelaksana dan BPN, data tanaman yang sudah lebih dulu dibabat tidak masuk dalam daftar penilaian. Ini yang menimbulkan keberatan di masyarakat karena dinilai merugikan mereka,” ungkap salah seorang perwakilan masyarakat dalam forum tersebut.

Menanggapi hal itu, Wagub Aceh meminta agar seluruh proses pendataan dan penilaian dikaji ulang. Ia menekankan pentingnya transparansi dalam setiap tahapan agar tidak menimbulkan kecurigaan atau ketidakadilan bagi masyarakat terdampak.

“Kami akan memanggil langsung pihak KJPP agar segera hadir ke Aceh untuk melakukan klarifikasi dan verifikasi ulang bersama tim Satgas B dan panitia pengadaan tanah. Kita ingin semua pihak duduk bersama dan memastikan data yang digunakan akurat dan tidak merugikan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan jalan bisa segera dituntaskan dan bisa segera dinikmati masyarakat,” ujar Fadhlullah.

Wagub juga menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini tidak boleh menunda target penyelesaian proyek tol.

“Proyek ini sangat penting untuk konektivitas dan pertumbuhan ekonomi Aceh. Namun, hak masyarakat juga harus dipenuhi dengan cara yang transparan dan sesuai aturan,” tambahnya.

Rapat tersebut turut dihadiri oleh unsur Forkopimda Aceh dan Pidie, perwakilan kementerian dan lembaga terkait, serta para keuchik dari desa-desa di Kecamatan Padang Tiji yang wilayahnya dilintasi oleh proyek strategis nasional tersebut.

Editor: Akil

MTQ Aceh ke-37 Resmi Dibuka, Gema Ayat Suci Menggetarkan Langit Pidie Jaya

0
Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf saat memberikan sambutan dalam pembukaan MTQ Aceh ke-37 di Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu (1/11/2025) malam. (Foto: Dok. YouTube Diskominfotik Pijay)

NUKILAN.ID | MEUREDU – Suasana religius menyelimuti malam pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Aceh ke-37 yang digelar di Arena Utama Komplek Perkantoran Bupati Pidie Jaya (Pijay), Cot Trieng, Meureudu, Sabtu (1/11/2025) malam. Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, secara resmi membuka perhelatan akbar itu dengan penekanan tombol sirine yang menandai dimulainya ajang tilawah terbesar di Tanah Rencong tahun ini.

Rangkaian pembukaan berlangsung khidmat dan semarak, diawali dengan defile kafilah dari 23 kabupaten/kota se-Aceh. Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasy, menyampaikan laporan pelaksanaan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya MTQ ke-37.

Dalam sambutannya, Gubernur Muzakir Manaf menegaskan pentingnya kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an sebagai bekal spiritual dan pendidikan bagi seluruh generasi Aceh.

“Ia harapkan, MTQ satu ikhtiar kita agar Aceh bisa betul-betul berjalan dengan syariat Islam,” ujar Mualem di hadapan ribuan tamu dan peserta yang memadati arena utama.

Ia menambahkan, nilai-nilai Al-Qur’an akan menjadi pedoman hidup umat untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat.

“Katanya, Alquran akan mengantar kita selamat dunia dan akhirat,” ucapnya.

Gubernur juga menutup sambutannya dengan doa agar Aceh senantiasa diberkahi dan menjadi daerah yang makmur serta diridhai Allah SWT.

“Semoga Aceh bisa menggapai baldatun thayyibatun warabbun ghafur,” harapnya.

Sementara itu, Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasy, berharap ajang MTQ tahun ini berjalan sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta dan tamu.

“Semoga semua kontingen dan tamu aman, nyaman, dan menikmati keramahan Pidie Jaya,” ujarnya.

MTQ Aceh ke-37 diikuti oleh 1.932 peserta dari berbagai usia yang mewakili 23 kabupaten/kota di Aceh. Mereka akan bersaing dalam berbagai cabang lomba, mulai dari tilawah, tahfiz, hingga tafsir Al-Qur’an.

Acara pembukaan berlangsung meriah dengan balutan nuansa spiritual yang kuat. Salah satu momen yang paling menyentuh hati adalah penampilan dua qari internasional dalam acara Haflah Al-Qur’an, yang menghadirkan lantunan ayat suci menggema hingga ke pelosok Meureudu.

Dengan dibukanya MTQ Aceh ke-37, Pidie Jaya tak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi pusat gemanya kalam Ilahi yang menggetarkan hati seluruh umat di Tanah Rencong.

Menapak Warisan Syekh Abdurrauf: Dari Pusat Ilmu ke Pusara di Kuala

0
Makam Syiah Kuala. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | FEATURE – Aceh sejak lama dikenal sebagai pintu gerbang awal masuknya Islam di Nusantara. Tak mengherankan bila provinsi di ujung barat Indonesia ini memiliki banyak ulama besar yang menjadi panutan masyarakat. Di antara tokoh paling berpengaruh itu adalah Syekh Abdurrauf bin Ali Alfansuri, atau lebih dikenal sebagai Syiah Kuala.

Pada masanya, Syekh Abdurrauf menempati posisi penting sebagai satu dari empat ulama terkemuka Aceh bersama Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, dan Nuruddin Ar-Raniry. Informasi pada papan keterangan di kompleks makamnya menyebutkan bahwa beliau lahir pada 1591 M (1001 H), meskipun sejumlah ahli sejarah memperkirakan kelahirannya sekitar tahun 1615 M (1035 H) di Singkil, wilayah pesisir selatan Aceh.

Memiliki hubungan darah dengan Syekh Hamzah Fansuri membuatnya tumbuh dalam lingkungan keilmuan yang kuat. Saat itu, Aceh berada pada masa kejayaan di bawah Sultan Iskandar Muda, dan Syekh Abdurrauf pun tumbuh sebagai calon ulama besar. Sekitar tahun 1643 M (1064 H), di tengah situasi Aceh yang sedang mengalami kekacauan politik dan perdebatan pemikiran keagamaan pada masa Sultanah Safiatuddin, ia memutuskan berangkat ke tanah Arab untuk memperdalam ilmu agama.

Perjalanan Syekh Abdurrauf tidak berlangsung langsung menuju Mekkah. Ia terlebih dahulu singgah dan bermukim di sejumlah pusat pendidikan Islam di sepanjang jalur haji. Barulah setelah tiba di Mekkah dan Madinah ia menyempurnakan ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadis, fikih, serta mendalami tasawuf dan thariqat. Setelah menimba ilmu selama 19 tahun, ia kembali ke Aceh dan mulai mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.

Kepakarannya membuat Kerajaan Aceh Darussalam mengangkatnya sebagai Kadi Malikul Adil. Jabatan itu ia emban selama 59 tahun di bawah empat pemerintahan ratu: Ratu Safiatuddin Syah (1641–1675), Ratu Naqiatuddin Syah (1675–1678), Ratu Zakiatuddin Syah (1678–1688), dan Ratu Kamalat Syah (1688–1699). Menjelang akhir hayatnya, ia menetap di kawasan muara Krueng Aceh atau Kuala, mengajar para santri, hingga wafat dan dikebumikan di Gampong Deah Raya. Dari sinilah sebutan “Syiah Kuala” melekat hingga kini, bahkan diabadikan sebagai nama universitas terbesar di Aceh.

Pada Selasa, 22 November 2024, penulis berkesempatan mengunjungi makam ulama besar tersebut. Seorang pria renta dengan wajah berkeriput menyambut. Nada bicaranya pelan, namun kata-katanya tetap jelas terdengar. Ia adalah Tgk Wahid, juru kunci makam Syekh Abdurrauf.

Setelah penulis memperkenalkan diri, “Lon (saya) Baim Teungku. Lon aneuk Pak AD, guru SD 58 yang dilee tom mengajar di sikula nyan,” ekspresi Tgk Wahid berubah. Keramahan langsung terpancar saat ia mengenali nama ayah penulis. Dengan senyum mengembang, ia berkata, “Oh Pak AD, lon meuturi tat. Teuma gata soe? Aneuk gobnyan? Ka rayeuk tat lagoe. Jameun gata mantong ubeut tat.”

Sejak itu suasana wawancara berlangsung hangat. Tgk Wahid menjelaskan bahwa tugas menjaga makam ini merupakan warisan turun-temurun. “Saya sendiri merupakan keturunan ketujuh yang diberikan amanah untuk bertanggung jawab, menjaga, dan merawat makam Syiah Kuala,” ujarnya. Penjelasan itu sejalan dengan tulisan pada papan informasi: “Khadam Makam Syiah Kuala tidak boleh berpindah tangan dari keturunan Syech Abdul Wahid”.

Motif para pengunjung datang ke kompleks makam pun beragam. Ada yang ingin mempelajari sejarah, menelusuri jejak awal Islam di Nusantara, atau sekadar berziarah. “Yang banyak itu melepas nazar alias ‘peuleuh kaoy’ … dan itu umumnya dilakukan warga lokal,” jelas Tgk Wahid.

Sore itu suasana makam cukup sepi. Hanya beberapa pengunjung terlihat mendekat ke pusara ulama besar tersebut. “Biasanya ramai dalam momentum tertentu, misalnya dalam musim panen atau menjelang puasa,” tambahnya.

Kawasan makam tampak terawat. Dominasi warna putih dan hijau pada bangunan serta rindangnya pepohonan menciptakan kesan sejuk. Di beberapa bagian terpajang puluhan batu nisan dari murid-murid Syekh Abdurrauf. “Itu murid-muridnya Syech Abdurrauf,” sebutnya.

Kotak-kotak sumbangan tersedia di beberapa sudut sebagai bentuk dukungan sukarela bagi biaya operasional. Tgk Wahid kemudian menepis rumor yang beredar pascatsunami. Ia menegaskan kisah bahwa makam terangkat ke permukaan hanyalah cerita. “Kecuali makam Syech Abdurrauf yang tidak hancur. Posisi makam tidak berubah, hanya batu nisannya yang miring sedikit, yang lain berantakan semua,” jelasnya. Setelah bencana, pemerintah dan berbagai pihak membantu memugar kompleks tersebut.

Kepada para pengunjung, Tgk Wahid selalu mengingatkan tentang etika berziarah. “Jangan melakukan hal-hal yang menyimpang dari syariat. Gunakan pakaian yang sopan dan islami. Kalau mau buat kenduri, buatlah kenduri yang biasa saja, jangan berlebihan,” pesannya.

Ia juga berharap agar makam ini mendapatkan perhatian berkelanjutan dari semua pihak. “Mari kita rawat pusara beliau, termasuk perhatian pemerintah daerah agar tempat ini terus terpelihara dan terurus dengan baik,” pungkas Tgk Wahid. (XRQ)

Reporter: AKIL