Beranda blog Halaman 305

237 Bencana Terjadi di Aceh Selama Januari–Juli 2025, 10 Orang Meninggal

0
Ilustrasi kebakaran lahan. (Foto: ANTARA)

Nukilan | Banda Aceh – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 237 kejadian bencana terjadi di Aceh selama periode Januari hingga Juli 2025. Rentetan bencana ini menyebabkan 10 orang meninggal dunia, 10 orang luka-luka, serta berdampak pada 4.838 kepala keluarga atau 11.033 jiwa.

Bencana yang terjadi juga menyebabkan 348 orang mengungsi dan berdampak pada 1.936 unit rumah. BPBA memperkirakan total kerugian mencapai Rp165 miliar akibat berbagai kejadian tersebut.

“Kebakaran pemukiman masih mendominasi dengan 91 kejadian yang menghanguskan 255 rumah dan menimbulkan kerugian sekitar Rp52 miliar,” kata (Pelaksana Tugas) Plt Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Nara Setia dalam keterangannya kepada Nukilan, Kamis (7/8/2025).

Selama Januari hingga Juli 2025, Provinsi Aceh dilanda berbagai bencana dengan total 237 kejadian. Kebakaran pemukiman menjadi yang paling sering terjadi, yakni 91 kasus yang menghanguskan 255 rumah, dengan kerugian sekitar Rp52 miliar.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan tren peningkatan, terutama pada Juli dengan 25 kejadian yang membakar 77 hektare lahan. Secara total, karhutla terjadi 51 kali selama tujuh bulan, membakar 174 hektare dan menimbulkan kerugian sekitar Rp27 miliar.

Bencana banjir terjadi sebanyak 34 kali, merendam lebih dari 1.200 rumah dan menimbulkan kerugian sekitar Rp48 miliar. Sementara itu, angin puting beliung tercatat 33 kali, merusak 375 rumah, 5 sekolah, dan 2 masjid, dengan kerugian sekitar Rp32 miliar.

Adapun tanah longsor terjadi 20 kali, menyebabkan kerusakan pada 12 rumah warga, dengan total kerugian sekitar Rp1,5 miliar.

Secara keseluruhan, semua bencana yang terjadi di Aceh selama Januari hingga Juli 2025 berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Tidak hanya merusak rumah dan bangunan, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan dan ibadah. Sebanyak 12 sarana pendidikan dan 5 rumah ibadah terdampak, selain 66 unit ruko, 4 jembatan, dan ratusan hektare lahan termasuk sawah yang rusak akibat bencana. Khusus lahan pertanian, tercatat 204 hektare terbakar akibat karhutla dan 40 hektare sawah rusak akibat banjir dan longsor.

Menghadapi meningkatnya kejadian karhutla pada Juli, BPBA mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar hutan.

“Pemberdayaan masyarakat atau sosialisasi kepada pelaku usaha yang terlibat dalam perluasan lahan, kami imbau jangan membuka lahan dengan membakar hutan,” kata Nara.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan hutan harus memperhatikan fungsinya sebagai kawasan resapan air, yang berperan penting dalam mencegah bencana seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan. []

Reporter: Sammy

Ditpolairud Polda Aceh Salurkan 1,2 Ton Beras Murah 

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Aceh menyalurkan sebanyak 1,2 ton beras murah kepada masyarakat dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di Kantor Syahbandar Perikanan Lampulo, Kota Banda Aceh, pada Kamis, 7 Agustus 2025.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian Polri dalam mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional serta sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, khususnya beras, di tengah masyarakat.

GPM tersebut terlaksana berkat sinergi antara Ditpolairud Polda Aceh, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) PPS Kutaraja, serta Panglima Laot Lhok Krueng Aceh.

“Hari ini, kami dari Polda Aceh menyalurkan beras murah sebanyak 1,2 ton kepada masyarakat, dengan harga jual sebesar Rp60 ribu per lima kilogram. Ini adalah bagian dari upaya Polri untuk membantu masyarakat mendapatkan akses terhadap bahan pangan dengan harga yang terjangkau,” ujar Dirpolairud Polda Aceh, Kombes Pol Wahyu Prihatmaka, usai kegiatan berlangsung.

Ia menambahkan, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah ini tidak hanya sebagai solusi jangka pendek atas tingginya harga pangan, tetapi juga bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun ketahanan pangan berbasis komunitas.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tampak antusias menyambut inisiatif ini. Ratusan warga memadati area pembagian sejak pagi hari untuk mendapatkan beras dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga pasar.

Kombes Wahyu juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, terutama Kesyahbandaran PPS Kutaraja dan Panglima Laot, yang telah mendukung penuh kelancaran kegiatan ini.

“Melalui sinergi ini, kita ingin menunjukkan bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Polri akan terus hadir dan berperan aktif dalam membantu meringankan beban masyarakat, terutama di sektor kebutuhan pokok,” tutupnya. []

Aceh Dilanda 237 Bencana Selama Januari–Juli 2025

0
Ilustrasi bencana alam. (Foto: Gapki)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 237 kejadian bencana melanda Aceh sejak Januari hingga Juli 2025. Bencana tersebut mengakibatkan 10 orang meninggal dunia, belasan luka-luka, dan ribuan jiwa terdampak, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp165 miliar.

Plt. Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Nara Setia, SE.Ak., M.Si, menyebutkan bahwa kebakaran pemukiman masih menjadi bencana yang paling sering terjadi, yakni sebanyak 91 kejadian yang menyebabkan 255 rumah terbakar. Kerugian dari kebakaran ini diperkirakan mencapai Rp52 miliar.

“Namun khusus bulan juli kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi sebanyak 25 kali membakar 77 hektar lahan,” kata Nara dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nukilan, pada Kamis (7/8/2025).

Secara keseluruhan, bencana yang terjadi di Aceh selama tujuh bulan terakhir menyebabkan 10 korban jiwa, 10 orang luka-luka, dan sebanyak 4.838 kepala keluarga atau 11.033 jiwa terdampak. Selain itu, terdapat 348 orang yang mengungsi serta 1.936 rumah warga yang terdampak langsung akibat berbagai bencana.

Rincian lainnya meliputi 34 kejadian banjir yang merendam 1.232 rumah dengan estimasi kerugian Rp48 miliar, serta 33 kejadian angin puting beliung yang berdampak pada 375 rumah, 5 sekolah, dan 2 masjid, dengan kerugian sekitar Rp32 miliar.

Selain itu, 20 kejadian longsor turut merusak 12 rumah, dengan kerugian diperkirakan sebesar Rp1,5 miliar. Lima gempa bumi juga tercatat dengan kekuatan rata-rata 4,4 hingga 5,2 skala Richter, meski tidak menimbulkan kerusakan besar.

Kejadian abrasi terjadi sebanyak 2 kali, berdampak pada 8 rumah rusak berat dan 50 rumah terendam milik 58 kepala keluarga. Sementara itu, gelombang pasang tercatat sekali terjadi di Desa Lhok Puuk, Seunudon, Aceh Utara, dan menyebabkan kerusakan di wilayah pesisir.

Dampak bencana juga menyasar sektor fasilitas umum, seperti 12 sarana pendidikan, 5 rumah ibadah, 66 unit ruko, 4 jembatan, 204 hektare lahan yang terbakar, dan 40 hektare sawah yang rusak akibat banjir serta longsor.

Menghadapi peningkatan Karhutla, Teuku Nara Setia mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membuka lahan dengan cara membakar hutan. Ia menekankan pentingnya menjaga fungsi hutan sebagai resapan air yang berperan dalam mencegah bencana seperti banjir dan longsor.

“Pemberdayaan masyarakat atau sosialisasi kepada pelaku usaha yang terlibat dalam perluasan lahan perlu terus dilakukan. Kami mengimbau agar tidak membuka lahan dengan membakar hutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nara menegaskan bahwa penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama. Ia menyebut bahwa pihaknya bersama seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat Aceh akan terus berupaya meningkatkan mitigasi bencana agar jumlah kejadian menurun dari tahun ke tahun.

Ia juga berharap ke depan akan terbentuk pola pemberdayaan masyarakat berbasis partisipatif. Menurutnya, hal ini penting agar masyarakat dapat ikut serta dalam kajian, perencanaan, hingga aksi nyata untuk mengelola lingkungan dan mengurangi risiko bencana.

“Bencana adalah urusan bersama. Kami berharap ke depan akan terbangun komunitas yang sadar risiko, mampu mengelola lingkungannya, dan secara aktif meningkatkan kualitas hidup masyarakat Aceh,” tutup Nara.

Reporter: Rezi

BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Aceh Tiga Hari ke Depan

0
Ilustrasi cuaca ekstrem. (Foto: Liputan6)

Nukilan | Banda Aceh – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di wilayah Provinsi Aceh untuk periode 7 hingga 9 Agustus 2025.

Prakirawan yang bertugas, Muhammad Niza Andria menyebutkan adanya sejumlah faktor atmosfer yang berpotensi memicu peningkatan curah hujan dan angin kencang. Di antaranya adalah aktifnya fenomena Dipole Mode yang bergerak ke arah barat di wilayah Samudra Hindia barat Sumatra, adanya daerah belokan angin dan konvergensi, serta suhu muka laut yang hangat di perairan Aceh. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan akibat penambahan massa uap air.

“Cuaca Aceh dalam beberapa hari kedepan masih berpotensi terjadi hujan ringan hingga sedang dan perlu juga diwaspadai potensi angin kencang,” ujar Muhammad Niza Andria kepada Nukilan, Kamis (7/8/2025).

BMKG mencatat sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yaitu pada 7 Agustus 2025: Aceh Barat, Aceh Besar, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Gayo Lues, Lhokseumawe, dan Bener Meriah. Kemudian pada 8 Agustus 2025: Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, Pidie, dan Gayo Lues. Dan 9 Agustus 2025: Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Gayo Lues, Simeulue, dan Subulussalam.

Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang meliputi, pada 7 Agustus 2025: Aceh Barat, Aceh Besar, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Banda Aceh, Simeulue, dan Subulussalam. Dan 8 dan 9 Agustus 2025: Aceh Barat, Aceh Besar, dan Banda Aceh.

BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang, terutama di daerah rawan seperti lereng perbukitan dan sekitar aliran sungai.

“Masyarakat disarankan untuk segera menjauh dari lereng dan aliran sungai apabila melihat awan hitam tebal dan hujan mulai turun meskipun hanya rintik-rintik, khususnya di kawasan pegunungan,” kata Niza.

Peringatan dini ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem yang bisa berdampak terhadap keselamatan dan aktivitas sehari-hari. []

Reporter: Sammy

Rekomendasi IUP Jadi Sorotan, Penghargaan Ekologis Pemkab Aceh Selatan Dianggap Ironis

0
Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Trumon Timur, Akhwan. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan menuai sorotan publik usai menerima penghargaan dalam ajang Konferensi Nasional Pendanaan Ekologis yang berlangsung di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (5/8/2025).

Penghargaan tersebut diberikan karena Aceh Selatan dinilai memiliki komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung pendanaan berkelanjutan berbasis ekologi. Namun, penghargaan ini justru menuai kritik dari sejumlah pihak, terutama terkait kebijakan eksplorasi tambang di kawasan Trumon.

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pemuda Pelajar Trumon Timur, Akhwan, mempertanyakan konsistensi kebijakan lingkungan pemerintah daerah. Ia menilai pemberian penghargaan tersebut bertolak belakang dengan tindakan Bupati Aceh Selatan, Mirwan, yang sebelumnya menerbitkan surat rekomendasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi bijih besi di sejumlah desa di Trumon.

Rekomendasi itu ditujukan kepada PT Kinston Abadi Mineral, dengan wilayah eksplorasi mencakup Desa Ie Jeureneh di Kecamatan Trumon Tengah serta Desa Pinto Rimba, Jambo Dalem, dan Kapa Seusak di Kecamatan Trumon Timur. Lokasi-lokasi tersebut berada di kawasan tanah adat yang berbatasan langsung dengan Hutan Leuser — salah satu bentang alam penting dan sensitif secara ekologis di Aceh.

“Ini adalah bentuk ironi. Kabupaten Aceh Selatan dapat menerima penghargaan karena disebut mendukung ekologi, padahal beberapa bulan yang lalu membuka pintu tambang biji besi di wilayah sensitif secara ekologis,” kata Akhwan dalam keterangannya kepada Nukilan.id, Kamis (7/8/2025).

Ia juga mengungkapkan bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kerusakan lingkungan mulai mencuat. Warga menilai, bila eksplorasi tambang dilakukan, dampak negatif yang ditimbulkan bisa sangat besar.

“Mulai dari deforestasi, pencemaran sungai, hingga ancaman bencana seperti banjir bandang dan longsor di kawasan Trumon Raya,” ujarnya.

Selain itu, Akhwan menambahkan bahwa aktivitas pertambangan berisiko tinggi terhadap kelestarian keanekaragaman hayati serta mengancam sumber penghidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada hutan dan sumber air pegunungan.

Akhwan juga menyampaikan pengakuan dari seorang warga Jambo Dalem yang merasa tidak pernah dilibatkan dalam proses sosialisasi rencana tambang tersebut. Hal ini memperkuat dugaan bahwa proses perizinan tidak melibatkan partisipasi publik secara transparan.

“Pendanaan ekologis seharusnya bukan sekadar label untuk meraih citra hijau. Jika izin-izin tambang terus keluar, ini jelas bukan arah pembangunan berkelanjutan, melainkan kemunduran yang merusak alam dan mengorbankan masyarakat,” tegasnya.

Kini, publik menanti kejelasan sikap dari Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan. Rekomendasi IUP bijih besi di Trumon Tengah dan Trumon Timur telah menjadi polemik, menantang klaim pemerintah daerah yang selama ini disebut berhasil menerapkan pembangunan berwawasan lingkungan.

Tujuh Tersangka Korupsi Pasar Bale Atu Dilimpahkan Ke Jaksa

0
Para tersangka korupsi Pasar Bale Atu Takengon membelakangi kamera ketika penyidik Polres Aceh Tengah menyelenggarakan konfrensi Pers, Kamis (07/08/2025). (Foto Dok Nukilan/Baga)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Setelah melalui proses yang panjang, ahirnya pihak penyidik Polres Aceh Tengah melimpkah ke Jaksa, 7 tersangka dugaan korupsi pembangunan Pasar Bale Atu Takengon. Pelimpahan berlangsung Kamis (07/08/2025) setelah penyidik Polres Aceh Tengah menggelar temu Pers di Aula Polres setempat.

Menurut Kapolres Aceh Tengah Aceh Tengah AKBP. Muhammad Taufiq yang belum sebulan menjabat Kapolres di negeri dingin penghasil kopi ini, kerugian negara dari proyek bersumber APBD 2018 ini mencapai Rp 500 juta.

Dalam keteranganya yang didampingi Kasat Reskrim Iptu. Deno Wahyudi, dijelaskan, nilai kontrak pembangunan pasar bertingkat Bale Atu ini mencapai Rp. 1.697.800.000 yang dikelola Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Aceh Tengah.

Dalam pelaksanaanya, pemenang tender paket proyek ini menjual proyek tersebut kepada rekanan lain, dia mendapatkan keuntungan senilai Rp 160 juta, kemudian dijual lagi kepada rekanan lainya dengan keuntungan Rp 30 juta.

Dalam pelaksanaanya pengerjaan proyek ini untuk membantu UKM tidak berjalan sesuai dengan kontrak. Negara dirugikan dan pengusaha kecil tidak menerima manfaat dari paket proyek ini.

Menurut Kasat Reskrim Deno, proyek ini walau dikerjakan tahun 2018, namun seiring dengan perjalanan waktu pihaknya baru di pertegahan tahun 2025 ini menetapkan tersangka dan pada hari ini, Kamis 7 Agustus 2025, ke tujuh tersangka diserahkan ke JPU.

Ketujuh tersangka itu; SY selaku Pengguna Anggaran yang juga mantan kepala Disperindag Aceh tengah. MAW selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, KA selaku Konsultan Pengawas, HP selaku pelaksana pekerjaan.

AL selaku peminjam perusahaan, FB selaku peminjam perusahaan, SYF selaku pemenang Lelang pekerjaan dan menjualnya kepada rekanan lainya. Menurut Kapolres para pelaku tindak pidadan korupsi ini berkas perkara telah dinyatakan P21 (lengkap). Selanjutnya tersangka dan barang bukti (tahap 2) akan dilimpahkan ke JPU.

“Barusan dalam suasana hujan, menjelang ashar kami sudah melimpahkan berkas perkara ini ke Jaksa, berkasnya sudah lengkap, sudah tahap 2, sudah P 21. Kami telah limpahkan dengan seluruh barang bukti,” sebut Kasat Reskrim, dimana satuanya baru saja mengantarkan para tersangka ke jaksa.

Aceh Barat Siapkan Rangkaian Acara Meriah Sambut HUT ke-80 RI

0
Aceh Barat Siapkan Rangkaian Acara Meriah Sambut HUT ke-80 RI. (Foto: Facebook Tarmizi)

NUKILAN.ID | Meulaboh — Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menyiapkan sejumlah kegiatan untuk memeriahkan suasana sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

Bupati Aceh Barat, Tarmizi, melalui akun Facebook pribadinya menyampaikan, “Dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke 80 Tahun 2025. Di kota Meulaboh akan diadakan 2 kali Car Free Day yaitu pada tgl 10 dan tgl 24 Agustus dengan hadiah doorprize yg sangat banyak,” tulisnya.

Selain Car Free Day yang diharapkan dapat menjadi ajang olahraga dan silaturahmi warga, pemerintah daerah juga menyiapkan hiburan seni untuk masyarakat.

“Tgl 30-31 agustus juga direncanakan ada Weekend Show perdana. Tampilan seni aceh barat yg akan ditampilkan setiap sebulan sekali dimulai bulan agustus,” ungkap Tarmizi.

Tak hanya seni dan hiburan, semarak kemerdekaan juga akan diwarnai dengan kompetisi olahraga yang melibatkan generasi muda.

“Kemudian ada Pertandingan Bola Kaki U-20, Bola Volley dan Bola Basket Piala Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat,” tulisnya lagi.

Tarmizi menekankan bahwa rangkaian kegiatan ini tak hanya sekadar merayakan hari besar nasional, tetapi juga dirancang untuk memberi dampak ekonomi.

“Acara tersebut akan menghidupkan banyak UMKM dan menghadirkan banyak pengunjung ke Aceh Barat,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: AKil

Charly Vanhoutten Janji Beri Hadiah Jika Dengar Lagunya Diputar di Kafe atau Restoran

0

NUKILAN.ID | JAKARTA – Di tengah maraknya polemik soal royalti dan larangan pemutaran lagu di tempat umum, vokalis ST12, Charly Vanhoutten, justru mengambil langkah berbeda.

Ia menyatakan siap memberikan hadiah uang tunai maupun merchandise kepada siapa pun yang memutar atau menyanyikan lagu-lagunya di kafe, restoran, maupun tempat umum lainnya.

Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, @charly_setiaku, Charly menulis, “Saya Charly Vanhoutten menghimbau jika saya sedang berada di suatu tempat cafe, restoran atau tempat-tempat lainnya yang memutarkan lagu saya dan musisi, penyanyi/band yang membawakan karya lagu saya, akan saya kasih hadiah (uang tunai atau berupa marchandaise) sebagai tanda terimakasih,” tulisnya, dikutip Nukilan.id pada Kamis (7/8/2025).

Di akhir pesannya, musisi asal Cirebon ini menyematkan kalimat, “Salam musik Indonesia.”

Unggahan Charly tersebut langsung menuai beragam respons dari warganet dan rekan sesama selebritas. Sejumlah penggemar menyampaikan dukungan dan doa untuknya.

“Saya anggota damkar Balikpapan fans beratmu, murah rezeki dan sehat selalu bang Charly sekeluarga aamiin,” tulis akun @bangdjuned_.

Pengguna lain, @rajaarmandoabyuma, berkomentar, “Tetap konsisten, berada di jalur yg berbeda, mantap idola aing.”

Sementara itu, penyanyi dangdut Jenita Janet turut menulis di kolom komentar, “mantapp a saling bermanfaat.”

Langkah Charly ini dinilai sebagian netizen sebagai bentuk apresiasi langsung dari musisi kepada para pendengar dan pelaku seni yang memutar karyanya, di tengah ramainya perbincangan soal hak cipta musik di Indonesia. (XRQ)

Reporter: Akil

Wabup Aceh Selatan Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga yang Membutuhkan

0
Wakil Bupati Aceh Selatan, Baital Mukadis, menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan di Alun-alun depan Kantor Bupati Aceh Selatan, Tapaktuan, Kamis (7/8/2025). (Foto: Instagram @baital_mukadis)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Wakil Bupati Aceh Selatan, Baital Mukadis, menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan di Alun-alun depan Kantor Bupati Aceh Selatan, Tapaktuan, Kamis (7/8/2025).

Bantuan tersebut, sebagaimana disampaikan Baital melalui akun Instagram pribadinya @baital_mukadis, merupakan hasil kerja sama antara Dinas Pangan Provinsi Aceh dan Dinas Pangan Kabupaten Aceh Selatan.

Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Selatan itu menyebutkan, bantuan ini diharapkan menjadi salah satu upaya nyata untuk membantu pemenuhan kebutuhan warga.

“Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat yang membutuhkan, serta meningkatkan ketersediaan pangan di Kabupaten Aceh Selatan. Saya berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan tepat sasaran,” tulis Baital, dikutip Nukilan.id dari unggahannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyaluran bantuan tersebut.

“Semoga bantuan ini dapat membawa manfaat bagi masyarakat yang mendapatkannya,” tulisnya menutup unggahan.

Penyaluran bantuan sembako ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dalam menjaga ketersediaan pangan dan membantu masyarakat yang terdampak tekanan ekonomi. (XRQ)

Reporter: Akil

DPPPA Aceh Ajak Guru Sekolah dan Dayah Perkuat Perlindungan Anak

0
Kepala DPPPA Aceh, Meutia Juliana. (Foto: WaspadaAceh/Cut Nauval).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh menggelar rapat koordinasi bersama para guru sekolah dan guru dayah dari wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh. Pertemuan yang berlangsung pada Rabu (6/8/2025) di Aula DPPPA Aceh ini bertujuan memperkuat perlindungan khusus bagi anak-anak di lingkungan pendidikan.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Bidang Perlindungan Khusus Anak (PKA) tersebut merupakan upaya membangun sinergi antara pemerintah, pendidik, dan pengasuh dalam mencegah kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi terhadap anak.

Kepala Dinas PPPA Aceh, Meutia Juliana, S.STP., M.Si., dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran guru dan pengasuh sebagai garda terdepan dalam perlindungan anak.

“Kita berharap melalui koordinasi dan kerja sama yang baik, semua pihak dapat memiliki pemahaman dan langkah yang sama dalam memberikan perlindungan terbaik bagi anak-anak kita,” ujar Meutia Juliana.

Sementara itu, Plt. Kepala Bidang PKA, Nofita Yulandari D, S.Kep., MKM, menyampaikan bahwa rapat ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan merumuskan langkah strategis dalam menangani kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan.

DPPPA Aceh terus berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan tenaga pendidik dan pengasuh, demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan bagi seluruh anak di Aceh.

Editor: Akil